
Pendahuluan: Diabetes melitus gestasional (DMG) merupakan suatu keadaan intoleransi glukosa pada ibu hamil yang sebelumnya belum pernah didiagnosis menderita diabetes melitus sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah selama kehamilan.Terapi non farmakologi untuk mengatasi DMG dengan senam hamil dan aromaterapi lemon. Metode: Jenis penelitian pra experimental design dengan desain penelitian pre test and post test one group. Populasi penelitian ibu hamil trimester dengan kadar gula darah >140 mg/dL berjumlah 20 orang dengan Teknik pengambilan sampel total sampling. Senam hamil dan aromaterapi lemon dilakukan selama 4 minggu dengan durasi ± 30. Uji statistik paired t-test dengan signifikasi p < 0,05. Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,000 (p
Pendahuluan: Keberhasilan usaha untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan ibu dapat dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI). Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan dan infeksi, yang sering kali terjadi karena anemia. Anemia pada ibu hamil memiliki dampak kesehatan terhadap ibu dan anak. Tujuan penelitian mengetahui gambaran kejadian anemia pada ibu hamil. Jenis penelitian deskriptif. Metode: Penelitian ini desain cross sectional. Populasi penelitian ibu hamil anemia di Puskesmas Curup Timur Tahun 2024 berjumlah 51 orang dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Pengambilan data menggunakan data sekunder dari register dan laporan Puskesmas. Instrumen yang digunakan berupa check list. Teknik analsisi data menggunakan analisis univariat menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden (74,5%) mengalami anemia ringan, sebagian besar responden (56,9%) dalam kategori usia berisiko (
Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan global yang banyak dialami oleh remaja putri. World Health Organization (2025) melaporkan lebih dari 500 juta perempuan usia reproduktif di seluruh dunia mengalami anemia, dengan prevalensi sebesar 32% pada remaja Indonesia usia 15–24 tahun. Rendahnya pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait pencegahan anemia menjadi faktor penyebab utama masalah ini. Di Provinsi Bengkulu, anemia menyumbang 33,16% dari komplikasi obstetri, dan SMKN 3 Kota Bengkulu memiliki jumlah kasus anemia remaja tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja putri terkait anemia di SMKN 3 Kota Bengkulu. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswi kelas X di SMKN 3 Kota Bengkulu dengan sampel sebanyak 64 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, mencakup aspek pengetahuan, sikap, perilaku, sumber informasi, lingkungan sekolah, dan dukungan keluarga terkait anemia. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran masing-masing variabel. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (59,4%) memiliki pengetahuan kurang tentang anemia, 31,3% pengetahuan cukup, dan 9,4% pengetahuan baik. Sikap terhadap pencegahan anemia cenderung positif, dengan 56,3% responden menunjukkan sikap mendukung. Namun, perilaku pencegahan anemia masih kurang, dengan 82,8% responden memiliki perilaku negatif seperti pola makan tidak sehat. Selain itu, 84,4% responden tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai anemia, serta tidak terdapat dukungan sekolah dalam upaya pencegahan anemia. Dukungan keluarga juga masih terbatas, dengan hanya 37,5% responden yang mendapatkan dukungan dalam menjaga pola makan sehat. Kesimpulan: Pengetahuan dan perilaku remaja putri terkait anemia masih tergolong rendah meskipun sikap sudah cukup baik. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan di lingkungan sekolah dan keluarga untuk meningkatkan pengetahuan serta mendorong perubahan perilaku dalam pencegahan anemia.
Pendahuluan: Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis akibat kontraksi uterus, dilatasi, dan penipisan serviks. Salah satu metode nonfarmakologis untuk membantu mengurangi nyeri persalinan adalah penggunaan birth ball. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang penggunaan birth ball berpengaruh terhadap kesiapan ibu menghadapi persalinan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang penggunaan birth ball dalam mengurangi nyeri persalinan di Puskesmas Wilayah Pesisir Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan analisis univariat. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil trimester III dengan teknik total sampling sebanyak 108 responden. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 20–35 tahun sebanyak 95 orang (88%), berpendidikan SMA/sederajat sebanyak 51 orang (47,2%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 89 orang (82,4%). Tingkat pengetahuan responden tentang penggunaan birth ball sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 75 orang (69,4%), kategori cukup 23 orang (21,3%), dan kategori kurang 10 orang (9,3%). Simpulan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil trimester III memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penggunaan birth ball dalam mengurangi nyeri persalinan, namun edukasi dan penyuluhan oleh tenaga kesehatan tetap perlu ditingkatkan agar pengetahuan ibu hamil lebih merata.
Pendahuluan: Ketidaknyamanan merupakan kondisi yang sering dialami ibu sejak kehamilan hingga masa nifas akibat perubahan fisiologis dan psikologis. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kesiapan persalinan dan proses pemulihan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care (CoC) yang dilakukan pada Ny. C G3P2A0 di TPMB Loly Novriza Yanti Kota Bengkulu pada November–Desember 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta dokumentasi SOAP. Hasil dan Pembahasan: Hasil menunjukkan adanya penurunan ketidaknyamanan pada setiap tahap. Pada trimester III, nyeri punggung menurun dari skala 4 menjadi 2. Saat persalinan, nyeri menurun dari 8 menjadi 6 melalui teknik relaksasi, counterpressure, dan gymball. Pada masa nifas, ketidaknyamanan menurun dari skala 3 menjadi 0 melalui massage effleurage dan perawatan perineum. Kesimpulan: Asuhan kebidanan berkelanjutan efektif dalam menurunkan ketidaknyamanan ibu serta meningkatkan kesiapan dan kesejahteraan ibu dan bayi.
Pendahuluan: Anemia keadaan dimana saat jumlah sel darah merah atau jumlah Hemoglobin (Hb) dibawah normal, sel darah merah berfungsi menyebarkan oksigen ke seluruh tubuh. Masalah ini masih menjadi isu kesehatan global, dengan data WHO 2019 menunjukkan 1,62 miliar orang (24,8% populasi dunia) mengalami anemia. Remaja putri lebih rentan terhadap anemia dibandingkan remaja putra karena peningkatan kebutuhan zat besi pada usia 14-15 tahun, menstruasi, dan masa pertumbuhan. Upaya pencegahan non-farmakologis dilakukan dengan meningkatkan konsumsi zat besi dari pangan hewani dan nabati, seperti daun kelor yang kaya gizi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian cookies daun kelor (Moringa oleifera) dan jeruk kalamansi (Citrofortunella microcarpa) (lorsi) terhadap anemia pada remaja putri kelas VII di SMPN19 Kota Bengkulu. Metode: Metode yang digunakan adalah quasi experiment dengan desain pre-post test with two group, melibatkan kelompok intervensi (diberi cookies lorsi dan tablet tambah darah) dan kelompok kontrol (tablet tambah darah). Sampel penelitian adalah seluruh siswi kelas VII di SMPN 19 Kota Bengkulu, yang mengalami anemia sebanyak 42 responden, dengan teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan t paired test. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan kadar Hb pada kelompok intervensi sebelum diberikan perlakuan rata-rata 9,927 gr/dl dan mengalami peningkatan menjadi 12,636 gr/dl, pada kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan rata-rata 10,164 gr/dl mengalami peningkatan menjadi 11,727 gr/dl, hasil dari penelitian didapatkan p-value 0,000 < α( 0,05). Kesimpulan: Pemberian cookies lorsi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri.
Pendahuluan: Primigravida merujuk pada wanita hamil yang sedang hamil untuk pertama kalinya. Kecemasan sering terjadi pada wanita hamil trimester akhir ketiga, yang dikenal sebagai periode menunggu dan kewaspadaan, karena saat ini, mereka cenderung merasa gelisah menantikan kelahiran anak mereka. Ibu-ibu calon bisa merasakan ketakutan mengenai proses persalinan, hal ini dapat menyebabkan stres yang mengarah pada kecemasan. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu agar dapat melihat seberapa besar tingkat kecemasan yang dialami ibu hamil primigravida pada trimester ketiga dalam menghadapi persalinan di area kerja Puskesmas Telaga Dewa di kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis univariat. Sampel yang dianalisis terdiri dari 83 wanita hamil di trimester ketiga, diambil dengan metode total sampling. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 27 April sampai dengan 30 Mei 2025. Hasil penelitian memprlihatkan bahwa sebagian besar wanita hamil di trimester ketiga berusia antara 20 hingga 35 tahun, yaitu sekitar 85,5%. Pendidikan mereka bervariasi dengan 53% memiliki gelar Diploma, Sarjana, atau Magister, dan 54,2% di antara mereka bekerja. Sebanyak 24,1% wanita hamil di trimester ketiga tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan berdasarkan hasil skrining, sedangkan 37,3% mengalami kecemasan ringan, 30,1% mengalami kecemasan sedang, dan 8,4% mengalami kecemasan berat. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa di antara wanita hamil primigravida pada trimester ketiga di area kerja Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu tahun 2025, jumlah yang memiliki skor kecemasan ringan adalah kurang dari separuh, yaitu 37,3%.
Pendahuluan: Kearifan lokal merupakan elemen penting dalam praktik kehamilan dan persalinan di berbagai daerah Indonesia. Praktik budaya yang melekat pada masyarakat memiliki dampak protektif maupun risiko terhadap kesehatan ibu dan bayi. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menyusun model pemberdayaan ibu hamil berbasis kearifan lokal melalui studi literatur nasional serta menunjukkan relevansinya bagi pengembangan intervensi di Provinsi Bengkulu. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka naratif melalui analisis artikel nasional dan internasional tahun 2019–2024 terkait budaya kehamilan, pemberdayaan ibu hamil, dan kesiapan persalinan. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) kearifan lokal berpengaruh besar terhadap perilaku kesehatan maternal; (2) program pemberdayaan ibu hamil yang melibatkan keluarga, komunitas, dan tokoh adat terbukti meningkatkan kesiapan persalinan; dan (3) integrasi budaya dalam Kelas Ibu Hamil dan layanan kebidanan meningkatkan efektivitas edukasi. Studi ini menghasilkan model konseptual pemberdayaan ibu hamil berbasis kearifan lokal yang dapat diadaptasi di Bengkulu dan provinsi lainnya sebagai upaya meningkatkan kesiapan persalinan dan menurunkan risiko komplikasi maternal.
Latar Belakang: Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi yang dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin, termasuk risiko persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, hingga kematian ibu. Status gizi dan pola makan yang tidak adekuat merupakan faktor utama yang memengaruhi kejadian KEK. Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah kerja yang masih menunjukkan angka kejadian KEK pada ibu hamil yang cukup tinggi. Metode: Skripsi ini berjudul “Hubungan Status Gizi dan Pola Makan dengan Kejadian KEK pada Ibu Hamil di Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan pola makan ibu hamil dengan kejadian KEK Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 34 ibu hamil yang dipilih dengan total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran status gizi berdasarkan LILA). Analisis data menggunakan uji chi-square. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian KEK (p = 0,001), serta hubungan yang sangat signifikan antara pola makan dengan kejadian KEK (p = 0,001). Secara simultan, hasil analisis menunjukkan bahwa status gizi dan pola makan bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian KEK, dengan nilai signifikansi 0,001. Nilai R square sebesar 0,805 mengindikasikan bahwa 80,5% variasi kejadian KEK pada ibu hamil dapat dijelaskan oleh faktor status gizi dan pola makan, sedangkan sisanya sebesar 19,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti kondisi sosial ekonomi, edukasi gizi, dan akses layanan kesehatan.
Deteksi dini risiko kehamilan merupakan langkah penting dalam mencegah terjadinya komplikasi yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu. Peran keluarga, terutama suami dan anggota keluarga dekat, menjadi faktor penentu dalam meningkatkan kesadaran ibu hamil terhadap tanda bahaya serta mendorong pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Literatur review ini bertujuan menganalisis bentuk kontribusi keluarga terhadap deteksi dini risiko pada ibu hamil melalui penelitian-penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2020–2025. Tinjauan dilakukan secara naratif melalui pencarian artikel pada PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan Google Scholar dengan kriteria inklusi berupa penelitian yang membahas dukungan keluarga, perilaku kesehatan ibu hamil, dan deteksi dini risiko kehamilan. Sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara tematik. Hasil review menunjukkan bahwa dukungan keluarga dalam bentuk dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, serta dukungan dalam pengambilan keputusan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan ibu hamil mengenali tanda bahaya kehamilan, melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur, dan mencari pertolongan kesehatan lebih cepat saat terjadi risiko. Keterlibatan aktif suami terbukti meningkatkan kepatuhan ibu dalam pemantauan kehamilan dan mempercepat deteksi masalah. Sebaliknya, rendahnya dukungan keluarga berdampak pada rendahnya kewaspadaan, keterlambatan mencari pertolongan, dan meningkatnya risiko komplikasi. Temuan ini menegaskan pentingnya program edukasi berbasis keluarga serta strategi pemberdayaan keluarga untuk memperkuat peran mereka dalam deteksi dini risiko kehamilan. Kesimpulan: Kontribusi keluarga merupakan komponen penting dalam keberhasilan deteksi dini risiko kehamilan. Upaya peningkatan keterlibatan keluarga, terutama suami, perlu diintegrasikan ke dalam program pelayanan antenatal. Kata Kunci: dukungan keluarga, deteksi dini, risiko kehamilan, ibu hamil, keterlibatan suami, kesehatan maternal.
Latar Belakang: Kehamilan pada remaja dikaitkan dengan meningkatnya risiko komplikasi obstetri (anemia, preeklamsia, komplikasi persalinan) serta luaran perinatal (BBLR, prematuritas, kematian neonatal). Intervensi kesehatan spesifik, seperti suplementasi nutrisi, konseling, pendidikan kesehatan, dan antenatal care (ANC) berbasis kelompok, dipandang mampu mengurangi risiko tersebut. Tujuan: Mengkaji efektivitas intervensi kesehatan spesifik terhadap luaran obstetri dan perinatal pada remaja hamil melalui systematic literature review. Metode: Penelitian ini menggunakan metode PRISMA dengan tahap identifikasi, skrining, kelayakan, dan inklusi. Sumber data berasal dari Google Scholar dan Scopus dengan kata kunci yang relevan. Dari 241 artikel yang diidentifikasi, 41 artikel diakses full text, dan 7 artikel memenuhi kriteria inklusi, yaitu studi kuantitatif primer dan systematic review yang menilai intervensi kesehatan spesifik pada remaja hamil dengan outcome obstetri atau perinatal. Hasil: Intervensi nutrisi, terutama suplementasi zat besi dan asam folat, terbukti menurunkan risiko anemia dan meningkatkan berat lahir. Konseling serta pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan remaja terhadap ANC, yang berkontribusi pada deteksi dini komplikasi. Model pelayanan Group ANC efektif dalam menurunkan angka BBLR dan prematuritas, sekaligus memperkuat dukungan sosial. Sebagian besar studi menunjukkan hasil positif terhadap outcome obstetri dan perinatal, meskipun bukti terkait mortalitas neonatal masih terbatas. Kesimpulan: Intervensi kesehatan spesifik berperan penting dalam memperbaiki luaran obstetri dan perinatal pada remaja hamil, terutama dalam pencegahan anemia, BBLR, dan kelahiran prematur. Namun, jumlah studi eksperimental masih terbatas sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan desain kuat untuk memperkuat bukti kausalitas.
Pendahuluan: Anemia merupakan suatu kondisi kesehatan dimana jumlah sel darah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal pada umumnya di laki-laki adalah 14-16 gram/100 ml, sedangkan pada wanita pada umumnya adalah 12-15 gram/100 ml. World Health Organization (WHO) anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi,prevalensi anemia di dunia berkisar 50-80 %. Prevalensi pada remaja putri (usia 15- 19 tahun) sebesar 26,5 %, dan pada waktu subur sebesar 26,9%. Di Indonesia pada tahun 2018 prevalensi anemia pada remaja putri yaitu sebesar 32% , yang artinya 3-4 dari 10 remaja putri menderita anemia yang dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang tidak optimal. Untuk mengetahui hubungan konsumsi tablet Fe saat menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 02 Kota Bengkulu. Jenis penelitian yang digunakan adalah survey , penelitian ini digunakan dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswi perempuan kelas X dengan jumlah keseluruhan 56 siswi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik analisis data adalah uji Chi Square. Berdasarkan uji Chi Square nilai p value sebesar 0,005 (< 0,05) artinya dapat hubungan yang signifikat p value 0,005 (< 0,05). Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara konsumsi tablet Fe saat menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 02 Kota Bengkulu.
Kesehatan ibu pasca bersalin sangat dipengaruhi oleh dukungan dan keterlibatan keluarga, terutama dalam menjalankan perawatan nifas, dukungan emosional, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, model pemberdayaan keluarga yang paling efektif masih bervariasi di berbagai negara dan konteks budaya. Penelitian ini menyajikan Systematic Literature Review (SLR) mengenai model pemberdayaan keluarga dalam meningkatkan kesehatan ibu pasca bersalin. Metode PRISMA digunakan untuk menyeleksi 28 artikel dari database PubMed, Scopus, dan Google Scholar. Hasil menunjukkan bahwa intervensi edukasi, pendampingan berbasis keluarga, dan model promosi kesehatan berbasis teori (Health Belief Model, Family-Centered Care, dan Community Empowerment) merupakan pendekatan paling efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kepatuhan perawatan nifas, kesejahteraan mental, dan keterlibatan keluarga. Kajian ini menegaskan bahwa pemberdayaan keluarga adalah komponen kunci dalam upaya menurunkan risiko komplikasi pasca bersalin serta meningkatkan kualitas hidup ibu.
Pendahuluan: Proses persalinan normal beresiko terjadinya beberapa komplikasi pada Ibu. Laserasi jalan lahir merupakan salah satu komplikasi persalinan yang dapat memengaruhi kesehatan ibu pasca melahirkan. Praktik Diva Birth yang menekankan pengalaman melahirkan dengan nyaman, mindful, dan minim intervensi diduga memiliki peran dalam mengurangi risiko laserasi Metode: Studi kasus retrospektif pada ibu primipara yang menjalani persalinan dengan pendekatan Diva Birth. Data diperoleh retrospektif tahun 2025 melalui rekam medis, wawancara, dan observasi selama proses persalinan di klinik Pratama D’Maryam Hasil dan Pembahasan: Ibu primipara 38 tahun melahirkan bayi dengan berat 3.135 gram secara spontan dan usia kehamilan 39 minggu. Dengan teknik pernapasan terkontrol, posisi persalinan ergonomis, dan penggunaan Diva Birth sejak usia kehamilan 35 minggu dengan intensitas 2 kali seminggu dengan persalinan berlangsung tanpa tindakan episiotomi. Laserasi perineum hanya derajat I, tidak membutuhkan jahitan. Kesimpulan: Penerapan metode Diva Birth dapat membantu menurunkan risiko laserasi jalan lahir melalui pendekatan yang menekan relaksasi, posisi optimal, dan dukungan psikologis. Studi lebih lanjut dengan desain kuantitatif diperlukan untuk menginformasi temuan ini.
Pada ibu hamil yang mengalami berbagai perubahan fisiologis dengan seiring pertumbuhan janin didalam Rahim dan usia kehamilan yang meningkat. Hal ini merupakan adanya bagian dari perubahan fisik, psikologis, dan sosial pada ibu hamil. Banyak rasa ketidaknyamanan ibu hamil yang dirasakan selama masa kehamilan seperti Kram kaki, gangguan pencernaan, kesulitan bernapas, sakit punggung, sering buang air kecil, depresi, stres, kecemasan (anxiety), serta gangguan tidur seperti insomnia atau sulit tidur, sering terjadi. Kuantitas tidur yang baik bagi ibu hamil trimester III akan berdampak baik bagi ibu sendiri dan calon bayinya. Sedangkan ibu hamil yang memiliki kualitas tidur buruk akan berdampak buruk juga untuk dirinya dan kehamilannya. Kualitas tidur buruk pada ibu hamil trimester III akan menyebabkan terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan, bahkan terhadap calon bayinya. Komplikasi yang dapat terjadi seperti hipertensi gestasional, partus lama, sectio caesarea, hingga terjadinya kelahiran premature. Tujuan penelitian ini adalah Pengaruh Happy Prenatal Yoga Teknik Ujjayi Pranayama Terhadap Kuantitas Tidur Pada Ibu Hamill Aterm di PMB Yetti Purnama, SST., M.Keb di Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimental design dengan satu kelompok (one group pra-test posttest design). Sampel sebanyak 32 partisipan ibu hamil trimester 3 di PMB Yetti Purnama, SST., M.Keb di kota Bengkulu. Analisis data penelitian ini menggunakan uji paired T Test. Hasil penelitian bahwa daeri 32 responden sebelum dilakukan ujjayi pranayama bahwa sebagian besar responden mempunyai kualitas tidur buruk sejumlah 21 ibu hamil (65,6%) dan sesudah dilakukan happy pranayama hampir seluruh responden mempunyai kualitas tidur baik meningkat yaitu 29 ibu hamil (90,6%). Hasil analisis statistic menggunakan uji paired T Test menunjukkan bahwa ada perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukannya Happy Prenatal Yoga Teknik Ujjayi Pranayama dengan p value=0.000
Pendahuluan: Masa remaja antara usia 10-19 tahun, ialah masa transisi yang dialami seseorang dengan adanya perubahan fisik maupun psikis. Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, mental, dan aktivitas sehingga, kebutuhan makanan yang mengandung zat-zat gizi menjadi cukup besar (Martini, 2015). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Tablet Fe dan Jus Kurma terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin di SMAN 1 Bangkinang Kota. Metode: Penelitian ini menggunakan Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Pre-Experimental design dengan rancangan pre-post test control group design. Jenis penelitian dengan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok Kontrol. Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan hasil penelitian frekuensi umur responden pada kelompok intervensi adalah umur 15 tahun sebesar 6 (75%) dan kelompok Kontrol adalah umur 15 tahun sebesar 5 (62,5%), frekuensi Haemoglobin responden pada kelompok Intervensi pada Pre Test adalah Anemia sebesar 4 (50%) pada Post Test adalah Tidak Anemia sebesar 8 (100%), frekuensi Haemoglobin responden pada kelompok Kontrol pada Pre Test adalah Anemia sebesar 3 (37,5%) pada Post Test adalah Tidak Anemia sebesar 8 (100%). Berdasarkan dari hasil analisis uji t-independent diperoleh nilai correlation (0,951 > 0,05) dan nilai ρ value sebesar 0,000 hal ini berarti bahwa ρ value < dari 0,05 yang artinya ada pengaruh yang signifikan/kuat antara pengukuran pre test (sebelum diberikan Jus Kurma dan Tablet Fe) dan pengukuran post test (setelah diberikan Jus Kurma dan Tablet Fe) dan nilai correlation (0,854 > 0,05) dan nilai ρ value sebesar 0,001 hal ini berarti bahwa ρ value < dari 0,05 yang artinya ada pengaruh yang signifikan/kuat antara pengukuran pre test (sebelum diberikan Tablet Fe) dan pengukuran post test (setelah diberikan Tablet Fe). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan antara fakta dan teori terdapat kesamaan yaitu bahwa mengkonsumsi jus kurma dan tablet Fe 1 kali seminggu dapat meningkatkankan kadar hemoglobin remaja.
Pendahuluan: Persalinan saat yang menggembirakan, namun rasa gembira itu dapat berubah menjadi rasa gelisah dan nyeri ketika kontraksinya menjadi lebih intens. Nyeri persalinan bagian dari proses normal dan dianggap sebagai aspek yang paling tidak diinginkan karena dapat menyebabkan stress dan tubuh menahan rasa nyeri Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh aroma terapi lavender terhadap insentitas nyeri kala I pada ibu bersalin di Praktik Bidan Loly. Metode: Jenis penelitian ini adalah Penelitian ini kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan pra experiment dengan one group pretest and posttest design. Hasil dan Pembahasan: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai p= 0,003 (p< 0,05) artinya ada pengaruh aroma terapi lavender terhadap intensitas nyeri kala I pada ibu bersalin di Praktik Bidan Loly.Kesimpulan: Berdasarkan hasil Sebelum intervensi mayoritas nyeri berat terkontrol persalinan kala I (73,3%) dan sesudah intervensi mayoritas nyeri sedang persalinan kala I (86,7%). Ada pengaruh aroma terapi lavender terhadap intensitas nyeri kala I pada ibu bersalin di di Praktik Bidan Loly dengan p = 0,003.
Pendahuluan: Imunisasi dasar lengkap adalah imunisasi yang diberikan pada anak sebelum berusia 1 tahun yang terdiri dari imunisasi HB 0, imunisasi BCG, imunisasi DPT-HB-HIB, imunisasi polio, imunisasi IPV dan imunisasi campak. Imunisasi dasar lengkap dapat melindungi anak dari wabah penyakit, kecacatan dan kematian (Syukri, 2021). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh Edukasi Imunisasi dasar lengkap terhadap Pengetahuan Ibu Balita di wilayah Puskesmas Bangkinang Kab.Kampar. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimental. Desain yang digunakan berbentuk one group pretest-posttest desaign. One group pretest-posttest desaign adalah desain pre eksperimental yang terdapat pre test (tes sebelum diberi treatment) dan post test (tes sesudah diberi treatment) dalam satu kelompok.Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi umur responden adalah umur 26-30 tahun sebesar 9 (50%), frekuensi Pendidikan responden SMA sebesar 7 (39%), frekuensi Pekerjaan responden adalah Wiraswasta sebesar 9 (50%). Berdasarkan dari hasil analisis uji t-independent, pada kategori pengetahuan diperoleh nilai correlation (0,351 > 0,05) dan nilai ρ value sebesar 0,000 hal ini berarti bahwa ρ value < dari 0,05 yang artinya ada pengaruh yang signifikan/kuat dan positif antara pengukuran pre pengetahuan (sebelum diberi edukasi ) dan pengukuran post pengetahuan (setelah diberi edukasi) di Desa Kumantan Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan antara fakta dan teori terdapat kesamaan yaitu bahwa pendidikan kesehatan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap tingkat pengetahuan seseorang untuk itu ibu diharapkan dapat lebih meningkatkan pengetahuan dalam memberikan imunisasi dasar lengkap.
Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang masih sering terjadi pada wanita usia subur (WUS). Ketidakcukupan pengetahuan terkait IMS berpotensi menurunkan kualitas perilaku pencegahan, sehingga meningkatkan risiko penularan pada kelompok ini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan IMS pada WUS di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 60 responden yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur, dan analisis hubungan antar variabel dilakukan dengan uji Chi-square pada tingkat signifikansi 95%. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan perilaku pencegahan IMS yang positif. Uji bivariat menghasilkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang menegaskan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan IMS pada WUS di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan IMS. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki responden, semakin positif perilaku pencegahan yang dilakukan. Edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan upaya pencegahan IMS pada masyarakat.
Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang masih sering terjadi pada wanita usia subur (WUS). Ketidakcukupan pengetahuan terkait IMS berpotensi menurunkan kualitas perilaku pencegahan, sehingga meningkatkan risiko penularan pada kelompok ini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap pencegahan IMS pada WUS di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi seluruh Wanita Usia Subur di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Bengkulu dengan pengambilan sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan 97 responden yang akan diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi Square dengan nilai α = 0,05.. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan sikap pencegahan IMS yang positif. Uji bivariat menghasilkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang menegaskan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan Sikap pencegahan IMS pada WUS di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan sikap pencegahan IMS. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki responden, semakin positif sikap pencegahan yang dilakukan. Edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan upaya pencegahan IMS pada masyarakat.