
Pandemi COVID-19 masih terus berjalan. Sampai 31 Agustus 2022 WHO mencacat ada 599.825,400 kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan 6.469.458 kematian (WHO, 2022). Untuk negara kita, pada sekitar bulan Mei 2022 pernah hanya sekitar 200 kasus per hari dan kematian di bawah 5 orang, sementara di Agustus 2022 angkanya dapat sekitar 5000 orang per hari, naik 25 kali lipat, dan kematian naik beberapa kali kali sampai 20 lebih per hari (WHO, 2022).
Bakteri Escherichia coli merupakan salah satu jenis bakteri gram negatif dan bersifat fakultatif anaerob.Bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini biasanya hidup di usus besar manusia berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri ini umumnya tidak berbahaya,walaupun begitu tingkat kewaspadaan terhadap Escherichia coli perlu tetap diterapkan.Prevalensi infeksi karena bakteri Escherichia coli sangat tinggi di negara berkembang dengan perkiraan angka kejadian lebih dari 100 kasus per 100.000 penduduk (WHO, 2006). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tujuan untuk mengetahui efek listrik tegangan rendah terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.Perlakuan menggunakan perlakuan sebanyak lima batch yang masing-masing batch terdiri dari lima tabung. Setiap 1 batch penelitian menggunakan tegangan listrik yang sama selama 1 jam dengan mengevaluasi pemantauan setiap 20 menit, 40 menit, dan 60 menit.Pada batch 1,digunakan tegangan listrik 0,4 volt sebanyak lima tabung,batch ke-2 dilanjutkan dengan tegangan listrik 0,5 volt sebanyak lima tabung,batch ke-3 dengan menggunakan tegangan listrik 0,7 volt,dan batch ke-4 dengan menggunakan tegangan listrik 0,8 volt dan pada batch ke-5 dengan menggunakan tegangan listrik 1 volt sebanyak lima tabung.Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa listrik tegangan rendah dapat membunuh bakteri Eschericia coli dengan tegangan listrik optimal sebesar 0,5 volt,arus listrik 40 mA dan waktu pemantauan optimal yaitu 20 menit.
Latar belakang : Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu dari infeksi bakteri yang sering diderita oleh anak. Gejala ISK yang muncul pada anak cukup bervariasi dan sering tidak spesifik sehingga penegakan diagnosis untuk ISK dapat terhambat dan dapat menyebabkan komplikasi gagal ginjal. Tujuan : menunjukkan komplikasi keterlambatan penegakan diagnosis infeksi saluran kemih yang menjadi gagal ginjal akut. Kasus : seorang anak perempuan datang ke IGD dengan keluhan demam sejak tujuh hari sebelum masuk rumah sakit, disertai gejala nyeri seluruh lapang abdomen, nyeri pinggang, buang air kecil sangat sedikit, tidak dapat tidur tiga malam terakhir, lemas dan batuk kering. Dalam pemeriksaan lab didapatkan adanya peningkatan kadar ureum dan kreatinin serta dari ultrasonography sound didapatkan adanya gambaran gagal ginjal akut kanan derajat 2-3 dan kolesistitis kronis. Kesimpulan : keterlambatan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan komplikasi berupa gagal ginjal akut, dapat dilakukan pemberian terapi berupa antibiotik untuk lini pertama hingga proses hemodialisa.
COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan-Tiongkok pada Desember 2019 sampai 21 September 2021 telah dilaporkan >219 juta positif dan >4,55 juta kematian. Walaupun sudah dinyatakan sembuh namun fungsi organ yang terinfeksi tidak bisa kembali optimal seperti semula. Terapi stem cells menjadi salah satu upaya yang sedang dikembangkan dan memiliki potensi untuk membantu regenerasi paru-paru penyintas COVID-19 dengan memperbaiki kerusakan sel akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan strategi mekanisme pengarahan dan optimalisasi mesenchymal stem cells (MSCs) dari derivat adiposa sedot lemak untuk terapi regenerasi paru-paru pasca terpapar COVID-19. Metode penulisan penelitian ini menggunakan studi litelatur, penelusuran data dengan cara komparasi studi pustaka jurnal, artikel, e-book berbahasa Indonesia dan Inggris, dilakukan secara skrining kata kunci. MSCs diisolasi dari adiposit hasil sedot lemak, lalu disentrifugasi untuk diambil lapisan paling bawah dan dikonfirmasi secara berkala sebelum dikultur pada flask dengan medium kultur sampai tahap konfluensi dan siap dipanen untuk digunakan sebagai sumber terapi. Sebelum dilakukan injeksi MSCs pasien diberikan injeksi intramuscular sebanyak 25mg promethazine hydrochloride untuk mencegah alergi, MSCs diinjeksikan dengan interval 2 kali selang 5 hari dengan dosis standar 1x106 sel mononuklear per kilogram berat badan. Hasil CT scan yang dilakukan pada 25 pasien terapi MSCs, 16 pasien menunjukkan paru-parunya beregenerasi sehingga aman efikasi dan tidak menimbulkan efek samping, Disimpulkan bahwa terapi MSCs derivat adiposa menjadi harapan baru dalam regenerasi paru-paru pasca terpapar COVID-19.
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi lingkungan, kondisi tubuh, aktivitas fisik, dan gaya hidup. Mahasiswa kedokteran lebih cenderung menderita kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Kualitas tidur yang buruk dapat dikaitkan dengan masalah emosional seperti kecemasan. Mahasiwa kepaniteraan klinik merupakan salah satu populasi yang rentan terhadap kualitas tidur yang buruk dan terjadinya kecemasan. Namun, penelitian terkait masih minim ditemukan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mempelajari hubungan kualitas tidur dengan tingkat kecemasan pada staff klinik di Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Desain penelitian ini berupa deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Kualitas tidur pada responden akan dinilai menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sedangkan tingkat kecemasan pada responden dinilai menggunakan kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI). Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang dengan usia rata-rata 22,63 tahun. Mayoritas responden adalah perempuan, atau 78 (75%). Kualitas tidur sebagian besar responden adalah baik yaitu sebanyak 61 (58,7%) orang. Tingkat kecemasan yang dialami mayoritas responden berada dalam kategori rendah yaitu sebanyak 94 (90,4%) orang. Terdapat hubungan yang signifikan (p = 0,009) antara kualitas tidur dan tingkat kecemasan dengan kekuatan korelasi lemah dan arah korelasi positif (r = 0,254). Semakin baik tidur Anda, semakin sedikit kecemasan yang Anda miliki.
The N-acetyltransferase 2 (NAT2) polymorphism in coding region has been studies intensively. However, there are limited studies for promoter region of NAT2 gene. Several reported study showed that the promoter region polymorphism of NAT2 gene is genotyped by PCR-sequencing approach. In this paper, we describe TaqMan based assays for the NAT2 polymorphism genotyping in promoter region with following SNP: rs4646243 [T>C], rs4646244 [T>A], rs4646267 [A>G], rs4345600 [A>G], and rs4646246 [A>G]. Our result showed a good separation cluster, trailing cluster and some mix cluster. TaqMan genotyping assay has shown a sensitivity and specificity to detect polymorphism in NAT2 promoter region.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurut Riskesdas 2018, 30,8% anak balita atau satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting. Infeksi cacing merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartini di Pekanbaru, prevalensi infeksi cacing pada anak balita adalah 12,7%. Perhatian peneliti-peneliti terdahulu terhadap infeksi cacing pada anak lebih banyak pada anak-anak usia sekolah dasar daripada usia balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan infeksi cacing terhadap kejadian stunting pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar Kabupaten Kampar. Penelitian dengan menggunakan metode cross sectional ini dilakukan di desa Ranah Singkuang dan desa Pulau Jambu. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik non probality sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian yaitu dengan melakukan pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan feses metode direct smear. Metode analisis dengan uji Chi-Square. Hasil yang didapat adalah sebanyak 27 anak menderita stunting (33.8%) dan 15 anak positif infeksi cacing (18.8%). Jenis cacing yang paling banyak ditemukan adalah cacing T. trichiura (8.8%). Kesimpulan Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara infeksi cacing terhadap kejadian stunting pada balita di 2 lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kampar Kabupaten Kampar. Masih diperlukan penelitian yang lebih banyak mengenai anak-anak balita terutama yang mengalami stunting dan infeksi cacing.
Latar belakang Antihipertensi merupakan obat yang diberikan pada pasien terdiagnosis hipertensi, pada sebagian pasien terdapat pula gagal ginjal sebagai komplikasi dari hipertensi yang sudah lama berada pada tubuh pasien. Sehingga terdapat obat antihipertensi yang memiliki efek melindungi ginjal (renoprotektif) berupa ACEI dan ARB.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat antihipertensi pada pasien gangguan fungsi ginjal rawat inap di RSUD Pasar Rebo dan untuk mengetahui pandangan Islam tentang hukum penggunaan obat antihipertensi.Metode. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis. Populasi dan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dengan kriteria inklusi pasien dewasa dengan diagnosa gangguan fungsi ginjal dengan hipertensi di instalasi rawat inap yang mendapat terapi obat anti hipertensi golongan obat, jenis obat, serta penggunaan obat sebagai monoterapi maupun terapi kombinasi di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo periode tahun 2016.Hasil dan Diskusi penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pasar Rebo diperoleh jumlah pasien sebanyak 123 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Presentase penggunaan obat berdasarkan pasien gangguan fungsi ginjal didapatkan laki-laki (61%), dan perempuan (39%). Presentase pasien gangguan fungsi ginjal berdasarkan usia 18-34 tahun didapat (5%), usia 35-44 tahun (12%), usia 45-54 tahun (39%), dan usia 55-64 tahun (44%). Presentasi pasien terdiagnosis gangguan fungsi ginjal berdasarkan CKD yaitu (83%) dan AKI (17%). Presentasi nilai GFR pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal yaitu ? 90 ml/min/1,73 m2 (1%), 60-89 ml/min/1,73 m2 (7%), 30-59 ml/min/1,73 m2 (21%), 15-29 ml/min/1,73 m2 (26%), dan ? 15 ml/min/1,73 m2 (45%). Presentase jenis obat pada pasien gangguan fungsi ginjal yaitu ACEi (7%), ARB (17%), Beta Blocker (15%), CCB (26%), dan Diuretik ( 39%). Presentase golongan obat menurut variasi penggunaan obat antihipertensi yaitu monoterapi sebanyak (25%), Kombinasi 2 obat (18,8%), kombinasi 3 obat (16,8%), kombinasi >3 obat (30,4)Kesimpulan Presentase ketepatan pemilihan pada penggunaan obat antihipertensi yaitu didapatkan (100%). Presesntase ketepatan indikasi penatalaksaan pada penggunaan obat pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal yaitu (100%)Presentase ketepatan dosis pada penggunaan obat anhipertensi didapatkan terdapat kelebihan dosis sebanyak (2%). Kata Kunci : Gangguan Fungsi Ginjal, Hipertensi, Anti hipertensi, Pasien, Rumah Sakit
Introduction: Alcohol consumption can cause damage to the gastric mucosa. Floret plantain has antioxidant properties that can prevent damage to stomach cells. This study aims to find out the effect of floret extract of plantain on the histopathological features of Wistar rat’s stomach given ethanol 40%.Methods: This study used the Post-test only group design method. The sample consists of 30 male Wistar rats were divided into 5 groups namely C- was given food and drink standardly, group C+ was given a placebo aquadest 1.8ml/200g/day after 60 minutes given 40% ethanol of 1.8ml/200g/day, group T1, T2, and T3 were given floret extract at a dose (140mg/kg body weight, 280mg/kg body weight and 560mg/kg body weight) and after 60 minutes was given 40% ethanol. The treatment was carried out for 30 days, and then the samples were terminated in order to observe the histopathological microscopically magnification 400x and analyzed with Barthel-Manja criteria. Data were analyzed using Kruskal Wallis and Mann Whitney.Results: The mean of gastric mucosal damage in the C-, C+, T1, T2, and T3 were groups respectively 1.03±0.26, 1.46±0.27, 1.40±0.56, 1.46±0.32, 1.83±0.26. The Kruskal Wallis test results showed significant differences (p=0.02). The Mann Whitney test results showed significant differences in group C- and C+, C+, and T3, while the C+ and T1, T2 showed no significance.Conclusions: Dosing 140mg/kg body weight, 280mg/kg body weight and 560mg/kg body weight were unable to prevent stomach damage to Wistar rats given 40% ethanol.Suggestion : further research and toxicity test.
Status gizi balita adalah tolak ukur untuk kondisi tubuh yang dapat dinilai dari indeks, yaitu Berat Badan Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U), Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB). Jenis penelitian yang dimanfaatkan dalam stufi ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam studi ini berjumlah 109 orang dengan sampel merupakan seluruh Ibu dengan balita yang datang ke Posyandu Desa Pasir Kupa Kabupaten Lebak sebanyak 61 ibu dengan balita. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan adanya balita dengan gizi kurang berjumlah 6 orang dan stunting sebanyak 5 orang. Tidak ditemukan adanya perbedaan bermakna antara penghasilan keluarga dengan status gizi balita (BB/U dan TB/U). Pentingnya mencukupi kebutuhan keluarga dan edukasi pemilihan makanan yang bernutrisi untuk anak, agar status gizi anak selalu terjaga
BPSD (Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia) is a disorder that is often found. Neuropsychiatric symptoms in people with dementia are highly variable and unpredictable, with an influence on emotion, perception, motor function, and thought content. Symptoms obtained in emotions can be depression, these depressive symptoms usually mask patients with dementia. We report a 76-year-old woman was diagnosed with BPSD (Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia) since 3years ago. Symptoms that appear were high aggressiveness and suspicion of those around her. The patient feels that her belongings are stolen so that she often hides stuff even food in an improper places. Dementia patients often present with complaints such as depression, especially in female patients. Emotional disturbances or emotional changes are also found in patients with BPSD, in the above cases the patient loses his enthusiasm for life, continuous sadness, suicidal ideation. The patient received antipsychotic treatment (Haloperidol 0.75 b.i.d) twice a day.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyakit akibat penumpukan plak di dalam arteri koroner yang menyuplai oksigen ke jantung. Diketahui bahwa penyakit kardiovaskuler menyebabkan kematian sebanyak >17 juta orang setiap tahunnya dimana 42,3% diakibatkan oleh PJK. Melalui perkembangan teknologi kedokteran dan mengingat masyarakat dunia yang banyak memiliki ponsel pintar (6.4 triliun pengguna pada tahun 2021, maka kedua bidang ini mulai dikombinasikan. Cara deteksi biomarker ((midkine, adiponectin, apolipoprotein C-1 [ApoC-1], dan kidney injury molecule-1 [KIM-1]) melalui imunofluorosensi dengan alat portabel berbasis ponsel pintar dapat menjadi terobosan untuk mendeteksi Obstruksi Arteri Koroner yang Signifikan (OAKS). Dengan menggunakan konsep alat diagnosis portabel dan memiliki kemampuan multiplexing diharapkan 4 biomarker OAKS dapat terdeteksi dengan lebih mudah, cepat, tepat dan tanpa membutuhkan keahlian khusus sehingga pada akhirnya alat ini mampu menjangkau seluruh tingkat layanan kesehatan masyarakat terutama yang bersifat layanan primer.
Latar Belakang: Obesitas merupakan kelainan metabolisme yang dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang sering mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan pengukuran antropometri yang menjadi parameter penting dalam menentukan kriteria proporsi tubuh seseorang dengan menghitung perbandingan tinggi badan dan berat badan seseorang. Pada obesitas, IMT seseorang cenderung lebih meningkat dibandingkan non obesitas. Obesitas sering dikaitkan dengan kadar profil lipid seseorang. Profil lipid adalah gambaran kadar lipid dalam darah. Terdiri dari kolesterol total, Low density lipoprotein (LDL), High-density lipoprotein (HDL) dan Trigliserida (TG).Metode: Penelitian ini berdasarkan cara pengumpulan data dan merupakan penelitian observasional dilakukan secara cross sectional dengan mengolah data primer. Populasi dan sampel adalah karyawan rumah sakit sumber waras yang memiliki indeks massa tubuh >25. Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan karyawan secara langsung serta dilakukan pemeriksaan lab untuk melihat kadar profil lipid pada penderita obesitas. Analisis data dengan pada pasien obesitas menggunakan SPSS dengan metode korelasi Pearson untuk melihat hubungan Indeks Massa Tubuh dan Profil Lipid.Hasil: Pada penelitian ini, Kadar profil lipid penderita obesitas didapatkan bahwa kolesterol total didominasi oleh pasien yang memiliki kolesterol optimal (70%), kemudian untuk kolesterol LDL didominasi oleh pasien yang memiliki kolesterol LDL optimal (40%), kolesterol HDL didominasi oleh pasien yang memiliki kolesterol HDL diinginkan (60%) dan untuk trigliserida didominasi oleh pasien yang memiliki trigliserida optimal (87%). Pada analisa data menggunakan korelasi Pearson didapatkan p-value dari indeks massa tubuh dengan kolesterol total sebesar 0.424 dengan r-value 0,151, nilai p-value LDL sebesar 0.136 dengan r-value 0,279, nilai p-value HDL sebesar 0.955 dengan r-value 0,011 dan nilai p-value trigliserida sebesar 0.890 dengan r-value 0,026.Simpulan: Pada penderita obesitas didapatkan tidak adanya korelasi atau hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh dengan kolesterol tubuh, LDL, HDl dan trigliserida.
ABSTRAKPenyalahgunaan minuman beralkohol akan meningkatkan produksi radikal bebas yang dapat menyebabkan stres oksidatif, sehingga dapat merusak jaringan hepar. Floret pisang raja merupakan salah satu antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efek ekstrak floret pisang raja dosis 140mg/kgBB, 280mg/kgBB dan 560mg/kgBB terhadap gambaran histopatologi hepar tikus wistar jantan yang diberi pajanan etanol. Penelitian ini menggunakan metode Post Test Only Control Group Design. Sampel penelitian adalah tikus wistar jantan sebanyak 30 ekor dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: K- diberi pakan dan minum. K+ diberi placebo aquades 1,8ml/200g setelah 60 menit diberi etanol 40% sebesar 1,8ml/200g. P1, P2 dan P3 diberi ekstrak floret pisang raja (140mg/kgBB untuk P1, 280mg/kgBB untuk P2 dan 560mg/kgBB untuk P3) setelah 60 menit diberi etanol 40% sebesar 1,8ml/200g. Perlakuan dilakukan selama 30 hari kemudian sampel diterminasi untuk diamati gambaran histopatologi pada jaringan hepar. Data dianalisis menggunakan Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Rerata skor kerusakan hepar K-=1,07, K+=2,80, P1=1,60, P2=2,40 dan P3=2,70. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan bermakna dari seluruh kelompok perlakuan (p=0,000). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan bermakna antara tiap kelompok, kecuali antara kelompok K+ dengan P2 (p=0,442), kelompok K+ dengan P3 (p=0,932) dan kelompok P2 dengan P3 (p=0,607). Pemberian ekstrak floret pisang raja dosis 140mg/kgBB mampu mencegah kerusakan hepar tikus wistar yang diberi pajanan etanol 40%.ABSTRACTThe abuse of alcoholic drinks will increase the free radicals production which may cause oxidative stress lead to hepatic tissue damage. Plantain florets are one of the antioxidants that can counteract free radicals. This study aims to determine the differences in the effect of plantain floret extract at doses of 140mg/kg body weight, 280mg/kg body weight and 560mg/kg body weight on the liver histopathological features of male wistar rats exposed to ethanol. This study used the Post Test Only Control Group Design method. The samples were 30 male Wistar rats divided into 5 groups, namely:group C- was given food and drink standardly; group C+ was given a placebo aquadest 1.8 ml/200g after 60 minutes given 40% ethanol of 1.8 ml/200g; group T1, T2 and T3 were given plantain floret extract after 60 minutes given 40% ethanol of 1.8ml/200g. The extract was given 140mg/kg body weight for group T1, 280mg/kg body weight for group T2 and 560mg/kg body weight for group T3. The treatment was carried out for 30 days, then the samples were terminated in order to observe the histopathologicaly appearance of the hepatic tissue. Data were analyzed using Kruskal Wallis and Mann Whitney. The mean score of liver damage of each group were: group C-=1.07, C+=2.80, T1= 1.60, T2=2.40 and T3=2.70. The Kruskal Wallis test results showed significant differences between all treatment groups (p = 0.000). The Mann Whitney test results showed significantly difference between each group, except between group C+ and group T2 (p = 0.442), between group C+ and T3 (p = 0.932) and between group T2 and T3 (p = 0.607). Giving of plantain floret extract at a dose of 140mg/kg body weight is able to prevent liver damage of the wistar rats exposed to 40% ethanol.
Pendahuluan: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Pada saat anak melewati usia dua tahun, maka sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan pada tahun-tahun awal kehidupan. BBLR (berat badan lahir rendah) merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian di berbagai negara karena dapat mempengarhui pertumbuhan janin. Berdasarkan Penelitian prevalensi kejadian BBLR di Provinsi Banten menempati peringkat ke 9 Nasional dengan prevalensi diatas nasional (> 6,2%). Prevalensi kejadian BBLR pada desa Koncang, Keroncong, dan Kadugadung sebesar 8,70%, 14,29%, dan 7,46%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan metode penelitian berupa survey dan pengambilan sampel secara total sampling. Uji hipotesis penelitian ini menggunakan uji ChiSquare. Hasil: Hasil analisis statistik nilai P value <0,05 yaitu nilai P 0,011 pada baduta dan nilai P 0,011 yang menunjukkan ada hubungan BBLR dengan kejadian Stunting pada baduta. Kesimpulan: Hasil analisis bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan atau bermakna antara BBLR dengan kejadian Stunting pada baduta dan balita di Desa Kerocong, Kecamatan Keroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Reactive Oxygen Species (ROS) are aerobic metabolic byproducts, mainly produced by mitochondria. Most types of cancer contain high amounts of ROS. An increase in endogenous ROS triggers adaptive changes, induces oxidative stress and cytotoxic. Oxidative stress can lead to cancer. But on the other hand, the radiotherapy treatment method induces the formation of ROS in the process of cell death. Resistance therapy in cancer cells is associated with high antioxidant enzymes that neutralize ROS in cancer cells. In addition, therapeutic resistance and recurrence are also associated with the presence of cancer stem cells (CSC). Several studies have shown that ROS levels are found to be low in cancer stem cells. Low levels of ROS are likely to play a role in the survival of cancer stem cells. Therefore, modulation of ROS levels in cancer stem cells can be used as an alternative therapy.
Fibrosarkoma prostat merupakan tumor yang sangat jarang dan agresif dengan jumlah kasus kurang dari 0,1% dari seluruh keganasan prostat primer. Dari jumlah tersebut, kasus terbanyak adalah leiomyosarkoma. Penelitian selama 30 tahun di rumah sakit Kanada menyebutkan dari 384 kasus keganasan prostat yang ditemukan, hanya dua kasus merupakan fibrosarkoma. Di Indonesia, belum ada data pasti untuk kasus ini. Dilaporkan kasus, seorang pria usia 45 tahun datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak beberapa bulan terakhir. Kadar PSA pasien ini 3,5 ng/ml. Diagnosa fibrosarkoma ditegakkan berdasarkan pengecatan rutin H&E serta dikonfirmasi dengan pemeriksaan panel imunohistokimia, karakteristik gambaran mikroskopisnya adalah sel bentuk spindel sampai oval, kromatin kasar, mitosis atipik banyak ditemukan, dengan pola “herring-bone”. Hasil pemeriksaan imunohistokimia, negatif untuk SMA, Desmin, S100 dan CD34. Sarkoma prostat merupakan tumor yang sangat agresif dengan pilihan terapi terbatas dan berpotensi untuk metastasis. Rata-rata harapan hidup kurang dari satu tahun, dengan diagnosis awal dan penanganan eksisi lengkap serta batas bebas tumor maka harapan hidup pasien meningkat.
Background:Cardiovascular disease is the number one cause of death in Indonesia. Blood type can also affect the risk factors of cardiovascular disease. Heart disease research is commonly found in the population of the 15-24 year age group. Not much research done at the age below. The purpose of this study is to know the relationship of blood type to cardiovascular endurance. This study is expected to detect early risk factors for cardiovascular disease by examination of Harvard step test (HST) in children aged less than 15 years to prevent the occurrence of cases of cardiovascular disease in the productive age.Methods:The researchdesign used was observational research with cross sectional. Respondents consisted of 80 respondents from the State Elementary School (SDN) 01 Cempaka Putih Barat and 53 respondents State Junior High School (SMPN) 137 Cempaka Putih Barat aged 6-15 years. Sample determination with proportional stratified random sampling and using Slovin formula for sample size. Blood type data were taken using serum. Cardiovascular endurance check is performed by the HST method. Data were analyzed by Chi square statistic test using SPSS applicationResult: Bivariate test with Chi square statistic test obtained p value = 0.69 (> 0.05). The research hypothesis was rejected, so based on statistical test showed that there was no correlation of blood group with cardiovascular enduranceConclusion: Cardiovascular endurance is not affected by blood type.
Tidur merupakan hal yang esensial bagi manusia. Kualitas tidur mempengaruhi aspek fisiologis dan psikologis seseorang. Mahasiswa kedokteran sangat rentan mengalami kualitas tidur yang buruk karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Tugas yang diberikan bergantung pada tingkatan mahasiswa, yaitu pre-klinik dan klinik. Di era pandemi, mahasiswa dituntut untuk menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran daring. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan kualitas tidur mahasiswa pre-klinik dan mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran selama sistem pembelajaran daring. Desain penelitian ini adalah deskriptif komparatif dengan metode purposive sampling. Populasinya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling sejumlah 98 mahasiswa. Pengambilan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Uji statistik menggunakan chi-square. Mayoritas mahasiswa memiliki kualitas tidur yang buruk. Terdapat 32 mahasiswa pre-klinik (71,1%) dan 42 mahasiswa klinik (79,2 %) dengan kualitas tidur yang buruk. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kualitas tidur mahasiswa pre-klinik dengan kualitas tidur mahasiswa klinik (p=0,486). Maka dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa pre-klinik dan mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
Background: The Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pandemic has made a rapid and changing health care services. Moreover, currently with the COVID-19 pandemic, telemedicine can be used for providing safe care, without the physical presence of the patient or caregivers at healthcare or hospitals. The implementation of telemedicine may help improve healthcare service during COVID-19 pandemic. Several studies have identified both barriers and facilitating factors that influence the readiness of telemedicine implementation at healthcare facility. The purpose of this study is to explore and identify the factors that influencing the readiness of telemedicine implementation.Methods: This article is a systematic review which is a method that uses review, analysis, structured evaluation, classification, and categorization based on the evidence that has been previously produced. This review uses the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis method, or commonly known as PRISMA. This review was conducted by searching published articles from 2020 to 2021, from Scopus, Science Direct, Springer Link and ProQuest database.Results: Of the 99 studies identified, 5 were included in this study. Reported factors that influenced the readiness of implementation telemedicine were divided into five categories: technology, policy, people, resources, and organization. Concerns about the telemedicine system’s functionality were methods of using good data, infrastructure planning, human resources, effective management, and good technical implementation.Conclusions: By using a narrative synthesis, we identified the success factors of readiness telemedicine implementation are infrastructure planning, human resources, effective management, and good technical implementation.