Perairan Indonesia merupakan zona kritikal chokepoint untuk pengukuran arus laut bagi pemahaman ariabilitas iklim. Diketahui bahwa ada perbedaan elevasi muka air laut rerata antara kawasan Samudra Pasifik sebelah barat dengan Samudra Hindia bagian Timurlaut (Northeast Indian Ocean), yang menyebabkan terjadinya aliran massa air yang berasal dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melewati perairan Indonesia, yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Pada saat terjadi El Nino, dimana elevasi muka air rerata di bagian barat Samudra Pasifik turun, maka ARLlNDO ini akan melemah. Dengan demikian dapat diperoleh identifikasi bahwa jika ARLlNDO mulai melemah maka akan terjadi El Nino. Dimana makin besar angkutan massa air oleh Arlindo maka akan memperlambat siklus El Nino. Sebagaimana diketahui bahwa El Nino dan La Nina memberi dampak besar bagi terjadinya anomali iklim Indonesia dan global, misalnya kemarau yang berkepanjangan atau curah hujan yang menimbulkan banjir bandang. Fenomena tersebut sangat menarik untuk menjadi bahan kajian bagi para peneliti oseanografi dunia maupun Indonesia. Dalam rangka itu maka dibuatlah kesepakatan bersama antara Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Perancis yang ditandatangani pada 12 Desember 2002 di Scripps Institution of Oceanography, Amerika untuk melakukan Ekspedisi INSTANT (International Nusantara STratification ANd Transport) pada tahun 2003 2007. Aktifitas yang dilakukan adalah Deployment Cruise yaitu memasang berapa mooring, Rotation Cruise (mengangkat dan memasang kembali mooring) dan Recovery Cruise (mengangkat mooring) di Selat Makassar, Pintasan Lifamatola (Lifamatola Passage), Selat Lombok, Selat Ombai, dan di Pintasan Timor (Timor Passage). Dalam buku ini akan dipaparkan berbagai aktifitas dalam Program INSTANT tersebut antara lain deskripsi pemasangan mooring di lima lokasi, konfigurasi peralatan mooring, wahananya dan pelaksanaannya mulai dari pemasangan sampai dengan pengambilan dan pengolahan data.