
This study aims to examine the role of transformational prophetic leadership in building a culture of quality in higher education. Using a qualitative case study approach, data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis involving university leaders, quality assurance personnel, and academic staff. The data were analyzed using an interactive model, including data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that transformational leadership contributes to the development of a quality culture through vision building, innovation, and active stakeholder engagement. At the same time, prophetic leadership reinforces ethical values such as honesty, trustworthiness, transparency, and wisdom, which serve as the foundation of organizational behavior. The integration of these two leadership approaches referred to as transformational prophetic leadership creates a holistic model that balances performance orientation with moral and spiritual values. Furthermore, the study shows that a sustainable culture of quality is achieved not only through formal quality assurance systems but also through leadership practices that foster trust, participation, and continuous improvement. This study contributes to the development of leadership theory by integrating transformational and value-based perspectives, and provides practical implications for higher education leaders in designing effective and ethical leadership strategies
This study examines the effectiveness of LEGO-based constructive media in fostering patience as a core dimension of self-regulation among early childhood learners at TK Miftahul Ulum 27 Pamekasan. Grounded in constructivist and socio-cultural learning theories, the research employs a qualitative case study approach to explore how experiential, play-based learning environments facilitate character development. Data were collected through observations, in-depth interviews, and documentation, involving teachers, school leaders, parents, and children aged 5–6 years. The findings reveal that LEGO-based learning significantly enhances children’s ability to regulate emotions, delay gratification, persist in tasks, and engage in cooperative social interactions. The implementation process, when systematically designed and supported by effective teacher facilitation, enables children to internalize patience through meaningful and repeated learning experiences. However, the effectiveness of the approach is influenced by multidimensional factors, including individual developmental differences, institutional support, and family involvement. The study further proposes a LEGO-based constructive learning model comprising instructional design, implementation processes, and character outcomes. This model highlights the importance of integrating play-based strategies with character education to achieve holistic development. The findings contribute to the advancement of early childhood pedagogy by emphasizing that character formation is most effective when embedded in authentic, experiential learning contexts.
Penelitian ini mengkaji implementasi pembelajaran fikih dalam meningkatkan kecerdasan spiritual di Pondok Pesantren Al-Ikhlash Sedayulawas Brondong Lamongan. Permasalahan yang sering ditemukan adalah santri seringkali memahami fikih hanya sebagai teori tanpa menginternalisasi nilai-nilai spiritualnya, sehingga ibadah hanya menjadi formalitas belaka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang melibatkan observasi, wawancara mendalam dengan Direktur Pondok, guru fikih, dan santri, serta dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran fikih dilakukan secara sistematis melalui tiga tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap perencanaan meliputi penyusunan Rencana Pembelajaran (RPP) yang komprehensif dan jadwal harian. Tahap pelaksanaan menggunakan berbagai metode seperti ceramah, diskusi, tanya jawab, dan pembiasaan ibadah (salat berjamaah wajib, salat sunah, puasa wajib dan sunah) yang didukung oleh pengawasan ketat dari tim ibadah (IST) serta metode targhib dan tarhib. Tahap evaluasi meliputi tes lisan dan tertulis, ujian praktik, dan evaluasi kegiatan harian. Implementasi ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kecerdasan spiritual siswa, yang diidentifikasi melalui empat indikator utama: kesadaran beribadah, kualitas kesabaran, kecenderungan berbuat baik, dan empati yang kuat. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan dalam menumbuhkan motivasi internal siswa untuk beribadah sunah dan disiplin dalam aspek-aspek minor salat wajib
Keaktifan belajar siswa harus selalu dikembangkan, beberapa siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran fikih di kelas. Namun, ditemukan juga potensi keaktifan siswa di kelas 7i, sehingga mendorong diterapkannya model Reciprocal Teaching guna mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam bertanya, berdiskusi, dan mencari informasi. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan keaktifan belajar siswa melalui penerapan model Reciprocal Teaching. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di MTsN 3 Banyuwangi dengan subyek guru mata pelajaran fikih dan siswa kelas 7i. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana meliputi kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini melaporkan bahwa: 1) Dari pertemuan pertama dan kedua, terdapat 2 kelompok menunjukkan perkembangan frekuensi pertanyaan dari satu menjadi dua pertanyaan. 2) Pada pertemuan pertama, 6 kelompok terlibat aktif dalam diskusi, lalu keterlibatan aktifnya berkembang menjadi 8 kelompok pada pertemuan kedua setelah adanya scaffolding dari guru. 3) Pada pertemuan pertama siswa menggunakan buku UKBM sebagai sumber informasi. Pada pertemuan kedua, keaktifan siswa mencari informasi berkembang, terlihat dari inisiatif siswa membawa laptop untuk mencari informasi yang lebih luas. Disimpulkan bahwa model Reciprocal Teaching terbukti efektif dapat mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebaiknya guru mata pelajaran fikih lebih sering menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa selama proses belajar di kelas, salah satunya dapat melalui penerapan model Reciprocal Teaching.
Kepemimpinan profetik terwujud dalam beberapa kebijakan yang dilakukan oleh khulafaur rasyidin. Komunikasi yang baik antara bawahan dan pemimpin dalam pemerintahan khulafaur rasyidin. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka metode penelitian kualitatif. Data diperoleh dari buku, jurnal. Hasil penelitian Penerapan yang baik dalam beberapa bidang seperti pertahanan, eksekutif dan sosial ekonomi berdampak positif terhadap rakyat. Perjuangan diteruskan oleh Umar dengan perluasan wilayah yang massif. Kepemimpinan yang bercorak pada setiap diri khalifah dari Abu Bakar sampai Ali memberikan kesan tersendiri serta fokus dan tujuan yang berbeda