
Backgrounds: Stunting in adolescents is a development problem brought on by genetics, poor nutrition, and poverty. To transform ridicule into a weakness for bullying victims, bullies prey on teens with a less-than-ideal physique (stunting). Teenagers with small stature are one of the targets of bullying victims. This study's research goal was to ascertain how bullying affects stunted young people.Methods: employing a cross-sectional methodology with a quantitative descriptive design. Using the complete sampling methodology, 36 participants represented the study's population. The data was collected using a bullying questionnaire, and the impact of bullying was carried out with a constructed test with a reliability result of the bullying questionnaire at 0.951 and the reliability of the effects of bullying at 0.918.Results: A total of 21 respondents (58.3%) reported experiencing low bullying, and 19 reported feeling the impact of bullying was unaffected (52.8%). It is clarified that these teenagers can adapt to forming positive social connections at school. The engagement in bullying acts decreases as teacher concern for combating bullying increases. A total of 21 respondents (58.3%) experienced low bullying, and an additional 19 said the impact of bullying did not affect them (52.8%). These teenagers can adjust to making wholesome friends at school. Bullying behavior declines as teachers' concern for stopping bullying rises.Conclusion: In addition to choosing people with varied features from this study, it is anticipated that it will be possible to conduct research in this manner. It is also recommended that future researchers include additional variables. AbstrakLatar belakang: Remaja dengan perawakan pendek (stunting) merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh genetik, masalah gizi kronis, dan kemiskinan. Remaja dengan perawakan pendek menjadi salah satu sasaran korban bullying, para pelaku memanfaatkan remaja yang mempunyai tubuh kurang ideal (stunting) menjadikan bahan ejekan sebagai kelemahan korban bullying. Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak bullying pada remaja yang mengalami stunting. Metode: menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cros-sectional. Populasi dalam penelitian ini dengan sampel 36 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen angket bullying dan dampak bullying yang dilakukan uji construct dengan hasil reliabilitas kuesioner bullying sebesar 0,951 dan untuk hasil reliabilitas dampak bullying sebesar 0,918. Hasil: sebagian besar responden mengalami bullying ringan dengan jumlah 21 responden (58,3%) dan sebagian tidak mengalami dampak bullying dengan jumlah 19 responden (52,8%). Hal ini dijelaskan bahwa remaja tersebut dpaat menyesuaikan diri dengan memiliki hubungan sosial yang baik di sekolahan. Semakin tinggi kepedulian guru untuk mengatasi bullying maka akan semakin rendah keterlibatan remaja dalam melakukan tindakan bullying.Kesimpulan: Diharapkan dapat mengadakan penelitian yang serupa, dan disarankan peneliti selanjutnya umtuk menambah variabel-variabel yang lain, selain itu dengan memilih subjek dengan karakteristik yang berbeda dari penelitian ini
Background: Indonesia has the third highest TB burden after India and China. TB disease in children reached an estimated one million worldwide, with 233,000 deaths due to TB in 2017. The study aimed to provide under-reporting TB in children <15 years.Methods: Inventory TB study data were used for analysis. This perspective district-based study in Indonesia involves all health facilities in selected areas that have diagnosed and treated TB in children in the last three months. All cases of TB in children who were clinically diagnosed and bacteriologically confirmed and categorized as new cases or re-treated were included for analysis.Results: Total cases of TB 23,320 in all group ages obtained by health care facilities from 23 districts/cities. Most TB cases occurred in the age group ≥ 15 (82%), while the remaining 18% were aged <15 years. The under-reporting rate of TB <15 years was 54%. Under-reporting of TB in the age group< 15 years mostly in non-primary health care facilities (71%), for example, hospitals, clinics, generalpractitioners, and pediatricians, whereas the rest is from primary health care (19%).Conclusion: Under-reporting of TB in children is still above 50%, especially in the 0-4 year age group. Under-reporting of TB in children mainly occurs in non-primary healthcare facilities. For this reason, the role of the regions, especially the health office, needs to supervise and guide hospitals, clinics, and private practitioners regarding the recording and to report TB in children to an integrated tuberculosis information system. AbstrakLatar belakang: Indonesia memiliki beban TB tertinggi ketiga setelah India dan China. Penyakit TB pada anak diperkirakan mencapai satu juta di seluruh dunia, dengan 233.000 kematian akibat TB pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaporan TB pada anak <15 tahun.Metode: Data studi inventarisasi TB di Indonesia digunakan untuk analisis. Studi ini dilakukan di 23 kabupaten di Indonesia pada tahun 2016-2017. Studi perspektif berbasis kabupaten di Indonesia melibatkan seluruh fasilitas kesehatan di daerah terpilih yang telah mendiagnosis dan mengobati TB pada anak dalam tiga bulan terakhir. Semua kasus TB pada anak yang didiagnosis secara klinis dandikonfirmasi secara bakteriologis dan dikategorikan sebagai kasus baru atau diobati ulang dimasukkan untuk analisis.Hasil: Total kasus TB 23.320 pada semua kelompok umur yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan pada 23 kabupaten/kota. Kasus TB terbanyak pada kelompok umur ≥ 15 (82%), sedangkan sisanya pada kelompok umur < 15 tahun (18%). Under reporting TB anak kurang dari 15 tahun adalah 54%. Under-reporting TB anak terbanyak pada fasilitas pelayanan kesehatan non primer (71%) seperti rumah sakit, klinik, praktek dokter mandiri, sedangkan sisanya dari pelayanan kesehatan primer (19%).Kesimpulan: Under-reporting TB pada anak masih di atas 50% terutama pada kelompok umur 0-4 tahun. Kurangnya pelaporan TB pada anak terutama terjadi di fasilitas kesehatan non primer. Untuk itu peran daerah khususnya dinas kesehatan perlu melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap rumah sakit, klinik, dan praktek dokter mandiri terkait pencatatan dan pelaporan TB anak ke dalam sistem informasi TB yang terintegrasi.
Background: Cervical cancer is one type of malignancy that is a major and serious concern because it has a high incidence rate. In Indonesia, cervical cancer ranks second as cancer with the highest incidence and is the second most common cause of death after breast cancer. The high incidence of cervical cancer and breast cancer is caused by the level of knowledge about cervical cancer and breast cancer that is owned by the community, especially women. Methods: This study is a descriptive – cross sectional study which aims to measure the public's knowledge of early symptoms and knowledge about risk factors for cervical cancer and breast cancer through the CCAM (Cervical Cancer Awareness Measure) and Breast Cancer Awareness (Breast Cancer Awareness Measure) Questionnaires. The total number of samples is 185 samples with an age range of 25-60 years.Results: The data were analyzed descriptively on the elaboration of questionnaires and analytically with regression measurements and the results of the level of knowledge of cervical cancer in Bali Province were 43.8% in the low category, 54.1% in the medium category and 2.2% in the high category. Meanwhile, the level of knowledge of breast cancer in the province of Bali with low category is 44.9%, with medium category as much as 50.8% and high category as much as 4.3%.Conclusion: Based on the results of the study, it was found that the level of knowledge about cervical and breast cancer in Bali is still relatively low. The low level of knowledge is one of the factors in the increasing incidence of cervical and breast cancer. AbstrakLatar Belakang: Kanker serviks merupakan salah satu jenis keganasan yang menjadi perhatian utama dan serius karena memiliki angka kejadian yang tinggi. Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker dengan angka kejadian tertinggi serta menjadi penyebab kematian terbanyak nomor dua setelah kanker payudara. Tingginya angka kejadian kanker serviks dan kanker payudara disebabkan oleh tingkat pengetahuan tentang kanker serviks dan kanker payudara yang dimiliki masyarakat khususnya wanita. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif – cross sectional yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan masyarakat terhadap gejala dini dan pengetahuan tentang faktor resiko kanker serviks dan kanker payudara melalui Kuisioner CCAM (Cervical Cancer Awareness Measure) dan Kuisioner Breast – CAM (Breast Cancer Awareness Measure). Total jumlah sampel adalah sebanyak 185 sampel yang memiliki rentang usia 25 – 60 tahun.Hasil: Data dianalisis dengan deskriptif pada penjabaran kuesioner dan analitik dengan pengukuran regresi dan didapatkan hasil tingkat pengetahuan kanker serviks di Provinsi Bali dengan kategori kurang sebanyak 43,8%, kategori cukup sebanyak 54,1% dan kategori baik sebanyak 2,2%. Sedangkan tingkat pengetahuan kanker payudara di Provinsi Bali dengan kategori kurang sebanyak 44,9%, dengan kategori cukup sebanyak 50,8% dan kategori baik sebanyak 4,3%.Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat pengetahuan tentang kanker serviks dan payudara di Bali masih tergolong rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut menjadi salah satu faktor meningkatnya angka kejadian kanker serviks dan payudara.
Background: Alzheimer's Disease (AD) is a neurodegenerative disorder characterized by degeneration and death of neurons. Cholinesterase inhibitor medicine, especially acetylcholinesterase inhibitors (AChE) are commonly used to manage AD. Huperzine A is a food supplement with AChE inhibition activity which has been approved for the treatment of AD in China. Therefore, further exploration on medicinal plants traditionally utilized in Indonesia is needed. This research aims to evaluate the potency and safety of several medicinal plants for future utilization to manage AD.Methods: The acetylcholinesterase inhibitory activity was tested using Ellman method. The phytochemical screening of polyherbal, Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., and Nigella sativa L extracts was carried out according to Materia Medika Indonesia. Determination of quality parameters used methods from Parameter Standar Umum Ekstrak Tanaman Obat.Results: Active compounds have been successfully extracted. Each extract was subjected to different assays and shows that the polyherbal product has a low AChE inhibitory potential. Meanwhile, combination extracts formulated in this study have better AChE inhibitory potential.Conclusion: The combined extract formulated in this study shows a potential to be applied as an AChE inhibitor. It may be utilized as a safe alternative treatment for people with AD. Abstrak Latar Belakang: Penyakit Alzheimer (AD) merupakan gangguan neurodegeneratif yang ditandai dengan degenerasi dan kematian neuron. Obat penghambat kolinesterase, terutama penghambat asetilkolinesterase (AChE) biasanya digunakan untuk mengelola AD. Huperzine A adalah suplemen makanan dengan kemampuan menghambat AChE dan telah disetujui untuk pengobatan AD di Cina.. Oleh karena itu eksplorasi lebih jauh terhadap tanaman obat tradisional di Indonesia perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan keamanan beberapa tanaman obat agar dapat dimanfaatkan dalam pengobatan AD.Metode: Uji aktivitas penghambatan asetilkolinesterase dilakukan menggunakan metode Ellman. Penapisan fitokimia ekstrak poliherbal, Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., dan Nigella sativa L dilakukan berdasarkan metode dari Materia Medika Indonesia. Parameter mutu ditentukan berdasarkan Parameter Standar Umum Ekstrak Tanaman Obat.Hasil: Senyawa aktif telah berhasil diekstraksi dari Moringa oleifera Lam., Phyllanthus niruri L., Nigella sativa L., dan poliherbal. Masing-masing ekstrak telah melalui beberapa pengujian dan hasil menunjukkan bahwa produk poliherbal memiliki potensi penghambatan AChE yang rendah. Sementara, kombinasi ekstrak yang diformulasikan dalam penelitian ini menunjukkan potensi penghambatan AChE yang lebih baik. Kesimpulan: Kombinasi ekkstrak yang diformulasikan dalam penelitian ini menunjukkan potensi untuk diaplikasikan sebagai penghambat AChE. Ini dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan yang aman untuk penderita AD.
Background: Hospital workers are vulnerable in the fight against COVID-19 and may experience significant psychological and mental health consequences. Depression is one of the emotional and mental disorders that can affect the health services provided by hospital workers. This study aimed to determine the relationship between occupational factors and other factors towards the risk of depression during the Covid-19 pandemic among workers at type B hospital.Methods: This study is a cross-sectional study using secondary data, a total of 669 workers (22-59 years age) were included. Demographic variables and work-related variables were collected from the Human Resources Unit (HR) and the Occupational Safety and Health Committee Unit (K3RS) of a type B hospital. Their risk of depression was measured using Patient Health Questionnaire (PHQ-9) and occupational stress assessed by the Survey Diagnostic Stress (SDS). SPSS versions 27 was used to conduct data analysis.Results: Prevalence of depression among workers in type B hospital is 15.1%. Multivariate logistic regression analyses show that role conflict stressors (OR 3.68, 95% CI = 1.69 – 8.01) were more important risk factor for depression than quantitative workload stressor and career development stressor.Conclusion: A high prevalence of depression was found among workers in type B hospital during the COVID-19 outbreak. Paying attention to job role conflict at the workplace will be useful for decreasing the risk of depression. Regular mental health checks and counseling should be performed along with periodic health checks. AbstrakLatar belakang: Pekerja di rumah sakit rentan dalam perang melawan COVID-19 dan mungkin mengalami gangguan emosional dan mental yang signifikan. Depresi merupakan salah satu gangguan emosional dan mental yang dapat memengaruhi pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pekerja di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor pekerjaan dan faktor lain dengan risiko depresi pada masa pandemi Covid-19 pada pekerja di Rumah Sakit tipe B.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analisis potong lintang dengan menggunakan data sekunder meliputi 669 pekerja di rumah sakit tipe B. Variabel demografi dan variabel terkait pekerjaan dikumpulkan dari Unit Sumber Daya Manusia (SDM) dan Unit Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3RS) Rumah Sakit tipe B. Risiko depresi diukur dengan menggunakan Kuesioner Kesehatan Pasien (PHQ-9) dan stres kerja yang dinilai dengan Survey Diagnostic Stress (SDS). Analisis data menggunakan SPSSStatistics versi 27.Hasil: Prevalensi risiko depresi pada pekerja di RS tipe B adalah 15,1%. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa stresor konflik peran (OR 3,68, 95% CI = 1,69 – 8,01) merupakan faktor risiko yang paling dominan terkait risiko depresi daripada stresor beban kerja kuantitatif dan stresor pengembangan karir.Kesimpulan: Prevalensi depresi yang tinggi ditemukan pada pekerja di rumah sakit tipe B selama wabah COVID-19. Memperhatikan konflik peran pekerjaan di tempat kerja akan berguna untuk mengurangi risiko depresi. Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan jiwa secara berkala harus dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan berkala.
Background: The prevalence of stunting in Indonesia is still above the World Health Organization standard. This study aims to analyze the effect of economic growth, income inequality, the Human Development Index (HDI), poverty, government spending on the health sector, and access to health services on the prevalence of stunting in Indonesia.Methods: The random effect technique is utilized to estimate the role of macroeconomic variables and access to health services on stunting in 34 provinces in Indonesia.Results: Economic growth has a positive effect on stunting, HDI and access to health services has a negative effect on stunting. Income inequality, poverty, and government spending on the health sector has no effect on stunting.Conclusion: Economic growth has a positive effect on stunting because the growth of income is not evenly distributed and income increases are not spent on nutrition. Increasing inclusive economic development and policies that lead to stunting reduction, especially in provinces with high stunting rates are very much needed. HDI and better access to health services are proven to lower stunting. Some policy recommendations are improving access to health services and making sure that the services can reach all pregnant women. Optimizing nutrition services, consultations, and education for pregnant women through health service centers are very much needed. AbstrakLatar belakang: Prevalensi stunting di Indonesia masih di atas standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kemiskinan, pengeluaran pemerintah sektor kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan terhadap prevalensi stunting di Indonesia.Metode: Teknik random effect digunakan untuk mengestimasi pengaruh variabel makroekonomi dan akses pada pelayanan kesehatan terhadap stunting di 34 provinsi di Indonesia.Hasil: Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap stunting, IPM dan akses pelayanan kesehatan berpengaruh negatif terhadap stunting, ketimpangan pendapatan, kemiskinan, dan pengeluaran pemerintah sektor kesehatan tidak berpengaruh terhadap stunting.Kesimpulan: Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap stunting karena pertumbuhan pendapatan tidak merata dan peningkatan pendapatan tidak dibelanjakan untuk gizi. Peningkatan pembangunan ekonomi yang inklusif dan kebijakan yang mengarah pada pengurangan stunting terutama di provinsi dengan angka stunting yang tinggi sangat diperlukan. IPM dan akses pelayanan kesehatan yang lebih baik terbukti menurunkan prevalensi stunting. Beberapa rekomendasi kebijakan adalah meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan memastikan bahwa layanan tersebut menjangkau seluruh ibu hamil. Optimalisasi pelayanan gizi, konsultasi, dan edukasi ibu hamil melalui puskesmas sangat diperlukan
Background: The M protein is one of the structural protein of SARS CoV-2. The M protein is relatively conserved and stable than other structural protein. This made immunodominant epitopes of M protein has the advantage to be learned with the aim to understanding its immunogenicity and its antigenicity. Several studies have shown that M protein successfully expressed in several expression system, E. coli was one of them. In this study, M gene of SARS CoV-2 was cloned, sequenced, expressed in E. coli BL21 (DE3) system, and purified with denature condition. The membrane recombinant protein can be used for development of a SARS CoV-2 antibody diagnostic system.Methods: the gene encoding the SARS-CoV-2 M protein in the form of gBlocks was cloned into the cloning vector and then subcloned into the pQE80L prokaryotic expression vector. There were three stages of recombinant plasmids verification which were the colony PCR, restriction, and sequencing. The M gene cloned in pQE80L was expressed by using BL21 and purified under denature condition.Results: The recombinant plasmid pQE80L was confirmed containing M protein using primer that specifically amplify the multiple cloning sites (MCS) of pQE80L and produce 595 bp amplicon that indicating the presence of recombinant gene. Restriction of recombinant plasmid using BamHI and HindIII produced 306 bp and 4709 bp DNA bands. The sequence of M gene in pEQ80L has been confirmed by sequencing. Further to ensure the M gene could be expressed in prokaryotic system, the recombinant plasmid was transformed into BL21 bacteria. The SARS-CoV-2 membrane protein with a size of 11,83 kDa has been successfully expressed and purified using the Ni-NTA agarose purification technique under denature conditions.Conclusion: the gene encoding the membrane protein of SARS-CoV-2 has been successfully cloned and expressed in the prokaryotic expression system. AbstrakLatar belakang: Protein M merupakan salah satu protein struktural SARS-CoV-2. Protein M merupakan protein yang relatif lestari dan tidak mudah untuk bermutasi dibandingkan protein struktural lainnya. Hal ini menjadikan protein M memiliki kelebihan untuk dipelajari epitop imunodominannya, dengan tujuan untuk memfasilitasi pemahaman terkait imunogenisitas dan antigenisitasnya. Beberapa penelitian menunjukkan ekspresi protein M telah dilakukan pada beberapa sistem ekspresi, salah satunya pada sistem ekspresi E. coli. Pada penelitian ini dilakukan pengklonaan gen M SARS CoV-2, sekuensing, ekspresi pada E. coli BL21(DE3), dan purifikasi dengan kondisi denatur. Protein rekombinan membran ini kemudian dapat digunakan dalam pengembangan sistem diagnostik antibodi SARS CoV-2.Metode: gen penyandi protein M SARS-CoV-2 dalam bentuk gBlocks diklona ke dalam vector pengklonaan dan kemudian disubklona ke dalam vector ekspresi prokariot pQE80L. Tiga tahapan verifikasi terhadap plasmid rekombinan, yaitu PCR koloni, restriksi, dan sekuensing dilakukan untuk memastikan bahwa gen target telah berhasil diklona. Plasmid ekspresi pQE80L yang membawa gen M kemudian diekspresikan dan dipurifikasi pada kondisi denatur. Hasil: Plasmid rekombinan pQE80L dikonfirmasi mengandung protein M menggunakan primer yang secara spesifik mengamplifikasi multiple cloning site (MCS) pQE80L dan menghasilkan amplicon berukuran 595 bp yang menunjukkan keberadaan gen rekombinan. Restriksi plasmid rekombinan menggunakan BamHI dan HindIII menghasilkan pita DNA berukuran 306 bp dan 4709 bp. Sekuen genM di pQE80L dikonfirmasi dengan sekuensing. Untuk memastikan bahwa gen M dapat diekspresikan di sistem prokariot, plasmid rekombinan ditransformasi ke dalam bakteri BL21. Protein membran SARSCoV-2 dengan ukuran 11,83 kDa telah berhasil diekspresikan dan dipurifikasi menggunakan teknik purifikasi Ni-NTA agarose pada kondisi denature.Kesimpulan: gen penyandi protein membrane SARS-CoV-2 telah berhasil diklona dan diekspresikan pada sistem ekspresi prokariot
Background: Diabetes Mellitus (DM) is a disease that can lead to diabetic peripheral neuropathy (DPN). DPN is caused by various risk factors such as age, body mass index (BMI), glycated hemoglobin variability including mean HbA1c (M-HbA1c), hypertension status, triglyceride levels, total cholesterol levels, low-density lipoprotein (LDL) levels, and high-density lipoprotein (HDL) levels. This study aims to investigate the factors influencing DPN.Methods: A retrospective cross-sectional study of diabetic patients with and without DPN was undertaken at Jakarta referral hospitals from January 2021 to December 2022. Age, BMI, mean HbA1c variability, hypertension status, triglycerides, total cholesterol, LDL, and HDL values were compared between DPN and non-DPN groups. Chi-square analysis and logistic regression were performed to identify factors influencing DPN.Results: There were 62 patients diagnosed with DPN and 51 patients without DPN. Chi-square analysis showed a correlation between the variability of M-HbA1c (p = 0.003), triglycerides (p = 0.002), total cholesterol (p = 0.001), and LDL (p = 0.016) and the incidence of DPN in patients. Variability of M-HbA1c (p = 0.032, PR: 0.340, 0.127 – 0.914 95% CI), (p = 0.008, OR : 0.430, 0.205 – 0.793 95% CI), and HDL levels (p = 0.024, OR : 0.325, 0.122 – 0.865 95% CI) was revealed by logistic regression analysis.Conclusion: DPN correlates with a high degree of variability in M-HbA1c, triglyceride levels, total cholesterol, and LDL. Consequently, diabetics must monitor their respective health conditions in order to prevent DPN. AbstrakLatar belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan neuropati diabetik perifer (NDP). Neuropati diabetik perifer disebabkan oleh berbagai faktor risiko seperti usia, indeks massa tubuh (IMT), variabilitas HbA1c salah satunya rata-rata HbA1c (M-HbA1c), status hipertensi, kadar trigliserida, kadar kolesterol total, kadar low-density lipoprotein (LDL), dan kadar high-density lipoprotein (HDL). Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi NDP.Metode: Penelitian potong-lintang retrospektif dengan melibatkan pasien DM dengan komplikasi neuropati diabetik perifer dan tidak di rumah sakit rujukan nasional di Jakarta, Indonesia pada Januari 2021 - Desember 2022. Perbandingan antara grup NDP dan tidak berdasarkan umur, IMT, Variabilitas rata-rata HbA1c, status hipertensi, trigliserida, kolesterol total, LDL, dan HDL. Analisis chi-square dan regresi logistik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor mempengaruhi NDP.Hasil: 62 pasien datang dengan diagnosis NDP dan 51 pasien tanpa NDP. Analisis chi-square menyatakan terdapat hubungan signifikan antara variabilitas rata-rata HbA1c (p = 0,003), trigliserida (p = 0,002), kolesterol total (p = 0,001), dan LDL (p = 0,016) dengan kejadian NDP pasien. Analisis regresi logistik menunjukkan variabilitas rata-rata M-HbA1c (p = 0,032, OR: 0,340, 0,127 – 0,914 95% CI), kadar trigliserida (p = 0,008, OR : 0,430, 0,205 – 0,793 95% CI), dan kadar HDL (p = 0,024, OR : 0,325, 0,122 – 0,865 95% CI).Kesimpulan: Variabilitas M-HbA1c, kadar trigliserida, kolesterol total, LDL yang tinggi berkorelasi dengan NDP. dengan demikian, para penderita DM ini perlu selalu memantau kondisi kesehatan masing-masing agar tidak menimbulkan NDP.
Background: Alzheimer’s disease is the most common type of dementia found in society and it is estimated that the number of dementia sufferers will increase. Declining cognitive function is a hallmark symptom and the treatment that has been used to combat the symptom is still unsatisfactory and has side effects. This review explores other herbal and nootropic alternative treatments.Methods: Published Randomized Clinical Trials (RCT) and meta-analyses regarding the efficacy and safety of herbal medicine in increasing cognitive function in Alzheimer patients are searched in PubMed and Google Scholar while applying several inclusion and exclusion criteria.Results: 14 articles are retrieved, which are 3 RCTs and 11 meta-analyses, and are analyzed further. Several interventions are examined, which include Ginkgo biloba, Curcuma longa, Crocus sativus, Huperzine A, Panax ginseng, and Chinese herbal medicine. Each of these interventions exert different levels of efficacy and safety, and differ in their price range.Conclusion: Out of all the analyzed interventions, Crocus sativus could be used as a potential treatment for Alzheimer patients due to its comparable level of efficacy and safety to that of standard therapy and cost effective, but there needs to be a standardized extract for the Indonesian population to easily obtain. Abstrak Latar belakang: Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering ditemukan dalam masyarakat dan diperkirakan angka penderita akan terus meningkat beberapa tahun kedepannya. Salah satu gejala khas dari penyakit Alzheimer adalah gejala menurunnya fungsi kognitif, dan obatan-obatan yang sekarang dipakai untuk melawan gejala tersebut belum memuaskan dan terdapat beberapa efek samping. Berdasarkan hal tersebut dibuat tinjauan untuk menelusuri terapi alternatif yang bersifat herbaldan nootropik.Metode: Dilakukan penelusuran artikel publikasi Randomized Controlled Trial (RCT) dan meta-analisis mengenai khasiat dan keamanan tanaman obat untuk meningkatkan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer dalam database PubMed dan Google Scholar dengan menerapkan beberapa kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.Hasil: Terdapat 14 artikel berupa 3 RCT dan 11 meta-analisis yang dianalisa lebih lanjut. Beberapa intervensi yang ditelusuri adalah Ginkgo biloba, Curcuma longa, Crocus sativus, Huperzine A, Panax ginseng, dan Obat herbal Cina. Masing-masing intervensi memiliki khasiat untuk meningkatkan fungsi kognitif, tingkat keamanan, dan rentang harga yang berbeda.Kesimpulan: Dari semua intervensi yang dianalisa, Crocus sativus dapat menjadi terapi alternatif untuk pasien Alzheimer dikarenakan intervensi ini dapat meningkatkan fungsi kognitif, memiliki tingkat keamanan yang setara dengan terapi standar dengan harga terjangkau, namun perlu adanya sediaan ekstrak terstandard yang dapat dijangkau masyarakat Indonesia.
Background: Adolescence is a phase in life where one grows and learns about necessary skills and particular knowledge. One of the top barriers to seeking health-care in medical students is academic reprisal because they fear that whatever illness will affect them adversely. This study aimed to look at health-care-seeking behaviors in Indonesian medical students as compare to non-medical students. Methods: A cross-sectional study was done at the Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia. Independent T-test analysis and chi-square performed using SPSS version 25. Results: There were 428 participants in this study with 261 (60.98%) female respondents. There were a significant mean difference (p = 0.0014) in the age at which they start working for the first time in the medical groups (17.96 years) and non-medical groups (18.75 years). In addition, a significant difference depicted (p = 0.044) on accessing of health-care facilities as medical students (59.26%) as compared to non-medical students (40.74%).Conclusion: There were a significant mean difference between medical students and non-medical students regarding their health-care-seeking behavior. Although often overlooked, adolescents also require health-care treatments, either medically or mentally. AbstrakLatar Belakang: Masa remaja merupakan fase dalam kehidupan dimana seseorang tumbuh dan belajar tentang keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan di masa depan. Salah satu hambatan utama untuk mencari perawatan kesehatan pada mahasiswa kedokteran adalah dampak negatif secara akademis karena mereka takut bahwa penyakit yang diderita akan memberi dampak negatif bagi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku pencarian pelayanan kesehatan pada mahasiswa kedokteran di Indonesia dan membandingkannya dengan mahasiswa non kedokteran.Metode: Studi potong lintang dilakukan di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia. Analisis Independent T-test dan chi-square dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25.Hasil: Terdapat 428 peserta dalam penelitian ini dengan 261 (60,98%) responden perempuan. Terdapat perbedaan yang signifikan (p = 0,0014) pada usia pertama kali bekerja pada kelompok medis (17,96 tahun) dan non-medis (18,75 tahun). Perbedaan signifikan (p = 0,044) juga tampak pada akses layanan kesehatan dimana mahasiswa kedokteran (59,26%) lebih sering mengakses fasilitas kesehatan dibandingkan dengan mahasiswa non-medis (40,74%).Kesimpulan: Terdapat perbedaan rata-rata yang bermakna antara perilaku mahasiswa kedokteran dan mahasiswa non-medis dalam mencari pelayanan kesehatan. Meski sering diabaikan, remaja sesungguhnya membutuhkan perawatan kesehatan, baik secara medis maupun mental.
Background: Postpartum blues is common in postpartum Mother with more prone to crying, more anxious, often unstable and more emotional than usual. Zinc supplementation is one of the methods needed for postpartum blues conditions. Kidney bean (phaseolus vulgaris) extract has the highest zinc content. This study aimed to examine the effect of intake kidney bean extract (phaseolus vulgaris) as a zinc source as management mother with Postpartum Blues Methods: Quantitative study with an experimental study design (Quasi Experiment Design) with a Pre and Post-test Control Group Design. The instrument used to measure the mood of a mother after childbirth was EPDS (Edinburgh Post-Partum Depression Scale). The total sample was 68 mothers who experienced postpartum blues in Ngerandu Ponorogo primary health care. The Mann-Whitney was used to analyse and find out the difference in mood improvement before and after the intervention in the experimental group and the control group. Results: The results showed that there was a statistically significant difference in mood levels of mothers with postpartum blues before and after intervention (p value of 0.001 (<0.005). This result indicated that intake of kidney bean (Phaseolus vulgaris) extract had an effect on the mood level of mothers with postpartum blue. Conclusion: Intake of kidney bean (phaseolus vulgaris) extract on the incidence of postpartum blues possibly improvement mood in the experimental group after the treatment for 1 month. Keywords: kidney bean (phaseolus vulgaris) extract, postpartum blues, postpartum mother Abstrak Latar belakang: Postpartum blues umum terjadi pada ibu postpartum dengan tanda sering menangis, khawatir yang berlebihan, emosional yang tidak stabil. Suplementasi zinc merupakan salah satu metode yang dibutuhkan untuk kondisi postpartum blues. Ektrak kacang merah (phaseolus vulgaris) memiliki sumber nutrisi zinc yang tinggi, Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) sebagai sumber zinc sebagai manajemen ibu dengan postpartum blues Metode: Penelitian kuantitatif dengan design Quasi Experiment pre dan post control grup. Instrumen pengukur mood ibu setelah melahirkan adalah EPDS (Edinburgh Post-Partum Depression Scale). Total Sampel 68 ibu yang mengalami postpartum blues di Puskesmas Ngerandu Ponorogo. Analisis statistik menggunakan Mann-Whitney untuk menemukan perbedaan perubahan mood ibu postpartum blues sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada grup intervensi dan kontrol. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan tingkat mood ibu dengan postpartum blues sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p : 0,001 (<0,005). Hasil mengindikasikan bahwa konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) memiliki efek pada tingkat mood ibu yang sedang mengalami postpartum blues. Kesimpulan: Konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) pada ibu postpartum blues memungkinkan untuk perubahan mood pada grup intervensi setelah diberikan treatment selama 1 bulan. Kata kunci: ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris), postpartum blues, ibu postpartum
Background: : Emergency landing as an airport emergency requires quick and precise action by Port Health Office (PHO) as the medical coordinator. Medical treatment in an emergency landing is critical for the safety of disaster victims, based on the knowledge, attitudes and behavior of airport PHO officers. This study aimed to determine knowledge, attitude and behavior of PHO officers at Soekarno-Hatta International Airport (SOETTA) and Zainuddin Abdul Majid International Airport (ZAM) regarding emergency landings. Methods: This is an observational applying cross sectional design. Ninety-eight PHO officers from SOETTA airport and ZAM airport have participated, and their data was collected through questionnaires, and then analyzed based on knowledge, attitude, and practice toward emergency landing. Results: The knowledge of SOETTA PHO officers was sufficient in 63.5% officers, while it was 79.2% in ZAM. SOETTA PHO officers’ attitude was positive in 67.6% while in ZAM it was 54.16%. The behavior of SOETTA PHO officers was good in 55.4% officers while in ZAM it was 75%. Conclusion: The level of knowledge of SOETTA and ZAM PHO officers regarding emergency landings was sufficient. The attitude of SOETTA and ZAM PHO officers regarding emergency landings was positive. The behavior of SOETTA and ZAM PHO officers was good for emergency landings. Keywords: emergency landing, port health officer, knowledge, attitudes and practice Abstrak Latar belakang: Emergency landing sebagai salah satu keadaan darurat bandara memerlukan tindakan yang cepat dan tepat oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sebagai koordinator medis. Penanganan medis dalam emergency landing sangat menentukan keselamatan dan keamanan korban, yang berbasis pada pengetahuan, sikap dan perilaku petugas KKP bandara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku petugas KKP Bandara Internasional Soekarno-Hatta (SOETTA) dan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (ZAM) terhadap emergency landing. Metode: Penelitian ini adalah sebuah studi obervasional dengan disain potong lintang. Sembilan puluh delapan petugas KKP dari 74 bandara SOETTA dan 24 bandara ZAM diambil datanya lewat kuesioner.dan selanjutnya dinilai pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap emergency landing. Hasil: Sebanyak 63,5% petugas KKP SOETTA memiliki pengetahuan yang cukup sementara 79,2% petugas ZAM meiliki pengetahuan yang tergolong cukup. Untuk hasil sikap petugas KPP SOETTA yang tergolong positif 67,6% sementara di ZAM sikap petugas KPP yang tergolong positif 54,16%. Untuk hasil perilaku petugas KPP SOETTA yang tergolong baik 55,4% sementara di ZAM perilaku petugas KPP yang tergolong baik 75%. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan petugas KKP SOETTA dan petugas KKP ZAM terhadap emergency landing tergolong cukup. Sikap petugas KKP SOETTA dan ZAM terhadap penanganan emergency landing positif. Perilaku petugas KKP SOETTA dan ZAM cukup baik terhadap emergency landing. Kata kunci: emergency landing; petugas KKP; pengetahuan, sikap dan perilaku
Background: COVID-19, which started in Wuhan, has become a global pandemic leading to a new global risk to human health. Lack of information or misinformation about COVID-19 can lead to stigmatization, including for health workers. This study aims to determine the stigmatization among health workers during the COVID-19 pandemic within the Greater Jakarta Metropolitan Area. Methods: This study was a cross-sectional study conducted online using Google Forms in the Jabodetabek area. The questionnaire’s link was distributed through social media, including Whatsapp, Facebook, Twitter, and Instagram. The study sample is health workers who live in Jabodetabek and carry out health practices. Stigma is measured using four dimensions: personalized stigma, disclosure concerns, public attitudes, and negative self-image. Result: The negative self-image dimension is the dimension most felt by health workers. More than half of health workers agreed that during the COVID-19 pandemic, they put their families at risk because of their status as health workers. The stigma of health workers who work in hospitals is higher than that of non-hospital health workers, such as health centers, clinics, and laboratories. Conclusion: There was any stigmatization among healthcare workers in Greater Jakarta Metropolitan Area. Stigmatization was higher among healthcare workers who work in hospitals compared to those who work in non-hospitals. Some efforts should be made to reduce stigmatization among health workers, such as provide correct information to the public, equip health personnel with adequate personal protective equipment, and give incentives periodically to the health workers. Keywords: Stigma, COVID-19, healthcare workers, Greater Jakarta Metropolitan Area Abstrak Latar belakang: COVID-19 yang bermula dari Wuhan telah menjadi pandemi global yang mengancam kesehatan umat manusia. Kurangnya informasi atau informasi yang salah mengenai COVID-19 dapat menyebabkan adanya stigmatisasi termasuk terhadap tenaga kesehatan. Penelitian ini menilai adanya stigmatisasi terhadap tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 di wilayah Jabodetabek. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dan dilakukan secara daring menggunakan Google Form di wilayah Jabodetabek. Tautan pengisian kuesioner disebarkan melalui media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Twitter dan Instagram. Sampel studi adalah tenaga kesehatan yang tinggal di Jabodetabek dan melakukan praktik kesehatan. Stigma diukur menggunakan empat dimensi yaitu personized stigma, disclosure concerns, concerns about public attitudes dan negative self-image. Hasil: Dimensi negative self-image merupakan dimensi yang paling dirasakan oleh tenaga kesehatan. Lebih dari separuh tenaga kesehatan setuju bahwa selama pandemi COVID-19 mereka membahayakan keluarga mereka karena status mereka sebagai tenaga kesehatan. Stigma pada tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit lebih tinggi disbanding tenaga kesehatan yang bekerja bukan di rumah sakit seperti puskesmas, klinik dan laboratorium. Kesimpulan: Terdapat stigmatisasi pada petugas kesehatan di jabodetabek. Stigmatisasi lebih tinggi di antara petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang bekerja tidak di rumah sakit. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi stigmatisasi di kalangan petugas kesehatan, seperti memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, melengkapi tenaga kesehatan dengan alat pelindung diri yang memadai, dan memberikan insentif kepada mereka secara berkala. Kata Kunci: Stigma, COVID-19, tenaga kesehatan, jabodetabek
Background: Patient with diabetes mellitus (DM) occurs chronic inflammation by characterized a decreased concentration of various cytokinin types. This causes changes in the body’s immunity so that can be easier in having an infection. One of the most important cytokines against infection is IFN-γ. This study aimed to determine IFN-γ concentration in DM and dyslipidemia patients. Metode: An amount of 234 people who received treatment at the health center in Banda Aceh in 2019 were included in this study. From each respondent, 5 ml of blood was taken to check fasting blood glucose, triglycerides, high-density lipoproteins (HDL), and interferon-gamma (IFN-γ). Test of fasting blood glucose, triglycerides, HDL was carried out using the colorimetric enzymatic method. The IFN-γ protein concentration was examined using the sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) technique. Result: IFN-γ concentration in the non-DM group was higher than in the DM group. There was a significant difference between the average IFN-γ concentration in the non-DM group compared with the DM group (p = 0.000). All DM patients had increased fasting blood glucose, most had hypertriglycerides, but HDL levels were normal. The fasting blood glucose group <126 mg / dl had a higher IFN-γ concentration than the group with fasting blood glucose levels ≥126 mg / dl. There was a significant difference in the concentration of IFN-γ between the two groups (p = 0.000). The group with triglyceride levels <150 mg / dl had lower IFN-γ levels than the group with triglyceride levels ≥ 150 mg / dl. There was a significant difference between the average IFN-γ concentration between those groups (p = 0.000). The fasting blood glucose levels ≥126 mg / dl and triglycerides levels ≥ 150 mg / dl had higher IFN-γ concentration than the group who had fasting blood glucose levels ≥126 mg / dl and triglycerides levels < 150 mg / dl. Conclusion: There are differences in IFN-γ concentrations in people with DM, increased fasting blood glucose and dyslipidemia compared to normal people. Keywords: IFN-γ, diabetes mellitus, dyslipidemia Abstrak Latar belakang: Penderita diabetes mellitus (DM) dan dyslipidemia mengalami inflamasi kronik yang ditandai dengan perubahan konsentrasi berbagai sitokin. Hal ini yang menyebabkan perubahan imunitas tubuh sehingga mudah mengalami infeksi. Salah satu sitokin yang paling berperan terhadap infeksi adalah interferon gamma (IFN-γ). Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa konsentrasi IFN-γ pada penderita DM dan dislipidemia. Metode: Sebanyak 234 orang yang melakukan pengobatan di puskesmas di Kota Banda Aceh pada tahun 2019 diikutsertakan dalam penelitian ini. Dari setiap responden dilakukan pengambilan darah sebanyak 5 ml untuk dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa (KGD P), trigliserida, high density lipoprotein (HDL), dan inrferon- gamma (IFN-γ). Pemeriksaan KGD, trigliserida, HDL dilakukan dengan metode enzimatik kolorimetrik. Pemeriksaan konsentrasi protein IFN-γ menggunakan teknik sandwich Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Konsentrasi IFN-γ pada kelompok non-DM lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok DM. Terdapat perbedaan bermakna antara rata-rata konsentrasi IFN-γ pada kelompok non-DM dibandingkan dengan kelompok DM (p=0,000). Semua penderita DM mengalami peningkatan KGD P, sebagian besar mengalami hipertrigliserida, namun kadar HDL normal. Pada kelompok KGD P <126 mg/dl memiliki konsentrasi IFN-γ yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok dengan KGD P ≥126 mg/dl. Terdapat perbedaan bermakna perbedaan konsentrasi IFN-γ antar kedua kelompok tersebut (p=0,000). Kelompok dengan kadar trigliserida <150 mg/dl memiliki kadar IFN-γ lebih rendah dibandingkan dengan kelompok dengan kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl. Terdapat perbedaan bermakna antara rata-rata konsentrasi konsentrasi IFN-γ antar kedua kelompok tersebut (p=0,000). Pada kelompok KGD P ≥126 mg/dl dan trigliserida ≥ 150 mg/dl memiliki kadar IFN-γ yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok KGD P ≥126 mg/dl namun trigliserida <150 mg/dl. Terdapat perbedaan bermakna antara rata-rata konsentrasi konsentrasi IFN-γ antar kedua kelompok tersebut (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat perbedaan konsentrasi IFN-γ pada orang dengan DM, peningkatan KGD P dan dislipidemia dibandingkan dengan orang normal. Kata kunci : IFN-γ, diabetes mellitus, dislipidemia.
Background: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a contagious disease caused by a new type of Coronavirus namely Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Children with tumors or autoimmune diseases are more susceptible, because of suppression of their immune system, chemotherapy, radiotherapy, or surgery on tumors. Case presentation: We present the clinical features 3 Acute Lymphoblastic leukemia and 1 Non-Hodgkin lymphoma patients who were infected with COVID-19 since July to August 2020 in our hospital. These were the first four cases identified as COVID-19 positive in Dr Wahidin Sudirohusodo Hospital. Case 1, 2, and 4 were diagnosed as moderate and common type of COVID-19, while case 3 was classified as severe type. They may be transmitted COVID-19 infection during hospitalization. All cases were recovered from COVID-19 after a combination therapy against virus, bacteria, and also respiratory support. Conclusion: Our case series of four pediatric cancer patients showed a good outcome after prompt treatment, suggesting that malignancy in children may not be a contributor factor for COVID-19 recovery. Keywords: COVID-19; acute lymphoblastic leukemia; non-hodgkin lymphoma; children Abstrak Latar belakang: Covid-19 (Coronavirus disease 2019) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Anak yang menderita kanker atau penyakit autoimun lebih rentan tertular karena penurunan system kekebalan tubuh, dampak kemoterapi, radioterapi, atau operasi tumor. Penyajian kasus: Kami melaporkan 3 pasien leukemia limfoblastik akut dan 1 pasien limfoma non-Hodgkin yang terinfeksi Covid-19 sejak Juli-Agustus 2020. Kasus tersebut adalah 4 kasus pertama yang teridentifikasi Covid-19 di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo. Kasus 1,2, dan 4 terdiagnosis positif Covid -19 derajat sedang, sedangkan kasus 3 tergolong berat. Mereka kemungkinan terinfeksi Covid-19 saat perawatan. Semua kasus dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah pemberian obat anti virus, antibiotik, dan alat bantu pernapasan. Kesimpulan: Serial kasus dari 4 pasien kanker anak dengan outcome yang baik setelah pengobatan yang cepat mengindikasikan bahwa penyakit keganasan pada anak kemungkinan bukan faktor yang berkontribusi dalam kesembuhan Covid-19. Kata kunci: COVID-19; leukemia limfoblastik akut; limfoma non-hodgkin; anak
Background: Nationally, the prevalence of injuries tends to increase from 7.5% in 2007, 8.2% in 2013, and 9.2% in 2018. The main cause of injuries is motorcycle accidents (40.6%), which most occur on the highway (42.8%). This is a further analysis of Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) 2018 data, to assess the role of sociodemography on helmet use behavior and head injuries due to traffic accident. Methods: The 2018 Basic Health Research was a cross-sectional research, based on data from individuals aged 5 years old and above, who analyzed with helmet use behavior and the incidence of head injuries due to traffic accident as dependent variables. The independent variables consist of sociodemographic characteristics, the role of individual in accident, and the impact of the accident. The data were analyzed by bivariate and multivariate, and taking into account the complex sample in 5% confidence level. Results: The results showed that 44.4% from 19122 individuals aged five years old and above had good behavior in using helmets. The determinants of helmet use behavior were age, gender, education, occupation, economic status, location and area of residence (adjusted OR 1.15—4.5; p≤0.02). The result from14.1% of respondents who had a head injuries caused by traffic accidents. The risk of head injuries due to traffic accidents was 1.17 times (95% CI 1.02—1.35; p 0.03) in the unhelmeted group compared to the helmeted group. Conclusion: Helmet use behavior is connected with the reduction of head injuries due to traffic accidents. Counseling and monitoring of helmet use is need to be improved, especially for the youth category. Keywords: head injury, traffic accident, helmet use Abstrak Latar belakang: Secara nasional, prevalensi cedera cenderung meningkat dari 7,5 % pada tahun 2007, 8,2 % pada 2013, dan 9,2 % pada 2018. Penyebab utama dari cedera adalah kecelakaan bermotor (40,6 %), dan kebanyakan terjadi di jalan raya (42,8 %). Ini merupakan analisis lanjut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 untuk menilai peran sosiodemografi terhadap perilaku penggunaan helm dan hubungan perilaku penggunaan helm dengan cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Metode: Riskesdas 2018 adalah riset potong lintang. Data individu umur 5 tahun ke atas dianalisis dengan perilaku penggunaan helm dan kejadian cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas sebagai variabel terikat. Variabel bebas terdiri dari karakteristik sosiodemografi, peran individu dalam kecelakaan, dan dampak kecelakaan. Data dianalisis secara bivariat dan multivariat dengan memperhitungkan complex sample dan 5 % tingkat kepercayaan. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 44,4% dari 19.122 individu umur 5 tahun ke atas mempunyai perilaku yang baik dalam menggunakan helm. Determinan perilaku penggunaan helm adalah umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, lokasi dan area tempat tinggal (adjusted OR 1,15—4,5; p≤0,02). Sejumlah 14,1% individu mengalami cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Risiko cedera kepala pada individu yang tidak menggunakan helm sebesar 1,17 kali (95% CI 1,02—1,35; p 0,03) dibandingkan dengan individu yang menggunakan helm. Kesimpulan: Perilaku penggunaan helm berhubungan dengan penurunan cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas. Penyuluhan dan pemantauan penggunaan helm perlu ditingkatkan terutama pada kelompok remaja. Kata kunci: cedera kepala, kecelakaan lalu lintas, penggunaan helm
Background: The immunization program in Indonesia has been implemented since 1956 started to eradicate smallpox and expanded until 1980, including Measles. The timely and complete implementation of basic immunization is the main strategy to protect the population, including outbreak prevention. The purpose of this study is to determine the level immunity of Measles antibody as the outcome of completed basic immunization and its contributors in children aged 12-36 months. Methods: This study is a secondary data analysis of the Indonesia Basic Health Survey (RISKESDAS) 2013. The analysis was carried out on a serological sample of the antibody titer of children aged 12-36 months, totaling 229 samples. The sample inclusion criteria were children who had complete sociodemographics data, basic immunization records and Measles antibody titer data. Measles examination was carried out using the Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. Results: Incomplete immunization, being a boy, and lack of cleanliness in the family room were significantly associated with lower measles antibody levels in children. Having each variable controlled, completeness of immunization (OR=1,99; p=0.018; 95% CI=1.124-3.544) and gender of boy (OR=2.0; p=0.016; 95% CI=1.137-3.515) remain as significant variables for antibody’s titer. Conclusion: The completeness of immunization has a significant association towards titer antibody of Measles in children. Immunization completeness is an actual effort to reach herd immunity in children and to prevent measles outbreak in the community. Adequate health promotion is needed to change people's behavior to believe in the safety and importance of implementing complete basic immunization for children even in pandemic conditions. Keywords: antibody titer, immunization, children aged 12-36 months, Indonesia, measles Abstrak Latar belakang: Program imunisasi di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 1956 yang dimulai dengan pemberantasan cacar yang diperluas hingga tahun 1980, termasuk campak. Pelaksanaan imunisasi dasar yang tepat waktu dan lengkap merupakan strategi utama untuk perlindungan penduduk, termasuk pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkatan kekebalan antibodi Campak sebagai hasil dari kelengkapan imunisasi dasar dan faktor yang berkontribusi pada anak usia 12-36 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Riset Kesehatan Dasar Indonesia (RISKESDAS) 2013. Analisis dilakukan pada sampel serologi titer antibodi anak usia 12-36 bulan yang berjumlah 229 sampel. Kriteria inklusi sampel adalah anak yang memiliki data sosiodemografi lengkap, catatan imunisasi dasar dan data titer antibodi Campak. Pemeriksaan campak dilakukan dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil: Imunisasi yang tidak lengkap, berjenis kelamin laki-laki, dan kurangnya kebersihan di ruang keluarga berhubungan bermakna dengan rendahnya tingkat antibodi campak pada anak. Setelah masing-masing variabel terkontrol, kelengkapan imunisasi (OR=1,99; p=0,018; 95% CI=1.124-3.544) dan jenis kelamin laki-laki (OR=2.0; p=0.016; 95% CI=1.137-3.515) merupakan variabel yang tetap berhubungan dengan titer antibodi secara signifikan. Kesimpulan: Kelengkapan imunisasi memiliki hubungan yang bermakna terhadap titer antibodi Campak pada anak. Kelengkapan imunisasi merupakan upaya nyata untuk mencapai herd immunity pada anak dan mencegah wabah campak di masyarakat. Promosi kesehatan yang memadai diperlukan untuk mengubah perilaku masyarakat agar percaya akan keamanan dan pentingnya pelaksanaan imunisasi dasar lengkap bagi anak meskipun dalam kondisi pandemi. Kata kunci: titer antibodi, imunisasi, anak usia 12-36 bulan, Indonesia, campak
Background: Patient safety is the main issue in healthcare services nowadays. Delaying to inform the critical value of laboratory results is a significant source of harm for the patient. The aim of this study is to compare the timeliness of laboratory critical value reporting before and after re-accreditation as one of the service quality indicators in Hospital X. Methods: This study was done by using observational cross-sectional in Hospital X on January - February 2020 with total sampling method of critical value reporting to the responsible clinician that originated from Intensive Care Unit (ICU), Verlos Kamer (VK), and inpatient ward (IW) 1-6 from January-December 2019. The timeliness of reporting was counted since the laboratory result was obtained until received by the responsible clinician within £ 30 minutes and categorized as "On time" or "Late". Results: During 2019, there were 816 reporting which has been done before re-accreditation (511) and after re-accreditation (305) with 17 kinds of tests. The most reported test was platelet with 349 (before re-accreditation) and 101 (after re-accreditation), whilst SGOT/SGPT and albumin were the fewest one. The lowest timeliness of reporting percentage was 76,00% (February), whilst the highest was 98,48% (November). The timeliness of reporting's percentage was 84,34% (before re-accreditation) and 94,43% (after re-accreditation). The statistical analysis result revealed Pearson Chi-Square correlation was 18,535 with significance 0,000 and 3,145 odds ratio which shows that re-accreditation could significantly increase the timeliness of critical value reporting three times. Conclusion: This result showed that re-accreditation could affect the timeliness of laboratory critical value reporting to the responsible clinicians. Keywords: re-accreditation, critical value, laboratory, patient safety, hospital Abstrak Latar belakang: Keselamatan pasien merupakan isu utama dalam pelayanan kesehatan. Tertundanya komunikasi hasil nilai kritis laboratorium merupakan sumber bahaya yang signifikan terhadap pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketepatan waktu pelaporan nilai kritis laboratorium sebelum dan setelah reakreditasi sebagai salah satu indikator mutu di RS X. Metode: Penelitian dilakukan dengan cara observasional dengan metode cross sectional di RS X pada Januari - Februari 2020 dengan total sampling laporan nilai kritis kepada Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang berasal dari ruang Intensive Care Unit (ICU), Verlos Kamer (VK), dan ruang rawat inap 1 – 6 sejak Januari – Desember 2019. Ketepatan waktu pelaporan dihitung sejak hasil pemeriksaan didapatkan hingga diterima oleh DPJP dalam waktu £ 30 menit dan dinyatakan sebagai "Tepat Waktu" atau "Terlambat". Hasil: Selama tahun 2019, terdapat 816 pelaporan yang dilakukan sebelum akreditasi (511) dan setelahnya (305) dengan 17 jenis pemeriksaan. Pemeriksaan trombosit menjadi yang paling banyak dilaporkan yaitu 349 (sebelum akreditasi) dan 101 (setelah akreditasi), sedangkan SGOT/SGPT dan albumin menjadi yang paling sedikit. Persentase ketepatan waktu pelaporan paling rendah adalah 76,00% (Februari) sedangkan yang paling tinggi adalah 98,48% (November). Persentase ketepatan waktu pelaporan didapatkan 84,34% (sebelum akreditasi) dan 94,43% (setelah akreditasi). Hasil analisis statistik didapatkan korelasi Pearson Chi-Square 18,535 dengan signifikansi 0,000 dan Odds ratio 3,145 menunjukkan re-akreditasi mampu meningkatkan kemungkinan ketepatan waktu pelaporan nilai kritis sebesar tiga kali lipat. Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa re-akreditasi mampu mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan nilai laboratorium kritis kepada DPJP. Kata kunci: re-akreditasi, nilai kritis, laboratorium, keselamatan pasien, rumah sakit.
Background: Traumatic brain injury is one of the leading causes of morbidity and mortality in the world, as well as disability in the pediatric group. This study aimed to describe the characteristics of pediatric traumatic brain injury patients, considering the lack of data in Indonesia. Methods: We conducted a descriptive-retrospective study at Wongsonegoro Regional Public Hospital Semarang. Data were extracted from medical records of patients admitted during the period of January 2017-December 2019 using a purposive sampling method. Results: Out of 296 patients, most of the patients were male (59.13%; 66.30%). Based on age group, the highest percentage was found in the (11-18-year-old) (40.87%) in operative patients and 5-10-year-old (37.57%) in non-operative patients. The most common cause of traumatic brain injury in operative patients was falling from motor vehicle (37.39%) while in non-operative patients was falling while playing (32.60%). The most common type of injury in operative patients was epidural hematoma (49.57%) and in non-operative patients was brain concussion (53.59%). Most of the patients had minor head injury (75.65%; 81.22%). Most of operative patients spent 3-5 days (64.35%) in the hospital while most of non-operative patients spent 1-3 days (72.37%). Of all the subjects, the majority of patients recovered and discharged. Conclusion: remains as the most common type of pediatric traumatic brain injury in this study. This study provides an overview of traumatic brain injury in children and shows the importance of enforcing driving rules and supervision by parents which play an important role in child safety. Keywords: pediatric, traumatic brain injury, Indonesia Abstrak Latar belakang: Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia, serta disabilitas pada kelompok pediatri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien pediatri dengan cedera kepala, mengingat minimnya data cedera kepala pada anak di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-retrospektif di RSUD Wongsonegoro Semarang. Data diambil dari rekam medis pasien anak yang dirawat selama periode Januari 2017-Desember 2019 dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil: Dari 296 pasien, sebagian besar merupakan laki-laki (59,13%; 66,30%). Berdasarkan kelompok umur, persentase tertinggi pada kelompok operatif terdapat pada (40,87%) dan pada kelompok non operatif terdapat pada kelompok usia 5-10 tahun (37,57%). Penyebab tersering cedera kepala pada pasien operatif yakni jatuh dari kendaraan bermotor (37,39%) sementara pada pasien non operatif penyebab tersering berupa jatuh saat bermain (32,60%). Jenis cedera kepala tersering pada pasien operatif adalah Epidural Hematoma (49,57%) dan pada pasien non-operatif berupa commotio cerebri (53,59%). Kebanyakan pasien mengalami cedera kepala ringan (75,65%; 81,22%). Sebagian besar pasien operatif dirawat selama 3-5 hari (64,35%) sedangkan mayoritas pasien non operatif dirawat selama 1-3 hari (72.37%) Dari semua subjek, mayoritas pasien sembuh dan dipulangkan. Kesimpulan: Jatuh dari kendaraan bermotor merupakan jenis cedera kepala yang paling umum ditemukan dalam penelitian ini. Studi ini memberikan gambaran umum tentang cedera kepala pada anak dan menunjukkan pentingnya penegakan aturan dalam berkendara serta pengawasan oleh orang tua yang berperan penting dalam keselamatan anak. Kata kunci: anak, cedera kepala, Indonesia
Background: During the early period of the Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) pandemic, there was no approved and definitive drug available for the treatment of COVID-19. Favipiravir, chloroquine, hydroxychloroquine was used for re-purposing drugs while their efficacy and safety remained a major concern for healthcare workers. Clinical trial to assess efficacy and safety were ongoing. Case presentation: We present here the case of a 38-year-old woman, the first case of a healthcare worker diagnosed with COVID-19 who had moderate type, including first experience treatment with favipiravir in Sulianti Saroso Infectious Disease Hospital, Jakarta, Indonesia. We present the clinical characteristics, chest X-ray, clinical laboratory profiles, the treatment process with favipiravir and hydroxychloroquine as well as the clinical outcome of moderate type COVID-19 patient. Conclusion: This case highlights that considering the use of emergency intervention outside of clinical trial in the COVID-19 population, the informed patient consent has been given and the use of emergency intervention was monitored. Keywords: COVID-19, favipiravir, medical worker, case report, Jakarta Abstrak Latar belakang: Periode awal pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), belum terdapat obat yang disetujui dan pasti tersedia untuk pengobatan COVID-19. Favipiravir, chloroquine, hydroxychloroquine digunakan sebagai obat dengan indikasi baru yang sementara efektifitas dan keamanannya menjadi perhatian para petugas medis. Penyajian kasus: Disini kami melaporkan kasus wanita umur 38 tahun, merupakan kasus pertama seorang tenaga kesehatan Rumah Sakit terdiagnosis Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan penggunaan terapi favipiravir untuk pertama kalinya di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, Indonesia. Berikut ini kami gambarkan karakteristik klinis, hasil foto thorak, profil laboratorium dan proses terapi menggunakan favipiravir and hidroxychloroquine serta hasil akhir pada kasus COVID-19 derajat sedang. Kesimpulan: Kasus ini menggaribawahi bahwa pertimbangan penggunaan kegawatdaruratan obat antivirus diluar uji klinis pada populasi pasien COVID-19, pasien telah memberikan persetujuan dan penggunaan obat-obat tersebut dimonitor. Kata kunci: Covid-19, favipiravir, tenaga kesehatan, laporan kasus, Jakarta