
Penduduk Nagari Pasie Laweh mayoritas mata pencaharian sebagai petani, dengan komoditas utama berupa penghasil tanaman pangan padi dan jagung. Selain itu, terdapat juga beberapa warga yang bekerja di sektor peternakan (sapi) dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) seperti pengolahan hasil pertanian. Salah satu permasalahan ketersediaan hijauan pakan tidak bisa kontinyu sepanjang tahun. Saat musim kemarau ketersediaan hijauan pakan ternak sangat kurang mencukupi, sedangkan pada musim hujan keberadaan hijauan pakan ternak ini sangat berlimpah, dan belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya dengan baik. Peternak memanfaatkan rumput, dedak dan sisa sayuran sebagai pakan ternak, sehingga masyarakat kesulitan memilih pakan ternak yang baik. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan sosialisasi dan pelatihan pembuatan silase jerami padi sebagai pakan ternak sapi. Hasil pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan pakan ternak berkualitas dengan memanfaatkan limbah jerami padi yng bisa berdaya guna sebagai pakan ternak. Jerami padi tidak hanya untuk dibakar atau ditumpuk/dibuang.
Penelitian ini mengkaji pelaksanaan Pasal 13 ayat (1) huruf g Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara Nomor 4 Tahun 2022 tentang Ketertiban Umum di Desa Hanakau Jaya serta menganalisisnya dalam perspektif siyāsah tanfidziyyah. Kajian ini dilatarbelakangi dengan masih ditemukannya praktik masyarakat yang melakukan penangkapan ikan menggunakan alat dan zat yang berbahaya yang menyebabkan kerusakan ekosistem. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Pasal 13 ayat (1) huruf g Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara Nomor 4 Tahun 2022 tentang Ketertiban Umum belum berjalan secara optimal karena masih adanya masyarakat yang menggunakan alat dan bahan berbahaya dalam menangkap ikan. Pemerintah daerah sebagai pihak yang berwenang memiliki kewajiban menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat dengan melarang penggunaan alat dan zat berbahaya tersebut, namun penertiban terhadap praktik yang telah berlangsung lama tidak dapat dilakukan secara sepihak dan memerlukan koordinasi dengan aparat penegak hukum serta instansi terkait. Dalam perspektif siyāsah tanfidziyyah, implementasi peraturan tersebut merupakan bentuk pelaksanaan kewenangan pemerintah dalam menjaga kemaslahatan masyarakat, khususnya dalam melindungi kelestarian sumber daya perairan dan keselamatan lingkungan.
Penelitian ini mengkaji tanggung gugat hukum promotor musik terhadap konsumen atas perubahan fasilitas layanan yang terjadi setelah transaksi pembelian tiket berlangsung. Kasus yang menjadi objek kajian adalah perubahan sepihak oleh promotor dari Jakarta International Stadium (JIS) ke Stadion Madya, yang sekaligus mengubah fasilitas kursi (seated) menjadi berdiri (standing), padahal konsumen telah membeli tiket dengan fasilitas tempat duduk. Perubahan tersebut dilakukan setelah transaksi jual beli tiket selesai, sehingga menimbulkan kerugian materiil dan immateriil bagi konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan promotor tersebut melanggar Pasal 4, Pasal 7, dan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Promotor dapat dimintai pertanggungjawaban secara perdata berdasarkan Pasal 19 UUPK dan secara pidana berdasarkan Pasal 62 UUPK, serta berdasarkan ketentuan wanprestasi dalam Burgerlijk Wetboek. Konsumen berhak mendapatkan ganti rugi, pengembalian tiket, dan kompensasi atas kerugian yang diderita. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi pengawasan penyelenggaraan event hiburan di Indonesia serta pembentukan mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif bagi konsumen.
Penggunaan pangan lokal sebagai substitusi tepung terigu penting untuk mendukung diversifikasi pangan dan mengurangi impor gandum. Tepung jagung merupakan alternatif potensial, namun studi mengenai masa simpan produk donat dengan substitusi ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan masa simpan donat dengan substitusi tepung jagung sebesar 25% dan 30%. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain observasional deskriptif. Sampel dipilih secara purposive dan data dikumpulkan melalui observasi sistematis serta dokumentasi terhadap perubahan organoleptik selama enam hari pada suhu ruang dalam wadah kedap udara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua formulasi memiliki pola penurunan kualitas yang serupa. Donat mempertahankan kualitas baik hingga hari kedua, mulai menurun pada hari ketiga, dan tidak layak dikonsumsi pada hari keempat yang ditandai dengan aroma asam, perubahan tekstur, pemudaran warna, serta pertumbuhan jamur. Tidak ditemukan perbedaan substansial antara tingkat substitusi 25% dan 30% dalam hal stabilitas penyimpanan. Disimpulkan bahwa donat dengan substitusi tepung jagung 25% dan 30% memiliki masa simpan praktis hingga tiga hari pada suhu ruang. Temuan ini memperluas literatur mengenai stabilitas penyimpanan produk berbasis tepung jagung.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dengan bedtime procrastination pada mahasiswa. Loneliness merupakan keadaan emosional subjektif yang muncul akibat ketidaksesuaian antara hubungan sosial yang diharapkan dengan yang dimiliki individu, sedangkan bedtime procrastination adalah perilaku menunda waktu tidur tanpa alasan eksternal yang jelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa di Sumatera Barat sebanyak 386 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala loneliness (12 aitem valid, α = 0,852) dan skala bedtime procrastination (7 aitem valid, α = 0,769) dengan model skala likert. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara loneliness dan bedtime procrastination dengan nilai koefisien korelasi sebesar ρ = 0,504 dan nilai signifikansi p < 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat loneliness, maka semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk melakukan bedtime procrastination.