
Pendahuluan: Masa remaja merupakan periode rentan terhadap timbulnya masalah psikososial seperti depresi, kecemasan, dan perilaku berisiko, yang dapat berdampak jangka panjang pada kesejahteraan individu dan masyarakat. Pendekatan pencegahan yang komprehensif dan berbasis bukti diperlukan untuk mengatasi isu kesehatan masyarakat yang mendesak ini. Tujuan: Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan faktor perlindungan yang signifikan, serta mengevaluasi efektivitas strategi pencegahan masalah psikososial pada remaja. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada empat database (PubMed, Scopus, PsycINFO, Cochrane) menggunakan istilah kunci terkait remaja, masalah psikososial, faktor risiko/protektif, dan intervensi. Studi observasional dan uji klinis acak (RCT) yang relevan dengan kriteria inklusi diseleksi secara independen oleh dua peneliti. Kualitas studi dinilai menggunakan alat standar (Cochrane RoB 2, NOS), dan sintesis data dilakukan secara naratif. Hasil: Dari 2.350 artikel yang diidentifikasi, 25 studi memenuhi kriteria inklusi. Faktor risiko paling konsisten adalah perundungan, disfungsi keluarga, penggunaan media sosial bermasalah, tekanan akademik, dan tingkat sosioekonomi rendah. Faktor protektif utama meliputi dukungan sosial, keterikatan sekolah, keterampilan regulasi emosi, serta optimisme. Intervensi pencegahan paling efektif bersifat multimodal dan berbasis sekolah, menggabungkan pelatihan keterampilan sosial-emosional (SEL), edukasi kesehatan mental, dan pelibatan orang tua. Kesimpulan: Masalah psikososial remaja dipengaruhi oleh interaksi kompleks faktor risiko dan proteksi. Investasi dalam program pencegahan berbasis sekolah yang evidence-based dan melibatkan berbagai sistem pendukung remaja merupakan langkah krusial untuk mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan populasi remaja.
Pendahuluan: Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang. Fase pre-hospital memiliki peran penting dalam mencegah cedera otak sekunder. Namun, penggunaan transportasi non-medis tanpa stabilisasi yang adekuat berpotensi meningkatkan risiko perburukan kondisi pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh moda transportasi pre-hospital terhadap risiko perburukan pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RS PKU Muhammadiyah Gombong pada periode November 2025 hingga Februari 2026. Sebanyak 55 pasien cedera kepala dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel independen adalah moda transportasi pre-hospital (medis dan non-medis), sedangkan variabel dependen adalah risiko perburukan yang diukur menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) saat tiba di IGD. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebagian besar pasien menggunakan transportasi non-medis (67,3%), sedangkan 32,7% menggunakan ambulans. Lebih dari separuh pasien (52,7%) berada pada risiko perburukan saat tiba di IGD. Terdapat hubungan yang signifikan antara moda transportasi dengan risiko perburukan (p = 0,008). Pasien yang menggunakan transportasi non-medis memiliki risiko perburukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ambulans (OR = 4,80; p = 0,015). Kesimpulan: Moda transportasi pre-hospital berpengaruh signifikan terhadap risiko perburukan pada pasien cedera kepala. Peningkatan akses dan pemanfaatan transportasi medis menjadi penting untuk memperbaiki outcome pasien dan menurunkan komplikasi yang dapat dicegah.
Latar Belakang: Halusinasi merupakan salah satu gejala persepsi sensori yang dialami oleh orang yang menderita gangguan jiwa adalah halusinasi. Salah satu intervensi mengontrol halusinasi yaitu melakukan aktivitas sehari-hari adalah salah satu teknik mendistraksi yang sangat efektif sehingga dapat mengalihkan atau menurunkan frekuensi halusinasi. Tujuan: menganalisis peneran intervensi melakukan aktivitas menonton video terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia. Metode: Metode Penelitian adalah studi kasus yang mrnggunakan pendekatan deskriptif, yang mengeksplorasi suatau masalah atau fenomena terkait. Intervensi penelitian dilakukan selama tiga hari dengan intervensi yang dilakukan strategi pelaksanaan (SP 1-4). Analisa data yang sudah dilakukan secara deskriptif narasi dengan membandingkan intervensi yang belum dilakukan dan setelah dilakukan kepada pasien. Hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang sudah dilakukan selama proses intervensi maka peneliti memfokuskan pada intervensi melakukan aktivitas mampu mengontrol halusiansi pada pasien skizofrenia. Hasil: Adanya penurun frekuensi hakusinasi pendengaran dengan menggunakan teknik menghardik, minum obat, becakap-cakap dan melakukan aktivitas. Intervensi melakukan aktitas menonton video menstabilkan kemampuan mengontrol halusinasi stimulus panca indra. Kesimpulan: Intervensi melakukan aktivitas menonton video yang di kombinasikan melalui strategi pelaksana (SP 1-4) bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam menerapkan cara mengontrol halusianasi seperti menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan aktivitas. Diharapkan bagi perawat maupun institusi pelayanan agar intervensi nonfarmakologi teknik ditraksi melakukan aktivitas menonton video dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang selalu berfokus pada pasien dan secara holistik.
Latar Belakang: Halusinasi adalah persepsi sensorik palsu yang tidak ada hubungannya dengan rangsangan eksternal yang sebenarnya. Salah satu cara mengontrol halusinasi dengan melakukan aktifitas terstruktur. Tujuan: Menganalisis penerapan intervensi melakukan aktivitas menggambar terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia. Metode: Menggunakan pendekatan deskriptif ini berfokus pada 2 pasien halusinasi pendengaran yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi penelitian yang dilakukan selama tiga hari sama dengan intervensi yang dilakukan untuk strategi pelaksanaan (SP 1-4). Proses pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara digunakan sebagai dasar pelaksanaan strategi pelaksanaan, observasi dan dokumentasi kepada pasien. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk menentukan prevalensi dan distribusi dari variabel. Hasil: Adanya penurunan halusinasi pendengaran dengan teknik melakukan aktivitas seperti menggambar sehingga suara bisikan yang di dengar sudah mulai berkurang dan menunjukkan penurunan respon terhadap stimulus halusinasi. Intervensi menggambar dapat membantu seseorang mengekspresikan dan memahami emosi mereka melalui ekspresi artistik dan proses kreatif. Kesimpulan: Intervensi menggambar yang diterapkan melalui strategi pelaksanaan (SP1-4) dapat dijadikan acuan maupun referensi sebagai bahan pertimbangan terapi non farmakologis karena dapat menurunkan tanda gejala halusinasi dengan cara melakukan aktivitas seperti menggambar.
Pendahuluan: Nyeri akut pasca sectio caesarea merupakan masalah umum yang memengaruhi kenyamanan, mobilisasi, dan pemulihan ibu post-partum. Terapi non-farmakologis seperti musik klasik dapat menjadi pendekatan komplementer untuk menurunkan nyeri dengan mekanisme relaksasi dan distraksi. Tujuan: Menganalisis efektivitas penerapan terapi musik klasik dalam menurunkan nyeri akut pada ibu post-partum sectio caesarea. Metode: Studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada lima pasien post-SC yang mengalami nyeri akut (skala NRS ≥4). Intervensi terapi musik klasik diberikan selama 10–15 menit dengan pemantauan skala nyeri menggunakan NRS sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil: Terdapat penurunan skala nyeri yang signifikan pada seluruh pasien: Ny. W (8→4), Ny. EI (6→2-3), Ny. A (5→4), Ny. S (7→4), dan Ny. Y (7→3). Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan, kemampuan mobilisasi, dan kualitas istirahat setelah intervensi. Kesimpulan: Terapi musik klasik efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk menurunkan nyeri akut pasca sectio caesarea. Implementasinya mudah, aman, dan dapat diintegrasikan dalam protokol manajemen nyeri di layanan maternitas.
Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala positif yang sering dialami pasien skizofrenia dan dapat memengaruhi kontrol diri, fungsi sosial, serta meningkatkan risiko kekambuhan. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap persistensi gejala halusinasi adalah ketidakpatuhan minum obat antipsikotik. Intervensi minum obat teratur digunakan sebagai pendekatan keperawatan untuk mendukung stabilisasi gejala psikotik dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Tujuan: menganalisis penerapan intervensi minum obat teratur terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada satu pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Intervensi dilakukan selama tiga hari mencakup edukasi, supervisi obat, dan strategi pelaksanaan keperawatan (SP1–SP4). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi SOAP menggunakan instrumen pengkajian jiwa, lembar observasi halusinasi, serta monitoring obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif naratif dengan membandingkan kondisi pasien sebelum dan sesudah intervensi melalui triangulasi sumber. Hasil: adanya penurunan frekuensi halusinasi, peningkatan kepatuhan minum obat, serta peningkatan kemampuan pasien dalam menggunakan teknik kontrol halusinasi seperti menghardik, distraksi melalui interaksi, dan aktivitas terjadwal. Intervensi minum obat teratur juga berkontribusi terhadap peningkatan stabilitas perilaku dan kemampuan pasien dalam mengontrol respons terhadap stimulus internal. Kesimpulan: Intervensi minum obat teratur efektif meningkatkan kemampuan kontrol mandiri dan menurunkan frekuensi halusinasi. Saran: Perawat perlu mengintegrasikan edukasi obat ke dalam setiap tahap SP halusinasi, dan fasilitas kesehatan disarankan melibatkan keluarga dalam monitoring obat untuk mencegah kekambuhan.
Latar belakang: Hipertensi ditandai dengan kenaikan tekanan darah yang melampaui batas normal dan berisiko memicu komplikasi organ yang fatal serta menurunkan derajat kualitas hidup penderitanya. Kondisi kesejahteraan hidup pasien hipertensi kerap kali terganggu oleh gangguan fisik maupun tekanan psikis, khususnya kecemasan. Jika tidak dikelola dengan tepat, kecemasan tersebut akan menghambat aktivitas harian serta interaksi sosial. Tujuan: mengidentifikasi keterkaitan antara tingkat kecemasan dan kualitas hidup pada penderita hipertensi di RS Permata Medika Semarang. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional. Sebanyak 45 responden dilibatkan dalam penelitian ini, yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan kuesioner WHOQOL-BREF untuk mengukur kualitas hidup. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Temuan di lapangan mengindikasikan bahwa kelompok lansia awal (44,5%) dan gender perempuan (66,7%) mendominasi karakteristik responden. Sebanyak 21 orang (46,7%) mengalami kecemasan dalam kategori berat, sementara 25 orang (55,6%) memiliki kualitas hidup yang buruk. Berdasarkan uji korelasi Rank Spearman, ditemukan nilai p-value sebesar 0,023 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas hidup pada pasien hipertensi di RS Permata Medika Semarang. Semakin berat tingkat kecemasan, maka semakin buruk kualitas hidup pasien, dan sebaliknya. Pasien hipertensi diharpkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan mampu meminimalisir terjadinya kecemasan ketika mengalami hipertensi.
Pendahuluan: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang di dunia. Keberhasilan penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan penanganan, terutama pada fase pre-hospital. Keterlambatan response time dapat memperburuk outcome neurologis pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara response time pre-hospital dengan outcome neurologis pasien stroke di Instalasi Gawat Darurat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RS PKU Muhammadiyah Gombong pada periode Januari–Februari 2026. Sebanyak 60 pasien stroke dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data response time dihitung dari onset hingga tiba di rumah sakit, sedangkan outcome neurologis dinilai menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Rerata response time pre-hospital adalah 245 ± 110 menit, dengan 70% pasien datang setelah lebih dari 3 jam sejak onset gejala. Sebagian besar pasien memiliki outcome neurologis ringan (41,7%), namun 58,3% berada pada kondisi sedang hingga berat. Terdapat hubungan yang signifikan antara response time pre-hospital dengan outcome neurologis (p = 0,002), di mana keterlambatan kedatangan berhubungan dengan kondisi neurologis yang lebih buruk. Kesimpulan: Response time pre-hospital berhubungan signifikan dengan outcome neurologis pasien stroke. Upaya untuk mengurangi keterlambatan pada fase pre-hospital sangat penting dalam meningkatkan outcome klinis serta menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat stroke.
Pendahuluan: Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia. Kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan, gangguan proses pikir, serta perilaku maladaptif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti terapi musik relaksasi untuk membantu pasien dalam mengontrol halusinasi secara efektif. Tujuan: mengetahui efektivitas stimulasi persepsi: terapi musik relaksasi dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada satu pasien rawat inap dengan halusinasi pendengaran di RSKB Columbia Asia Pulomas. Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, sebanyak 2–3 kali per hari selama 10–15 menit, dengan kombinasi strategi pelaksanaan keperawatan (SP 1–4) dan terapi musik relaksasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi menggunakan pendekatan SOAP, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: adanya penurunan frekuensi halusinasi pendengaran, penurunan tingkat ansietas, serta peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Pasien mampu menerapkan teknik menghardik, bercakap-cakap, dan melakukan aktivitas terjadwal. Selain itu, pasien tampak lebih tenang dan menunjukkan peningkatan dalam interaksi sosial. Kesimpulan: Terapi musik relaksasi efektif sebagai intervensi keperawatan dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran, menurunkan ansietas, serta meningkatkan interaksi sosial pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Diharapkan perawat dapat mengintegrasikan terapi musik relaksasi sebagai intervensi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan jiwa, serta institusi pelayanan kesehatan dapat mendukung penerapan terapi komplementer guna meningkatkan kualitas asuhan keperawatan secara holistik.
Pendahuluan: Pekerja mempunyai beban dalam setiap aktivitas kerja. Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan stress emosional sebagai dampak dari beban kerja. Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan stress emosional sebagai dampak dari beban kerja. Tujuan: Mengetahui hubungan beban kerja dengan tingkat kualitas tidur karyawan di PT. SB Indo Di Wilayah Kerja Puskesmas Tengaran Kab. Semarang. Metode: Desain riset kuantitatif, deskriptif. Dengan pendekatan cross-sectional. Populasi studi ini yakni karyawan di PT. SB Indo Di Wilayah Kerja Puskesmas Tengaran Kab. Semarang bagian sewing terdiri dari 120 pekerja. Perhitungan dengan rumus slovin, sampel menggunakan menggunakan One Stage Cluster Random Sampling sejumlah 95 responden. Instrumen menggunakan kuesioner Defence Research Agency Workload Scale (DRAWS) dan kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis bivariat menggunakan rank spearmen. Hasil: Terdapat hubungan beban kerja dengan tingkat kualitas tidur karyawan di PT. SB Indo Di Wilayah Kerja Puskesmas Tengaran Kab. Semarang dengan nilai koefisien korelasi (Spearman’s rho) sebesar -0,528 dengan nilai signifikansi (p-value) sebesar < 0,000 (0,000<0,05). Kesimpulan: Ada hubungan beban kerja dengan tingkat kualitas tidur karyawan di PT. SB Indo Di Wilayah Kerja Puskesmas Tengaran Kab. Semarang. Diharapkan karyawan mampu untuk meningkatkan kualitas tidur dengan baik dan melakukan manajemen diri sehingga beban kerja tidak terlalu berat.
Latar Belakang: Asam urat yaitu gangguan yang ditandai dengan adanya nyeri pada persendian. Seseorang yang paling sering terserang asam urat biasanya lansia. Rendam air hangat adalah tindakan yang dilakukan dengan memberikan cairan hangat untuk memberikan rasa hangat, dan mengurangi nyeri. Tujuan: Mengetahui terapi rendam kaki menggunakan air hangat terhadap tingkat nyeri lansia penderita gout arthritis. Metode: Studi kasus ini deskriptif dengan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel sebanyak 4 pasien lanjut usia yang menderita asam urat di panti wredha harapan ibu Semarang. Instrument berupa SOP terapi rendam kaki air hangat garam pada lansia, cek kadar asam dengan alat GCU asam urat dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Penyajian data studi kasus disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil: Setelah dilakukan terapi rendam kaki air hangat garam didapatkan hasil terhadap 4 responden di hari ke 7 yaitu Ny.S :5,5 mg/dl dengan skala nyeri 2, Ny.S: 5.4 mg/dl skala 2, Ny.S: 5.6 mg/dl skala 3 dan Ny.P: 6.0 mg/dl dengan skala 3. Kesimpulan: Terapi rendam kaki air hangat garam terbukti efektif dalam menurunkan kadar asam urat dan tingkat nyeri pada lansia penderita asam urat. Terapi ini dapat menjadi metode nonfarmakologis yang bermanfaat dalam mengatasi keluhan nyeri pada lansia penderita asam urat.
Latar Belakang: Diabetes melitus adalah sebuah gangguan dengan kondisi kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Untuk mencegah terjadinya komplikasi diperlukan tingkat kepatuhan yang tinggi dalam pengelolaan perawatan diri. Salah satu faktor yang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kepatuhan tersebut adalah dukungan dari keluarga. Tujuan: Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan diri pada pasien diabetes melitus berdasarkan teori selfcare Orem di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan. Metode: Desain menggunakan analitik korelatif dengan pendekatan metode cross-sectional. Total responden dalam penelitian ini adalah 92 orang yang diperoleh dari metode purposive sampling. Instrument menggunakan kuisioner yang terdiri dari dua variabel yaitu dukungan keluarga dan kepatuhan perawatan diri. Penelitian ini dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square menunjukkan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan diri pada pasien diabetes melitus berdasarkan teori selfcare Orem. Perlu adanya dukungan keluarga dalam mendukung pasien diabetes melitus terhadap kepatuhan perawatan diri.
Latar Belakang: Kondisi ginjal kronis adalah keadaan di mana fungsi ginjal berjalan lancar akibat kerusakan ginjal, yang diatasi dengan melakukan hemodialisis. Kelemahan fisik, penurunan energi, dan kelelahan adalah gejala dari hemodialisis, sehingga memerlukan asuhan keperawatan dan intervensi yang tepat, seperti penerapan slow deep breathing. Tujuan: Mengetahui pengaruh slow deep breathing terhadap kelelahan pada pasien yang menderita gagal ginjal kronis yang memerlukan hemodialisis di ruang hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Sampel yang digunakan adalah 5 pasien dengan GGK yang sedang menjalani perawatan diruang hemodialisa. Instrument yang digunakan yaitu lembar karakteristik subjek, lembar kuesioner FACIT, lembar observasi hasil pengukuran skor kelelahan, serta SOP penerapan slow deep breathing dengan analisa dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif berupa frekuensi dan presentase. Hasil: Tingkat kelelahan (fatigue) pada 5 pasien sebelum diberikan penerapan Tindakan Slow Deep Breathing didapatkan hasil nilai rata-rata berada pada tingkat kelelahan berat pada penerapan hari ke 1-3 namun sesudah berikan penerapan Tindakan Slow Deep Breathing didapatkan hasil Sebagian besar pasien mengalami perubahan yaitu berada pada tingkat kelelahan ringan. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pada penerapan Slow Deep Breathing guna menurunkan kelelahan (fatigue) pasien dengan gagal ginjal kronik.
Latar belakang: Terapi Nebulizer adalah metode pemberian obat pernapasan dalam bentuk aerosol melalui inhalasi menggunakan alat nebulizer. Terapi nebubulizer sangat dianjurkan untuk pasien yang tidak mampu menggunakann inhealer secara efektif, misalnya dikarenakan sesak napas berat, koordinasi tubuh yang baik terutama pada pasien ISPA. Tujuan: mengetahui efektivitas terapi nebulizer dalam menurunkan frekuensi napas pada pasien ISPA. Metode : penelitian ini menggunkan desain studi kasus pre-post desain. Sampel 5 pasien di Di IG RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi penurunan frekuensi napas pada pasien ISPA setelah diberikan terapi nebulizer, serta SOP pemberian terapi nebulizer. Data dianalisis secara deskriptif dengan presentase perubahan frekuensi napas pasien sebelum dan sesudah pemberian nebulizer. Hasil: tingkat frekuensi napas pada 5 pasien sebelum diberikan terapi nebulizer didapatkan sebagian besar pasien mengalami penurunan frekuensi napas. Kesimpulan : Pemberian terapi nebulizer terbukti efektif dalam menurunkan frekuensi napas pasien dengan gangguan pernapasan. Terapi nebulisasi sebaiknya diterapkan secara rutin pada pasien ISPA dengan gangguan bersihan jalan napas tidak efektif, karena terbukti membantu menurunkan frekuensi napas, meningkatkan saturasi oksigen, dan memperbaiki mekanisme ventilasi.
Latar Belakang: Penyakit diabetes melitus biasanya sering terjadi pada usia lebih dari 40 tahun, dan bisanya penderita tidak mengetahui masalah kesehatan yang dialaminya. Dengan memberikan pendidikan kesehatan atau edukasi bagi penderita diabetes mellitus memungkinkan dapat mengubah perilaku mereka serta mencegah terjadinya komplikasi. Tujuan: mengetahui penerapan Diabetes Self-Management Education (DSME) terhadap kadar glukosa darah pada lansia penderita diabetes mellitus. Metode: studi kasus ini menggunakan metode pendekatan deskriftif metode penelitian yang diterapkan adalah desain praeksperimental. Dengan menggunakan rancangan pra-pascates dalam satu kelompok dengan desain pra-post test. Sampel pada 4 lansia dengan diabetes mellitus. Instrumen menggunakan SOP Diabetes Self-Management Education (DSME). Pengumpulan data dengan 4 sesi pertemuan, sesi 1 membahas tentang konsep diabetes mellitus, sesi 2 membahas penatalaksanaan diabetes mellitus, sesi 3 membahas pengelolaan stress dan sesi 4 membahas tentang pencegahan komplikasi diabetes mellitus akut dan kronis. Analisis data univariat berupa distribusi frekuensi dan prosentase. Hasil: Hasil kadar gula darah yang di dapatkan lansia 1 Ny. Se (80 tahun) tercatat 165 mg/dL, lansia 2 Ny. Ma (65 tahun) 140 mg/dL, lansia 3 Ny. Su (67 tahun) 156 mg/dL dan lansia 4 Ny.Si (69 tahun) 149 mg/dL. Kesimpulan: Diabetes Self-Management Education (DSME) sangat berhasil, karena terdapat penurunan kadar glukosa darah setelah penerapan dilakukan.
Pendahuluan: Risiko jatuh ialah salah satu masalah serius pada lansia yang dapat mengakibatkan cedera, penurunan kualitas hidup, hingga kematian. Salah satu upaya pencegahan yang terbukti efektif adalah melalui latihan keseimbangan (balance exercise). Tujuan: Mengetahui pengaruh penerapan balance exercise terhadap tingkat risiko jatuh pada lansia di Panti Werdha Harapan Ibu Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian berjumlah empat lansia yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran risiko jatuh dilakukan menggunakan Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan sesudah intervensi balance exercise yang diberikan selama beberapa sesi. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan skor keseimbangan. Hasil: Seluruh responden mengalami peningkatan skor BBS setelah intervensi. Tiga responden yang awalnya berada dalam kategori risiko jatuh menengah mengalami peningkatan skor meskipun belum seluruhnya berpindah kategori. Satu responden dengan kategori risiko rendah menunjukkan peningkatan mendekati skor maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa balance exercise memberikan dampak positif terhadap peningkatan keseimbangan dan penurunan risiko jatuh pada lansia. Kesimpulan: Penerapan balance exercise secara rutin dapat meningkatkan fungsi keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Intervensi ini dapat dijadikan program preventif di lingkungan panti werdha untuk menjaga keselamatan dan kualitas hidup lansia.
Latar Belakang: Salah satu terapi utama bagi pasien gagal ginjal kronik adalah hemodialisa. Namun, prosedur ini dapat menimbulkan efek samping berupa pruritus uremik yang ditandai dengan rasa gatal hebat dan menurunnya kualitas hidup pasien. Salah satu upaya non-farmakologis untuk mengatasi pruritus adalah pengolesan minyak zaitun. Tujuan: Mengurangi keluhan pruritus (gatal) pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa melalui intervensi pengolesan minyak zaitun. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan 5 responden di RSUD Dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi 5-ditchscale (5D-IS) untuk mengukur tingkat pruritus, serta SOP tindakan pengolesan minyak zaitun yang dilakukan selama dua kali pertemuan masing-masing 15 menit analisa data menggunakan uji univariat. Hasil: adanya penurunan tingkat pruritus pada seluruh pasien. Sebelum intervensi, tiga pasien mengalami pruritus berat dan dua pasien mengalami pruritus sedang. Setelah diberikan intervensi pengolesan minyak zaitun, tiga pasien mengalami penurunan dari pruritus berat menjadi sedang, dan dua pasien dari pruritus sedang menjadi ringan. Kesimpulan: Pengolesan minyak zaitun terbukti efektif dalam mengurangi tingkat pruritus pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Intervensi ini dapat dijadikan salah satu terapi non-farmakologis untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.
Latar Belakang: Pasien yang menjalani hemodialisis, seperti penderita Gagal Ginjal Kronis, sering mengalami tekanan darah tinggi. Pengobatan hipertensi yang komprehensif bertujuan untuk menurunkan tekanan darah, termasuk pengobatan farmakologis dan non-farmakologis. Pengobatan non-farmakologis dapat dilakukan dengan beberapa terapi, seperti pijat kaki. Tujuan: Mengetahui efektifitas foot message untuk menurunkan tekanan darah pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa Metode: Studi kasus ini menggunakan metode deksriptif dengan rancangan one group pre-posttest design. Pengumpulan data pada 5 pasien yang menjalani terapi hemodialisa di ruang hemodialisa RSUD Dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrument yang digunakan yaitu lembar karakteristik subjek, lembar observasi hasil pengukuran tekanan darah serta SOP terapi foot massage. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan analisis univariat. Hasil analisis disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: sebelum menerima pijat kaki, terdapat lima pasien yang mengalami tekanan darah tinggi. Empat di antaranya mengalami penurunan tekanan darah setelah menerima intervensi pijat kaki, dengan tekanan darah tinggi yang menyebabkan hemodialisis, sementara satu pasien mengalami peningkatan tekanan darah. Kesimpulan: Terapi foot massage dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hemodialisa. Pasien gagal ginjal menjalani hemodialisa yang mengalami kenaikan tekanan darah disarankan untuk melakukan foot massage secara mandiri.
Timbal merupakan logam beracun alami yang berasal dari kerak bumi, paparan terhadap manusia merupakan masalah kesehatan bagi masyarakat yang sangat signifikan beredar di belahan dunia. Logam berat timbal ditambahkan ke dalam campuran bahan dasar lipstik oleh produsen dengan maksud untuk meningkatkan kinerja dan daya tahan produk. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya timbal pada lipsik yang diperjual belikan di Kecamatan Kemuning Kota Palembang dengan Metode Uji Warna. Didapatkan hasil dari ke 5 sampel, 4 diantaranya positif timbal saat di uji menggunakan uji kualitatif metode uji warna dengan ditandai endapan putih halus yang menandakan positif dengan konsentrasi rendah. Hal ini bisa terjadi ketika larutan sampel deberi HCL dan NaOH larutan bereaksi dan menghasilkan endapan berwarna putih yang menunjukan adanya timbal pada sampel tersebut. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa masih banyak lipstik mengandung timbal dengan harga yang sangat terjangkau terjual bebas di pasar KM 5 Kota Palembang.
Masa remaja merupakan masa perkembangan yang sangat penting, dan diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi termasuk masa pubertas pada remaja putri yakni menstruasi, dengan gejala yang sering terjadi adalah adanya rasa tidak nyaman saat menstruasi bahkan nyeri hebat disebut dengan dismenore. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri dalam menangani dismenore di SMA Airlangga Namu Ukur Tahun 2021. Jenis penelitian adalah penelitian deskriftif. Populasi dari penelitian siswa SMA kelas X dan XI SMA Airlangga Namu Ukur berjumlah 44 orang dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja putri berpengetahuan baik sebanyak 40 orang (90.9%) dan pengetahuan cukup sebanyak 4 orang (9.1%) dan sikap dalam menangani dismenore sebagian besar bersikap positif 26 orang (59.1) dan sikap negatif 18 orang (40.95%).