• 学术搜索
  • 科研智能体
    • Research Labs
    • AI 阅读
    • AI 文库
    • 深度研究
    • 学者亮点
  • 学术资源
    • AI2000
    • 期刊/会议
    • 学者库
    • 学术API
      MCP&Skill
    • 溯源树
    • 数据集
  • 知识沉淀
    • 学术空间
订阅小程序
旧版功能
aminer vip
开通会员低至0.73元/天
一次搞定AI科研
立即登录
  • English
  • 联系方式
    El Harakah

    El Harakah

    JournalISSN 1858-4357eISSN 2356-1734

    年发文量

    研究主题

    论文(455)

    排序
    1Qur’anic Analysis of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur As Sunan Drajat’s Cultural Dakwah
    Azhari Falakhuddin Al-Hafidz, Estalia Rona Ratu Roy, Yandri Agusta Putra, Yandra Agusta Putra, Ahmad Fadhol Maulana

    This study examines the role of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur as cultural daʿwah media used by Raden Qasim (Sunan Drajat) to spread Islam along Java's northern coast during the 15th–16th centuries. While research on the Walisongo is widespread, few studies integratively analyze the symbolic meaning of Singo Mengkok and the textual message of Pangkur through a Qur’anic perspective, leaving a critical gap in understanding how art, scripture, and daʿwah values interconnect. This study explores how these traditional art forms functioned as persuasive media for conveying moral, spiritual, and social teachings, and identifies the specific Qur’anic values embedded within them. Employing a descriptive qualitative method with a historical-analytical and interpretive approach, the research draws on primary sources—including Tembang Pangkur lyrics, field observations at the Sunan Drajat Museum, and custodian interviews—alongside secondary literature on Javanese culture and Qur’anic studies. The findings reveal that Gamelan Singo Mengkok symbolizes humility and self-control, serving as an effective tool for daʿwah bil-hikmah (wise propagation). Meanwhile, Tembang Pangkur conveys core values of monotheism, repentance, obedience, knowledge-seeking, social responsibility, and national unity. These elements align with Qur’anic principles of wisdom and cultural accommodation, allowing Islamic teachings to integrate harmoniously with local traditions. In conclusion, the synthesis of Gamelan Singo Mengkok and Tembang Pangkur represents a transformative daʿwah model relevant for addressing contemporary moral, spiritual, and social challenges. Future research should leverage digital humanities to preserve and adapt these traditional arts through modern technology. Penelitian ini mengkaji peran Gamelan Singo Mengkok dan Tembang Pangkur sebagai media dakwah kultural yang digunakan oleh Raden Qasim (Sunan Drajat) untuk menyebarkan Islam di sepanjang pantai utara Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16. Meskipun penelitian tentang Walisongo sudah meluas, belum banyak studi yang menganalisis secara integratif makna simbolis Singo Mengkok dan pesan tekstual Pangkur melalui perspektif Al-Qur'an. Hal ini menyisakan celah kritis dalam memahami bagaimana seni, kitab suci, dan nilai-nilai dakwah saling keterkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana bentuk-bentuk kesenian tradisional tersebut berfungsi sebagai media persuasif untuk menyampaikan ajaran moral, spiritual, dan sosial, serta mengidentifikasi nilai-nilai Al-Qur'an yang terkandung di dalamnya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan historis-analitis dan interpretatif, penelitian ini bertumpu pada sumber-sumber primer—termasuk lirik Tembang Pangkur, pengamatan lapangan di Museum Sunan Drajat, dan wawancara dengan juru kunci—serta literatur sekunder tentang kebudayaan Jawa dan studi Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gamelan Singo Mengkok melambangkan kerendahan hati dan pengendalian diri, yang berfungsi sebagai sarana efektif untuk dakwah bil-hikmah (penyeruan yang bijaksana). Sementara itu, Tembang Pangkur menyampaikan nilai-nilai inti berupa tauhid, pertobatan, ketaatan, pencarian ilmu, tanggung jawab sosial, dan persatuan nasional. Elemen-elemen ini selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an tentang hikmah dan akomodasi kultural, yang memungkinkan ajaran Islam berintegrasi secara harmonis dengan tradisi lokal. Kesimpulannya, sintesis antara Gamelan Singo Mengkok dan Tembang Pangkur merepresentasikan sebuah model dakwah transformatif yang relevan untuk menjawab tantangan moral, spiritual, dan sosial kontemporer. Penelitian di masa depan perlu memanfaatkan pemanfaatan humaniora digital untuk melestarikan dan mengadaptasikan kesenian tradisional berbasis dakwah ini melalui teknologi modern

    2026
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    2Religious Ritual Governance and Social Harmony in Arjowilangun Village: A Berger–Luckmann Perspective
    Ahmad Kholil,Yusuf Ratu Agung, Tamim Mulloh, Masrokhin, Indah Rarasati

    Religion plays a central role in shaping communal values, rituals, and social order in Indonesian village life; however, the processes through which religious meanings become stable communal institutions remain insufficiently explained. Previous studies have mainly focused either on religious conflict or descriptive forms of social coexistence without analyzing how everyday ritual practices produce long-term social harmony. This qualitative case study examines how religious meanings and communal harmony are produced through everyday ritual governance in Arjowilangun Village, Malang Regency. Using Berger and Luckmann’s social-constructionist framework (externalization, objectivation, and internalization), the study traces how private preferences regarding the annual Selametan Desa—illustrated by the contested decision between buffalo and cattle—are expressed in public forums, formalized through committee records and announcements, and routinized through intergenerational socialization. It also analyzes how local Islamic traditions and ecological meanings are renegotiated and stabilized in response to modern disruptions. Data were collected through participant observation, nine in-depth interviews, meeting minutes, and documentary materials during the July–August 2021 crisis period. The findings show that, despite pandemic-related restrictions, negotiated procedural practices—including rotating committees, transparent budgeting, symbolic reframing, and cost-sharing—transform contested choices into durable communal norms, thereby producing social harmony that functions both as a precondition for collective action and as an outcome of institutionalized ritual governance. The study argues that sustaining interreligious harmony depends on procedural fairness, systematic record-keeping, and routine socialization—mechanisms that make pluralism manageable in everyday village life. The implications of this study are relevant for scholars of ritual, social construction, and community governance. Agama memainkan peran sentral dalam membentuk nilai-nilai komunal, ritual, dan tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat desa di Indonesia; namun, proses bagaimana makna-makna keagamaan menjadi institusi komunal yang stabil masih belum banyak dijelaskan. Penelitian sebelumnya sebagian besar berfokus pada konflik keagamaan atau bentuk-bentuk deskriptif dari koeksistensi sosial tanpa menganalisis bagaimana praktik ritual sehari-hari menghasilkan harmoni sosial jangka panjang. Studi kasus kualitatif ini mengkaji bagaimana makna keagamaan dan harmoni komunal diproduksi melalui tata kelola ritual sehari-hari di Desa Arjowilangun, Kabupaten Malang. Dengan menggunakan kerangka konstruksionisme sosial Berger dan Luckmann (eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi), penelitian ini menelusuri bagaimana preferensi terkait Selametan Desa tahunan—yang ditunjukkan melalui perdebatan penggunaan kerbau atau sapi—diungkapkan dalam forum publik, diformalkan melalui catatan dan pengumuman panitia, serta dirutinkan melalui sosialisasi antargenerasi. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana tradisi Islam lokal dan makna ekologis dinegosiasikan dan distabilkan sebagai respons terhadap disrupsi modern. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, sembilan wawancara mendalam, notulen rapat, dan dokumen pendukung selama periode krisis Juli–Agustus 2021. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, meskipun terdapat pembatasan terkait pandemi, praktik-praktik prosedural hasil negosiasi—termasuk sistem kepanitiaan bergilir, transparansi anggaran, pembingkaian simbolik, dan pembagian biaya—mampu mengubah pilihan yang diperdebatkan menjadi norma komunal yang bertahan lama, sehingga menghasilkan harmoni sosial yang berfungsi baik sebagai prasyarat tindakan kolektif maupun sebagai hasil dari tata kelola ritual yang terinstitusionalisasi. Penelitian ini berargumen bahwa keberlanjutan harmoni antarumat beragama bergantung pada keadilan prosedural, pencatatan yang sistematis, dan sosialisasi rutin—mekanisme yang membuat pluralisme dapat dikelola dalam kehidupan desa sehari-hari. Implikasi penelitian ini relevan bagi para akademisi di bidang ritual, konstruksi sosial, dan tata kelola komunitas.

    2026
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    3Mapping the Islam Nusantara Discourse: Bibliometric Analysis of Conceptual Structure and Key Debates
    Nurul Alma Ashofi,Rully Khairul Anwar

    This study was motivated by the rapid development of the discourse on Islam Nusantara in academic literature, contrasted with limited efforts to systematically map its intellectual structure and conceptual debate patterns. The purpose of this study is to map the intellectual structure of Islam Nusantara studies, identify its theoretical foundations, and reveal the primary directions of conceptual debates that have developed in scientific literature. Using a bibliometric analysis method, this study examines 1,653 articles indexed by Scopus between 2017 and 2024, analyzed via the Bibliometrix tool through Biblioshiny. The results show that publications on Islam Nusantara have experienced significant annual growth. The thematic map reveals that the main discourse of Islam Nusantara centers on the relationship between Islam, human values, and religion as a social practice, while themes of Islamism, Islamic law, and nationality occupy an emerging or declining position. Furthermore, keyword network analysis demonstrates a strong connection between the religious, social, and political dimensions within the study of Islam Nusantara. This study concludes that Islam Nusantara in contemporary scientific literature is constructed primarily as a humanistic, moderate, and contextual discourse on Islam, rather than solely as an ideological-political project, and remains open to the development of more specific micro and thematic studies. Future research should explore digital Islam Nusantara, gender, youth, and pesantren globalization. Applying longitudinal bibliometrics and regional comparisons will enhance the field's theoretical depth, empirical richness, and global relevance.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan wacana Islam Nusantara dalam literatur akademik, yang kontras dengan masih terbatasnya upaya untuk memetakan struktur intelektual dan pola perdebatan konseptualnya secara sistematis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan struktur intelektual studi Islam Nusantara, mengidentifikasi landasan teoretisnya, serta mengungkap arah utama perdebatan konseptual yang berkembang dalam literatur ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis bibliometrik, penelitian ini memeriksa 1.653 artikel terindeks Scopus antara tahun 2017 dan 2024, yang dianalisis menggunakan alat Bibliometrix melalui Biblioshiny. Hasil penelitian menunjukkan bahwa publikasi tentang Islam Nusantara mengalami pertumbuhan tahunan yang signifikan. Peta tematik mengungkapkan bahwa wacana utama Islam Nusantara berpusat pada hubungan antara Islam, nilai-nilai kemanusiaan, dan agama sebagai praktik sosial, sementara tema Islamisme, hukum Islam, dan kebangsaan berada pada posisi yang baru muncul (emerging) atau menurun (declining). Lebih lanjut, analisis jaringan kata kunci menunjukkan hubungan yang kuat antara dimensi keagamaan, sosial, dan politik dalam studi Islam Nusantara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Islam Nusantara dalam literatur ilmiah kontemporer dikonstruksikan secara utama sebagai wacana Islam yang humanis, moderat, dan kontekstual, bukan semata-mata sebagai proyek ideologis-politik, serta tetap terbuka bagi pengembangan studi mikro dan tematik yang lebih spesifik. Penelitian masa depan harus mengeksplorasi Islam Nusantara digital, gender, pemuda, dan globalisasi pesantren. Penerapan bibliometrik longitudinal dan perbandingan regional akan meningkatkan kedalaman teoretis, kekayaan empiris, dan relevansi global dari bidang ini.

    2026
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    4Islamic Ecology Tradition, Independence, and Global Contribution
    Muhammad-Musa Al-Haddad

    The escalating global environmental crisis demands a reevaluation of humanity's relationship with nature, where scientific approaches must be complemented by ethical and spiritual frameworks. Islam provides a comprehensive foundation for addressing these challenges through the Qur’an and Sunnah emphasizing Tawhid (divine unity), which imbues all creation with intrinsic value as signs of God; khalifah (vicegerency), positioning humans as accountable trustees of the Earth; and mizan (cosmic balance), promoting moderation and prohibiting waste (israf) and corruption (fasad). This study examines the theological foundations of Islamic environmental ethics, critiques anthropocentric interpretations of khalīfah, and develops a holistic Islamic ecotheology grounded in authoritative sources. It also contrasts Islamic ecology with dominant Western paradigms associated with anthropocentrism, capitalism, and the secular desacralization of nature. This research employed a qualitative multi-method approach using normative-hermeneutical, historical, comparative, and critical discourse analysis of Qur’anic and Hadith sources. Through eco-critical hermeneutics, selected texts were analyzed linguistically and contextually alongside classical tafsīr and contemporary environmental issues, while emphasizing maqāṣid al-sharī‘ah and reinterpreting khalīfah as accountable stewardship rather than domination. Drawing on historical records from the Islamic Golden Age and contemporary initiatives in Muslim-majority societies, including Indonesia’s Nahdlatul Ulama intellectuals, the study proposes an “Islamic Green Policy Model” encompassing green Islamic finance, Sharia-compliant environmental policies, educational reform, faith-based environmental campaigns, and stronger intra-Islamic cooperation. The study concludes that authentic Islamic ecology offers a spiritually grounded and ethically coherent framework for advancing global sustainability, resilience, and community-based environmental action. The study recommends Sharia-based sustainability policies, environmental education, faith-based activism, and further research on Islamic ecological ethics implementation. Krisis lingkungan global yang semakin meningkat menuntut adanya peninjauan kembali terhadap hubungan manusia dengan alam, di mana pendekatan ilmiah perlu dilengkapi dengan kerangka etis dan spiritual. Islam menyediakan landasan yang komprehensif untuk menghadapi tantangan tersebut melalui Al-Qur’an dan Sunnah dengan menekankan konsep tawḥīd (kesatuan ilahi), yang memandang seluruh ciptaan memiliki nilai intrinsik sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan; khalīfah (perwakilan/pengelola bumi), yang menempatkan manusia sebagai pemegang amanah yang bertanggung jawab atas bumi; serta mīzān (keseimbangan kosmis), yang mendorong moderasi dan melarang pemborosan (isrāf) serta kerusakan (fasād). Penelitian ini mengkaji landasan teologis etika lingkungan Islam, mengkritisi interpretasi antropo¬sentrik terhadap konsep khalīfah, serta mengembangkan ekoteologi Islam yang holistik berdasarkan sumber-sumber otoritatif. Penelitian ini juga membandingkan ekologi Islam dengan paradigma Barat dominan yang berkaitan dengan antroposentrisme, kapitalisme, dan desakralisasi sekuler terhadap alam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif multi-metode melalui analisis normatif-hermeneutik, historis, komparatif, dan analisis wacana kritis terhadap sumber Al-Qur’an dan Hadis. Melalui hermeneutika ekokritis, teks-teks terpilih dianalisis secara linguistik dan kontekstual dengan mengaitkannya pada tafsir klasik dan isu-isu lingkungan kontemporer, sambil menekankan maqāṣid al-sharī‘ah serta menafsirkan kembali khalīfah sebagai amanah dan tanggung jawab, bukan dominasi. Dengan merujuk pada catatan sejarah Zaman Keemasan Islam dan berbagai inisiatif kontemporer di masyarakat mayoritas Muslim, termasuk intelektual progresif Nahdlatul Ulama di Indonesia, penelitian ini menawarkan “Model Kebijakan Hijau Islam” yang mencakup keuangan hijau berbasis Islam, kebijakan lingkungan yang sesuai syariah, reformasi pendidikan, kampanye lingkungan berbasis keagamaan, dan penguatan kerja sama intra-Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekologi Islam yang autentik menawarkan kerangka yang berlandaskan spiritualitas dan etika yang koheren untuk mendorong keberlanjutan global, ketahanan sosial, dan aksi lingkungan berbasis komunitas. Penelitian ini merekomendasikan kebijakan keberlanjutan berbasis syariah, pendidikan lingkungan, aktivisme berbasis keagamaan, serta penelitian lanjutan mengenai implementasi etika ekologi Islam.

    2026
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    5The Rewanda Offering Tradition: an Islamic Environmental Ethics Perspective
    Oktavia Nur Fadhilla, Khoirul Anwar, Mujiyono

    This study examines the symbolic meanings and environmental ethical dimensions embedded in the Sesaji Rewanda tradition practiced at Kreo Cave. Previous studies on the Sesaji Rewanda tradition have mainly focused on symbolic meanings and cultural tourism, with limited attention to local communities’ experiences and perspectives. However, the tradition represents a cultural ritual associated with respect for the monkeys inhabiting the area and forms part of the historical memory preserved by the local community. This research employs a qualitative ethnographic approach to understand the cultural practices and meanings constructed by the community in performing the ritual. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews with community leaders, local vendors, and tourism managers, as well as documentation of symbolic practices throughout the Sesaji Rewanda procession. The data were analyzed interpretatively through data reduction, thematic categorization, and meaning interpretation by integrating perspectives from cultural anthropology and Islamic environmental ethics. The findings reveal that the Sesaji Rewanda tradition reflects a symbolic relationship between humans, nature, and religious values that fosters ecological awareness within the community. In addition, the tradition strengthens social solidarity while supporting local economic activities surrounding the Kreo Cave tourism area. These findings indicate that local cultural practices can serve as cultural mechanisms linking environmental conservation, cultural identity, and community social life. Therefore, stakeholders should promote sustainable ecotourism at Kreo Cave through environmental conservation, regulated tourism, community participation, Islamic ecological ethics, and equitable economic benefits. Collaborative efforts among governments, communities, religious leaders, academics, and tourism managers are essential to preserving cultural and ecological sustainability.Penelitian ini mengkaji makna simbolik dan dimensi etika lingkungan yang terkandung dalam tradisi Sesaji Rewanda yang dipraktikkan di Kreo Cave. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai tradisi Sesaji Rewanda umumnya berfokus pada makna simbolik dan pariwisata budaya, dengan perhatian yang masih terbatas terhadap pengalaman dan perspektif masyarakat lokal. Namun demikian, tradisi ini merupakan ritual budaya yang berkaitan dengan penghormatan terhadap monyet-monyet yang mendiami kawasan tersebut serta menjadi bagian dari memori historis yang dijaga oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi kualitatif untuk memahami praktik budaya dan makna yang dibangun masyarakat dalam pelaksanaan ritual tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pedagang lokal, dan pengelola wisata, serta dokumentasi praktik-praktik simbolik selama prosesi Sesaji Rewanda berlangsung. Data dianalisis secara interpretatif melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi makna dengan mengintegrasikan perspektif antropologi budaya dan etika lingkungan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merefleksikan hubungan simbolik antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan yang menumbuhkan kesadaran ekologis dalam masyarakat. Selain itu, tradisi ini memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata Goa Kreo. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik budaya lokal dapat berfungsi sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan konservasi lingkungan, identitas budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan perlu mendorong pengembangan ekowisata berkelanjutan di Goa Kreo melalui konservasi lingkungan, pengelolaan wisata yang teratur, partisipasi masyarakat, penerapan etika ekologi Islam, dan distribusi manfaat ekonomi yang adil. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan pengelola wisata sangat penting untuk menjaga keberlanjutan budaya dan ekologi.

    2026
    引用
    AI阅读
    加入学术空间
    立即登录,查看全部 455 篇论文

    高被引作者

    作者引用发文
    Kundharu Saddhono356
    Roibin Roibin327
    furqon hidayatulloh221
    Zulfa Jamalie223
    Abidin Nurdin201
    Ayatullah Humaeni193
    Ahmad Kholil165
    Agus Zaenul Fitri153
    Andik Wahyun Muqoyyidin141
    Marzuki Marzuki122

    高产作者

    作者引用发文
    Roibin Roibin327
    Kundharu Saddhono356
    Mohammad Zainuddin56
    Ahmad Kholil165
    Djoko Sulaksono85
    Didin Komarudin105
    Ahmad Fahrudin Alamsyah14
    Umi Sumbulah64
    Mulyono Mulyono14
    Wildana Wargadinata14

    相关期刊

    Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
    Ulul Albab
    Jurnal Pendidikan Islam
    Journal of Indonesian Islam
    Tsaqafah
    Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan
    Journal of Religion and Human Relations
    AFKAR-JURNAL AKIDAH & PEMIKIRAN ISLAM-JOURNAL of AQIDAH & ISLAMIC THOUGHT
    Qudus International Journal of Islamic Studies
    Journal of Islamic Thought and Civilization