• 学术搜索
  • 科研智能体
    • Research Labs
    • AI 阅读
    • AI 文库
    • 深度研究
    • 学者亮点
  • 学术资源
    • AI2000
    • 期刊/会议
    • 学者库
    • 学术API
    • 溯源树
    • 数据集
  • 知识沉淀
    • 学术空间
订阅小程序
旧版功能
aminer vip
开通会员低至0.73元/天
一次搞定AI科研
立即登录
  • English
  • 联系方式
    Gema Teologika

    Gema Teologika

    JournalISSN 2502-7743eISSN 2502-7751

    年发文量

    研究主题

    论文(189)

    排序
    1Hak Kepemilikan Tanah (imamat 25:23-24): Analisis Teologis Dan Kontekstualisasi Ketentuan Tahun Yobel Di Tengah Konflik Agraria Di Indonesia
    Hulman Sinaga

    AbstractAgrarian conflicts remain a persistent and serious issue in Indonesia. Land, which should serve as a source of livelihood for many, is increasingly controlled by large corporations through state-issued permits. Consequently, indigenous communities that have stewarded the land for generations often face marginalization and even criminalization. This situation raises a fundamental theological question: who truly owns the land—the people, the state, or God? Leviticus 25:23–24 underscores that the land must not be sold permanently, for its ultimate owner is God, while humans are merely sojourners entrusted with its use. This study employs a critical hermeneutical method to interpret the text within its post-exilic context and to contextualize its meaning in relation to contemporary land conflicts in Indonesia, particularly in the Lake Toba region. The findings suggest that the Jubilee principles articulated in Leviticus 25 offer a theological foundation for agrarian reform, affirming that land is a divine gift to be managed with justice, sustainability, and preferential concern for the vulnerable. AbstrakKonflik agraria masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan rakyat justru dikuasai oleh korporasi besar melalui izin pemerintah. Akibatnya masyarakat adat yang telah mengelola tanah secara turun temurun terpinggirkan, bahkan dikriminalisasi. Pertanyaannya, siapa sesungguhnya pemilik tanah—rakyat, negara atau Tuhan? Imamat 25:23-24 menegaskan bahwa tanah tidak boleh dijual permanen karena pemilik sejati adalah Tuhan sedangkan manusia hanyalah pendatang yang diberi hak pakai. Tulisan ini menggunakan analisis hermeneutis teologis untuk menafsirkan teks dalam konteks pasca pembuangan lalu mengkontekstualisasikannya pada konflik tanah di Indonesia, khususnya di kawasan Danau Toba. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketentuan Tahun Yobel dalam Imamat 25 dapat menjadi dasar teologis untuk reformasi agraria: tanah adalah titipan Tuhan yang harus dikelola dengan adil, lestari dan berpihak pada kelompok lemah.

    2025
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    2Memaknai Lukas 10:25-37 Melalui Lensa Diakonia Dan Pendampingan/Konseling Pastoral
    Eleven Sihotang, Sari Asi Situmorang

    AbstractThis study explores the integration of diakonia and pastoral care/counseling in the interpretation of Luke 10:25–37. The research employs Reader-Response Criticism (RRC) as its methodological framework, involving twenty-five students from Sekolah Tinggi Diakones HKBP Balige as participants. The aim of the study is to demonstrate that diakonia and pastoral counseling constitute two interrelated dimensions of practical theology. The findings reveal that the relationship between diakonia and pastoral care/counseling is exemplified in the Samaritan’s compassionate response expressed through concrete actions toward those in need. More specifically, the study underscores that both diakonia and pastoral care/counseling are realized through tangible acts of service rather than mere verbal expressions. An additional finding highlights the processual nature of care, in which the one being helped (the counselee) gradually attains independence and empowerment. Ultimately, such integration fosters a pastoral praxis that moves individuals from dependence to self-reliance, embodying the transformative essence of diakonia and pastoral care within the Christian community. AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetengahkan integrasi diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dalam membaca Lukas 10:25-37. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Reader Respons Critism (RRC) dengan melibatkan dua puluh lima orang mahasiswa Sekolah Tinggi Diakones HKBP. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bahwa diakonia dan konseling pastoral adalah dua bidang ilmu teologi praktika yang integral. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dilihat ketika orang Samaria menolong dengan beralaskan belas kasih dan melalui tindakan nyata terhadap orang yang membutuhkan. Lebih jelasnya hendak ditekankan bahwa diakonia dan pendampingan/konseling pastoral diwujudnyatakan dengan bertindak secara langsung bukan hanya lewat kata-kata. Hal menarik lainnya yang memperlihatkan keterkaitan diakonia dan pendampingan/konseling pastoralyaitu adanya tahapan dalam tindakan pemedulian yang dilakukan. Dalam arti, konseli atau orang yang ditolong akan sampai kepada tahap memandirikan dan memberdayakan. Dengan demikian, tidak akan bergantung kepada konselor atau pelaku diakonia.

    2025
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    3Resensi Buku: Intersectional Theology: an Introductory Guide
    Endang Damaris Koli
    2025
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    4Resensi Buku: Melampaui Diri Sebagai Jalan Mistik: Interspiritualitas Bunda Teresa Dan Ki Ageng Suryomentaram Dalam Kajian Perspektif Bernard Lonergan Tentang Self-Transcendence
    Pemberian
    2025
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    5Mempelajari Ulang Nicaea Di Era Antroposen: Kredo Sebagai Peristiwa, Pengalaman, Dan Pembelajaran Gerejawi
    Hendri Mulyana Sendjaja

    AbstractThis article reinterprets the Council of Nicaea (325) through a triadic framework of event, experience, and learning, informed by the philosophical and theological insights of Alfred North Whitehead, Edward Schillebeeckx, and Peter Jarvis. Nicaea is approached not merely as a historical or doctrinal episode, but as an ongoing ontological event that continues to inform Christian identity, practice, and theological imagination. The Nicene Creed is thus understood as a living and dynamic articulation of faith, continually renewed through liturgy, catechesis, and ecclesial formation. In light of the ecological and ethical crises defining the Anthropocene epoch, the study examines how the Nicene legacy can offer theological orientation and moral discernment for the contemporary Church. By employing a triadic perspective, the article proposes that the Creed of Nicaea serves as a generative model of relational, ethical, and ecological care within a context of global disruption and ecclesial transformation. AbstrakArtikel ini menafsirkan ulang Konsili Nicaea (325) melalui pendekatan triadik peristiwa, pengalaman, dan pembelajaran, berdasarkan wawasan-wawasan Alfred North Whitehead, Edward Schillebeeckx, dan Peter Jarvis. Nicaea dipahami bukan sebagai episode doktrinal statis, melainkan sebagai peristiwa ontologis yang terus membentuk identitas, praktik, dan imajinasi Kristen. Kredo Nicaea dilihat sebagai ekspresi iman yang dinamis, yang dipelihara melalui liturgi, katekese, dan formasi komunitas. Dalam konteks krisis-krisis ekologis dan etis era Antroposen, artikel ini mengkaji bagaimana warisan Nicaea dapat menjadi sumber orientasi teologis dan pencerahan moral. Dengan lensa triadik, artikel ini memposisikan Kredo Nicaea sebagai kerangka dasar iman yang menumbuhkan kepedulian relasional, etis, dan ekologis di tengah krisis global dan transformasi eklesial.

    2025
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    立即登录,查看全部 189 篇论文

    高被引作者

    作者引用发文
    E. G. Singgih127
    Paulus Sugeng Widjaja94
    Haleluya Timbo Hutabarat98
    Mick Mordekhai Sopacoly81
    Izak Y. M. Lattu81
    Pelita Hati Surbakti72
    Desi Natalia71
    august corneles tamawiwy61
    Asnath Niwa Natar52
    Ebenhaizer I. Nuban Timo51

    高产作者

    作者引用发文
    Paulus Eko Kristianto410
    Haleluya Timbo Hutabarat98
    E. G. Singgih127
    Paulus Sugeng Widjaja94
    daniel kurniawan listijabudi04
    Firman Panjaitan13
    Kees De Jong03
    Rena Sesaria Yudhita13
    Robert Setio13
    Yahya Wijaya03

    相关期刊

    No data
    No data