
Fenomena upwelling adalah salah satu fenomena kenaikan massa air yang terjadi di perairan Banggai, Sulawesi Tengah, yang mengakibatkan tingginya kandungan nutrien yang memengaruhi keberadaan fitoplankton dan zooplankton, salah satunya zooplankton famili Paracalanidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan zooplankton famili Paracalanidae di perairan Banggai, Sulawesi Tengah. Pengambilan sampel zooplankton dilakukan di 35 stasiun menggunakan plankton net berukuran 200 μm secara aktif secara vertikal. Dari kedalaman 150 m hingga permukaan perairan. Berdasarkan hasil pengamatan famili Paracalanidae, ditemukan spesies-spesies berikut: Acrocalanus gracilis, Acrocalanus longicornis, Bestiolina similis, Paracalanus aculeatus, Paracalanus denudatus, Paracalanus nanus, Paracalanus parvus, Parvocalanus crassirostris, dan Parvocalanus elegans. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada stasiun 11 dengan nilai kelimpahan 247 ind/m³, lalu diikuti oleh stasiun 20 dengan nilai 236 ind/m³, dan stasiun 23 dengan nilai 232 ind/m³.
Mangrove forests are highly sensitive to environmental disturbances, making them vulnerable to a decline in their condition and ecological functions. This study aims to assess the health of mangrove forests in Pancer Cengkrong, Trenggalek, using the mangrove health index method to support conservation and sustainable management efforts. The study was conducted from May to July 2025, using a survey method at six locations. The parameters studied were stem diameter (Sd), canopy cover (Sc), and sapling density (SNsp). This study identified 12 mangrove species, consisting of 11 true mangrove species, including Avicennia alba, Sonneratia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Achantus ilicifolius, Ceriops decandra, Derris trifoliata, Nypa fruticans, Excoecaria agallocha, as well as one associated mangrove species, Acrostichum speciosum. The highest species density was found in Rhizophora mucronata (6,075 ind.ha⁻¹), while the lowest was in Bruguiera gymnorrhiza (75 ind.ha⁻¹). SNsp values ranged from 4.10 to 4.12, Sd values ranged from 3.3 to 4.84, and Sc values ranged from 6.59 to 7.59. The health condition of the mangrove forest was categorized as “Moderate,” with the highest MHI at Site 1 (54.41%) and the lowest at Site 5 (48.34%). The “Moderate” mangrove forest health category indicates the need to limit activities that could cause degradation and damage, and to increase mangrove forest rehabilitation efforts to preserve a sustainable ecosystem.
Ekosistem mangrove berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir, termasuk komunitas makrozoobentos seperti gastropoda. Aktivitas manusia di wilayah pesisir berpotensi menyebabkan pencemaran logam berat, salah satunya timbal (Pb), yang dapat berdampak terhadap struktur komunitas organisme bentik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Pb pada sedimen serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap struktur komunitas gastropoda di Kawasan Edukasi Mangrove Demang Gedi, Kabupaten Purworejo. Pengambilan sampel dilakukan pada enam stasiun menggunakan core sampler untuk sedimen dan kuadrat berukuran 1×1 m untuk gastropoda. Analisis kandungan Pb pada sedimen dilakukan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), sedangkan struktur komunitas gastropoda dianalisis menggunakan indeks kelimpahan, keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (D). Kandungan Pb pada sedimen berada pada kisaran 0,98–18,04 mg/kg dengan nilai rata-rata 10,86 mg/kg, dan seluruh nilai masih berada di bawah baku mutu sedimen menurut Canadian Council of Ministers of the Environment (CCME). Komunitas gastropoda terdiri atas 8 spesies dari 3 famili dan didominasi oleh Faunus ater dengan proporsi 98,38%. Nilai keanekaragaman dan keseragaman tergolong rendah, sedangkan indeks dominansi menunjukkan nilai tinggi. Analisis regresi linier menunjukkan bahwa kandungan Pb pada sedimen hanya menjelaskan 24,7% variasi kelimpahan gastropoda, sehingga pengaruh Pb terhadap struktur komunitas gastropoda tergolong relatif kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas gastropoda di kawasan penelitian lebih dipengaruhi oleh toleransi spesies dan kondisi lingkungan lainnya dibandingkan oleh kandungan timbal pada sedimen
Ekosistem mangrove memberikan jasa ekosistem penting yang mendukung ketahanan lingkungan dan ekonomi masyarakat. Tumpahan minyak di Perairan Karawang tahun 2019 dan 2021 telah menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove. Penelitian telah dilakukan di Pantai Sedari, Karawang pada bulan Maret 2023 yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi mangrove pasca tumpahan minyak. Penelitian dilakukan dengan metode random terstratifikasi di 3 lokasi. Pengambilan data meliputi analisis vegetasi, pertumbuhan dan tutupan mangrove, makrozoobenthos, dan pengukuran konsentrasi total petroleum hidrokarbon (TPH) di air laut dan sedimen. Hasil penelitian menunjukkan kondisi ekosistem mangrove terdiri dari 3 spesies mangrove yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Avicennia alba dan Avicennia officinalis. Kondisi ekologis mangrove menunjukkan kategori kerapatan sedang – rapat (1.433 – 1.766 ind/ha), kategori tutupan mangrove sedang – rapat (62,06 ± 5,15% - 78,38 ± 1,47%), Hasil analisis vegetasi menunjukkan Rhizophora memegang peran ekologis yang paling besar di stasiun 1, sedangkan di stasiun 2 dan 3 dipegang oleh Avicenia. Kelimpahan makrozoobenthos (22 – 75 ind/m2). Kondisi ekosistem mangrove berdasarkan residu minyak menunjukkan bahwa lokasi penelitian masih terdampak oleh minyak yang ditunjukkan dengan konsentrasi petroleum hidrokarbon (TPH) pada air laut dan sedimen dalam kategori tinggi (0,887 ± 0,04 - 1,067 ± 0,12 ppm) dan (0,44 ± 0,2 - 4,55 ± 3,85 ppm). Selain itu juga masih terdeteksinya sisa bercak hitam memudar pada akar dan batang mangrove. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk membersihkan residu minyak yang masih ada di ekosistem mangrove ini serta tindakan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan yang potensial menyebabkan pencemaran minyak.
Tetraselmis chuii merupakan mikroalga uniseluler yang termasuk dalam famili Chlorodendraceae dan kelas Chlorodendrophyceae. Tetraselmis chuii memiliki masa depan yang menjanjikan sebagai sumber makanan atau produk kesehatan karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi salinitas terhadap fase pertumbuhan Tetraselmis chuii menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan salinitas (Kontrol = 30ppt, P1 = 27ppt, P2 = 35 ppt, dan P3 = 37 ppt) serta tiga ulangan. Pengamatan kepadatan sel (sel/mL) dilakukan menggunakan haemocytometer dan dianalisis secara statistik dengan uji korelasi dan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan pola pertumbuhan normal melalui fase adaptasi, eksponensial, stasioner, dan kematian. Perlakuan yang menggunakan salinitas 35ppt (P2.1) dan 37ppt (P3.2) menunjukkan jumlah kepadatan sel yang lebih tinggi senilai 1.176 × sel/mL dan 2.692 × sel/mL, serta bertahan lebih lama dibandingkan perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa salinitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan jumlah sel Tetraselmis chuii (r = 0,054; Sig. = 0,625), sehingga perubahan salinitas tidak berdampak pada pertumbuhannya secara nyata. Uji ANOVA juga memberikan hasil yang serupa (F = 0,241; Sig. = 0,625), yang menunjukkan bahwa model regresi tidak signifikan dan variasi jumlah sel lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti nutrisi, pencahayaan, oksigen terlarut, pH, dan suhu, daripada salinitas.
Ekosistem terumbu karang Indonesia berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut dan melindungi kawasan pesisir. Karang encrusting memiliki fungsi vital sebagai perekat struktural dan indikator kesehatan ekosistem. Penurunan tutupan karang serta keterbatasan metode pemantauan konvensional mendorong perlunya penerapan teknologi non-invasif seperti hidroakustik di kawasan konservasi Pulau Ajab, Bintan Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik hambur balik akustik karang encrusting dan hubungan kuantitatif antara Surface Backscattering Strength (SS) dan persentase tutupan karang sebagai dasar pengembangan model pemantauan terumbu berbasis akustik. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif dengan purposive sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan single beam echosounder Simrad EK-15 (200 kHz) dan citra bawah air berukuran 50 × 50 cm untuk analisis tutupan dengan PhotoQuad. Hubungan nilai SS dan tutupan karang diuji menggunakan regresi linear sederhana dengan uji homogenitas dan ANOVA pada SPSS. Hasil menunjukkan nilai Volume Backscattering Strength (SV) berkisar −40,99 dB hingga −23,20 dB dan SS antara −40,82 dB hingga −17,23 dB, dengan persentase tutupan karang encrusting 52–85%. Hubungan positif signifikan ditemukan antara SS dan tutupan karang (p = 0,000) dengan persamaan y =0,2819x - 51,546 dan R² = 95%. Disimpulkan bahwa nilai hambur balik akustik dapat digunakan sebagai indikator kondisi karang encrusting. Metode hidroakustik Simrad EK-15 berpotensi menjadi alat pemantauan terumbu karang yang efisien, cepat, dan non-invasif.
Keberadaan Echinodermata di zona intertidal dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Namun demikian informasi keanekaragaman Echinodermata pada berbagai kondisi substrat di zona intertidal Pulau Natuna masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, dan menghitung kepadatan komunitas Echinodermata di pesisir Pulau Bunguran Kabupaten Natuna, serta mendeskripsikan perbandingan Echinodermata di perairan Pulau Bunguran Kabuaten Natuna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2025 pada 3 lokasi yakni Desa Cemaga, Desa Kelanga, dan Desa Penagi. Prosedur penelitian meliputi pengambilan sampel saat surut dengan menggunakan plot berukuran 5 x 5 m sepanjang 100 m dan sejajar dengan pantai. Analisis data mencakup kepadatan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi. Hasil pengamatan menunjukkan kondisi substrat lokasi penelitian pasir berkerikil dengan pecahan karang, hingga lumpur berpasir. Hasil penelitian menemukan 10 jenis Echinodermata dengan spesies paling banyak yakni Ophiucoma scolopendrina. Archanster typicus ditemukan pada setiap lokasi penelitian. Nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman menunjukkan variasi yang berbeda yakni kategori sedang hingga rendah. Tingkat keanekaragaman berdasarkan analisis tergolong sedang hingga rendah di tunjukkan dengan nilai H’ pada Desa Cemaga adalah Hꞌ= 0,98 kemudian Desa Kelanga Hꞌ= 1,33 serta Desa Penagi adalah Hꞌ= 0. Terdapat perbedaan kelimpahan komunitas Echinodemata antar lokasi yang signifikan kecuali pada Desa Cemaga dan Desa Kelanga. Hasil ini mengindikasikan variasi komunitas Echinodermata dipengaruhi oleh keberadaan substrat. Dan di desa penagi hanya ditemukan satu spesies yakni A.typicus.
The mangrove forest at Tirang Beach, Tugurejo District, Semarang City, is a mangrove conservation area utilized as a tourist destination. However, the mangrove forests in Semarang City face various threats, such as coastal abrasion, tidal flooding, and declining water quality. These coastal environmental dynamics have the potential to threaten the sustainability of mangrove ecotourism. Therefore, strategies are needed to manage the potential of mangrove forests as sustainable tourist destinations. This study aims to analyze the level of suitability and carrying capacity of mangrove ecotourism, as well as to formulate development strategies for mangrove forest tourism at Tirang Beach. The research was conducted from July to August at Tirang Beach, Tugurejo District, Semarang City. The research method used was a survey method through direct field observation and interviews with stakeholders. Observation station locations and respondents were determined using purposive sampling. The results indicate that the mangrove ecotourism area at Tirang Beach is supported by various tourism facilities, such as gazebos, food stalls, photo spots, a musala, and toilets. The Mangrove Tourism Suitability Index (IKW) was found to be 72.22%, categorized as quite suitable, while the Beach Tourism Suitability Index was 85.29%, which falls into the very suitable category. The maximum tourism carrying capacity was recorded at 314 visitors for an area of 11,650 m² with a four-hour visitation period. Tourism development at Tirang Beach can be pursued through infrastructure improvements, the establishment of local regulations, and the design of promotional strategies to enhance its tourist appeal. In addition, mangrove ecotourism development should focus on preparing a blueprint as a management concept based on education and on preparing human resources for its management. Hutan mangrove di Pantai Tirang, Kecamatan Tugurejo, Kota Semarang, merupakan kawasan konservasi bakau yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Akan tetapi hutan mangrove di Kota Semarang menghadapi berbagai ancaman, seperti abrasi pantai, banjir pasang, serta penurunan kualitas perairan. Dinamika lingkungan pesisir tersebut berpotensi mengancam keberlanjutan ekowisata mangrove. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan potensi hutan mangrove sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesesuaian dan daya dukung ekowisata mangrove, serta merumuskan strategi pengembangan wisata hutan mangrove di Pantai Tirang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus di Pantai Tirang, Kecamatan Tugurejo, Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei melalui observasi langsung di lapangan serta wawancara dengan para pemangku kepentingan (stakeholder). Penentuan stasiun pengamatan dan responden dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ekowisata mangrove di Pantai Tirang telah didukung oleh berbagai fasilitas penunjang wisata, seperti gazebo, warung, spot foto, musala, dan toilet. Nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) mangrove sebesar 72,22% yang tergolong cukup sesuai, sedangkan Indeks Kesesuaian Wisata pantai sebesar 85,29% yang termasuk dalam kategori sangat sesuai. Daya dukung wisata maksimum tercatat sebanyak 314 wisatawan pada luasan 11.650 m² dengan waktu kunjungan selama empat jam. Pengembangan wisata Pantai Tirang dapat dilakukan melalui peningkatan infrastruktur, penyusunan aturan lokal, serta perancangan strategi promosi untuk meningkatkan daya tarik wisata. Selain itu, pengembangan ekowisata mangrove perlu diarahkan pada penyusunan cetak biru (blueprint) sebagai konsep pengelolaan ekowisata berbasis edukasi serta penyiapan sumber daya manusia dalam pengelolaannya.
Pesisir kota Semarang terdapat beberapa industri yang menggunakan logam. Aktifitas tersebut akan berdampak pada ekosistem laut terutama biota laut yang hidup didalamya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kontaminansi logam Besi (Fe) dan Kromium (Cr) pada biota laut di pesisir Semarang. Analisa konsentrasi Fe dan Cr dalam jaringan biota menguunakan ICPMS. Hasil analisa menunjukan ditemukanya logam Cr dan Fe dalam biota seperti udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), dan ikan belanan (Mugil sp). Konsentrasi logam Fe menunjukan konsentrasi lebih tinggi pada ketiga organisme laut tersebut bila dibandingkan dengan logam Cr. Konsentrasi logam Fe antara 0,27 – 0,909 ppm sedangkan konsentrasi logam Cr berkisar antara 0,06 – 0,214 ppm. Sedangkan konsentrasi logam Fe dalam air laut rata rata 1,4 ppm sedangkan Cr 0,87 ppm.
Ikan hiu umumnya ditemukan di wilayah pesisir hingga kedalaman 200 meter sehingga rentan tertangkap oleh nelayan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies ikan hiu melalui analisis morfometrik serta mengestimasi tingkat eksploitasi Ikan Hiu Sirip Hitam (Carcharhinus limbatus) yang tertangkap di Perairan Balikpapan. Penelitian ini dilaksanakan selama periode bulan Desember 2024 hingga Mei 2025 dengan menggunakan metode purposive sampling yang bersumber dari hasil tangkapan nelayan setempat. Lokasi pengambilan sampel bertempat di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Filial Klandasan, Balikpapan, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan aplikasi FiSAT II. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi empat spesies ikan hiu yang tertangkap di perairan tersebut, yaitu Carcharhinus amblyrhynchos, Sphyrna lewini, Rhynchobatus australiae, serta Carcharhinus limbatus yang merupakan spesies dengan jumlah tangkapan terbanyak dibandingkan spesies lainnya. Mayoritas individu ikan hiu yang tertangkap masih berstatus juvenil atau belum dewasa, dengan total tangkapan terdiri atas 79 ekor betina dan 21 ekor jantan. Analisis hubungan panjang dan berat yang dilakukan pada spesies C. limbatus menunjukkan korelasi yang sangat signifikan dengan nilai koefisien korelasi r > 0,92, yang berarti terdapat keterkaitan yang erat antara panjang dan berat tubuh ikan. Estimasi tingkat eksploitasi pada spesies C. limbatus menghasilkan nilai E = 0,45, yang mengindikasikan bahwa spesies ini masih berada dalam kondisi underfishing atau tingkat eksploitasi yang tergolong rendah dan belum melampaui ambang batas optimal yang diperbolehkan, sehingga populasinya masih relatif aman dari ancaman penangkapan berlebihan.
Green mussels (Perna viridis) represent a significant aquaculture commodity in tropical coastal waters, including Tambak Lorok, Semarang, which is subject to substantial anthropogenic influences from urban settlements, port activities, and land-based waste discharges. Understanding the length-weight relationship (LWR) is essential for elucidating growth patterns, physiological conditions, and population dynamics of this species. This study aimed to analyze the spatial-temporal variation of LWR in P. viridis from Tambak Lorok waters while considering water-quality parameters. Sampling was conducted monthly from May to September 2025 across three cultivation stations using random sampling, yielding a total of 750 individuals. Concurrent measurements of environmental parameters, including temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen, were recorded during sampling. The logarithmic equation W = aL^b was applied to determine the length-weight relationship, where W represents weight (g) and L denotes shell length (mm). The results revealed a very strong correlation coefficient (R² = 0.908). The allometric coefficient (b) ranged temporally from 2.294 to 2.580 and spatially from 2.144 to 2.562. All b values were consistently below 3, indicating a negative allometric growth pattern, wherein P. viridis in Tambak Lorok tends to elongate faster than it gains weight. These findings contribute valuable baseline data on the population condition and growth characteristics of green mussels in urban coastal ecosystems, supporting sustainable aquaculture management and environmental monitoring programs in the region.
Danau Gedang diduga sangat dipengaruhi oleh interaksi hirdodinamika dari laut akan tetapi hal ini belum ada kajian ilmiahnya. Dalam upaya mengoptimalkan potensi pemanfaatan Danau Gedang, dan pesisir pantai Padang Betuah maka penelitian ini bertujuan untuk menidentifikasi karakteristik hidrodinamika Pantai Padang Betuah dan parameter fisis Danau Gedang, serta pemetaan hidrodinamika Pantai Padang Betuah dan parameter Fisis Danau Gedang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran in situ parameter hidrodinamika Pantai Padang Betuah dan parameter fisis Danau Gedang yang didukung dengan data citra satelit marine copernicus. Data diolah menggunakan software surfer, Arcgis, grad, dan WRPLOT yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian diperoleh karakteristik oseanografi Pantai Padang Betuah diperoleh tipe pasang surut yang terjadi merupakan tipe pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Mixed Tide Prevailing Diurnal), yaitu dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, tetapi kadang – kadang untuk sementara waktu terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan tinggi dan periode yang berbeda secara signifikan dengan bilangan formzal 0,63 dan tinggi muka laut rata-rata (MSL) sesaat yaitu 26,2 cm. Kecepatan arus rata-rata didapat sebesar 0,29 m/s dan ketinggian gelombang rata-rata sebesar 0,23 m. Secara umum hidrodinamika pantai Padang Betuah sangat mempengaruhi karakteristik parameter fisis Danau Gedang, karena memiliki kecendrungan karakteristik yang hampir sama, dan sedimen yang terdapat di Pantai Padang Betuah dan Danau Gedang sama yaitu dominan pasir, diduga saat kondisi pasang pasir terbawa arus ke danau, hal ini ditunjukan dengan tekstur presentase nilai pasir yang lebih dominan di Danau Gedang yaitu 92,14%.
Letak geografis Perairan Utara Aceh berdekatan dengan Samudra Hindia, Selat Malaka, dan Laut Andaman yang menjadikan kondisi interaksi atmosfer laut di Perairan tersebut sangat kompleks. Interaksi atmosfer laut yang terjadi dapat juga disebabkan oleh pengaruh iklim seperti ENSO (El-Nino Southern Osciliation) dan IOD (Indian Ocean Dipole). Variabilitas ENSO dan IOD dapat mempengaruhi karakteristik upwelling yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik upwelling pada musim barat dan pengaruh dari ENSO dan IOD terhadap karakteristik upwelling di Perairan Utara Aceh pada musim barat. Data yang digunakan pada penelitian ini meliputi suhu permukaan laut, klorofil-a, dan angin permukaan yang diunduh pada website Marine Copernicus. Hasil studi ini menunjukan fenomena upwelling diindikasi oleh adanya ekman pumping yang tinggi dan gradient suhu permukaan laut yang tinggi serta suhu permukaan laut yang dingin dalam mempengaruhi konsentrasi klorofil-a. Hasil korelasi juga menunjukan adanya hubungan searah yang kuat pada ekman pumping dan gradient suhu permukaan laut dengan klorofil-a dan hubungan berbanding terbalik yang kuat pada suhu permukaan laut dengan klorofil-a. Pengaruh IOD positif pada tahun 2019-2020 mengindikasikan peningkatkan anomali karakteristik upwelling dengan peningkatan pada ekman pumping sebesar 1.70 m/s-1, peningkatan gradient suhu permukaan laut sebesar 1.18℃, penurunan suhu permukaan laut sebesar -0.33℃, dan peningkatan klorofil-a sebesar 0.36 mg/m3.
Intensive Pennaeus vannamei aquaculture is a critical reservoir for the emergence of antimicrobial resistance (AMR), driven by the extensive use of antibiotics under high-density production conditions. This study aimed to isolate, characterize, and identify antibiotic-resistant bacteria from intensive shrimp pond environments in the Rowosari and Kaliwungu Districts of Kendal Regency, Central Java, Indonesia. Water, sediment, and shrimp samples were collected via purposive sampling and cultured on thiosulfate-citrate-bile salts sucrose (TCBS) and Zobell Marine Agar. Antimicrobial susceptibility testing was performed using the Kirby-Bauer disk diffusion method, following CLSI guidelines, against erythromycin (ERY), oxytetracycline (OXY), enrofloxacin (ENR), and amoxicillin (AMX). Molecular identification was conducted via 16S rRNA gene sequencing with BLAST homology analysis and neighbor-joining phylogenetic reconstruction using MEGA-X. Four isolates were recovered and characterized in this study. Oxytetracycline resistance was detected universally, and isolate A23 exhibited complete resistance to all tested antibiotics. Molecular analysis identified A23 as V. injensis strain VS1, B15 as V. metschnikovii strain Vm-4, and B12 and B17 as Staphylococcus arlettae, each with 100% sequence homology with reference strains. These findings confirm the presence of diverse AMR bacterial assemblages in intensive shrimp pond environments in Kendal Regency and underscore the critical need for integrated AMR surveillance and prudent antibiotic stewardship in Indonesian shrimp aquaculture.
Coastal ecotourism development requires an integrated understanding of environmental suitability, ecological carrying capacity, and management strategies to ensure long-term sustainability. This study evaluates the suitability of tourism, carrying capacity, and development strategies for sustainable coastal ecotourism at Karangsong Beach, Indramayu Regency, Indonesia. Tourism suitability and carrying capacity were assessed based on biophysical parameters, field observations, and stakeholder surveys. Tourism suitability was analyzed using the Tourism Suitability Index (TSI), while the Area Carrying Capacity (ACC) was calculated to determine the maximum number of visitors that can be accommodated without compromising environmental quality or visitor comfort. Strategic priorities for ecotourism development were identified using an integrated SWOT analysis and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The results indicate spatial variation in tourism suitability across the study area, with several coastal segments classified as highly suitable for tourism activities, while others require management interventions. The carrying capacity analysis suggests that Karangsong Beach can sustainably accommodate an average of 184 visitors per day under current environmental conditions. Priority development strategies include improving and maintaining tourism facilities, enhancing accessibility, strengthening community participation in tourism management, and conserving mangrove ecosystems as key ecotourism attractions. This study demonstrates that integrating tourism suitability assessment and carrying capacity analysis provides a robust scientific framework for sustainable coastal ecotourism planning. The findings offer practical insights for balancing tourism development, coastal ecosystem conservation, and community-based economic benefits and contribute to sustainable marine ecotourism management in tropical coastal regions.
Masyarakat Indonesia timur menentukan penanggalan hijriah selain melihat ukuran cakram bulan, mereka juga mengamati perubahan pasang surut terhadap waktu shalat fardhu. Pengetahuan mereka dalam menerjemahkan fenomena pasang surut disebut dengan ethno-tide. Diperlukan identifikasi karakter pasang surut sebagai buktian kebenaran ilmiah dari ethno tide tersebut. Ethno tide masyarakat indoinesia Timur adalah suatu kebenaran ilmiah. Konsistensi waktu terjadinya Tsw terhadap waktu shalat relatif kecil (deviasi < 44 menit. Waktu terjadinya slack water (TSW), merupakan indikator penciri dari umur bulan dan effektif (sederhana) dalam menentukan penanggalan hijriah. Waktu Tsw pada peak II (siang hari) lebih effektif mengidentifikasi umur bulan dibandingkan Tsw yang terjadi di peak I (malam hari). Setiap TSw yang terjadi pada rentang waktu shalat fardhu menginformasikan umur bulan dalam satu fase bulan tertentu. Umur bulan dari fase bulan baru (BB) ke fase kuartil 1 (BB-KW1) untuk penanggalan 1 – 5 H lebih efektif diperlihatkan Tsw-SI yang terjadi antara Shalat Ashar dan Isha. Slack water untuk penanggalan di fase kuartil I (5 – 10 H) terjadi dalam rentang shalat shubuh ke Ashar oleh Tsw-SII. Rata-rata pergeseran Tsw harian awal bulan hijriah sebesar 48 menit yang mendekati pergeseran saat fase purnama (49 menit). Pergeseran harian saat fase kuartil 1 (01:23) lebih kecil dibandingkan kuatil 2 (02:50) sedangkan saat fase akhir bulan (bulan mati) sebesar 53 menit
Degradasi ekosistem pesisir akibat tekanan aktivitas dari daratan sering kali mengakibatkan penurunan sumber daya ikan dan perubahan struktur komunitas biota laut. Pendekatan dengan menerapkan habitat buatan berbasis peningkatan komunitas ikan (fish enhancement) menjadi alternatif restorasi yang relevan untuk pesisir yang tergradasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kelimpahan ikan dan struktur komunitas ikan pada tahap awal kolonisasi pada habitat buatan BHUMI (Bangunan Hunian Buatan untuk Rumah Ikan) yang dipasang di perairan Teluk Awur, Jepara. Pengamatan komunitas ikan dilakukan secara berkala, yaitu 2 bulan dan 4 bulan setelah instalasi struktur, dengan menggunakan metode survei bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instalasi habitat buatan telah meningkatkan kelimpahan ikan secara signifikan seiring waktu pengamatan (p<0,05). Sebanyak 18 famili dan 28 spesies ikan telah menempati habitat buatan dengan kelimpahan berkisar 144–238 individu pasca-instalasi. Hasil juga menunjukkan bahwa kelimpahan ikan yang berasosiasi dengan habitat buatan dipengaruhi oleh lokasi penempatan dan waktu pemantauannya (p<0,05). Perubahan kelimpahan ikan akibat waktu cenderung terjadi di lokasi dekat pantai (Teluk Awur); sebaliknya, perubahan kelimpahan ikan di lepas pantai (Karang Bokor) relatif stabil. Terdapat perubahan struktur komunitas ikan yang signifikan selama periode pemantauan (p<0,05) yang mengindikasikan terjadinya proses suksesi komunitas pada habitat baru. Tahap awal kolonisasi oleh spesies ikan oportunistik dan generalis, kemudian diikuti oleh peningkatan keanekaragaman komunitas ikan yang menunjukkan proses stabilisasi ekologi. Temuan ini memperlihatkan bahwa desain struktur habitat buatan efektif dalam menyediakan habitat perlindungan dan meningkatkan agregasi ikan pada perairan pesisir yang dipengaruhi oleh aktivitas daratan.
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang tumbuh di zona pasang surut (intertidal) daerah tropis dan subtropis serta menjadi habitat berbagai jenis kepiting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas kepiting pada ekosistem mangrove di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang. Pengambilan data dilakukan pada empat stasiun pengamatan, masing-masing terdiri atas tiga plot, menggunakan metode deskriptif eksploratif. Analisis meliputi komposisi spesies, kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi, dan pola sebaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Desa Pasar Banggi dihuni oleh tujuh spesies kepiting. Nilai rata-rata kelimpahan kepiting berkisar antara 0,02–0,06 ind/m². Indeks keanekaragaman (H') berada pada rentang 1,60–1,77 yang menunjukkan kategori sedang. Indeks keseragaman (E) berkisar antara 0,96–1,00 dan termasuk kategori tinggi, menandakan distribusi individu antarspesies relatif merata. Sementara itu, indeks dominansi menunjukkan tidak adanya spesies yang mendominasi komunitas. Analisis pola sebaran memperlihatkan bahwa sebagian besar spesies kepiting memiliki pola sebaran seragam (uniform). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunitas kepiting pada ekosistem mangrove Desa Pasar Banggi memiliki tingkat keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, tidak terdapat spesies dominan, serta didominasi oleh pola sebaran seragam. Temuan ini menunjukkan kondisi komunitas kepiting yang relatif stabil dalam mendukung keseimbangan ekosistem mangrove.
Sargassum sp. is an abundant marine biological resource in Indonesia rich in bioactive compounds, yet its utilization as a feed supplement in fish culture remains limited. Feed represents the highest cost component in aquaculture, necessitating economical natural additives to improve fish performance and their resistance to environmental stressors such as pH fluctuations. This research aimed to evaluate the effect of Sargassum sp. water extract, obtained using acidic (pH 3) and alkaline (pH 12) methods, on the survival rate, growth, and resistance of zebrafish (Danio rerio) to extremely low pH shock. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) with nine treatments (control, four alkaline extract doses, and four acidic doses) over a 30-day rearing period. Doses were determined based on BSLT toxicity tests, which indicated that both extracts were non-toxic (LC50 > 1000 ppm). The parameters observed included survival rate, absolute weight gain, and mortality during a pH 3 shock test. The results showed that supplementation had no significant effect on survival rate (P>0.05). However, all extract treatments (acidic and alkaline) significantly increased absolute weight gain (P<0.05) compared to the control, with the highest average weight found at the lowest alkaline Sargassum sp. extract 1.375 ppm. Fish supplemented with the extract showed significantly lower mortality in the low pH shock test (P<0.05), with the best resistance value observed at the lowest acidic treatment (1,875 ppm). These findings indicate that Sargassum sp. extract has the potential as an effective natural feed supplement to promote growth and enhance the physiological resistance of fish to environmental stress, even at low concentrations.
Hutan mangrove memegang peranan yang penting dalam perlindungan pesisir dan penyerapan karbon, namun ancaman degradasinya terus meningkat. Teknologi penginderaan jauh menawarkan solusi pemantauan efisien melalui Indeks Kesehatan Mangrove atau Mangrove Health Index (MHI) berbasis citra Sentinel-2 (MHI-S2). Penelitian ini mengevaluasi akurasi model empiris MHI-S2 dibandingkan dengan pengukuran MHI lapangan (MHI-L), pada ekosistem mangrove di Bali dan Jawa Timur. Data dikumpulkan dari 194 plot pada 6 lokasi berbeda di Bali dan Jawa Timur dengan pengamatan yang mencakup parameter tutupan tajuk, diameter batang, dan kerapatan pancang/sapling, yang kemudian disandingkan dengan MHI-S2 pada periode waktu berdekatan. Evaluasi kinerja menggunakan koefisien korelasi Pearson (r dan R²), metrik galat/error (RMSE, MAE, bias), koefisien korelasi konkordansi Lin (Lin’s CCC), serta analisis Bland–Altman. Hasil menunjukkan hubungan moderat antara MHI-S2 dan MHI-L (r = 0,71; R² = 0,50). Meski demikian, ditemukan bias positif yang cukup tinggi yaitu sebesar 20,6 yang mengindikasikan kecenderungan overestimasi oleh model MHI-S2. Rendahnya nilai Lin’s CCC (0,36) dan lebarnya rentang batas kesepakatan 95% hasil analisis Bland–Altman (–17 hingga +59) menegaskan akurasi yang terbatas pada skala plot. Temuan ini mengimplikasikan bahwa model MHI-S2 yang tersedia saat ini belum sepenuhnya andal untuk estimasi nilai absolut MHI-L. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan model empiris lanjutan serta validasi lapangan yang lebih intensif untuk meningkatkan presisi pemantauan berbasis satelit, demi mendukung keberhasilan manajemen konservasi mangrove.