
Pendidikan inklusif merupakan paradigma yang menekankan hak setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara tanpa diskriminasi terhadap kondisi fisik, intelektual, sosial, maupun emosional. Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai lembaga pendidikan dasar berciri keislaman turut menjadi bagian dari gerakan menuju inklusivitas. Namun, implementasi pendidikan inklusif di MI masih menunjukkan kesenjangan antara kebijakan nasional dan praktik di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan utama dan merumuskan strategi penguatan implementasi pendidikan inklusif di MI. Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis-konstruktif, dengan menelaah publikasi akademik, laporan kebijakan nasional dan internasional, serta studi kasus madrasah yang diterbitkan antara tahun 2021–2025. Analisis dilakukan secara tematik terhadap isu kebijakan, kapasitas guru, infrastruktur, pendanaan, dan aspek sosial-budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa hambatan utama implementasi pendidikan inklusif di MI mencakup: (1) kesenjangan antara kebijakan normatif dan operasional; (2) rendahnya kapasitas guru dan ketiadaan tenaga pendukung; (3) keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas; (4) stigma sosial terhadap anak berkebutuhan khusus; serta (5) minimnya pendanaan dan insentif kelembagaan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi penguatan berupa penyusunan panduan teknis operasional, pelatihan guru berkelanjutan dengan sistem micro-credential, pembentukan Tim Inklusi Madrasah, serta integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik inklusi. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif di MI bergantung pada harmonisasi antara kebijakan, kompetensi guru, dukungan masyarakat, dan nilai spiritual keislaman yang menjadi karakter khas madrasah. Temuan ini memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan berbasis bukti dan model praktik baik yang relevan bagi pendidikan dasar Islam di Indonesia.
Kemampuan berbahasa meliputi empat keahlian dasar yakni keahlian menyimak, berbicara, membaca, serta menulis. Berbicara ialah salah satu kemampuan bahasa utama yang diperlukan komunikasi. Selain itu, menceritakan cerita adalah salah satu kemampuan berbicara. karena itu, diperlukan materi edukasi yang dapat membantu anak merasa nyaman menceritakan cerita didepan kelas, seperti boneka tangan. Untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa kelas IV SDN Rayung 03 Senori dalam bercerita tentang bawang merah dan bawang putih dalam bahasa Indonesia, peneliti harus mengetahui keunggulan media boneka tangan serta tantangan dan solusi yang terkait dengan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan cara kualitatif. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan,: (1) pemanfaatan media boneka tangan di SDN Rayung 03 Senori sudah berjalan dengan cukup baik dan sesuai dengan langkah-langkah didalam penerapannya. Langkah-langkah didalam penggunaan media boneka tangan meliputi tahap perencanaan yaitu guru menyiapkan materi serta media, tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan guru memberi contoh penggunaan media boneka tangan, kemudian diikuti siswa melakukan praktik secara bergantian, dan tahap terakhir siswa mengulas kembali isi cerita yang telah dipraktikkan. Hasil yang didapat memperlihatkan, kegiatan pada saat proses pembelajaran setelah pemanfaatan media boneka tangan pada kegiatan bercerita mengalami peningkatan dibanding sebelum memanfaatkan media boneka tangan dari rata-rata 61,2 meningkat menjadi 78,4, (2) problem yang terjadi yaitu minimnya waktu yang dibutuhkan serta kurangnya penghayatan dari beberapa siswa dalam praktik bercerita. Solusi yang ditawarkan yaitu meminta siswa membaca serta memahami materi dirumah, serta memberi reward bagi siswa yang sungguh-sungguh dalam praktik bercerita.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan peranan kurikulum di MI Al-Fattah yang menekankan pada pembentukan peserta didik secara menyeluruh. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya kurikulum sebagai landasan pembelajaran yang mendukung penyesuaian diri, integrasi sosial, diferensiasi, persiapan melanjutkan pendidikan, kebebasan memilih minat, serta fungsi diagnostik untuk pengembangan potensi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum di MI Al-Fattah berjalan optimal dalam menjalankan enam fungsi utamanya yang relevan dengan tujuan pendidikan madrasah. Implementasi kurikulum mendukung terbentuknya peserta didik yang adaptif, kritis, dan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan peran guru, sinergi dengan orang tua, serta inovasi pembelajaran agar fungsi dan peranan kurikulum semakin optimal di masa depan.
Moderasi beragama merupakan konsep penting dalam mengembangkan toleransi dan menghormati perbedaan dalam masyarakat yang beragam. Di Indonesia, Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan dasar yang berbasis Islam memiliki peran signifikan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pembelajaran matematika dapat digunakan sebagai alat untuk mengajarkan moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten dari berbagai jurnal ilmiah.
This study aims to analyze the challenges and innovations in Fiqh learning at MI Tahfidz Annur Genaharjo within the framework of implementing the Merdeka Curriculum. This curriculum emphasizes contextual, differentiated, and project-based learning. However, in its implementation, teachers face various obstacles such as limited digital literacy, minimal technical training, and lack of supporting facilities. This study uses a qualitative descriptive approach with data collection techniques through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis methods. The results of the study show that teachers have developed various innovations such as blended learning, utilization of digital media (Kahoot, YouTube, Canva), and the application of differentiated learning according to students' learning styles. Despite facing challenges, teachers are able to create adaptive and contextual Fiqh learning. This study emphasizes the importance of improving teacher competence and strengthening system support so that Fiqh learning is in accordance with the spirit of the Merdeka Curriculum
Penelitian ini mengkaji peran guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPAS materi bagian-bagian tubuh hewan kelas III MI Bahrul Ulum melalui metode Discovery Learning. Latar belakang penelitian menyoroti pentingnya peran guru dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sejak dini, khususnya dalam konteks pembelajaran abad ke-21. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran guru, penerapan metode Discovery Learning, dan hambatan yang dihadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas III, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan motivator yang efektif, melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yang eksploratif dan reflektif. Penerapan tahapan Discovery Learning (stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan generalisasi) secara sistematis terbukti meningkatkan indikator berpikir kritis siswa, seperti mengidentifikasi masalah, menjelaskan hasil pengamatan, dan menarik kesimpulan. Meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan waktu dan perbedaan kesiapan siswa, guru menunjukkan strategi adaptif untuk memastikan hasil belajar yang bermakna.
Penelitian ini berfokus pada upaya untuk menguji efektivitas model pembelajaran Card Sort terhadap prestasi belajar siswa di SD Karangmojo. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 20 siswa sebagai sampel yang diukur sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penerapan model Card Sort. Analisis data dilakukan dalam dua tahap: pemeriksaan normalitas dengan Kolmogorov–Smirnov, diikuti oleh uji‑t sampel berpasangan. Pada uji normalitas menyatakan data pretest (Asymp. Sig. 0.200) dan posttest (Asymp. Sig. 0.194) berdistribusi normal (p>0.05), sehingga memenuhi asumsi untuk uji parametrik. Secara deskriptif, terdapat peningkatan rata-rata nilai dari pretest (60.30) ke posttest (67.40). Analisis korelasi sampel berpasangan mengindikasikan adanya hubungan positif yang bermakna antara pretest dan posttest (r=0.539, p=0.014). Namun, uji‑t pada sampel berpasangan menunjukkan perbedaan rata‑rata yang bermakna antara skor pretest dan posttest yang tidak signifikan secara statistik (t=−1.834, df=19, p=0.082). Meskipun terjadi peningkatan skor, signifikansi statistik yang tidak tercapai (p>0.05) mengindikasikan bahwa model pembelajaran Card Sort belum secara signifikan meningkatkan prestasi belajar siswa di SD Karangmojo pada penelitian.
Kasus bullying di lingkungan sekolah selalu menjadi topik prioritas untuk segera diselesaikan karena dampaknya yang dianggap berbahaya dan multidimensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh kasus bullying yang terjadi di MI Al-Musthofawiyah Palang Tuban melalui studi kasus pada beberapa sumber data seperti siswa, guru, dan wali kelas. Penggalian data menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi lapangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif Miles & Huberman dengan melakukan data reduction, display, conclusion dan verification. Temuan penelitian berupa bentuk, penyebab, dampak, tindakan preventif dan solusi dari kasus bullying di MI Al-Musthofawiyah Palang yang sangat bervariasi dijelaskan lebih lanjut dalam artikel ini. Penelitian serupa perlu dilakukan pada ruang lingkup yang lebih luas, misalnya terkait dengan latarbelakang, gender, dan jenjang pendidikan siswa yang lebih bervariasi. Disamping itu, kasus bullying dengan kategori cyberbullying di jenjang Pendidikan dasar perlu diidentifikasi lebih lanjut. Kerjasama yang kolaboratif antara berbagai sektor seperti psikolog, kesehatan, dan pemerintah juga sangat diperlukan. Peran para tokoh agama dan bantuan media sosial di era digital ini juga sangat direkomendasikan untuk mencegah kasus bullying.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan program pembentukan karakter peduli lingkungan di SDN 13 Muaro melalui manajemen sampah plastik dan non-plastik di sekolah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, Informan yang terlibat dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, pendidik, peserta didik, dan wali murid. Pengumpulan data dilakukan melalui interview, observasi, dan dokumentasi. Sementara itu, model Miles dan Huberman digunakan sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan karakter peduli lingkungan siswa sudah terlihat pada kebiasaan sehari-hari di sekolah. Disisi lain, pihak sekolah menguatkan program tersebut melalui pelatihan guru, kampanye, integrasi program dalam kurikulum, fasilitas penunjang, serta kolaborasi dengan pihak terkait. Artikel ini diharapkan memberikan wawasan mengenai program manajemen sampah plastik dan non-plastik di sekolah dasar untuk meningkatkan kepedulian lingkungan.
Kualitas pendidikan yang baik sangat penting untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di kancah global. Namun, tantangan dalam pendidikan sering kali menghambat proses pembelajaran yang efektif sehingga diperlukan optimalisasi dalam penggunaan media pembelajaran untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan dan meningkatkan kompetensi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran serta pengaruhnya terhadap hasil belajar peserta didik. Metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kualitatif dengan studi literatur. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan artikel, reduksi artikel, display artikel, pembahasan, dan kesimpulan, dengan sumber data berupa artikel jurnal nasional dalam lima tahun terakhir (2019-2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik dan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan hasil belajar mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik, peningkatan daya serap otak dan daya ingat yang lebih kuat, peserta didik mampu mencapai prestasi yang lebih tinggi dan memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang dipelajari. Temuan ini menekankan pentingnya optimalisasi penggunaan media pembelajaran dalam mengatasi tantangan pendidikan dan meningkatkan kompetensi siswa.
Generasi saat ini tidak bisa dipisahkan dari penggunaan teknologi dalam rutinitas kesehariannya. Beberapa hasil riset menunjukkan bahwa penggunaan smartphone secara berlebihan dapat memberikan dampak yang bervariasi pada aspek kesehatan. Namun, beberapa diantaranya juga membuktikan tidak adanya hubungan antara status gizi seseorang dengan intensitas pemakaian smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk menggali effect size dari pengaruh penggunaan smartphone terhadap status gizi pelajar Indonesia yang ditinjau dari jenjang pendidikannya dengan N sebesar 1679 pelajar. Desain penelitian menggunakan meta-analisis. Sumber data diambil dari 16 artikel nasional yang dipublikasikan pada enam tahun terakhir dengan filter yang digunakan meliputi: Penelitian korelasional, diakses dari google scholar, subjek penelitian merupakan pelajar pada jenjang SD/SMP/SMA/Perguruan Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan adanya random effect size korelasi yang signifikan antara Intensitas penggunaan smartphone dengan status gizi yang dikategorikan ke dalam low effect size ( r=0,181; p-value < 0,001). Hal tersebut membuktikan bahwa intensitas penggunaan smartphone berkorelasi sangat lemah dengan status gizi pelajar. Dengan demikian, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang semakin tinggi pula tingkat signifikansi korelasi antara intensitas pemakaian smartphone dengan status gizi pelajar. Informasi tersebut diharapkan mampu dijadikan landasan perspektif bahwa dalam pemakaian smartphone harus dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan.
Penelitian ini berfokus pada pemetaan potensi diri peserta didik di tingkat SD/MI di Banjarnegara. Pentingnya pengenalan potensi diri siswa untuk membantu mereka mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan, yang berdampak positif terhadap motivasi belajar dan kepercaThis study focuses on mapping the self-potential of elementary and Islamic elementary school students (SD/MI) in Banjarnegara. Recognizing students' potential is important to help them develop interests, talents, and abilities, which positively impact their motivation to learn and self-confidence. The aim of this study is to explore the strategies used by teachers in mapping students' potential and to identify the challenges encountered in this process. This research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observations, and documentation at three schools: SD N 4 Pucungbedug, SD 4 Muhammadiyah Banjarnegara, and MI Cokroaminoto Kesenet. The findings show that teachers use various methods, such as direct observation, interviews, talent tests, home visit and grade analysis to identify students' potential. In activities focused on potential development, teachers engage students in extracurricular activities and competitions that match their abilities. However, challenges include limited time, a lack of teacher training and communication issues with parents.yaan diri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi strategi yang digunakan oleh para guru dalam memetakan potensi siswa dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di tiga sekolah: SD N 4 Pucungbedug, SD 4 Muhammadiyah Banjarnegara, dan MI Cokroaminoto Kesenet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan berbagai metode seperti observasi langsung, wawancara, tes bakat, home visit dan analisis nilai untuk mengidentifikasi potensi siswa. Sedangkan dalam kegiatan pengembangan potensi, guru mengikutsertakan peserta didik pada kegiatan ekstrakurikuler dan perlombaan sesuai kemampuan yang dimiliki. Namun, terdapat kendala seperti keterbatasan waktu, kurangnya pelatihan guru dan kendala komunikasi dengan orang tua.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peningkatan kompetensi Bahasa Inggris khususnya bagi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fatah Banjarnegara melalui program pelatihan basic english yang meliputi Speaking, Reading, Listening dan Writing. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yaitu dengan pendekatan wawancara dan observasi terhadap sepuluh (10) guru Kelas MI Al Fatah Banjarnegara yang mengikuti pelatihan. penelitian ini mengukur tingkat kemampuan bahasa Inggris sebelum dan setelah pelatihan. Pengukuran ini dilakukan melalui tes sebelum dan sesudah pelatihan atau pre dan post test. Data Observasi saat pelatihan, wawancara dan nilai sebelum dan sesuadah pelatihan kemudian dianalisis dan dicari maknanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan basic english membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris guru, terutama dalam keempat basic English ini yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara, membaca, mendengarkan, dan menulis dalam mengajar bahasa Inggris. Faktor-faktor seperti motivasi guru dan dukungan institusi mempengaruhi keberhasilan pelatihan. Penelitian ini merekomendasikan penyelenggaraan program pelatihan berkelanjutan dan penyediaan modul pelatihan yang sesuai kebutuhan.
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh sebagian besar orang di dunia, sehingga untuk mampu berbahasa Inggris merupakan kemampuan yang wajib dimiliki. Merespon urgensi tersebut, pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan agar bahasa Inggris di ajarkan sejak Sekolah Dasar sebagai muatan lokal. Pembelajaran bahasa inggris pada jenjang pendidikan dasar dianggap sulit dan menuntut kompetensi guru serta membutuhkan strategi, metode, dan media yang inovatif. Media yang menarik seperti video animasi masih cukup jarang di gunakan di SD khususnya di pedesaan. SDN Sendanghaji merupakan salah satu sekolah yang berusaha menerapkan metode tersebut meskipun dengan kondisi terbatasnya fasilitas yang dimiliki sekolah. Dalam hal ini, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana guru mengajar, apa pendekatan, strategi, metode dan media yang dia pergunakan selama proses belajar-mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk studi kasus. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis di mana peneliti mengamati fenomena dan fakta selama pembelajaran bahasa Inggris dan kemudian dia mendeskripsikannya. Data dalam penelitian ini berbentuk RPP dan fakta yang terjadi di dalam kelas dan sumber data di ambil dari fakta dan fenomena di dalam kelas dan dari buku-buku yang di pakai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengajar siswa dengan baik dan berhasil. Guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab atau diskusi dan bermain peran; guru menerapkan pendekatan imiah dan model pembelajaran menggali potensi; guru menggunakan media video animasi di dukung buku-buku pegangan seperti Student’s Book My Next Words, Buku Pintar Bahasa Inggris dan Grow with English; guru menggunakan peralatan penunjang berupa LCD Proyektor dan lain lain, and mampu mengelola kelas dan waktu pembelajaran dengan baik. Siswa antusias untuk mengikuti pelajaran; mereka termotivasi untuk berpraktek dan mengerjakan PR serta mampu memahami pelajaran dengan sangat baik.
Pendidikan Karakter Generasi Penerus Bangsa adalah hal wajib yang harus di perhatikan dengan Serius. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama karakter nasionalisme menjadi hal pokok yang wajib di tanamkan pada generasi sejak usia pendidikan dasar. Perkembangan teknologi yang mempengaruhi gaya hidup dan model pola asuh keluarga turut menyumbang tumbuhkembang kontruksi nasionalisme pada anak yang semakin terkikis. Menyikapi fenomena tersebut, lembaga pendidikan menjadi pilar kedua setelah keluarga untuk mendesain dan mengkontruksi jiwa nasionalisme anak. Dalam hal ini lembaga pedidikan Ma’arif NU merancang sebuah program pendidikan karakter untuk mengkontruksi nasionalisme dan rasa cinta tanah air melalui sebuah program wajib yaitu melantunkan lagu “Yaa lal wathan” pada setiap kegiatan baik resmi maupun seremonial dan menjadikan lagu ini lagu wajib kedua setelah lagu Indonesia Raya. Dalam praktik perkembangannya lagu ini menjadi rutinitas bagi siswa sebelum melaksanakan kegiatan formal seperti upacara, apel, dan rapat penting lainnya. Selanjutnya dalam penelitian ini peneliti bertujuan untuk mengungkap: (1) Bagaimana interpretasi makna lagu "Yaa Lal Wathan" menurut siswa Madrasah Ibtidaiyyah NU Hidayatun Najah Tuban? (2) Bagaimana dampak lagu "Yaa Lal Wathan" dalam membentuk jiwa nasionalisme siswa Madrasah Ibtidaiyyah NU Hidayatun Najah Tuban Tuban? Dengan menggunakan pendekatan studi fenomenologi, penelitian ini menemukan bahwa siswa menginterpretasikan lagu tersebut sebagai lagu penyemangat untuk menjaga bangsa. Lagu ini menjadi indikator tertanamnya jiwa nasionalisme pada siswa. Lagu "Yaa Lal Wathan" berperan sebagai media yang efektif dalam membangun jiwa nasionalisme siswa, sesuai dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget tahap formal operasional, di mana siswa mulai mampu berpikir secara abstrak dan hipotetis.
This research explores the use of the Quizizz Application Paper Mode as a strategy to increase enthusiasm for learning Islamic Religious Education (PAI) in class V students at SDN GERBO II. The main focus of this research is Paper Mode Quizizz, a platform that attracts students' interest and has the potential to increase their focus. The main aim of this research is to raise students' enthusiasm for learning through the application of innovative learning methods. The method used in this research is descriptive qualitative, where this research aims to provide an overview of the condition of students' enthusiasm for learning by focusing on indicators of interest and concentration in class V students at SDN GERBO II. Various data collection instruments were used, including observation sheets, student questionnaires, and interview guides. Data obtained from the results of student questionnaires and interviews were then analyzed to gain an in-depth understanding of the impact of using the Quizizz Application on students' enthusiasm for learning. The research results show that implementing the Quizizz application as an effective learning tool not only increases student enthusiasm in general, but also specifically has a positive impact on students who were previously less active. These findings underline the great potential of innovative approaches in motivating students and improving the quality of PAI learning at SDN GERBO II
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan alat peraga papan spin norma telah meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa VC SDN Rejosari 01 Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas dua siklus: pelaksanaan, perencanaan, observasi, dan evaluasi. Studi ini melibatkan 28 siswa kelas VC SDN Rejosari 01, terdiri 12 laki-laki dan 16 perempuan. Metode mengumpulan data adalah tes formatif dan non-tes formatif, dan alat penelitian adalah lembar tes formatif dan lembar observasi. Data dianalisis dengan dua pendekatan: analisis kuantitatif menentukan hasil belajar kognitif individu; dan analisis kualitatif mengevaluasi kegiatan siswa dan kemahiran guru. Pembelajaran Pendidikan Pancasila dengan alat peraga papan spin norma adalah variabel bebas penelitian ini., dan variabel terikatnya adalah meningkatan hasil belajar peserta didik kelas VC SDN Rejosari 01 tentang materi norma dalam kehidupanku. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan 2 siklus. Hasil belajar dari siklus I, 17 siswa yang belum selesai dengan nilai persentase ketuntaan 54,28% dan siklus II yaitu 25 siswa tuntas nilai persentase ketuntasan 80,35%. Aktivitas siswa siklus I, 9 peserta didik nilai belum tuntas persentase 25% kategori kurang(K) dan siklus II 25 peserta didik nilai persentase 80,35% kategori baik(B). Keterampilan guru siklus I nilai 59 kategori kurang (K) dan siklus II nilai 86 kategori baik(B).
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aspek-aspek yang mengalami transformasi dan digitalisasi pendidikan di Kecamatan Tuban, dampak yang ditimbulkan dengan adanya transformasi dan digitalisasi pendidikan, faktor pendukung dan penghambat dalam tranformasi dan digitalisasi pendidikan di Kecamatan Tuban. Sedangkan fokus penelitian ini adalah pada sembilan sekolah di kecamatan Tuban, yaitu: MI Hidayatun Najah Tuban, SDN Kembangbilo 1 Tuban, SDN Sugiharjo 1 Tuban, SDN Sugiharjo 2 Tuban, SD Bina Anak Soleh Tuban, SD Islam Insan Kamil Tuban, SDIT Al Uswah Tuban, SDN Doromukti Tuban, SDN Sendangharjo IV Tuban. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Creswell menyatakan penelitian kualitatif itu penelitian yang berisi suatu interpretasi atas apa yang dilihat, didengar, dan dipahami[1]. Sesuai namanya kualitatif, dalam pelaksanaan penelitian ini secara alamiah, apa adanya, dan tidak ada unsur manipulasi[2]. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah data tentang aspek-aspek pendidikan yang mengalami transformasi digitalisasi pendidikan di kecamatan Tuban. Aspek tersebut yaitu aspek penerapan 1) e-learning 78%, 2). e-raport 73%, 3). e-administration 75%, 4). Fingerprint guru 95%, 5). zoom meeting, google meeting 93%, 6). e-mail 63%, 7). e-book untuk guru 50%, 8) Website Sekolah 83%, 9). Bimbingan Konseling dengan teknologi dan informasi kekinian 80%, 10). Lab Komputer 65%. Sedangkan sekolah yang sudah mengalami transformasi digitalisasi pendidikan sebanyak 6 sekolahan atau 66,7%. Sedangkan 3 sekolah atau 33,3% sudah mengalami transformasi digitalisasi sebatas e-raport, finger print guru, penggunaan e-mail, dan zoom meeting yang masih terbatas. Dampak positif adanya transformasi digitalisasi membuat guru dan siswa mudah mengakses informasi, pembelajaran lebih inovatif, dan menyenangkan, sedangkan dampak negatifnya adalah kecenderungan guru dan siswa yang bergantung pada penggunaan gadget dan kecenderungan siswa bermain game di saat pelajaran. Faktor pendukung transformasi digitalisasi pendidikan di Tuban adalah sarana prasarana seperti Lab computer, laptop, gadget, jaringan internet atau kuota data, dan sinyal. Dari Sembilan sekolah yang sudah memiliki Lab computer ada 6 sekolah atau 66,7%, yang 3 atau 33,3% masih belum ada. Sedangkan faktor penghambatnya adalah persoalan sarana dan prasarana, paket data (kuota data), sinyal dan SDM yang gaptek.
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya niai-nilai islam yang wajib diamalkan oleh muslim sejak usia dini yang diterapkan melalui pembelajaran Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah/Sekolah sesuai dengan tingkatannya. Sebagai seorang pelajar muslim dituntut untuk dapat menjadi generasi peradaban umat islam selanjutnya. Pelajar islam merupakan sebuah tonggak generasi peradaban bangsa yang nantinya akan memajukan pengembangan agama islam khususnya di era millennial saat ini yang semakin canggih dan teknologi yang sangat pesat sehingga banyak munculnya pemahaman-pemahaman yang ada di luar agama islam. Hal itu dapat ditemukan didalam dunia pendidikan yang terkumpulkan di dalam mata pelajaran sejarah kebudayaan islam di semua tingkatan madrasah yang dalam naungan kementrian agama. Perbedaan sejarah umum dengan sejarah keudayaan islam adalah adanya nilai-nilai Islam didalamnya. Nilai-nilai islam ini perlu diajarkan sejak dini khususnya di tingkat Madrasah Ibtidaiyah agar mereka dapat mengamalkan dan menerapkan pembelajaran yang disampaikan sejak dini. Hal tersebut menjadikan kebangkitan nilai-nilai islam muncul di dalam pembelajaran SKI. Sehingga tidak hanya diajarkan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung namun mampu untuk mengamalkan dan menerapkan terutama nilai-nilai keislaman di kehidupan sehari-hari
Perkembangan dunia teknologi informasi dan mudahnya akses pada sosial media menjadi tantangan lembaga pendidikan. Mudahnya akses terhadap teknologi informasi memunculkan banyak permasalahan bagi anak, seperti kecanduan gawai, kurangnya kemampuan komunikasi, bahkan mempengaruhi etika dan perilaku anak. Rawannya terjadi krisis moral menjadikan Lembaga Pendidikan sebagai benteng pertahanan untuk membentuk karakter siswa dan menanamkan nilai-nilai religius. Untuk itu, perlu adanya kurikulum yang mampu menjawab kebutuhan dan sesuai dengan visi misi lembaga. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu implementasi Kurikulum Khas di MI NU Hidayatun Najah dan Pengembangan Kurikulum Khas dalam membentuk karakter religius di MI NU Hidayatun Najah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa implementasi Kurikulum Khas dilaksanakan untuk mendukung perkembangan pemahaman keagamaan siswa sekaligus sebagai distingsi Lembaga. Ada pun muatan lokal dalam Kurikulum Khas yaitu Alqur’an dan hafalan, madrasah diniyah, SKUA, dan akhlakul karimah. Pengembangan kurikulum khas ini dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan hasil evaluasi kurikulum. Penelitian ini memiliki keterbatasan area penelitian, yaitu MI NU Hidayatun Najah Tuban, sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi. Untuk penelitian selanjutnya bisa meneliti lebih spesifik setiap setiap program atau buku pendamping yang digunakan dalam implementasi kurikulum khas di MI NU Hidayatun Najah