
Padi merupakan salah satu komoditas pertanian yang menjadi pondasi ketahanan pangan. Produksi padi mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Produksi padi di Kabupaten Jember sebagian besar dihasilkan dari lahan sawah irigasi. Daerah Irigasi Bedadung merupakan salah satu daerah irigasi yang memiliki wilayah pelayanan yang luas. UPT Balung merupakan salah satu UPT yang sering mengalami kekurangan air. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian adalah dengan mengoptimalkan manajemen alokasi air pada lahan pertanian. Metode yang dapat digunakan untuk manajemen alokasi air adalah metode FPR-LPR dan evapotranspirasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alokasi air, pola tanam dan metode terbaik antara metode FPR-LPR dan evapotranspirasi pada tanaman padi di UPT Balung Daerah Irigasi Bedadung. Penelitian memerlukan data berupa data sekunder yang meliputi data unsur iklim, data tanah, data tanaman dan data RTTG 2022-2023. Alokasi air dengan metode FPR-LPR menunjukkan pada musim tanam 1 membutuhkan air sebesar81.612 lt/dt dan pada musim tanam 2 sebesar 22.152 lt/dt. Alokasi air dengan metode evapotranspirasi menunjukkan pada musim tanam 1 membutuhkan air sebesar 13.152 lt/dt dan pada musim tanam 2 sebesar 15.196 lt/dt. Metode yang terbaik diantara kedua metode tersebut adalah metode evapotranspirasi karenametode evapotranspirasi didasarkan pada data iklim, data tanah dan data tanaman.
Bioplastics are environmentally friendly materials that serve as alternatives to synthetic plastics, capable of being decomposed by microorganisms. Starch, commonly sourced from tubers such as canna tubers, is one of the primary natural components used in bioplastic production. This study utilized a completely randomized factorial design with glycerol as a plasticizer and cellulose acetate from Oil Palm Empty Fruit Bunches (OPEFB) as a reinforcement agent. Glycerol was varied at concentrations of 1, 2, 3, 4, and 5 ml, while cellulose acetate OPEFB was varied at 1, 1.5, 2, 2.5, and 3 g. The resulting bioplastics underwent mechanical testing, including tensile strength, elongation, elasticity, water absorption, solubility, and biodegradability. The highest tensile strength (20.56 MPa) was observed with 2 ml glycerol and 1.5 g cellulose acetate OPEFB. The best elongation (33.33%) occurred with 4 ml glycerol and 1 g cellulose acetate OPEFB. Maximum elasticity (2.86 MPa) was achieved with 2 ml glycerol and 2.5 g cellulose acetate OPEFB. Optimal water absorption (12.54%) was recorded with 1 ml glycerol and 1 g cellulose acetate OPEFB, while the highest solubility (43.97%) was observed with 5 ml glycerol and 3 g cellulose acetate OPEFB. The greatest biodegradability (88.75%) was achieved with 5 ml glycerol and 1.5 g cellulose acetate OPEFB. These findings highlight the potential of starch-based bioplastics reinforced with cellulose acetate OPEFB to achieve desirable mechanical and environmental performance characteristics.
Crude palm oil (CPO) productivity in Central Lampung Regency, at 2.25 tons/ha/year, remains below the national average of 3.90 tons/ha/year.One of the contributing factors is that oil palm plants are not growing optimally. This is reflected by the fact that the canopy cover is not dense or uniform. The objective of this study was to assess the dense or crown of oil palm trees using remote sensing technology from satellite imagery. In this study, Sentinel-2 imagery was used to oil palm canopy closure, and Landsat 8 imagery was usedfor land suitability analysis. The research method includes the vegetation index analysis by Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), land moisture index by the Normalized Difference Moisture Index (NDMI), Land Surface Temperature (LST), and land suitability parameters. The results of the analysis are then macthed with the conditions of oil palm plants in the field. The results obtained from this study indicate that oil palm plantations in the Bekri District can be categorised into two discrete classes: Class S2 (sufficiently suitable) and Class S3 (marginally suitable). The total area encompassed by these classes is 8,903 hectares, with Class S2 covering 7,615 hectares and Class S3 covering 218 hectares. Moreover, the study revealed that 3,721 hectares were conducive to optimal plant growth with a dense crown, 765 hectares exhibited normal crownand growth, and 310 hectares displayed suboptimal growth with an indicated uniform dense crown. The overall accuracy rate of the study is 81.82%. There is a positive correlation between NDVI and NDMI values with a correlationcoefficient (R2) of 0.8426, but there is a negative correlation between the NDVI and LST values with a correlation coefficient of -0.586.
Stroberi (Fragaria sp.) merupakan komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi dan memiliki prospek pasar yang luas, terutama di wilayah dataran tinggi tropis seperti Bedugul, Bali. Namun, produktivitas dan mutu buah masih dipengaruhi oleh fluktuasi iklim serta keterbatasan penerapan teknologi budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas dan kualitas buah stroberi varietas Sujarli (Rosalinda) pada empat model budidaya berbeda, yaitu lahan terbuka konvensional, tunnel, fertigasi terbuka, dan greenhouse. Selain itu, dilakukan pengembangan model prediksi kadar Total Soluble Solids (TSS) berdasarkan parameter warna dari analisis citra digital. Pengamatan dilakukan terhadap 100 sampel buah pada lima tahap kematangan. Parameter yang diukur meliputi karakteristik biometrik (panjang, diameter, dan berat buah), dan kadar TSS. Analisis citra dilakukan menggunakan dua ruang warna, yaitu RGB dan HSV. Nilai warna dari masing-masing channel digunakan sebagai variabel input dalam model regresi linier berganda (MLR) untuk memprediksi nilai TSS. Hasil menunjukkan bahwa sistem fertigasi di lahan terbuka menghasilkan mutu buah yang baik dan layak dipertimbangkan untuk skala budidaya petani. Model MLR berbasis ruang warna HSV menunjukkan performa prediksi yang lebih baik dibandingkan model RGB, dengan nilai R² masing-masing sebesar 0,826 dan 0,775 pada tahap pelatihan dan pengujian. Nilai RMSE juga lebih rendah dibandingkan model RGB. Hasil ini mendukung pemanfaatan data warna dari citra digital untuk mendukung penilaian mutu buah stroberi.
Salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam pembuatan makanan ringan adalah ekstrusi. Sebagian besar produk ekstrusi yang tersedia secara komersial menggunakan grits jagung sebagai bahan utama. Grits jagung dapat dikombinasikan dengan bahan yang mengandung pati tinggi seperti sagu. Sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan mengingat produksi sagu di Indonesia sangat tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas. Sagu biasanya hanya diolah sebagai makanan tradisional sehingga diperlukan inovasi lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh komposisi sagu (0%, 10%, 20%, 30%) dan suhu barrel (120⁰C, 130⁰C, 140⁰C) terhadap karakteristik ekstrudat yang terbuat dari grits jagung dan tepung sagu. Proses ekstrusi dilakukan dengan ekstruder ulir ganda SYSLG-IV. Peningkatan proporsi tepung sagu dan suhu barrel menyebabkan peningkatan rasio ekspansi (3,21-3,81), WSI (2,78-11,49) dan penurunan kadar air (7,15-10,16), particle density (0,13-0,22), bulk density (0,07-0,11), WAI (5,94-6,6), dan kekerasan (3,59-5,96). Perlakuan terbaik berdasarkan analisis TOPSIS yaitu pada sampel dengan komposisi sagu 30% dan suhu 140⁰C
The conventional steam-based sterilization of crude palm oil (CPO) in Indonesia is known to be energy- and water-intensive, as well as time-consuming. This necessitates more efficient and sustainable alternatives, such as microwave oven heating. While microwave applications in CPO sterilization have been explored as a more efficient and sustainable alternative, existing studies often lack comprehensive optimization and a systematic investigation of key process parameters. This study aimed to optimize fresh fruit bunch (FFB) sterilization using a microwave oven to identify optimal operating parameters for maximizing oil extraction yield and minimizing Free Fatty Acid (FFA) content. The Central Composite Design (CCD) within Response Surface Methodology (RSM) was employed as a statistical technique to model the process and ensure the validity of the results. Three independent variables were investigated: sterilization time (6–20 min), fruit mass (396–1104 g), and fruit maturity level (ripe and over-ripe), resulting in twenty-six experimental combinations. Optimal conditions for maximum yield and lowest FFA were determined at 6 min sterilization time and 550 g fruit mass for both maturity levels. Conversely, suboptimal conditions at 11.5 min and 150 g fruit mass for both maturity levels resulted in the lowest yield and highest FFA. This research provides crucial insights for developing an optimized microwave sterilization technique, enhancing palm oil processing efficiency and product quality. The findings underscore the potential for a scalable, low-energy sterilization method that could significantly reduce the environmental footprint of CPO production, instilling optimism about the positive impact of this research.
Pengolahan jambu biji menjadi manisan kering merupakan alternatif untuk memperpanjang umur simpan jambu biji. Tujuan penelitian ini untuk menduga umur simpan manisan kering jambu biji dalam kemasan plastik polipropilen pada sembarang suhu penyimpanan. Melalui perubahan nilai parameter mutunya, pendugaan umur simpan manisan kering jambu biji pada berbagai suhu penyimpanan ditentukan menggunakan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) model Arrhenius. Manisan kering jambu biji yang telah dikemas didalam kemasan plastik poliepropilen (ketebalan 0,08 mm) kemudian disimpan di inkubator dengan penyimpanan beberapa suhu yaitu 35ºC, 40 ºC, 45 ºC, dan 50ºC. Analisis mutu dilakukan terhadap perubahan kadar air, nilai warna, dan vitamin C. Pendugaan umur simpan model Arrhenius didasarkan pada parameter mutu kritis, dalam penelitian ini penurunan mutu kadar vitamin C menjadi parameter kritis. Masa simpan manisan kering jambu biji dalam kemasan plastik polipropilen bila disimpan pada suhu 20˚C adalah 282 hari, pada penyimpanan 25˚C adalah 134 hari, dan penyimpanan pada suhu 30˚C bertahan hingga 65 hari. Umur simpan akan bertambah jika manisan kering jambu biji disimpan pada suhu yang lebih rendah dan sebaliknya.
Melons are become a popular fruit cultivating inside the greenhouse using the drip irrigations in Indonesia. The application of internet of things-based monitoring is beneficial to optimize cultivation management. Another issue on melon cultivation inside the greenhouse is automation of the water and nutrient delivery. However, currently monitoring and control is expensive and difficult to modify by farmers. The aim of this study was to develop a low-cost technology and easy to use by farmers using internet of technology. The method used in this study consisted of analysis, design and implementation. The result of this study was a system monitoring to monitor air temperature, air humidity, media humidity and solar radiation inside the greenhouse integrated with nutrient or water delivery using drip irrigation. A web-based dashboard was developed as a user interface for the farmers and users. The overall cost to develop a system monitoring and control was 358.24 USD not including the water thank and nutrient delivery system (pump and irrigations pipe). The system was deployed and tested at Agribusiness and technology park IPB University.
Continuous consumption of fossil fuels can cause fuel prices to rise and potentially cause shortages. One alternative renewable energy that can replace fossil fuels is biomass pellets. The use of manual biomass pellet stoves has constraints in controlling the amount of biomass burned, the amount of heat released by the stove, combustion efficiency, safety, and wasteful use of pellets. The purpose of this study was to develop a biomass stove using an automatic control system as a substitute for gas or electric stoves. This stove has the same principle and working method as gas stoves in general, but the pellet fuel is solid. This technology controls the temperature through the integration of temperature sensors, fan blowers, screw feeders, and heat insulators automatically. The results showed that the stove temperature value with the coefficient of determination value from sensor calibration 1 was R2 = 0.9945, sensor calibration 2 obtained the value R2 = 0.9956, the R2 value in sensor calibration 3 was 0.9946, and sensor calibration 4 obtained the value R2 = 0.9927. In the system response test, the device was able to reach a temperature of 300°C in 450 to 780 seconds. Stability testing for setting points 100°C, 200°C, and 300°C were 0.98, 0.82, and 0.53, respectively. The accuracy of the device was 92%. In the execution speed test, it took 2.5 to 4 seconds for the pellets to enter the fuel furnace.
Penelitian ini bertujuan merancang sistem otomasi pencampuran nutrisi pada budidaya melon sistem Dutch Bucket untuk urban farming. Prosespencampuran nutrisi untuk sistem fertigasi dutch bucket diawali dengan mengukur ketinggian muka air dalam tandon, selanjutnya air baku dialirkan kedalam tandon sampai mencapai ketinggian maksimum sesuai set point. Pompa peristaltik dinyalakan untuk mengalirkan pekatan nutrisi A dan B dengan kombinasi menyala selama 300 ms kemudian dimatikan selama 2 s secara bergantian sampai sensor TDS mencapai nilai set point. Larutan nutrisi hasil pencampuran disirkulasikan secara terus menerus ke dalam dutch bucket danlimpasan nutrisi dari saluran pembuangan bucket dialirkan kembali ke tandon. Hasil kalibrasi sensor TDS memiliki nilai root mean square error (RMSE) sebesar 28 ppm, rata rata error reliabilitas sensor adalah 31,5 ppm dan maksimum error 87,4ppm dari tiga kali pengulangan pada kondisi yang sama. Lama pencampuran pekatan nutrisi A dan B untuk mencapai set point adalah 3 menit. Rata-rata debit aliran nutrisi pada pipa emiter adalah 7,3 ml/s. Nilai pembacaan sensor TDS ditampilkan pada layar LCD dan juga dikirimkan ke cloud ThingSpeak untuk tujuan monitoring. Hasil pengujian secara keseluruhan memberikan kesimpulan bahwa sistem pencampur nutrisi dan fertigasi dutch bucket yang dirancang mampubekerja dengan baik pada budidaya melon untuk urban farming.
This study examines the feasibility of biomass briquettes as a renewable energy source, utilizing Giant Miscanthus, sawdust, and spent coffee grounds. Recycled paper pulp serves as a binder, enhancing energy density and combustion efficiency. The briquetting process involves drying, grinding, mixing, and compressing the raw materials. Fuel characteristics were assessed through proximate and ultimate analyses, calorimetry, and thermogravimetric analysis (TG/DTA). Spent coffee grounds exhibited the highest heating value (21,370 kJ/kg), followed by sawdust (17,610 kJ/kg) and Giant Miscanthus (17,020 kJ/kg). Thermal decomposition confirmed efficient combustion, with Giant Miscanthus achieving complete combustion at 484°C and an exothermic peak at 452°C. Giant Miscanthus emerged as a promising feedstock due to its low ash content, high energy yield, and compatibility with existing infrastructure. Combining agricultural residues with non-arable crops enhances resource efficiency. This study highlights the potential of biomass briquettes to support decarbonization, energy security, and sustainable development goals by providing a viable low-carbon alternative to fossil fuels.
Pest and disease attacks on chili plants are typically handled by pesticide spraying using backpack sprayers, which pose health risks to operators due to pesticide exposure and the weight of the equipment. The proposed solution is the development of a remote-controlled pesticide sprayer designed for ridged fields. This machine is equipped with a frame, track-type wheels, a drive motor, a water tank, a water pump, and navigation using a First Person View (FPV) camera. The machine is controlled via a remote control with a range of up to 200 meters. Performance testing shows that the machine moves at an average speed of 0.30 m/s, with an average track wheel slip value of 8.32% and a maximum slip of 10.65% when carrying a full water tank. The machine is equipped with 4 nozzles positioned as needed, with an average flow rate of 0.87 L/minute. The average current required for the driver motor is 9.1 A, while the current for the pump remains stable at 2.14 A. The control system consists of a cytron motor driver for the drive motor and a relay for controlling the on/off function of the water pump.
Madu memiliki manfaat kesehatan yang tinggi berkat kandungan nutrisi, enzim, dan senyawa bioaktifnya. Namun, metode pengolahan konvensional seperti pasteurisasi berpotensi menurunkan kualitas fisik dan kimia madu, termasuk kadar air, densitas, total padatan terlarut, viskositas, dan stabilitas warna. Penelitian ini menguji efektivitas teknologi Evaporator Vacuum Cooling Four in One dalam mempertahankan kualitas madu Akasia, dibandingkan dengan berbagai durasi pasteurisasi. Hasil menunjukkan bahwa teknologi pendinginan vakum secara signifikan menjaga kualitas madu berdasarkan kadar air, densitas, dan total padatan terlarut madu pada tingkat yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. Selain itu, pendinginan vakum juga mempertahankan viskositas dan warna madu secara optimal, menunjukkan keunggulannya dalam mengurangi kerusakan komponen bioaktif. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teknologi pengolahan madu yang lebih efisien di industri, guna menyediakan madu dengan kualitas tinggi yang memenuhi standar kesehatan konsumen.
Durian, known as the "King of Fruits," is a prevalent fruit in Indonesia, thriving in the tropical climate of Southeast Asia. One of the most widely cultivated varieties is Bawor, commonly found in Banyumas Regency, Central Java, producing 95,426 quintals in 2024. The price of Bawor durians ranges between Rp. 85,000 to Rp. 120,000 per fruit, weighing between 2 to 4 kg. Durian grows optimally in lowland areas up to 180 meters above sea level, with a humid climate, air temperatures of 25-32°C, humidity levels of 50-80%, and sunlight intensity of 45-50%. The research aims to build an information system called "SiDurIoT" based on the Internet of Things (IoT) integrated with a Geographic Information System (GIS) to evaluate the suitability of Bawor durian land. Land evaluation is classified S1, S2, S3, and N. Durian Information System with Internet of Things "SiDurIoT" is a device designed to measure the suitability of durian orchards in real-time. The device consists of a DHT22 sensor, a wind speed sensor, and GPS connected to the ESP32, with data displayed on an LCD screen. The device is connected to the internet via the website siduriot.my.id and the "SiDurIoT" smartphone application, which allows users to input measurement data. The results of the land suitability assessment show that wind speed, rainfall, soil pH, soil temperature, and land elevation are highly suitable (S1). In contrast, air temperature is suitable (S2), and humidity and sunlight intensity are marginally suitable (S3). Based on the suitability evaluation, the Kemranjen, Sumpiuh and Tambak areas are the most suitable locations for durian plantations because they have productivity above 10,000 quintals and are very suitable (S1).
The Forest Area with Special Educational Purposes (KHDTK) at Muhammadiyah University of Mataram, covering 93.55 hectares, has undergone enrichment with eucalyptus and agarwood plants since 2019. In 2024, further enrichment is planned with durian, avocado, jackfruit, and longan. However, concerns have arisen regarding the suitability of the KHDTK area for durian cultivation, necessitating a land suitability evaluation. This study aims to determine the suitability classes, limiting factors, and management recommendations for durian and other selected plants. Using a rigid grid method, a soil survey and evaluation were conducted, assessing 14 parameters related to soil, climate, and land. The findings indicate that the land suitability for durian falls into class S3, with limiting factors including coarse soil texture, low levels of nitrogen, phosphorus, and potassium, insufficient rainfall, and a slope of 16-30%. Recommended management strategies include the application of organic and NPK fertilizers, installation of pipe irrigation, and contour-aligned planting. Enrichment with durian in the KHDTK area is suggested to be developed. This study contributes to sustainable land management by providing scientific data for durian cultivation in KHDTK areas. In addition, the results can support the development of conservation-based agroforestry and agritourism.
Landslides have occurred in several tropical regions of Indonesia and caused many losses in both upstream and downstream areas. This study aims to identify landslide prone areas in the Wadaslintang catchment area, Central Java Province Indonesia. Nine parameters were used to analyze landslide potential such as land use, land slope, rainfall, constituent rocks, soil type, soil permeability, population density, drainage density and runoff coefficient. Each parameter has five possibility scores (1 to 5) determined based on certain criteria. The value of each parameter was presented in a raster map with 15 meters of resolution and analyzed in ArcGIS 10.8. The level of landslide susceptibility was classified into five categories. The relationship between landslides and the triggered factor was analyzed using Frequency Ratio (FR). The result showed that the parameters with the highest FR values were land use, land slope, rainfall, and soil permeability, indicating a strong influence on landslides. Very high vulnerability areas were found in mixed farmland and settlements especially on steep slopes. Area with moderate and low categories of landslide vulnerability covers the largest area of the study site with an occupied area of 98.54 km2 (51.04% of the total area) and 57.91 km2 (29.99% of the total area), respectively. While the others i.e., areas with the very low, high and very high categories, occupy around of 3.74 km2 (1.94% of the total area), 30.94 km2 (16.02% of the total area), and 1.93 km2 (1% of the total area) respectively. Validation results indicated that landslides mostly occurred in areas with medium and high categories of landslide vulnerability.
Permintaan energi yang meningkat menyebabkan penurunan ketersediaan bahan bakar fosil. Biomassa dari limbah kelapa sawit yaitu tandan kosong kelapa sawit, dapat digunakan menjadi alternatif bahan bakar. Proses torefaksi mengubah biomassa menjadi biopelet yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi. Dalam penelitian ini, kalibrasi dari sensor termocouple tipe K dilakukan dengan Arduino Uno dan pengujian alat torefaksi otomatis pelet dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem kendali otomatis untuk alat torefaksi pelet. Perancangan alat torefaksi otomatis menggunakan mikrokontroler dengan sumber energi kompor gas. Dimensi dari kerangka penyangga yaitu tabung torefaksi (24 cm x 28 cm), kerangka motor servo (15 cm x 9,5 cm), kerangka penyangga motor DC dan gearbox (26 cm x 6,5 cm). Kotak alat berbentuk persegi (50 cm x 50 cm). Tabung torefaksi memiliki volume 2.826 cm3, diameter 15 cm dan tinggi 16 cm. Hasil penelitian menunjukkan, sistem berhasil mencapai suhu 300°C selama 30 menit dari suhu awal. Pengujian keakuratan suhu menghasilkan rata-rata nilai sebesar 92,12%. Stabilitas pengendalian suhu juga terbukti cukup baik dalam mencapai titik pengaturan yang ditentukan. Kadar air pelet torefaksi pada suhu 150-300°C sekitar 1-2%. Hidrofobisitas pelet hasil torefaksi suhu 250-300°C setelah direndam 24 jam memiliki warna yang lebih bening dan tetap utuh.
Minyak goreng umumnya digunakan untuk menggoreng bahan pangan terutama dalam metode deep-fat frying pada tekanan atmosfer. Variasi pada hasil gorengan disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya jenis bahan makanan, jenis minyak goreng, durasi penggorengan, temperatur minyak goreng, dan frekuensi penggorengan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi suhu dan frekuensi penggorengan terhadap kualitas kentang goreng yang digoreng menggunakan minyak kelapa hasil produksi sendiri. Minyak kelapa dibuat dari santan yang dipretreatment dimana santan sebelum diolah disimpan pada suhu dingin. Kentang digoreng dengan perlakuan suhu 140 °C, 160 °C, 180 °C, dan 200 °C, proses frekuensi dilakukan berulang sebanyak 9 kali dengan penggorengan berturut-turut. Pengamatan kandungan air, tekstur, dan warna kentang goreng dievaluasi pada akhir penggorengan ke-3, ke-5, ke-7, dan ke-9 pada masing – masing suhu penggorengan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu pada setiap frekuensi penggorengan tidak berpengaruh nyata dan semakin tinggi suhu kadar air semakin rendah, tekstur semakin tinggi suhu nilai tekstur semakin tinggi (0,3467 kgf - 0,8067 kgf), dan perubahan warna terbesar pada perlakuan suhu 200°C, Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggoreng kentang pada suhu maksimal 180 °C dan dengan frekuensi penggorengan tidak lebih dari 9 kali untuk mendapatkan produk kentang goreng dengan kualitas yang baik, renyah, dan aman dikonsumsi.
Cabai rawit merupakan produk yang mudah mengalami kerusakan setelah dipanen. Salah satu kerusakan yang dapat menyebabkan pembusukan pada cabai rawit adalah karena mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti perubahan kualitas cabai rawit selama penyimpanan setelah perlakuan dengan cold plasma. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu level tegangan yang terdiri dari 8,00, 9,20 dan 10,40 kV dan waktu perlakuan 20, 40, dan 60 detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cold plasma terbukti efektif mengurangi mikroorganisme dan tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan berat badan dan nilai warna selama penyimpanan. Tingkat tegangan plasma secara signifikan mempengaruhi kekerasan, total padatan terlarut, dan kandungan vitamin C. Perlakuan dengan cold plasma pada 9,20 kV selama 40 detik dianggap paling efektif dalam mempertahankan kualitas cabai. Penggunaan cold plasma mampu mengurangi susut bobot, mempertahankan warna cabai, kekerasan, total padatan terlarut, dan kandungan vitamin C. Jumlah total plate count cabai rawit dengan cold plasma pada 9,20 kV selama 40 detik adalah 6,55 x 105 koloni/g. Cold plasma memperpanjang umur simpan cabai rawit hingga 12 hari.
Erosi tanah adalah hilangnya tanah atau sebagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain karena faktor air dan angin. Penggunaan lahan di lereng Gunung Argopura sebagian telah teralihkan menjadi tanaman semusim dan tanaman perkebunan, khususnya tebu. Terjadi perubahan, seperti pada musim hujan, air yang mengalir ke hilir menjadi keruh membawa lumpur tebal. Kondisi ini menandakan sedang terjadi erosi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memprediksi tingkat bahaya erosi tanah di kawasan pegunungan Argopura dengan litologi breksi Argopura dengan menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dan sistem informasi geografis (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah pegunungan Argopura sebagian besar merupakan wilayah kategori berat, dengan kehilangan tanah sebesar 180–480 ton/ha/tahun dan sebaran luas mencapai 1.502,49 ha (37,59%). Sebaran pada kategori berat terdapat pada penggunaan lahan jenis tegalan dan sawah, baik irigasi maupun tadah hujan. Potensi erosi tanah kategori sangat berat dengan laju kehilangan tanah >480 ton/ha/tahun meliputi area seluas 508,52 ha (12,72%). Kategori sangat berat antara lain disebabkan oleh penggunaan lahan hutan dan lereng yang curam sehingga budidaya yang dilakukan pada lahan tersebut perlu diganti dengan konservasi tanaman yang dapat mengurangi erosi tanah.