
Penelitian terhadap lanskap spiritual kuno Gunung Merbabu sampai saat ini masih jarang menarik minat peneliti. Temuan terbaru di Timboa Kecamatan Ngadirojo, menunjukkan keunikan berupa temuan permukaan struktur talud, tangga kuno, serta prasasti angka tahun dengan keletakan di bawah puncak Prego Dalem, Gunung Merbabu. Saat ini pengamanan Situs Arkeologis Ngadirojo berada dalam Zona Inti TNGMb di bawah kewenangan BTN Gunung Merbabu, dengan demikian muncul pertanyaan: Bagaimana efektivitas kebijakan pelestarian secara tertutup terhadap Situs Arkeologis Ngadirojo? Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah pilihan pengelolaan warisan budaya berbasis arkeologi komunitas yang dapat diusulkan untuk pelestarian Situs Arkeologis Ngadirojo. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode desk study serta wawancara terhadap masyarakat Dusun Margomulyo (Timboa). Hasil dari penelitian ini ialah adanya potensi yang dimiliki masyarakat Timboa dan lingkungannya sebagai wilayah pendukung pengembangan Pusat Kebudayaan Gunung Merbabu sebagai solusi pelestarian Situs Arkeologis Ngadirojo.
Transportasi kereta api di Keresidenan Pantai Barat Sumatra berkembang pesat seiring dengan kebutuhan distribusi hasil tambang batu bara dari Ombilin, Sawahlunto. Pemerintah Hindia Belanda membentuk Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust (SSS) sebagai operator utama dalam pembangunan jalur yang awalnya bertujuan menghubungkan tambang dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Seiring waktu, jalur ini juga dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian dari wilayah pedalaman, termasuk Afdeeling Limapuluh Kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stasiun Payakumbuh di Afdeeling Limapuluh Kota berperan penting sebagai pusat transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah. Pembangunan jalur kereta di wilayah ini berdampak besar terhadap ekonomi dan sosial, mempercepat distribusi sumber daya serta meningkatkan mobilitas penduduk. Namun, saat ini banyak tinggalan sejarah terkait perkeretaapian di wilayah ini dalam kondisi kurang terawat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian untuk menjaga warisan budaya transportasi kereta api di Keresidenan Pantai Barat Sumatra.
Nisan kuno merupakan salah satu tinggalan arkeologis dari periode Islam yang persebarannya dapat ditemukan hingga seluruh pelosok Nusantara, mulai dari Sumatra hingga Maluku. Namun sejauh ini, penelitian mengenai nisan kuna di wilayah Indonesia Tengah dan Timur masih minim dilakukan, khususnya di Pulau Lombok, yang diduga akibat kurangnya informasi mengenai tinggalan periode Islam di wilayah Nusa Tenggara Barat. Tulisan ini berusaha untuk memberikan pandangan awal mengenai nisan kuna berhias yang tersebar di Pulau Lombok berdasarkan tipologi bentuk dan ragam hiasnya. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dan survei lapangan. Penelitian bersifat analisis-deskriptif untuk dapat mengeksplorasi berbagai tipologi nisan kuna dari 12 situs yang dijadikan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat tipe nisan kuna yang ditemukan di Pulau Lombok, yaitu Tralaya, Bugis-Makassar, Peralihan, dan Aceh. Dalam perkembangannya, nisan tipe Tralaya dan Bugis menjadi cikal bakal lahirnya nisan tipe lokal Lombok (Peralihan) yang mencerminkan adaptasi dan kreativitas masyarakat Sasak Lombok.
Tuanku Imam Bonjol is one of Indonesia’s national heroes who played a pivotal role in resisting colonialism in Sumatra. This resistance eventually led to his exile, along with his followers, to North Sulawesi, where he spent the remainder of his life. The Tomb of Tuanku Imam Bonjol, located in Lotta Village, Minahasa, is a significant symbol of the nation’s struggle and has been designated a Cultural Heritage Structure. However, excessive utilization without adherence to preservation principles has created several problems, including alterations to the tombstone and grave marker that have diminished the site’s authenticity and integrity. In fact, under Law Number 11 of 2010 on Cultural Heritage, any use must ensure sustainability. This research aims to formulate strategies for the preservation and utilization of the Tomb of Tuanku Imam Bonjol to ensure its sustainable protection while providing benefits for the community. The methods employed include field observations, interviews, and literature studies with a cultural heritage management approach. The findings indicate that preservation and utilization strategies should be directed toward four main aspects: (1) physical conservation and regular maintenance, (2) strengthening governance through collaboration between the government and the community, (3) public education to enhance preservation awareness, and (4) regulated utilization in line with educational, religious, and cultural functions. This study emphasizes that with appropriate and well-directed utilization, the preservation of the tomb can be maximized while generating both social and religious benefits.
Kawasan Petirtaan Belahan berada di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Karakteristik cagar budaya yang bersifat terbatas, unik, tidak dapat diperbaharui, dan rentan rusak menjadi dasar untuk melakukan pelestarian dalam bentuk pelindungan cagar budaya dari ancaman bencana. Rumusan masalah yang digunakan yaitu bagaimana penilaian risiko bencana di Kawasan Petirtaan Belahan dan bagaimana upaya mitigasi yang dapat dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang digunakan berupa tulisan ilmiah tentang Kawasan Petirtaan Belahan; dan hasil wawancara. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahaya bencana longsor di Kawasan Petirtaan Belahan tergolong rendah dan sedang; kerentanan bencana disebabkan karena belum adanya teknologi perkuatan pada bangunan candi sehingga dikhawatirkan rentan rusak dan belum adanya fasilitas kesiapsiagaan bencana; kapasitas cagar budaya dalam menghadapi bencana yaitu adanya keterlibatan masyarakat dalam implementasi mitigasi bencana; dan upaya mitigasi yang dapat dilakukan yaitu perkuatan sistem lereng dengan konservasi tanah secara vegetatif, penataan penggunaan lahan, penyediaan alat kesiapsiagaan bencana, dan pelibatan masyarakat dalam mitigasi bencana.
Penelitian ini membahas mengenai perbandingan penggambaran tokoh Rahwana dalam relief cerita Ramayana yang terdapat di Candi Prambanan dan Candi Panataran. Secara kronologi waktu, kedua candi tersebut berasal dari periode yang berbeda, sehingga dapat memberikan wawasan mengenai evolusi gaya seni dan ikonografi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif komparatif dengan pendekatan ikonografis berdasarkan teori Panofsky. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggambaran Rahwana di kedua candi tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Apa yang ada di Candi Prambanan masih mendapat pengaruh dari seni klasik India, dimana penggambarannya yang lebih harmonis dan naturalis. Sedangkan di Candi Panataran telah mengalami perubahan, dimana Rahwana digambarkan dengan penggambaran yang lebih kaku dan menyerupai wayang. Perbedaam ini tidak hanya menjadi cerminan perbedaan gaya seni, tetapi juga terdapat perubahan dalam pemaknaan Rahwana secara simbolik. Hal tersebut dapat berkaitan dengan konteks politik dan budaya di masing-masing periode.
Kabupaten Serdang Bedagai (Kab Sergai) merupakan wilayah administrasi yang dahulu menjadi wilayah kekuasaan dari 4 kerajaan yakni Kesultanan Serdang, Kerajaan Bedagai, Padang dan Bajalinggai. Banyak di temukan peninggalan lanskap budaya berumur lebih dari 100 tahun berupa Benda, Bangunan, Struktur, Situs dan Kawasan yang berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan cagar Budaya (CB). Problematika yang terjadi seperti minimnya identifikasi, pendataan dan pemeliharaan, anggaran, Pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan dan konflik lahan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan dan sebaran lanskap budaya peninggalan Situs Kesultanan Serdang (Situs-KS) dan Situs Kerajaan Bedagai (Situs-KB). Metode yang digunakan secara umum adalah analisis deskriptif kualitatif dan spasial dengan pendekatan Landscape Character Assesment (LCA). Hasilnya, Kab-Sergai memiliki 2 Cagar Budaya tingkat Kabupaten. Total ODCB yang terdaftar sebanyak 50 objek dan 26 objek temuan baru yang berstatus OPS. Deliniasi peta dari tahun 1872 hingga 2023 pada dua lokasi penelititan telah terjadi perubahan lanskap yang signifikan. Komplek Istana Serdang sudah berubah menjadi perumahan dan terdapat 15 temuan objek baru. Sedangkan pada Situs Kerajaan Bedagai terdapat dua lokasi situs Kerajaan dengan 6 temuan objek baru.
This research was conducted to investigatesthe development of performing arts through historical and archaeological evidence, including inscriptions, temple reliefs, literary texts, and performing arts artifacts. This research aims to explore the cultural significance of the performing arts in ancient Java and how the influence of Hindu-Buddhist culture transformed traditional art forms into more structured and complex ones. This focus emerges from the limited understanding of how performing arts shaped and reinforced social solidarity in Javanese society. This research employs historical methodology with a qualitative descriptive approach. This method includes four main stages: (1) Heuristics collection data from written sources (inscriptions, kakawin, and historical texts) and unwritten sources (artifacts and temple reliefs); (2) Criticism to evaluate the authenticity and credibility of sources through external and internal criticism; (3) Interpretation to analyze the meaning and relationship between historical data; and (4) Historiography to compile a coherent historical story. The results show that the performing arts in ancient Java, such as wayang and gamelan, developed rapidly through the adaptation of Hindu-Buddhist values. Wayang, which was originally a medium for ancestral worship, transformed into a means of entertainment and a medium for delivering Indian epics such as the Mahabharata and Ramayana. Reliefs on temples such as Borobudur and Prambanan illustrate the integral role of dance and music as an important part of the social and religious life of ancient Javanese society. In addition, the art of comedy has also developed as entertainment that conveys moral messages and enlivens the social atmosphere.
Sebelum manusia mengenal tulisan, lukisan merupakan simbol bermakna yang digunakan untuk menyampaikan pesan pada orang lain. Kebiasaan itu menunjukan adanya tingkat peradaban bagi masyarakat pendukung budaya tersebut dalam bidang seni terutama seni lukis. Perkembangan seni lukis menjadi bagian dalam perjalanan kehidupan etnis Sentani khususnya masyarakat kampung Asei. Seni lukis kulit kayu menjadi suatu pengetahuan lokal yang saat ini sangat bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat Asei. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika perjalanan budaya lukisan kulit kayu Aseietode yang digunakan adalah analisis komparatif dengan model penelitian deskriptif. Motif lukisan Asei masa lalu lebih menggambarkan kehidupan mereka secara adat yang sederhana, terampil dan taat aturan juga rasa cinta pada alam, sedangkan pada masa kini keberlanjutan nilai sebuah tradisi seni sudah meningkat tidak lagi hanya menampilkan suatu estetika tetapi juga menunjukan nilai jual.
Archaeological research in the Muarajambi temple area has indicated its past function as a place for learning Buddhist teachings, inhabited by settlers between the 7th and 12th centuries AD. Its location near the Batanghari River and tropical forests made the settlers vulnerable to health disturbances. Starting with this phenomenon, the question arises: what was the picture of healthy living practices of the settlers in the Muarajambi Temple Complex between the 7th and 12th centuries AD? This research uses K. Dark's archaeological method with Ian Hodder's entanglement theory analysis to examine the relationship between excavation data from Candi Koto Mahligai and Kedaton, I-Tsing's records, and the surrounding environment. There is a possibility that 1) the implementation of the Mahavihara Muarajambi settlers' regulations not only trained spirituality but also physical and mental health; 2) from the pollen data of medicinal plants, it is possible that the students developed medical knowledge; 3) pollen data and the analysis of the functions of medicinal plants provide an overview of the types of diseases suffered by the settlers; and 4) the discovery of artifacts and features at the Muarajambi Temple strengthens the similarity of hypotesa with the narrative of healthy living practices in the I-Tsing text.
Temuan butir pati dalam situs arkeologi menjadi indikasi penting untuk memahami bagaimana pemanfaaatan tumbuhan dan teknologi subsistensi manusia pada masa lalu. Namun sayang, tidak semuan temuan butir pati dapat dianalisis dengan jelas karena minimnya referensi. Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan referensi butir pati dari tanaman pangan lokasl yang berasal dari Pulau papua, khususnya dari wilayah Sentani dan Wamena. Pengumpulan tanaman dilakukan secara langsung pada masyarakat adat serta pengumpulan di pasar tradisional. Ekstraksi sampel dilakukan dengan dua metode yaitu butir pati mentah dan butir pati yang telah diolah. Identifikasi butif pati menggunakan mikrokup polarisasi pembesaran 400x. Identifikasi bentuk butif pati bentuk menggunakan acuan ICSN 2011. Analisis statistik dengan univariat dan multivariat digunakan untuk mengetahui kecenderungan morfologi dan morfotipologi dari masing-masing butir pati tanaman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan struktur pada butir pati yang telah diolah, sementara untuk bentuk butir pati mentah terdapat beberapa kemiripan morfometri dan morfotipologi. temuan ini dapat digunakan sebagai referensi identifikasi temuan strach dari situs arkeologi terutama di Papua, terutama dari situs Atiat dan Karas dan berpotensi untuk situs lainnya.
Ekstraksi sisa tumbuhan mikro yang dilakukan pada kalkulus gigi temuan rangka manusia Situs Plawangan mendapatkan sebuah butir pati. Analisis awal yang minim sampel referensi telah menduga bahwa butir pati tersebut sebagai bukti konsumsi tumbuhan sereal Triticeae berupa gandum atau barli pada awal Masehi. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali butir pati yang diidentifikasi sebagai Triticeae tersebut. Butir pati Triticeae diidentifikasi kembali dengan analisis perbandingan secara deskriptif-kualitatif dan multivariat berupa LDA dan analisis kluster. Data yang digunakan yaitu sampel referensi butir pati gandum dan barli yang diekstraksi dari tumbuhan segar. Hasil analisis menunjukkan bahwa butir pati dari kalkulus gigi bukan berasal dari tumbuhan Triticeae, khususnya gandum dan barli. Hal ini disebabkan perbedaan utama pada luas permukaannya. Hasil tersebut juga menggugurkan interpretasi awal yang menduga adanya aktivitas konsumsi gandum atau barli di Situs Plawangan pada awal Masehi.
Penelitian ini merupakan kajian bahan baku artefak batu gamping kersikan di Situs Paroto, Situs Talepu, Situs Calio dan Situs Jampu.Pembahasan penelitian fokus pada karakteristik bahan baku artefak batu gamping kersikan Kawasan Lembah Walennae sebagai wilayah hunian tertua di Sulawesi yang berumur 200 kyr. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data meliputi studi pustaka, survei lapangan, wawancara dan perekaman 3 dimensi. Selanjutnya pengolahan data yang terdiri dari analisis morfologi-teknologi artefak batu bahan gamping kersikan dan analisis petrologi dengan dua model analisis yaitu analisis sayatan tipis dan analisis spektrometri terhadap sampel artefak batu bahan gampingkersikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi-teknologi artefak batu bahan gamping kersikan memiliki kategori yang terdiri dua jenis yaitu alat inti dan serpih diretus. Alat inti meliputi tipe kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak dan pahat genggam sedangkan jenis serpih diretus meliputi tipe penyerut dan bilah. Karakteristik bahan baku gamping kersikan menggambarkan proses pembentukan gamping kersikan terjadi akibat dari transformasi dan pelapukan senyawa CaCO3 (mineral kalsit) yang tergantikan oleh senyawa SiO2 (mineral silika). Adaptasimanusia pendukung lembah walennae dalam memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber bahan baku artefak batu sangat dipengaruhi kondisi alam dan lingkungan hutan tropis. Kata Kunci : Bahan Baku, Paleolitik, Walennae, Gamping Kersikan, Analisis Petrologi
Candi Sukuh adalah situs pemujaan bagi komunitas Hindu dari masa Majapahit akhir yang tinggalan budaya materinya memiliki karakter khas, kontras dengan sistem sosial-budaya dari Majapahit secara umum. Tujuan penelitian adalah menjelaskan bentuk identitas sosial budaya yang muncul sebagai akibat dari hubungan dialektik antara agen dan struktur yang menghasilkan reproduksi budaya. Penelitian ini menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens. Data dikumpulkan berupa tinggalan arkeologi di Candi Sukuh dan hasil studi yang terkait. Analisis kontekstual dilakukan untuk mengetahui relasi dan kronologi dari berbagai peristiwa. Hasil penelitian dengan mengaplikasikan teori strukturasi menunjukkan bahwa ketidakstabilan politik dan berkembangnya karesian era Majapahit Akhir menyebabkan munculnya komunitas pendukung budaya Candi Sukuh. Praktik ritual yang dilakukan secara terus menerus dan interaksi antar anggota menyebabkan terciptanya reproduksi sosial-budaya. Dampaknya adalah terciptanya identitas kelompok yang khas dan direpresentasikan dalam warisan budaya materi di Candi Sukuh.
Prostitusi merupakan fenomena sosial yang telah lama ada di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Namun, masalah ini hampir tidak pernah dikaji dalam Arkeologi Indonesia. Tulisan ini mendiskuskan hasil kajian Arkeologi Prostitusi di Kawasan Jelakeng yaitu daerah lampu merah di Batavia pada masa kolonial. Kajian rintisan ini bertujuan mengungkapkan sejauh mana tinggalan arkeologi di kawasan Jelakeng masih dapat mencitrakan Jelakeng sebagai daerah lampu merah, dan perlukah tinggalan arkeologi yang ada ini dilestarikan? Kajian ini dilakukan melalui observasi di lapangan, wawancara, serta kajian pustaka. Hasilnya menunjukkan saat ini tinggalan arkeologi di kawasan Jelakeng sudah amat terbatas dan kurang mampu mencitrakan kawasan ini sebagai daerah lampu merah di masa lampau. Namun, memori kolektif masyarakat masih cukup kuat mempengaruhi pemaknaan kawasan ini sebagai daerah lampu merah setidaknya sejak pertengahan abad ke-18. Keterbatasan tinggalan arkeologi dan dokumentasi kawasan ini justru menjadi tantangan bagi penerapan Arkeologi Prostitusi di kawasan Jelakeng untuk dapat menemukan lebih banyak bukti subkultur Kolonial yang berkembang di kawasan ini. Arkeologi Prostitusi berpotensi mengungkapkan beragam aspek sosial-budaya yang selama ini “tersembunyi”. Karena itu, kawasan ini perlu dilestarikan agar dapat diteliti lebih lanjut, apalagi kawasan ini mengandung bukti arkeologi daerah lampu merah yang langka di Indonesia
The Plosorejo inscription, which has been established as a cultural heritage at the district/city level, has not yet been published in its complete edition. The research on Plosorejo Inscription resulted several new findings that can contribute to the addition of data in ancient Indonesian history. This research is an epigraphic research or text-aided archaeology with text as the main focus to reconstruct ancient Indonesian history. This paper presents the results of script translation, structure analysis, and dating analysis. The result of this research shows that Plosorejo Inscription has two parts, which are Plosorejo A and B Inscriptions. The structure of the inscription shows an indication that the inscription has two dates that begin two different decrees regarding sīma that are interrelated. The date that is still legible in the Plosorejo inscription, 852 Ś/930 AD, is the date that begins the Plosorejo B inscription. The inscription was published in that year or even earlier. Based on the dating component, the figure of Sri Maharaja whose name is no longer legible refers to Siṇḍok. Therefore, the Plosorejo Inscription can be placed to the early inscriptions of the Siṇḍok Period
Traditional ecological knowledge and planting time management have brought agricultural success in the Krayan Highlands. In ancient times, people used a planting calendar based on the position of the sun from the batu tanda. Along with the use of the Gregorian calendar, the marker stone was no longer used. The problem in this study is how to use the marker stone to determine the start of farming? The purpose of the study was to reconstruct local astronomical knowledge in deciding the farming calendar. Surveys, interviews and literature reviews carried out data collection. Archaeological data processing was carried out with formal analysis while data interviews were carried out with qualitative analysis. Astronomical modeling was carried out with the help of Horizon software. This study concluded that the batu tanda was used as an observation point for the movement of the sun. The position of the setting sun in a hill, valley, or tree is used by the local community as a reference in the farming calendar.
Potensi budaya masa klasik (Mataram Kuna) di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah terlihat dari padatnya sebaran candi yang ada. Selain candi, terdapat data sumur kuna yang insitu sebagai penanda akan adanya permukiman masa klasik di sebagian Dataran Aluvial Prambanan. Sumur kuna yang ditemukan memiliki variasi cukup tinggi, sehingga membutuhkan klasifikasi dengan metode skoring (pembobotan dan pengharkatan). Penentuan tipologi sumur kuna menggunakan kriteria kuat lemahnya ciri-ciri klasik yang tampak pada setiap variabel sumur. Hasil perhitungan tipologi sumur kuna dikelaskan menjadi 3 tipe (Tipe 1, Tipe 2, dan Tipe 3). Secara keletakan, lokasi sumur kuna diproses ke dalam peta dua dimensi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), untuk menunjukkan distribusi secara spasial di area penelitian. Pendekatan ini membuktikan adanya kesamaan dan keberlanjutan area permukiman dari abad IX Masehi hingga sekarang. Bukti ini juga menegaskan bahwa sumberdaya lingkungan di Dataran Aluvial Prambanan, khususnya potensi air tanah tidak mengalami perubahan signifikan sepanjang kurun waktu tersebut.
Kerajaan Malayu merupakan salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Pulau Sumatera. Kerajaan ini mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Ādityawarman (1347-1374 Masehi). Salah satu benda tinggalan arkeologis yang berasal dari periode tersebut adalah prasasti yang menggambarkan kehidupan di Kerajaan Malayu. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu unsur legitimasi yang terkandung dalam teks prasasti-prasasti Ādityawarman dan bentuk legitimasi kekuasaan Ādityawarman di Kerajaan Malayu. Hasil observasi terhadap 13 prasasti masa Ādityawarman, diperoleh 6 prasasti yang mengandung unsur legitimasi kekuasaan yaitu Prasasti Pagaruyung I, Prasasti Pagaruyung II, Prasasti Saruaso I, Prasasti Kuburajo I, Prasasti Amoghapāśa, dan Prasasti Ombilin. Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian adalah metode penelitian epigrafi, terdiri dari pengumpulan data, pengolahan data (analisis), penafsiran (interpretasi masalah), penarikan kesimpulan, dan penyajian hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 bentuk legitimasi masa Hindu-Buddha di Nusantara yaitu penyetaraan diri terhadap entitas adikodrati (dewa) dan nāmābhiṣeka. Adapun dewa yang disetarakan terdiri dari Dewa Indra, Adibuddha, dan Avalokitesvara. Selain itu juga terdapat bentuk legitimasi lain dalam prasasti Ādityawarman melalui beberapa simbol yaitu ornamen kepala kala, ornamen vajra, dan arca Bhairawa. Berdasarkan klasifikasi legitimasi menurut Max Weber, bentuk legitimasi kekuasaan yang dilakukan oleh Raja Ādityawarman di Kerajaan Malayu termasuk ke dalam legitimasi karismatik. Kata Kunci: Prasasti Ādityawarman, Kerajaan Malayu, legitimasi, kekuasaan
Salah satu strategi pemanfaatan bangunan cagar budaya adalah adaptive reuse. Strategi ini juga diterapkan pada warisan industri. Pabrik Gula Colomadu merupakan bangunan yang sudah lama terbengkalai dan tidak produktif namun menyimpan nilai sejarah yang penting. Pabrik Gula Colomadu sebagai pionir modernisasi industri milik Bumiputera. Pelestariannya tidak hanya terbatas pada bangunan, namun juga pemanfaatan mesin-mesin bekas pabrik gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan fungsi mesin bekas pabrik gula dan peranannya pada desain interior De Tjolomadoe. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap perubahan fungsi mesin bekas pabrik gula sebagai elemen interior saat ini. Sedangkan analisis masalah menggunakan analisis deskriptif. De Tjolomadoe merupakan rebranding dari Pabrik Gula Colomadu. Pelestarian bangunan dengan strategi adaptive reuse yakni mengubah fungsinya sebagai pusat kebudayaan dan seni. Bangunan berusia 162 tahun ini dihadirkan kembali dengan semangat baru. Mesin bekas pabrik gula tetap dirawat dan diberi fungsi baru. Fungsi baru tersebut antara lain: sebagai unsur pendukung sense of place, koleksi museum, elemen estetik, dan desain mebel. Keberadaan mesin eks pabrik gula menjadi elemen interior penting dan unik sekaligus bukti otentik kejayaan pabrik gula.