
Latar Belakang: Estimasi berat janin yang akurat merupakan komponen penting dalam manajemen persalinan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal.Tujuan: Membandingkan akurasi rumus Johnson Toshach dengan pemeriksaan ultrasonografi dalam memprediksi berat badan lahir bayi spontan pervaginam.Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan terhadap 99 ibu hamil yang melahirkan spontan pervaginam di Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang periode Februari-April 2025. Data taksiran berat janin menggunakan rumus Johnson Toshach dan ultrasonografi dibandingkan dengan berat lahir aktual menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Akurasi dinilai dengan Mean Absolute Error (MAE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE).Hasil: Ultrasonografi menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan berat lahir aktual (p=0,553) dengan selisih rata-rata 24,17 gram, sedangkan rumus Johnson Toshach menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,000) dengan selisih 134,53 gram. Nilai MAE ultrasonografi (239,8 gram) lebih rendah dibanding Johnson Toshach (243,2 gram). Nilai MAPE keduanya kurang dari 10% (7,94% vs 7,83%).Kesimpulan: Ultrasonografi lebih akurat dibanding rumus Johnson Toshach dalam memprediksi berat lahir bayi, meskipun keduanya tergolong sangat akurat secara klinis.
Latar Belakang: Masa prakonsepsi merupakan periode penting dalam persiapan kehamilan yang sehat. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kalimantan Barat tahun 2023 mencapai 165 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak 862 kasus. Tingginya angka kematian ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya persiapan kehamilan yang optimal. Pengetahuan tentang kesehatan prakonsepsi berperan penting dalam membentuk kesiapan kehamilan pasangan usia subur. Studi pendahuluan di TPMB Hj Nuripah S.ST., Bdn menunjukkan 85% WUS belum mengetahui tentang kesehatan prakonsepsi dan 80% belum melakukan persiapan kehamilan secara optimal.Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara hubungan pengetahuan ibu tentang kesehatan prakonsepsi dengan kesiapan kehamilan di TPMB HJ. Nuripah S.ST., Bdn.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross sectional dengan populasi adalah wus yang berkunjung ke TPMB bulan januari sampai dengan Maret 2025 rata-rata sebanyak 79 orang. Jumlah sampel 48 responden. Teknik pengambilan sampel simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner.Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan rendah dan kesiapan kehamilan yang belum optimal. Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan wanita usia subur tentang kesehatan prakonsepsi dengan kesiapan kehamilan (p = 0,005).Kesimpulan: Hasil penelitian ini menyarankan program promosi kesehatan prakonsepsi melalui penyuluhan rutin kepada Wanita Usia Subur, menyediakan media edukasi yang mudah dipahami, meningkatkan kualitas pelayanan konseling prakonsepsi, serta melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap pengetahuan dan kesiapan kehamilan WUS di wilayah kerjanya.
Hyperemesis gravidarum is a severe form of nausea and vomiting during pregnancy that leads to persistent fluid and electrolyte imbalances, with hypokalemia being among the most clinically significant complications. Hypokalemia disrupts normal cardiac membrane excitability and can precipitate lethal arrhythmias, including ventricular tachycardia, ventricular fibrillation, and torsade de pointes — rhythms that carry a substantial risk of sudden cardiac death if not promptly identified and treated. These life-threatening arrhythmias arise from hypokalemia-induced hyperpolarization of the cardiomyocyte resting membrane potential, which paradoxically heightens ventricular automaticity and creates a vulnerable electrophysiological substrate susceptible to malignant dysrhythmias. A 33-year-old multiparous woman at 29 weeks of gestation presented to the emergency unit with a three-day history of generalized weakness, fatigue, persistent nausea, vomiting exceeding five episodes per day, diffuse muscle cramping, and abdominal discomfort. On examination, she was tachycardic with an irregular pulse of 100 beats per minute and tachypneic at 24 breaths per minute. The initial electrocardiogram demonstrated ventricular bigeminy, and brief self-terminating runs of non-sustained ventricular tachycardia were subsequently observed — findings that signaled an evolving arrhythmogenic state with potential for progression to fatal ventricular arrhythmia. Laboratory investigations confirmed severe hypokalemia with a serum potassium level of 1.7 mEq/L. Two-dimensional echocardiography revealed no structural cardiac abnormalities with a preserved left ventricular ejection fraction of 60%. The patient was managed with intravenous potassium chloride replacement, empirical magnesium sulfate supplementation, Bisoprolol, and Methyldopa in the Intensive Care Unit. Serial electrocardiograms documented progression from ventricular bigeminy to trigeminy before complete resolution following serum potassium normalization to 3.4 mEq/L. This case demonstrates that hypokalemia secondary to hyperemesis gravidarum can induce lethal ventricular arrhythmias, and that favorable outcomes are achievable through early recognition and systematic management.
Kehamilan pada pasien dengan penyakit serebrovaskular seperti penyakit moyamoya, merupakan kondisi berisiko tinggi yang memerlukan penatalaksanaan multidisiplin. Pasien wanita usia 36 tahun, G3P2A0, usia kehamilan 22 minggu, datang ke IGD dengan keluhan perut terasa kencang dan keram sejak subuh. Riwayat obstetri anak pertama lahir spontan tahun 2010 dan anak kedua dengan sectio caesarea tahun 2012. Pasien memiliki komorbiditas penyakit moyamoya dan telah menjalani operasi revaskularisasi pada Maret 2025. Pemeriksaan fisik dalam batas normal tanpa defisit neurologis. Pemeriksaan obstetri tinggi fundus sesuai usia kehamilan dan terdapat his. Ultrasonografi menunjukkan kehamilan tunggal intrauterin 22 minggu, janin hidup dengan denyut jantung 120 kali per menit, taksiran berat 500 gram, plasenta posterior, dan cairan ketuban cukup. Mempertimbangkan risiko maternal, dilakukan tindakan sectio caesarea disertai tubektomi bilateral. Bayi lahir dengan berat 500 gram dan meninggal 10 menit pascakelahiran. Kondisi ibu pascaoperasi stabil dan pemulihan berjalan baik. Kehamilan dengan penyakit moyamoya meningkatkan risiko komplikasi neurologis akibat perubahan tekanan darah selama kehamilan dan persalinan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa revaskularisasi sebelum atau selama kehamilan dapat menurunkan risiko kejadian serebrovaskular, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko tersebut dan sectio caesarea sering dipilih untuk menghindari lonjakan tekanan intrakranial akibat mengejan. Pada kasus ini, riwayat revaskularisasi, usia maternal lanjut, kontraksi aktif usia 22 minggu, dan potensi risiko perdarahan serebral menjadi dasar pertimbangan terminasi operatif disertai sterilisasi definitif. Pada usia gestasi previabel dengan risiko maternal tinggi, keselamatan ibu menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan klinis. Penatalaksanaan yang tepat dan pemantauan ketat pascaoperasi berperan penting dalam mencapai luaran maternal yang optimal.
Background: The health of the reproductive organs is one of the most essential things in humans for maintaining offspring. However, loss of fertility or infertility can occur in a person as a result of the effects of cancer treatment. The frozen method of the ovarian cortex is the most widely used technique for fertility preservation, such as in cancer patients. The frozen storage process is categorized into several phases, namely: (1) vitrification, which involves solidifying the aqueous environment of cells or tissue into a non-crystalline glass phase; (2) slow freezing; (3) dry preservation; and (4) nonfreezing storage below zero degrees. Recently, research that specifically discusses the impact of frozen storage, especially cryoinjury, on follicle recruitment in ovarian tissue has been limited. It is necessary to conduct research on the effect of cryoinjury on follicle recruitment via the PTEN pathway in various sizes of ovarian tissue after vitrification.Objective: To determine the effect of ovarian tissue size on follicle recruitment through the PTEN pathway due to post-vitrification cryoinjury.Methods: Goat ovarian cortex tissue samples were divided into fresh and post-vitrification groups. Ovarian tissue is grouped according to the sizes 10x10x1 mm, 5x5x1 mm, and 2.5x2.5x1 mm. The number and proportion of follicles and PTEN protein expression are outcome parameters.Results: A total of 412 follicles were found in all treatment samples, with details of 301 follicles found in the fresh samples and 111 follicles found in the vitrified samples. The total number of follicles in vitrified samples (mean rank: 11.56) showed a significantly lower number (P < 0.05) when compared with fresh samples (mean rank: 25.44). Regarding PTEN expression, the number of follicles expressing PTEN was lower in vitrified tissue. This shows a decrease in the number of follicles, which inhibits follicle recruitment in the ovarian cortex. The number of positive primordial follicles in vitrified samples (mean rank: 12.61) decreased significantly (P < 0.05) compared to fresh samples (mean rank: 24.39).Conclusion: There is an effect of various sizes of ovarian on follicle recruitment through the PTEN pathway due to cryoinjury after vitrification and a relationship between changes in PTEN antibody expression in the PI3K-PTEN-Akt pathway and changes in the percentage of primordial follicles after PTEN vitrification.
Latar Belakang: Dampak dari praktik pernikahan dini adalah masalah kesehatan reproduksi, terutama perempuan. Upaya pencegahan melalui pendekatan secara keterampilan hidup dan psikologis dengan metode promosi kesehatan audio visual yaitu film.Tujuan: Menganalisis tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja perempuan sebelum dan sesudah diberikan film psikoedukasi pencegahan pernikahan dini.Metode: Penelitian kuantitatif dan desain yang digunakan adalah quasy-experiment design. Kelompok intervensi dengan media film psikoedukasi dan kelompok kontrol dengan media leaflet. Responden adalah remaja perempuan usia 13-16 tahun. Dengan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi dimodifikasi dari kementerian kesehatan. Uji yang digunakan adalah uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan.Hasil: Perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi sebelum dan sesudah diberikan film dan leaflet (0,000). Terdapat perbedaan efektifitas kedua media tersebut (0,011). Psikoedukasi memberikan dampak karena melalui pendekatan keterampilan hidup dan psikologis.Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi sebelum dan sesudah diberikan film psikoedukasi dan leaflet pencegahan pernikahan dini. Film psikoedukasi lebih berdampak dalam peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi.
Diabetes melitus gestasional (DMG) merupakan intoleransi glukosa yang pertama kali terdeteksi saat kehamilan dan berisiko menyebabkan komplikasi maternal dan neonatal, termasuk makrosomia. Penentuan metode persalinan pada pasien DMG memerlukan penilaian klinis yang komprehensif, terutama di fasilitas kesehatan primer. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan pertimbangan klinis persalinan pervaginam pada pasien DMG dengan risiko makrosomia. Perempuan 33 tahun, G3P2A0, usia kehamilan 38–39 minggu dengan DMG terkontrol insulin dan pemantauan antenatal rutin. Pasien memasuki fase aktif persalinan dengan kontrol glikemik adekuat dan dugaan makrosomia. Persalinan berlangsung spontan dan progresif. Bayi lahir dengan berat 4120 gram, skor Apgar 8/9, tanpa komplikasi. Ibu dan bayi dalam kondisi baik pascapersalinan. Kasus ini menunjukkan bahwa persalinan pervaginam dapat dipertimbangkan pada DMG terkontrol dengan pemantauan ketat dan kesiapan rujukan.
Background: Female reproductive organs' congenital abnormalities consist of abnormalities in the hymen, vagina, cervix, uterus, and others1. These abnormalities can affect women's ability to menstruate, sexual relations, reproduction, and psychological conditions2. Management of this abnormality depends on the defects of the organs involved and the expected improvement in function. This research was conducted because of the limitation of these cases.Objective: This study aims to determine the quality of life after surgery in women with congenital abnormalities of the reproductive organs.Methods: This study used a prospective study with a descriptive observational cross-sectional method. The population was patients at the Obstetrics Gynecology Polyclinic of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta in 2022 who had congenital disorders of the reproductive organs, aged at least 17 years old, and had undergone surgery. Participants filled out the FSFI and sociodemographic questionnaire.Results: There were 15 participants with 3 types of congenital abnormalities, namely 2 hymenal disorders (microperforate hymen and cribiform hymen), 9 vaginal abnormalities (vaginal agenesis and cervicovaginal agenesis), and 4 uterine and vaginal abnormalities (HWW syndrome). After surgery, 13 people experienced an improvement in abdominal pain; 9 people with primary amenorrhoea were able to menstruate; and 8 married people were able to have sex after surgery. For sexual function, 62.5% of participants had good FSFI scores.Conclusion: Surgery can provide a good function for abdominal pain, menstruation, and sexual relations.
Uterine smooth muscle tumors of uncertain malignant potential (STUMP) are rare uterine neoplasms with histological features between benign leiomyomas and leiomyosarcomas. Their unpredictable biological behavior poses diagnostic and therapeutic challenges, particularly in reproductive-age women where hysterectomy—the conventional definitive treatment—is avoided to preserve fertility. A 35-year-old nulligravida woman presented with prolonged menstrual bleeding and severe dysmenorrhea (VAS 7) for two years. Previous hormonal therapy with dienogest and norethisterone provided partial relief. MRI revealed multiple subtypes 3, 5, and 6 myomas (55 cm3) and an endometriotic cyst. After six months of GnRH agonist therapy with persistent symptoms, laparoscopic myomectomy with adhesiolysis and excision of endometriotic nodules was performed. Five leiomyomas were excised using laparoscopic morcellation, followed by uterine reconstruction. Histopathology showed a cellular tumor composed of spindle to oval cells with mild pleomorphism and 4 mitoses per 10 HPF, without necrosis or hemorrhage—features consistent with cellular leiomyoma, with STUMP as a differential diagnosis. Immunohistochemistry revealed Ki-67 positivity in 3% of cells, supporting cellular leiomyoma. The postoperative course was uneventful, and regular follow-up was scheduled. Differentiating STUMP from cellular leiomyoma is challenging due to overlapping histopathological features. Low proliferative indices such as Ki-67 <5% favor benign behavior. Fertility-preserving management via laparoscopic myomectomy is feasible when performed with contained morcellation to minimize recurrence risk. Reported recurrence rates following conservative management range from 7–21%, with promising fertility outcomes yielding 38–41% pregnancy rates. Long-term surveillance is essential because recurrences and rare malignant transformations may occur several years postoperatively. This case highlights the diagnostic challenge of differentiating cellular leiomyoma from STUMP and underscores the value of combining histopathology and immunohistochemistry in management. Laparoscopic myomectomy offers a fertility-preserving option with a reported 13.2% recurrence rate and 38.8% pregnancy success rate after 24 or more follow-ups. Further case accumulation is essential to refine fertility-preserving protocols for this rare entity.
To describe a rare and atypical case of secondary postpartum hemorrhage (PPH) induced by uterine scar dehiscence in conjunction with an unexplained uterine laceration in the cervico-isthmic region. We report the case of a 29-year-old woman, gravida 2 para 2, who had significant vaginal bleeding and signs of hemorrhagic shock 10 days post-repeated cesarean section. The bleeding was not controlled despite initial resuscitation and medical care. Transabdominal ultrasonography revealed signs of pathology at the previous cesarean scar site. Due to persistent hemodynamic instability, an emergency laparotomy was conducted, exposing active hemorrhage from uterine scar dehiscence, as well as a laceration extending caudally into the cervico-isthmic area, without a clearly identifiable cause. Definitive management required total hysterectomy to achieve hemostasis. This case highlights the importance of consideration of structural causes when medical treatment fails, as early surgical intervention can be life-saving.
Kegiatan Makalah Bebas pada Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) HOGSI 2026 dengan tema “Implementasi Obstetri Ginekologi Sosial dalam Peningkatan Kuantitas & Kualitas Pelayanan Obstetri Ginekologi: Strategi Penurunan AKI, AKB serta Double Burden dengan Integrasi Kesehatan Reproduksi dan Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal”.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia pada remaja (15-24 tahun) sebesar 18% pada remaja putri dan sekitar 14.4% pada remaja putra. Dampak anemia pada remaja terutama yang berkaitan dengan kualitas hidup terkait kesehatan masih belum banyak ditelaah. Berbagai studi anemia pada remaja masih berfokus pada penurunan fungsi kognitif. Tujuan penulisan artikel ini untuk menyampaikan perspektif yang lebih baik tentang anemia dan dampaknya terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada populasi remaja. Pencarian literatur dilakukan pada artikel yang telah terpublikasi 7 tahun terakhir menggunakan database Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci: anemia, kualitas hidup terkait kesehatan (HRQoL), remaja. Talasemia dan Sickle Cell Disease dengan manifestasi klinis yang berat terbukti mempengaruhi hampir semua domain HRQoL terutama pada pasien yang tidak mematuhi rejimen terapi dan sosio-ekonomi rendah. Anemia defisiensi besi menyebabkan penurunan skor HRQoL terutama pada domain fungsi fisik, emosional dan fungsi sekolah. Anemia memiliki berbagai etiologi dan dampaknya terhadap kualitas hidup terkait kesehatan remaja bersifat multidimensional. Program psikososial dan konseling dapat membantu meringankan kesulitan yang terjadi terutama pada pasien talasemia dan SCD. Edukasi pola hidup sehat dan cukup nutrisi perlu terus dilakukan sebagai upaya preventif terhadap anemia defisiensi besi.
Latar Belakang: World Health Organization telah mendefinisikan infertilitas sebagai penyakit sistem reproduksi. Infertilitas pria ditunjukkan dengan penurunan kualitas parameter sperma. Banyak faktor yang memengaruhi kualitas semen pria, leukosit semen merupakan salah satu penyebab tersering pada kasus infertilitas pria.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah leukosit semen dengan morfologi, potential of hydrogen (pH), dan aglutinasi spermatozoa.Metode: Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling.Hasil: Terdapat hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara jumlah leukosit semen dengan morfologi, pH, dan aglutinasi spermatozoa (p<0.001).Kesimpulan: Peningkatan jumlah leukosit semen menyebabkan efek buruk pada morfologi, pH, dan aglutinasi spermatozoa.
Latar Belakang: Angka persalinan seksio sesarea terus meningkat secara global maupun nasional. Klasifikasi Robson direkomendasikan WHO sebagai metode standar untuk audit dan evaluasi seksio sesarea.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbandingan karakteristik ibu, indikasi operasi, dan distribusi klasifikasi Robson pada persalinan seksio sesarea di sebuah rumah sakit daerah pada tahun 2013 dan 2018.Metode: Penelitian analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data rekam medis ibu bersalin dengan seksio sesarea tahun 2013 dan 2018. Sampel total sebanyak 472 kasus (2013: 260; 2018: 212).Hasil: Terdapat tidak perbedaan distribusi usia ibu, paritas dan usia kehamilan antara tahun 2013 dan 2018. Distribusi indikasi seksio sesarea berbeda signifikan antara kedua tahun, dengan indikasi terbanyak tahun 2013 adalah riwayat seksio sesarea (24,2%), sedangkan tahun 2018 adalah gawat janin (27,4%). Distribusi kelompok Robson tahun 2013 didominasi kelompok Robson 2 (31,9%), sedangkan tahun 2018 didominasi kelompok Robson 4 (24,5%).Kesimpulan: Terdapat perubahan signifikan pada distribusi usia, indikasi, dan klasifikasi Robson persalinan seksio sesarea antara tahun 2013 dan 2018. Audit berkelanjutan menggunakan klasifikasi Robson diperlukan untuk mengendalikan angka seksio sesarea.
Latar Belakang: Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan gangguan endokrin yang paling umum pada wanita usia reproduksi dan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan. Penelitian terkait aspek psikologis SOPK di Indonesia, khususnya di Kota Ambon, masih sangat terbatas. Tujuan: Mengetahui prevalensi gejala depresi dan kecemasan pada wanita dengan SOPK di Kota Ambon tahun 2025.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling yang melibatkan 69 wanita usia 15– 49 tahun yang terdiagnosis SOPK berdasarkan Kriteria Rotterdam oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) secara digital dan dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel dan SPSS versi 29.0. Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 31,9% responden mengalami gejala depresi, terdiri dari depresi ringan (23,2%), sedang (7,2%), dan berat (1,4%). Sementara itu, 50,7% responden mengalami gejala kecemasan, dengan rincian kecemasan ringan (21,7%), sedang (20,3%), dan berat (8,7%). Mayoritas gejala berada pada tingkat ringan hingga sedang, namun prevalensinya tetap tergolong tinggi. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya pelaksanaan skrining rutin serta pendekatan komprehensif dalam penanganan pasien SOPK yang mencakup aspek fisik dan psikologis, guna meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Latar Belakang: World Health Organization (WHO) tahun 2012 memaparkan 300.000 atau sekitar 60% ibu hamil menjalani persalinan melalui bedah sesar. Tingginya kegagalan induksi persalinan yang berujung pada peningkatan bedah sesar mendorong WHO untuk merekomendasikan Sistem Klasifikasi Robson. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka bedah sesar pada hamil cukup bulan yang direncanakan induksi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta (2020-2022).Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan induksi persalinan pada kehamilan cukup bulan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta periode Tahun 2020-2022.Metode: Studi analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi observasional dengan desain cross sectional, dengan data sekunder catatan medis dan analisis Robson.Hasil: Dari 269 subjek penelitian, didapatkan kegagalan induksi persalinan pada Grup 2 sebesar 38,8% dan Grup 4 sebesar 27,9%. Keberhasilan induksi persalinan dipengaruhi oleh indeks massa tubuh <30 kg/m² dan skor Bishop 2-9, sementara kegagalan induksi persalinan dipengaruhi oleh usia <20 dan >35 tahun, nulliparra, serta taksiran berat janin >3500 gram.Kesimpulan: : IMT < 30 kg/m² dan skor Bishop 2-9 induksinya lebih berhasil, sementara faktor-faktor lain meningkatkan risiko kegagalan induksi persalinan. Dosis penggunaan obat misoprostol, rute pemberian misoprostol, dan waktu paruh misoprostol, tidak memberikan hasil yang bermakna dalam induksi persalinan.
Latar Belakang: Pasien dengan patologi ginekologi yang dilakukan tindakan ooforektomi bilateral dan terjadi surgical menopause memiliki risiko gangguan metabolisme lipid lebih besar daripada menopause alami. Sebagian pasien ini mendapatkan kemoterapi dengan akibat gangguan profil lipid yang bersifat sementara selama kemoterapi namun diketahui akan membaik setelah enam bulan dari terapi terakhir.Tujuan: Mengetahui perbandingan gambaran profil lipid pasien ooforektomi bilateral (surgical menopause) pada enam bulan pasca kemoterapi dan tanpa kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.Metode: Penelitian deskriptif ambidirectional cohort pada wanita premenopause yang menjalani ooforektomi bilateral oleh karena patologi ginekologi (tumor ovarium, uterus, atau serviks) dengan atau tanpa kemoterapi. Profil lipid (kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL) dan estradiol diukur pada enam bulan pasca kemoterapi atau satu tahun pasca ooforektomi.Hasil: Pada kelompok enam bulan pasca kemoterapi didapatkan hasil yang normal untuk rerata kadar kolesterol total 194,42+33,14 mg/dL, trigliserida 146,21+71,71 mg/dL, serta HDL 50,79+9,40 mg/dL namun kadar LDL di atas kadar normal (133,00+32,23 mg/dL). Kelompok tanpa kemoterapi memiliki rerata kadar kolesterol total 215,38+38,48 mg/dL, trigliserida 168,92+87,26 mg/dL, dan LDL 143,04+37,75 mg/dL yang di atas ambang nilai normal dengan perbedaan signifikan pada kadar kolesterol total (p=0,049). Kadar estradiol tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok.Kesimpulan: Kelompok subjek surgical menopause dengan kemoterapi memiliki kadar kolesterol total, trigliserida, dan HDL normal pada enam bulan setelah kemoterapi terakhir dibandingkan kelompok nonkemoterapi yang memiliki kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL yang lebih tinggi. Diperlukan pemeriksaan profil metabolik sebelum terapi dan pemantauan pasca tindakan serta edukasi pada populasi ini.
Background: There has been an increase in risky sexual behavior among adolescents in Indonesia. As many as 12% of women report having experienced an unwanted pregnancy. Parental bonding has been identified as a crucial factor.Objective: To determine the relationship between parental bonding and risky sexual behavior in adolescents.Method: Cross-sectional design with a sample of 231 students. Data were analyzed using multiple logistic regression. Odds ratios were calculated by controlling for covariates suspected of interfering with the relationship between parental bonding and risky sexual behavior.Results and Discussion: 52.4% of adolescents engaged in high-risk sexual behavior, while 47.6% felt less bonded with their parents. More than half experienced high peer influence (56.3%), were quite religious (52.4%), lived with a complete family (81.8%), and had a moderate socioeconomic status (50.2%). Adolescents with less parental bonding were 43 times more likely to engage in risky sexual behavior after controlling for peer role, social media, religiosity, and family structure.Conclusion: More than half of adolescents engaged in high-risk sexual behavior and had less parental bonding. There is a significant relationship between parental bonding and risky sexual behavior.
Background: Maintaining reproductive hygiene, particularly external reproductive organ cleanliness among female students in Islamic boarding schools, is a crucial aspect of personal hygiene that requires special attention in daily life.Objective: This study aimed to analyze the relationship between information sources, teacher support, and peer influence with reproductive hygiene practices among female students at al Ishlahuddiny Islamic Boarding School, West Lombok, Indonesia.Method: This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 186 female students, and a total of 65 respondents were selected using a systematic random sampling technique. Independent variables included information sources, teacher support, and peer influence, while the dependent variable was reproductive hygiene practices. Data were analyzed through univariate and bivariate analyses using computer-assisted statistical software.Results: More than half of the respondents had access to information sources (53.8%), received teacher support (56.9%), and experienced peer influence (61%), while 63.1% demonstrated good reproductive hygiene practices. There was a significant relationship between teacher support (p=0.016; r=0.76) and peer influence (p=0.003; r=0.82) with reproductive hygiene practices. However, information sources (p=0.113) showed there was not any significant relationship.Conclusion: Teacher support and peer influence were significantly relationship with reproductive hygiene practices among female students in Islamic boarding schools. Strengthening the role of teachers as mentors, along with improving students’ knowledge and skills in maintaining reproductive hygiene, is recommended to promote better reproductive health outcomes.
Background: Menopause potentially causes changes in metabolic disorders and atherosclerosis. This condition triggers cardiovascular disease (CVD) 16 times greater than breast cancer.Objective: This study aimed to identify the prevalence of CVD risk factors in Prolanis participants at the Semarang Regency Health Center.Method: A cross-sectional study was conducted with 147 participants, who were selected from a group of 208 individuals who had undergone menopause and agreed to participate, and for whom complete data was available. Data on body mass index, blood pressure, random glucose levels, and cholesterol were collected from August to October 2025. Statistical analyses were then performed using one-way ANOVA and Pearson's correlation test.Results and Discussion: The results showed that menopause and the age at first menopause were significantly different, while the differences and correlations between menopause and blood pressure, blood glucose, and lipid levels were not significant.Conclusion: The prevalence of metabolic syndrome (Met-S) in postmenopausal women increases with age. Menopause and Met-S had no significant differences and correlations, although women with Met-S showed a higher risk of CVD.