
Latar Belakang: Kecemasan selama kehamilan, terutama menjelang persalinan, merupakan masalah psikologis umum yang memengaruhi kesejahteraan ibu dan janin. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi selama persalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian edukasi menjelang persalinan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil. Metode: Penelitian quasi-experimental ini menggunakan Nonequivalent Control Group Pretest–Posttest Design, dengan pengukuran kecemasan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) edukasi. Sebanyak 90 ibu hamil trimester ketiga dibagi menjadi dua kelompok: 45 pada kelompok perlakuan (Puskesmas Miri) dan 45 pada kelompok kontrol (Puskesmas Tlogowungu). Instrumen yang digunakan adalah Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS). Data dianalisis menggunakan Paired Sample t-Test dan Independent Sample t-Test. Hasil: Kelompok perlakuan mengalami penurunan skor kecemasan dari 27,67 menjadi 19,44 (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol mengalami penurunan kecil dari 30,53 menjadi 27,47 (p < 0,05). Hasil posttest menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p < 0,001). Kesimpulan: Edukasi menjelang persalinan secara signifikan menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk mendukung pelayanan antenatal. Kata Kunci: Edukasi Persalinan, Kehamilan, Kecemasan, Trisemester III
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi tinggi dan risiko komplikasi serius, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman dan efektif. Tanaman benalu (Loranthaceae) mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, saponin, dan polifenol yang berpotensi sebagai agen antidiabetes. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas antidiabetes benalu dari berbagai tanaman inang melalui systematic review. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar terhadap artikel yang dipublikasikan pada 2013–2023. Studi in vivo dan in vitro yang melaporkan aktivitas antidiabetes benalu dengan identifikasi inang yang jelas diinklusi, sedangkan artikel tanpa data kuantitatif dikecualikan. Sebanyak 12 studi dianalisis, meliputi benalu pada inang kersen (4 studi), duku (3), kelor (1), rambutan (1), kayu jawa (1), mangga (1), dan Sebastiania bonplandiana (1). Aktivitas antidiabetes ditunjukkan melalui penurunan kadar glukosa darah 23–56,52%, inhibisi enzim α-glukosidase dan α-amilase (IC₅₀ 57,29–92 ppm), serta penurunan marker stres oksidatif dan inflamasi. Disimpulkan bahwa aktivitas antidiabetes benalu bersifat inang spesifik, dengan benalu dari inang duku, kersen, dan S. bonplandiana menunjukkan efektivitas paling konsisten dan berpotensi dikembangkan sebagai fitofarmaka.
Latar Belakang: Anak dengan Down Syndrome (DS) memiliki berbagai kondisi klinis yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kondisi seperti hipotonia, kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD), dan penyakit penyerta berpotensi mengganggu kemampuan menyusu dan mempertahankan laktasi. Tujuan: Menganalisis determinan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 70 ibu yang memiliki anak Down Syndrome. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik biner dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Proporsi keberhasilan ASI eksklusif sebesar 47,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penyakit penyerta, CHD, hipotonia, mudah lelah saat menyusu, kesulitan mengisap, dan kebutuhan bantuan posisi berhubungan signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa CHD (AOR=0,24; 95%CI=0,07–0,83), hipotonia (AOR=0,25; 95%CI=0,07–0,88), dan penyakit penyerta (AOR=0,29; 95%CI=0,09–0,93) merupakan faktor dominan yang menurunkan peluang keberhasilan ASI eksklusif. Kesimpulan: Keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome dipengaruhi terutama oleh kondisi klinis anak. CHD merupakan faktor paling dominan yang menurunkan keberhasilan ASI eksklusif. Diperlukan dukungan laktasi dan pendampingan multidisiplin untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome.
Background: Hospitalized babies will experience sleep deprived as a result of adaptation processes, as well as examination procedures that may affect their sleeping phase. This study aimed to describe interventions for increasing sleep quality using the Qur’an murattal therapy. Case Presentation: Two cases of low birth-weight (LBW) babies were studied in the perinatology room. Mrs. D’s baby girl was born at 36 weeks of gestational age, with a chronological age of 1 day and a birthweight of 2,400 grams. Mrs. R’s baby girl was born at 38 weeks of gestational age, with a chronological age of 5 days and a birthweight of 2,000 grams. Both babies were treated in an incubator and received no medical therapy. They were easily awakened and fussy when nurses were interacting with fellow nurses or other health workers. Result: The two babies were given the qur’an murattal therapy recited by sheikh mishari bin rashid alafasy once a day for 30 minutes. The therapy was given through headphones placed in the incubator with sound noise level set to 40 dB. There was an increase in the frequency and duration of quiet sleep in both subjects during murottal therapy. the increase in sleep duration in both babies was 6 hours every day, and the babies were not fussy. Conclussion: This case study concludes that the qur’a murattal therapy with a noise level of up to 40 dB could be increase newborns sleep in the perinatology room.
Bullying pada siswa sekolah dasar masih menjadi masalah yang berdampak pada perkembangan sosial dan emosional anak, sehingga diperlukan strategi edukasi preventif yang efektif. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas komparatif edukasi video animasi dibandingkan edukasi lisan dalam menurunkan tindakan dan sikap bullying pada siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest control group. Sampel terdiri dari 40 siswa yang dibagi menjadi kelompok intervensi (video animasi ±5 menit) dan kelompok kontrol (edukasi lisan). Instrumen penelitian berupa kuesioner tindakan dan sikap bullying. Hasil menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami penurunan skor bullying, namun kelompok intervensi menunjukkan penurunan yang lebih besar dan signifikan secara statistik (p<0,05). Rata-rata skor tindakan bullying pada kelompok intervensi lebih rendah (66,90) dibandingkan kelompok kontrol (71,65), sedangkan skor sikap bullying juga lebih rendah (31,80) dibandingkan kelompok kontrol (44,85). Nilai Cohen’s d sebesar 1,3529 pada tindakan dan 0,9677 pada sikap menunjukkan efek intervensi yang besar (Cohen’s d > 0,8 dikategorikan sebagai efek besar). Penurunan tersebut berkaitan dengan peningkatan empati, penguatan persepsi bahaya bullying, dan penurunan sikap permisif terhadap perilaku agresif. Edukasi video animasi terbukti lebih efektif dibanding edukasi lisan dan direkomendasikan sebagai strategi preventif bullying yang aplikatif di lingkungan sekolah dasar.
Berdasarkan hasil pencapaian pembelajaran klinik asuhan kesehatan gigi di klinik JKG Poltekkes Manado ditemukan bahwa tahun ajaran 2021/2022 sebanyak 49% mahasiswa yang tidak mencapai target pembelajaran klinik asuhan kesehatan gigi dan mulut individu. Hasil pencapaian ini tidak sesuai dengan harapan institusi, yaitu 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keberhasilan mahasiswa pada pembelajaran klinik asuhan kesehatan gigi dan mulut individu di klinik JKG Poltekkes Manado. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2023 di Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Manado. Jumlah populasi sebanyak 51 orang, sampel adalah total dari populasi. Pengambilan sampel ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Data yang diperoleh ditabulasi dan di uji analisis menggunakan uji statistik chisquare. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Variabel bebas meliputi 1) Minat, 2) Motivasi. Variabel terikat yaitu keberhasilan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel minat (p = 0.029 < α 0,05), motivasi (p = 0,018 < α 0.05), secara statistik berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan mahasiswa pada pembelajaran klinik asuhan kesehatan gigi dan mulut individu di klinik JKG Poltekkes Manado. Minat dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan mahasiswa pada pembelajaran asuhan kesehatan gigi dan mulut individu di klinik JKG Poltekkes Manado. Semakin tinggi minat dan motivasi mahasiswa terhadap pembelajaran maka semakin tinggi peluang untuk mecapai keberhasilan pembelajaran asuhan kesehatan gigi dan mulut individu.
Background: Hypertension is a global health problem that increases in older adults and serves as a risk factor for cardiovascular diseases. In DKI Jakarta, the highest prevalence of hypertension occurs in the 50–70-year age group, particularly among women. Management can be carried out through pharmacological and non-pharmacological therapies, including Aloe vera juice, which contains bioactive compounds with vasodilatory and antioxidant properties.Objective: This study aimed to determine the effectiveness of Aloe vera juice in altering blood pressure among family members with hypertension. Methods: This research employed a quasi-experimental one-group pre-test and post-test design to evaluate the effect of Aloe vera juice on blood pressure in 25 family members with hypertension at Puskesmas Jatinegara, East Jakarta. Data were collected by measuring blood pressure before and after a 7-day intervention and from patient medical records. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, applying the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of p ≤ 0.05 to determine the effectiveness of the intervention. Results: The study found that Aloe vera juice reduced systolic blood pressure in family members with hypertension, from a median of 157 mmHg to 136 mmHg (Δ 21 mmHg). It also lowered diastolic blood pressure, from a median of 93 mmHg to 83 mmHg (Δ 10 mmHg). The Wilcoxon test showed that Aloe vera juice significantly reduced blood pressure in family members with hypertension (Z = -3.962; p = 0.000). Conclusion and Recommendations: Aloe vera juice was proven to significantly reduce both systolic and diastolic blood pressure in family members with hypertension, indicating a significant difference between pre- and post-intervention blood pressure. Aloe vera juice can be used as a non-pharmacological intervention to lower blood pressure. Future studies are recommended with larger sample sizes and a randomized controlled trial (RCT) design, and family education programs can be implemented to support hypertension management at home.
Abstract Diabetes mellitus is a chronic disease whose prevalence continues to rise and which carries a substantial risk of serious complications, largely attributable to the suboptimal self-care capacity of patients. Environmental health education represents a promotive and preventive approach that can be implemented to foster healthy lifestyle behaviors among diabetes mellitus patients. This study aimed to analyze the effectiveness of environmental health education in improving self-care and complication prevention among diabetes mellitus patients at RS Mitra Sejati. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The sample comprised 40 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using structured questionnaires assessing self-care and complication-prevention behaviors among diabetes mellitus patients. The intervention was delivered through environment-based health education using lectures, group discussions, leaflets, and demonstrations. The findings revealed an increase in the mean self-care score from 58.42 to 78.65 and in complication-prevention behavior from 55.18 to 80.21 following the intervention. Statistical analysis indicated that environmental health education was effective in improving self-care and complication prevention among diabetes mellitus patients, with a significance value of p<0.05. Environmental health education is therefore recommended as a promotive and preventive strategy in the management of diabetes mellitus. Keywords: diabetes_mellitus, environmental_health_education, self_care, complication_prevention, health_promotion
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus stunting, yang merupakan indikator gangguan gizi kronis pada batita. Salah satu faktor risikonya diduga berasal dari kondisi ibu saat kehamilan, termasuk kadar hemoglobinnya, dan tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kadar hemoglobin ibu hamil dengan kejadian stunting pada batita melalui metode yang dikenal studi hemi-batik, yaitu sebagai studi hemoglobin ibu hamil dan batita stunting. Untuk penelitian ini, menggunakan desain observasional analitik pendekatan cross-sectional yang diterapkan pada 88 responden batita yang dipilih secara purposive di wilayah kerja Puskesmas Kartasura. Indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) digunakan untuk menentukan status gizi batita, dan data kadar hemoglobin ibu hamil diperoleh dari buku KIA dengan analisis statistik menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 14,7%, dengan mayoritas ibu berada pada usia reproduktif sehat dan memiliki kadar hemoglobin normal selama kehamilan, serta diperoleh nilai p-value sebesar 0,439 dan 1,000 (p>0,05). Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin ibu hamil dengan kejadian stunting pada batita, sehingga stunting dipahami sebagai kondisi multifaktorial yang kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti asupan gizi, infeksi, pola asuh, sanitasi, dan kondisi sosial ekonomi.
Pneumonia pada balita merupakan penyebab utama morbiditas anak di Indonesia dengan variasi prevalensi yang signifikan antarprovinsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan prevalensi pneumonia balita dan mengidentifikasi dependensi spasial pada 32 provinsi di Indonesia menggunakan data sekunder SKI dan BPS 2023. Model Ordinary Least Squares (OLS) diterapkan sebagai model dasar, dilanjutkan uji autokorelasi spasial dengan matriks pembobot Euclidean distance-band binary radius 7 km. Autokorelasi spasial global yang signifikan ditemukan (Moran's I = 0,244; p < 0,001), dan uji diagnostik spasial menunjukkan mekanisme spatial lag lebih tepat, sehingga model Spatial Autoregressive (SAR) dipilih. Estimasi SAR menggunakan Maximum Likelihood (ML) dan GS2SLS menghasilkan temuan konsisten bahwa kepadatan penduduk, proporsi rumah berdinding bambu, proporsi rumah layak huni, dan cakupan PCV memiliki efek langsung signifikan terhadap prevalensi pneumonia balita. Efek spillover tidak signifikan, mengindikasikan determinan beroperasi terutama pada tingkat provinsi setempat. Intervensi lokal yang terfokus pada peningkatan kualitas perumahan, pengelolaan kepadatan penduduk, dan perluasan cakupan imunisasi PCV diperlukan secara merata di seluruh provinsi Indonesia
Sindrom metabolik adalah kelompok gangguan dalam proses metabolisme tubuh, yang mencakup obesitas di area pusat tubuh, kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah tinggi, serta ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah. Kelompok gangguan ini bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan risiko mengalami sindrom metabolik pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Puskesmas Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 100 orang lansia yang tergabung dalam PROLANIS, dan 80 dari mereka dipilih menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%. Data dikumpulkan melalui kuesioner gaya hidup yang ter uji valid dan reliabel dengan nilai Cronbach’s alpha = 0,894, serta pemeriksaan fisik berdasarkan kriteria NCEP-ATP III, yaitu lingkar perut, tekanan darah, kadar HDL, trigliserida, dan kadar gula darah puasa. Hasil analisis dengan uji Chi- square menunjukkan 73,8% responden memiliki gaya hidup sehat, namun 56,3% di antaranya masih berisiko mengalami sindrom metabolik (p = 0,150). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara gaya hidup dengan risiko sindrom metabolik, karena berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi biologis juga turut memengaruhi.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronik yang memerlukan terapi jangka panjang dengan pertimbangan klinis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi kombinasi ACEI–CCB dibandingkan ARB–CCB pada pasien hipertensi dengan hemodialisis di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan Cost Effectiveness Analysis (CEA). Sampel berjumlah 80 pasien yang dipilih menggunakan purposive sampling, terdiri dari 27 pasien kelompok ACEI–CCB dan 53 pasien kelompok ARB–CCB. Data diperoleh dari rekam medis periode Januari–Desember 2025. Efektivitas diukur berdasarkan proporsi pasien yang mencapai target tekanan darah. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas terapi ARB–CCB sebesar 81,13% lebih tinggi dibandingkan ACEI–CCB sebesar 51,85%. Total biaya medis langsung ARB–CCB sebesar Rp 14.816.264 lebih tinggi dibandingkan ACEI–CCB sebesar Rp 14.446.115. Nilai ACER ARB–CCB sebesar Rp 18.262.373 lebih rendah dibandingkan ACEI–CCB sebesar Rp 27.861.359, dengan nilai ICER sebesar Rp 32.783.422. Disimpulkan bahwa terapi kombinasi ARB–CCB lebih cost-effective dibandingkan ACEI–CCB pada pasien hipertensi dengan hemodialisis.
Perkembangan teknologi informasi di bidang keperawatan, seperti penggunaan rekam medis elektronik, layanan telekeperawatan, dan aplikasi manajemen pasien, telah membawa peningkatan signifikan terhadap efisiensi serta mutu pelayanan kesehatan. Meskipun demikian, keberhasilan penerapan teknologi tersebut sangat dipengaruhi oleh kesiapan dan penerimaan para perawat. Saat ini, peran perawat tidak hanya terbatas pada pelaksanaan tindakan teknis, tetapi juga melibatkan kemampuan komunikasi, empati, serta pengambilan keputusan yang tepat. Tingkat kesiapan perawat dalam mengadopsi teknologi turut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain strategi organisasi, gaya kepemimpinan, komitmen, serta iklim inovasi di lingkungan kerja. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan perawat dalam menerima inovasi teknologi pada pelayanan keperawatan menjadi hal yang penting. Analisis ini mencakup penilaian terhadap aspek individu, seperti kompetensi, motivasi, dan sikap perawat, serta faktor organisasi, meliputi dukungan manajemen, ketersediaan infrastruktur, kepemimpinan, dan budaya inovasi. Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor tersebut dapat membantu memastikan bahwa penerapan teknologi berjalan efektif serta mampu meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Metode penelitian ini adalah studi literature review menggunakan PRISMA. Database yang digunakan sebagai sumber terdiri dari Google Scholar, Science Direct dan ProQuest. Penelitian ini menggunakan strategi PICOT dalam menelusuri artikel pada data base elektronik. Dari 788 jurnal, didapatkan 20 jurnal yang relevan. Analisis faktor kesiapan penerimaan inovasi perawat terhadap teknologi dalam pelayanan keperawatan ada empat: strategi, leadership, commitment, dan climate of innovation. sementara hambatan utamanya adalah resistensi perubahan, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya pelatihan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pelatihan, kebijakan pendukung, tim inovasi, dan evaluasi rutin. Upaya peningkatan kesiapan perawat dalam mengadopsi teknologi dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pelatihan rutin, penguatan infrastruktur beserta kebijakan pendukung, pemberian apresiasi untuk mendorong motivasi, pembentukan tim inovasi, pelaksanaan evaluasi secara berkala, serta pengembangan kolaborasi dengan berbagai pihak guna membangun budaya inovasi yang berkesinambungan.
Abstract Hemodialysis is the most commonly used renal replacement therapy for end-stage chronic kidney disease (CKD) patients. The hemodialysis process involves regulating the patients dry weight (DW), which is defined as the lowest tolerated weight after a dialysis session without causing symptoms of hypotension or muscle cramps. Sleep quality and quality of life are crucial aspects of care for hemodialysis patients. To analyze the correlation between dry weight and sleep quality as well as quality of life in hemodialysis patients. This study employed a quantitative research instruments included a digital weighing scale, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire, and the Kidney Disease Quality of Life Short Form 36 (KDQOL SF-36) questionnaire. The data were analyzed using the Chi-Square test. The Chi-Square test results indicated that the correlation between dry weight and quality of life had a significance value of 1.000 (p 0.05), while the correlation between dry weight and quality of life had a significance value of 0.700 (p 0.05) indicating that neither showed a significant association. There is no significant correlation between dry weight in hemodialysis patients and sleep quality of life at the Dialysis Unit of Purwokerto Islamic. Keywords: Dry weight, sleep quality, quality of life, chronic kidney disease, hemodialysis
Background Informal workers represent a highly vulnerable group due to limited access to preventive health services. Various individual, social, economic, policy, and environmental factors contribute to their low participation in preventive health programs. Objective This study aims to identify the determinants of preventive health service utilization among informal workers based on a review of 13 national and international journals published between 2021 and 2025. Method A systematic review approach was applied by examining relevant articles from international and national databases. The analysis included socio-demographic variables, employment status, health insurance policies, and environmental factors influencing access to preventive services. Results Education, health knowledge, attitudes, and family support were found to enhance preventive health service utilization. Economic constraints such as unstable income and lack of social security emerged as major barriers. Furthermore, distance to health facilities, service quality, and limited availability of health professionals exacerbated access disparities, making informal workers more vulnerable to chronic diseases. Conclusion Preventive health service utilization among informal workers is influenced by a combination of individual, social, economic, policy, and environmental factors. Inclusive policies, community-based interventions, and improved health infrastructure are required to increase participation and ensure equitable access to preventive health services. Keywords: informal workers, preventive health, determinants, social security, health access
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi terkini layanan farmasi klinis di rumah sakit di Timor-Leste, mengidentifikasi hambatan dan faktor pendukung implementasinya, serta mengevaluasi model praktik yang dapat diadaptasi dari negara Asia Tenggara. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA melalui pencarian database PubMed, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Sebanyak 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan farmasi klinis di Timor-Leste masih berada pada tahap awal dan didominasi oleh fungsi dispensing. Hambatan utama meliputi keterbatasan tenaga farmasis, kurangnya pelatihan klinis, lemahnya kebijakan, serta minimnya integrasi dalam tim multidisiplin. Sebaliknya, faktor pendukung meliputi dukungan kebijakan, penguatan SDM, serta integrasi layanan berbasis tim. Model praktik yang relevan untuk diadaptasi meliputi program kepatuhan obat, layanan farmasi berbasis bangsal, antimicrobial stewardship, dan medication review. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan layanan farmasi klinis di Timor-Leste memerlukan pendekatan sistemik yang mengintegrasikan kebijakan, kapasitas SDM, dan model layanan berbasis bukti. Kata Kunci: farmasi klinis, rumah sakit, LMIC, Timor-Leste, systematic review Abstract This study aims to analyze the current state of hospital clinical pharmacy services in Timor-Leste, identify key barriers and facilitators to their implementation, and determine adaptable practice models from Southeast Asian countries. A systematic literature review (SLR) was conducted following PRISMA guidelines using databases including PubMed, Scopus, Web of Science, and Google Scholar. A total of 15 eligible peer-reviewed studies published between 2021 and 2025 were included and analyzed using thematic synthesis. The findings indicate that clinical pharmacy services in Timor-Leste remain at an early stage of development and are predominantly limited to traditional dispensing roles. Major barriers include workforce shortages, limited clinical training, weak policy frameworks, and lack of integration into multidisciplinary healthcare teams. Conversely, key facilitators identified across Southeast Asia include strong policy support, workforce development, and structured clinical pharmacy service models. Several adaptable models were identified, including medication adherence programs, ward-based clinical pharmacy services, antimicrobial stewardship programs, and medication review systems. This study concludes that advancing clinical pharmacy services in Timor-Leste requires a system-level approach integrating policy reform, workforce strengthening, and evidence-based service implementation. Keywords: clinical pharmacy, hospital, LMIC, Timor-Leste, systematic review
Kepuasan pasien merupakan indikator kualitas layanan kesehatan yang dipengaruhi oleh kesesuaian antara harapan dan pelayanan yang diterima, terutama melalui asuhan keperawatan, komunikasi efektif, serta penerapan keselamatan pasien. Salah satu aspek penting adalah pelaksanaan handover, khususnya metode Handover Bedside Teaching berbasis Patient-Centered Care (PCC), yang memungkinkan transfer informasi akurat, keterlibatan pasien, serta peningkatan keselamatan dan kualitas perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi Handover Bedside Teaching Base on Patient Centered Care terhadap kepuasan pasien di Ruang rawat inap Rumah Sakit Columbia Asia BSD. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan quasi eksperimen two group. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat Inap RS Columbia Asia BSD. Adapun teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepuasan sebelum dan sesudah penerapan handover bedside teaching base on patient-centered care. Analisis data menggunakan uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan kepuasan pasien sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian dengan analisis bivariat uji paired t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kepuasan kelompok kontrol dan intervensi dengan p-value = 0,001 sebelum dan sesudah penerapan handover bedside teaching base on patient-centered care. Penerapan handover dengan metode bedside teaching base on patient-centered care meningkatkan kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Columbia Asia BSD.
Risiko jatuh pada lansia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin penting seiring meningkatnya populasi usia lanjut. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kejadian jatuh, termasuk faktor fisiologis seperti penurunan kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas, serta fungsi sensorik dan kognitif. Selain itu, faktor lingkungan seperti pencahayaan yang buruk dan hambatan di rumah serta faktor perilaku seperti rendahnya aktivitas fisik dan penggunaan obat tertentu juga meningkatkan risiko jatuh. Latihan multidimensi yang menggabungkan latihan kekuatan, keseimbangan, fleksibilitas, dan postural dipandang sebagai intervensi yang mampu mengatasi berbagai faktor risiko tersebut. Tinjauan sistematis bertujuan menganalisis efektivitas latihan multidimensi dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia. Proses pencarian literatur mengikuti pedoman PRISMA 2020 dengan menggunakan basis data PubMed, Scopus, Google Scholar, dan Semantic Scholar untuk publikasi tahun 2019–2025. Sepuluh studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis, meliputi RCT, kuasi-eksperimen, observasional, review, dan meta-analisis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa latihan multidimensi meningkatkan keseimbangan, kekuatan otot, fleksibilitas, dan fungsi fisik. Program latihan dengan durasi minimal delapan hingga dua belas minggu juga berkontribusi pada penurunan risiko jatuh. Meta-analisis menunjukkan penurunan risiko jatuh sekitar tiga puluh empat persen. Keberhasilan program dipengaruhi oleh durasi latihan, intensitas, kepatuhan peserta, dan dukungan lingkungan. Secara keseluruhan, latihan multidimensi merupakan pendekatan efektif dan komprehensif untuk pencegahan jatuh pada lansia luas.
Background Oral health is an essential aspect of quality of life, particularly among older adults who are vulnerable to various oral health problems. However, their level of knowledge and behavior in maintaining oral hygiene remains relatively low. Objective This study aimed to examine the effectiveness of audiovisual media in promoting oral health among older adults. Method Participants were elderly individuals who received oral health education through audiovisual materials, including short videos demonstrating proper oral hygiene practices, the importance of regular dental check-ups, and the impact of oral health on overall well-being. Results The results indicated a significant improvement in oral health knowledge among older adults after receiving audiovisual education. Participants demonstrated better understanding of proper tooth brushing techniques, the importance of dental visits, and the use of oral hygiene aids. Conclusion Preventive health service utilization among informal workers is influenced by a combination of individual, audiovisual media is an effective educational tool to enhance knowledge, attitudes, and oral health behaviors among older adults. By engaging multiple senses in the learning process, audiovisual education improves information retention, motivation, and consistency in healthy practices. Keywords: informal workers, preventive health, determinants, social security, health access
The massive growth of healthcare services, particularly post-COVID-19, has significantly increased volumes of hazardous polymer-based and infectious medical waste. Conventional methods like open incineration pose environmental and health risks due to toxic emissions and incomplete sterilization, highlighting an urgent need for safer, efficient, and sustainable management innovations. This study analyzes the effectiveness of thermal (pyrolysis, gasification) and chemical (depolymerization, Advanced Oxidation Processes/AOPs) degradation technologies through qualitative library research. Data from credible sources (indexed journals, WHO/UNEP reports, government policies; 2018–2025) were descriptively-critically and comparatively analyzed. Results demonstrate that controlled thermal degradation reduces waste volume by 90%, neutralizes pathogens at 400–800°C, and converts waste into valuable products (syngas, bio-oil), while chemical approaches (catalysts, AOPs) decompose polymers at the molecular level and neutralize heavy metals/organic contaminants without dioxin emissions. Integrating both technologies via capacity-based regional clustering and blended finance schemes proved technically-economically feasible. Contributions include: (1) Policy recommendations for the Ministry of Health/Environment to standardize green technologies; (2) Technology-as-a-Service business models for healthcare facilities; (3) Collaborative implementation frameworks (government-private-academia) supporting SDGs and Indonesia’s 2045 Golden Vision through pollution prevention, circular economy, and improved public health outcomes