
Pendidikan inklusif merupakan paradigma yang menekankan hak setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara tanpa diskriminasi terhadap kondisi fisik, intelektual, sosial, maupun emosional. Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai lembaga pendidikan dasar berciri keislaman turut menjadi bagian dari gerakan menuju inklusivitas. Namun, implementasi pendidikan inklusif di MI masih menunjukkan kesenjangan antara kebijakan nasional dan praktik di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan utama dan merumuskan strategi penguatan implementasi pendidikan inklusif di MI. Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis-konstruktif, dengan menelaah publikasi akademik, laporan kebijakan nasional dan internasional, serta studi kasus madrasah yang diterbitkan antara tahun 2021–2025. Analisis dilakukan secara tematik terhadap isu kebijakan, kapasitas guru, infrastruktur, pendanaan, dan aspek sosial-budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa hambatan utama implementasi pendidikan inklusif di MI mencakup: (1) kesenjangan antara kebijakan normatif dan operasional; (2) rendahnya kapasitas guru dan ketiadaan tenaga pendukung; (3) keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas; (4) stigma sosial terhadap anak berkebutuhan khusus; serta (5) minimnya pendanaan dan insentif kelembagaan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi penguatan berupa penyusunan panduan teknis operasional, pelatihan guru berkelanjutan dengan sistem micro-credential, pembentukan Tim Inklusi Madrasah, serta integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik inklusi. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif di MI bergantung pada harmonisasi antara kebijakan, kompetensi guru, dukungan masyarakat, dan nilai spiritual keislaman yang menjadi karakter khas madrasah. Temuan ini memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan berbasis bukti dan model praktik baik yang relevan bagi pendidikan dasar Islam di Indonesia.
Kemampuan berbahasa meliputi empat keahlian dasar yakni keahlian menyimak, berbicara, membaca, serta menulis. Berbicara ialah salah satu kemampuan bahasa utama yang diperlukan komunikasi. Selain itu, menceritakan cerita adalah salah satu kemampuan berbicara. karena itu, diperlukan materi edukasi yang dapat membantu anak merasa nyaman menceritakan cerita didepan kelas, seperti boneka tangan. Untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas IV SDN Rayung 03 Senori dalam bercerita tentang bawang merah dan bawang putih dalam bahasa Indonesia, peneliti harus mengetahui keunggulan media boneka tangan serta tantangan dan solusi yang terkait dengan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan cara kualitatif. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan,: (1) pemanfaatan media boneka tangan di SDN Rayung 03 Senori sudah berjalan dengan cukup baik dan sesuai dengan langkah-langkah didalam penerapannya. Langkah-langkah didalam penggunaan media boneka tangan meliputi tahap perencanaan yaitu guru menyiapkan materi serta media, tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan guru memberi contoh penggunaan media boneka tangan, kemudian diikuti siswa melakukan praktik secara bergantian, dan tahap terakhir siswa mengulas kembali isi cerita yang telah dipraktikkan. Hasil yang didapat memperlihatkan, kegiatan pada saat proses pembelajaran setelah pemanfaatan media boneka tangan pada kegiatan bercerita mengalami peningkatan dibanding sebelum memanfaatkan media boneka tangan dari rata-rata 61,2 meningkat menjadi 78,4, (2) problem yang terjadi yaitu minimnya waktu yang dibutuhkan serta kurangnya penghayatan dari beberapa siswa dalam praktik bercerita. Solusi yang ditawarkan yaitu meminta siswa membaca serta memahami materi dirumah, serta memberi reward bagi siswa yang sungguh-sungguh dalam praktik bercerita.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan peranan kurikulum di MI Al-Fattah yang menekankan pada pembentukan peserta didik secara menyeluruh. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya kurikulum sebagai landasan pembelajaran yang mendukung penyesuaian diri, integrasi sosial, diferensiasi, persiapan melanjutkan pendidikan, kebebasan memilih minat, serta fungsi diagnostik untuk pengembangan potensi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum di MI Al-Fattah berjalan optimal dalam menjalankan enam fungsi utamanya yang relevan dengan tujuan pendidikan madrasah. Implementasi kurikulum mendukung terbentuknya peserta didik yang adaptif, kritis, dan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan peran guru, sinergi dengan orang tua, serta inovasi pembelajaran agar fungsi dan peranan kurikulum semakin optimal di masa depan.
Moderasi beragama merupakan konsep penting dalam mengembangkan toleransi dan menghormati perbedaan dalam masyarakat yang beragam. Di Indonesia, Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan dasar yang berbasis Islam memiliki peran signifikan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pembelajaran matematika dapat digunakan sebagai alat untuk mengajarkan moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten dari berbagai jurnal ilmiah.
This study aims to analyze the challenges and innovations in Fiqh learning at MI Tahfidz Annur Genaharjo within the framework of implementing the Merdeka Curriculum. This curriculum emphasizes contextual, differentiated, and project-based learning. However, in its implementation, teachers face various obstacles such as limited digital literacy, minimal technical training, and lack of supporting facilities. This study uses a qualitative descriptive approach with data collection techniques through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis methods. The results of the study show that teachers have developed various innovations such as blended learning, utilization of digital media (Kahoot, YouTube, Canva), and the application of differentiated learning according to students' learning styles. Despite facing challenges, teachers are able to create adaptive and contextual Fiqh learning. This study emphasizes the importance of improving teacher competence and strengthening system support so that Fiqh learning is in accordance with the spirit of the Merdeka Curriculum