
The rapid expansion of livestream commerce in Indonesia has intensified competition among streamers, making interaction quality and personal attributes critical determinants of consumers' purchase intentions. This study examines the effects of real-time interaction (responsiveness and interactivity) and streamer characteristics (attractiveness and expertise) on purchase intention, with trust and social presence serving as mediating variables. A quantitative research design was employed using an online survey of 300 Indonesian consumers with prior experience watching livestream shopping sessions. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to test the hypothesized relationships within the Stimulus-Organism-Response framework. The findings indicate that responsiveness, interactivity, and streamer attractiveness significantly enhance trust and social presence, which in turn increase purchase intention. Streamer expertise directly influences purchase intention and social presence, but does not significantly influence trust. These results suggest that relational and interactional cues play a more prominent role than competence-based cues in shaping consumer responses during livestream shopping. The study contributes to the literature on trust formation in interactive digital environments and provides practical insights for optimizing livestream engagement and conversion strategies.
This study addresses the growing challenge of converting digital marketing exposure into actual purchasing decisions in the motorcycle industry, where consumer trust remains a critical issue. The research focuses on the role of perceived trust in linking digital marketing activities with Yamaha motorcycle purchase decisions. The objective of this study is to examine how digital marketing contributes to purchasing decisions through the mediation of perceived trust. A quantitative approach was employed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) based on data collected from 80 Yamaha motorcycle users in Makassar through an online questionnaire. The results indicate that digital marketing significantly strengthens perceived trust, while perceived trust plays a decisive role in shaping purchasing decisions. The direct relationship between digital marketing and purchasing decisions is weak; however, digital marketing indirectly contributes to purchasing decisions through perceived trust, indicating a full mediation effect. These findings highlight that trust-oriented digital marketing strategies are essential for influencing consumer purchasing behavior in high-involvement products.
TikTok increasingly functions as an experiential search environment for Indonesian Gen-Z, shaping how food and beverage information is evaluated and acted upon. This study examines how perceived affordances and perceived search value shape perceived credibility, and how credibility and search satisfaction, in turn, drive visit intention. It also tests whether perceived misinformation risk weakens the credibility–intention pathway. A cross-sectional survey of Gen-Z TikTok users in Greater Jakarta (N = 234) was analyzed using partial least squares structural equation modeling. Results show that search value (β = 0.35, p < .001) and affordances (β = 0.28, p < .001) increase credibility; credibility raises search satisfaction (β = 0.41, p < .001), and both credibility (β = 0.32, p < .001) and satisfaction (β = 0.37, p < .001) heighten visit intention. The model explains a substantial share of variance in visit intention (R² = 0.56) and exhibits predictive relevance. Moderation tests indicate that misinformation risk reduces the behavioral impact of credibility (β = −0.17, p = .008). The study contributes a coherent mechanism linking platform design and experiential value to credibility, satisfaction, and behavior, and identifies platform-level skepticism as a boundary condition for conversion. For managers, the findings imply that designing high-fit, low-friction discovery episodes and embedding transparent verification cues are essential to translate short video search into offline visits.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh promosi, Social Media Engagement terhadap purchase decision produk fashion di Shopee. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan regresi linier berganda dan melibatkan 180 responden Generasi Z yang pernah membeli produk fashion di Shopee. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, demikian pula Social Media Engagement yang juga berpengaruh positif dan signifikan. Variabel promosi merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi purchase decision. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi promosi seperti diskon, gratis ongkir, flash sale, dan kampanye tematik lebih efektif menarik minat konsumen dibandingkan keterlibatan di media sosial. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan strategi promosi dalam meningkatkan keputusan pembelian Generasi Z pada platform e-commerce Shopee.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas produk terhadap minat beli ulang, dengan mempertimbangkan kepercayaan merek sebagai variabel mediasi dan sertifikasi halal sebagai variabel moderasi. Fokus dari penelitian ini adalah wanita muslim di Surabaya yang aktif menggunakan produk Kosmetik Wardah. Dalam menguji hipotesis tersebut maka peneliti menyebarkan kuesioner menggunakan Google Form melalui media sosial seperti, WhatsApp, Instagram, dan Line, sehingga peneliti berhasil mendapatkan 100 responden yang dapat memenuhi kriteria sampel. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan model struktural dengan teknik Partial Least Square melalui aplikasi SmartPLS sebagai alat penguji dan mengolah data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap minat beli ulang dimana kepercayaan merek mampu memediasi hubungan antara kualitas produk dan minat beli ulang namun sertifikasi halal tidak memoderasi pengaruh antara kualitas produk dan minat beli ulang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Event Marketing terhadap Purchase Intention dengan Social Media Engagement sebagai variabel mediasi pada Clash of Champions Ruangguru. Data berasal dari sampel 233 penonton Clash of Champions Ruangguru yang peneliti survei menggunakan kuesioner secara langsung di lokasi penelitian dan secara online melalui media sosial. Untuk menguji hipotesis penelitian, peneliti menggunakan Partial Least Square Structural Equation Modelling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Event Marketing berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention penonton Clash of Champions Ruangguru. Lebih jauh, Social Media Engagement memediasi hubungan antara Event Marketing terhadap Purchase Intention penonton Clash of Champions Ruangguru.
Penelitian dilatarbelakangi oleh transformasi paradigmatik perilaku konsumen dalam era digitalisasi, yang dikarakterisasi dengan adanya pergeseran signifikan pola konsumsi dari orientasi kebutuhan menjadi orientasi keinginan. Manifestasi empiris fenomena tersebut terobservasi melalui peningkatan insidensi pembelian tidak terencana (impulsive buying) pada konteks ritel modern, dengan studi kasus MR.DIY Pontianak. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh visual merchandising, product diversity, dan shopping lifestyle terhadap impulsive buying, serta mengeksplorasi efek mediasi shopping emotion dalam relasi kausal tersebut. Metodologi kuantitatif diaplikasikan dengan melibatkan 112 responden dari populasi generasi Z dan Milenial yang diseleksi melalui teknik purposive sampling dengan kriteria spesifik berupa adanya riwayat pembelian tidak terencana. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS 3.0. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa visual merchandising dan shopping lifestyle memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying, sedangkan product diversity menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan. Shopping emotion secara signifikan memediasi hubungan antara shopping lifestyle dan impulsive buying, namun tidak memediasi hubungan antara visual merchandising dan product diversity terhadap impulsive buying. Model penelitian ini secara substansial mampu menggambarkan dinamika impulsive buying dan shopping emotion pada konsumen ritel modern. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada eksplikasi komprehensif mengenai dinamika perilaku pembelian impulsif konsumen kontemporer dan menyediakan implikasi praktis bagi pengelola ritel modern dalam mengoptimalisasi strategi pemasaran untuk menghadapi transformasi perilaku konsumen di era digital.
Persaingan yang semakin ketat dalam industri kedai kopi grab-and-go, yang disebabkan oleh pertumbuhan pesat, telah mendorong para pelaku bisnis untuk kreatif menarik pelanggan baru sekaligus aktif mempertahankan kepuasan pelanggannya. Literatur sebelumnya mengidentifikasi empat faktor utama yang mungkin berkontribusi terhadap kepuasan pelanggan dalam industri ini, yaitu suasana (atmosphere), sikap karyawan (employee attitude), kualitas kopi (coffee quality), dan kewajaran harga (price fairness). Studi ini menginvestigasi apakah keempat faktor tersebut secara signifikan memengaruhi kepuasan pelanggan di kedai kopi grab-and-go di Surabaya. Sebanyak 120 responden direkrut selama periode September–November 2024 untuk berpartisipasi dalam survei. Analisis utama dilakukan menggunakan model regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan robust standard errors. Hasil menunjukkan bahwa, selain atmosphere (β = –0.062), faktor lainnya—employee attitude (β = 0.412), coffee quality (β = 0.336), dan price fairness (β = 0.297)—berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan dengan nilai p < 0.05. Menariknya, pelanggan tampak menghargai employee attitude lebih tinggi dibandingkan coffee quality maupun price fairness. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku bisnis dalam industri kedai kopi grab-and-go sebaiknya memprioritaskan employee attitude sebagai fokus strategis untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kualitas kopi dan kewajaran harga dapat diabaikan, karena keduanya tetap merupakan komponen penting dalam memuaskan pelanggan.
Penelitian ini menginvestigasi hubungan antara Product Information Quality, Customer Engagement, Deal Proneness, dan Impulsive Buying Tendency dalam konteks live shopping. Melalui metode survei menggunakan self-administered questionnaire didistribusikan melalui pesan media sosial, 160 respon diperoleh dan dapat diolah. Teknik analisa Structural Equation Modeling menggunakan metode Partial Least Square memberikan bukti empiris bahwa Product Information Quality tidak berpengaruh langsung terhadap Impulsive Buying Tendency, yang mengindikasikan peran mediasi sempurna Customer Engagement. Deal Proneness juga tidak memoderasi pengaruh Customer Engagement terhadap Impulsive Buying Tendency.
Generasi Z menunjukkan peningkatan minat terhadap produk ramah lingkungan, namun belum banyak penelitian yang secara spesifik meneliti pengaruh Social Media Information Sharing terhadap Green Purchase Intention pada produk lokal. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Social Media Information Sharing terhadap Green Purchase Intention, dengan Perceived Green Value sebagai variabel yang memediasi, dalam konteks produk skincare Avoskin. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan metode survei terhadap 148 responden Generasi Z yang pernah membeli produk Avoskin. Data didapatkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berlandaskan Partial Least Square (PLS). Hasil menunjukkan bahwa Social Media Information Sharing berpengaruh positif terhadap Perceived Green Value dan Green Purchase Intention. Selain itu, Perceived Green Value juga berpengaruh positif terhadap Green Purchase Intention, serta memediasi hubungan antara Social Media Information Sharing dan Green Purchase Intention secara parsial. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pelaku industri skincare, khususnya dalam merancang strategi komunikasi yang ramah lingkungan dan relevan di media sosial. Penelitian ini adalah salah satu studi awal yang menganalisis hubungan variabel tersebut secara spesifik pada produk lokal ramah lingkungan, yaitu Avoskin, di kalangan Generasi Z.
This study aims to understand the consumer behavior of Generation Z using a bibliometric approach. The analysis technique uses VOSviewer with 235 articles collected from the Scopus database as the research object. Then, filtering was carried out based on the field of study, document type, year of publication, keywords, English language, and relevance to the topic, resulting in 32 articles from several stages of filtering. The findings of this study indicate that consumer behavior among Generation Z tends to be oriented toward or characterized by green consumerism and sustainable consumption. This pioneering study can serve as a foundation for further research exploring environmental concerns and green purchase intention in consumer behavior among Generation Z, contributing significantly to the literature on consumer behavior and generational groups.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pengalaman sustainable tourism khususnya pada aspek sosial budaya terhadap vivid memory yang nantinya akan memengaruhi niat berperilaku dari para wisatawan mancanegara yang sedang dan telah berwisata ke Yogyakarta dan Surabaya. Penelitian ini menganalisa data dari 262 responden yang valid, yang merupakan wisatawan mancanegara yang sedang maupun pernah berkunjung ke Yogyakarta dan Surabaya, menggunakan teknik analisa data Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan dari variabel sosial budaya terkait pariwisata berkelanjutan terhadap niat berperilaku, dengan Vivid memory sebagai mediator. Implikasinya, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan strategi yang lebih efektif untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Jawa Timur yang menawarkan keindahan alam kepada wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan citra destinasi (citra kognitif dan afektif) dengan minat berkunjung kembali ke Banyuwangi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Data penelitian diperoleh dari distribusi kuesioner terhadap 133 responden. Teknik pengolahan data yang diterapkan adalah PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra kognitif berpengaruh signifikan terhadap citra afektif dan minat berkunjung kembali ke Banyuwangi. Demikian juga didapati pengaruh signifikan antara citra afektif dan minat berkunjung kembali ke Banyuwanagi. Pengujian efek mediasi memberikan hasil adanya mediasi parsial dari citra afektif pada hubungan antara citra kognitif terhadap minat berkunjung kembali ke Banyuwangi.
The use of fictional characters in promotional campaigns has grown a lot in the last few years. Notable examples include Tomoro Coffee, UNIQLO, and Mobile Legends: Bang Bang, which have successfully incorporated characters from the anime series Jujutsu Kaisen into their marketing strategies. This trend aligns with Indonesia's substantial anime viewer base, which reached approximately 50 million in 2023 and continues to grow proportionally with population expansion. This study aims to explore the potential relationships between a fictional character, brand personality, and promotion via a systematic literature review using PRISMA 2020, analyzing 45 articles from major databases (Web of Science and Google Scholar), drawing on diverse website sources, especially case studies relevant to the Indonesian market. The results show that there are three key links between: (1) a fictional character and a brand's personality, empirical studies show fictional characters boost consumer engagement psychologically; (2) a brand's personality and a promotion, studies confirm human representatives shape marketing strategically; (3) a fictional character and a promotion, research affirms fictional characters' promotional impact. Utilizing a fictional character as a brand personality offers significant potential for product marketing in Indonesia, supported by the country's large anime fanbase. These findings should pave the way for more study into quantitative investigation into the identified relationships and creating the ideal fictional character to use as a brand personality in order to make advertising more effective in Indonesia. The practical implications of this study offer implementable knowledges for brands utilizing anime collaborations to enhance market penetration in Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh Visual Merchandising KKV Galaxy Mall Surabaya terhadap Repurchase Intention dengan Shopping Lifestyle sebagai variabel moderasi dan Impulsive Buying sebagai variabel mediasi. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan cara survey secara langsung di KKV Galaxy Mall dan online melalui Line, Whatsapp, dan Instagram. Jumlah responden yang berhasil diperoleh dan diolah datanya sebanyak 124 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah Partial Least Square (PLS). Hasil dari penelitian tugas akhir ini menunjukkan bahwa Visual Merchandising tidak berpengaruh signifikan terhadap Repurchase Intention, Visual Merchandising berpengaruh terhadap Impulsive Buying, Impulsive Buying berpengaruh terhadap Repurchase Intention, Impulsive Buying memediasi secara signifikan hubungan Visual Merchandising terhadap Repurchase Intention, dan Shopping Lifestyle tidak memoderasi hubungan Visual Merchandising terhadap Repurchase Intention customer KKV Galaxy Mall Surabaya.
This study explores the relationship between news truthfulness, news credibility, source credibility, political brand trust, political brand image, and voting intention. The objective of this study is to understand how those factors collectively influence voters' perception and behavior. Using a quantitative approach, the data was collected through online surveys of 250 eligible voters in Indonesia, analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results indicate that news truthfulness significantly increases both political brand trust and image. Meanwhile, source credibility positively influences trust, but does not notably affect brand image. Interestingly, news credibility increases political brand image without directly affecting trust. Furthermore, political brand image plays an important role in shaping voting intention, whereas political brand trust does not show a direct effect. By integrating those dimensions of political branding into one model, this study fills the gap in existing research and provides insights into the dynamics of voter behavior. This study suggests that political entities prioritize maintaining news truthfulness and the improvement of source credibility to build trust and create a positive brand image. Additionally political campaigns should adapt their communication strategies so that it is in line with the voter’s expectation in this complex media landscape for effective engagement and influence on electoral outcomes.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari Social Presence dan Scarcity terhadap Impulse Buying melalui Emotion dalam konteks live streaming e-commerce Shopee Live. Jumlah responden yang berhasil diperoleh dan diolah datanya sebesar 137 responden. Responden penelitian adalah berusia 17 tahun ke atas, domisili di Surabaya, pengguna Shopee Live dalam 3 bulan terakhir, dan pernah membeli produk fashion atau aksesoris. Alat yang dipakai untuk proses pengolahan data adalah pendekatan model struktural dengan teknik Partial Least Square (PLS-SEM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Emotion memediasi hubungan antara Social Presence dan Impulse Buying. Selain itu, Emotion juga memediasi hubungan antara Scarcity dan Impulse Buying.
This study addresses a critical gap in digital marketing by examining the impact of virtual influencers on consumer engagement, focusing on Gen Z and Gen Y in Indonesia’s Jabodetabek region. While virtual influencers are gaining traction globally and locally, limited research has explored the factors that drive consumer interaction in diverse, digitally evolving markets like Indonesia. This study investigates the roles of perceived authenticity, content quality, and technological sophistication, with a particular emphasis on the moderating effect of digital literacy—a factor often overlooked in previous research. Data from 179 respondents were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with SmartPLS. The findings reveal that perceived authenticity, content quality, and technological sophistication significantly enhance consumer engagement with virtual influencers, especially among digitally literate consumers. Digital literacy plays a critical moderating role, amplifying the impact of these influencer attributes and highlighting the importance of digital fluency in consumer interactions with advanced digital personas. These insights offer a theoretical contribution to the literature on influencer marketing and provide practical guidance for Indonesian brands seeking to connect with younger, tech-savvy audiences. By prioritizing authenticity, high-quality content, and appropriate technological sophistication, brands can strategically leverage virtual influencers to cultivate deeper, more meaningful engagement in Indonesia’s rapidly evolving digital landscape.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh advertising value, hedonic browsing, dan impulsive buying pada iklan makanan di media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Total responden yang valid dalam penelitian ini berjumlah 129 responden dan diolah menggunakan Partial Least Square Structural Equation Model (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa advertising value memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap hedonic browsing pada iklan makanan di media sosial Instagram. Hedonic browsing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying pada iklan makanan di media sosial Instagram, dan advertising value memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap impulsive buying pada iklan makanan di media sosial Instagram.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis customer journey pengguna aplikasi Noabike di Labuan Bajo, dengan fokus pada peningkatan pengalaman pengguna dan promosi transportasi ramah lingkungan. Noabike adalah layanan penyewaan kendaraan listrik berbasis aplikasi yang berperan penting dalam mendukung mobilitas berkelanjutan di daerah wisata. Melalui pendekatan kualitatif penelitian ini mengeksplorasi lima tahap utama dalam customer journey: Awareness, Interest/Consideration, Decision, Retention, dan Advocacy. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 10 pengguna dengan latar belakang yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial dan word-of-mouth memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran pengguna, sementara kemudahan akses, keberlanjutan, dan pengalaman pengguna yang positif menjadi faktor kunci dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Strategi pemasaran digital yang kuat, program loyalitas, serta promosi khusus terbukti efektif dalam meningkatkan retensi dan advokasi. Penelitian ini memberikan wawasan tentang pengembangan layanan transportasi berkelanjutan di kawasan wisata dan mendukung upaya global untuk mengurangi emisi karbon.