
Abstract This article examines the role of digital leadership in education through the Systematic Literature Review (SLR) approach using the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses) method. The main findings indicate that the readiness of human resources (HR) in implementing digital leadership at the education level is still limited. Many leaders and administrative staff do not yet have a deep understanding of digital transformation, which hinders the success of digital initiatives. Therefore, training and development programs that focus on technical and soft skills such as adaptive leadership and digital literacy are very important. In addition, effective digital leadership plays an important role in driving digital innovation, which increases the efficiency and competitiveness of educational institutions. A well-implemented digital culture allows for the integration of technology in learning and management, supporting collaboration and experimentation. Finally, digital transformation requires visionary leaders who are able to integrate technology with educational strategies, creating adaptive and innovative cultural changes in teaching. In conclusion, digital leadership plays a key role in accelerating sustainable educational transformation in the world of education through a digital culture of human resource development and digital innovation. Abstrak Artikel ini mengkaji peran kepemimpinan digital dalam dunia pendidikan melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Temuan utama menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menerapkan kepemimpinan digital di tingkat pendidikan masih terbatas. Banyak pemimpin dan staf administrasi belum memiliki pemahaman yang mendalam mengenai transformasi digital, yang menghambat keberhasilan inisiatif digital. Oleh karena itu, pengembangan program pelatihan yang berfokus pada keterampilan teknis dan soft skills seperti kepemimpinan adaptif serta literasi digital menjadi sangat penting. Selain itu, kepemimpinan digital yang efektif berperan penting dalam mendorong inovasi digital, yang meningkatkan efisiensi dan daya saing institusi pendidikan. Budaya digital yang diterapkan dengan baik memungkinkan integrasi teknologi dalam pembelajaran dan manajemen, mendukung kolaborasi dan eksperimen. Terakhir, transformasi digital membutuhkan pemimpin yang visioner dan mampu mengintegrasikan teknologi dengan strategi pendidikan, menciptakan perubahan budaya yang adaptif dan inovatif dalam pengajaran. Kesimpulannya, kepemimpinan digital memainkan peran kunci dalam mempercepat transformasi pendidikan yang berkelanjutan pada dunia pendidikan melalui budaya digitalm pengembangan sumber daya manusia dan inovasi digital.
Pembelajaran merupakan sebuah proses interksi antara guru dengan murid untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam prosesnya pembelajaran selalu melibatkan metode, media, dan strategi terntentu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan proses pembelajaran kitab klasik berbasis teknologi informasi dalam meningkatkan kompetensi siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini berlokasi di SMA Khadijah Surabaya. Temuan penelitian ini Pertama, metode pembelajarannya menggunakan sorogan dan bandongan yang lazim digunakan dalam lingkungan pesantren. Kedua membuat urutan materi. Yakni dalam pembelajaran kitab klasik,urutannya adalah menirukan, menerjemahkan, kemudian yang terakhir menyimpulkan pembuatan. Ketiga langkah-langkah pembelajaran. langkah-langkah pembelajaran kitab klasik dilakukan terlebih dahulu menyiapkan bahan ajar, kemudian berdo’a selanjutnya memotivasi siswa. Keempat, menyiapkan media pembelajaran, media yang digunakian adalah aplikasi media sosial seperti youtube dan tik tok. Kelima. merencanakan bentuk belajar siswa, yang berupa diskusi kelompok. Kelima, memperhatikan cara merespon dan siap menerima masukan dari para siswa
Perkembangan era digital telah membawa tantangan baru bagi guru, terutama dalam hal kompetensi profesional untuk menghadapi kenakalan siswa yang semakin kompleks. Artikel ini menganalisis kebutuhan dan solusi peningkatan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi dan menangani kenakalan siswa di era digital. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap guru dan kepala sekolah di SMPN 1 Sukodadi, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) 65% guru telah menggunakan platform digital seperti Google Classroom, tetapi hanya 30% yang mampu mengintegrasikannya secara kreatif; (2) Kenakalan siswa didominasi oleh cyberbullying (40%), kecanduan gadget (35%), dan penyalahgunaan media sosial (25%); (3) Pendekatan restorative justice dinilai efektif oleh 60% guru, namun kolaborasi dengan orang tua masih terbatas (50%).Temuan utama mengungkap kesenjangan kompetensi digital guru akibat kurangnya pelatihan, infrastruktur tidak merata, dan resistensi terhadap perubahan. Kenakalan siswa dipengaruhi oleh faktor observasi (social learning theory), tekanan psikologis (general strain theory), dan kesenjangan antara pengetahuan dengan perilaku (theory of planned behavior). Solusi yang direkomendasikan meliputi: (1) Pelatihan guru berbasis kebutuhan dan berkelanjutan, (2) Integrasi literasi digital dan pendidikan karakter dalam kurikulum, serta (3) Pendekatan kolaboratif dengan orang tua dan restorative practices. Penelitian ini menekankan pentingnya adaptasi sistem pendidikan terhadap tuntutan era digital untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan responsif.
Religious moderation education has an important role in creating tolerance and social harmony in diverse societies. Religious moderation teaches a deep and balanced understanding of religious teachings, as well as their daily application without extreme or fanatical attitudes. Through this education, individuals are taught to respect differences, understand ethnic and cultural diversity, and develop mutual respect between followers of different religions. This education also emphasizes the importance of interfaith dialogue as a way to overcome conflict and build harmonious cooperation. This research aims to identify the form of religious moderation education implemented at SDN 1 Balun Turi Lamongan in building tolerance and social harmony, as well as to evaluate its impact on the formation of religious tolerance among students. The research method used is a qualitative approach, with data collection techniques through interviews, observation and documentation. Data analysis includes collection, reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that religious moderation education at SDN 1 Balun integrates moderation values in every lesson and provides examples and moral messages about the importance of tolerance and social harmony. This implementation has a positive impact, reducing conflict between religious communities, and creating an attitude of mutual respect, respect, mutual assistance and affection despite religious differences. It is hoped that this research can provide recommendations for developing religious education curricula in schools as well as policies related to social harmony.
Islamic boarding school educational institutions in Indonesia are identical. This study aims to capture learning innovations and implementation of progressive education in the Independent Book Reading Guidance (BMKM) program at the Darussolah An-Nawawiyah Pakong Bangkalan Islamic Boarding School. Using a field-based qualitative research method. The author found two things, first the BMKM learning innovation combines the sorongan and baht masā'il methods so that there is independence and equality between students. The second innovation lies in learning outcomes that not only emphasize the ability to read yellow books but also understand their contents, and the ability to write, translate them, and convey this understanding, therefore the books used are books that can increase Islamic insight including fiqh, morals, and aqidah. The second finding is that BMKM implements progressive education based on three indicators, namely the pragmatism of BMKM participants preparing all means to achieve learning goals, the second aspect is experimentalism, namely involving students in almost the entire learning process, the task of the mentor is only to direct and motivate. The third aspect, individualism, is where the tutor directs students to which aspects of their learning achievements, which include reading books, conveying understanding, and writing translations, must be honed and developed.