
BACKGROUND:Evidence linking social and family relationships with perceived health is largely based on single-country studies, limiting understanding of whether these associations generalize across diverse cultural contexts. AIMS:To examine cross-national patterns and test associations between social relationships, retrospectively reported childhood family relationships, and self-rated mental and physical health in nationally representative samples from multiple countries. METHODS:Wave 1 data from the Global Flourishing Study were analyzed, including 204,907 adults from 22 countries. Social relationships were measured via satisfaction with friendships and overall relationship satisfaction. Childhood relationships with mother and father were assessed retrospectively. Self-rated mental and physical health were each measured with single items. Weighted descriptive analyses, correlations, and multivariable regression models adjusted for sociodemographic factors were applied. RESULTS:Greater contentment with friendships and higher relationship satisfaction were consistently associated with better self-rated mental and physical health, while retrospective parental relationships showed similar but weaker associations. Self-rated mental and physical health were strongly interrelated across countries. Strong social relationships serve as a universal pillar of well-being across cultural backgrounds. CONCLUSIONS:Public health strategies should value social connections as essential components of a healthy life. Health policies should recognize social and childhood family relationships as environmental factors shaping perceived mental and physical health.
The need for seeking help in mental health among Chinese medical college students is still far from what was expected; however, culture has not yet been brought into the existing theories. Using structural equation model (SEM) for data analysis on the relationship among self-stigma, face-related anxiety, mental health literacy, confidence in counseling, counselor reliability, and motivation for seeking professional assistance among 423 Chinese medical students. The results showed that facial-related anxiety was an important cause of fear to seek help, after controlling for self-stigma. With a decline in self-stigma, the people’s understanding of their own psychology also diminished accordingly; this strengthened drive for help-seeking (accounting for 43.5 per cent). The self-stigma pathway was moderated through face-related concerns in multiple groups separately. Inhibitory effects of face-related anxieties on the relationship among self-stigma, fear of negative evaluation and seeking help were stronger in the high-face-concerns group than in the low-face-concerns group. Perceived counselor trustworthiness showed as an independent predictive factor for the motives of seeking support (β = 0.22; p<0.001).
Pendahuluan: Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang menjalani perawatan di NICU seringkali menimbulkan tekanan psikologis pada orang tua. Kondisi tersebut dapat memicu stres yang berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam menggunakan mekanisme koping. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada orang tua bayi BBLR di ruang NICU RSUD Suradadi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 43 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran tingkat stres menggunakan instrumen DASS 42, sedangkan mekanisme koping diukur menggunakan COPE Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kendall’s tau. Hasil: sebagian besar responden mengalami stres berat (44,2%) dan lebih banyak menggunakan mekanisme koping maladaptif (58,1%). Uji statistik menunjukkan nilai τ = 0,293 dengan p = 0,046 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi lemah antara kedua variabel. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada orang tua bayi BBLR di NICU. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi untuk meningkatkan kemampuan koping yang adaptif.
Pendahuluan: Salah satu masalah utama pada skizofrenia adalah potensi perilaku agresif, yang dapat bermanifestasi sebagai reaksi stres dan berupa tindakan yang membahayakan atau mengancam orang lain. Latihan fisik: pulkul bantaladalah teknik keperawatan yang dikembangkan dengan cara menggerakan tubuh klien dengan olahraga atau latihan fisik agar pikiran lebih rileks dan sehat. Dengan melakukan latihan fisik ini tubuh otomatis dapat meningkatkan kadar serotonin di dalam otak sehingga suasana hati klien membaik. Tujuan: studi kasus ini untuk menggambarkan asuhan keperawatan dengan penerapan latihan fisik: pukul bantal untuk mengontrol marah pada pasien risiko perilaku kekerasan di RSJD Dr Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. Metode: penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif. Sampel terdiri dari 3 pasien Skizofrenia dengan core problem Risiko Perilaku kekerasan. Studi kasus dilaksanakan selama satu minggu (5-8 Februari 2026). Instrumen yang digunakan lembar asuhan keperawatan, SPO Latihan fisik: pukul bantal dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Setelah diberikan intervensi Latihan Fisik: pukul bantal dengan 3 kali pertemuan, ketiga responden dapat meningkatkan kemampuan mengontrol perilaku kekerasan. Kesimpulan: Latihan Fisik: pukul bantal efektif meningkatkan kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan secara bertahap. Terapi ini dapat diterapkan di ruang perawatan pasien.
Latar belakang: Resiko bunuh diri merupakan kondisi saat seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bunuh diri, baik melalui ide, ancaman, maupun percobaan bunuh diri sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang tepat. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi afirmasi positif yang bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih adaptif. Tujuan: mengetahui pengaruh terapi afirmasi positif terhadap kemampuan mengontrol dorongan bunuh diri pada pasien dengan risiko bunuh diri di RSJD dr. Amino Gondohutomo Semarang. Metode: studi kasus desktriptif digunakan sebagai jenis penelitian berikut, dengan melibatkan tiga pasien (Nn. R, Nn. K, Nn. A) yang menunjukan masalah resiko bunuh diri yang dilakukan selama tiga hari. Instrumen yang digunakan berupa format pengkajian keperawatan jiwa, lembar observasi resiko bunuh diri yang mengacu pada standar luaran keperawatan Indonesia (SLKI) dan SPO terapi afirmasi positif. Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berdasarkan skor dan perilaku pasien. Hasil: evaluasi menunjukkan penurunan dorongan bunuh diri yang ditandai dengan berkurangnya verbalisasi dan perencanaan bunuh diri. Klien 1 menunjukkan penurunan paling signifikan hingga tidak terdapat dorongan bunuh diri, sedangkan klien 2 dan 3 mengalami penurunan secara bertahap hingga kategori ringan. Kesimpulan: Intervensi terapi afirmasi positif efektif dalam meningkatkan kemampuan mengontrol dorongan bunuh diri melalui peningkatan harga diri dan perubahan pola pikir menjadi lebih positif. Intervensi ini mudah dilakukan karena tidak memerlukan alat khusus, sehingga perawat dapat menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari saat memberikan asuhan keperawatan.
Latar belakang: Defisit perawatan diri muncul ketika seseorang membutuhkan beberapa sistem untuk membantunya memenuhi kebutuhannya karena ia tidak mampu melakukan perawatan diri yang tepat. Pasien skizofrenia yang mandiri dalam perawatan dirinya termasuk dalam kelompok yang membutuhkan bantuan dan perawatan pendukung lebih lanjut. Token ekonomi merupakan salah satu strategi yang dapat mengubah kejenuhan atau kebiasaan maladaptif lainnya dan meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri. Tujuan: Menggambarkan asuhan keperawatan dengan menerapkan terapi perilaku token ekonomi pada pasien dengan masalah defisit perawatan diri di RSJD dr. Amino Gondohutomo Semarang. Metode: Metode yang digunakan adalah studi kasus desktriptif, dengan melibatkan tiga pasien (Tn. U, Tn. S, Tn. K) yang menunjukan masalah defisit perawatan diri, yang dilakukan selama tiga hari pada tanggal 19 Januari 2026 sampai 21 Januari 2026. Alat Pengumpulan data menggunakan lembar pengkajian format asuhan keperawatan jiwa, SOP token ekonomi dan cheklist lembar observasi dan evaluasi sesuai Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Analisa data dalam sudi kasus ini meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dijelaskan secara deskriptif. Hasil: Setelah dilakukan intervensi terapi perilaku token ekonomi, ada peningkatan dalam melakukan perawatan diri pada pasien dengan masalah defisit perawatan diri. Kesimpulan: Terapi perilaku token ekonomi terbukti efektif mampu mengatasi masalah defisit perawatan diri dan meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri, sehingga direkomendasikan sebagai salah satu intervensi keperawatan yang efektif, aplikatif, dan berbasis bukti dalam meningkatkan kemandirian serta kualitas hidup pasien dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia.
Latar Belakang: Skizofrenia mrupakan gangguan jiwa kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang. Ketidakpatuhan kontrol rutin menjadi tantangan utama dalam pelayanan kesehatan jiwa di tingkat primer. Peran perawat dalam program kesehatan jiwa diduga berpengaruh terhadap kepatuhan kontrol pasien skizofrenia. Tujuan: Mengetahui hubungan peran perawat dalam program kesehatan jiwa dengan kepatuhan kontrol pasien dengan skizofrenia di UPTD Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 48 responden yang merupakan keluarga/wali pasien skizofrenia di UPTD Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang, diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner peran perawat (20 item, skala Likert) dan kuesioner kepatuhan MMAS-8. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden menilai peran perawat dalam kategori sangat baik (75,0%) dan kategori baik (25,0%). Kepatuhan kontrol pasien skizofrenia sebagian besar berada pada kategori sedang (89,6%) dan kurang (10,4%). Uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05) dan uji Fisher's Exact Test p = 0,011 (p < 0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara peran perawat dalam program kesehatan jiwa dengan kepatuhan kontrol pasien skizofrenia di UPTD Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang. Upaya peningkatan kepatuhan kontrol dan pengobatan pasien skizofrenia perlu didukung melalui program edukasi yang terstruktur dan berkesinambungan bagi keluarga sebagai caregiver utama, serta penguatan pelaksanaan kunjungan rumah secara rutin oleh tenaga kesehatan.
Pendahuluan: Ketidakberdayaan sosial adalah salah satu tantangan dalam perawatan kesehatan mental yang umum dialami oleh individu dengan skizofrenia, di mana ditunjukkan melalui sikap menjauh, minimnya interaksi, serta kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TASK) adalah salah satu aktivitas yang dapat dilakukan perawat untuk membantu pasien merasa lebih nyaman berinteraksi dengan orang lain. Tujuan: mengetahui penerapan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi terhadap kemampuan interaksi sosial pada pasien dengan isolasi sosial. Metode: penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada 3 pasien di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah dengan diagnosis isolasi sosial. Intervensi dilakukan melalui kegiatan TAKS secara bertahap sesuai dengan strategi pelaksanaan yang telah ditentukan. Instrumen : pengkajian keperawatan, lembar observasi berdasarkan SLKI dan SPO TAKS. Analisis data secara deskriptif dari pengkajian, menetapkan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi sampai evaluasi. Hasil: sebelum diberikan intervensi, pasien memiliki kemampuan sosialisasi yang rendah, sedangkan setelah diberikan TAKS terjadi peningkatan kemampuan interaksi sosial yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi, komunikasi, dan keterlibatan dalam kegiatan kelompok. Kesimpulan: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS) efektif dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial pada pasien dengan isolasi sosial. Intervensi ini tidak memerlukan alat khusus, dapat dilakukan secara berkelompok dengan prosedur yang sederhana dan terstruktur, serta bisa diterapkan oleh perawat dalam kegiatan sehari-hari.
Latar Belakang: Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah keperawatan yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa khususnya skizofrenia, yang ditandai dengan ketidakmampuan mengontrol marah. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah terapi spiritual murottal yang berfungsi memberikan efek relaksasi dan ketenangan. Tujuan: mengetahui pengaruh penerapan terapi spiritual murottal terhadap kemampuan mengontrol marah pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif pada 3 responden. Instrumen yang digunakan meliputi standart praktik keperawatan jiwa terdiri dari: lembar format asuhan keperawatan, lembar observasi kemampuan mengontrol marah. Pengumpulan data dilakukan melaluai wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, status mental, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan dengan pemberian terapi murottal selama beberapa hari dan dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Analisa data dijelaskan secara deskriptif secara narasi dan tabel. Hasil: sebelum intervensi seluruh responden (100%) mengalami penurunan kemampuan kontrol marah. Setelah diberikan terapi murottal, terjadi peningkatan kemampuan mengontrol marah dimana 66.67% responden mengalami peningkatan kontrol diri cukup meningkat dan 33.33% mengalami peningkatan kontrol diri sedang. Selain itu, terjadi penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan. Kesimpulan: Terapi spiritual murottal efektif dalam meningkatkan kemampuan mengontrol marah serta menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan pada gangguan jiwa khususnya skizofrenia. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain penelitian yang lebih kuat dengan jumlah responden yang lebih besar serta melibatkan kelompok kontrol agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan.
Latar Belakang: Salah satu tantangan umum bagi perawat yang merawat pasien dengan penyakit mental, terutama skizofrenia, adalah kemungkinan perilaku kekerasan. Ketidakmampuan untuk mengatur perasaan agresif merupakan ciri khas gangguan ini, yang dapat membahayakan penderita, orang-orang di sekitarnya, dan lingkungan. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku kekerasan adalah ketidakpatuhan dalam minum obat, yang dapat menyebabkan kekambuhan dan peningkatan perilaku agresif. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan intervensi minum obat terhadap kemampuan mengontrol marah pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo. Metode: Desain studi kasus menggunakan proses keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi, dengan metode deskriptif pada tiga responden. Instrumen yang digunakan berupa format pengkajian keperawatan jiwa, lembar observasi kontrol marah mengacu pada SLKI serta checklist prinsip 6 benar pemberian obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi berdasarkan perubahan skor dan perilaku pasien. Hasil: Setelah dilakukan intervensi minum obat dengan prinsip 6 benar, pasien mengalami peningkatan kemampuan dalam mengontrol marah. Hal ini ditandai dengan penurunan perilaku agresif, peningkatan kemampuan mengungkapkan perasaan secara verbal, serta meningkatnya kepatuhan dalam minum obat. Kesimpulan: Penerapan intervensi minum obat secara teratur efektif dalam meningkatkan kemampuan mengontrol marah pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Kepatuhan pasien dalam menjalani terapi pengobatan menjadi faktor penting dalam keberhasilan intervensi.
Pendahuluan: Gangguan jiwa memengaruhi aspek kognitif, emosi, kemauan, dan perilaku individu sehingga berdampak pada fungsi sosial, pekerjaan, dan keluarga. Kondisi ini memerlukan penanganan dini untuk mencegah dampak yang lebih berat bagi pasien maupun keluarga. Tujuan: Mengetahui pengalaman orang tua dalam merawat anak dengan waham. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada orang tua yang merawat anak sebagai partisipan yang berjumlah 4 orang dengan anak yang mengidap waham di wilayah kerja Puskesmas Tengaran. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode purposive sampling sebagai teknik sampling dengan instrumen bantuan berupa panduan untuk wawancara mendalam dengan alat rekam dan alat tulis sebagai alat bantu. Data dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Penelitian menghasilkan tiga tema utama, yaitu: (1) Pemahaman kognitif keluarga tentang waham, meliputi penyimpangan keyakinan dan perasaan diintai; (2) Cara pengobatan anak dengan waham melalui fasilitas kesehatan dan pengobatan alternatif; serta (3) Strategi koping keluarga berupa respons emosional, penerimaan realitas, dan rasa syukur. Kesimpulan: Gangguan psikotik waham tidak hanya berdampak pada penderita, tetapi juga pada orang tua sebagai caregiver secara ekonomi, fisik, dan psikologis. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan layanan kesehatan yang berfokus pada pasien dan keluarga.
BACKGROUND:Peer-led support interventions in group settings have emerged as a cost-effective alternative to traditional interventions for individuals with various conditions and can improve patient outcomes, reduce healthcare costs, and enhance self-management and self-efficacy. AIM:This umbrella review aims to synthesize and evaluate the evidence on the effectiveness, implementation, and outcomes of group peer support led solely by peers across any physical and/or mental health conditions. METHODS:Systematic reviews, meta-analyses, and scoping reviews were identified through comprehensive searches of PubMed, PsycINFO, CINAHL, and Web of Science. Only review studies focusing on peer-led group support were included. RESULTS:Five reviews examining the effectiveness and implementation of peer-led group support interventions were identified, conducted primarily in the USA, involving mostly adults. The reviews indicated that peer-led group support can enhance personal recovery and psychosocial outcomes, though its impact on clinical symptoms remains inconclusive. There was a lack of detailed information about implementation and settings, and ambiguity in intervention definitions and minimal information on peer facilitator training. Common elements such as educational activities, emotional support, and shared experiences were reported. CONCLUSIONS:Peer-led group support shows promise in enhancing personal recovery and psychosocial outcomes. Standardized definitions and rigorous reporting are needed.
BACKGROUND:Although the impact of violence on mental health has been extensively studied, it has mainly focused on psychopathology and has overlooked well-being. Social support is a protective factor, but further evidence is lacking regarding its role when considering both psychopathology and well-being. AIMS:This study employed a cross-sectional retrospective design to explore the role of victimization and social support in mental health by applying a dual mental health approach. METHODS:A total of 581 adults (42.5% female,18-67 years; M = 34.55, SD = 11.68) completed self-report measures through an online survey. RESULTS:The results support the dual-factor model and significant differences were observed between the mental health groups in terms of participants' sex, victimization and social support. Specifically, the Troubled group reported the highest victimization scores and the worst scores on social support. Additionally, the Positive Mental Health group reported fewer victimization than the Troubled group, as well as greater social support from all sources than the Vulnerable group. CONCLUSIONS:These results underpin the need for more comprehensive analysis of mental health, going beyond the classic perspective of the absence of symptoms as an indication of good health. The identification of different profiles might enable the design of targeted interventions addressing the victims' needs.
BACKGROUND:Everyday functioning and symptom reduction are rehabilitation goals for individuals with psychotic spectrum disorders (PSD). Self-rating of the World Health Organization Disability Assessment Schedule 2.0 (WHODAS) may provide insights into individuals' perspectives on their disabilities but researchers have questioned the value of self-ratings in individuals with PSD. AIM:To explore how individuals with PSD in outpatient psychiatric care reason when self-rating their disabilities on WHODAS to determine the value of doing self-ratings. METHODS:Twenty community dwelling individuals diagnosed with schizophrenia or schizoaffective disorder completed the 36-item WHODAS while being interviewed using concurrent probing. Deductive content analysis was performed, while supplementary questions were analysed inductively. RESULTS:Most individuals showed difficulties in responding in expected ways to the questions. Three themes were identified: Poor language comprehension, Difficulties in processing and responding, and Rating issues related to time, context and experience Difficulties were observed across all WHODAS items. A positive theme concerning Meaning-making emerged. CONCLUSION:Findings suggest that self-rating WHODAS by community dwelling individuals with PSD pose challenges related to language interpretation, attention, contextual framing, emotional engagement and possible cognitive impediments. It is recommended to use WHODAS self-ratings as a tool for dialogue, and contextual understanding, supporting self-reflection, and patient participation.
BACKGROUND:This study provides the analysis of mental health among incarcerated men in Paraguay from a representative sample of 621 adult prisoners in two major penitentiaries. AIMS:To assess the prevalence and correlates of psychiatric symptoms, suicide risk, and substance use among incarcerated men, and their associations with sociodemographic, penal, and health-related factors. METHODS:We employed the Symptom Checklist-90-R (SCL-90-R), the Columbia-Suicide Severity Rating Scale (C-SSRS Screener), and the MULTICAGE CAD-4 for alcohol and substance use. We assessed the prevalence and statistical associations between psychiatric symptoms and relevant variables. RESULTS:Findings revealed substantial levels of psychoticism (28.2%) and phobic anxiety (25.4%). Specifically, nearly one in five participants exhibited suicide risk (19.5%), and problematic drug and alcohol use were identified in 57.0% and 44.9% of users, respectively. Statistically significant associations were observed between SCL-90-R symptom dimensions and variables including suicide risk, prior mental health diagnoses, substance use, and access to treatment. Symptom severity was also associated with pre-incarceration socioeconomic vulnerability and legal status. CONCLUSION:The results underline the need for early psychiatric screening, care pathways, and integrated carceral mental health systems to address psychiatric morbidity among incarcerated men in Paraguay.
Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun psikologis, salah satunya adalah kecemasan. Kondisi hospitalisasi pada lansia seringkali memicu peningkatan tingkat kecemasan yang dapat dipengaruhi oleh faktor psikososial, seperti dukungan keluarga dan frekuensi kunjungan keluarga selama perawatan. Dukungan keluarga yang optimal serta kunjungan keluarga yang rutin diyakini mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menurunkan tingkat kecemasan pada lansiai. Tujuan: Mengetahui hubungan dukungan keluarga dan frekwensi kunjungan dengan tingkat kecemasan pada lansia di ruang Edelweis RSUD KabTemanggung. Metode: desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh lansia yang menjalani perawatan di Ruang Edelweis, dengan jumlah sampel 50 responden menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga, kuesioner frekuensi kunjungan keluarga, serta instrumen Geriatric Anxiety Scale (GAS). Analisis data dengan uji korelasi spearmen rank. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan lansia dengan nilai koefisien korelasi (Spearman’s rho) sebesar −0,112 (p-value) sebesar 0,440 (> 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan keluarga dengan tingkat kecemasan lansia dengan nilai koefisien korelasi (Spearman’s rho) sebesar −0,040 (p-value) sebesar 0,784 (> 0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan frekwensi dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan lansia di ruang Edelweis RSUD Kab. Temanggung. Diharapkan pihak rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang berfokus pada aspek psikologis lansia, melalui peningkatan pengkajian tingkat kecemasan lansia secara rutin, penerapan komunikasi terapeutik, serta penciptaan lingkungan perawatan yang nyaman dan ramah lansia.