
Christian faith-based schools are increasingly required to manage religious, cultural, and social diversity while sustaining their distinctive educational mission, making multicultural education an educational management challenge rather than solely a pedagogical concern. This systematic literature review examines how multicultural education is managed in Christian faith-based schools by synthesizing evidence from 32 Scopus-indexed Q1 and Q2 journal articles published between 2016 and 2026. Following the PRISMA 2020 guidelines, the review employs James A. Banks' multicultural education framework as an interpretive analytical lens—rather than a tested theoretical model—to examine leadership, governance, curriculum, and organizational responses to diversity. The findings identify five recurring management challenges: secularization and declining religious affiliation; increasing religious and cultural diversity; tensions between Christian identity and inclusive practices; racial, ethnic, and gender diversity, including LGBTQ+ inclusion; and leadership, governance, and teacher capacity. The review demonstrates that effective multicultural education depends on coordinated organizational responses that align with institutional mission, leadership, governance, curriculum, teacher development, stakeholder engagement, and school culture. Its principal contribution is to reposition multicultural education from a predominantly pedagogical concern to a question of educational leadership and organizational stewardship by demonstrating how Banks' multicultural education framework can serve as an analytical lens for understanding organizational responses in Christian faith-based schools. The review also offers evidence-informed insights for school leaders, governing bodies, and policymakers seeking to advance both Christian mission and multicultural inclusion. Abstrak dalam Bahasa Indonesia : Sekolah Kristen berbasis iman menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk mengelola keberagaman agama, budaya, dan sosial tanpa mengabaikan misi pendidikan yang menjadi identitasnya. Kondisi tersebut menempatkan pendidikan multikultural tidak hanya sebagai isu pedagogis, tetapi juga sebagai tantangan dalam manajemen pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengelolaan pendidikan multikultural di sekolah Kristen berbasis iman melalui Systematic Literature Review (SLR) terhadap 32 artikel jurnal bereputasi yang terindeks Scopus Q1 dan Q2 serta diterbitkan pada periode 2016–2026. Kajian ini mengikuti pedoman PRISMA 2020 dan menggunakan kerangka pendidikan multikultural James A. Banks sebagai lensa analitis interpretatif, bukan sebagai model teoretis yang diuji, untuk menganalisis kepemimpinan, tata kelola, kurikulum, dan respons organisasi dalam menghadapi keberagaman. Hasil kajian mengidentifikasi lima tantangan utama dalam pengelolaan pendidikan multikultural, yaitu: (1) sekularisasi dan menurunnya afiliasi keagamaan; (2) meningkatnya keberagaman agama dan budaya; (3) ketegangan antara identitas Kristen dan praktik pendidikan yang inklusif; (4) keberagaman ras, etnis, dan gender, termasuk isu inklusi LGBTQ+; serta (5) tantangan dalam kepemimpinan, tata kelola, dan kapasitas guru. Temuan kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan pendidikan multikultural bergantung pada respons organisasi yang terintegrasi dan selaras dengan misi institusi, kepemimpinan, tata kelola, kurikulum, pengembangan profesional guru, keterlibatan pemangku kepentingan, serta budaya sekolah. Kontribusi utama kajian ini adalah mereposisikan pendidikan multikultural dari perspektif yang selama ini didominasi oleh aspek pedagogis menjadi isu kepemimpinan pendidikan dan pengelolaan organisasi. Selain itu, kajian ini menunjukkan bahwa kerangka pendidikan multikultural James A. Banks dapat dimanfaatkan sebagai lensa analitis untuk memahami respons organisasi dalam mengelola keberagaman di sekolah Kristen berbasis iman. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan berbasis bukti bagi pemimpin sekolah, badan penyelenggara, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi yang mampu memperkuat misi pendidikan Kristen sekaligus mewujudkan pendidikan yang inklusif dalam konteks masyarakat multikultural.
This study aims to examine the effect of tax planning, green accounting, and carbon emission disclosure on firm value in energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period 2022–2024. This study employs a quantitative approach using secondary data obtained from annual reports and sustainability reports. The sample was selected using purposive sampling, resulting in 66 observations. Data analysis was conducted using multiple linear regression analysis. The results show that tax planning does not have a significant effect on firm value, indicating that tax management strategies are not the main consideration for investors in assessing company performance. In contrast, green accounting and carbon emission disclosure have a positive and significant effect on firm value. These findings suggest that environmental responsibility and transparency in environmental information disclosure play an important role in increasing firm value, particularly in the energy sector, which has high environmental impact. This study implies that companies need to enhance the implementation of green accounting and carbon emission disclosure as part of sustainability strategies to improve investor trust and firm value. Abstrak dalam Bahasa Indonesia : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tax planning, green accounting, dan pengungkapan emisi karbon terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2022–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 66 observasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tax planning tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, yang mengindikasikan bahwa strategi pengelolaan pajak belum menjadi pertimbangan utama investor dalam menilai kinerja perusahaan. Sebaliknya, green accounting dan pengungkapan emisi karbon berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa tanggung jawab lingkungan dan transparansi dalam pengungkapan informasi lingkungan memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai perusahaan, khususnya pada sektor energi yang memiliki dampak lingkungan yang tinggi. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa perusahaan perlu meningkatkan penerapan green accounting dan pengungkapan emisi karbon sebagai bagian dari strategi keberlanjutan untuk memperkuat kepercayaan investor dan meningkatkan nilai perusahaan.
This study examined the effect of opportunity recognition on business scalability among indigenous startups in Enugu State, Nigeria. The study specifically investigated the influence of environmental scanning capability and prior entrepreneurial knowledge on business scalability. A descriptive survey research design based on a quantitative approach was adopted. Data were collected from 268 indigenous startups operating within their first five years across Enugu, Nsukka, Oji River, and Awgu using structured questionnaires. Descriptive and inferential statistics were employed for data analysis, and hypotheses were tested using multiple regression analysis in SPSS. The findings revealed that environmental scanning capability and prior entrepreneurial knowledge both exert significant positive effects on business scalability, with environmental scanning capability emerging as the stronger predictor. The study concludes that opportunity recognition is a critical determinant of startup scalability in dynamic and resource-constrained entrepreneurial environments. The study recommends strengthening environmental scanning practices, entrepreneurial learning systems, and market intelligence support mechanisms to improve startup growth and sustainability. Abstrak dalam Bahasa Indonesia : Penelitian ini mengkaji pengaruh pengenalan peluang terhadap skalabilitas bisnis pada startup lokal di Negara Bagian Enugu, Nigeria. Secara khusus, penelitian ini menganalisis pengaruh kemampuan pemindaian lingkungan dan pengetahuan kewirausahaan sebelumnya terhadap skalabilitas bisnis. Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan dari 268 startup lokal yang beroperasi dalam lima tahun pertama di wilayah Enugu, Nsukka, Oji River, dan Awgu dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial, sedangkan pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi berganda melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemindaian lingkungan dan pengetahuan kewirausahaan sebelumnya sama-sama memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap skalabilitas bisnis, dengan kemampuan pemindaian lingkungan sebagai prediktor yang lebih kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengenalan peluang merupakan determinan penting bagi skalabilitas startup dalam lingkungan kewirausahaan yang dinamis dan memiliki keterbatasan sumber daya. Penelitian ini merekomendasikan penguatan praktik pemindaian lingkungan, sistem pembelajaran kewirausahaan, serta mekanisme dukungan intelijen pasar untuk meningkatkan pertumbuhan dan keberlanjutan startup.
The move toward the new normal organization—hybrid and distributed work, deepening digital mediation, and the swift uptake of artificial intelligence—has widened employees’ flexibility while sharpening their psychological strain. Human resource development (HRD) models built for stable, co-located settings sit uneasily with the emotional vulnerability this shift produces. This article reviews two literatures that have matured largely apart: emotional agility, an individual capacity for engaging adaptively with one’s inner emotional life that draws on the science of emotion regulation and psychological flexibility; and psychological safety, a team-level belief that interpersonal risk-taking is safe. Drawing on an integrative literature review of Scopus, Web of Science, and the Thai-Journal Citation Index, searched on 15 January 2026, and synthesizing 25 peer-reviewed and foundational sources through thematic and conceptual integration rather than meta-analytic pooling, the review clarifies each construct, examines the obstacles the new normal places before both, and proposes—as a theoretical antecedent relationship for future empirical testing, not an established finding—that individual emotional agility serves as a proximal antecedent of team psychological safety, with agile and empathetic leadership acting as the connecting mechanism. The synthesis yields a multilevel framework that links the new normal environment, leadership, emotional agility, psychological safety, and sustainable HRD outcomes—retention, well-being, and innovation—and closes with implications for practice and a research agenda. Abstrak dalam Bahasa Indonesia : Perubahan menuju organisasi new normal yang ditandai dengan kerja hibrida, digitalisasi, dan adopsi kecerdasan buatan meningkatkan fleksibilitas sekaligus tekanan psikologis karyawan. Kondisi ini menuntut pendekatan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang lebih adaptif terhadap dinamika emosional di tempat kerja. Artikel ini mengintegrasikan dua konstruk yang berkembang secara terpisah, yaitu emotional agility, sebagai kemampuan individu untuk merespons dan mengelola emosi secara adaptif, dan psychological safety, sebagai keyakinan tim bahwa lingkungan kerja aman untuk mengambil risiko interpersonal. Melalui tinjauan literatur integratif terhadap 25 sumber dari Scopus, Web of Science, dan Thai-Journal Citation Index yang ditelusuri pada 15 Januari 2026, artikel ini menganalisis kedua konstruk tersebut dalam konteks new normal. Sintesis konseptual mengusulkan bahwa emotional agility individu dapat menjadi anteseden proksimal psychological safety pada tingkat tim, dengan kepemimpinan yang lincah dan empatik sebagai mekanisme penghubung. Kerangka multilevel yang dihasilkan menghubungkan lingkungan new normal, kepemimpinan, emotional agility, psychological safety, serta hasil SDM berkelanjutan berupa retensi, kesejahteraan, dan inovasi. Artikel ini memberikan implikasi bagi praktik SDM dan agenda penelitian empiris di masa mendatang.
This study examines the effect of meme marketing on customer engagement in the context of Netflix Indonesia’s Instagram account, with self-congruence and perceived entertainment as explanatory variables. The study is motivated by the relatively low engagement rate observed despite the increasing use of meme-based content as a digital marketing strategy among Generation Z. Data were collected through an online questionnaire from 117 Generation Z respondents who actively use Instagram and had been exposed to Netflix Indonesia’s meme content. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that meme marketing has positive and significant effects on both self-congruence and perceived entertainment. Perceived entertainment has a positive and significant effect on customer engagement, whereas self-congruence does not significantly affect customer engagement. Meme marketing also has no significant direct effect on customer engagement. These findings indicate that perceived entertainment is more strongly associated with customer engagement than self-congruence in the context examined. The study suggests that using memes alone may not be sufficient to generate engagement; audience perceptions of entertainment are particularly important for generating engagement. The findings provide practical implications for digital entertainment brands by emphasizing the importance of humor, creativity, and entertainment value when designing meme-based content for Generation Z audiences. Abstrak dalam Bahasa Indonesia : Penelitian ini menganalisis pengaruh meme marketing terhadap customer engagement dalam konteks akun Instagram Netflix Indonesia, dengan self-congruence dan perceived entertainment sebagai variabel penjelas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh relatif rendahnya tingkat engagement meskipun penggunaan konten berbasis meme sebagai strategi pemasaran digital semakin meningkat di kalangan Generasi Z. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 117 responden Generasi Z yang aktif menggunakan Instagram dan pernah terpapar konten meme Netflix Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap self-congruence dan perceived entertainment. Perceived entertainment berpengaruh positif dan signifikan terhadap customer engagement, sedangkan self-congruence tidak berpengaruh signifikan terhadap customer engagement. Selain itu, meme marketing tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap customer engagement. Temuan ini menunjukkan bahwa perceived entertainment memiliki hubungan yang lebih kuat dengan customer engagement dibandingkan self-congruence dalam konteks yang diteliti. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan meme saja belum tentu mampu menghasilkan engagement; audiens perlu merasakan bahwa konten tersebut benar-benar menghibur. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi merek di sektor hiburan digital dengan menekankan pentingnya humor, kreativitas, dan nilai hiburan dalam merancang konten berbasis meme bagi audiens Generasi Z.