
Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan efektivitas tradisi Bapukung terhadap kualitas tidur Anak, khususnya ditinjau dari aktivitas Rapid Eye Movement (REM). Bapukung merupakan praktik tradisional masyarakat Banjar dalam menidurkan bayi dengan cara membedong dan mengayun menggunakan kain khusus. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap lima informan ibu yang rutin melakukan Bapukung. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik berbasis teori tidur fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bapukung tidak hanya dimaknai sebagai bentuk kasih sayang dan warisan budaya, tetapi juga berperan dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi bayi, sehingga mempermudah transisi menuju fase tidur REM. Aktivitas REM pada bayi yang dipukung rata-rata berlangsung lebih stabil dengan durasi antara 16 hingga 59 menit per hari, menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur dan kedalaman istirahat. Kesimpulannya, praktik Bapukung memiliki nilai fisiologis dan psikososial yang mendukung kualitas tidur anak, sekaligus mencerminkan kearifan lokal yang relevan dengan konsep neurofisiologi modern tentang tidur anak.
Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis perempuan lansia yang tidak menikah (berusia 60-70 tahun) di Indonesia, yang menghadapi tantangan unik dalam masyarakat yang sangat menghargai pernikahan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap partisipan yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Penelitian ini mengeksplorasi enam dimensi psychological well-being model Ryff: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki profil kesejahteraan psikologis yang bervariasi, dengan kekuatan khusus pada domain otonomi dan pertumbuhan pribadi dibandingkan dengan rekan yang menikah. Spiritualitas dan dukungan sosial muncul sebagai faktor kunci penguat, dengan partisipan yang mandiri secara finansial menunjukkan penerimaan diri yang lebih positif. Mereka menemukan makna melalui aktivitas sosial dan keagamaan serta mengembangkan strategi koping berbasis spiritualitas. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa pengalaman merawat anggota keluarga dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan psikologis. Implikasinya, program kesejahteraan lansia perlu menekankan aspek spiritualitas dan jaringan dukungan sosial, terutama bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendiri.
Keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi berperan penting dalam mendukung keterikatan kerja, termasuk pada prajurit TNI AD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi merupakan prediktor keterikatan kerja pada prajurit TNI AD di Batalyon 411. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis data regresi linier sederhana (simple linear regression). Populasi dalam penelitian ini adalah 700 prajurit, dengan jumlah partisipan sebanyak 255 orang yang diperoleh melalui teknik sampel acak sederhana (simple random sampling). Instrumen pengumpulan data menggunakan skala keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi dan skala keterikatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keterikatan kerja prajurit Batalyon 411. Temuan ini mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi mampu memprediksi keterikatan kerja pada prajurit. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya upaya sistematis untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi sebagai bagian dari strategi memperkuat keterikatan kerja prajurit.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dukungan keluarga, work life balance dan profesionalisme personel dalam bekerja. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah 1794 personel Brimob Polda Sumatera Utara. Sedangkan sampel yang diambil sebanyak 300 personal dengan Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Teknik pengumpulan data melalui skala. Tenik analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan uji Structural Equation Model (SEM). Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis dapat dijelaskan Dukungan Keluarga berpengaruh positif terhadap Profesionalisme, dengan nilai koefisien (kolom Original Sample) = 0.400, dan signifikan, dengan T-Statistics = 4.137 > 1.96 dan P-Values = 0.000 < 0.05. Dukungan Keluarga berpengaruh positif terhadap Work Life Balance, dengan nilai koefisien (kolom Original Sample) = 0.643, dan signifikan, dengan T-Statistics = 10.289 > 1.96 dan P-Values = 0.000 < 0.05. Work Life Balance berpengaruh positif terhadap Profesionalisme, dengan nilai koefisien (kolom Original Sample) = 0.316, dan signifikan, dengan T-Statistics = 3.109 > 1.96 dan P-Values = 0.002 < 0.05. Work Life Balance signifikan memediasi hubungan antara Dukungan Keluarga dan Profesionalisme, dengan nilai koefisien = 0.203 dan T-Statistics = 3.003 > 1.96 dan P-Values = 0.003 < 0.05.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan dari Intensi Mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran. data penelitian dikumpulkan dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dengan menggunakan angket yang disebarkan dengan bantuan google form, dan menghasilkan 248 jawaban yang valid. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital mempengaruhi perceived ease of use dan perceived usefulness, namun literasi digital tidak mempengaruhi Intensi Mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran. Di samping itu, analisis data mengungkapkan bahwa Intensi Mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran dipengaruhi oleh Perceived ease of use dan Perceived usefulness. Sementara hasil uji mediasi menunjukkan bahwa Perceived ease of use dan Perceived usefulness berperan dalam memediasi hubungan antara literasi digital dan Intensi Mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa digital literasi harus dikembangkan agar mampu menumbuhkan Intensi Mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran, dan didukung oleh Perceived ease of use dan Perceived usefulness
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh psychological capital terhadap burnout pada guru disalah satu sekolah yang ada di Bekasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan sensus dengan jumlah sampel 130 guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik regresi sederhana untuk meguji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana menemukan bahwa terdapat pengaruh psychological capital terhadap burnout pada guru dengan nilai p>0,05, yaitu sebesar 0,380; r = 0,078; R2=0,006. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa psychological capital tidak terbukti menjadi prediktor dari burnout, dengan kata lain H0 diterima.
Riset menunjukkan bahwa 85% anak di Indonesia menggunakan dan mengalami ketergantungan terhadap smartphone. Ketergantungan terhadap smartphone hingga menyebabkan perasaan cemas ketika berada jauh dan tidak dapat mengakses smartphone merupakan indikasi adanya nomophobia atau no mobile phone phobia. Kesepian dan kontrol diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya nomophobia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prediktor kesepian dan kontrol terhadap nomophobia yang dialami oleh remaja di Indonesia. Sampel penelitian ini adalah 500 remaja yang berusia 12-21 tahun dari berbagai daerah di Indonesia, yang diperoleh menggunakan teknik sampling insidental. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif regresi linear berganda. Instrumen penelitian terdiri dari UCLA (University of California Los Angeles) Loneliness Scale Version 3 (α=0,922), Skala Kontrol Diri (α=0,840), dan Nomophobia Questionnaire (α=0,945). Hasil analisa membuktikan bahwa kesepian dan kontrol diri secara bersama-sama tidak menjadi prediktor terhadap nomophobia. Namun, secara spesifik kesepian menjadi prediktor secara signifikan terhadap nomophobia, sedangkan kontrol diri tidak menjadi prediktor secara signifikan terhadap nomophobia. Temuan ini mengindikasikan perlunya upaya untuk mengurangi rasa kesepian guna meminimalisir terjadinya nomophobia pada remaja.
Workforce Agility (WFA) merupakan kemampuan yang dibutuhkan bagi organisasi dalam menghadapi perubahan yang dinamis, termasuk bagi organisasi dengan nilai-nilai islami. Penelitian terdahulu menemukan bahwa WFA penting untuk dimiliki organisasi dibidang manufacture, kesehatan, dan perusahaan rintisan. Penelitian ini melibatkan Work Engagement (WE) dan Islamic Work Ethics (IWE) sebagai variabel prediktor dan WFA sebagai variabel kriteria. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji peran WE dan IWE terhadap WFA pada karyawan yang bekerja di instansi islami. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan menyebarkan survei kepada 125 partisipan yang bekerja di instansi islami. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linear berganda untuk melihat peran antara WE dan IWE terhadap WFA. Hasil analisis menunjukkan bahwa WE dan IWE berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap WFA dengan nilai kontribusi sebesar 35.9%, sedangkan 64.1% lainnya dijelaskan dengan variabel lain yang tidak tercantum dalam penelitian ini. Temuan ini menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi dan menjunjung nilai islami cenderung adaptif, profaktif dan resilien dalam menghadapi perubahan organisasi.
Studi yang dilaksanakan mempunyai tujuan dalam mengidentifikasi peran grit terhadap eksplorasi karier pada siswa Madrasah Aliyah. Latar belakang penelitian ini adalah masih terbatasnya kajian mengenai faktor psikologis yang memengaruhi eksplorasi karier di lingkungan pendidikan Islam. Studi yang dilaksanakan mempergunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei dan desain korelasional, serta analisis regresi sederhana. Subjek penelitian berjumlah 311 siswa kelas XI pada salah satu Madrasah Aliyah di Surabaya yang diambil melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah Grit-S dan Career Exploration Survey. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan regresi linier sederhana. Temuan studi mengindikasikan jika grit berperan positif dan signifikan terhadap eksplorasi karier (r = 0,478; p < 0,001). Berarti, kian tinggi tingkat grit siswa, semakin aktif mereka dalam mengeksplorasi pilihan karier. Kontribusi variabel grit terhadap eksplorasi karier sebesar 14,3%.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan adaptasi dan validasi ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS) ke dalam versi Bahasa Indonesia agar dapat digunakan sebagai alat ukur kepuasan pernikahan yang sahih dan andal dalam konteks budaya Indonesia. Proses adaptasi mengikuti pedoman dari International Test Commission (ITC, 2017), meliputi penerjemahan maju dan balik, tinjauan ahli (expert review), serta uji coba melalui wawancara kognitif dan survei kuantitatif. EMS versi Indonesia diujicobakan kepada 60 pasangan suami istri dengan usia pernikahan 1–5 tahun menggunakan teknik purposive sampling. Uji validitas konstruk dilakukan melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA), sementara reliabilitas dianalisis menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMS versi Indonesia memiliki reliabilitas yang tinggi (α = 0,818), serta indeks diskriminasi item yang baik. Meskipun beberapa item menunjukkan muatan faktor di bawah 0,5 dan perlu dihapus atau direvisi, struktur model secara umum dapat diterima. Dengan demikian, EMS versi Indonesia dinyatakan layak digunakan dalam asesmen psikologis terkait kepuasan pernikahan di Indonesia, serta dapat menunjang praktik konseling dan penelitian dalam bidang psikologi keluarga. Kata Kunci: Adaptasi alat ukur; ENRICH Marital Satisfaction Scale; kepuasan pernikahan; psikometri; validitas konstruk.
Tahun 2022 pemerintah Indonesia meluncurkan program Merdeka Belajar pada guru di sekolah sebagai solusi dari pandemi covid-19. Pada kenyataannya tidak semua guru mampu melaksanakan program ini di sekolah dikarenakan adanya ketidaksiapan terhadap perubahan yang dimiliki oleh guru. Penelitian ini mengeksplorasikan tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh guru di Indonesia dalam mengimplementasikan program Merdeka Belajar di sekolah. Penelitian ini juga menjadi acuan bagi guru untuk tetap memiliki kesiapan perubahan pada kurikulum yang berubah-ubah dan mampu menjalani perubahan dengan baik. Penelitian ini dapat berkontribusi untuk memperbaiki dan meningkatkan program Merdeka Belajar atau program baru yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif asosiatif, yang melibatkan 648 guru di Indonesia dari sekolah negeri dan swasta yang telah menjalankan program Merdeka Belajar minimal satu semester. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan penyebaran kuesioner secara online di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh kepemimpinan transformasi terhadap kesiapan untuk berubah pada guru.
Riset ini bertujuan guna menganalisis pengaruh Job Demands (tuntutan pekerjaan) dan Job Resources (sumber daya pekerjaan) terhadap Job Hopping Intention pada pekerja generasi milenial di wilayah Jabodetabek. Riset menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional kausalitas. Sampel berjumlah 122 responden pekerja milenial yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria pernah berpindah kerja minimal satu kali dalam kurun waktu 1–2 tahun atas keinginan sendiri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring yang terdiri atas skala Job Demands–Resources dan Job Hopping Intention yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya (α = 0,834–0,930). Analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil riset menunjukkan bahwasanya Job Demand dan Job Resource secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Job Hopping Intention (F = 10,301; p < 0,001). Secara parsial, baik Job Demand (β = 0,379; p < 0,001) maupun Job Resource (β = 0,193; p = 0,018) berpengaruh positif terhadap Job Hopping Intention. Temuan ini menegaskan bahwasanya pekerja milenial tidak hanya terdorong berpindah karena tekanan kerja, tetapi juga karena dorongan karier yang bersifat mandiri dan fleksibel. Implikasi dari riset ini menunjukkan pentingnya organisasi guna menyeimbangkan tuntutan kerja dan pemberian sumber daya, serta menciptakan lingkungan kerja yang bermakna dan mendukung keterikatan karyawan jangka panjang.
This study aims to examine the effect of servant leadership on employee creativity, employee engagement and employee resilience in commuting female workers in private companies. As well as evaluating the mediating role of employee engagement and employee resilience on the relationship between servant leadership and employee creativity. Using purposive sampling method, and distributing online questionnaires, to female workers in private companies in the period March to May 2024. Respondents were collected as many as 154 people who had a distance to work of more than 20 km and used public transportation. Data were analyzed using the Structural Equation Model (SEM). The results showed that servant leadership has a positive effect on employee creativity and employee resilience. besides that employee resilience has a positive effect on employee engagement and employee creativity. these findings also show that employee engagement has a positive effect on employee creativity. And Employee resilience and Employee engagement mediate the effects of Servant leadership and employee creativity. The managerial implications of this study emphasize the importance of developing servant leadership and employee resilience to increase engagement and creativity in the workplace. The limitation of this study is the generalization of results that are limited to female employees only. Future research is recommended to explore other variables that affect servant leadership, employee engagement, and employee creativity.
Abstrak Podcast merupakan salah satu media belajar dalam lingkup pendidikan masa kini. Intonasi narator dalam membawakan podcast dapat membantu pendengar memahami dan mempertahankan informasi penting dari podcast yang telah didengarkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh intonasi suara pada podcastnaratif terhadap kemampuan recall mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain between-participant posttest only design yang melibatkan lima puluh empat mahasiswa sebagai partisipan. Partisipan dibagi secara acak ke dalam dua grup, yakni kontrol dan eksperimen. Partisipan pada kelompok kontrol akan mendengarkan audio podcast dengan intonasi monotone, sedangkan partisipan pada kelompok eksperimen akan mendengarkan audio podcast dengan intonasi kontras. Kemampuan recall partisipan diukur menggunakan posttest dan dibandingkan hasilnya dengan uji independent sample t-test. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian bahwa intonasi suara pada podcast naratif tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan recall mahasiswa, meskipun ditemukan skor posttest kelompok eksperimen yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Kata Kunci: Intonasi; Podcast Naratif; Recall Abstract Podcasts have been one of the learning media in today’s educational scope. Narrator’s intonation in presenting the podcast could help listeners understand and retain important information from the podcast. This study aims to investigate the effect of intonation in narrative podcasts on college students’ recall ability. This study uses an experimental approach with a between-participant posttest only design involving fifty four college students as participants. Participants were randomly divided into two groups, control and experiment. Participants in the control group will listen to audio podcast with monotone intonation, while participants in the experiment group will listen to audio podcast with contrast intonation. The participants’ recall ability were measured using a posttest and the results were compared by independent sample t-test. The results indicate that intonation in narrative podcast does not have a significant effect on students’ recall ability. However, it was found that the experiment group’s posttest score was higher than the control group. Keywords: Intonation; Narrative Podcast; Recall
Tingginya angka turnover karyawan Generasi Z menjadi tantangan serius bagi organisasi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah trait kepribadian berperan sebagai moderator dalam hubungan antara workplace ostracism dan turnover intention pada karyawan Generasi Z di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei menggunakan kuesioner terhadap 408 partisipan yang diperoleh melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan meliputi workplace ostracism scale, intention to leave scale, dan big five inventory. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS, PROCESS MACRO, dan JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) workplace ostracism berhubungan positif secara signifikan dengan turnover intention; (b) trait kepribadian tidak memiliki hubungan signifikan dengan turnover intention secara langsung; (c) tidak terdapat peran moderasi dari kelima dimensi trait kepribadian (openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism) terhadap hubungan antara workplace ostracism dan turnover intention. Temuan ini menunjukkan bahwa trait kepribadian tidak berkaitan dengan turnover intention, dan tidak memengaruhi kekuatan hubungan antara workplace ostracism dan turnover intention. Oleh karena itu, organisasi perlu fokus pada upaya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif sebagai strategi utama untuk menekan turnover karyawan Generasi Z.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh efektivitas sugar labeling pada minuman kemasan terhadap intensitas membeli mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran angkatan 2024. Dengan metode kuantitatif eksperimental menggunakan desain between-participants pretest-posttest, sebanyak 63 mahasiswa berusia 17–20 tahun dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol, label "High in Sugar," dan label "Guideline Daily Amount." Data diperoleh melalui kuesioner berbasis Theory of Planned Behavior yang memiliki reliabilitas sebesar 0,887, sehingga dianggap cukup andal untuk mengukur intensitas membeli. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk mengevaluasi distribusi normalitas dan uji Kruskal-Wallis untuk menguji perbedaan rata-rata antara kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada intensitas membeli antara ketiga kelompok. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian sugar labeling belum cukup kuat untuk memengaruhi perilaku membeli mahasiswa secara keseluruhan. Faktor-faktor seperti kesadaran konsumen terhadap kesehatan, preferensi individu, kebiasaan membeli, dan sikap terhadap informasi label gula diduga menjadi pengaruh utama. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan sampel lebih besar, variasi label gula yang lebih luas, serta cakupan lokasi penelitian yang lebih beragam untuk mendukung generalisasi hasil yang lebih baik pada masa depan.
Self-regulated learning merupakan pembelajaran yang efektif membantu siswa menyadari hubungan antara cara berpikir, tindakan yang mereka ambil, dan hasil yang mereka capai dalam kehidupan sosial dan lingkungan. Self-regulated learning adalah bagian dari komponen strategi pembelajaran. Komponen lain dari strategi pembelajaran adalah keterampilan dan kemauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi Academic Self-regulated Learning Questionnaire (ASLQ) ke Bahasa Indonesia serta mengkaji reliabilitas dan validitas dari adaptasi tersebut. Adaptasi alat ukur ini melewati proses penerjemahan forward-backward, tinjauan para ahli, dan cognitive debriving sebelum diadministrasikan pada 57 responden yang dipilih dengan Teknik purposive sampling. Alat ukur secara keseluruhan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (α = 0,872) dan memiliki daya diskriminasi yang baik. Uji analisis faktor konfirmatori menunjukkan bahwa model tidak fit (p pada chi-square (χ2) kurang dari 0,001, RMSEA = 0,141, TLI = 0,290, CFI = 0,334, SRMR = 0,123). Setelah 25 item dihapus, model menunjukkan model yang fit (p pada chi-square (χ2) lebih dari 0,001 yaitu 0,028, RMSEA = 0,090, TLI = 0,874, CFI = 0,906, SRMR = 0,069). Adaptasi alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur konstruk self-regulated learning dengan menghapus 25 item.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perilaku overprotective orang tua terhadap self-disclosure pada remaja yang coming out sebagai queer. Self-disclosure merupakan aspek penting dalam perkembangan identitas individu, terutama bagi remaja yang mengidentifikasi diri sebagai queer. Namun, keterbukaan diri ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola asuh orang tua yang overprotective. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linier sederhana. Sampel terdiri dari 110 remaja yang telah coming out sebagai queer. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mengukur perilaku overprotective orang tua dan tingkat self-disclosure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara perilaku overprotective orang tua dan self-disclosure pada remaja yang coming out sebagai queer (r = 0,889, p < 0,05). Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan orang tua yang lebih mendukung dan terbuka dalam menerima identitas anak mereka, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi remaja queer untuk melakukan self-disclosure.
Social media has become a common thing used by every individual, including the perpetrators of cyberbullying, often the perpetrators use fake accounts or not their real names or what is known as anonymity. The purpose of this study is to clearly see the various aspects that can influence cyberbullying behaviour. The measuring instrument used in this study is to use aspects of cyberbullying. The method used is a descriptive study that explains the empirical mean value of each aspect. Based on the results of this study, it is found that there are high values in the aspects of flaming, denigration, impersonation and exclusion.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran self-compassion sebagai mediator dukungan keluarga dan kesejahteraan psikologis pada guru anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa. Partisipan pada penelitian ini adalah 111 guru anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa dengan masa kerja minimal 5 tahun. Penelitian ini merupakan model penelitian kuantitatif dengan Structural Equation Modeling (SEM). Metode pengumpulan data dengan menggunakan skala dukungan keluarga, kesejahteraan psikologis, dan self-compassion. Pengujian validitas dan reliabilitas konstruk menggunakan outer model dan analisis data penelitian dengan inner model melalui program SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga berpengaruh positif dan juga signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada guru ABK di SLB, dukungan keluarga berpengaruh positif dan juga signifikan terhadap self compassion pada guru ABK di SLB, self-compassion berpengaruh positif dan juga signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada guru ABK di SLB, self-compassion berperan sebagai mediator yang signifikan dalam hubungan antara dukungan keluarga dan kesejahteraan psikologis dan pengaruh langsung antara dukungan keluarga terhadap kesejahteraan psikologis juga terbukti signifikan. Dengan demikian, mediasi yang terjadi dapat dikategorikan sebagai mediasi parsial (partial mediation).