
Adolescent females diagnosed with idiopathic scoliosis frequently encounter body image-related psychological difficulties that induce social anxiety, a condition significantly influenced by their level of self-esteem. The goal of this research is to explore the role of self-esteem in the influence of body image on social anxiety in adolescent females with idiopathic scoliosis. This quantitative study involved 153 adolescent females aged 13–21 years who were diagnosed with idiopathic scoliosis. A mediation design was chosen to investigate the influence of body image on social anxiety, mediated by self-esteem. Purposive sampling was utilized as the sampling technique. The psychological constructs measured included body image, self-esteem, and social anxiety. The findings identified self-esteem as a partial mediator of the relationship between body image and social anxiety among adolescent females with idiopathic scoliosis (β=-0.0996, 95% CI [-0.20, -0.01]). Further analysis showed that negative body image significantly predicted diminished self-esteem, which subsequently predicted elevated levels of social anxiety. Clinical practitioners in the field of psychology are advised to develop psychological interventions that focus on enhancing self-esteem in order to effectively help adolescent females with idiopathic scoliosis reduce social anxiety.
Penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal bersama mertua dalam keluarga Jawa merupakan permasalahan psikososial yang kompleks karena menuntut individu untuk menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan tuntutan keluarga besar yang sarat nilai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal bersama mertua dalam keluarga Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi terstruktur terhadap tiga perempuan bersuku Jawa yang telah menikah, tinggal bersama mertua, dan memiliki anak. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri berlangsung secara bertahap dan dinamis sejak sebelum menikah hingga setelah menjalani kehidupan rumah tangga. Proses ini dipengaruhi oleh kesiapan psikologis sebelum menikah, dinamika relasi dengan mertua, konflik interpersonal dan intrapersonal, serta kuatnya nilai budaya Jawa yang menekankan kepatuhan dan harmoni. Dalam menghadapi tuntutan tersebut, menantu mengembangkan strategi penyesuaian berupa pengendalian emosi, kehati-hatian dalam komunikasi, sikap patuh, serta pemaknaan positif terhadap pengalaman hidup bersama mertua. Implikasi penelitian ini berada pada tingkat individu, pasangan, dan keluarga dalam mendukung terciptanya relasi yang lebih adaptif dan harmonis.
Marriage readiness among Muslim young adults is increasingly shaped by the interplay between cognitive and social factors in contemporary society. This study examines the direct and indirect relationships between Fiqh al-Munakahat literacy, family support, and marriage readiness among students in Islamic higher education institutions in Indonesia. A quantitative approach using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) was applied to data collected from 155 students through purposive sampling. The findings reveal that Fiqh al-Munakahat literacy significantly influences both family support (β = 0.456, p < 0.001) and marriage readiness (β = 0.399, p < 0.001), while family support also significantly affects marriage readiness (β = 0.296, p < 0.001). The results indicate that cognitive factors play a more dominant role than social factors, suggesting that students increasingly rely on religio-legal understanding and self-confidence when preparing for married life. These findings contribute to the development of an integrated cognitive-social framework for strengthening marriage preparation programs in Islamic educational contexts.
Food waste merupakan permasalahan lingkungan dan ekonomi yang signifikan, terutama di Indonesia. Rendahnya kesadaran remaja terhadap pencegahan food waste mendorong perlunya pendekatan edukatif yang relevan dengan karakteristik mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan video Reels Instagram terhadap knowledge, attitude, dan practice remaja dalam pencegahan food waste. Penelitian menggunakan desain eksperimen one-group after only dan melibatkan 174 siswa MAN 2 Kota Payakumbuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring setelah responden menyaksikan tiga video reels edukatif berdurasi pendek, lalu dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling. Hasil menunjukkan bahwa paparan reels video berpengaruh signifikan terhadap sikap remaja dalam pencegahan food waste, tetapi belum menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan dan praktiknya. Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial, khususnya video pendek seperti reels, memiliki potensi dalam membentuk sikap positif remaja, tetapi masih memerlukan penguatan dari segi konten dan strategi untuk meningkatkan pengetahuan dan mendorong perubahan perilaku nyata. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya pengembangan konten edukatif yang lebih mendalam dan berkelanjutan dalam kampanye pencegahan food waste.
Kepuasan pernikahan adalah salah satu indikator penting dalam memengaruhi kesejahteraan individu yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah persepsi mengenai tingkat stres. Persepsi mengenai tingkat stres yang dialami dapat dicegah dampak negatifnya apabila individu yang bersangkutan memiliki personal strength seperti personal growth initiative, yaitu kemampuan individu untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan berbagai situasi yang tidak menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kemampuan personal growth initiative sebagai variabel mediator persepsi stres dalam memengaruhi kepuasan pernikahan individu. Sebanyak 320 partisipan yang diperoleh melalui teknik accidental sampling terlibat aktif dalam penelitian ini. Hasil diperoleh bahwa persepsi stres mampu memprediksi tingkat kepuasan pernikahan, namun demikian perlu diidentifikasi sumber stresnya berasal dari faktor di dalam pernikahan atau di luar pernikahan. Selanjutnya, analisis mediasi personal growth initiative tidak terbukti, yang artinya kemampuan individu untuk belajar dan berkembang saat menghadapi situasi sulit tidak mampu menaikkan tingkat kepuasan pernikahan y. Faktor demografi seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, usia pernikahan dan jumlah anak turut memperkaya hasil penelitian. Implikasi penelitian ini adalah cara mengelola stres dan meningkatkan kepuasan pernikahan perlu menyoroti keterampilan komunikasi efektif, menerima dan memberikan dukungan emosional, pembagian peran yang adil, dibutuhkan kebijakan ramah keluarga, serta kualitas hubungan yang sehat dengan pasangan, selain perkembangan pribadi.
Adaptation of the parental mediation tool see how parents mediate children's internet for two main reasons, that culture can affect parenting and there is no measuring tool that looks at parenting that specifically looks at parental interactions with children's internet use. This study aims to report the results of the adaptation of parental mediation tool from Global Kids Online (GKO). In order to adapt this measurement tool to Indonesian, a pilot study was carried out. The participants of this study were 112 parents of early adolescents. In carrying out the adaptation, International Test Commision (ITC) Guidelines of Translating and Adapting Tests are used where there is a process of translation, review, and testing of instruments. Translation process was carried out using the back-translation method by a professional translator, the review was carried out by five people and the measuring instrument trials were processed with CTT and CFA for five parental mediation strategies. CTT results with item discrimination, factor loading, and reliability tests using Cronbach's alpha showed that with total of 42 items, two items were discarded. From CFA processing based on chi-square values, RMSEA, SRMR, CFI, and TLI, the adaptation of the measurement tools in this pilot study is fit and can be continued.
Pengasuhan adalah aspek fundamental yang memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Namun, dalam praktiknya, berbagai faktor memengaruhi kualitas pengasuhan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik pengasuhan dan stres pengasuhan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Muara Angke, daerah pesisir di Provinsi Jakarta dipilih secara sengaja sebagai lokasi penelitian. Sekitar 99 pasang orang tua (99 ayah dan 99 ibu) dengan anak-anak berusia 9-12 tahun, yang setuju untuk berpartisipasi, dipilih menggunakan convenient sampling dan diwawancarai menggunakan instrumen terstruktur. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setengah dari ayah dan ibu telah menerapkan praktik pengasuhan dengan benar dan mayoritas dari mereka mengalami tingkat stres pengasuhan yang sangat rendah. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam praktik pengasuhan antara ayah dan ibu. Hasil yang berbeda dilaporkan untuk dimensi kesenangan. Uji korelasi menemukan bahwa pendidikan ibu yang lebih tinggi akan meningkatkan kualitas pengasuhan ibu. Sementara itu, ibu yang bekerja dan ibu dengan pendapatan yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan tingkat dimensi stres.
The limited availability of environmentally friendly halal products in Indonesia highlights the need to examine factors that shape consumer purchase intentions. This study investigates key determinants influencing Muslims’ purchase intention toward products that meet both halal and environmental standards. Using data from 215 Muslim consumers in DKI Jakarta, collected through online and offline purposive sampling, the analysis was conducted with SEM-PLS. The results show that halal green awareness and attitude influence purchase intentions. Meanwhile, halal labels, eco-labels, environmental knowledge, and religiosity affect halal green awareness and attitudes. In this study, piety is also found to influence religiosity. Overall, the findings indicate that halal labels, eco-labels, environmental knowledge, piety, and religiosity shape halal green awareness and attitudes, which in turn influence Muslims’ purchase intentions toward environmentally friendly halal products in DKI Jakarta. Future research may incorporate variables such as price, product quality, and digital media influence to provide a more comprehensive understanding of consumer behavior in this context.
Humans possess the capacity to make moral judgments, discerning the rightness or wrongness of behaviors. According to Moral Foundations Theory, our minds justify our moral assessments. Our minds provide reasons that support our moral judgments and emotional reactions, often leading us to perceive those who do not share our values as unfavorable. Conversely, hostile sexism is a form of sexism characterized by negative attitudes toward women. This study aims to examine the contribution of all six dimensions of moral foundations theory to hostile sexism within the specific context of Chinese culture, where patriarchal values persist. Data were collected from 231 participants, consisting of 101 men and 130 women, aged 18-39 years. The research findings indicate that the dimensions of equality, loyalty, and authority all contribute positively to hostile sexism.
Adolescence is a transitional period toward adulthood, during which individuals are vulnerable to emotional issues, peer problems, and behavioral challenges associated with internalizing and externalizing problems. One of the risk and protective factors in this phase is how adolescents perceive their relationship with both parents, whether in a positive or negative light. This study aims to examine the role of perceived parent–child relationships in internalizing and externalizing problems. A quantitative research design was employed, with a sample of 144 adolescents aged 11–17 years, selected through accidental sampling. The results of a simple regression analysis showed that adolescents' perception of their relationship with their mother significantly influenced both internalizing and externalizing problems. However, the perception of the relationship with the father did not show a significant influence on either type of problem. The findings suggest that the maternal figure plays a crucial role in strengthening emotional bonds through appreciation, support, and protection, enabling adolescents to feel secure and motivated to show filial devotion. As children mature, they tend to reciprocate the affection they have received. Moreover, a mother’s protection can ease the burden on adolescents in assuming parental roles. A mother’s happiness is also essential, as it directly impacts the well-being of the child.
Orang tua mengalami kesulitan dalam mengasuh anak, terutama saat anak telah memasuki usia remaja. Pola asuh yang kurang optimal akan berdampak buruk pada kualitas tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai budaya dan kualitas perkawinan terhadap pola asuh orang tua bagi remaja di wilayah Jabodetabek. Dengan melibatkan 505 remaja sebagai responden, penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen self-report untuk mengumpulkan data tentang karakteristik keluarga, nilai budaya, kualitas perkawinan, dan pola asuh. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya berpengaruh signifikan terhadap pola asuh, di mana semakin tinggi nilai budaya yang dijunjung tinggi maka semakin baik pula kualitas pola asuh yang diberikan. Selain itu, kualitas perkawinan juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap pola asuh, dengan orang tua yang memiliki hubungan perkawinan yang harmonis cenderung menerapkan pola asuh yang lebih positif. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan nilai budaya dan kualitas perkawinan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pola asuh dan mendukung tumbuh kembang remaja yang optimal. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program pemberdayaan keluarga difokuskan pada keterampilan mengasuh anak dan mencakup penguatan nilai-nilai budaya serta peningkatan kualitas hubungan suami-istri. Intervensi berbasis masyarakat dan kebijakan publik yang mendukung keharmonisan keluarga dapat menjadi strategi pencegahan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja yang optimal.
Individu yang tumbuh dalam keluarga disfungsional sering menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan welas diri akibat pengalaman emosional negatif yang berasal dari kondisi keluarga. Penelitian kualitatif ini bertujuan mengeksplorasi komponen-komponen yang mendukung pengembangan welas diri pada individu dewasa dari keluarga disfungsional. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi serta menjelaskan data yang diperoleh. Empat informan dipilih secara purposif berdasarkan hasil pengisian kuesioner Skala Welas Diri (SWD) dengan tingkat welas diri tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan welas diri dipengaruhi oleh komponen internal, seperti pola pikir berkembang dan spiritualitas; komponen eksternal, seperti dukungan sosial dan peristiwa hidup; serta keterlibatan dalam aktivitas yang mendukung kesadaran penuh (mindfulness). Temuan ini menunjukkan adanya pola jawaban yang serupa dalam membangun welas diri pada setiap informan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu individu dengan latar belakang keluarga disfungsional untuk mulai mengembangkan welas diri sebagai bagian dari proses pemulihan diri yang lebih baik.
Ibu yang mengasuh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dihadapkan dengan tuntutan dan tanggung jawab yang lebih berat dibanding mengasuh anak typical, karena memunculkan interaksi yang kompleks, seperti kesulitan memahami isyarat verbal dan nonverbal serta keterbatasan ekspresi emosional anak. Hal ini dapat meningkatkan tingginya parenting stress. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data empiris untuk mengetahui apakah gratitude dan social support suami dapat memprediksi parenting stress pada ibu dengan anak ASD. Partisipan terdiri dari 103 ibu dengan anak ASD berusia 6-12 tahun, memiliki surat keterangan diagnosa dari dokter atau psikolog, tinggal serumah dengan suami, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan Parental Stress Scale (PSS), Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6), dan skala social support suami. Hasil analisis menunjukkan bahwa social support suami memprediksi parenting stress ibu secara signifikan sedangkan efek gratitude tidak signifikan secara statistik. Secara umum, model dapat menjelaskan 11.30% varians dari parenting stress. Temuan ini memberikan dampak praktis bagi strategi pengasuhan anak ASD dengan tujuan meminimalisir parenting stress pada ibu yang umumnya merupakan caregiver utama. Kata kunci: ASD, gratitude, ibu, parenting stress, social support suami
Perilaku agresif di kalangan remaja, yang disebabkan oleh kesulitan dalam mengendalikan emosi, menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Penelitian kuantitatif non-eksperimental ini bertujuan untuk menganalisis apakah kelekatan remaja dan orang tua berperan sebagai mediator pada hubungan romantis orang tua dan kesulitan regulasi emosi remaja. Penelitian ini melibatkan 216 remaja berusia 12 hingga 21 tahun (M = 18,43; SD = 2,80), dengan sebagian besar peserta berjenis kelamin perempuan (78,24%), yang tinggal bersama kedua orang tua mereka setidaknya selama enam bulan terakhir. Partisipasi dilakukan melalui metode daring maupun luring. Hasil analisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan bahwa model kelekatan remaja dan orang tua sebagai mediator pada hubungan romantis orang tua dan kesulitan regulasi emosi memiliki kecocokan yang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa persepsi remaja terhadap hubungan romantis orang tua berperan dalam membentuk kelekatan remaja dan orang tua, yang kemudian memprediksi tingkat kesulitan regulasi emosi mereka. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis sebagai acuan dalam merancang program pengasuhan yang memprioritaskan komunikasi terbuka melalui peningkatan kualitas hubungan suami istri dan penguatan kelekatan remaja dan orang tua, sehingga dapat membantu mencegah munculnya kesulitan regulasi emosi pada remaja.
Generation Z often faces challenges in managing personal finances due to consumptive behavior and the convenience of digital transactions. This study investigates the influence of family financial socialization on the financial behavior of Generation Z, with financial self-efficacy serving as a mediating variable. A total of 418 college students born in 1997 or later (maximum age 28) participated in the study, which employed a quantitative approach and a convenience sampling technique—a non-probability method based on participant availability and willingness. Data were collected via an online survey and analyzed using structural equation modeling (SEM). The findings indicated that family financial socialization significantly and positively influenced financial behavior. Furthermore, financial self-efficacy was proven to partially mediate this relationship, suggesting that family influences were transmitted both directly and indirectly through the development of financial confidence. These results emphasize the critical role of parents as early financial educators and role models in fostering responsible financial habits. This study contributes to the literature by highlighting the mediating role of financial self-efficacy in the link between financial socialization and financial behavior among young adults.
Phishing has become Indonesia's most prevalent cybercrime from 2017 to 2022, primarily due to the collection of users' personal information. The purpose of this study is to examine how security concerns are impacted by social engineering, internet experience, anti-phishing expertise, and phishing awareness. The Technology Threat Avoidance Theory (TTAT) model lends credence to this study. A quantitative methodology was employed, conducted through online surveys. To enrich the discussion, six of these respondents participated in in-depth interviews as a complementary approach. Data analysis was performed using LISREL 8.80 and SPSS 26. The findings demonstrated that internet experience and anti-phishing knowledge significantly increased phishing awareness. Furthermore, security concerns were significantly impacted by anti-phishing expertise. The results of further analysis revealed that social engineering had no significant effect on phishing awareness. In addition, Internet experience did not significantly affect security concerns. Based on the research results, user understanding can be enhanced by creating educational media that can be disseminated via social media.
Masa emerging adulthood ditandai dengan eksplorasi identitas serta berbagai transisi kehidupan yang signifikan, di mana self-esteem berperan penting dalam mendukung kondisi mental dan emosional individu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kesepian sebagai mediator dalam hubungan antara mattering to family dan self-esteem pada individu di masa perkembangan emerging adulthood di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 119 individu berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tiga instrumen: The Mattering Index, UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Rosenberg Self-Esteem Scale. Analisis data dilakukan dengan model mediasi menggunakan SPSS versi 22 dan Macro-PROCESS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mattering to family memengaruhi self-esteem secara positif, dengan kesepian sepenuhnya memediasi hubungan ini. Skor mattering to family yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat kesepian yang lebih rendah, yang selanjutnya memprediksi self-esteem yang lebih tinggi, demikian pula sebaliknya. Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam meningkatkan harga diri individu di masa emerging adulthood. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis keluarga untuk mengurangi kesepian dan meningkatkan self-esteem pada individu dalam tahap perkembangan ini.
Anak perlu memahami pikiran dan perasaan orang lain (theory of mind/ToM) agar dapat berinteraksi secara sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parental mind-mindedness (PMM), emotion and mental state talk (EMST), serta kemampuan ToM pada anak. Selain itu, penelitian ini juga menguji peran EMST dari ayah dan ibu sebagai mediator dalam hubungan antara PMM dan ToM. Responden dalam penelitian ini terdiri atas 67 triad (ayah, ibu, dan anak berusia 4–7 tahun) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ToM Scale (α = 0,98), PMM Coding Manual oleh Meins dan Fernyhough (2015) (α = 0,31), serta vignette EMST (α ibu = 0,217; α ayah = 0,249). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMM berkorelasi positif dengan EMST ayah dan ibu. Selanjutnya, EMST ayah berkorelasi dengan EMST pada ibu serta dengan ToM anak. Hasil analisis menggunakan Process (Model 4) menunjukkan bahwa PMM berhubungan secara positif dengan ToM melalui mediasi EMST aya. Namun demikian, PMM tidak menunjukkan hubungan dengan ToM melalui EMST ibu.
Rendahnya kesadaran keluarga Tionghoa di Indonesia terhadap diskusi penampilan fisik dapat mengarah pada percakapan negatif terkait bentuk tubuh (family fat talk) yang dapat memberikan dampak negatif terhadap persepsi citra tubuh individu berupa risiko ketidakpuasan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh family fat talk terhadap ketidakpuasan tubuh pada perempuan dewasa muda Tionghoa di Indonesia. Studi menggunakan desain kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana untuk mengolah data. Sebanyak 154 partisipan didapat dengan menggunakan teknik convenience sampling menggunakan Family Fat Talk Questionnaire dan Body Shape Questionnaire. Hasil penelitian menunjukkan bahwa family fat talk dapat memprediksi ketidakpuasan tubuh pada perempuan dewasa muda Tionghoa di Indonesia sebesar 62,6 persen. Analisis tambahan juga memperlihatkan korelasi positif masing-masing dimensi family fat talk—yaitu self dan family terhadap ketidakpuasan tubuh. Implikasi studi menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko yang dapat ditimbulkan oleh percakapan negatif terkait bentuk tubuh. Upaya ini diperlukan untuk mengurangi dampak negatif family fat talk terhadap citra tubuh perempuan dewasa muda dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
Existing measurements of mindful parenting primarily focus on parenting in infants or older children and are designed specifically for mothers. The current study aims to develop a scale to assess mindful parenting in preschool children aged 3 to 5 (Mindful Parenting in Preschoolers/MPP) using a situational judgment test that can be completed by both parents. A total of 307 Indonesian parents aged 24–54 years old (M = 33.1, SD = 4.73) completed the 42 pooled items of the MPP. Psychometric testing was conducted to obtain the final version of the MPP with 30 items. Factor analysis revealed a three-factor structure, awareness, compassion, and non-reactivity, differing from the proposed model. Overall, the MPP demonstrates good internal consistency, and validity testing showed a significant negative correlation with parenting stress as a convergent criterion. The statistical performance of individual dimensions remains inadequate following scale reduction, necessitating further refinement and additional data collection. Despite these limitations, the MPP is a promising tool that offers a different test format compared to most currently available mindful parenting measurements.