
Industri kosmetik semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan industri kosmetik tersebut tidak lepas dari peran brand awareness. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat mengenai peran brand ambassador (BA) pada terbentuknya brand awareness. Sehingga disusunlah penelitian ini guna meningkatkan pengetahuan mengenai hubungan brand ambassador, tagline, electronic word of mouth (e-WOM), dan social media marketing (SMM) terhadap brand awareness produk kosmetik di Kabupaten Kudus. Sampel penelitian melibatkan 150 responden melalui sampel purposive sampling. Regresi linier berganda dipilih untuk menyesaikan persamaan regresi antar variable yang diteliti. Penganalisisan data dilakukan melalui bantuan software SPSS versi 25. Temuan penelitian mengindikasikan social media marketing, e-WOM, dan brand ambassador memberi dampak baik yang nyata dalam brand awareness baik melalui parsial ataupun simultan. Sebaliknya, Tagline tidak menunjukan peran signifikan pada brand awarenes. Temuan ini dapat direkomendasikan kepada pemangku kepentingan bahwa SMM paling berperan dalam brand awareness. Konsumen yang terpapar media sosial akan lebih sadar terhadap kehadiran merek.
This study examines the role of Financial Risk Literacy (FRL) in shaping preventive behavior toward illegal online lending among university students. Unlike prior fintech research that primarily focuses on technology adoption, this study shifts attention to financial protection behavior. A cross-sectional survey was conducted involving 106 undergraduate students. FRL was measured using nine risk-oriented items, while preventive behavior was assessed using three action-based indicators. Intention to avoid illegal online lending was measured using a single item and treated as an observed mediator variable. Mediation analysis was performed using bootstrapping procedures. The results indicate that FRL significantly predicts intention to avoid illegal online lending and directly influences preventive behavior. Bootstrapping analysis confirms a significant indirect effect, indicating partial mediation. These findings suggest that FRL operates through both cognitive intention formation and direct behavioral activation pathways. This study contributes to the financial behavior literature by emphasizing risk-focused literacy as a protective cognitive asset in digital financial environments.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kemudahan akses, literasi keuangan, dan pengendalian diri terhadap intensitas penggunaan layanan PayLater atau Buy Now Pay Later (BNPL). Studi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya popularitas layanan pembayaran tunda yang menawarkan kemudahan serta fleksibilitas dalam bertransaksi. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan Google Form kepada 100 responden yang aktif memanfaatkan layanan PayLater atau BNPL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui aplikasi SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan akses berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensitas penggunaan. Artinya, semakin mudah layanan diakses dan digunakan, semakin tinggi kecenderungan individu untuk memanfaatkannya. Sebaliknya, literasi keuangan tidak terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap intensitas penggunaan layanan tersebut. Sementara itu, pengendalian diri berpengaruh negatif dan signifikan, yang menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pengendalian diri lebih tinggi cenderung menggunakan layanan PayLater atau BNPL secara lebih terbatas. Secara simultan, ketiga variabel tersebut mampu menjelaskan 63,8% variasi intensitas penggunaan. Temuan ini menegaskan bahwa kemudahan akses dan kemampuan mengendalikan diri menjadi faktor utama dalam menentukan perilaku penggunaan layanan pembayaran tunda.
The concept of halalan tayyiban in Islam emphasizes not only the permissibility of food (halal), but also its quality, safety, and wholesomeness (tayyib). In practice, however, Muslim consumers often rely mainly on the halal label when choosing food. The increasing availability of UPF, GMO, and products containing artificial additives raises concerns about the health implications. This situation has encouraged the growth of healthy lifestyle movements, especially among Muslim women as primary decision-makers in household food consumption. This study aims to explore the perceptions of Muslim women who adopt a healthy lifestyle toward halal-labelled foods in relation to the concept of halalan tayyiban. A qualitative descriptive method was used by collecting data through open-ended online questionnaires from 30 Muslim women. The data were analysed thematically. The findings show that the halal label is viewed as a basic requirement but not a guarantee of tayyib. Participants also consider BPOM registration, ingredients, nutritional information, and labels such as organic and non-GMO. They tend to focus more on production processes and ingredient origins in relation to health. These results imply the need for stronger transparency in halal certification and increased ethical consumption awareness.
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh intellectual capital (IC) terhadap kinerja keuangan perusahaan, dengan competitive advantage sebagai variabel intervening. Intellectual capital, terdiri dari human capital, structural capital, dan relational capital, berdasarkan hasil penelitian terdahulu memberikan pengaruh kinerja keuangan dengan cara menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Keunggulan kompetitif, pada gilirannya, memberikan peningkatan efisiensi operasional, diferensiasi produk, dan hubungan dengan pelanggan, yang berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas dan nilai perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian kuantitatif dengan alat analisis PLS SEM IBM untuk menguji hubungan antara variabel tersebut pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intellectual capital berperan positif terhadap competitive advantage, yang selnjutnya berdampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan intellectual capital dalam menciptakan keunggulan kompetitif yang pada akhirnya mendorong peningkatan kinerja finansial perusahaan. Selain itu, hasil penelitian juga memberikan bukti bahwa competitive advantage berfungsi sebagai variabel intervening yang menghubungkan intellectual capital dengan kinerja keuangan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memaksimalkan pengelolaan intellectual capital untuk memperkuat keunggulan kompetitif, sehingga menghasilkan kinerja keuangan lebih baik.