
Sungai Musi yang berada di Sumatra Selatan berpotensi tercemar akibat kandungan logam berat yang dapat mengancam kehidupan biota seperti ikan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis cemaran timbal (Pb) ikan Lais dan air sungai di perairan sungai Musi Palembang. Sebanyak tiga sampel ikan Lais dan air sungai Musi yang diperoleh dari daerah Jakabaring, Sungki, dan Silaberanti didestruksi basah dengan menggunakan HNO3 dan H2O2. Hasil destruksi tersebut dianalisis kandungan logam tersebut melalui Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) dengan larutan baku berupa Pb(NO3)2 di 217,0 nm. Hasil penelitian memperlihatkan keseluruhan sampel ikan Lais dan air sungai Musi tidak mengandung cemaran logam timbal (Pb).
Pengelolaan lindi di TPA Tamangapa, Makassar, menghadapi tantangan serius akibat praktik metode open dumping yang berpotensi mencemari lingkungan permukiman di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kinerja Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) eksisting, menganalisis kualitas efluen, serta dampaknya terhadap badan air penerima. Penelitian ini menggunakan metode neraca air Thornthwaite-Mather dan uji laboratorium yang dibandingkan dengan baku mutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja IPL tidak efektif dengan efisiensi penyisihan beban organik yang rendah (42%). Konsentrasi efluen tercatat memiliki BOD 264,16 mg/L, COD 660,21 mg/L, dan Nitrogen Total 161,65 mg/L, yang seluruhnya melampaui baku mutu PermenLHK No. 59/2016. Kegagalan operasional ini terbukti menyebabkan pencemaran pada badan air di hilir dengan kadar BOD mencapai 166,09 mg/L dan COD mencapai 411,66 mg/L yang melebihi standar Kelas IV PP No. 22/2021. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ketidakefektifan sistem disebabkan oleh kendala operasional seperti akumulasi lumpur dan short-circuiting, diperburuk oleh posisi manajemen yang berada pada strategi bertahan (Kuadran IV). Penelitian ini merekomendasikan rehabilitasi teknis melalui pengerukan lumpur, pemasangan baffle, serta integrasi pengolahan kimia lanjutan (metode Fenton) untuk memastikan pemenuhan baku mutu lingkungan.
Future population growth in Jambi City can increase the amount of domestic wastewater discharge. Domestic wastewater has the potential to cause environmental problems and must be treated. Currently, the Jambi City WWTP, as the center of domestic wastewater treatment, only covers less than 10% of the area in Jambi City. Therefore, it is necessary to expand service coverage through the development of sewer lines. This study was carried out in the Talang Banjar Sub-district, East Jambi District, with a planning year of 2025-2045. The design process refers to the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing Number 4 of 2017. The estimated number of services in 2045 based on the planning reach 10,760 people, or around 2,690 houses. The number of public facilities projected is 418 units. Domestic wastewater estimation in planned area is 19.53 l/sec. The designed sewer lines consist of 70 service blocks and 73 piping segments with a channel length of 9897.7 m. The pipe used is PVC SDR 41 type with a diameter of 110-200 mm and an excavation depth of 0.86-11.86 m. The sewer appurtenances in these sewer lines consist of 191 manholes, 37 cleanouts, 4 drop manholes, and 4 wet wells.
Eksplorasi tambang emas menimbulkan degradasi lahan ekstensif dengan pH sangat asam (4,0 – 5,0), kehilangan top soil, dan bahan organik sangat rendah, memerlukan strategi revegetasi berkelanjutan untuk pemulihan ekosistem dan produktivitas lahan. Penelitian ini mengidentifikasi tanaman lokal adaptif untuk revegetasi lahan bekas eksplorasi tambang emas di Sumbawa Barat, mengembangkan sistem revegetasi terintegrasi berbasis agroforestri, mengevaluasi keberhasilan revegetasi dengan sistem skoring komprehensif, dan merancang geometri penanaman optimal berbasis topografi. Metode menggunakan systematic sampling pada 6,74 hektar dengan stratifikasi tahun tanam (2021 – 2023), pengumpulan data primer melalui inventarisasi vegetasi, pengukuran pertumbuhan tanaman, penilaian kesehatan, dan analisis menggunakan statistik deskriptif, ANOVA, korelasi Pearson, serta sistem skoring Permenhut P.60/2009. Hasil menunjukkan sistem agroforestri Gamal–Mahoni mencapai survival rate Gamal 96,3% dan Mahoni 92,3%, pertumbuhan tinggi Gamal 2,5 – 3,0 m/tahun dan Mahoni 3,1 – 3,5 m/tahun, meningkatkan C-organik 105%, N-total 167%, pH 0,65, dan P-tersedia 156%, dengan skor keberhasilan 21,8/25 dalam kategori "Sangat Berhasil" sesuai regulasi. Kata Kunci: Agroforestri Gamal–Mahoni, Revegetasi tambang emas, Survival rate tanaman, Perbaikan kualitas tanah, Geometri penanaman adaptif.
The Siak River is a source of raw water for drinking water in Riau. The water quality of the Siak River is influenced by the season. In the rainy season, turbidity usually increases so that it can affect the drinking water treatment process at the Drinking Water Treatment Plant (IPAM). The main treatment process at IPAM to reduce turbidity that is widely used is coagulation and flocculation. The level of water turbidity will affect the coagulant dose in the coagulation flocculation process. This study aims to determine the effect of rainfall on the dose and efficiency of PAC (Poly Aluminum Chloride) coagulant in the coagulation flocculation process, in addition to providing recommendations for a comparison of PAC coagulant doses before and after rain to IPAMs that take the Siak River as a source of raw water. River water samples were taken for a week in a row before and after rain. The method used to determine the best dose in this study was the trial and error method with a fast stirring speed of 120 rpm for 1 minute and a slow stirring speed of 40 rpm for 20 minutes and sedimentation for 15 minutes with water pH conditioning of 7. The results showed that the increase in river water turbidity after rain caused the need for PAC doses to increase. Before the rain, the turbidity of the Siak River water was 36.29 - 63.4 NTU and a dose of 50 mg/L was obtained as the best dose to reduce turbidity with an efficiency of 99.17%. While after the rain, the turbidity of the river water reached 129.8 - 165.7 NTU. The best dose obtained was 60 mg/L with a turbidity removal efficiency of 99.38%.
The Kebomas District in Gresik Regency faces challenges in optimizing sanitation services through communal Wastewater Treatment Plants (WWTP). This study aims to evaluate the technical effectiveness of domestic wastewater treatment at three locations—KPP Karangmas, KPP Sejahtera, and KPP Sentosa—to improve regional sanitation performance. A quantitative descriptive method was employed by analyzing influent and effluent quality, as well as operational parameters such as Organic Loading Rate (OLR) and Hydraulic Retention Time (HRT). The results show that effluent concentrations for critical parameters exceeded the quality standards set by the Ministry of Environment and Forestry Regulation No. 11 of 2025, with ammonia levels ranging from 14.2–15.1 mg/L and fecal coliform reaching 11,000 MPN/100 mL. Removal efficiencies for BOD and COD varied significantly; KPP Karangmas showed the best performance with a COD removal efficiency of 72%, while KPP Sejahtera and KPP Sentosa only achieved 40-55, far below the 80% design target. This low efficiency is attributed to extreme underloading conditions, where the actual organic load was only 11-34% of the design capacity. In conclusion, WWTP performance is not yet optimal due to inappropriate influent organic loading and the lack of disinfection units and adequate aeration systems. Technical recommendations include modifying the system into an intermittent anaerobic-aerobic process to effectively reduce ammonia levels.
Copper contamination from anthropogenic activities negatively impacts water quality and agriculture, with documented cases showing reduced crop yields and economic losses. This study conducted a preliminary screening to evaluate the survivability and toxicity signs of V. zizanioides under copper exposure as an initial assessment of its potential for phytoremediation. A range finding test was performed using five Cu concentration (100, 250, 500, 750, 1000 mg/L) and control. Following 40 days-propagation period, plants were exposed to Cu for 7-14 days. Daily observations included plant condition and height, while pH and temperature were periodically monitored to ensure that plant mortality resulted from toxicity rather than environmental factors. The results indicated that V. zizanioides tolerated copper concentration up to 100 mg/L. However at concentrations above 100 mg/L, typical toxicity symptoms, such as chlorosis and necrosis, appeared as early as the second day. Complete plant mortality was observed at the highest concentration, 1000 mg/L. Although this study did not assess metal removal performance, these findings highlight the resilience of V. zizanioides under copper stress and provide an important basis for future research to determine its suitability for phytoremediation or constructed wetlands.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman penduduk akan berdampak pada kebutuhan air bersih yang mengandung berbagai kontaminan logam seperti besi. Salah satunya pada Perumahan Randu, Desa Sumberejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang merupakan salah satu dari sekian banyak perumahan yang dibangun dari lahan bekas sawah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan jenis aerator, yaitu cascade aerator dan aerator gelembung dengan variasi media filter menggunakan pasir gumuk dan pasir sungai dengan debit 1 liter/menit. Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilaksanakan dalam skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan persentase penurunan kadar Fe pada pengolahan aerasi dengan menggunakan cascade aerator dan aerator gelembung sebesar 14,55% dan 2,16%, pengolahan sedimentasi sebesar 3,34%, dan pengolahan filtrasi dengan menggunakan media filter pasir gumuk dan pasir sungai sebesar 81,85% dan 89,13%. Hasil analisis didapatkan bahwa variabel cascade aerator, filter pasir gumuk dan filter pasir sungai memiliki hubungan yang berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan kadar besi. Sedangkan hubungan yang tidak berpengaruh secara signifikan yaitu variabel aerator gelembung dan sedimentasi. Kata kunci: Aerasi, Sedimentasi, Filtrasi dan Besi (Fe)
Abstrak Sembalun terkenal sebagai salah satu tujuan destinasi utama wisata di Pulau Lombok dengan daya tarik utama adalah pendakian ke Gunung Rinjani. Dalam perkembangannya, berkembang atraksi lainnya seperti mendaki bukit, wisata kebun dan buah, tempat foto. Selain itu, banyak warga yang datang untuk menikmati akhir pekan di Sembalun. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Sembalun ini menjadi peluang pengembangan berbagai oleh-oleh khas Sembalun. Salah satunya adalah black garlic Sembalun. Black garlic Sembalun ini menggunakan bahan baku bawang putih. Tujuan dari kajian ini adalah melakukan estimasi jejak karbon dari produksi black garlic Sembalun dimana metode yang digunakan adalah penilaian daur hidup (Life Cycle Assesment). Unit fungsi yang digunakan adalah produksi black garlic dalam sebulan. Sebuah studi kasus diambil dari UMKM KWT Putri Rinjani di Desa Sembalun Bumbung yang memproduksi black garlic. Ada lima tahapan dalam proses produksi black garlic yaitu transportasi, penjemuran, pengupasan, pemanggangan, dan pengemasan. Dari hasil analisa menggunakan software OpenLCA dihasilkan tiga tahapan proses yang memberikan kontribusi pada jejak karbon produksi black garlic Sembalun yaitu tahapan transportasi (52,125 KgCO2eq), tahapan pemanggangang (46,707 KgCO2eq), dan proses pengemasan (6,930 KgCO2eq). Untuk mengurangi jejak karbon maka beberapa alternatif perbaikan berkelanjutan yang bisa dilakukan antara lain melakukan penyimpanan (stock) raw material untuk mengurangi jumlah ritase pengangkutan dan menggunakan kendaraan pengangkutan yang memiliki efisiensi pembakaran yang lebih baik serta penggunaan kendaraan listrik. Kata Kunci: jejak karbon, black garlic, sembalun, pengangkutan, pemanggangan, pengemasan.
Bandung City is one of the highest solid waste-producing cities in Indonesia. Waste management needs to be organized so that the waste produced does not harm urban areas. One example of waste management is providing temporary waste storage sites (TPS) as intermediate transfer stations. One hundred fifty-six permanent TPS operates in Bandung, spread over 30 sub-districts with various conditions, both running well and unsuitable conditions affecting waste handling. This study aims to identify the condition of TPS waste management in the city of Bandung and evaluate it based on technical criteria for appropriate TPS buildings. The method for assessing the feasibility of TPS is assessed using 17 criteria, including criteria for TPS buildings and facilities. The evaluation was carried out at 44 TPS in Bandung. The evaluation results show seven criteria for transfer stations with a high degree of conformity and ten for a low level of conformity. The evaluation results resulted in the need for efforts to improve and develop TPS so that it can be used according to the criteria.
Rusip diketahui mengandung mikroba fermentasi seperti bakteri asam laktat, jamur, dan khamir yang hampir serupa dengan EM4. Kandungan bakteri yang terdapat di dalam cairan rusip berpotensi dijadikan sebagai biokatalisator lokal salah satunya dalam mereduksi limbah pada pembuatan pupuk organik cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi rusip sebagai biokatalisator dengan mengetahui pengaruhnya dalam mereduksi limbah ikan menjadi pupuk organik cair dengan konsentrasi berbeda. Pembuatan pupuk dilakukan dengan memfermentasikan limbah ikan sebanyak 200 g dengan konsentrasi cairan rusip 30%, 40%, dan 50% selama 7 hari. Sebagai perlakuan kontrol digunakan EM4 40% karena perlakuan tersebut memberikan hasil terbaik dalam menguraikan limbah ikan pada pembuatan POC dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menyatakan konsentrasi biokatalisator cairan rusip berpengaruh dalam mereduksi limbah ikan menjadi pupuk organik cair. Bobot limbah tereduksi dan volume cairan pupuk terbanyak dihasilkan oleh perlakuan P3 yaitu 78,7 g dan 67 ml. Nilai pH terendah diperoleh perlakuan kontrol sebesar 4,73 dan diikuti perlakuan P3 yaitu 4,9. Nilai nitrogen tertinggi diperoleh dari perlakuan P3 sebesar 0,77%. Karakteristik pupuk yang paling dominan dihasilkan perlakuan P3 yang menghasilkan karakteristik visual pupuk sama dengan perlakuan Kontrol.
Di lokasi pertambangan emas di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah, diketahui telah terjadi pencemaran tanah oleh timbal dan perlu mendapatkan perhatian untuk dilakukan remediasi. Penelitian ini bertujuan untuk bertujuan untuk menginvestigasi karakteristik mineralogi tuf zeolitik dan menganalisis pengaruh karakteristik mineralogi tersebut terhadap efektivitas penjerapan Pb dalam tanah di lokasi pertambangan yang dimaksud. Sampel tanah diambil dari lokasi tambang emas tersebut dan sampel tuf zeolitik pada dua lokasi yang berbeda di Gunungkidul, Yogyakarta, dinamakan sampel A dan sampel B. Sampel tuf zeolitik kemudian dilakukan analisis mineralogi meliputi analisis petrografi dengan menggunakan mikroskop polarisasi, analisis KPK dengan metode Barium Klorida, dan analisis XRD (X-Ray Diffraction). Kemudian, dilakukan uji batch di laboratorium dengan cara sampel tuf zeolitik dihaluskan dan dicampur dengan sampel tanah sebanyak 100 gram dilarutkan dengan menggunakan CaCl2. Kemudian, dilakukan pengadukan dengan menggunakan pengaduk magnetik dan filtrat yang diambil pada interval waktu tertentu. Proses penjerapan zeolit yang dilakukan pada percobaan batch di laboratorium dipengaruhi baik oleh persentase mineral zeolit yang hadir maupun nilai KPK yang dimiliki oleh zeolit sampel. Hasil uji batch menunjukkan bahwa semakin banyak persentase zeolit dan nilai KPK maka efektivitas penjerapan lebih tinggi dan mencapai optimum yang dapat dicapai sebesar 58,8%. Dengan demikian, remediasi Pb dalam tanah tercemar di lokasi pertambangan emas di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah dapat dilakukan dengan menggunakan tuf zeolitik dari Gunungkidul yang memiliki potensi cukup baik sebagai material remediasi.
Kota Balikpapan merupakan Kota yang tidak memiliki sungai besar untuk memasok air baku seperti di be erapa Kota lainnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat, sumber air baku utama yaitu diperoleh dari air permukaan yang berasal dari Waduk Manggar. Adanya bahan pencemar organik dalam jumlah yang tinggi seperti BOD dan COD akan mempengaruhi kualitas air jika tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu untuk mengurangi polutan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar polutan yaitu dengan proses adsorpsi memakai adsorben alami yaitu karbon aktif dari kulit singkong. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari massa, waktu kontak serta efektivitas adsorben dari karbon aktif kulit singkong dalam penurunan kadar BOD dan COD pada air waduk Manggar Kota Balikpapan. Proses adsorpsi dilakukan dengan menggunakan variasi massa sebanyak 1, 3, 5, 7, dan 9 gr serta variasi waktu kontak 30, 45, 60, 75 dan 90 menit. Berdasarkan hasil penelitian, efisiensi penurunan konsentrasi BOD dari adsorben karbon aktif kulit singkong yaitu sebesar 95,06% dari konsentrasi awal yaitu sebesar 8,3 mg/L menjadi 0,41 mg/L pada massa optimum yaitu 5 gram dan efisiensi penurunan konsentrasi COD sebesar 100% dari konsentrasi awal yaitu sebesar 28,54 mg/L menjadi 0 mg/L pada massa optimum 3 gram dengan waktu kontak selama 30 menit. Dari hasil uji analisis statistik yang dilakukan didapatkan bahwa variasi massa adsorben tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan konsentrasi BOD dan COD, sedangkan waktu kontak berpengaruh signifikan hanya terhadap penurunan konsentrasi BOD.
Tujuan perusahaan akan dapat dipenuhi bila perusahaan tersebut dapat menangani Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya secara baik. Salah satunya adalah dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja pegawainya, merupakan gambaran tata kelola SDM yang baik. Perusahaan melalui program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berusaha melindungi pegawainya, di segala bentuk kegiatan pekerjaan sebagai usaha dalam menjaga pekerjanya agar terjaga dari kecelakaan atau cidera ketika bekerja juga sebagai upaya menghindar dari penyakit yang terjadi baik jangka pendek atau jangka panjang akibat dari pekerjaan yang sudah dilakukan karyawan di perusahaan tersebut. Departement of Mining PT Semen Baturaja Tbk merupakan satu unit kerja yang proses kegiatannya memiliki potensi resiko dan bahaya yang sedikit tinggi. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan melihat telah sejauh mana penerapan budaya K3 di unit kerja Department of Mining serta seberapa efektif penerapan budaya K3 yang sudah dilaksanakan pihak perusahaan. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survey atau pengamatan langsung dilapangan. Pengolahan data dengan memakai Uji Regresi Linier Berganda pada program SPSS 18 dan data yang didapat berasal dari kuisioner yang disebar dan wawancara pada responden. Dari analisis yang dilakukan didapatkan koefisien regresi X1 yaitu 0,281, dan koefisien regresi X2 yaitu 0,577. Dari Uji F yang telah dikerjakan didapat bahwasannya t hitung lebih besar dari t tabel, maknanya faktor penerapan budaya K3 memiliki dampak signifikan pada kinerja karyawan dengan koefisien determinasi yaitu 16,5%. Dengan demikian dapat ditarik satu kesimpulan bahwasanya faktor penerapan budaya K3 memiliki dampak nyata pada kinerja karyawan di lingkungan Departemen of Mining di PT Semen Baturaja tbk.
Saat ini, perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia sangat berkembang pesat karena adanya kebutuhan akan air yang siap dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber sampah dan mengevaluasi sistem pengelolaan sampah di suatu perusahaan AMDK terpilih. Penelitian menggunakan metode analisis deskriptif melalui observasi di lapangan dan membandingkan eksisting pengelolaan sampah dengan best practices dan standar yang tersedia. Dalam alur produksinya, perusahaan AMDK yang diteliti menghasilkan limbah padat non-B3 dari kegiatan produksi dan dari kegiatan domestik. Limbah padat non-B3 dari hasil kegiatan produksi berasal dari produk reject pada proses produksi AMDK, pengujian kualitas AMDK yang diproduksi, pengemasan produk, hingga pengangkutan produk untuk distribusi. Limbah padat non-B3 kegiatan domestik/sampah berasal dari pegawai dan berkontribusi sebanyak 33,7% dari total timbulan limbah padat non-B3. Dari hasil observasi, Perusahaan telah mengimplementasikan metode pengelolaan sampah dengan memprioritaskan kegiatan pengurangan dan pemilahan sampah di sumber dan di Tempat Penampungan Sementara (TPS), serta pengolahan sampah seperti komposting dan inovasi eco-brick. Kampanye pemilahan sampah dan keberlanjutan pengolahan sampah merupakan beberapa usulan rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini agar dapat mengurangi semaksimal mungkin jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.
Pencemaran merkuri yang disebabkan oleh limbah tambang emas tradisional menjadi salah satu masalah lingkungan yang berdampak serius jika tidak dilakukan penangangan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kemampuan zeolit alam yang diperoleh dari Gunungkidul Yogyakarta untuk menstabilisasi merkuri yang terdapat pada limbah tambang emas tradisional atau tailing. Sampel tailing diambil dari tiga lokasi di Kulon Progo, Wonogiri dan Banyumas, sedangkan sampel zeolit alam diambil dari Gunungkidul, Yogyakarta. Percobaan batch dilakukan pada skala laboratorium untuk menguji efektifitas zeolit alam dalam menstabilisasi merkuri dalam tailing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit alam yang digunakan dapat menurunkan konsentrasi merkuri dalam tailing. Kemampuan stabilisasi yang dimiliki oleh zeolit bervariasi tergantung pada konsentrasi awal merkuri pada tailing dan dosis zeolit alam yang ditambahkan.
Pengelolaan sampah merupakan tantangan serius bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan, sehingga dibutuhkan pengelolaan sampah yang terintregasi dan berkelanjutan. Kabupaten Gresik merupakan salah satu daerah yang mendukung perkembangan kota Surabaya sehingga mengalami pertumbuhan disegala sektor secara pesat. kondisi kapasitas sel sampah TPA Ngipik yang melayani kecamatan Gresik telah mengalami overload. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengelolaan sampah dikecamatan Gresik ditinjau dari aspek teknis dengan evaluasi yang mengacu pada paraturan perundang – undangan tentang persampahan yang berlaku, sehingga diperoleh tujuan penelitian dengan cara menganalisis aspek teknis. Penelitian ini menggunakan metode data kuantitatif dan data kualitatif kemudian dianalisis dengan melakukan tinjauan terhadap aspek yang berkaitan dengan keabsahan kondisi eksisting menurut standar normatif dan teori pengelolaan sampah. Dari hasil evaluasi diperoleh sebagai berikut Tingkat pengurangan sampah belum mencapai 30% dan layanan persampahan di Kecamatan Gresik sebesar: 100 %, masih sedikitnya kesediaan pewadahan terpilah, masih ada TPS tanpa atap, pengangkutan sudah memenuhi namun armada dan kontainer masih ada yg kurang layak, lokasi TPA Ngipik layak berdasarkan SNI 03-3141-1994.
Daya dukung sumberdaya air untuk berbagai peruntukan sangat tergantung pada kondisi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air pada suatu Daerah Aliran Sungai. Minimnya penelitian yang dilakukan di DAS Poleang sangat membatasi informasi mengenai daya dukung DAS tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung DAS berdasarkan indikator tata air di DAS Poleang, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Permenhut RI No. P.61/Menhut-II/2014 tentang monitoring dan evalusi pengelolaan DAS dengan 5 parameter yaitu Koefisien Rezim Aliran (KRA), Koefisien Aliran Tahunan (KAT), Muatan Sedimen (MS), Banjir, dan Indek Pengunaan Air (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KRA DAS Poleang masuk kategori nilai KRA ≤ 20 dengan kelas sangat rendah, KAT masuk kategori 0,2< KAT ≤0,3 dengan kelas rendah, MS mencapai 97,25 ton/hari sehingga masuk kategori nilai M > 20 dengan kelas sangat tinggi, banjir terjadi 1 kali dalam setahun dengan kelas tinggi, IPA mencapai 1.299,9, sehingga masuk kategori nilai IPA ≤1.700 dengan kelas sangat jelek. Berdasarkan hasil analisis daya dukung DAS Poleang berdasarkan kondisi tata air masuk pada kategori 90< DDD ≤110 dengan kelas daya dukung sedang
Banyaknya air limbah domestik tanpa pengolahan terlebih dahulu dibuang ke air badan air sehingga dirasa semakin hari kualitas menjadi menurun. Kandungan organik dan mikroorganisme menjadi perhatian dalam segi kualitas. Tingginya kandungan organik dan mikrooorganisme seperti Total coliform. Penurunan parameter tersebut sebagai tujuan utama dalam penelitian ini. Pada proses aerob, pengolahan organik menggunakan pasokan udara sebesar 20 L/menit pada pengolahan secara tersuspensi dan terlekat untuk media terlekat menggunakan media kaldnes K5 dan bioball berduri masing-masing 30 % dari volume reaktor yang didahuili proses seeding dan aklimatisas. Variasi waktu pengolahan yang digunakan adalah tersuspensi 2 jam dan terlekat selama 6 jam serta sebaliknya. Selanjutnya diolah dengan pengolahan secara fisik secara simultan yakni proses pengendapan dan sterilisasi dengan waktu paparan dan pengendapan yakni 2 hingga 6 jam. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hasil seeding dan aklimatisasi dilakukan selama 21 hari. Didapatkan pengolahan terbaik menggunakan tersuspensi 2 jam, terlekat 6 jam pada media kaldnes K5 dan pengendapan sekaligus paparan sinar ultraviolet selama 6 jam menunjukkan hasil penurunan COD sebesar 92,85 % dan untuk Total coliform sebesar 98,67 %. Kata Kunci: domestik, organik, media, ultraviolet
Permasalahan persampahan di Kelurahan Karang Rejo disebabkan beberapa faktor seperti penurunan kualitas TPS, persebaran titik TPS, serta perilaku masyarakat dalam membuang sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran dan penyediaan TPS, menganalisis perilaku masyarakat dalam melakukan pembuangan sampah dan mengevaluasi TPS di Kelurahan Karang Rejo berdasarkan perilaku masyarakat dalam membuang sampah dan SNI 19-2454-2002. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, prosedur penelitian yang dilakukan adalah observasi, identifikasi penyediaan dan persebaran TPS, analisis kondisi TPS secara deskriptif kualitatif, penyebaran dan pengumpulan kuesioner, pengolahan data dan tahap evaluasi pewadahan sampah sesuai perilaku masyarakat dalam membuang sampah dan SNI 19-2454-2002. Hasil penelitian menunjukan pada Kelurahan Karang Rejo terdapat 16 TPS dimana persebaran TPS tidak proporsional, dari segi penyediaan terdapat 8 dari 16 TPS yang memiliki persentase kondisi bangunan dibawah 60%, sebesar 99% perilaku masyarakat Kelurahan Karang Rejo dalam membuang sampah dengan cara turun dari kendaraan dan membuang sampah ke dalam TPS serta sebesar 90% masyarakat Kelurahan Karang Rejo tidak mengetahui informasi tentang pewadahan sampah, hasil evaluasi menunjukan TPS pada Kelurahan Karang Rejo tidak sesuai dengan SNI 19-2454-2002 dan terdapat 10 TPS yang memerlukan renovasi secara total, 6 TPS yang memerlukan renovasi tidak total.