
Pemahaman konsep merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki peserta didik dalam pembelajaran biologi, terutama pada materi yang bersifat kompleks dan abstrak. Meskipun demikian, proses pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional menyebabkan siswa mengalami kesulitan dan berdampak pada rendahnya pemahaman konsep. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning berbasis Web 3D BioDigital Human terhadap pemahaman konsep siswa pada materi sistem gerak di SMA Negeri 2 Maumere serta mengetahui respons siswa terhadap penggunaan media tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian quasi experiment dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman konsep dan angket respons siswa. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Independent Sample t-test pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Selain itu, respons siswa terhadap penggunaan Web 3D BioDigital Human berada pada kategori sangat positif. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran Discovery Learning berbasis Web 3D BioDigital Human efektif meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi sistem gerak.
Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam pedaging, yaitu mencapai 60–70% dari total biaya produksi. Ketergantungan terhadap bahan pakan konvensional yang sebagian masih berasal dari luar daerah maupun impor mendorong perlunya pemanfaatan bahan pakan lokal sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menyusun formulasi pakan ayam pedaging berbasis potensi bahan pakan lokal Kabupaten Sikka menggunakan pendekatan nutrisi presisi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Peternakan Universitas Nusa Nipa selama satu bulan menggunakan metode eksperimental dengan pendekatan deskriptif-kuantitatif. Tahapan penelitian meliputi identifikasi bahan pakan lokal, analisis kandungan nutrisi berdasarkan studi literatur, penyusunan formulasi ransum sesuai kebutuhan nutrisi ayam pedaging, dan optimasi komposisi menggunakan Microsoft Excel Solver. Bahan yang diidentifikasi meliputi jagung lokal, dedak padi, dedak jagung, tepung ikan, ampas tahu, ampas kelapa, daun kelor, bunga gamal, biji lamtoro, kulit sorgum, bungkil kacang mete, kakao, tepung biji asam, dan tapioka. Hasil formulasi menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut memiliki potensi untuk dikombinasikan sebagai penyusun ransum ayam pedaging, yakni diperoleh ransum dengan kandungan protein kasar sekitar 15,63%, lemak kasar 9,19%, serat kasar 9,42%, dan energi metabolis sekitar 3.022,88 kkal/kg. Pendekatan Nutrisi Presisi (Precision Nutrition) memberikan kerangka untuk menyesuaikan komposisi bahan dengan kebutuhan nutrien ayam serta mempertimbangkan batas penggunaan bahan dan potensi antinutrisi. Formulasi yang diperoleh masih memerlukan verifikasi melalui analisis laboratorium dan uji biologis sebelum diterapkan pada ayam pedaging secara komersial.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa pada materi Ekosistem akibat pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan kurangnya pemanfaatan media interaktif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Zep Quiz serta pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan Tahun Pembelajaran 2025/2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode quasi experiment menggunakan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian dipilih melalui cluster random sampling. Instrumen kemampuan berpikir krtitis berupa 10 soal essay. Data dianalisis menggunakan Independent Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas PBL berbantuan Zep Quiz (70,7 ± 7,33) lebih tinggi dibandingkan kelas PBL tanpa Zep Quiz (65,6 ± 8,79). Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi 0,01 (< 0,05), sehingga penggunaan model PBL berbantuan media Zep Quiz berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi Ekosistem. Media Zep Quiz efektif mendukung penggunaan PBL dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Limnobium laevigatum merupakan tumbuhan air asing yang berpotensi invasif karena memiliki kemampuan beradaptasi dan berkembang pesat pada perairan rawa. Hal tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik morfologi dan anatomi Limnobium laevigatum serta menganalisis potensinya sebagai tumbuhan invasif di perairan rawa Kelurahan Baru, Pangkalan Bun. Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Mei 2026 menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sebanyak 14 spesimen dikoleksi secara langsung dari lokasi penelitian, kemudian diseleksi berdasarkan kondisi morfologi yang utuh, meliputi daun, tangkai daun, dan akar yang lengkap serta tidak mengalami kerusakan. Sebanyak 8 spesimen yang memenuhi kriteria digunakan untuk pengamatan morfologi dan preparasi anatomi di Laboratorium Produksi Perikanan, Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Ekologi Perikanan, Universitas Antakusuma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun Limnobium laevigatum berbentuk roset terapung permukaan licin berwarna hijau, sistem perakaran serabut menggantung bebas, serta mampu berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Pengamatan anatomi menunjukkan adanya jaringan aerenkim pada tangkai daun, dan daun yang berperan dalam pertukaran gas serta daya apung tanaman. Jaringan parenkim dan berkas pengangkut mendukung transportasi air dan unsur hara. Karakteristik morfoanatomi tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan rawa sehingga mendukung pertumbuhan dan penyebaran yang cepat. Dengan demikian, Limnobium laevigatum berpotensi menjadi tumbuhan invasif di perairan rawa.
Informasi mengenai jenis tumbuhan pada hutan kawasan khusus penting untuk mendukung konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati, sehingga inventarisasi tumbuhan perlu dilakukan guna mengetahui keberadaan dan karakteristiknya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tumbuhan jenis talas-talasan (Araceae) yang terdapat di tepian Sungai Lembah Gunung Mandiangin KHDTK Universitas Lambung Mangkurat. Pengambilan sampel tumbuhan jenis talas-talasan (Araceae) dilakukan melalui metode jelajah, yaitu dengan menjelajahi jalur di sekitar tepian Sungai Lembah Gunung Mandiangin Hasil penelitian ditemukan 18 jenis Araceae yang tergolong ke dalam beberapa genus, antara lain Caladium bicolor, Caladium bicolor (Aiton) Vent, Caladium bicolor var. florida, Aglaonema commutatum, Aglaonema sp., Syngonium podophyllum, Syngonium angustatum, Colocasia esculenta (L.), Colocasia sp., Philodendron erubescens, Philodendron bipinnatifidum, Xanthosoma sagittifolium, Amydrium medium, Alocasia macrorrhiza, Dieffenbachia sp., Amorphophallus sp., Homalomena sp., dan Monstera deliciosa. Keanekaragaman jenis tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan tepian sungai yang lembap, teduh, serta kaya bahan organik merupakan habitat yang sesuai bagi pertumbuhan jenis talas-talasan (Araceae). Faktor lingkungan seperti pH tanah, kelembapan tanah, suhu, ketinggian dan intensitas cahaya turut mendukung keberadaan dan persebaran tumbuhan talas-talasan (Araceae) di kawasan ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar keanekaragaman hayati, referensi identifikasi talas-talasan (Araceae) lokal, serta bahan pendukung pembelajaran dan pengelolaan kawasan KHDTK Universitas Lambung Mangkurat.
Limited access to and the high cost of commercial growth media have driven the development of alternative media based on locally available materials. Although several legume-based materials have been reported to support bacterial growth, the use of mung beans (Vigna radiata) as an alternative medium—particularly in the form of flour and infusion—and comparisons of their effectiveness against standard media remain limited. This study aims to evaluate the potential of these two forms as growth media for Staphylococcus aureus. This was an experimental study conducted from March to May 2024 at the Microbiology Laboratory of the Medan Public Health Polytechnic (Poltekkes Kemenkes). The method used was growth analysis via the Total Plate Count (TPC) method. The results showed that the average TPC of S. aureus on mung bean flour medium was 1.07 × 10⁷ CFU/mL, and on mung bean infusion medium it was 4.7 × 10⁶ CFU/mL, whereas TSA medium, as the standard medium, yielded 5.8Z× 10⁶ CFU/mL. This indicates that both forms of the mung bean alternative media were capable of supporting optimal bacterial growth, with the flour medium yielding a higher cell count compared to the standard medium (TSA). Morphologically, the colonies on the alternative media were smaller (±2 mm, yellowish-white) compared to those on TSA (±3 mm, yellow). Thus, it can be concluded that mung bean flour has the potential to be an effective alternative medium for growing S. aureus compared to the infusion medium, which is less optimal due to the possible degradation of nutrients during the heating process.
Kehadiran teknologi sebagai wujud dari pengembangan potensi sumber daya manusia terutama media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi, menyebarkan informasi. Mahasiswa sebagai agen perubahan, adalah kelompok yang paling rentan terhadap ketergantungan pada internet dan memanfaatkan media sosial sebagai alat utama untuk berkomunikasi, partisipasi dalam aksi sosial dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi mahasiswa dalam kegiatan sosial yang berorientasi lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik analisis data deskriptif kualitatif dengan tahap reduksi, interpretasi dan verifikasi data. Hasil observasi terdapat isu yang ada di program studi Pendidikan Biologi pada bidang sains dan lingkungan mengalami penurunan dari segi kualitas. Keterlibatan mahasiswa dalam aksi sosial sebagai agen perubahan belum terlihat dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Rendahnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan lingkungan di komunitas, seperti kegiatan konservasi, penanaman pohon, bersih lingkungan atau kampanye lingkungan karena kurangnya motivasi, interaksi sosial serta pemahaman tentang pembelajaran sains/lingkungan. Jenis kegiatan lingkungan yang diketahui oleh mahasiswa dan dipraktikkan dalam kegiatan organisasi atau kelompok seperti: pengelolaan sampah di perkotaan, penggunaan pestisida kimia, kekeringan dan sekolah ramah lingkungan. Media online yang digunakan oleh mahasiswa untuk sosialisasi kegiatan kampanye lingkungan seperti menggunakan Youtube, Instagram dan Facebook.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa berpotensi memengaruhi tingkat literasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis, tingkat literasi lingkungan, hubungan positif dan seberapa besar berkontribusi berpikir kritis terhadap literasi lingkungan pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Labuhan Deli pada materi pencemaran lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional terhadap 62 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa tes esai dan angket, sedangkan data dianalisis menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson dan regresi linier sederhana berbantuan SPSS 26. Hasil uji prasyarat menunjukkan data berdistribusi normal, linear, dan homogen. Kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori tinggi dengan nilai 72, sedangkan literasi lingkungan berada pada kategori tinggi dengan nilai 81. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif antara kemampuan berpikir kritis dan literasi lingkungan (r = 0,879; p < 0,05) dan koefisiensi determinasi sebesar 77,3%. Disimpulkan bahwa semakin tinggi kemampuan berpikir kritis siswa, semakin tinggi pula literasi lingkungan yang dimiliki. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya penguatan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran untuk meningkatkan literasi lingkungan siswa.
Student learning outcomes are still a challenge in higher education, especially in a learning system that is still teacher-centered and lack interactivity. Therefore, it is necessary to improve the quality of learning through more responsive and flexible approaches, such as blended learning. This study aims to analyze the effect of implementing blended learning on the learning outcomes of biology students in the Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA) at the University of Makassar (UNM). This study employed a quasi-experimental design with random sampling. The study population consisted of all Biology Department students at FMIPA UNM enrolled in the Cell and Molecular Biology course. The sample comprised 75 students divided into three classes: two experimental classes and one control class. The assessment instrument used was a learning outcome test in the form of multiple-choice questions. Data analysis was conducted descriptively and inferentially using a one-way ANOVA test. The results showed that Experimental Class 1, which implemented blended learning, achieved a higher average learning outcome score compared to Experimental Class 2 and the control class. The ANOVA test indicated a significant difference between the groups (p < 0.05). Thus, blended learning has a significant effect on student learning outcomes.
Perkembangan teknologi digital di bidang pendidikan mendorong penggunaan Augmented Reality sebagai media pembelajaran interaktif terutama dalam pembelajaran biologi yang melibatkan banyak konsep abstrak. Namun, temuan penelitian tentang efektivitas Augmented Reality masih beragam dan belum terintegrasi secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa efektif penggunaan media pembelajaran berbasis Augmented Reality dalam meningkatkan hasil belajar siswa, motivasi belajar, dan pemahaman mereka tentang konsep biologi. Metode Systematic Literature Review dengan pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan melalui penelusuran database Google Scholar, Crossref, dan Scopus dengan aplikasi Publish or Perish dari tahun 2021 hingga 2025. Pedoman PRISMA 2020 digunakan untuk menganalisis 23 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar, motivasi, dan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran biologi dapat ditingkatkan dengan penggunaan Augmented Reality. Pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, dan menarik berkat kemampuan Augmented Reality untuk memvisualisasikan materi abstrak menjadi lebih konkret melalui tampilan 3D interaktif. Penelitian ini juga memberikan implikasi dan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang teknologi pendidikan, dengan memperkuat bukti empiris mengenai efektivitas Augmented Reality serta menjadi rujukan dalam pengembangan model dan media pembelajaran biologi berbasis teknologi digital yang inovatif dan adaptif.
Konsumsi sopi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun afrika dalam memperbaiki kerusakan ginjal tikus putih yang diberikan sopi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan. Tikus yang digunakan sebanyak 18 ekor, dengan perlakuan K (-), K (+), P1, P2 dan P3 yang diberikan sopi sebanyak 1,28 ml/ekor, sementara kelompok tikus K(+) diberikan Furosemide sebagai pembanding. Kelompok P1, P2 dan P3 diberikan ekstrak etanol daun afrika dengan dosis berturut-turut 1,28, 2,56 dan 5,12 ml/ekor/hari. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji post hoc tukey HSD. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh penurunan kadar kreatinin dan perbaikan kerusakan ginjal tikus putih yang diberikan ekstrak etanol daun afrika, dimana dosis efektifnya adalah 2,56ml/ekor/hari. Maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun afrika dengan dosis 2,56 ml/ekor/hari berpotensi dalam menurunkan kadar kreatinin dan memperbaiki kerusakan ginjal tikus putih terinduksi sopi yang hasilnya juga sama dengan yang ditunjukan oleh obat Furosemide. Namun pemberian dosis yang semakin tinggi akan bersifat toksik bagi tubuh.
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan dengan integrasi nilai-nilai Education For Sustainable Development (ESD) dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai ESD pada aspek lingkungan di SMA Negeri 1 Belitang yang merupakan sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional pada Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh berdasarkan wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Studi ini mengevaluasi 100 indikator ESD pada aspek lingkungan, dan diperoleh hasil 97 indikator (95%) telah berhasil diimplementasikan, yang terdiri dari aspek sumber daya alam, perubahan iklim, serta pencegahan dan mitigasi bencana. Kegiatan tersebut telah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka, baik melalui kegiatan pembelajaran ataupun dari budaya sekolah yang membangun kesadaran lingkungan. Meskipun begitu, terdapat tantangan yaitu belum optimalnya implementasi dari upaya pencegahan dan mitigasi bencana. Akan tetapi, implementasi ESD di SMA Negeri 1 Belitang masih perlu ditingkatkan supaya dapat berjalan lebih menyeluruh, efektif, dan berkelanjutan pada masa mendatang.
Kepiting merupakan kelompok hewan Arthropoda yang berperan penting sebagai detritivor, keystone species dan bioindikator dalam suatu ekosistem pantai. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan jenis, menganalisis keanekaragaman, kelimpahan relatif, keseragaman, dominansi serta peranan kepiting sebagai bioindikator kualitas perairan di Pantai Tambakrejo, Blitar. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dan lokasi pengambilan dibagi menjadi tiga stasiun dengan karakteristik substrat yang berbeda. Analisis data menggunakan rumus Shannon-Wiener. Hasil sampling diidentifikasi dan dideskripsikan berdasarkan karakter morfologi. Hasil penelitian menemukan total 51 kepiting yang diklasifikasikan dalam 7 spesies kepiting, yakni Grapsus albolineatus, Ozius rugulosus, Metopograpsus thukuhar, Pachygrapsus marmoratus, Leptodius affinis, Ptychognathus barbatus, dan Parasesarma charis. Indeks keanekaragaman kepiting tercatat dalam kategori sedang yakni 1,873 dan indeks keseragaman sebesar 0,962 dalam kategori tinggi yang mengindikasikan penyebaran jumlah individu setiap genus relatif seragam. Kelimpahan relatif tertinggi pada spesies Parasesarma charis dengan nilai 23,53% dan indeks dominansi sebesar 0,164 atau dapat dikatakan bahwa di Pantai Tambakrejo, Blitar tidak ada jenis kepiting yang mendominasi. Pantai dengan karakteristik seperti ini memiliki potensi kualitas air yang baik dan tidak tercemar sehingga dapat mendukung kehidupan biota laut khususnya kepiting, serta berpotensi dalam upaya konservasi melalui pemeliharaan kualitas perairan.
Bahan ajar memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas pembelajaran biologi. Seiring perkembangan teknologi digital, e-modul menjadi inovasi bahan ajar yang memungkinkan pembelajaran lebih fleksibel, mandiri, dan interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitas e-modul biologi yang mengintegrasikan kearifan lokal kopi Jember dan bermuatan karakter Islami pada materi keanekaragaman hayati. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model ADDIE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga November 2025 di SMA Negeri 2 Jember. Subjek uji coba meliputi enam siswa pada kelompok kecil dan seluruh siswa kelas X-8 pada kelompok besar. Hasil validasi gabungan menunjukkan tingkat validitas sebesar 89% dengan kategori sangat valid. Hasil uji kepraktisan menunjukkan persentase respons siswa sebesar 87,11% pada kelompok kecil dan 83,12% pada kelompok besar dengan kategori sangat praktis. Efektivitas e-modul ditunjukkan oleh nilai N-gain sebesar 0,53 pada kelompok kecil dan 0,58 pada kelompok besar dengan kategori sedang. Dengan demikian, e-modul dinyatakan valid, praktis, dan cukup efektif digunakan sebagai bahan ajar biologi di SMA. Temuan ini memberikan kontribusi dalam penyediaan bahan ajar multidimensi yang mampu menyelaraskan materi sains dengan kearifan lokal kopi Jember serta penguatan karakter Islami siswa.
Pembelajaran outdoor pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan diterapkan untuk memberikan pengalaman belajar langsung di alam dan mengatasi keterbatasan pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran outdoor, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya, serta menggali faktor yang memengaruhi persepsi dan saran pengembangannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan wawancara terstruktur dan analisis tematik dengan langkah-langkah reduksi data yang bertujuan untuk menyaring data yang relevan dari hasil wawancara. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran outdoor meningkatkan pemahaman materi, motivasi belajar, keterampilan observasi, kerja sama, dan kesadaran ekologis mahasiswa. Pembahasan menunjukkan bahwa pengalaman lapangan menjadikan konsep abstrak lebih mudah dipahami, meskipun masih terdapat kendala seperti cuaca, waktu, fasilitas, dan kesiapan dosen maupun mahasiswa. Kesimpulannya, pembelajaran outdoor efektif mendukung pembelajaran Taksonomi Tumbuhan dan layak dikembangkan pada mata kuliah biologi lain yang relevan. Penelitian ini berkontribusi dengan menganalisis secara fenomenologis persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran outdoor pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan, berlandaskan teori experiential learning dari David A. Kolb. Studi ini mengidentifikasi secara seimbang aspek positif, negatif, serta faktor yang memengaruhi persepsi mahasiswa, sehingga memberikan dasar empiris bagi pengembangan pembelajaran biologi yang lebih kontekstual dan partisipatif.
Rokok merupakan produk tembakau yang dikonsumsi dengan cara dibakar dan dihisap, sedangkan rokok putih menggunakan tembakau murni tanpa bahan tambahan sehingga memiliki aroma khas dan kadar nikotin relatif lebih rendah. Paparan asap rokok secara berkelanjutan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh paparan asap rokok putih terhadap perubahan histopatologi paru-paru tikus putih. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 24 ekor tikus putih jantan berbobot 250–300 g yang dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan, yaitu kontrol, paparan asap rokok satu batang per hari, dua batang per hari, dan tiga batang per hari. Parameter yang diamati meliputi diameter bronkiolus, diameter bronkus, dan bobot organ sebagai data parametrik, serta skor kerusakan paru-paru sebagai data nonparametrik. Data dianalisis menggunakan uji analisis ragam dan uji Duncan untuk data parametrik, serta uji Kruskal–Wallis dan uji Dunn untuk data nonparametrik pada taraf signifikansi 5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok putih berpengaruh signifikan terhadap skor kerusakan paru-paru, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap diameter bronkiolus, diameter bronkus, dan bobot organ. Kesimpulan dari penelitian ini adalah paparan asap rokok putih dapat menyebabkan kerusakan terhadap organ paru-paru dan penyempitan diameter saluran pernafasan yang termasuk dalam perubahan biometri organ paru-paru.
Pembelajaran IPA mencakup pembelajaran terkait materi atau konsep dan praktikum. Adapun kegiatan pembelajaran IPA dalam proses praktikum dapat berjalan dengan baik jika adanya dukungan sarana dan prasarana yang mendukung di laboratorium. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kit isolasi DNA berkonsep low-cost dan ramah lingkungan sebagai alternatif media praktikum biologi molekuler yang lebih terjangkau dan mudah diterapkan di laboratorium pendidikan. Pengembangan kit memanfaatkan bahan dan peralatan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, seperti deterjen cair berbasis enzim, garam dapur, ekstrak enzim alami (nanas, jahe, daun pepaya, dan papain), serta etanol. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen melalui tahapan perancangan formula kit, optimasi komposisi buffer lisis, serta uji efektivitas pada berbagai sampel jaringan tumbuhan dan hewan, yaitu stroberi, brokoli, hati ayam, dan daging ayam. Parameter keberhasilan diamati melalui penampakan benang DNA hasil presipitasi serta pengukuran kuantitas dan kemurnian DNA menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kit mampu mengekstraksi DNA dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi, di mana sampel stroberi dan hati ayam memperlihatkan visualisasi benang DNA paling jelas dan warna paling baik. Temuan ini menunjukkan bahwa kit isolasi DNA berbasis bahan lokal berbiaya rendah dan ramah lingkungan efektif digunakan sebagai alternatif kit komersial serta berpotensi mendukung pembelajaran IPA, khususnya materi genetika dan bioteknologi, melalui kegiatan praktikum yang lebih aplikatif dan ekonomis.
Buffalo milk (Bubalus bubalis) has a high protein and fat content and lower cholesterol than cow's milk, but this nutritional content causes a relatively short shelf life so that further processing is required, one of which is to make cheese. During the shelf life, the quality of cheese can decrease due to microbial activity, enzymatic reactions, and protein and fat degradation. Lactobacillus lactis and Lactobacillus bulgaricus bacteria produce proteolytic enzymes that can modify the protein and fat content in cheese. This study aims to analyze the effect of the combination of Lactobacillus lactis and Lactobacillus bulgaricus bacteria on the protein and fat content of buffalo milk cheese at different shelf lives. The study used four treatments without repetition with shelf lives of 1, 7, and 14 days. Protein content was analyzed using the Kjeldahl method and fat content using the Soxhlet method. Data on pH, water content, total LAB, protein content, and fat content were analyzed descriptively quantitatively, while organoleptic tests were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by the Mann–Whitney test (p<0.05). The results showed that the combination of bacteria increased protein and fat content as the shelf life increased, with the highest values ??being 47.44% and 32.94%, respectively, accompanied by a decrease in pH and total LAB. In conclusion, the addition of 3% Lactobacillus lactis and 3% Lactobacillus bulgaricus can improve the quality of buffalo milk cheese. This research contributes to the science of food fermentation regarding the role of the combination of Lactobacillus lactis and Lactobacillus bularicus bacteria on the chemical characteristics of buffalo milk cheese during shelf life.
Pembelajaran Biologi pada jenjang SMA memerlukan dukungan media pembelajaran interaktif yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep Biologi yang bersifat kompleks dan abstrak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan media pembelajaran interaktif Biologi pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Tuban. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data non-tes yaitu berupa angket serta wawancara guru. Instrumen disusun menggunakan skala Guttman (Ya/Tidak) yang terdiri atas 15 butir pernyataan, yang dikelompokkan ke dalam tiga aspek, yaitu kebutuhan media dalam pembelajaran, aksesibilitas dan kemudahan media pembelajaran, serta motivasi dan minat belajar. Penelitian ini bersubjekkan siswa kelas X SMA Negeri 5 Tuban. Data tersebut dianalisis dengan cara deskriptif agar dapat melihat seberapa besar kebutuhan siswa mengenai media pembelajaran interaktif mata pelajaran Biologi. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa aspek kebutuhan media dalam pembelajaran memperoleh persentase sebesar 92%, aspek aksesibilitas dan kemudahan media pembelajaran sebesar 85%, dan aspek motivasi serta minat belajar sebesar 99%, dengan persentase rata-rata semuanya sebesar 92% yang merupakan kriteria sangat kuat. Hasil ini menjelaskan bahwa siswa mempunyai kebutuhan sangat tinggi terhadap pemanfaatan media pembelajaran interaktif Biologi. Oleh sebab itu, berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya pengembangan media pembelajaran interaktif pada pebelajaran biologi yang tepat dengan kebutuhan serta karakteristik siswa.
Peningkatan intensitas budidaya buah naga (Hylocereus sp.) diikuti dengan peningkatan serangan penyakit yang berpotensi mengurangi produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengidentifikasi, dan menguji patogenisitas bakteri penyebab penyakit busuk batang buah naga di Desa Pematang Donok, Kepahiang, Bengkulu. Isolasi bakteri dilakukan dari jaringan batang yang terinfeksi penyakit. Isolat yang diperoleh dari hasil isolasi kemudian dilakukan purifikasi bakteri. Identifikasi bakteri dilakukan berdasarkan karakter morfologi koloni dan pewarnaan Gram, sedangkan uji patogenisitas dan hemolisis masing-masing dilakukan pada kentang dan media agar darah. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui pengamatan karakter morfologi koloni dan pewarnaan Gram, serta uji patogenisitas pada kentang dan uji hemolisis pada agar darah. Hasil isolasi memperoleh dua isolat bakteri, yaitu isolat BBNK1 dan BBNK2 dengan karakteristik morfologi koloni yang berbeda. Kedua isolat tersebut merupakan bakteri Gram-positif dengan bentuk sel basil dan kokus. Uji patogenisitas pada kentang menunjukkan bahwa kedua isolat mampu menyebabkan gejala busuk lunak seperti pelunakan jaringan, perubahan warna, dan pembentukan lendir dibandingkan dengan kontrol. Uji hemolisis menunjukkan bahwa hanya isolat BBNK1 yang menunjukkan aktivitas hemolitik dengan pembentukan zona bening di sekitar isolat. Temuan studi ini menawarkan data dasar untuk mendukung penelitian di masa mendatang tentang identifikasi molekuler dan pengembangan strategi pengelolaan penyakit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.