
Infrastructure inequality remains a major challenge in regional development in Cianjur Regency. Infrastructure is unevenly distributed, with the northern and central regions developing more rapidly than the southern region, which still faces limited access to roads, clean water, education, health services, and telecommunications. These disparities are influenced by mountainous and hilly topographic conditions that affect accessibility and infrastructure development. This study aims to analyze spatial patterns of infrastructure inequality and identify areas with the lowest levels of infrastructure services. The research employs a descriptive qualitative approach based on Geographic Information Systems (GIS) using secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) and the Regional Development Planning Agency (Bappeda) of Cianjur Regency. The analyzed variables include road networks, educational facilities, health services, clean water infrastructure, electricity, and telecommunications. Infrastructure equity was assessed through facility-to-population ratios and spatial overlay analysis. The results indicate that infrastructure remains concentrated in the northern and central regions, which have better accessibility. Of the total district road network of 1.355.22 km, approximately 332.76 km (24.9%) are in damaged or severely damaged condition, with a road availability ratio of only 0.51 km per 1,000 inhabitants. Telecommunications tower construction also declined from 14 units in 2023 to 4 units in 2024. Infrastructure inequality is influenced by topography, population density, accessibility, and the concentration of economic activities. ABSTRAK Ketimpangan distribusi infrastruktur masih menjadi permasalahan pembangunan wilayah di Kabupaten Cianjur. Infrastruktur belum tersebar merata, di mana wilayah utara dan tengah berkembang lebih cepat dibandingkan wilayah selatan yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap jalan, air bersih, pendidikan, kesehatan, dan telekomunikasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik topografi yang didominasi pegunungan dan perbukitan sehingga memengaruhi aksesibilitas serta pembangunan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola ketimpangan infrastruktur antarwilayah dan mengidentifikasi wilayah dengan tingkat pelayanan infrastruktur terendah. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan data sekunder dari BPS dan Bappeda Kabupaten Cianjur. Data yang dianalisis meliputi jaringan jalan, fasilitas pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, dan telekomunikasi. Analisis dilakukan melalui perhitungan rasio ketersediaan fasilitas terhadap jumlah penduduk dan teknik overlay spasial untuk mengelompokkan tingkat pemerataan infrastruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur masih terkonsentrasi di wilayah utara dan tengah yang memiliki aksesibilitas lebih baik. Dari total panjang jalan kabupaten sebesar 1.355,22 km, sekitar 332,76 km (24,9%) berada dalam kondisi rusak dan rusak berat dengan rasio ketersediaan jalan hanya 0,51 km per 1.000 penduduk. Selain itu, pembangunan menara telekomunikasi menurun dari 14 unit pada tahun 2023 menjadi 4 unit pada tahun 2024. Temuan ini menunjukkan bahwa ketimpangan infrastruktur dipengaruhi oleh topografi, kepadatan penduduk, aksesibilitas, dan konsentrasi aktivitas ekonomi.
The maritime industry faces pressure to achieve net–zero emissions by 2050, with offshore renewable energy systems constrained by single–source dependencies and static positioning. This study proposes the Wind–Rain Synergy System (WRSS), a dynamically positioned floating platform that simultaneously harvests wind energy and rainwater via predictive atmospheric analysis. Three integrated novelties define the system: (1) multi–source harvesting combining wind turbines with triboelectric rain collectors, (2) a predictive positioning algorithm using GPM IMERG (0.1° × 0.1°, half–hourly) and ERA5 data, and (3) autonomous dynamic positioning within a 2–km radius. Machine learning ensemble models trained on 26 years of Indonesian maritime meteorological data predict optimal harvesting positions 6–12 hours ahead. Ten–year simulations demonstrate 45–60% higher energy output than conventional fixed–position platforms, with up to 200 W/m² during atmospheric river events at wind speeds of 12–18 m/s and rainfall of 5–15 mm/h. Prediction accuracy reached 87%. Economic analysis shows 25–35% LCOE reduction and an 18–month shorter payback period versus traditional offshore wind installations. WRSS offers a viable pathway for adaptive multi–source offshore energy generation in tropical maritime regions. ABSTRAK Industri maritim menghadapi tekanan untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050, dengan sistem energi terbarukan lepas pantai yang terbatas oleh ketergantungan sumber tunggal dan positioning statis. Penelitian ini menyajikan Wind–Rain Synergy System (WRSS), platform terapung berposisi dinamis yang memanen energi angin dan air hujan secara bersamaan melalui analisis atmosfer prediktif. Tiga komponen utama mendefinisikan novelti sistem: (1) pemanenan energi multi–sumber menggabungkan turbin angin dengan kolektor hujan triboelektrik, (2) algoritma positioning prediktif menggunakan data GPM IMERG (0,1° × 0,1°, setengah jam) dan ERA5, serta (3) positioning dinamis otonom dalam radius 2 km. Model ensemble machine learning dilatih pada 26 tahun data meteorologi maritim Indonesia untuk memprediksi posisi panen optimal 6–12 jam ke depan. Simulasi 10 tahun menunjukkan output energi 45–60% lebih tinggi dari platform posisi tetap konvensional, dengan hingga 200 W/m² saat peristiwa atmospheric river pada kecepatan angin 12–18 m/s dan curah hujan 5–15 mm/h. Akurasi prediksi mencapai 87%. Analisis ekonomi menunjukkan pengurangan LCOE 25–35% dan periode pengembalian modal 18 bulan lebih singkat. WRSS menawarkan jalur yang layak untuk pembangkitan energi lepas pantai adaptif multi–sumber di kawasan maritim tropis.
This study aims to compare the compressive strength and cracking patterns of three types of bricks: Sepablock, lightweight brick, and H-Brick. The method used was a comparative experimental approach through laboratory compressive testing on 15 cube specimens measuring 5 cm x 5 cm x 5 cm. Crack patterns were observed visually and documented throughout the loading process. The results show that Sepablock, representing dense concrete materials, has the highest average compressive strength of 12.32 MPa, although several specimens exhibited considerable variation in strength values due to differences in internal density and crack propagation mechanisms. The cracking pattern of Sepablock was dominated by controlled vertical and diagonal cracks. Lightweight brick, representing highly porous materials, showed the lowest compressive strength of 1.05 MPa, with failure dominated by crushing and spalling. Meanwhile, H-Brick, as a medium-density material, demonstrated moderate compressive strength of 2.78 MPa with a combination of splitting cracks and localized damage. The study concludes that, in addition to compressive strength, crack patterns are an important parameter in understanding the failure mechanisms of brick materials and should therefore be considered in the evaluation and selection of construction materials. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kuat tekan dan pola keretakan tiga jenis bata, yaitu Sepablock, bata ringan, dan H-Brick. Metode yang digunakan adalah eksperimen komparatif melalui uji tekan laboratorium terhadap 15 benda uji berbentuk kubus berukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm. Pengamatan pola keretakan dilakukan secara visual dan didokumentasikan selama proses pembebanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sepablock, sebagai representasi material beton padat, memiliki kuat tekan rata-rata tertinggi sebesar 12,32 MPa, meskipun beberapa sampel menunjukkan variasi nilai yang cukup besar akibat perbedaan kepadatan internal dan mekanisme propagasi retak. Pola keretakan Sepablock didominasi retak vertikal dan diagonal yang relatif terkendali. Bata ringan, yang mewakili material berpori tinggi, memiliki kuat tekan terendah sebesar 1,05 MPa dengan kerusakan dominan berupa crushing dan spalling. Sementara itu, H-Brick, sebagai material dengan kepadatan menengah, menunjukkan kuat tekan sebesar 2,78 MPa dengan pola retak kombinasi antara splitting dan kerusakan lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa selain kuat tekan, pola keretakan merupakan parameter penting dalam memahami mekanisme kegagalan material bata sehingga perlu dipertimbangkan dalam evaluasi dan pemilihan material konstruksi.
This study examines the persistence and transformation of female-related behavioral taboos in Kradenan Village, Trucuk District, Klaten Regency, with particular attention to how these prohibitions regulate women’s bodies, mobility, and domestic roles. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation and interviews with women from different age groups to identify the forms, meanings, and functions of tabooed actions. The findings reveal six dominant taboos imposed on women: refraining from washing hair during menstruation, avoiding going outside at Maghrib prayer time, not combing their hair at night, avoiding mirrors at night, prohibitions against eating using cracked plates, and refraining from sweeping at night. These taboos are still strongly adhered to by older generations as a means of preserving moral order and femininity, while younger women increasingly display resistance due to modern educational and cultural exposures. The study concludes that these taboos function as symbolic tools of social control that reinforce gendered expectations and cultural identity, yet are simultaneously undergoing negotiation and reinterpretation in contemporary society. The implications of this study highlight howtraditional norms persist alon gside shifting cultural values, offering a nuanced understanding of the dynamics between gender, belief systems, and cultural change in rural Kradenan, Trucuk, Klaten. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji keberlangsungan dan perubahan tabu tindakan yang dilekatkan pada perempuan di Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, dengan fokus pada bagaimana larangan tersebut mengatur tubuh, mobilitas, dan peran domestik perempuan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi dan wawancara lintas generasi untuk mengidentifikasi bentuk, makna, dan fungsi tabu tindakan. Hasil penelitian menunjukkan enam tabu utama yang dikenakan pada perempuan, yaitu larangan keramas saat haid, larangan keluar rumah ketika azan Magrib, larangan menyisir rambut pada malam hari, larangan bercermin pada malam hari, larangan makan menggunakan piring yang retak, dan larangan menyapu pada malam hari. Tabu tindakan tersebut masih dipatuhi oleh kelompok perempuan berusia lanjut sebagai upaya menjaga ketertiban moral dan citra kesopanan, sedangkan generasi muda mulai menunjukkan resistensi akibat pengaruh pendidikan dan modernitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tabu berfungsi sebagai alat kontrol sosial simbolik yang mereproduksi ideologi gender, namun kini berada dalam proses negosiasi makna seiring perubahan nilai budaya. Temuan ini memberikan pemahaman mengenai dinamika antara budaya tradisional, perempuan, dan perubahan sosial dalam masyarakat di Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.
Nutritional status and body composition are important factors that affect the health and performance of athletes both in training and competition. Athletes with optimal nutritional status tend to have better endurance, strength, and recovery. Therefore, monitoring the nutritional status of athletes is important, especially in preparation for major activities such as the National Sports Week (PON). This study aims to find out the Nutritional Status Profile of DKI Jakarta Athletes at the XXI Aceh – North Sumatra National Sports Week. The research was conducted at the KONI DKI Jakarta Building and athletes' training ground during September 2024, using a quantitative descriptive approach and survey method with Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) instruments. The results of the study on 205 athletes showed that the majority were in the category of normal BMI. However, there are significant variations in body composition that are influenced by gender and type of exercise. Male martial artists have the most optimal profile, with high muscle mass and low body fat. In contrast, female athletes in sports have a relatively high percentage of body fat and low muscle mass. This data indicates that the use of BMI as a single indicator is not sufficiently representative, so additional measurements of more specific body composition are needed. These findings are an important basis for the development of evidence-based athlete development strategies, with specific approaches according to the characteristics of each sport. The use of the BIA method provides convenience in practical mass assessment, but it is still recommended in combination with other methods for validation of results. The conclusions of this study confirm the importance of integrated nutrition and exercise interventions, as well as regular monitoring of body composition to support athletes' performance towards national competitions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil status gizi dan komposisi tubuh atlet DKI Jakarta dalam persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumatera Utara. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei terhadap 205 atlet Pelatda DKI Jakarta yang diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Variabel yang dianalisis meliputi indeks massa tubuh (IMT), persentase lemak tubuh, dan massa otot. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata IMT atlet berada pada kategori normal (22,17 ± 3,11 kg/m²), namun terdapat variasi komposisi tubuh berdasarkan cabang olahraga dan jenis kelamin. Atlet beladiri laki-laki memiliki profil paling optimal dengan lemak tubuh rendah (15,15 ± 4,71%) dan massa otot tinggi (35,83 ± 1,93%), sedangkan atlet perempuan pada cabang permainan memiliki lemak tubuh lebih tinggi (25,69 ± 4,25%) dan massa otot lebih rendah (28,53 ± 1,97%). Temuan ini menunjukkan bahwa IMT tidak cukup merepresentasikan kondisi fisik atlet secara komprehensif sehingga diperlukan analisis komposisi tubuh berbasis cabang olahraga untuk mendukung evaluasi status gizi dan peningkatan performa atlet.
This study examines language taboo in Pontianak Malay by analyzing the changes in meaning and usage of taboo expressions within their social context. The research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through interviews with a native speaker. The findings identify several categories of taboo expressions present in the data, particularly those related to profanity and politeness in everyday interaction. The results indicate that the use of taboo language is influenced by social context, speaker relationships, and prevailing norms of politeness. In addition, some taboo expressions show a tendency of semantic change, reflecting the dynamic nature of language use within the speech community. This study contributes to a better understanding of the relationship between language and social values in Malay-speaking communities, especially in the context of taboo language usage. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tabu bahasa dalam bahasa Melayu Pontianak dengan menelaah perubahan makna dan penggunaan ungkapan tabu dalam konteks sosial. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data yang diperoleh melalui wawancara dengan penutur asli. Pada penelitian ini, ditemukan beberapa kategori tabu yang muncul dalam data, seperti makian dan ungkapan yang berkaitan dengan kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tabu bahasa dipengaruhi oleh konteks sosial, relasi antarpenutur, serta nilai kesopanan yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, terdapat kecenderungan perubahan makna pada beberapa leksikon tabu yang menunjukkan dinamika penggunaan bahasa dalam lingkungan penutur. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman mengenai hubungan antara bahasa dan nilai sosial dalam masyarakat Melayu, khususnya dalam konteks penggunaan tabu bahasa.
This study aims to describe the use of the prefix N- in colloquial Indonesian on social media from amorphological perspective. In standard Indonesian, the prefix N- functions to form action verbs throughthe allomorph meN-, meng-, meny-, and men-. However, in colloquial language, this prefix undergoeschanges in morphophonemic patterns as well as shifts in semantic categories. The data were collected usingobservation and note-taking techniques from social media posts and comments that contain the use of theprefix N-. The analysis was conducted using the distributional method with the Immediate Constituent Analysis (ICA) technique. The findings show that the prefix N- is realized in the forms Ng-, Ny-, and Nge- without consistently following standard morphophonemic rules. In addition, N- no longer formsaction verbs but instead produces expressive predicates that indicate intensity of properties, visual qualities,or resemblance, as seen in forms such as nganjing, nyandu, and ngevisual. This indicates the presence ofproductive morphological innovation in modern colloquial Indonesian. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan prefiks N- dalam bahasa gaul di media sosial dari perspektif morfologi. Prefiks N- pada bahasa Indonesia baku berfungsi membentuk verba aksi melalui alomorf meN-, meng-, meny-, dan men-. Akan tetapi, dalam bahasa gaul, prefiks ini mengalami perubahan pola morfofonemis serta pergeseran kategori makna. Data penelitian diperoleh melalui teknik simak dan catat terhadap unggahan serta komentar di media sosial yang memuat penggunaan prefiks N-. Analisis dilakukan menggunakan metode agih dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefiks N- direalisasikan dalam bentuk Ng-, Ny-, dan Nge- tanpa selalu mengikuti kaidah morfofonemis baku. Selain itu, prefiks N- tidak lagi membentuk verba aksi, tetapi menghasilkan predikat ekspresif yang menandai intensitas sifat, kualitas visual, atau kemiripan, seperti pada bentuk nganjing, nyandu, dan ngevisual. Hal ini menunjukkan adanya inovasi morfologis yang produktif dalam bahasa gaul modern.
This research addresses the stigmatization of grieving women, whose emotional expressions are often misunderstood. It explores the shifting meanings of tear symbols as nonverbal communication in the film Keajaiban Air Mata Wanita. Within a social constructionist perspective, tears are understood as complex emotional symbols constructed through dynamic social interactions rather than mere biological responses. Utilizing George Herbert Mead's Symbolic Interactionism theory, this study dissects the identity formation (self) of the main character, Kiki, influenced by the dialectics between mind, self, and society. This qualitative study employs an interpretative paradigm, analyzing the film's narratives, dialogues, and character gestures. Results indicate that tear meanings transform across three identity evolution phases: (1) the phase of helplessness, where tears symbolize identity collapse due to negative social judgment (Me); (2) the phase of self-reflection, where tears become a medium of acceptance mediated by significant others and reflexivity; and (3) the phase of self-legitimation, where tears transform into symbols of grace marking spiritual independence. These findings confirm that tears function as significant symbols reflecting the negotiation between spontaneous response (I) and social expectations (generalized other). Theoretically, this research strengthens nonverbal symbol studies in communication science, while practically emphasizing the importance of reflective space and social support for post-trauma identity reconstruction. ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari fenomena stigmatisasi terhadap perempuan yang mengalami duka, di mana ekspresi emosional sering kali disalahpahami oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pergeseran makna simbol air mata sebagai bentuk komunikasi nonverbal dalam film Keajaiban Air Mata Wanita. Dalam perspektif konstruksionisme sosial, air mata dipahami sebagai simbol emosional kompleks yang maknanya tidak bersifat tunggal atau biologis semata, melainkan dikonstruksi melalui interaksi sosial yang dinamis. Dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead, penelitian ini membedah proses pembentukan identitas (self) tokoh utama bernama Kiki yang dipengaruhi oleh dialektika antara pikiran (mind), diri (self), dan masyarakat (society). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan paradigma interpretatif melalui teknik analisis tekstual terhadap narasi, dialog, dan gestur tokoh dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna air mata mengalami transformasi dalam tiga fase evolusi identitas: (1) fase ketidakberdayaan, di mana air mata menjadi simbol keruntuhan identitas akibat dominasi penilaian negatif masyarakat (Me); (2) fase refleksi diri, di mana air mata menjadi media penerimaan yang dimediasi oleh dukungan significant other dan proses refleksivitas; serta (3) fase legitimasi diri, di mana air mata bertransformasi menjadi simbol anugerah yang menandai kemandirian spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa air mata berfungsi sebagai significant symbol yang merefleksikan negosiasi antara respons spontan individu (I) dan tekanan ekspektasi sosial (generalized other). Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada penguatan kajian simbol nonverbal dalam ilmu komunikasi, sementara secara praktis menekankan pentingnya ruang reflektif dan dukungan sosial bagi rekonstruksi identitas perempuan pascatrauma.
21st-century science education demands the mastery of scientific literacy to solve global issues. However, the scientific literacy achievement of Indonesian students remains relatively low due to the dominance of conventional teaching that lacks the stimulation of critical reasoning, particularly in contextual subjects such as Renewable Energy. This study aims to develop and evaluate the feasibility, practicality, and effectiveness of an interactive PowerPoint (PPT) media based on Problem-Based Learning (PBL) as an e-learning instrument solution. This study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) instructional design. The research subjects involved Grade X students divided into experimental and control groups. Data were collected using expert validation questionnaires, student response questionnaires, and scientific literacy tests (pre-test and post-test). Product evaluation by experts indicated a "Very Feasible" criterion with average validity scores for matter at 90.30%, language at 88.16%, and media at 91.60%. Classroom implementation yielded a practicality rate of 93.90% (Very Practical). Effectiveness testing using N-Gain analysis demonstrated that the experimental group (0.64) outperformed the control group (0.41). The statistical t-test results is 7.6439 that is <0.05 confirmed a significant difference in improvement. It is concluded that the integration of the PBL syntax into the non-linear navigation of an interactive PPT is a very feasible, practical, and effective instructional medium to boost the scientific literacy competencies of high school students. AbstrakPendidikan sains abad ke-21 menuntut penguasaan literasi sains untuk memecahkan isu global. Namun, terdapat celah penelitian yakni alat instruksional yang ada saat ini seringkali gagal menghubungkan konsep fisika teoritis dengan krisis energi di dunia nyata sehingga penalaran kritis siswa tidak terstimulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan serta menguji kelayakan, kepraktisan, dan keefektifan media PowerPoint (PPT) interaktif berbasis Problem-Based Learning(PBL) sebagai solusi instrumen e-learning. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan desain instruksional ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate). Subjek penelitian melibatkan siswa kelas X yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner validasi ahli, angket respons siswa, dan tes literasi sains (pre-test dan post-test). Hasil pengujian produk oleh ahli menunjukkan kriteria “Sangat Layak” dengan skor rata-rata kevalidan materi sebesar 90,30%, bahasa 88,16%, dan media 91,60%. Implementasi di kelas menghasilkan tingkat kepraktisan 93,90% (Sangat Praktis). Uji keefektifan menggunakan analisis N-Gain membuktikan bahwa kelompok eksperimen (0,64) unggul atas kelompok kontrol (0,41). Hasil uji statistik t-test = 7,6439 dimana p < 0,05) menegaskan adanya perbedaan peningkatan yang signifikan. Disimpulkan bahwa integrasi sintaks PBL ke dalam navigasi non-linier PPT interaktif merupakan media pembelajaran yang valid, praktis, dan sangat efektif dalam mendongkrak kompetensi literasi sains siswa SMA.
This research aims to examine the role of teachers as innovative facilitators in increasing students' learning focus, particularly at the junior high school level, who often face concentration challenges due to conventional methods. Specifically, this study bridges the gap of previous research that tended to focus on technology by examining simple, activity-based, independent forms of innovation. The study uses a descriptive qualitative method with an ethnographic approach, involving three female teachers and ten students at Women's Islamic Boarding School in Ngawi. Data collection was carried out through participant observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model. The results indicate that teacher innovation through language game ice breaking activities, mini board games, and a dialogical-collaborative approach successfully increased the average student learning focus level from 55.75% to 86.75%. The most significant increase occurred in the aspect of involvement in discussions, rising by 36%. The novelty of this research lies in confirming that teacher innovation does not have to depend on digital technology, but rather rests on contextual and adaptive pedagogical creativity, which is effective in building a participatory learning culture and strengthening the relevance of constructivism, progressivism, and intrinsic motivation theories in the pesantren context. Abstrak Penelitian ini bertujuan menguji peran guru sebagai fasilitator inovatif dalam meningkatkan fokus belajar siswa, khususnya di tingkat SMP, yang sering menghadapi tantangan konsentrasi akibat metode konvensional. Secara spesifik, penelitian ini menjembatani kesenjangan kajian terdahulu yang cenderung berfokus pada teknologi dengan menelaah bentuk inovasi sederhana berbasis aktivitas yang menarik dan mandiri. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis, melibatkan dua ustadzah dan sepuluh santriwati Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Putri Kabupaten Ngawi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi guru melalui aktivitas ice breaking permainan bahasa, mini board game, dan pendekatan dialogis-kolaboratif berhasil meningkatkan rata-rata tingkat fokus belajar siswa dari 55.75% menjadi 86.75%. Peningkatan paling signifikan terjadi pada aspek keterlibatan dalam diskusi sebesar 36%. Novelty penelitian ini terletak pada penegasan bahwa inovasi guru tidak harus bergantung pada teknologi digital, melainkan bertumpu pada kreativitas pedagogik yang kontekstual dan adaptif, sehingga efektif membangun budaya belajar partisipatif dan memperkuat relevansi teori konstruktivisme, progresivisme, dan motivasi intrinsik dalam konteks pesantren.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk-bentuk tabu perbuatan yang masih diyakini dan dipraktikkan oleh masyarakat Karanganyar, Jawa Tengah. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan linguistik historis komparatif. Penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan adanya sembilan bentuk tabu perbuatan yang beragam, mulai dari larangan memasak sayur bening saat ada kematian hingga larangan menggunakan cobek sebagai alas makan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tabu-tabu ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sosial, tetapi juga mencerminkan sistem kepercayaan yang kompleks dan dinamis. Faktor-faktor yang melatarbelakangi keberadaan tabu ini meliputi keyakinan spiritual, nilai-nilai adat istiadat, dan norma sosial yang telah tertanam dalam masyarakat Karanganyar. Tabu-tabu tersebut juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat identitas kelompok, mentransmisikan nilai-nilai moral, dan memberikan penjelasan tentang fenomena alam yang tidak dapat dipahami secara rasional. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting tentang hubungan antara bahasa, budaya, dan kognisi, serta memiliki implikasi bagi upaya pelestarian warisan budaya tak benda.
Oil palm is a strategic commodity for Indonesia, contributing up to 56% of global Crude Palm Oil (CPO) exports since 2020. However, Basal Stem Rot (BSR) disease caused by Ganoderma boninense remains a major threat, with potential economic losses estimated at USD 50–350 million annually. The synthetic fungicide hexaconazole has long been applied for control, but it poses risks of soil toxicity and disruption of the nitrogen cycle. This study aimed to evaluate the potential of curcumin as a natural fungicidal agent through an in silico approach. Three target enzymes, namely laccase, manganese peroxidase, and lignin peroxidase, were analyzed using molecular docking. Protein structures were retrieved from RCSB PDB, while the curcumin ligand was obtained from PubChem. Molecular preparation was performed with BIOVIA Discovery Studio, docking with PyRx, and visualization with PyMOL. Results showed binding affinities of −6.53, −9.17, and −9.00 kcal/mol, respectively, with valid RMSD values (lower <2; upper <5), indicating stable interactions at the protein active sites. These findings suggest that curcumin has strong potential as an eco-friendly inhibitor of G. boninense and may serve as a natural alternative to hexaconazole for BSR management in oil palm. ABSTRAK Kelapa sawit merupakan komoditas strategis Indonesia yang sejak 2020 mendominasi 56% ekspor global Crude Palm Oil (CPO). Namun, penyakit Basal Stem Rot (BSR) akibat infeksi Ganoderma boninense masih menjadi ancaman utama dengan potensi kerugian 50–350 juta USD per tahun. Fungisida sintetis hexaconazole telah lama digunakan, tetapi berisiko menimbulkan toksisitas tanah dan mengganggu siklus nitrogen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi kurkumin sebagai agen fungisida alami melalui pendekatan in silico. Tiga enzim target, yaitu lakase, mangan peroksidase, dan lignin peroksidase, dianalisis menggunakan metode molecular docking dengan struktur protein dari RCSB PDB dan ligan kurkumin dari PubChem. Preparasi molekul dilakukan dengan BIOVIA Discovery Studio, penambatan menggunakan PyRx, sedangkan hasil visualisasi dianalisis melalui PyMOL. Hasil menunjukkan binding affinity kurkumin masing-masing sebesar −6,53; −9,17; dan −9,00 kkal/mol dengan nilai RMSD valid (lower <2; upper <5), yang mengindikasikan ikatan stabil pada sisi aktif protein. Dengan demikian, kurkumin terbukti berpotensi sebagai inhibitor G. boninense yang ramah lingkungan dan dapat menjadi alternatif pengganti hexaconazole untuk pengendalian BSR pada kelapa sawit.
Mathematics is one of the compulsory subjects for junior high school students. However, mathematics is often considered difficult to understand due to the large number of formulas, abstract material, and uninteresting presentation. As a result, students' interest in mathematics has declined due to the lack of effective learning media. Based on a needs analysis using Google Forms among seventh-grade students at SMPN 232 Jakarta, it was found that 71.2% of students considered mathematics difficult, particularly in the area of spatial geometry, which received the highest ranking. Additionally, 78.8% of students stated that their low understanding of mathematics was due to the large number of formulas and the lack of appeal of the learning media used. To address these issues, the use of engaging learning media is crucial. Therefore, the purpose of this study is to develop Mathylogic, an educational website-based learning media on spatial geometry for seventh-grade students. The website development applied the Research and Development method with the ADDIE model (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The website was validated through content and media experts testing. Based on the results of the validation test by experts, the average score obtained for Mathylogic was 90%, indicating that this website is very suitable for use. Based on the results of user trials with seventh-grade students at SMPN 232 Jakarta, the data obtained was 89%, indicating that the Mathylogic website is very suitable for use as an independent learning. Abstrak Matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib untuk siswa jenjang SMP. Namun, seringkali matematika dianggap sulit dipahami karena banyaknya rumus, materi yang bersifat abstrak, dan penyajiannya yang kurang menarik. Oleh karena itu, minat siswa terhadap Matematika pun menurun disebabkan minimnya media pembelajaran yang efektif. Berdasarkan pada analisis kebutuhan menggunakan Google Form kepada siswa kelas VII SMPN 232 Jakarta, ditemukan bahwa sebanyak 71,2% siswa menganggap Matematika sulit, terutama pada materi bangun ruang yang mendapat peringkat tertinggi. Kemudian, sebanyak 78,8% siswa menyatakan bahwa rendahnya pemahaman Matematika disebabkan oleh banyaknya rumus dan kurangnya daya tarik terhadap media pembelajaran yang digunakan. Solusi dalam menghadapi permasalahan tersebut, penggunaan media pembelajaran yang menarik menjadi penting. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan Mathylogic, media pembelajaran berbasis website edukatif pada materi bangun ruang untuk siswa kelas VII. Pengembangan website ini menerapkan metode Research and Development dengan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Website yang dikembangkan telah divalidasi melalui uji ahli materi dan media. Berdasarkan hasil uji validasi oleh para ahli, rata-rata yang didapatkan untuk Mathylogic adalah sebesar 90% yang menunjukkan website ini sangat layak digunakan. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan skala Likert. Kemudian, berdasarkan hasil uji coba pengguna kepada siswa kelas VII SMPN 232 Jakarta, data yang diperoleh adalah sebesar 89% yang menunjukkan bahwa website Mathylogic sangat layak digunakan sebagai platform pembelajaran mandiri bagi peserta didik untuk memahami dan berlatih pelajaran matematika tentang bangun ruang.
Polyethylene terephthalate (PET) is one of the most prevalent pollutants in the environment. Various degradation methods have been developed; however, most still result in carbon emissions. This study aims to investigate the potential of landfill soil microorganisms to degrade PET through the Winogradsky column system. The research was conducted experimentally using a quantitative approach with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of one factor, namely variations in the composition of MSM medium (mL) and landfill soil (grams) at four treatment levels: C0 (control), C1 (600:400), C2 (500:500), and C3 (400:600), each with four replications. The degradation level was analyzed based on plastic mass reduction and chemical structural changes using FTIR, while the data were statistically tested using ANOVA and Tukey HSD. The results showed that treatment C2 produced the highest mass reduction of 0.196% after 60 days, whereas FTIR analysis revealed the most significant degradation in C1, indicated by a C–O/C–H ratio of 2.85, an increase in the peak area of C–O–C at 1240 cm⁻¹ (521.417) and 1095 cm⁻¹ (457.887), as well as the appearance of a new peak at approximately 1457 cm⁻¹ (57.739). ANOVA indicated no significant differences among treatments (p > 0.05). Morphological observations showed that bacterial isolates were dominated by Gram-positive bacilli and chain cocci, consistent with polymer-degrading soil bacteria. The absence of mass reduction in the control (C0) further confirmed the role of microbes in the degradation process. Variations in MSM and soil composition affected microbial diversity and growth rates, thereby influencing PET degradation levels. Thus, this study demonstrates that landfill soil microorganisms possess the potential to degrade PET, with effectiveness influenced by the composition of the Winogradsky column. ABSTRAK Polyethylene terephthalate merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak mencemari lingkungan. Berbagai metode degradasi telah dikembangkan, namun sebagian besar masih menghasilkan emisi karbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi mikroorganisme tanah tempat pembuangan akhir (TPA) dalam mendegradasi PET melalui sistem kolom Winogradsky. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu variasi komposisi media MSM (mL) dan tanah TPA (gram) dengan empat taraf perlakuan: C0 (kontrol), C1 (600:400), C2 (500:500), dan C3 (400:600), masing-masing empat ulangan. Tingkat degradasi dianalisis berdasarkan penurunan massa plastik dan perubahan struktur kimia menggunakan FTIR, sedangkan data dianalisis dengan ANOVA dan uji Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan C2 memberikan penurunan massa terbesar sebesar 0,196% setelah 60 hari, sementara analisis FTIR memperlihatkan degradasi paling signifikan pada C1 yang ditunjukkan oleh rasio C–O/C–H sebesar 2,85, peningkatan area puncak C–O–C pada 1240 cm⁻¹ (521,417) dan 1095 cm⁻¹ (457,887), serta munculnya puncak baru pada sekitar 1457 cm⁻¹ (57,739). Uji ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antarperlakuan (p > 0,05). Secara morfologis, isolat bakteri didominasi oleh basil dan kokus berantai Gram positif yang konsisten dengan bakteri tanah pendegradasi polimer. Fakta bahwa kontrol (C0) tidak mengalami penurunan massa menegaskan peran mikroba dalam proses degradasi. Variasi komposisi MSM dan tanah berpengaruh terhadap keragaman dan laju pertumbuhan bakteri sehingga memengaruhi tingkat degradasi PET. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa mikroorganisme tanah TPA berpotensi mendegradasi PET dengan efektivitas yang dipengaruhi oleh komposisi kolom Winogradsky.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi elemen utama dalam mengembangkan kualitas pendidikan, terutama di sekolah berbasis keagamaan seperti SDIT Al-Muchtar. Riset ini didesain untuk mengkaji langkah strategis pengembangan tenaga kerja, guna mendukung optimalisasi kualitas pembelajaran di sekolah. Riset ini memanfaatkan metode kualitatif melalui library research dan wawancara mendalam. Sumber informasi primer diperoleh dari wawancara dengan kepala sekolah, adapun informasi sekunder dari buku, jurnal, dan penelitian relevan. Seluruh informasi yang didapat akan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup pengumpulan informasi, reduksi informasi, dan penyajian informasi. Riset ini menunjukkan SDIT Al-Muchtar menerapkan strategi pengembangan SDM berbasis pelatihan sesuai kebutuhan, integrasi teknologi dalam pembelajaran, dan pendekatan coaching untuk meningkatkan kapasitas individu guru. Meskipun terdapat tantangan seperti motivasi guru yang rendah dan keterbatasan waktu pelatihan, langkah-langkah seperti pemberian apresiasi dan penjadwalan ulang terbukti efektif dalam mengatasinya. Kesimpulannya, keberhasilan pengembangan SDM di SDIT Al-Muchtar didukung oleh perpaduan nilai-nilai Islami dengan teknologi modern. Pendekatan ini dapat mengembangkan kompetensi dan kinerja guru, juga membangun ekosistem belajar yang adaptif dan berkelanjutan, sehingga mendukung tercapainya visi dan misi sekolah.
The application of Artificial Intelligence (AI) based technology in the field of taxation has significantly transformed the way tax consultants serve their clients. AI offers efficiency through the automation of various processes, such as tax reporting, financial information analysis, and detection of potential tax evasion. However, the implementation of AI also raises questions about the future of tax consulting careers, particularly concerning the shift of technical responsibilities and the declining demand for conventional consulting services. This article aims to explore in depth the dual nature of AI as a technological innovation and as a potential challenge to the tax consulting profession. The research employs a qualitative method with a descriptive approach by reviewing recent literature from both national and international sources. The findings reveal that AI has the potential to enhance service quality and transparency in taxation systems, yet it also demands new skill adaptations from tax consultants. Furthermore, there is an urgent need to update tax regulations governing the use of AI, data protection, and legal certainty surrounding algorithm based services. This study recommends synergy among regulators, practitioners, and educational institutions to design policies that balance innovation advancement with the sustainability of the profession. ABSTRAK Pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) di bidang perpajakan telah membawa perubahan signifikan pada bagaimana konsultan pajak melayani klien mereka. Kehadiran AI menawarkan kemudahan melalui otomatisasi berbagai tahapan, misalnya dalam penyusunan pelaporan pajak, analisis informasi finansial, dan deteksi potensi pengelakan pajak. Namun, implementasi AI juga memunculkan pertanyaan tentang prospek karier konsultan pajak di masa depan, khususnya terkait peralihan tanggung jawab teknis karena adanya otomatisasi dan menurunnya permintaan terhadap layanan konsultasi konvensional. Artikel ini berupaya mengulas secara mendalam dua sisi dari AI, yaitu sebagai inovasi teknologi dan juga sebagai potensi tantangan bagi profesi konsultan pajak. Metode penelitian yang diterapkan adalah studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui kajian literatur terbaru dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa AI berpotensi meningkatkan mutu pelayanan dan transparansi dalam sistem perpajakan, namun juga menuntut adanya adaptasi keterampilan yang harus dikuasai oleh para konsultan pajak. Selain itu, sangat mendesak untuk melakukan pembaruan regulasi perpajakan yang mengatur pemakaian AI, perlindungan data, serta kepastian hukum terkait layanan yang didasarkan pada algoritma. Kajian ini menyarankan adanya sinergi antara pihak regulator, praktisi, dan institusi pendidikan untuk merancang kebijakan yang menyeimbangkan antara kemajuan inovasi dan perlindungan terhadap keberlangsungan profesi.