
Digital transformation has become a strategic priority for improving public service delivery, transparency, and community participation in local governance. However, many rural administrative units (nagari) in Indonesia continue to face limitations in digital infrastructure and information management, reducing the accessibility and quality of public services. This community engagement program aimed to develop a local wisdom-based digital information system for Nagari Durian Tinggi to improve public information services, strengthen administrative capacity, and promote participatory governance. The program employed a participatory community engagement approach involving needs assessment, stakeholder consultation, website development using the OpenSID platform, database preparation, capacity-building workshops for nagari officials, and technical assistance for website management and maintenance. Program implementation emphasized the integration of local wisdom into digital content while enhancing the technological competence of local administrators. The program resulted in the establishment of an operational nagari website featuring a comprehensive village profile, public service information, governance data, and community development content. Capacity-building activities improved the digital literacy and technical skills of nagari officials, enabling more effective website management and public information dissemination. The digital platform also increased community access to government information, encouraged public participation in local development, and supported more transparent and efficient public services. Overall, the program demonstrates that a local wisdom-based village information system can strengthen digital governance, improve public service quality, and contribute to sustainable community development in rural areas.
Sungai Pisang, yang saat ini dikenal sebagai Teluk Kabung Selatan, merupakan daerah pesisir di Kota Padang dengan potensi ekowisata yang cukup besar tetapi menghadapi tantangan kritis terkait pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak terkendali. Pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas pariwisata, dan ketiadaan Fasilitas Penyimpanan Sampah Sementara telah memperparah degradasi lingkungan, khususnya di ekosistem pesisir dan laut. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan melalui pendekatan partisipatif dan edukatif. Program ini menggunakan kerangka kerja pengembangan masyarakat yang terdiri dari pertemuan koordinasi, Diskusi Kelompok Fokus (FGD), sesi pelatihan, demonstrasi, dan kegiatan evaluasi yang melibatkan pemimpin lokal, kelompok perempuan masyarakat, dan organisasi pemuda. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi. Hasil menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait pemilahan sampah dan pengumpulan sampah anorganik secara sistematis yang dikelola oleh Lembaga Pengelolaan Sampah setempat. FGD mengidentifikasi dua strategi yang layak: pengomposan tingkat rumah tangga dan pengumpulan sampah anorganik secara berkala. Masukan dari Badan Lingkungan Hidup menekankan pentingnya membangun Fasilitas Pengolahan Limbah Kurangi, Gunakan Kembali, dan Daur Ulang (3R) sebagai solusi jangka panjang, mengingat kendala geografis yang menghambat pengangkutan limbah ke Lokasi Pembuangan Akhir Air Dingin. Program ini berhasil memulai praktik pengelolaan limbah kolaboratif yang mendukung keberlanjutan ekowisata. Lebih lanjut, program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi untuk wilayah pesisir lain yang menghadapi tantangan lingkungan serupa.
Kesehatan reproduksi remaja merupakan aspek penting dalam upaya pencegahan perilaku seksual berisiko, khususnya pada siswi yang berada pada fase perkembangan psikososial yang rentan. Minimnya literasi reproduksi, keterbatasan media edukatif, serta belum berfungsinya forum pembinaan di sekolah menyebabkan rendahnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan seks bebas. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program REPROFUN (Reproductive Health Fun Class) dilaksanakan di SMP Negeri 23 Kota Padang dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswi mengenai kesehatan reproduksi melalui pendekatan edukasi interaktif dan pemanfaatan media visual. Kegiatan melibatkan 83 siswi kelas VII hingga IX dan dilaksanakan melalui pre-test, penyuluhan interaktif, pemutaran video edukatif, permainan berbasis analisis perilaku, serta post-test sebagai evaluasi. Hasil uji t-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan siswi, dari rata-rata nilai pre-test 71,56 menjadi 94,93 pada post-test, disertai penurunan standar deviasi dari 13,92 menjadi 6,12. Hal ini mengindikasikan pemerataan pemahaman dan efektivitas metode edukatif yang digunakan. Selain itu, kegiatan advokasi kepada pihak sekolah berhasil mengaktifkan kembali Forum Annisa sebagai wadah pembinaan berkelanjutan. Program ini membuktikan bahwa edukasi interaktif berbasis media visual serta kolaborasi antara sekolah, mahasiswa, dan fasilitas kesehatan efektif dalam meningkatkan kesadaran reproduksi remaja serta mendorong perilaku sehat dan preventif di lingkungan sekolah.
The Rumah Bagonjong Handmade MSME in Bukittinggi City faces challenges in financial recording, tax understanding, and brand identity management, which impact business development. This community service activity aims to improve the capacity of business owners through training in the use of the SIAPIK application for digital financial recording, MSME tax training, and branding and visual identity design training. Implementation methods included interviews, hands-on practice, mentoring, field observation, and monitoring and evaluation of the implementation of the training outcomes. The activity results demonstrated an increase in the ability of business owners to record transactions digitally, understand final tax calculations, and create more consistent and attractive branding content and logo designs. Furthermore, the handover of production assets such as overlock machines, computerized embroidery machines, sewing machines, cutting tables, and raw materials helped increase the capacity and efficiency of the production process. Overall, this activity successfully strengthened the business governance and competitiveness of the Rumah Bagonjong Handmade MSME, although further mentoring is still needed to ensure the sustainable use of digital technology and marketing strategies.
This article arose from the increase in disasters in West Sumatra in 2024, triggered by natural factors, which then developed into environmental damage due to economic activity. This also led to a shift in the public’s perspective on natural disasters. This article aims to examine the role of disaster narratives in shaping knowledge, educational values, and the process of transmitting disaster narrative values within the community. The method used was a service-learning approach through a socialization program at Gandoriah Beach, Pariaman, West Sumatra. We also collected data through a questionnaire involving 131 respondents from various backgrounds, based on indicators of knowledge, values, and narrative transmission. The results show that public knowledge of disaster narratives is quite high, but the dominance of the knowledge is still uneven. Disaster education values are also present, although these values are dominated by environmental and religious aspects, while social values, concern, and morality have not yet developed comprehensively. On the other hand, disaster narratives have been proven to develop within the community and can generate emotional involvement, and have the potential to develop comprehensively. Furthermore, there has been a shift in the function of narrative from merely conveying experiences to a means of promoting cause-and-effect understanding, environmental awareness, and a focus on preventative action, even though preparedness remains at a potential stage. This article also emphasizes the need to strengthen disaster education, based on narratives and local community experiences, to integrate knowledge, values, and actions to ensure community preparedness for natural disasters, especially for those living in ecologically vulnerable areas.
Kegiatan pengabdian ini ditujukan guna meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terkait pencegahan tuberkulosis (TBC) melalui penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Pelaksanaan program tersebut dilakukan dalam skema MBKM-PK oleh mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas dan didasarkan pada pendekatan kuantitatif melalui pelaksanaan pre-test, pemberian materi, sesi tanya jawab, serta post-test. Seluruh materi yang meliputi definisi, penularan, gejala, jenis-jenis, pencegahan, tindakan yang harus dilakukan apabila terdiagnosis, serta proses diagnosis disajikan kepada peserta dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman sasaran penyuluhan. Kegiatan ini diikuti oleh kader dan masyarakat setempat, sedangkan evaluasi pengetahuan dilakukan melalui perbandingan skor pre-test dan post-test. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa adanya peningkatan akhir rata-rata sebesar 7,23% yang tercapai setelah penyuluhan diberikan, yang mengindikasikan bahwa intervensi penyuluhan ini tersebut berdampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai TBC. Berdasarkan temuan tersebut, kegiatan penyuluhan serupa direkomendasikan untuk diselenggarakan secara berkelanjutan melalui kerja sama bersama puskesmas sehingga upaya pencegahan TBC di tingkat komunitas dapat diperkuat.
Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan anak, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang. Di Kecamatan Pauh Kota Padang, prevalensi stunting mencapai 9,75 persen atau 213 dari 2.184 balita. Beberapa faktor yang ikut berkontribusi yaitu kekurangan energi kronis pada ibu hamil, rendahnya pengetahuan tentang ASI eksklusif pada ibu balita, serta meningkatnya jumlah anak yang diasuh oleh lansia karena mobilitas orang tua. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberdayakan ibu hamil, ibu balita, dan pengasuh lansia melalui edukasi gizi, promosi ASI eksklusif, pengasuhan positif, kunjungan rumah, dan penggunaan media edukatif. Pendekatan partisipatif ini melibatkan penyuluhan terstruktur, diskusi kelompok, pembagian leaflet, poster, dan kalender KIA, serta pendampingan berbasis rumah. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Rata-rata kenaikan sebesar 31,43 pada pengasuh lansia. Rata-rata kenaikan sebesar 68,57 pada ibu hamil dan ibu balita. Kunjungan rumah menunjukkan perbaikan dalam keragaman makanan, praktik kebersihan, dan pengasuhan responsif. Pemantauan menggunakan Kartu Kembang Anak menunjukkan sebagian besar anak mencapai capaian perkembangan kognitif yang sesuai. Program ini meningkatkan kapasitas keluarga dalam pencegahan stunting berkelanjutan. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah setempat, dan masyarakat perlu terus berjalan agar dampak program tetap terjaga.
Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the fashion and apparel tailoring sector face significant administrative and operational barriers that limit their long-term growth. Rumah Jahit Padang, a traditional home-based tailoring shop, experienced severe production bottlenecks, unstandardized service quality, chaotic single-entry bookkeeping, and highly passive marketing frameworks. To resolve these interconnected challenges, a university-led community service program was executed to implement comprehensive corporate governance intervention. This study examines the strategic outcomes of developmental assistance delivered across four management pillars: business model canvas restructuring, operational Standard Operating Procedures (SOPs) design, financial record systemization, and digital marketing adoption. Utilizing a Participatory Action Research (PAR) methodology, the team facilitated interactive workshops, codified formal workflow parameters, introduced service costing templates, and launched optimized social media commerce profiles. The results revealed a 32% reduction in material production errors, eliminated operational delays, established strict separation between personal and business cash flows, and built a wider digital consumer network. In conclusion, integrating systematic business governance and modernized operational workflows successfully minimizes systemic risks, increases service delivery quality, and establishes a highly professional, scalable foundation for sustainable local MSME expansion.
Salah satu program yang diinisiasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan Nagari adalah penguatan BUMNAG. Dalam pelaksanaan kegiatan ini metode yang digunakan adalah Survei Awal dan Identifikasi Kebutuhan, Pelatihan Interaktif dan Workshop, Pendampingan Lapangan (Coaching and Mentoring), Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan. Semua metode diatas dilakukan dengan melibatkan stake holder kabupaten setempat yaitu Sekda beserta jajarannya. Hasil kegiatan pengabdian tim Nagari Tageh adalah telah dipetakan potensi dan permasalahan BUMNAG yaitu SDM, Modal, Dan perlunya koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga dibuatlah Rencana Tindak Lanjut Penguatan Kelembagaan BUMNAG, merangkul UMKM setempat dibina dan diarahkan untuk mendukung usaha Bumnag dan membuat kerjasama tri partid antara Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dengan Perusahaan Suprime Energi sebagai donator pendanaan usaha baru peternakan ayam Broiler dan Universitas andalas yang akan mendampingi program, agar keberlanjutan usaha BumNag dapat terjaga. serta perekonomian masyarakat meningkat. Kata Kunci: BUMNAG, Nagari tageh, Potensi, Penguatan Kelembagaan, Kerjasama dan Perekonomian Masyarakat.
Pengasuhan yang baik memainkan peran penting dalam membentuk perkembangan anak. Setiap orang tua menerapkan gaya masing-masing dalam membesarkan anak mereka. Cara orang tua membimbing dan berinteraksi dengan anak sangat memengaruhi pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Beberapa faktor memengaruhi bagaimana orang tua mendidik anak, termasuk latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, dan nilai budaya. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman para ibu muda dalam merawat serta mendidik anak usia dini, yang akan mendukung perkembangan anak secara optimal dan meningkatkan kepercayaan diri ibu muda dalam mengasuh anak dan mengelola keluarga. Metode yang digunakan adalah penyuluhan melalui ceramah, disertai pre-test dan post-test, serta sesi tanya jawab. Kuesioner pengetahuan tentang keterampilan pengasuhan anak usia dini diberikan kepada 30 ibu yang mengikuti kegiatan penyuluhan di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan peserta meningkat setelah mengikuti penyuluhan dengan metode ceramah. Kegiatan penyuluhan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu muda dalam pengasuhan anak usia dini serta meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam merawat anak dan mengelola keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga menghasilkan buku saku dan leaflet yang berisi panduan pengasuhan anak usia dini yang tepat dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Social entrepreneurship assistance program, in collaboration with the Ministry of Social Affairs of the Republic of Indonesia and Inbistek Universitas Andalas, aimed to empower 350 Beneficiary Families (KPM) in Padang City, Pariaman City, and Tanah Datar Regency, West Sumatra. Micro-entrepreneurs often face high risks due to a lack of structured business planning and limited access to professional mentoring. This community development action research employed a structured incubation approach encompassing regional coordination, objective screening, Training of Trainers (TOT) for 20 selected local mentors, and direct on-site mentoring over three months (October–December). Mentoring specialized in business formulation using visual Business Model Canvas (BMC) and SWOT tools, financial bookkeeping, and financial stimulus distribution of IDR 600,000 per KPM for asset reinforcement. Additionally, a Virtual Expo was established to expand market visibility. The results demonstrated substantial improvements in KPM business management skills, institutionalized cash bookkeeping, and enhanced business formalization. In conclusion, the collaboration between higher education institutions and government bodies via technology incubators effectively minimizes micro-business risk and accelerates social economic self-reliance.
The nutrition transition characterized by high consumption of ultra-processed foods (UPF) is related to non-communicable diseases, such as diabetes, coronary heart disease, hypertension, and others. UPFs are high in added sugar, sodium, and saturated fats, which contribute to poor dietary quality due to their empty calories and lack of essential nutrients. Therefore, individual reading comprehension of nutrition fact labels is needed, as it could help consumers make healthier food decisions. This community service activity aimed to introduce mothers to how to properly read and understand nutrition facts labels. Mothers usually are the ones who are responsible for deciding what to eat in the household. This program was conducted at Puskesmas Pembantu Ulu Gadut on 17 October 2025, involving 30 mothers as participants. The intervention includes preparation, implementation, and evaluation phases. Activities consisted of health education sessions, discussion, and distribution of leaflets and posters about how to read nutrition facts labels. At the evaluation phase, participants were asked to compare two similar food products and choose which one is healthier. The product is considered healthier based on their lower sugar, sodium, or fat content. From all three products given, all participants could choose correctly and explain the reasons for their choice. The activity proved effective in increasing awareness of reading nutrition fact labels to make healthier food decisions. It is recommended that this program could be applied to other age groups and further developed media for a more sustainable impact.
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular dengan beban kasus tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Puskesmas Ampalu tahun 2023, cakupan pelayanan orang terduga TB mencapai 93,5% (430 orang) dengan temuan 26 kasus positif. Namun, pada Januari–Agustus 2024 capaian penjaringan hanya 33,3% dari target 66,7%, menunjukkan adanya kesenjangan sebesar 33,4%. Oleh karena itu rancang kegiatan Aksi Sobat TB, yaitu intervensi berbasis masyarakat yang menggabungkan edukasi, penjaringan kasus, dan diseminasi informasi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan, mengurangi stigma, serta memperkuat partisipasi dalam deteksi dini TB. Kegiatan dilaksanakan pada September 2024 di Korong Palak Juha, Kecamatan Ampalu, Kabupaten Padang Pariaman, dengan peserta sebanyak 48 orang dari masyarakat setempat, keluarga berisiko, serta didukung kader, wali korong, dan petugas puskesmas. Intervensi mencakup tiga komponen utama: penyuluhan melalui ceramah interaktif dan metode Emo-demo, penjaringan kasus melalui pengumpulan sampel dahak, serta penyebaran media promosi kesehatan berupa leaflet, poster, spanduk, dan x-banner. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi, serta analisis capaian penjaringan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat, dengan rata-rata skor pre-test 75,85 meningkat menjadi 87,40 pada post-test. Uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan bermakna tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (t = -6,936; df = 47; p < 0,001). Partisipasi masyarakat tinggi dengan antusiasme terhadap penyuluhan dan Emo-demo. Penjaringan menghasilkan 26 sampel dahak, sebagian dapat diperiksa di laboratorium. Media promosi kesehatan juga tersampaikan luas sebagai sarana edukasi berkelanjutan. Kegiatan Aksi Sobat TB efektif meningkatkan pemahaman masyarakat, menurunkan stigma, dan memperkuat dukungan terhadap deteksi dini TB.
Latar Belakang: Angka kematian ibu dan stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Keterbatasan deteksi dini komplikasi kehamilan serta kurangnya pemahaman ibu mengenai gizi pada First 1000 Days of Life berkontribusi besar terhadap permasalahan tersebut. Oleh karena itu, penguatan literasi kesehatan ibu melalui edukasi terstruktur sangat penting untuk meningkatkan luaran kehamilan. Tujuan: Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemenuhan enam kali kunjungan ANC, pencegahan anemia, gizi seimbang, dan pencegahan stunting sejak dini. Metode: Program menggunakan pendekatan edukasi partisipatif berbasis masyarakat dengan model service-learning. Sebanyak 39 ibu hamil di Puskesmas Pauh, Padang, berpartisipasi. Kegiatan edukasi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Peningkatan pengetahuan dievaluasi menggunakan penilaian pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan paired t-test. Hasil: Rerata skor pengetahuan meningkat dari 77,98 ± 14,24 sebelum intervensi menjadi 84,40 ± 11,18 setelah edukasi (p = 0,0002), menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik. Proporsi peserta dengan kategori pengetahuan “Baik” meningkat dari 56,4% menjadi 74,4%, sementara kategori “Kurang” menurun secara bermakna. Kesimpulan: Edukasi kesehatan ibu yang terstruktur dan interaktif efektif meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai komplikasi kehamilan dan pencegahan stunting. Implementasi berkelanjutan melalui kelas ibu hamil rutin serta penguatan keterlibatan keluarga direkomendasikan untuk mendukung perubahan perilaku jangka panjang.
Latar Belakang: Masalah gizi pada anak sekolah dasar merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting diperhatikan karena berdampak pada pertumbuhan, pembelajaran, konsentrasi, dan prestasi akademik. Pemahaman yang terbatas mengenai gizi seimbang serta pelaksanaan layanan makanan sekolah yang belum optimal masih menjadi tantangan di banyak institusi. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa dan guru tentang gizi seimbang serta memperbaiki penyelenggaraan layanan makanan sekolah. Metode: Kegiatan dilaksanakan di SD Islam Budi Mulia Padang pada 21 Oktober 2025 oleh tim dosen dan mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Edukasi diberikan kepada 59 siswa kelas V melalui ceramah interaktif dan leaflet yang membahas prinsip gizi seimbang, konsep “Isi Piringku”, serta upaya mengurangi sisa makanan. Selain itu, dilakukan diskusi dengan guru dan pihak sekolah untuk mengevaluasi sistem penyelenggaraan makanan di sekolah yang menyediakan makan siang serta dua kali makanan selingan setiap hari. Hasil: Program ini menghasilkan peningkatan rata-rata pengetahuan siswa sebesar 30% mengenai gizi seimbang, disertai perbaikan sikap terkait kebiasaan makan sehat. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kesadaran guru tentang pentingnya keberagaman menu dan standar gizi bagi anak usia sekolah. Kepala sekolah juga menyatakan komitmennya untuk menyampaikan serta menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan kepada pihak yayasan. Kesimpulan: Program ini berkontribusi dalam memperkuat literasi gizi dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan layanan makanan sekolah. Penyediaan modul layanan makanan sekolah serta materi edukasi diharapkan mendukung keberlanjutan inisiatif sekolah sehat di SD Islam Budi Mulia Padang.
Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan kader kesehatan terkait pencegahan dan pengendalian hipertensi melalui edukasi dan penggunaan kartu kontrol tekanan darah, yaitu kartu BARA KO DAA. Kegiatan dilaksanakan pada 27–28 September 2024 di wilayah kerja Puskesmas Ketaping dengan sasaran 44 peserta, terdiri dari 32 penderita hipertensi dan 12 kader kesehatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan PDCA (Plan-Do-Check-Action), dimulai dari perencanaan materi dan media edukasi, pelaksanaan penyuluhan, senam hipertensi, skrining kesehatan, serta pembagian TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 62,42 menjadi 71,21 dengan nilai p-value sebesar 0,000, yang berarti terdapat perbedaan signifikan. Selain itu, pemahaman kader terhadap penggunaan kartu bantu pemeriksaan lansia juga meningkat signifikan. Inovasi kartu BARA KO DAA terbukti efektif sebagai alat pencatatan dan pengingat kunjungan, serta meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam memantau tekanan darah. Program ini juga memperkuat peran kader sebagai mitra strategis dalam pelayanan kesehatan primer. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas dan pemanfaatan media edukatif dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku hidup sehat masyarakat. Intervensi semacam ini layak direplikasi di wilayah lain yang memiliki prevalensi hipertensi tinggi.
Hydrometeorological disasters in the form of floods and flash floods that struck West Sumatra Province from late November to December 2025 caused multidimensional impacts on affected communities, particularly in social conditions, environmental health, education, and psychosocial well-being among vulnerable groups. This study aims to analyze the implementation of an inclusive disaster emergency response community service program and its contribution to strengthening social resilience and environmental health in affected areas. This study employed a rapid response community service approach using rapid assessments, coordination with local governments, and short preparatory training for the implementation team. Program interventions included community-based psychosocial assistance, distribution of 400 hygiene kits, provision of 400 school kits, and brief education on clean and healthy living behaviours (PHBS). The program was implemented by Universitas Andalas in collaboration with Universitas Ekasakti and the community partner Tabik DC in Padang City and Pesisir Selatan Regency. The primary beneficiaries included children, older adults, flood-affected families, and other vulnerable groups, including students with special needs. The results indicate that the program increased children’s participation in psychosocial activities, improved social interaction at the community level, and ensured the distribution of basic hygiene and educational needs to targeted beneficiaries. In addition, local stakeholders demonstrated improved coordination capacity in implementing inclusive emergency response activities. In conclusion, the implementation of an inclusive and collaborative community service model plays a significant role in supporting early post-disaster recovery, particularly in strengthening social resilience and maintaining environmental health among vulnerable populations.
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan upaya kesehatan berbasis masyarakat, terintegrasi bersama layanan primer (ILP), dan terpadu untuk semua siklus kehidupan. Cakupan layanan luas, diantaranya balita dan wanita usia subur (WUS). Data Dinas Kesehatan Kota Padang (2023), cakupan kunjungan balita pada posyandu sebesar 75,6% (target 85%). Penyebab belum tercapainya target adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran bahwa Posyandu memiliki peran dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Kegiatan Edukasi Pemanfaatan Posyandu dalam Pemantauan Tumbuh Kembang Balita dan Keluarga Berencana dilaksanakan terintergrasi dengan kegiatan pada mata kuliah Kebidanan Komuniyas dan FOME. Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Metode kegiatan dengan pendekatan edukatif melalui penyuluhan, pemeriksaan kesehatan dasar, pemantauan tumbuh kembang balita menggunakan kuisioner praskrining (KPSP) serta edukasi manfaat program keluarga berencana. Sasarannya adalah ibu yang memiliki balita dan warga pasangan usia subur (PUS) di RT 03 RW 06 Kelurahan Parak Laweh Pulau Aia Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Kegiatan lanjutan berupa analisis data secara univariat. Hasil didapatkan jumlah warga sebanyak 143 KK, 65,22% balita tidak melakukan pemantauan tumbuh kembang tiap bulan, 53,57% PUS tidak menjadi akseptor KB serta 95,10% masyarakat belum mendapatkan penyuluhan terkait pemantauan tumbuh kembang balita. Balita menurut tinggi badan perumur, berat badan perumur dalam batas normal. Hasil pemantauan dengan KPSD didapatkan hasil 72,72% balita dengan kategori sesuai dan 27,27% balita dengan kategori meragukan. Peran posyandu cukup besar untuk semua siklus kehidupan. Perlu upaya terus meners meningkatkan kesadaran masyarakat terkait peran posyandu dan pemantauan tumbuh kembang balita.
Masalah gizi pada balita, khususnya Balita Bawah Garis Merah (BGM) masih menjadi tantangan dalam kesehatan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui penyuluhan dan pendampingan keluarga untuk mencegah BGM dengan melibatkan ayah dan ibu. Metode yang digunakan adalah penyuluhan tentang perawatan balita, dan kunjungan rumah kepada balita BGM yang memperoleh PMT. Hasil menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan pada ibu, dari 46,6% menjadi 90,6%. Selain itu, pemantauan kepada balita BGM yang memperoleh PMT, 2 balita diantaranya mengalami kenaikan berat badan. Hal ini membuktikan bahwa intervensi gizi yang tepat, pengetahuan dan partisipasi aktif dari orangtua berdampak efektif dalam mengatasi BGM.
Kekerasan seksual pada siswa/remaja merupakan masalah di dunia dan juga di Indonesia. Angka kekerasan seksual di dunia maupun di Indonesia cendrung mengalami peningkatan, tidak hanya di kalangan umum tetapi juga di lingkup sekolah. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pemahaman kepada siswa sekolah SMA Xaverius kkota Bukittinggi tentang kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest–Posttest, yaitu salah satu bentuk kuasi-eksperimen yang melibatkan satu kelompok peserta tanpa kelompok kontrol. Pada desain ini, peserta diberikan pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan awal, kemudian menerima intervensi berupa kegiatan pelatihan atau penyuluhan, dan selanjutnya dilakukan post-test untuk mengukur perubahan setelah intervensi. Telah dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat di SMA Xaverius Bukittinggi pada bulan September 2025. Kegiatan dimulai dengan penilaian pemahaman siswa terhadap kekerasan seksual, didapatkan hasil sebagian besar siswa belum memahami apa saja bentuk bentuk kekerasan seksual, bagaimana alur pelaporan, dan deteksi dini kasus kekerasan seksual. Setelah diberikan materi terkait dengan kekerasan seksual, contoh kasus dan diskusi dilakukan lagi penilaian tingkat pemahaman siswa terkait kekerasan seksual. Didapatkan hasil terjadi peningkatan pemahaman siswa terkait dengan kekerasan seksual. Dimana siswa memahami bentuk bentuk kekerasan seksual, bagaimana alur pelaporan dan bagaimana cara deteksi dini adanya kekerasan seksual. Pemberian materi kekerasan seksual dapat meningkatkan pemahaman siswa terkait dengan kekerasan seksual, ini terlihat dari peningkatan hasil pre dan post test yang diberikan sebelum pemberian dan setelah pemberian materi. Kegiatan berupa pemberian informasi/materi secara berkelanjutan menjadi saran dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapakan setiap tahun kegiatan yang sama bisa dilaksanakan di SMA Xaverius kota Bukittinggi.