Abstrak Mahasiswa KKN di Jorong Atas Laban, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, melaksanakan salah satu program kerja pengelolaan sampah berbasis ecobrick dan ekoenzim. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat serta ramah lingkungan. Sampah plastik diolah menjadi ecobrick, yaitu botol plastik bekas yang diisi padat dengan sampah plastik lainnya, dan kemudian dirangkai menjadi sebuah ikon berbentuk nanas. Pemilihan bentuk nanas sebagai simbol program didasarkan pada potensi lokal, mengingat Jorong Atas Laban dikenal sebagai salah satu sentra penghasil nanas.. Sedangkan sampah organik seperti kulit buah dan sayuran difermentasi menjadi ekoenzim, yakni cairan serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, dan praktik langsung bersama warga. Peserta kegiatan terdiri dari ibu rumah tangga dan remaja yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap tahapan. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai mampu memilah dan mengolah sampah secara mandiri, serta memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih sehat dan bersih serta memberikan dampak positif terhadap kebiasaan hidup masyarakat di Jorong Atas Laban. Abstract The Community Service Program (KKN) held in Jorong Atas Laban, Nagari Halaban, Lareh Sago Halaban District, raised the theme of household waste management based on ecobricks and ecoenzymes. This program aims to increase community awareness and skills in processing waste into something useful and environmentally friendly. Plastic waste is processed into ecobricks, which are used plastic bottles filled tightly with other plastic waste so that it can be reused as a simple building material. Meanwhile, organic waste such as fruit and vegetable peels is fermented into ecoenzymes, a multipurpose liquid that can be used for household and agricultural purposes. The method of implementation of the activity is carried out through socialization, training, and direct practice with residents. The participants consisted of housewives and teenagers who showed high enthusiasm in following each stage. The results of this program show that the community is starting to be able to sort and process waste independently, and understand the importance of maintaining a clean environment. With this activity, it is hoped that a healthier and cleaner environment will be created and have a positive impact on the lifestyle of the community in Jorong Atas Laban.
This study aims to examine the effect of financial performance, proxied by Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), Debt to Assets Ratio (DAR), and Sustainability Report (SRDI) on firm value measured using Tobin’s Q in energy and industrial sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2022-2024. This research employs a quantitative approach using secondary data obtained from annual reports and sustainability reports. The sample was selected using a purposive sampling method, resulting in 40 companies observed over a three-year period. Data were analyzed using multiple linear regression. The findings indicate that CR, ROA, DAR, and SRDI simultaneously have a significant effect on firm value. Partially, Current Ratio has a positive effect on firm value, Return on Assets has a negative effect on firm value, Debt to Assets Ratio has no significant effect on firm value, while Sustainability Report Disclosure Index has a positive effect on firm value. These findings suggest that investors consider not only financial performance but also sustainability disclosure in evaluating corporate value.
Abstrak Penggunaan gadget dapat mempengaruhi perkembangan Bahasa Jawa pada anak. Pengaruh penggunaan gadget dapat memberikan efek positif dan negatif pada perkembanhan Bahasa Jawa pada anak. untuk mendeskripsikan efek penggunaan gadget terhadap perkembangan bahasa pada anak usia empat sampai enam (4-6) tahun. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini yaitu tuturan anak dalam Bahasa Jawa, frekuensi penggunaan Bahasa Jawa, perubahan respon verbal anak dan durasi penggunaan gadget. Sumber data dalam penelitian ini yaitu narasumber anak usia empat sampai enam (4-6) tahun, orang tua/wali anak, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan dokumentasi pendukung. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan Triangulasi Teknik. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. serta juga berdampak positif terhadap perkembangan Bahasa Jawa pada anak-anak antara lain dapat mencoba berbicara menggunakan bahasa Jawa terhadap orang tua. Kata kunci : anak usia dini, efek, gadget, perkembangan bahasa jawa Abstrak Penggunaan gadget dapat mempengaruhi perkembangan Bahasa Jawa pada anak. Pengaruh penggunaan gadget dapat memberikan efek positif dan negatif pada perkembanhan Bahasa Jawa pada anak. untuk mendeskripsikan efek penggunaan gadget terhadap perkembangan bahasa pada anak usia empat sampai enam (4-6) tahun. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini yaitu tuturan anak dalam Bahasa Jawa, frekuensi penggunaan Bahasa Jawa, perubahan respon verbal anak dan durasi penggunaan gadget. Sumber data dalam penelitian ini yaitu narasumber anak usia empat sampai enam (4-6) tahun, orang tua/wali anak, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan dokumentasi pendukung. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan Triangulasi Teknik. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. serta juga berdampak positif terhadap perkembangan Bahasa Jawa pada anak-anak antara lain dapat mencoba berbicara menggunakan bahasa Jawa terhadap orang tua. Kata kunci : anak usia dini, efek, gadget, perkembangan bahasa jawa
Kualitas udara merupakan salah satu indikator penting dalam pengelolaan lingkungan, namun ketersediaan data hasil pengukuran lapangan masih terbatas pada banyak wilayah, termasuk Kabupaten Kampar. Penelitian ini bertujuan menganalisis sebaran spasial polutan atmosfer, memetakan kualitas udara menggunakan integrasi metode K-Means dan Random Forest, serta mengidentifikasi kontribusi masing-masing parameter polutan terhadap pembentukan kelas kualitas udara. Penelitian memanfaatkan data Sentinel-5P Level-3 periode Januari–Desember 2025 yang diolah melalui Google Earth Engine (GEE). Lima parameter atmosfer yang digunakan meliputi nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), ozon (O3), dan Aerosol Index (AI). Metode K-Means digunakan untuk membentuk pseudo-label melalui proses clustering, kemudian hasilnya digunakan sebagai data pelatihan pada algoritma Random Forest untuk menghasilkan peta kualitas udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara di Kabupaten Kampar terbagi ke dalam tiga kelas, yaitu kelas rendah sebesar 45 persen, kelas sedang 44 persen, dan kelas tinggi 11 persen. Wilayah dengan kualitas udara tinggi terkonsentrasi di bagian selatan Kabupaten Kampar, terutama Kecamatan Kampar Kiri Hulu dan sekitarnya. Analisis feature importance menunjukkan bahwa CO dan Aerosol Index merupakan parameter yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan kelas kualitas udara, diikuti oleh O3, NO2, dan SO2. Selain itu, distribusi spasial kelas kualitas udara tinggi menunjukkan kesesuaian dengan beberapa lokasi kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2025. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi K-Means dan Random Forest berbasis data Sentinel-5P berpotensi menjadi alternatif pemetaan kualitas udara pada wilayah yang memiliki keterbatasan stasiun.
Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain rendahnya kesadaran siswa, keterbatasan fasilitas sanitasi, dan lemahnya peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan siswa dalam menerapkan PHBS melalui Program Healthy & Positive Behavior School Program (HEPI PHBS) di SDN 36 Kota Jambi. Mitra program adalah siswa kelas II A dan II B berjumlah sekitar 60 siswa serta dewan guru SDN 36 Kota Jambi. Kegiatan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis pengabdian masyarakat dengan pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara mendalam kepada guru dan kepala sekolah, tanpa kuesioner terstandar maupun analisis statistik. Analisis dilakukan secara naratif berdasarkan temuan lapangan selama lima tahap kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu mendemonstrasikan secara mandiri teknik mencuci tangan enam langkah berstandar WHO, menjaga kebersihan gigi dan kuku, serta melakukan pemilahan sampah berbasis 3R. Guru menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan PHBS ke dalam pembelajaran sehari-hari dan pihak sekolah menyampaikan komitmen keberlanjutan pemanfaatan fasilitas yang diberikan. Program HEPI PHBS berkontribusi dalam membentuk budaya sekolah yang sehat dan berkelanjutan di lingkungan sekolah dasar.
Problems in reading the Qur’an frequently occur, especially among elementary school students who are at the early stages of learning the Qur’an. One of the issues that arises is that students tend to read in a hurried manner and focus only on fluency in pronouncing the letters without paying attention to the rules of mad (elongation). In addition, when reading the Qur’an, the articulation of letters (makhraj al-huruf) is sometimes inaccurate. This study aims to examine how the talaqqi method is implemented in Qur’anic learning among students at SDIT As-Sunnah Baubau City, as well as to identify the advantages and disadvantages of applying the talaqqi method for elementary school students. This research was conducted using a descriptive qualitative method. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the talaqqi method is implemented through several stages, including the teacher reciting verses, followed by students listening and directly imitating what the teacher recites. In this implementation, the teacher provides immediate correction of the students’ recitation. The advantages of the talaqqi method lie in the direct interaction between teacher and students, allowing errors to be corrected promptly. Meanwhile, its disadvantages include time limitations, particularly when applied in large classes, making the method less effective due to its dependence on the teacher’s teaching ability.
Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana proses pembentukan karakter Islami ditanamkan melalui pola pembiasaan dalam program kepesantrenan di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Az-Zahra Kota Baubau. Pembiasaan dipahami sebagai strategi pendidikan yang menekankan pengulangan aktivitas religius sehingga nilainilai keislaman dapat melekat secara bertahap pada diri santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola pesantren, ustadz/ustadzah, serta santri, dan diperkuat dengan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyusunan informasi, dan verifikasi temuan.Temuan penelitian menunjukkan bahwa karakter Islami dibangun melalui serangkaian aktivitas harian seperti pelaksanaan shalat berjamaah, kegiatan tahfidz Al-Qur’an, pembacaan wirid dan dzikir, pengajian kitab, serta latihan kedisiplinan. Rutinitas tersebut secara konsisten membentuk perilaku religius, kemandirian, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan akhlak mulia pada santri. Faktor-faktor yang memperkuat keberhasilan proses tersebut antara lain keteladanan para pengasuh, suasana pesantren yang mendukung, serta pengawasan yang berkesinambungan. Sementara itu, hambatan yang dihadapi mencakup perbedaan latar belakang santri, masa penyesuaian terhadap budaya pesantren, serta keterbatasan fasilitas.Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembiasaan dalam program kepesantrenan memberikan kontribusi besar dalam menanamkan nilai-nilai karakter Islami. Proses pembentukan karakter tidak hanya melalui penjelasan kognitif, tetapi juga melalui pengulangan praktik keagamaan yang akhirnya membentuk kebiasaan dan identitas religius santri.
Limited electricity supply in crop storage buildings in Indragiri Village necessitates a simple alternative energy system that is suitable for local irrigation flow conditions. With a discharge of 0.006 m³/s and a head of 0.7 m, this study designed a picohydro power generation system through an engineering design approach that included energy requirement analysis, turbine component calculations, and mechanical design. The Pelton turbine was selected due to its optimal performance at low flow rates and its easy-to-maintain construction. The design results indicate a theoretical power of 28 Watts. The main components include a galvanized hollow frame measuring 850 × 500 × 350 mm, a runner with a diameter of 457.2 mm, a shaft with a diameter of 26 mm, blades measuring 150 × 100 × 50 mm, and pulleys measuring 304.8 mm and 50.8 mm. Materials such as chrome steel, resin, and aluminum were selected to ensure mechanical strength and corrosion resistance. This picohydro system is considered suitable as a small-scale alternative energy source for lighting and light electronic devices in agricultural facilities, and has the potential to be applied as a sustainable energy solution in Indragiri Village.
The Hajj Madrasah Program organized by Markaz Jam’iyyah Afaq Al-Ma’rifah, Saudi Arabia, represents an empowerment and accompaniment initiative for Indonesian Hajj pilgrims through integrated scholarly, spiritual, and practical religious guidance. This Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat, PkM) aims to enhance the quality of Indonesian pilgrims’ Hajj performance by ensuring closer adherence to Islamic legal prescriptions through comprehensive understanding and continuous guidance. The program adopts a participatory approach implemented through religious short lectures (kultum), distribution of Hajj ritual guidebooks, and educational pilgrimages guided by qualified dā‘īs. The results indicate: (1) a significant improvement in pilgrims’ understanding of Hajj rituals as a result of intensive accompaniment and the use of structured guidebooks; (2) strengthened spiritual awareness through tazkiyat al-nafs activities and educational pilgrimages; and (3) increased pilgrim self-reliance facilitated by personalized consultations. The program’s contribution lies in its holistic approach—integrating education, spiritual development, and practical simulation—which offers an innovative model for Hajj guidance. Furthermore, the program serves as a training platform for dā‘īs, effectively bridging theoretical Islamic scholarship with applied religious practice.
This study examines the reconstruction of moderate Islamic theological thought as a counter-narrative framework against contemporary radicalism in Indonesia. The background lies in the persistent challenge of extremist ideologies that exploit theological texts to justify violence and exclusivism, threatening the fabric of the nation's religious pluralism. The purpose is to analyze the doctrinal foundations and methodological approaches of moderate Islamic theology and to formulate a reconstructive framework applicable to contemporary deradicalization efforts. Using a qualitative approach with library research and hermeneutical analysis methods, this study examines classical and contemporary Islamic texts, fatwas, and scholarly works on wasatiyyah Islam. Findings reveal that moderate Islamic theology, rooted in the principles of tawassut, tawazun, and tasamuh, provides robust theological arguments against radical interpretations and offers an inclusive vision of Islamic civilizational contribution. The study concludes that systematic reconstruction of moderate Islamic theology through educational institutions and scholarly discourse is essential for sustainable deradicalization in Indonesia
The Tariqa of Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) is a conbination of two major Sufi orders, the Tariqa of Qadiriyah and the Tariqa of Naqsyabandiyah, combined by a great Nusantara Sufi scholar, Shaykh Ahmad Khatib Ibn Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (d. 1878 CE), who resided in Mecca until the end of his life. This study aims to explore the spiritual journey of Sufis who practice the Tariqa of Qadiriyah wa Naqsyabandiyah and its influence on the community of Banjarmasin, South Kalimantan. The method employed is the historical method through the stages of heuristics (source collection), criticism (source verification), interpretation, and historiography (historical writing). Research sources were obtained from books, scholarly articles in accredited national journals, and other sources relevant to the discussed topic. The reading materials include books and articles discussing the Tariqa of Qadiriyah wa Naqsyabandiyah and its development in the Nusantara, particularly in South Kalimantan. This study reveals that theTariqa of Qadiriyah wa Naqsyabandiyah entered South Kalimantan through the efforts of Prof. Dr. H. M. Zurkani Yahya in 1998, who was a deputy talqin (authorized representative for initiating disciples) from Suryalaya Islamic Boarding School. After the passing of Prof. Zurkani Yahya, his successor as the deputy talqin continuing the teachings of TQN in South Kalimantan was Drs. K.H. Syakrani Nasri. This Sufi order not only brought spiritual teachings but also played a role in addressing social issues such as juvenile delinquency and drug abuse through Pondok Inabah, which utilizes TQN dhikr (remembrance of God) methods as spiritual therapy. Although Pondok Inabah Banua Anyar is currently inactive, guidance continues under the leadership of the Deputy Talqin. The Tariqa of Qadiriyah wa Naqsyabandiyah continue to play a role in providing explanations, understanding, and the talqin dhikr to the community in South Kalimantan, with the primary goal of drawing closer to Allah SWT; social impacts, such as spiritual healing, are effects of these dhikr practices.
Kesenian Benjang Gelut di Ujungberung, Bandung Timur, menghadapi tantangan serius akibat arus modernisasi yang mengedepankan kepraktisan, termasuk wacana penggantian musik pengiring langsung (waditra) dengan rekaman audio digital. Fenomena ini berpotensi mengikis identitas budaya dan nilai filosofis asli yang melekat pada tradisi tersebut. Beranjak dari keprihatinan sosiologis tersebut, langkah nyata diambil untuk merangkul, mengedukasi, serta memberdayakan tokoh masyarakat, pelatih, dan atlet muda dalam merumuskan strategi ketahanan budaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam bersama sesepuh dan pelatih nasional Benjang Gelut, serta observasi lapangan di Cinunuk. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa meskipun transformasi Benjang Gelut menjadi cabang olahraga prestasi di bawah KORMI memberikan banyak keuntungan bagi generasi muda seperti jalur beasiswa dan prestasi, kehadiran waditra secara langsung mutlak dipertahankan. Instrumen musik ini bukan sekadar pelengkap panggung, melainkan sistem tanda yang merepresentasikan harmoni yang setiap ketukan memiliki makna kosmologis. Melalui pendampingan, generasi muda menyadari pentingnya musik tradisional dan prosesi ngibing sebagai sarana ngaji diri serta penerapan filosofi "bersih hate, handap asor" agar tidak hanya fokus mengejar medali. Kesimpulannya, perpaduan antara prestasi olahraga modern dan pelestarian seni tradisional ini mampu memastikan Benjang Gelut tetap berkembang tanpa kehilangan jati diri aslinya.
The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has created new opportunities for educational institutions to enhance school promotion and strengthen institutional branding through digital media. However, the adoption of this technology remains limited due to the insufficient capacity of teachers and students to produce creative and engaging digital content. This community service program aimed to improve the ability of teachers and students at SMA Muhammadiyah Bangkinang to utilize Generative AI in developing animated promotional content for school branding. The program was implemented through several stages, including partner needs assessment, training material preparation, AI training, hands-on content creation, mentoring, evaluation, and digital content publication. A participatory approach combined with the learning by doing method was employed to encourage active involvement throughout the training process. The results demonstrated that participants were able to understand the basic concepts of AI, develop effective prompts, and produce animated promotional content highlighting the school's profile, facilities, achievements, and flagship programs. In addition to improving participants' digital competencies, the program produced promotional media and facilitated the establishment of a School Digital Promotion Creative Team to support the sustainability of digital branding activities. These findings indicate that Generative AI can serve as an effective tool for enhancing digital promotion while strengthening school branding in the era of digital transformation.
This study aims to obtain empirical evidence regarding the effect of tax avoidance, capital structure, and sales growth on firm value in Consumer Non-Cyclicals sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2020–2024. This study employed a quantitative approach using secondary data obtained from annual reports. Purposive sampling resulted in 5 companies with 25 observations. Data were analyzed using panel data regression with EViews 13. The results indicate that, simultaneously, tax avoidance, capital structure, and sales growth have a significant effect on firm value. Partially, tax avoidance has no effect on firm value, capital structure has no effect on firm value, while sales growth has an effect on firm value. The findings indicate that tax avoidance practices and capital structure decisions have not become factors that individually affect changes in firm value, while sales growth is one of the factors that can affect firm value. Therefore, companies need to pay attention to sales growth as one of the indicators for improving investor perceptions and firm value. This study is expected to serve as a reference for investors, academics, and future researchers.
Abstract: This study aimed to evaluate the safety factors of the existing slope and a proposed cantilever retaining wall by comparing manual calculations using the Fellenius and Coulomb methods with GEO5 analysis. Secondary data included Standard Penetration Test (SPT) results and laboratory soil test data from two boreholes. The analysis comprised slope stability assessment, back analysis to calibrate soil parameters, lateral earth pressure estimation, and retaining wall stability evaluation against overturning, sliding, and bearing capacity failure. Manual calculations produced slope safety factors of 1.53–2.26, whereas back analysis using GEO5 reduced the values to 0.91–1.23, indicating unstable conditions. The proposed cantilever retaining wall satisfied all stability requirements, with overturning safety factors of 10.70 and 7.12, sliding safety factors of 2.87 and 2.26, and bearing capacity safety factors of 3.12–3.30 and 3.21 from manual and GEO5 analyses, respectively. The proposed retaining wall is structurally safe, and GEO5 provides more conservative safety factor estimates than manual calculations. Keywords: Fellenius, GEO5, Retaining Wall, Slope Stability
Perpustakaan akademik tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai ruang interaksi layanan yang memengaruhi pengalaman dan kepuasan pengguna. Namun, kajian mengenai peran kepribadian dan kecerdasan emosional pustakawan dalam membentuk kepuasan pengguna masih relatif terbatas, khususnya pada konteks perpustakaan akademik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana kepribadian interpersonal dan kecerdasan emosional pustakawan berperan dalam membentuk pengalaman layanan pengguna di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terhadap dua pustakawan dan enam belas mahasiswa dari delapan fakultas, serta studi pustaka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap ramah, profesional, dan komunikatif pustakawan membentuk pengalaman layanan yang positif bagi mahasiswa. Selain itu, dimensi kecerdasan emosional seperti empati, self-regulation, dan social skills berperan dalam menciptakan interaksi layanan yang suportif, nyaman, dan tidak mengintimidasi. Pengguna memaknai kualitas layanan tidak hanya dari aspek teknis, tetapi juga dari pengalaman emosional yang muncul selama interaksi dengan pustakawan. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kompetensi emosional pustakawan menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan dan kepuasan pengguna di perpustakaan akademik.
Kebutuhan akan ketrampilan praktis dengan nilai ekonomi tinggi untuk remaja di Kampung Kadu saat era digital sangat penting. Kegiatan pelatihan membuat sablon kaos dan gelas menjadi salah satu kegiatan pemberdayaan remaja yang sangat dibutuhkan akibat permintaan sablon kaos dan gelas terus meningkat. Kegiatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai teknik sablon, mulai dari proses perancangan desain, persiapan alat dan bahan, hingga tahapan produksi pada media kaos dan gelas. Metode pelatihan dilakukan melalui metode ceramah, pendekatan praktik langsung (hands-on training), demonstrasi instruktur, dan pendampingan dalam pembuatan produk sablon. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta sebanyak 47 orang mampu memahami proses kerja sablon secara keseluruhan dan menghasilkan produk yang layak jual. Selain peningkatan keterampilan teknis, pelatihan ini juga mendorong tumbuhnya minat berwirausaha di kalangan remaja. Secara keseluruhan, kegiatan ini terbukti efektif dalam menumbuhkan kreativitas, kemandirian, serta potensi ekonomi melalui pemanfaatan industri kreatif
Pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar sering dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit dan kurang menarik bagi banyak siswa. Persepsi ini berdampak pada menurunnya motivasi serta capaian belajar mereka. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Artikel ini menyoroti pentingnya menciptakan suasana belajar yang menarik, tujuan dari penerapan pendekatan tersebut, serta strategi konkret yang dapat digunakan, yakni metode perkalian dengan bantuan jari tangan. Metode ini terbukti efektif membantu siswa memahami konsep perkalian angka 6 hingga 10 secara visual dan nyata. Dengan memanfaatkan media yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, seperti jari tangan, proses belajar menjadi lebih aktif, menarik, dan sesuai dengan gaya belajar siswa. Pendekatan ini juga berdampak positif terhadap kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan soal matematika tanpa merasa terbebani. Selain itu, pembelajaran yang menyenangkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, mendukung, dan mendorong keterlibatan aktif siswa di kelas. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang menyenangkan menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran matematika di sekolah dasar. Guru sebagai fasilitator diharapkan terus mengembangkan metode kreatif dan adaptif yang mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa secara menyeluruh. Kata kunci: Pembelajaran Matematika, Sekolah Dasar, Strategi Menyenangkan, Metode Jari Tangan, Motivasi Belajar
The Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) program in elementary schools still faces various challenges, including low student awareness, limited sanitation facilities, and the weak role of the School Health Unit (UKS). This community service activity aimed to improve students' knowledge, awareness, and skills in implementing PHBS through the Healthy & Positive Behavior School Program (HEPI PHBS) at SDN 36 Jambi City. Program partners were approximately 60 students from grades II A and II B and the teaching staff. This activity employed a descriptive qualitative approach based on community service, with data collected through direct observation and in-depth interviews with teachers and the school principal—without standardized questionnaires or statistical analysis. Analysis was conducted narratively based on field findings across five activity stages. Results showed improved student understanding and skills in six-step handwashing, dental and nail hygiene, and 3R-based waste sorting. Teachers committed to sustaining the program by integrating PHBS into daily learning. The HEPI PHBS program contributed to forming a healthy and sustainable school culture in the elementary school environment.
Currently, cut rose centers in Batu City face many problems that threaten the sustainability of their businesses. Research that combines various dimensions to identify key variables affecting the sustainability of cut rose farming remains limited and is needed. Hence, this study aimed to map and identify the key variables influencing the sustainability of cut rose farming in Batu City, East Java, Indonesia. Primary data were collected through structured interviews with 155 cut rose farmers, selected using random sampling. The employed data analysis technique was the Matrix of Crossed Impact Multiplications Applied to a Classification (MICMAC). The results showed that the key variables influencing the sustainability of the cut flower rose farming business in Batu City are pest and plant disease attacks (PPDA), the use of chemical pesticides (UCP), market objectives (MO), the market chain (MC), and the source of capital (SC). In addition, this study identified key and representative variables from four dimensions based on the Social-Ecological-Technological Innovation Systems (SETIS) framework, namely extension intensity (social), educational level (social), market objectives (economic), market chain (economic), capital sources (economic), pest and plant disease attack (ecological), use of chemical pesticides (ecological), and cultivation technology (technology and innovation). The study’s recommendations are: (1) increasing the extension intensity and educational level (social dimension); (2) expanding market objectives, shortening market chains, and managing capital appropriately (economic dimension); (3) implementing integrated pest and disease management and limiting the use of chemical pesticides (ecological dimension); and (4) increasing the use of cultivation technologies (technology and innovation dimension).