
African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit viral yang sangat menular dan mematikan pada babi, yang disebabkan oleh virus African Swine Fever (ASF). Sejak tahun 2018, penyakit ini telah menyebar dan menyebabkan konsekuensi sosial ekonomi yang besar terhadap industri babi di beberapa negara Asia, termasuk China, Vietnam, dan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi virus ASF dari sampel lapang menggunakan kultur sel primer leukosit babi, identifikasi karakteristik hasil propagasi virus ASF secara in vitro dan respon sel leukosit terhadap inokulasi virus ASF. Sel leukosit dikoleksi dari darah babi donor yang sehat dan dikultur dalam medium plasma homolog. Propagasi dilakukan dengan menginokulasikan sampel lapang dengan kode Indonesia/2022/Pig/PSJ ke kultur sel primer leukosit babi yang konfluen (70-80%). Pengamatan morfologi sel dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya setiap 24, 48, 72, 96,120, 144, and 164 jam pasca inokulasi (jpi). Sampel lapang dari kultur sel primer leukosit babi dipurifikasi dengan menggunakan metode Percoll. Pelet virus di deteksi virus ASF dengan menggunakan uji qPCR. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan morfologis pada sel primer leukosit yang terinfeksi, dengan adanya reaksi hemadsorpsi (HAD) yang teramati pada 48 jpi, dibandingkan dengan sel kontrol yang tidak terinfeksi. Pengikatan eritrosit babi ke permukaan sel yang terinfeksi virus ASF, membentuk rosette-like structure. Reaksi hemadsorpsi (HAD) dapat diamati setelah 2 kali blind passage. Purifikasi virus ASF menggunakan Percoll dapat meningkatkan kemurnian virus yang ditandai dengan nilai Ct yang lebih rendah dibandingkan dengan supernatant hasil kultur sel primer leukosit babi.
Anestesi efektif mengurangi stres dan rasa sakit pada tikus dengan menghilangkan kesadaran. Kombinasi yang umum digunakan dalam penelitian adalah Ketamine dan Xylazine. Kombinasi ini telah banyak digunakan pada tikus dewasa dengan berbagai dosis, tetapi belum ada acuan dosis tepat untuk tikus pediatri. Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis anestesi dari kombinasi Ketamine-Xylazine yang efektif dan aman untuk tikus pediatri. Penelitian menggunakan 25 ekor tikus berumur 3 minggu yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok negatif dan 4 perlakuan dosis Ketamine (25, 50, 75, dan 100 mg/kg BB) dikombinasikan dengan Xylazine 4 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan efek anestesi tikus pediatri baru mulai muncul setelah pemberian dosis Ketamine 50 mg/Kg BB. Kondisi fisiologis (frekuensi jantung, frekuensi napas, dan suhu tubuh) mengalami penurunan pada 10 menit setelah injeksi anestesi dan seiring waktu berangsur kembali ke normal. Pada dosis yang tinggi (100 mg/kg BB), terjadi kematian pasca injeksi dengan tingkat kematian 40%. Dosis anestesi Ketamine-Xylazine yang disarankan adalah 50–75/4 mg/kg BB.
Population of lactic acid bacteria (LAB) in the rumen of fattening livestock is relatively high and has the potential to be utilized. This study aimed to screen and identify LAB from the rumen as probiotic candidates. The research used rumen liquid from cattle, goats, and sheep collected from slaughterhouses in Bondowoso. The screening and identification processes were conducted at the Livestock Agroindustry Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Jember. The screening included colony morphology, Gram staining, cell shape, catalase test, and Carbon dioxide (CO2) gas production ability. The final identification of potential probiotic bacterial candidates was based on their bile salt tolerance. The results showed that there were LAB candidates with 22 isolates (from sheep/OS), 19 isolates (from cattle/OC), and 18 isolates (from goats/OG). The bacterial colony shape included oval (2OS, 1OC), circular (11OS, 18OC, 12OG), irregular (7OS, 6OG), and spindle (2OS). Colony sizes ranged from small (0.5–1.2 mm: 7 OS, 9OC, 4OG), medium (1.2–3.0 mm: 7OS, 7OC, 7OG), to large (3.0–5.0 mm: 8OS, 3OC, 7OG), with the majority of colonies being white and cream-colored, and a minority being yellow. All bacteria were Gram-positive, with coccus (19OS, 14OC, 2OG) and bacillus (3OS, 5OC, 16OG) shaped cells. All samples were capable of producing CO2 gas, and 50% of the isolates possessed catalase enzymes. Based on bile salt tolerance tests, 15% of the isolates had a survival rate of over 50%. In conclusion, LAB from the rumen, particularly goats, were identified as potential probiotic candidates for further development.
Penyakit kardiovaskuler yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah penyakit jantung coroner. Salah satu metode terapi jantung korner adalah dengan pemasangan stent jantung. Saat ini stent jantung yang digunakan oleh kardiolog di Indonesia masih mengandalkan produk impor. Saat ini Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan stent dengan desain dan bahan yang telah diteliti sebelumnya yang disebut dengan INA-Stent. Tahap pre-klinis telah dilaksanakan dengan menggunakan hewan beruk (Macaca nemestrina). Pemasangan bare metal stent (tanpa salut obat) telah dipasang pada bulan September tahun 2018. Proses euthanasia dilaksanakan pada bulan September 2021 di ruang kateterisasi Rumah Sakit Hewan pendidikan Prof. Soeparwi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH UGM). Sebelum pelaksanaan euthanasia diambil sampel darah sebanyak 1 ml pada tabung ethylene diamine tetra acetic acid (EDTA). Pemeriksaan darah menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV, MCV, total leukosit, dan trombosit dalam batas normal. Abnormalitas yang terjadi antara lain limfopenia, monositosis dan hipokromia.
Inflammation is a response of the body’s defense system in preparation for tissue repair. Acute inflammation is characterized by heat, redness, pain, and formation of edema. Acute inflammation involve the realese of inflammatory mediators. Muntingia calabura is a herbal plant commonly used as an anti-inflammatory medicine containing bioactive coumpounds such as flavonoids, triterpenoids, and alkaloids that can inhibit the regulation of inflammatory mediators. This study aims to determine the anti-inflammatory activity and optimal dosage of M. calabura infusion in addressing acute inflammation in rats. The research method is a laboratory experiment using Wistar strain white rats that divided into 7 treatment groups: normal, negative control, positive control (sodium diclofenac and methylprednisolone), and M. calabura infusion at doses of 150, 300, and 600 mg/kg body weight. Each rats model induced with 1% carrageenan at 0.2 ml intraplantar, the formed edema is measured using a plethysmometer every 30 minutes for the first 3 hour and every 60 minutes for the following 3 hour. The result indicate that M. calabura infusion has acute anti-inflammatory effect on white rats model induced with carrageenan, with the most optimal dose being 600 mg/kg body weight, showing a pattern of anti-inflammatory activity similar to methylprednisolone.
Eggs are a food ingredient consumed daily by the community; eggs infected with Salmonella sp. can cause various health problems. The global prevalence rate of salmonellosis disease based on data from the Institute for Health Metrics and Evaluation in 2019 stated that it was 4.22 per 100,000 population with a mortality rate due to salmonellosis of 1.72%. The end of this study was to see the comparison of Salmonella sp. contamination in chicken eggs in terms of differences in location on farms and in the Sukowono market. This study included 70 randomly selected chicken eggs from two different locations, namely chicken farms and traditional markets in Sukowono sub-district, using the egg shell swab method, and then bacterial culture was carried out using SSA (Salmonella Shigella Agar). The prevalence of Salmonella sp. contamination in the chicken eggs examined was 25.7%. There was a significant difference in the comparison of Salmonella sp. contamination in chicken eggs in terms of differences in location on farms and market traders. Eggs from farms have lower Salmonella sp. contamination compared to eggs from traditional markets.
Klebsiella sp. is one of the causes of bacterial diseases that attack large farm animals and poultry. Treatment of infections caused by these bacteria is using antibiotics. Cases of antibiotic resistance against Klebsiella sp. encouraging researchers to study spice plants as antibacterial, especially turmeric (Curcuma domestica Val.). Research related to the antibacterial activity of turmeric against Klebsiella spp. not much has been done. Therefore, this study aimed to determine the antibacterial activity of turmeric extract against Klebsiella sp. in vitro. re-identified by testing on MacConkey agar, triple sugar iron agar, and IMViC (indole, methyl red, Voges-Proskauer, citrate). Overall results showed the characteristics of Klebsiella sp. Making turmeric powder simplicia extract by maceration method followed by evaporation using a spray dryer. Turmeric extract was diluted with dimethyl sulfoxide (DMSO). The antibacterial activity test of turmeric extract (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) was carried out on Mueller-Hinton agar that had been given wells. Chloramphenicol (30 g) was used as a positive control and DMSO as a negative control. The test was carried out with three repetitions. The mean inhibition zone diameter of three repetitions was 20.00 mm; 0.00mm; 10.17mm; 10.67 mm; 10.67 mm; 11.17 mm and 12.17 mm for positive control, negative control, 20-100% turmeric extract. Based on the results of phytochemical tests, turmeric extract contains flavonoids, alkaloids, quinones and triterpenoids. Turmeric extract with concentrations of 20%, 40%, 60%, 80% and 100% had the activity to inhibit the growth of Klebsiella sp. with a strong category on in vitro testing.
Caplak menjadi faktor penyebab gangguan kulit yang banyak terjadi pada anjing. Resiko akibat caplak membuat kulit anjing mengalami kerusakan jaringan dan reaksi inflamasi sehingga penampilan terlihat jelek. Berbagai metode penaggulangan infeksi caplak telah berkembang. Namun, perlu adanya penyediaan obat baru yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan menguji waktu kematian caplak terhadap kombinasi rosemari, eucalyptus, dan minyak peppermin. Caplak Rhipicephalus sanguineus diperoleh melalui teleskopik dari anjing yang positif terinfeksi caplak di Asrama Mahasiswa Papua Dramaga Bogor. Perlakukan yang digunakan dengan komposisi rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 1 ml; rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 1,5 ml; serta rosemari 2 ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 2 ml dengan berlipat ganda sebanyak tiga kali. Analisis data dilakukan dengan melihat jumlah mortalitas akibat pengaruh paparan konsentrasi yang berbeda pada kombinasi rosemari, eucalyptus, dan minyak peppermin terhadap mortalitas caplak. Komposisi rosemari 2ml, eucalypytus 2 ml, dan minyak peppermin 2 ml pada hasil penelitian merupakan kombinasi paling efektif membunuh caplak dibandingkan 2 kombinasi lainnya.
Keamanan pangan merupakan aspek krusial dalam kesehatan masyarakat, terutama pada produk pangan yang diproses secara tradisional seperti ikan asap. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan sanitasi dan higiene dalam produksi ikan asap di Kota Kendari serta mengkaji dampaknya terhadap keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive pada 13 unit produksi ikan asap selama Juli sampai Oktober 2024. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan checklist kepatuhan terhadap standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil penelitian menunjukkan kurang dari sebagian produsen (48,4%) yang memastikan peralatan produksi tetap bersih dan terawat secara menyeluruh. Seluruh produsen (100%) menggunakan air bersih selama produksi, namun tanpa fasilitas pembersihan bahan baku yang memadai. Toilet yang memenuhi standar kebersihan hanya ditemukan pada 69,2% lokasi produksi, sementara tidak ada satu pun tempat sampah tertutup (0%). Evaluasi praktik higiene pekerja, didaptkan sebanyak 76,9% pekerja mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, namun tidak ada pekerja yang mamakai alat pelindung diri (0%). Selain itu, seluruh lokasi produksi tidak memiliki program pembersihan dan sanitasi berkala (0%), dan terdapat hewan peliharaan di sekitar area produksi, yang dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme patogen. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri ikan asap tradisional di Kendari belum memenuhi stadar sanitasi dan higiene yang baik sehingga memerlukan intervensi berbasis kesehatan masyarakat. Diperlukan edukasi kepada produsen mengenai pentingnya sanitasi dan higiene, peningkatan infrastruktur sanitasi, serta pengawasan lebih ketat dari pihak berwenang guna memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan. Kata kunci: keamanan pangan, higiene, kesehatan masyarakat, sanitasi, ikan asap
Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and methicillin-resistant Staphylococcus pseudintermedius (MRSP), are known as bacterial resistant to various antibiotics. MRSA transmission occurs between humans and direct human contact with dogs and cats. This study aimed to isolate, characterize, and analyze bacterial resistance to antibiotics phenotypically and genotypically from clinical case samples of pet animals in Yogyakarta. Bacterial isolates were identified through biochemical tests and molecular identification by species-specific 23S rRNA and nuc genes with polymerase chain reaction (PCR) and pta genes with PCR-restriction fragment length polymorphism (RFLP). Bacterial resistance to several antibiotics was analyzed using disk diffusion Kierby-Bauer method. The occurrence of methicillin resistance were screened by oxacillin resistance screening agar base (ORSAB) and confirmed by detection of the mecA gene with PCR. Based on the phenotypic and genotypic identification showed that 11 samples were identified as S. aureus (6 isolates) and S. pseudintermedius (5 isolates). The resistance tests revealed that 36% were resistant to tetracycline, cefoxitin (27%), oxacillin and erythromycin (9%). Screening of methicillin resistance with ORSAB indicated that all isolates were methicillin resistances (100%). Detecting the mecA gene encoding methicillin resistance showed that 81.81% of isolates were resistant to methicillin, with detail S. aureus (all 6 isolates) and S. pseudintermedius (4 isolates). Based on the antibiogram, ORSAB, and mecA gene detection, it could be confirmed that three isolates were MRSP, and six isolates were MRSA. The results of this study indicate the high occurrence of methicillin-resistant strains in pets that have the potential zoonotic spread to other animals and humans.
Feline calicivirus merupakan penyakit akibat virus yang sangat menular pada kucing. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan bagian atas. Feline calicivirus memiliki angka morbiditas yang tinggi dengan gejala yang umumnya serupa dengan penyakit lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian serta karakteristik lesi patologi feline calicivirus pada kucing di Vee Vet Bandung periode Agustus – September 2024. Metode penelitian ini dilakukan dengan mengambil data langsung kepada seluruh kucing yang datang ke Vee Vet Bandung periode Agustus-September 2024 dengan keluhan lesi pada mulut dan gangguan pernapasan bagian atas. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan uji rapid test dan mendokumentasikan lesi untuk mengetahui bentuk serta lokasi lesi pada kucing dengan kriteria yaitu, hasil positif rapid test feline calicivirus, terdapat lesi pada mulut, dan terdapat gangguan pernapasan bagian atas. Selanjutnya, data akan diolah pada microsoft excel yang kemudian akan dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa angka kejadian dari feline calicivirus di Vee Vet Bandung periode Agustus-September 2024 tergolong sangat rendah yaitu 0.05%. Hasil tersebut didapatkan dari 4 pasien terdiagnosa feline calicivirus dengan seluruh populasi kucing yang datang sebanyak 722 pasien. Karaktersitik lesi patologi yang muncul pada seluruh kucing terdiagnosis feline calicivirus adalah seluruh kucing memiliki lesi pada mulut berupa ulser kemerahan khususnya pada bagian lidah dan mukosa mulut serta tidak terjadi nekrosis ataupun edema baik itu di wajah atau pawpad.
Penggunaan glove bedah steril untuk tindakan laparotomi dilakukan untuk membatasi kontaminasi lokasi pembedahan oleh bakteri di tangan operator bedah dan dengan demikian mengurangi kemungkinan infeksi pascaoperasi. Pada prakteknya pergantian gloves steril selama proses operasi di kalangan praktisi dokter hewan jarang bahkan tidak pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat efektifitas penggunaan gloves steril selama proses operasi (intraoperasi) dan post operasi ovariohisterektomi dengan melihat total kuantitas bakteri yang didapatkan pada sampel gloves steril. Dua belas sampel dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampel. Kelompok 1 adalah kontrol, swab pada gloves steril dilakukan sebelum operasi dimulai. Kelompok 2 adalah swab pada gloves steril yang dilakukan pada menit ke 30 setelah operasi dimulai. Variabel 3 adalah swab pada gloves steril yang diambil pada menit ke 60 (post operasi). Durasi operasi ovariohisterektomi yang dilakukan berlangsung selama 48 menit. Swab dilakukan dengan menggunakan sterile swabs yang sudah dibasahi menggunakan NaCl steril, kemudian permukaan gloves dengan luas sekitar 5 cm x 5 cm diusab dan sampel direndam dalam konikel berisi NaCl steril. Sampel kemudian dikirim ke Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM untuk pengujian Total Plate Count (TPC). Data yang diperoleh selanjutnya diuji statistik menggunakan one way ANOVA. Hasil pemeriksaan TPC menggunkan analisis statistik one way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CFU/ml glove control (4550±5193,9), glove pada menit ke-30 operasi (10075±14747,5) dan glove setelah 60 menit operasi (27000±48764,7). Kesimpulan, tingkat efektifitas glove steril pada menit ke-0, ke-30 dan ke-60 operasi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (P>0.05) terhadap jumlah bakteri. Dengan demikian, tidak adanya perubahan signifikan jumlah koloni bakteri selama 48 menit selama operasi berlangsung dan post operasi (menit ke-60), maka penggunaan glove steril tidak perlu diganti dengan syarat tidak terdapat robekan, perforasi mikros atau tusukan pada glove steril.
To address the community's nutritional for meat can be supported by importing cattle while maintaining vigilance against Bovine Viral Diarrhea (BVD), an infectious disease caused by the Bovine Viral Diarrhea Virus (BVDV). This pathogen is associated with gastrointestinal, respiratory, and reproductive issues in cattle worldwide. Consequently, controlling BVDV stands as a paramount measure in preventing BVD. One effective strategy in this endeavor is vaccination. The successful implementation of vaccination relies on acquiring comprehensive information about BVDV antigens and antibodies present in the serum of unvaccinated cattle, which can provide insights into the protein profile resulting from natural infection. This study aimed to detect BVDV antigen and immunoglobulin-G (IgG) based on molecular weight in protein profiles from various cattle breeds imported into Indonesia. Utilizing the SDS-PAGE method, the analysis results revealed protein bands at 55.3 kDa and 151.3 kDa were detected in the serum of BVD-positive cows, meanwhile, these specific profiles were absent in BVD-negative cows. It can be concluded that the 55.3 kDa represents a BVDV antigen, while the 151.3 kDa corresponds to an IgG antibody profile. These findings can serve as one of the basic foundations for developing a BVD vaccine for cattle populations.
ABSTRACT This survey research was conducted to identify the understanding of small animal veterinarians regarding fluid therapy. Survey was directed to the members of Indonesian Veterinary Medical Association (IVMA) in DKI Jakarta and West Java Province between January 29 and March 25, 2023. The survey questionnaire consisted of 8 questions about the respondent's identity and 39 questions focusing on knowledge about fluid therapy. The sample size using the Slovin method is 290 respondents. Questions focused mainly on knowledge about types, indication, procedures, side effects of fluid therapy, and difficulties when administering fluid therapy. Validity test and reliability test were applied to assess questionnaire effectivity. The results show that almost all respondents had isotonic crystalloid fluid therapy in their clinic (Ringer's Lactate [286/290] and NaCl 0.9% [290/290]). Both fluids are often given either subcutaneously (NaCl 0.9% [81%]; Ringer's Lactate [19%]) or intravenously (NaCl 0.9% [48%]; Ringer's Lactate [46%]). Both fluids also often used also for maintenance (NaCl 0.9% [70%]; Ringer's Lactate [27%]) and for shock resuscitation of dogs (NaCl 0.9% [30%]; Ringer's Lactate [57%]) and cats (NaCl 0.9% [32%]; Ringer's Lactate [57%]). To increase the use of fluid therapy in dogs and cats, veterinarian practitioners' understanding and knowledge regarding fluid therapy is very necessary. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman dokter hewan praktik mengenai terapi cairan. Survei dilakukan kepada anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat dimulai sejak tanggal 29 Januari 2023 hingga 25 Maret 2023. Kuesioner survei dengan terdiri dari 8 pertanyaan tentang identitas responden dan 39 pertanyaan yang difokuskan pada pengetahuan tentang terapi cairan. Perhitungan jumlah responden dilakukan dengan metode Slovin berjumlah 290 responden dengan selang kepercayaan 5%. Pertanyaan difokuskan pada pengetahuan tentang jenis, indikasi, tata laksana, efek samping dan kesulitan saat pemberian terapi cairan. Sebelum di edarkan, kuesioner telah lulus uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua responden memiliki terapi cairan kristaloid isotonik yaitu Ringer Laktat (RL) (286/290) dan NaCl 0,9% (290/290). Kedua cairan tersebut sering diberikan secara intravena (NaCl 0,9% [48%]; RL [46%]) maupun secara subkutan (NaCl 0,9% [81%]; RL [19%]). Responden memilih NaCl 0,9% [70%] dan RL [27%]) untuk rumatan. Pilihan cairan pada resusitasi syok pasien anjing adalah NaCl 0,9% (30%) dan RL (57%) dan pada pasien kucing adalah NaCl 0,9% (32%) dan RL (57%). Sebanyak 29% responden merasa perhitungan asupan terapi cairan sebagai tantangan terbesar diikuti dengan perhitungan suplementasi Kalium (28%). Walaupun demikian lebih dari 54% responden melaporkan jarang menemukan efek samping dari pemberian terapi cairan. Untuk meningkatkan keefektifan penggunaan terapi cairan pada anjing dan kucing sangat diperlukan pendidikan berkelanjutan terkait terapi cairan.
The aim of this research was to find out infusion test of malaka leaves (Phyllantus emblica) to mice (Mus musculus) blood cholesterol rate which hypercholesterolemic mice. Twenty male mice with the age of 3 month and clinically healthy were used in this research. All mice were randomly divided into 4 treatment groups, 5 mice each. K1 was negative control group. K2 was positif control group, fed with hypercholesterolemic feed. K3 and K4 group were fed with hypercholesterolemic feed and infusion of malaka leaves with the doses of 0,04 and 0,08 mg body weight respectively. The result of statistic analysis showed that infusion of malaka leaves significantly effect (P<0,01) on the decrease of cholesterol level of male mice inducedby hypercholesterolemic feed. The treatment of infusion of malaka leaves 0,04 mg and 0,08 mg was able to decrease the cholesterol level ofmice induced by hypercholesterolemic feed. The advance test showed that the treatment K1 significantly effect (P<0,01) compare to K2 and K3. The K2 treatment significantly effect (P<0,01) with K1, K3, and K4. The K3 treatment showed no significanly effect compare to K4 (P<0,05). In conclusion, the administration of infusion of malaka leaves with the dose of 0,04 and 0,08 mg reduce cholesterol level.
This study aims to analyze the economic impact of the foot and mouth disease (FMD) outbreak on dairy farmers who are members of the Pangalengan South Bandung Livestock Cooperative (KPBS). Data were collected through structured questionnaires, in-depth interviews, and field observations of 100 FMD-affected farmers during September-November 2023, with follow-up evaluation one year after the outbreak. The results showed that during the outbreak (29 days), the average loss per farmer reached IDR 44,018,068 or IDR 6,288,295 per head, mostly due to decreased milk production, dairy cow mortality, and disease control costs, including treatment, vaccination, and disinfection. One year after the outbreak (365 days), economic losses were IDR 46,077,090 or IDR 6,582,441 per head, dominated by the residual impact of FMD in the form of a 39.75% reduction in milk yield (18.31 kg/day). Economic losses also involved additional costs, such as vector control and livestock burial, which further burdened farmers. These findings highlight the importance of more effective FMD control policies, including mass vaccination, improved biosecurity and financial assistance for affected farmers, to reduce economic impacts and support long-term recovery.
Ikan koi (Cyprinus carpio L.) merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi, yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar internasional dan termasuk jenis ikan hias yang bernilai jual tinggi dengan harga yang relatif stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh pemberian hidrogen peroksida dan waktu pengangkutan terhadap respon fisiologis ikan koi serta interaksi antara hidrogen peroksida dan waktu pengangkutan. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dua faktor dan tiga kali ulangan. Ikan koi (panjang 10,70+0,97 cm dan berat 14,45+0,21 gram, n = 540 ekor) digunakan dalam penelitian ini. Faktor pertama (A) yaitu konsentrasi H2O2 sebanyak enam taraf (A1) 0,15 ml/l, (A2) 0,35 ml/l, (A3) 0,55 ml/l, (A4) 0,75 ml/l, (A5) 0,95 ml/l, dan (A6) kontrol. Sedangkan faktor kedua (B) waktu pengangkutan sebanyak tiga taraf yaitu (B1) 10 jam, (B2) 15 jam, (B3) 20 jam. Parameter yang diukur adalah sintasan, kadar kortisol, glukosa, histologi hati, penilaian pasca pengangkutan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi konsentrasi hidrogen peroksida dan waktu pengangkutan berpengaruh nyata terhadap sintasan, kortisol, dan glukosa. Berdasarkan hasil pengujian, perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan A1B1 dengan konsentrasi hidrogen peroksida sebesar 0,15 ml/l dan waktu pengangkutan 10 jam, yang menghasilkan sintasan sebesar 100 %, kadar kortisol sebesar 0,45 ng/ml, dan kadar glukosa sebesar 56,80 mg/dL, tidak terdapat kerusakan pada jaringan.
Piroplasmosis pada kuda merupakan penyakit parasit darah yang disebabkan oleh Theileria equi dan Babesia caballi, menyebabkan anemia, ikterus, kegagalan organ, serta pembatasan aktivitas kuda, termasuk larangan mengikuti kompetisi. Deteksi piroplasmosis secara rutin masih mengandalkan pemeriksaan mikroskopis ulas darah untuk melihat morfometrik parasitnya sehingga membutuhkan keahlian tinggi dan memerlukan waktu relatif lama. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem deteksi otomatis parasit T. equi dan B. caballi berbasis algoritma YOLOv8 untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi identifikasi mikroskopis. Pengambilan data dilakukan dengan pembuatan preparat ulas darah dari kuda yang terdiagnosis positif piroplasmosis yang telah divalidasi oleh ahli dari Laboratorium Protozoologi SKHB IPB. Preparat diwarnai menggunakan giemsa 10%, dilakukan pengambilan gambar, pembuatan dataset, anotasi data, pelatihan model YOLOv8, serta pengujian performa sistem. Hasil penelitian menunjukkan performa model mendeteksi parasit dengan mAP50 sebesar 69,8%, mAP50-95 sebesar 40,5%, dan kecepatan deteksi 5,4 ms. Evaluasi performa manual menunjukkan akurasi 91%, presisi 98%, recall 92%, dan F1-score 95% dibandingkan pemeriksaan mikroskopis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem berbasis YOLOv8 mampu melakukan deteksi T. equi dan B. caballi secara otomatis dengan presisi tinggi dan waktu deteksi cepat sehingga berpotensi digunakan sebagai alat bantu diagnosis piroplasmosis yang lebih efisien.
Lalat merupakan Arthropoda yang termasuk Ordo Diptera dengan karakteristik tubuh bersegmen-segmen. Lalat merupakan vektor food-borne disease yang dapat menyebabkan penyakit diare, disentri, typhus, dan juga myiasis. Umumnya keberadaan sampah sesuai untuk lalat hidup dan melanjutkan perkembangbiakannya. Lalat dapat bertahan hidup di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan spesies lalat di TPST Piyungan dan permukiman sekitarnya. Penelitian dilakukan pada Juli–September 2021. Lalat dikoleksi dengan menggunakan sweep net dan dihitung kepadatannya dengan fly grill. Lalat yang sudah dikoleksi kemudian diidentifikasi dengan buku identifikasi “Borror and Delong’s Introduction To The Study of Insect” (Triplehorn and Johnson, 2005). Analisis keanekaragaman dilakukan dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan pola distribusi menggunakan Indeks Morisita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan lalat di TPST Piyungan dan permukiman sekitarnya termasuk tinggi yaitu masing-masing sebesar 68 dan 43,6. Indeks keanekaragaman di TPST Piyungan temasuk rendah dengan nilai sebesar 0,37 dan pada permukiman sebesar 1,07 yang berarti sedang. Ditemukan spesies lalat masing- masing berjumlah 4 dan 5 di TPST Piyungan dan area permukiman sekitarnya. Spesies lalat yang ditemukan berupa Musca domestica, Fannia sp., Chrysomya megacephala, Lucilia sp., dan Sarcophaga sp. Pola distribusi kelima spesies lalat sendiri tergolong kedalam penyebaran secara mengelompok. Pola distribusi lalat dipengaruhi oleh faktor seperti suhu sebesar 28-29,5⁰C dan kelembaban berkisar 69%-78% yang optimal untuk hidup lalat.
Penyakit avian influenza (AI) merupakan penyakit zoonotik yang mengancam kesehatan manusia. Unggas hidup yang dijual di di pasar tradisional merupakan berpotensi menjadi sumber penularan virus AI, sehingga dibutuhkan langkah pencegahan dan pengendalian penyakit di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik biosekuriti pada pedagang unggas hidup di wilayah Bogor sebagai langkah pencegahan penularan penyakit AI. Penelitian dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang disusun sebagai alat untu mengidentifikasi karakteristik pedagang unggas dan penerapan praktik biosekuriti. Sebanyak 30 pedagang diwawancarai sebagai responden di 3 pasar tradisional di Kota Bogor dan 7 pasar tradisional di Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui gambaran terkait karakteristik pedagang unggas serta praktik biosekuriti yang dilakukan pedagang. Hasil penelitian menunjukkan praktik biosekuriti terhadap penyakit AI belum sepenuhnya diterapkan oleh pedagang unggas di wilayah Bogor, terutama pada aspek isolasi hewan sakit dan sanitasi. Selain itu kesadaran pedagang unggas untuk melaporkan kejadian penyakit masih sangat rendah (20%). Penerapan praktik biosekuriti pada pedagang perlu ditingkatkan melalui penyuluhan terkait penyakit AI serta perbaikan sarana dan prasarana kios unggas. Kata kunci : Avian Influenza, Biosekuriti, Pedagang unggas hidup, Kios unggas