
Perkembangan konstruksi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat antara lain adalah dinding bangunan, Dinding bangunan perkantoran atau rumah tinggal umumnya teirbuat dari bata atau batako, namun kedua bahan ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya berat dan getas (brittle). Akibat beratnya yang cukup besar maka akan menaikkan beban mati struktur sehingga beban gempa juga akan naik. Dengan demikian, bahan yang ringan dan liat (ductile) akan lebih baik jika digunakan sebagai dinding bangunan tahan gempa dan tingkat reisikonya pun leibih rendah. Salah satu alternatif untuk mengurangi beban mati pada struktur dinding adalah dengan mengganti bata atau batako dengan beton styrofoam ringan yang dimanfaatkan sebagai dinding panel styrofoam. Karena beiton styrofoam ringan meimpunyai berat sekitar 718 kg/m3, lebih ringan apabila dibandingkan dengan berat bata yaitu 1700 kg/m3 dan berat batako yaitu 2200 kg/m. Disamping itu beton styrofoam juga memiliki daktilitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan bata maupun batako. Penelitian ini akan melihat karakteristik dinding dengan pengisi bahan Styrofoam dengan cetakan balok dan sampling benda uji akan diuji dengan pembebanan lateral bolak-balik. Penggunaan panel styrofoam diharapkan mempunyai tingkat daktilitas yang tinggi sehingga dapat menyerap energi leibih besar pada saat terjadinya gempa. hasil dari peneilitian ini Pada beiton yang beirumur 28 hari mengalami peningkatan nilai rata-rata kuat teikan yaitu sebesar 2,325 Mpa untuk campuran 20% dan 3,940 Mpa untuk campuran 25%
Abu sekam padi adalah limbah hasil pembakaran batu bata yang hingga kini masih kurang dimanfaatkan untuk kegunaan yang lebih bermanfaat. Limbah tersebut dapat digunakan sebagai pengganti untuk mengurangi sebagian penggunaan semen dalam campuran beton. Penelitian ini dimaksudkan untuk meninjau pengaruh abu sekam padi (ASP) sebagai subtitusi sebagian semen dalam campuran beton khususnya dalam hal sifat mekanik dan daya tahan. Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan tiga jenis campuran yaitu : 0% abu sekam padi, presentase 10% subtitusi, dan 20% subtitusi ASP. Pengujian kekuatan tekan dilakukan pada usia 7, 28, dan 91 hari, penyerapan air pada usia 28 dan 91 hari, serta half-cell potencial untuk meninjau kemampuan korosi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa beton dengan substitusi ASP sebesar 10% menghasilkan kinerja paling baik dengan kuat tekan sebesar 25,43 MPa pada hari ke 28, sedangkan untuk beton tanpa ASP diperoleh kuat tekan sbeesar 23,31 MPa. Untuk penyerapan air variasi 10% juga menunjukkan nilai terendah dan paling stabil yaitu sebesar 4,41% pada kedua usia 28 dan 91 hari, sedangkan ASP dengan presentas 20% mengurangi kemampuan beton menahan gaya tekan ke angka 11,47 MPa dan menaikkan kemampuan absorpsi ke angka 11,63%. Untuk HCP memperlihatkan masing-masing pencampuran yang dilakukan memiliki resiko korosi yang rendah setelah mencapai usia 91 hari, dengan 10% subtitusi ASP yang memperlihatkan kinerja yang terbaik. Penelitian ini menunjukkan bahwa subtitusi 10% ASP ke dalam campuran beton dapat menjadi alternatif yang layak dalam pembuatan beton berkualitas yang ramah terhadap lingkungan
Abrasi pantai yang berulang di Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara dengan pengikisan garis pantai mencapai 21 meter pada September 2025 mengindikasikan urgensi kajian hidrodinamika pesisir yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola elevasi arus pasang surut dan distribusi Suspended Sediment Concentration (SSC) sebagai dasar ilmiah mitigasi abrasi dan perencanaan pesisir berkelanjutan. Kerangka teoretis penelitian dibangun di atas teori hidrodinamika dua dimensi berbasis persamaan Navier-Stokes dengan pendekatan depth-averaging, yang dikombinasikan dengan konsep tegangan geser dasar (bed shear stress) sebagai mekanisme penggerak resuspensi sedimen di lingkungan estuari dan perairan terbuka. Penelitian menggunakan metode pemodelan numerik dengan perangkat lunak MIKE 21 Flow Model FM berbasis Flexible Mesh. Data diperoleh melalui survei lapangan selama 30 hari pada bulan Maret 2026, analisis granulometri sedimen di laboratorium, serta data sekunder berupa batimetri dan pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan data angin dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Validasi model menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,088 (9%), yang mengindikasikan tingkat akurasi simulasi yang tinggi. Hasil pemodelan menunjukkan elevasi muka air berkisar antara ?0,79 hingga 0,87 m, kecepatan arus 0,03 sampai 1,5 m/s, dan nilai SSC antara 0,2–300 g/m³. Konsentrasi sedimen tersuspensi paling intensif terjadi pada fase surut terendah, dipicu oleh peningkatan bed shear stress yang mendorong resuspensi dan transpor sedimen ke arah laut. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika surut merupakan faktor dominan dalam proses erosi pesisir di Kecamatan Sawa dan dapat menjadi rujukan strategis bagi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir
Penggunaan beton dalam proyek konstruksi memerlukan pengendalian mutu yang baik untuk memastikan kekuatan dan kinerja struktur sesuai dengan perencanaan. Pemanfaatan agregat lokal sering menimbulkan variasi sifat mekanik beton akibat perbedaan karakteristik material. Kondisi tersebut menimbulkan kebutuhan analisis hubungan kuat tekan dan kuat lentur beton sebagai dasar evaluasi mutu beton pada proyek konstruksi yang menggunakan material lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kuat tekan dan kuat lentur beton menggunakan agregat lokal Bojonegoro serta menilai kesesuaiannya terhadap standar perencanaan beton. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen melalui pengujian laboratorium. Benda uji terdiri dari silinder berukuran 15 × 30 cm untuk pengujian kuat tekan dan balok berukuran 60 × 15 × 15 cm untuk pengujian kuat lentur. Beton dirancang dengan mutu rencana fc’ 30 MPa menggunakan agregat halus dari Desa Pilanggede Kecamatan Balen serta agregat kasar dari Desa Genjor Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro. Pengujian dilakukan pada umur beton 7, 14, dan 28 hari. Analisis data dilakukan melalui perhitungan koefisien hubungan antara kuat tekan dan kuat lentur, analisis regresi linier, serta perbandingan dengan ketentuan SNI 2847:2013. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien hubungan (a) berada pada kisaran 0,43–0,54 fc’. Analisis regresi menunjukkan hubungan kuat antara kuat tekan dan kuat lentur dengan koefisien korelasi sebesar 0,96. Nilai hubungan yang diperoleh berada di bawah ketentuan SNI 2847:2013 sebesar 0,62 fc pada umur 28 hari. Sehingga agregat lokal Bojonegoro dapat digunakan sebagai material penyusun beton. Hubungan kuat tekan dan kuat lentur dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengendalian mutu beton pada proyek konstruksi yang menggunakan material lokal
Pertumbuhan populasi mahasiswa yang signifikan pada institusi pendidikan dapat berdampak langsung pada melonjaknya kebutuhan fasilitas parkir kendaraan. Jika laju pertumbuhan volume kendaraan ini tidak segera ditangani melalui solusi penataan lahan yang efektif, permasalahan tersebut akan memicu kesemrawutan lalu lintas internal, mengganggu kenyamanan pergerakan di dalam lingkungan institusi, serta menurunkan estetika dan tingkat keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik operasional parkir eksisting dan merencanakan desain fungsional gedung parkir untuk Kampus 1 Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (UGJ) yang ideal serta efisien sebagai solusi keterbatasan lahan. Metode yang digunakan adalah survey lapangan guna menganalisis kondisi eksisting, serta perencanaan gedung parkir sesuai dengan pedoman Direktorat Jendral Perhubungan Darat (1996). Hasil analisis menunjukkan total luas lahan eksisting sebesar 1.297 m² dengan daya tampung sebesar 542 Satuan Ruang Parkir (SRP), sedangkan akumulasi puncak kendaraan harian mencapai 572 unit, yang menghasilkan nilai Indeks Parkir atau Rasio Penggunaan Parkir (RP) sebesar 1,055 (> 1,00). Guna mengatasi masalah tersebut, dirancang sebuah gedung parkir vertikal 4 lantai di atas lahan efektif seluas 14 x 51 meter. Gedung parkir baru ini memiliki kapasitas total sebesar 655 SRP dengan penerapan sistem sirkulasi satu arah (one-way), lebar koridor (aisle) 3,5 meter, pola parkir tulang ikan tipe C sudut 60°, serta kelandaian tanjakan (ramp) sebesar 11,91%. Perencanaan ini berhasil menurunkan nilai RP rencana menjadi 0,873 (< 1,00), sehingga dinyatakan aman, efisien, dan mampu menampung pertumbuhan volume kendaraan di masa mendatang
Lapisan permukaan beraspal (Asphalt Concrete-Wearing Course/AC-WC) menuntut bahan pengikat yang stabil sekaligus tetap lentur terhadap repetisi beban lalu lintas, sementara aspal minyak sebagai bahan pengikat konvensional berasal dari sumber daya tak terbarukan yang harganya terus meningkat. Lateks (getah karet alam) merupakan bahan polimer alami yang berpotensi sebagai bahan tambah aspal karena memiliki elastisitas dan daya rekat yang baik, serta tersedia melimpah di Indonesia sebagai salah satu produsen karet alam terbesar dunia. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan lateks terhadap karakteristik Marshall campuran Laston AC-WC dan menentukan kadar penambahan lateks yang paling optimum. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan terlebih dahulu menentukan kadar aspal optimum (KAO) campuran AC-WC menggunakan aspal penetrasi 60/70, kemudian dilanjutkan dengan pengujian Marshall pada KAO tersebut dengan variasi penambahan lateks sebesar 0%, 2%, 4%, dan 6% terhadap berat aspal. Hasil penelitian menunjukkan agregat gabungan dengan proporsi agregat kasar 13%, agregat medium 45%, agregat halus 38%, dan filler semen 4% memenuhi amplop gradasi Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi II Divisi 6, dengan KAO sebesar 7,0%. Penambahan lateks meningkatkan nilai stabilitas dari 1.178,61 kg (0%) menjadi 1.568,10 kg pada kadar 4%, sebelum menurun pada kadar 6%, sementara seluruh parameter Marshall (VIM, VMA, VFA, flow, dan Marshall Quotient) tetap memenuhi spesifikasi pada rentang 0-4%. Kadar penambahan lateks optimum diperoleh sebesar 2,7% berdasarkan gabungan seluruh parameter Marshall.
Beton integral merupakan material konstruksi yang dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan terhadap penetrasi air tanpa memerlukan lapisan kedap air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi fly ash dan penambahan crystalline powder waterproofing terhadap kuat tekan, kekedapan air, dan penyerapan air pada beton integral. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksperimental, dengan target kuat tekan beton sebesar 25 MPa dan rasio air-semen sebesar 0,61. Variasi campuran terdiri atas A (0%, 0%), B (10%, 2%), C (20%, 3%), dan D (30%, 4%), yang masing-masing menunjukkan persentase substitusi fly ash dan penambahan crystalline powder waterproofing terhadap berat semen. Pengujian dilakukan pada umur 28 hari, meliputi uji slump, kuat tekan, kekedapan air, dan penyerapan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kuat tekan beton pada variasi A, B, C, dan D berturut-turut adalah 26,880 MPa, 27,615 MPa, 28,389 MPa, dan 26,163 MPa. Nilai kekedapan air berturut-turut adalah 36,667%, 29,333%, 26,667%, dan 22,667%, sedangkan nilai penyerapan air berturut-turut adalah 0,706%, 0,404%, 0,166%, dan 0,117%. Berdasarkan hasil pengujian, variasi C (20%, 3%) merupakan komposisi optimum karena memberikan kinerja terbaik dari segi kuat tekan, durabilitas pada beton integral
Reinforced concrete structures are among the most widely used construction types in Indonesia and have been proven to possess good resistance against seismic loads, particularly through the implementation of the Strong Column–Weak Beam (SCWB) concept, which requires column capacity to exceed that of beams. Concentrically loaded columns, which carry pure axial loads without bending moments due to eccentricity, play a crucial role in ensuring ductile structural behavior. Previous studies have shown that the compressive capacity of columns is influenced by the longitudinal reinforcement ratio, stirrup spacing and configuration, as well as cross-sectional shape. Closer confinement spacing can enhance compressive capacity, while variations in cross-sectional shape yield different structural responses. In this study, a finite element method based on the fiber element approach is employed to analyze the behavior of reinforced concrete columns under concentric axial loading. This method models the cross-section as uniaxial elastic–plastic fibers to capture nonlinear behavior in detail. The load–deflection curves from the fiber element analysis exhibit a trend closely matching the experimental results. Concrete stresses reached ultimate levels, while steel tensile/compressive stresses reached yield at mid-span of the column. The ultimate load values from both the analysis and experiments were greater than those prescribed by SNI 2847:2019.
The slope stability of hillside roads in West Sumatra is often affected by the combination of weak soil conditions, steep topography, and high rainfall, which increase the pore water pressure behind retaining structures. One of the critical locations is found along the Tanah Badantung–Kiliran Jao Road section in Sijunjung Regency, which has a slope inclination of approximately 55° and consists of silty sand soil. The initial analysis indicates a slope safety factor (FK) of less than 1.25, suggesting the need for an adaptive soil retaining structure that can respond to local geotechnical and hydrological conditions. This study develops an adaptive design of a Retaining Wall that combines a gravity-type wall, a gabion toe structure, and an integrated drainage system to reduce pore water pressure. The drainage system includes a granular layer, geotextile filter, perforated toe drain, and weep holes as discharge paths. The results show that adding a gabion with a height of 1–2 m and a stone unit weight of 18–22 kN/m³ increases the sliding safety factor from 1.29 to >2.0 and the overturning safety factor from 5.4 to >5.5, while the bearing safety factor slightly decreases but remains safe (FK ≥ 3). This adaptive design effectively improves slope stability and drainage efficiency in compact silty sand soils.
Ketersediaan air menjadi faktor kunci dalam keberhasilan sistem irigasi, khususnya di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Natuna yang memiliki keterbatasan sumber daya air permukaan dan pola debit musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air irigasi, serta menentukan pola tanam dan luas areal optimal yang dapat dialiri secara berkelanjutan di Daerah Irigasi Batubi seluas 82,4 hektar. Metodologi yang digunakan mencakup estimasi debit andalan Sungai Curing menggunakan Metode NRECA dan perhitungan kebutuhan air irigasi berdasarkan faktor evapotranspirasi, curah hujan efektif, kebutuhan air untuk pengolahan lahan, serta efisiensi sistem irigasi sebesar 90%. Hasil analisis menunjukkan debit andalan bulanan berkisar antara 0,001 hingga 0,043 m³/dtk, sementara kebutuhan air maksimum mencapai 0,0015 m³/dtk. Simulasi keseimbangan air menunjukkan bahwa pola tanam Padi–Padi–Palawija merupakan pola optimal yang dapat diterapkan, dengan intensitas tanam 300%, meskipun terjadi defisit air pada bulan Februari I, Juli I, dan Oktober I. Untuk menjamin keberlanjutan suplai air irigasi, direkomendasikan pengaturan giliran tanam, konservasi air, serta pemanfaatan infrastruktur pendukung seperti embung dan sistem Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada periode kritis. Temuan dalam studi ini menegaskan pentingnya integrasi data klimatologi dan simulasi teknis dalam merancang sistem irigasi yang adaptif dan efisien di wilayah kepulauan.
Peningkatan permintaan infrastruktur jalan mendorong inovasi aspal modifikasi belerang (4-6%) untuk meningkatkan ketahanan perkerasan. Berdasarkan uji propertis AASHTO/SNI pada aspal PEN 60/70, kadar 4% belerang meningkatkan densitas (+7,7%) tanpa segregasi, sedangkan kadar 5-6% meningkatkan fleksibilitas (daktilitas +12,3%) dan kelunakan (penetrasi +17,7%). Namun, kadar >4% menurunkan titik nyala (-39,8%) dan viskositas (-30,01%), meningkatkan risiko kebakaran dan rutting. Kadar 4-5% optimal untuk menyeimbangkan performa reologi dan risiko, direkomendasikan untuk aplikasi di iklim dingin dengan pengawasan suhu ketat dan uji emisi gas (H₂S/SO₂). Penelitian lanjutan dapat mengkombinasikan belerang dengan polimer seperti crumb rubber untuk mitigasi kelemahan. Kata kunci: Aspal modifikasi, Belerang, Reologi, AASHTO, Uji Propertis
Penelitian ini menggunakan analisis pushover untuk mengevaluasi kinerja Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) sebagai sistem pemikul beban lateral untuk struktur gedung baja 5 lantai. Dua model struktur dianalisis dengan pendekatan pemodelan sendi plastis yang berbeda dari sisi penempatan serta perilaku yang mengontrolnya. Pada Model 1, sendi plastis diletakkan pada balok dan kolom dengan perilaku deformation-controlled, sedangkan pada Model 2, penempatan sendi plastis pada kolom diubah perilakunya menjadi force-controlled. Pemodelan 3 dimensi menggunakan software ETABS v.20.0.0. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja struktur menggunakan Capacity Spectrum Method (CSM) dan Displacement Coefficient Method (DCM), level kinerja Model 1 adalah IO-LS untuk arah X, dan > CP untuk arah Y. Sementara itu, level kinerja struktur yang dicapai Model 2 adalah > CP untuk arah X dan Y. Selain evaluasi level kinerja, verifikasi dilakukan terhadap nilai faktor modifikasi respon (R), faktor kuat lebih (Ωo), dan faktor pembesaran defleksi (Cd) dari hasil pushover. Nilai R kedua model pada kisaran 3, dimana nilai ini lebih kecil dari nilai R SRPMM menurut SNI 1726:2019. Nilai Ωo untuk Model 1 dan Model 2, berturut-turut pada kisaran 1,5 dan 2,4. Nilai Cd untuk Model 1 dan Model 2, berturut-turut berada pada rentang 4,3-4,8 dan 5,5-5,8 untuk kedua arah X dan Y.
Bendungan yang telah selesai dibangun akan mengalami tekanan dari beban sendiri dan air waduk yang dapat menyebabkan bendungan mengalami deformasi. Deformasi vertikal bendungan pasca konstruksi pada permukaan dapat dipantau dengan instrumentasi patok geser. Analisis deformasi vertikal difokuskan pada arah sumbu z sebagai data pengukuran yang menunjukkan tren penurunan pada permukaan tubuh bendungan. Hasil dari pengukuran dibandingkan dengan kriteria penerimaan dari Hunter and Fell, ICOLD, Sowers, Sherard, dan analisa berdasarkan Settlement Index (SI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku deformasi vertikal Bendungan Tukul pasca konstruksi dengan menganalisis besaran penurunan yang terjadi terhadap kriteria penerimaan tersebut. Hasil analisis deformasi vertikal Bendungan Tukul pasca konstruksi dalam periode 3 (tiga) tahun berdasarkan patok geser dari beberapa kriteria didapatkan hasil beberapa instrumen memiliki nilai abnormal atau di bawah kriteria penerimaan, sebagian besar instrumen memenuhi kriteria sehingga dianggap normal. Namun, dalam hal kriteria yang abnormal terjadi pada beberapa instrumen bukan berarti bendungan dianggap tidak aman. Hasil analisis SI, keseluruhan instrumen memenuhi nilai di bawah 0,02 dengan nilai 0,001 s.d. 0,015, sehingga penurunan yang terjadi dalam kategori normal.
Standar Nasional Indonesia (SNI) 1727:2020 menggunakan acuan kecepatan angin dasar tunggal yang bersifat konservatif, sehingga berpotensi menimbulkan inefisiensi dalam perancangan struktur bangunan di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik meteorologis dan topografi yang sangat beragam. Ketidaksesuaian antara acuan standar dan kondisi aktual di lapangan dapat menyebabkan desain struktur menjadi terlalu aman dan tidak ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi perbedaan antara nilai acuan SNI dengan data meteorologi lokal, serta menganalisis implikasinya terhadap respons struktur bangunan akibat beban angin. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif komparatif melalui analisis data kecepatan angin historis periode 2005–2024 dari dua stasiun meteorologi, yaitu Jakarta (WIII) dan Makassar (WAAA). Data maksimum tahunan dianalisis menggunakan Distribusi Gumbel untuk menentukan kecepatan angin desain dengan periode ulang 700 tahun, kemudian hasilnya dibandingkan dengan acuan SNI melalui studi kasus gedung perkantoran 15 lantai. Hasil menunjukkan bahwa kecepatan angin desain berbasis data 42,2% lebih rendah di Jakarta dan 18,5% di Makassar, yang menyebabkan gaya geser dasar dan momen guling meningkat lebih dari 100%. Temuan ini mengindikasikan tingkat konservatisme yang tinggi, sehingga diperlukan pengembangan peta angin nasional berbasis data faktual guna meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keberlanjutan desain struktur di Indonesia.
Low-speed urban road sections such as intersections, bus bays, parking areas, and braking zones are subjected to high contact stresses, frequent braking, and moisture exposure, conditions that often lead to rutting, deformation, and strength degradation in conventional asphalt wearing courses. Although cobblestone pavements have historically demonstrated durable performance in similar environments, their application remains largely based on empirical practice rather than systematic mechanical comparison with asphalt materials. This study proposes a strength-normalized performance framework to compare the mechanical suitability of cobblestone and dense-graded asphalt concrete wearing courses for low-speed urban applications. Cobblestone performance was characterized using aggregate crushing, impact, and abrasion tests representing compressive resistance, impact toughness, and abrasion durability. Asphalt mixture performance was evaluated using Marshall stability, indirect tensile strength, and unconfined compressive strength to represent shear, tensile, and compressive resistance. Test results were normalized into dimensionless indicators and integrated into composite strength indices reflecting dominant pavement stress modes. Results show that cobblestone achieved a strength index of 1.317, compared with 1.102 for asphalt under dry conditions, indicating approximately 20% higher resistance to compression- and wear-dominated loading. Under soaked conditions, the cobblestone index decreased to 1.152, approaching asphalt performance
Fenomena lateral–torsional buckling (LTB) pada balok baja nonprismatik jenis web-tapered hingga kini belum tercakup secara eksplisit dalam SNI 1729:2020 yang standarnya masih berbasis pada profil prismatik. Kondisi tersebut menyebabkan ketidakpastian dalam estimasi kapasitas momen kritis balok dengan variasi penampang. Penelitian ini mengkaji perilaku LTB balok web-tapered menggunakan metode analisis elemen hingga nonlinier dengan mempertimbangkan efek ketidaksempurnaan geometri dan tegangan sisa. Studi parametrik dilakukan terhadap variasi rasio taper, panjang bentang tak terbreis, jenis beban (terdistribusi merata dan terpusat) serta lokasi aplikasi beban (pada pusat geser dan flens atas). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh ketidaksempurnaan dan tegangan sisa menurunkan momen kritis rata-rata 23%. Peningkatan rasio taper, panjang bentang, dan lokasi serta jenis beban juga menurunkan momen kritis. Berdasarkan hasil kalibrasi terhadap data numerik, diusulkan persamaan faktor koreksi geometri dan pembebanan untuk memodifikasi formulasi momen kritis SNI 1729:2020. Model yang dikembangkan menunjukkan kesesuaian yang baik dengan rata-rata perebedaan sebesar 3,99%, maksimum perbedaan 13,96%, dan koefisien determinasi sebesar 0,92. Persamaan yang diusulkan menyediakan pendekatan desain yang lebih praktis untuk aplikasi dalam perencenaan balok anak baja.
Dalam operasional sistem irigasi, penting untuk mempertimbangkan kebutuhan air dengan melakukan analisis evapotranspirasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat evapotranspirasi di daerah irigasi rawa Sungai Rengas, Kecamatan Gandus, Kota Palembang dan membandingkan hasil evapotranspirasi menggunakan empat metode empiris. Untuk itu, data klimatologi seperti suhu, kecepatan angin, kelembapan relatif, dan lama penyinaran matahari dikumpulkan. Analisis dilakukan menggunakan berbagai metode untuk mengestimasi nilai evapotranspirasi dari tahun 2019 hingga 2023. Metode Blaney-Criddle: mempertimbangkan suhu, metode Radiasi: mempertimbangkan suhu dan radiasi matahari, metode Penman: mempertimbangkan suhu, kelembapan, kecepatan angin, penyinaran matahari, dan Software Cropwat Version 8.0: mempertimbangkan suhu, kelembapan, kecepatan angin, penyinaran matahari. Suhu udara memainkan peran kunci dalam menentukan tingkat evapotranspirasi potensial setiap tahunnya. Dari keempat metode empiris yang digunakan, metode Blaney-Criddle memiliki rata-rata 4,954 mm/hari, metode Radiasi 4,697 mm/hari, metode Penman 4,817 mm/hari. Cropwat memberikan estimasi yang lebih rendah dengan rata-rata 3,851 mm/hari, sedangkan nilai evapotranspirasi aktual rata-rata adalah 3,850 mm/hari. Dari hasil perbandingan, metode Cropwat dianggap paling sesuai karena mendekati nilai evapotranspirasi aktual, mempertimbangkan semua faktor iklim, dan direkomendasi oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Irrigation and Drainage Paper No. 56 tahun 2006.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan lahan bantaran Sungai Way Mesuji menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Kerentanan lahan bantaran sungai merupakan isu penting yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi bencana banjir. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor kerentanan yang mencakup penggunaan lahan, kondisi fisik lahan, dan risiko bencana banjir. Data dikumpulkan melalui survei lapangan, penginderaan jauh, dan analisis spasial menggunakan perangkat lunak GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan lahan di sepanjang bantaran sungai bervariasi, dengan beberapa daerah menunjukkan kerentanan tinggi akibat aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan dan kondisi geologis yang rentan. Temuan ini memberikan dasar penting untuk perencanaan mitigasi risiko bencana dan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di kawasan bantaran Sungai Way Mesuji.
Traffic performance in a road network is significantly influenced by traffic flow at intersections. Area D, a signalized intersection located in Dodoma City,Tanzania experiences traffic congestion during peak hours, causing excessive vehicle delays when signals are in operation. The main objective of the study is to evaluate traffic performance of the existing intersection using Highway Capacity Manual (HCM 2010) and PTV VISSIM simulation during peak periods. Vehicle flow was measured during morning and evening peak periods, specifically at 06:00 to 10:00 AM and from 04:00 to 06:00 PM. The traffic composition during the morning peak consisted of light vehicles (46.95%), motorcycles (33.78%), and heavy vehicles (19.27%), while during the evening peak it consisted of light vehicles (46.46%), motorcycles (36.06%), and heavy vehicles (17.48%). Analysis using HCM 2010 indicated that the average delay was 55.16 pcu/sec during the morning peak and 115.14 pcu/sec during the evening peak. The average queue lengths were 131.2 m and 327.4 m, with Level of Service E and F during morning and evening peak hours, respectively. PTV VISSIM Version 11 results showed higher delays of 99.67 pcu/sec and 149.14 pcu/sec. Three improvement scenarios were evaluated using a micro-simulation approach. The third scenario, combining traffic signal optimization and geometric improvements, was identified as the most effective. This scenario reduced delays to 21.27 pcu/sec and 29.86 pcu/sec, decreased queue lengths to 29.86 m and 89.45 m, and improved level of service to B and C during morning and evening peak hours.
Accurate quantity take-off is essential for reliable construction cost estimation, particularly in reinforced concrete works, which involve complex and error-prone calculations. This study evaluates the accuracy of BIM 5D-based quantity take-off and examines cost deviations compared to conventional contractor estimations. A three-story dormitory building was modeled using BIM 5D (Cubicost), and the results were validated against manual analytical calculations. The validation shows strong agreement, with a maximum deviation of 0.75% and a high linear correlation across concrete, reinforcement, and formwork quantities. A comparative analysis with the contractor’s Bill of Quantity reveals a cost difference of approximately 3.4%, with the contractor’s estimate being higher. This deviation is primarily attributed to simplifications in conventional methods, including double counting at element interfaces, generalized reinforcement detailing, and the inclusion of material allowances. In contrast, BIM 5D enables a more integrated and precise estimation by accounting for element interactions and optimizing reinforcement configurations. However, the results also highlight that BIM-based estimation is sensitive to modeling assumptions and parameter settings. Therefore, aligning BIM models with actual construction practices is essential to ensure reliable and applicable results. Overall, this study demonstrates the potential of BIM 5D to enhance the accuracy, consistency, and transparency of construction cost estimation.