
Kepatuhan terhadap Formularium Nasional (FORNAS) dan Formularium Rumah Sakit (FRS) menjadi instrumen krusial dalam sistem JKN, mengingat standar ideal kepatuhan peresepan seharusnya mencapai 100%. RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo mencatat lebih dari 80% kunjungan rawat jalan berasal dari pasien BPJS, namun peresepan yang tidak sesuai formularium masih dijumpai. Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif ini bertujuan mengetahui kesesuaian peresepan obat dengan formularium pada pasien BPJS rawat jalan tahun 2025. Populasi penelitian berjumlah 6.855 resep; ukuran sampel dihitung menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh 378 resep yang dialokasikan proporsional sebanyak 32 resep per bulan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dari rekam medis dan dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil menunjukkan kesesuaian terhadap Formularium Rumah Sakit mencapai 99,83% (1.795 dari 1.798 item), sedangkan kesesuaian terhadap Formularium Nasional hanya 84,60% (1.520 dari 1.797 item), dengan 277 item (15,40%) tidak sesuai. Obat yang sering tidak sesuai antara lain mecobalamin, citicolin, flunarizin, eperisone, dan trimetazidine. Peresepan di tingkat rumah sakit sudah terkendali baik, namun penyelarasan dengan Formularium Nasional masih memerlukan evaluasi berkala oleh Komite Farmasi dan Terapi guna mendukung penggunaan obat yang rasional, efektif, dan efisien.
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan erat dengan resistensi insulin. Adiponektin merupakan hormon yang disekresikan jaringan adiposa dan berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin serta mengatur respons inflamasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kadar adiponektin serum berdasarkan lama menderita DMT2. Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilaksanakan di Rumah Sakit H. Abdul Manap Kota Jambi pada Agustus–September 2026. Sebanyak 30 pasien DMT2 direkrut menggunakan teknik purposive sampling. Kadar adiponektin serum diperiksa menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Responden dikelompokkan berdasarkan lama menderita diabetes, yaitu ≤5 tahun (n=16) dan >5 tahun (n=14). Analisis dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil menunjukkan rerata kadar adiponektin sebesar 13,308 ± 4,48 µg/mL, dengan rentang 6,27–24,21 µg/mL. Kelompok dengan durasi diabetes ≤5 tahun memiliki mean rank lebih tinggi dibandingkan kelompok >5 tahun (19,13 dibandingkan 11,36). Terdapat perbedaan kadar adiponektin yang signifikan antara kedua kelompok (Z=−2,411; p=0,016). Disimpulkan bahwa kadar adiponektin cenderung lebih rendah pada pasien dengan durasi DMT2 lebih panjang, meskipun pengaruh faktor perancu belum dapat dikesampingkan.
Pengelolaan sampah di pasar tradisional menjadi persoalan yang belum tertangani optimal, ditandai dengan tingginya timbulan sampah serta rendahnya partisipasi pedagang dan keterbatasan fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Di Pasar Rakyat Tani Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung, timbulan sampah mencapai 2–3 ton per hari operasional, sementara pasar hanya memiliki satu TPS yang belum memadai dan belum dilakukan pemilahan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara partisipasi pedagang dan kemudahan akses TPS dengan pengelolaan sampah di pasar tersebut. Penelitian menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan sampel 140 pedagang yang diambil secara total sampling, dan data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59,3% responden memiliki partisipasi aktif, 70,0% memiliki kemudahan akses TPS yang mudah, dan 59,3% memiliki pengelolaan sampah yang baik. Terdapat hubungan bermakna antara partisipasi pedagang dengan pengelolaan sampah (ρ = 0,011; OR = 2,614) dan antara kemudahan akses TPS dengan pengelolaan sampah (ρ = 0,002; OR = 3,512). Disimpulkan bahwa partisipasi pedagang dan kemudahan akses TPS berhubungan dengan pengelolaan sampah, sehingga peningkatan edukasi pedagang serta penyediaan fasilitas TPS yang memadai perlu menjadi prioritas pengelola pasar.
Infections caused by Candida albicans remain a public health concern, highlighting the need to explore alternative antifungal agents, including those derived from medicinal plants. This study aimed to evaluate the antifungal activity of the ethanolic extract of Smilax rotundifolia leaves against Candida albicans. An experimental laboratory study was conducted in vitro using the disc diffusion method. The leaves were extracted by maceration using 95% ethanol. Antifungal activity was evaluated at extract concentrations of 10%, 15%, and 20%, with three replicates for each treatment. Ketoconazole and sterile water for injection were used as positive and negative controls, respectively. Extraction of 300 g of dried leaf powder yielded 34 g of concentrated extract, corresponding to an extraction yield of 11.33%. Phytochemical screening revealed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins. The antifungal assay demonstrated that none of the tested extract concentrations produced an inhibition zone against Candida albicans (0 mm). In contrast, the positive control produced inhibition zones of 11.00, 10.65, and 10.90 mm, with a mean diameter of 10.85 mm, while the negative control showed no inhibition. In conclusion, the ethanolic extract of Smilax rotundifolia leaves at concentrations of 10–20% exhibited no detectable inhibitory activity against Candida albicans under the disc diffusion assay conditions.
Pelayanan hemodialisa merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sehingga kepuasan pasien menjadi salah satu indikator penting dalam evaluasi mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kepuasan pasien terhadap pelayanan hemodialisa di Rumkit Tk. II Udayana Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri atas 96 pasien yang menjalani pelayanan hemodialisa dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Kepuasan pasien diukur berdasarkan pendekatan Service Quality (SERVQUAL) yang meliputi dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67 responden (69,8%) termasuk kategori puas dan 29 responden (30,2%) tidak puas. Dimensi tangibles memiliki nilai rata-rata tertinggi (18,8958), sedangkan assurance terendah (18,7292). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara karakteristik dan kondisi pasien dengan kepuasan (p>0,05). Hipertensi menjadi satu-satunya kandidat multivariat (p=0,110), tetapi tidak bermakna setelah analisis regresi logistik (p=0,115; POR=2,282; 95% CI: 0,818–6,365). Dengan demikian, belum ditemukan determinan yang terbukti signifikan terhadap kepuasan pasien.