
Ekosistem mangrove Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, dengan organisme yang mengembangkan strategi adaptasi unik melalui simbiosis mikroba. Episesarma mederi merupakan kepiting endemik mangrove yang memiliki interaksi simbiotik dengan bakteri penghasil senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi isolat bakteri simbion saluran pencernaan E. mederi dari ekosistem mangrove MSTP Telukawur, Jepara. Sampel kepiting diambil pada koordinat 62135105S 110.3935225E dengan parameter perairan suhu 28,33°C, pH 7,27, DO 6,81 mg/L, dan salinitas 32,67 ppt. Isolasi bakteri menggunakan metode pengenceran bertingkat dan pour plate pada media Nutrient Agar dengan air laut 70%, diikuti purifikasi teknik streak 4 kuadran. Karakterisasi dilakukan melalui identifikasi makroskopis dan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan 25 isolat bakteri berhasil diisolasi dengan variasi morfologi koloni beragam, meliputi ukuran punctiform hingga moderate, warna dominan putih dan putih susu, serta tekstur smooth. Dari 12 isolat yang diuji pewarnaan Gram, 10 isolat tergolong Gram negatif dan 2 isolat Gram positif, dengan morfologi sel 7 isolat berbentuk coccus dan 5 isolat berbentuk bacillus. Dominasi bakteri Gram negatif mengindikasikan adaptasi terhadap kondisi ekstrem ekosistem mangrove. Penelitian ini berhasil mengkarakterisasi keragaman bakteri simbion saluran pencernaan E. mederi yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif untuk pengembangan bioprospeksi mikroorganisme laut.
Studi terkait keberlangsungan lamun dapat dipelajari melalui aspek pertumbuhan dan reproduksinya. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengukur laju pertumbuhan daun dan menghitung tingkat produksi bunga pada kelompok lamun persisten yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Perairan Pulau Dompak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2023. Terdapat dua stasiun pengamatan di dalam penelitian ini yang ditentukan berdasarkan kerapatan yang berbeda. Nilai kerapatan jenis lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada stasiun 1 sebesar 48.33 ind/m2 dan 106.33 ind/m2 sedangkan pada stasiun 2 sebesar 102.33 ind/m2 dan 152.33 ind/m2. Laju pertumbuhan daun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada Stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan pada Stasiun 1. Tingkat produksi bunga untuk kedua jenis lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii tertinggi ditemukan pada stasiun 2. Adapun produksi bunga yang mendominasi pada kedua stasiun berasal dari kelompok bunga betina. Produksi bunga pada setiap fase di kedua stasiun memiliki pola yang sama. Berdasarkan pertumbuhan daun dan produksi bunga kedua jenis lamun di kedua stasiun menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan di kedua stasiun. Hal ini diduga karena kondisi kualitas perairan di kedua stasiun tidak memiliki nilai yang berbeda jauh. Sebagaimana diketahui bahwa pertumbuhan dan produksi bunga pada lamun dipengaruhi oleh faktor kualitas perairan.
Pantai Pasir Panjang di Pulau Sangiang, Provinsi Banten, merupakan kawasan pesisir dengan karakteristik oseanografi dan ekosistem yang relatif alami serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekowisata pantai berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis tingkat kesesuaian ekowisata pantai berbasis keberlanjutan dengan mempertimbangkan kondisi fisik pantai, dinamika oseanografi, kualitas lingkungan perairan, serta keterkaitannya dengan aktivitas industri petrokimia di wilayah pesisir Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif yang dipadukan dengan analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Parameter yang dianalisis meliputi tipe dan kemiringan pantai, lebar pantai, tinggi dan periode gelombang, pasang surut, kedalaman perairan, kualitas air laut, vegetasi pantai, serta dinamika abrasi. Tingkat kesesuaian ekowisata dianalisis menggunakan metode Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) berbasis pembobotan dan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Pasir Panjang memiliki kondisi gelombang rendah hingga sedang, perairan dangkal, kualitas air laut yang masih berada dalam ambang baku mutu, serta laju abrasi pantai yang relatif rendah dan bersifat lokal. Nilai IKW menunjukkan bahwa kawasan ini tergolong pada kategori sesuai hingga sangat sesuai untuk pengembangan ekowisata pantai berbasis konservasi dan edukasi lingkungan. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan ekowisata pantai di Pulau Sangiang dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui pengelolaan terpadu yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan peran kawasan sebagai zona penyangga dalam mendukung industri petrokimia berkelanjutan di wilayah pesisir.
Pantai Domba dan Pantai Matahari Carita di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten merupakan kawasan pesisir yang memiliki potensi ekosistem lamun, akan tetapi, kawasan ini menghadapi tekanan akibat aktivitas antropogenik, seperti pemanfaatan sumber daya pesisir, budidaya tambak, dan kegiatan wisata. Informasi mengenai komposisi jenis dan tingkat tutupan lamun di kedua lokasi masih terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis lamun serta menganalisis tingkat tutupan lamun sebagai dasar pengelolaan ekosistem pesisir yang berkelanjutan. Pengambilan data dilakukan pada dua stasiun di setiap lokasi menggunakan metode Line Transect Quadrat dengan transek sepanjang 50 m dan kuadrat berukuran 50 × 50 cm yang ditempatkan setiap interval 5 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dua spesies lamun yang ditemukan, yaitu Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata. Rata-rata persentase tutupan lamun di Pantai Domba mencapai 28,98% dan termasuk kategori sedang, sedangkan di Pantai Matahari Carita sebesar 7,05% dan termasuk kategori jarang. Perbedaan tingkat tutupan lamun diduga berkaitan dengan variasi kondisi lingkungan dan intensitas aktivitas antropogenik pada masing-masing lokasi. Hasil penelitian ini memberikan informasi dasar mengenai kondisi terkini ekosistem lamun di pesisir Kabupaten Pandeglang serta dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam perencanaan pengelolaan, pemantauan, dan upaya konservasi ekosistem lamun secara berkelanjutan.
Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring merupakan salah satu kawasan wisata yang yang berada di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dengan aktivitas perikanan tangkap yang cukup tinggi dan sekaligus menjadi habitat alami bagi ekosistem lamun. Aktivitas masyarkat telah diyakini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tutupan padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan karakteristik substrat dan parameter lingkungan perairan terhadap komposisi jenis dan persentase tutupan lamun di Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring. Penelitian diawali dengan menetukan titik stasiun di padang lamun yang sekiranya memungkinkan untuk dilakukan pengamatan. Penelitian dilanjutkan dengan melakukan pengambilan sampel sedimen dan data tutupan lamun di dua stasiun penelitian. Pengambilan data tutupan dan jenis lamun dilakukan dengan metode line transect quadran. Sampel sedimen dari lokasi penelitian dibawa untuk kemudian dianalisis di laboratorium geologi laut untuk mengetahui ukuran dan fraksi butir sedimen di tiap stasiun penelitian. Pengolahan data tutupan lamun dilakukan menggunakan software Ms Excel dan analisis korelasi dengan metode Principal Component Analysis (PCA) pada software XLSTAT. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa jenis substrat dan faktor parameter perairan mempengaruhi persentase tutupan lamun. Variabel substrat pasir berlumpur, DO dan pH menghasilkan korelasi positif terhadap persentase tutupan lamun. Sedangkan substrat pasir dengan pecahan karang, suhu, salinitas dan kecerahan perairan menghasilkan korelasi negatif terhadap tutupan lamun. Penelitian diharapakan dapat menjadi acuan dalam menentukan pengelolaan yang cocok di kawasan pesisir Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring. Terwujudnya kolaborasi dari pihak pemerintah maupun masyarakat dengan harapan meningkatkan aspek perekonomian dan mempertahankan kelestarian ekosistem pesisir.
This study evaluated the suitability of dissolved inorganic nitrogen relative to marine water quality standards, described horizontal distribution patterns, and examined links with non nutrient physicochemical parameters in the coastal waters of Galesong, Takalar. Sampling in April to May 2025 covered five stations representing nearshore, seaweed farming areas, and more open waters. In situ measurements included temperature, pH, dissolved oxygen, and salinity, and laboratory analyses quantified ammonium and nitrate with a spectrophotometer. Environmental conditions were within ranges favorable for seaweed growth. Ammonium was not detected at any station, while nitrate ranged from 0.017 to 0.023 mg L⁻¹, below the Government Regulation No. 22 of 2021 threshold of 0.06 mg L⁻¹. Spatial mapping showed higher nitrate concentrations at non farming stations, while the lower concentrations within farming areas indicate nitrogen uptake by cultivated seaweeds. Theese findings suggest that Galesong Waters remain suitable for seaweed aquaculture, provide that nutrient conditions are monitored regularly to prevent potential nutrient deficits that could reduce cultivation productivity.
Pantai Bembeng di Kabupaten Buleleng, Bali merupakan kawasan pesisir yang memiliki ekosistem terumbu karang dan berpotensi mendukung berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya pesisir. Informasi mengenai kondisi terumbu karang dan komunitas ikan karang di kawasan ini masih terbatas sehingga diperlukan kajian sebagai dasar pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas terumbu karang dan ikan karang di Pantai Bembeng. Pengambilan data dilakukan pada Agustus - Desember 2025 di tiga stasiun pengamatan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) untuk mengukur tutupan karang dan Underwater Visual Census (UVC) untuk mengamati komunitas ikan karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan karang hidup tergolong rendah dengan nilai berturut-turut sebesar 8,0%, 23,5%, dan 12,8% pada Stasiun 1, 2, dan 3. Komponen substrat didominasi oleh pasir, batuan vulkanik, dan pecahan karang dengan persentase antara 69,0–90,0%. Sebanyak 38 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 16 famili berhasil diidentifikasi dengan total kelimpahan 587 individu. Famili Pomacentridae dan Acanthuridae merupakan kelompok yang memiliki jumlah individu tertinggi. Meskipun kondisi terumbu karang masih tergolong buruk, keberadaan berbagai kelompok ikan karang menunjukkan bahwa habitat perairan Pantai Bembeng masih mendukung fungsi ekologis ekosistem terumbu karang. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dasar dalam upaya pengelolaan, konservasi, dan pemantauan ekosistem terumbu karang di Pantai Bembeng.
Marine plastic pollution remains a serious concern for Bali’s coastal ecosystems, tourism economy, and cultural relationship with the sea. Although public awareness has increased through beach clean-ups and restrictions on single-use plastics, plastic waste continues to reach coastal waters through rivers, tourism activities, and inadequate waste-management systems. This study examines public perceptions of marine pollution, microplastic literacy, and the role of the Balinese philosophy of Tri Hita Karana in supporting coastal pollution management at Padang Padang Beach, Bali. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews, field notes, and photographic documentation involving 15 participants, including visitors, local residents, and students. The data were analyzed thematically by identifying recurring responses and organizing them into key themes. The findings show that 12 participants expressed sadness or disappointment about polluted water, 10 identified river-borne waste as a major source of pollution, 13 viewed pollution control as a shared responsibility, and only 6 demonstrated basic knowledge of microplastics. These findings reveal a gap between environmental concern and consistent environmental practice. The study argues that coastal pollution management in Bali requires integrated efforts that combine microplastic education, Tri Hita Karana-based environmental responsibility, improved waste infrastructure, and consistent policy enforcement.
Ekosistem mangrove merupakan kawasan pesisir yang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup biota di kawasan tersebut. Mangrove memiliki peran yang mencakup aspek biologi dan ekologi. Ditinjau dari aspek biologi, mangrove sebagai tempat ikan melakukan pemijahan, dari aspek ekologi mangrove berperan dalam menjaga kestabilan pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove dan kelimpahan gastropoda, serta hubungan antara ketersediaan bahan organik dan kelimpahan gastropoda pada ekosistem mangrove di daerah Serangan, Bali. Metode pengambilan data dan penentuan titik sampling dilakukan menggunakan metode random sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan menggunakan transek berukuran 10 × 10 m, dengan jumlah plot sebanyak 30 plot yang terdiri dari 5 stasiun dan 6 kali pengulangan. Pada ekosistem mangrove Serangan terdapat 5 spesies mangrove yang berasal dari 3 genus, serta 10 spesies gastropoda yang dikelompokkan ke dalam 4 famili. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan kuat antara kerapatan mangrove dan kelimpahan gastropoda, serta hubungan yang rendah antara kandungan bahan organik dan kelimpahan gastropoda.
Total Suspended Solids (TSS) merupakan salah satu parameter lingkungan yang dapat mendegradasi ekosistem terumbu karang melalui penurunan intensitas cahaya dan gangguan fisiologis pada karang. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan meta-analisis guna memperoleh nilai efek gabungan (pooled effect size) dari pengaruh TSS terhadap tutupan karang hidup di perairan Indonesia. Metode yang digunakan adalah meta-analisis Two-Group Comparison berdasarkan studi primer yang dipublikasikan pada rentang tahun 2017-2026, dengan kriteria inklusi berupa studi yang dilakukan di perairan Indonesia, melaporkan parameter kuantitatif TSS bersamaan dengan persentase tutupan karang hidup, serta menyediakan nilai data mentah yang dapat dikonversi menjadi mean, jumlah sampel (n), dan standar deviasi (SD). Data dianalisis menggunakan perangkat lunak JASP dengan pendekatan Random-Effects Model. Hasil meta-analisis terhadap 10 studi primer menunjukkan tingkat heterogenitas yang rendah (I2 = 0,00%; p = 0,797) serta tidak ditemukan indikasi bias publikasi yang signifikan berdasarkan funnel plot yang simetris. Nilai efek gabungan yang diperoleh sebesar -0,44 (p = 0,032), yang menunjukkan bahwa TSS terbukti memberikan dampak kecil cenderung sedang terhadap penurunan tutupan karang hidup di perairan Indonesia. Dengan demikian, pemantauan TSS secara berkala dan pengendalian sumber sedimen perlu dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan kualitas perairan di sekitar ekosistem terumbu karang.
Karakteristik lingkungan perairan Selat Sunda berperan penting dalam menentukan keberadaan ikan kembung. Variabilitas parameter lingkungan menyebabkan pola keberadaan ikan kembung menjadi dinamis sehingga perlu adanya pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas hubungan antar variabel salah satunya menggunakan machine learning. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemodelan klasifikasi keberadaan ikan kembung menggunakan algoritma Random Forest dan XGBoost dengan pendekatan time series untuk mempertimbangkan aspek temporal data. Proses pelatihan model menggunakan data tahun 2019-2023 dan pengujian model menggunakan data tahun 2024-2025. Hyperparameter tuning dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja model. Hasil evaluasi, Random Forest menunjukkan performa yang lebih unggul dengan akurasi 95% sementara XGBoost memperoleh akurasi sebesar 94%. Analisis menggunakan pendekatan SHAP menunjukkan bahwa klorofil-a menjadi variabel yang paling dominan dalam menentukan prediksi keberadaan ikan kembung di Selat Sunda. Pola musiman menunjukkan bahwa puncak keberadaan ikan kembung berada di periode Mei-Juni dan musim penurunan keberadaan pada periode November-Februari.
Mangrove mempunyai kemampuan sebagai biofilter alami yang dapat menyerap dan mengakumulasi logam berat melalui mekanisme fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan akumulasi dan distribusi besi (Fe) pada beberapa jenis mangrove di Perairan Martajasah, Bangkalan, serta mengevaluasi potensi fitoremediasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan perbandingan antara spesies mangrove dengan integrasi sedimen, akar, daun menggunakan parameter biokonsentrasi (BCF) dan faktor translokasi (TF), yang masih terbatas untuk logam esensial seperti Fe di wilayah perairan Bangkalan. Konsentrasi Fe tertinggi ditemukan pada sedimen dari spesies Aegiceras cornilatum 17,32 mg/kg, diikuti oleh akar pada spesies Aegiceras cornilatum 14,81 mg/kg, dan daun pada spesies Rhizophora mucronata 5,64 mg/kg. Sonneratia alba, Xylocarpus moluccensis, dan Aegiceras corniculatum menunjukkan faktor biokonsentrasi tertinggi yaitu 0,86 mg/kg yang menandakan spesies tersebut kurang berpotensi dalam mengakumulasi logam berat Fe, sedangkan Rhizophora apiculata menunjukkan faktor translokasi tertinggi yaitu 0,50 mg/kg, yang menandakan spesies tersebut berpotensi kecil dalam memindahkan logam berat dari akar menuju daun. Interpretasi fitoremediasi dibatasi pada mekanisme akumulasi dan distribusi logam. Faktor lain seperti toleransi fisiologis, laju pertumbuhan, dan kondisi lingkungan belum dianalisis secara kuantitatif. Oleh karena itu, hasil ini merupakan informasi awal dan tidak merepresentasikan efektivitas fitoremediasi secara menyeluruh.
Ekosistem mangrove berperan penting secara ekologis dalam menjaga stabilitas daerah pesisir, penyedia habitat, pelindung garis pantai, dan penopang keanekaragaman hayati. Tekanan terhadap ekosistem mangrove di pesisir Teluk Staring menunjukkan perlu adanya informasi dasar mengenai kondisi ekosistem mangrove sebagai landasan ilmiah bagi pengelolaan mangrove berkelanjutan di wilayah ini.Studi ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas dan tutupan kanopi mangrove di bagian barat laut Teluk Staring, Sulawesi Tenggara. Survei lapangan dilakukan di tiga stasiun menggunakan petak vegetasi 10×10 m untuk menilai struktur komunitas mangrove, sedangkan tutupan kanopi diukur menggunakan metode hemispherical photography dan dianalisis dengan perangkat lunak ImageJ. Struktur komunitas dievaluasi menggunakan kerapatan, frekuensi, dominasi, dan Indeks Nilai Penting (INP), sedangkan tutupan kanopi diklasifikasikan menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia No. 201 Tahun 2004. Sebanyak lima spesies mangrove sejati teridentifikasi . Kerapatan pohon secara berkisar antara 3635-4552 individu/ha, yang menunjukkan tegakan mangrove yang sangat padat. Rhizophora apiculata menunjukkan kepadatan dan frekuensi tertinggi, sedangkan Avicennia lanata menunjukkan dominasi dan INP tertinggi di Stasiun A dan C, yang mengindikasikan kontribusi ekologisnya yang substansial meskipun bukan spesies yang paling melimpah. Rata-rata tutupan kanopi adalah 73,918%, berkisar antara 69,963% hingga 76,707%, yang sesuai dengan kondisi kanopi sedang hingga sangat padat. Tutupan kanopi yang tinggi dan tegakan mangrove yang padat menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di bagian barat laut Teluk Staring masih dalam kondisi ekologis yang baik. Temuan ini memberikan informasi dasar untuk konservasi mangrove dan pengelolaan ekosistem pesisir berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Visible coastal litter remains a concern in Bali’s coastal areas, especially where tourism, marine ecosystems, and surfing activities intersect. This study examines visible coastal litter and the potential role of surf communities in supporting coastal environmental responsibility in selected surf-related areas in Kuta, Canggu, and Uluwatu. Using an exploratory qualitative case study, data were drawn from field observations, beach cleanup participation notes, contextual field notes, and relevant literature. The field records documented single-use plastics, food and beverage packaging, and mixed waste within different site-specific contexts, while organic or natural material was recorded separately as a contextual condition. At Kuta Beach, litter was documented around visitor-use and beach-access areas. At Batu Bolong Beach, debris was observed near shoreline, surf-access, and drainage- or river-connected zones. At Suluban Beach, localized litter was documented around surf-access and coastal recreation areas. These observed litter patterns suggest that coastal litter may be associated with beach-based consumption, tourism activity, rainfall-related runoff, drainage pathways, and land-based waste movement. Surf communities may contribute through cleanups, plastic reduction, peer education, social media communication, and local advocacy, but these actions require support from waste infrastructure, policy enforcement, producer responsibility, and sustainable tourism governance.
Pantai Marina di Semarang merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, namun pengelolaannya masih menghadapi berbagai kendala yang dapat memengaruhi kualitas dan daya tarik wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesesuaian kawasan untuk kegiatan ekowisata bahari serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat bagi Pantai Marina. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis kesesuaian wisata dan analisis SWOT. Data diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran parameter lingkungan, serta wawancara menggunakan kuesioner kepada wisatawan dan pengelola kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan rekreasi pantai memiliki nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebesar 2.5 dengan kategori sangat sesuai, sedangkan kegiatan berenang, jet ski, kano, dan berperahu memperoleh nilai IKW sebesar 2–2.5 dengan kategori sesuai. Strategi prioritas yang direkomendasikan meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan wisata, pengembangan infrastruktur dan fasilitas pendukung, optimalisasi promosi berbasis digital, serta penguatan kerja sama antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat. Dengan penerapan strategi tersebut, Pantai Marina berpotensi menjadi destinasi wisata bahari unggulan yang berkelanjutan di Kota Semarang.
Keanekaragaman mikroorganisme yang berasal dari sedimen laut di Indonesia berpotensi dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder serta enzim yang memiliki nilai aplikatif dalam perkembangan bioteknologi industri. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari isolat bakteri yang mampu melawan patogen dalam uji antibakteri dan kemampuannya dalam memproduksi enzim protease, lipase dan amilase. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan tahapan penelitian meliputi isolasi bakteri, karakterisasi makroskopis dan mikroskopis, uji aktivitas antibakteri dengan metode agar plug, uji enzim yang meliputi protease, amilase dan lipase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 isolat bakteri yang berhasil diisolasi dan memiliki karakteristik morfologi serta potensi produksi metabolit sekunder dan enzim yang berbeda pada setiap isolatnya. Uji antibakteri memperlihatkan bahwa isolat S2. T4. 1b (B), S2. T4. 3a (F), S2. T4. 3b (G), S2. T4. 2c (H) dan S2. T4. 1a (K) aktif terhadap Staphylococcus aureus, sementara isolat S2. T4. 1b (B) dan S2. T4. 3a (F) hanya aktif terhadap Escherichia coli. Uji enzimatis yang dilakukan memperlihatkan bahwa isolat dengan kode S2. T4. 2c (H) dan S2. T4. 1a (K) memiliki aktivitas enzimatis protease, lipase dan amilase. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya zona bening yang terlihat ketika media uji ditambahkan dengan substrat enzim sesuai dengan enzim yang diujikan. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa isolat S2. T4. 1a (K) memiliki aktivitas enzim amilolitik, proteolitik dan lipolitik yang mana mengindikasikan potensinya dalam bidang industri pangan dengan memerlukan uji lanjutan lainnya.
Perairan pesisir utara Kota Tanjungpinang terletak di wilayah pertemuan Kota Tanjungpinang dengan Kabupaten Bintan, meliputi Sebauk, Kampung Madong, Sei Nyirih, dan Air Raja. Konsentrasi klorofil merupakan indikator penting dalam menilai produktivitas primer perairan dan pengelolaan sumber daya laut. Aktivitas antropogenik seperti restoran, lalu lintas kapal nelayan, budidaya ikan keramba jaring apung, dan permukiman dapat memengaruhi kualitas perairan, yang berdampak pada konsentrasi klorofil. Penelitian ini bertujuan sebagai langkah awal pengelolaan sumber daya laut secara terpadu dan berkelanjutan, dengan pengumpulan data pada Juli 2024 dan Januari 2025 melalui metode survei. Data primer mencakup parameter fisika-kimia seperti suhu, kecerahan, arus, DO, pH, salinitas, nitrat, dan fosfat. Data biologis berupa klorofil diambil dari ke dalaman eufotik menggunakan van dorn water sampler. Penentuan 30 titik sampling dilakukan secara Systematic Random Sampling menggunakan QGIS 3.28.0. Pembuatan peta sebaran klorofil menggunakan software Qgis 3.28.0 menggunakan Inverse Distance Weighted (IDW). Konsentrasi klorofil di Perairan Pesisir Utara Kota Tanjungpinang bulan Juli 2024 klorofil-a sebesar 4,81 mg/m3, klorofil-b sebesar 4,76 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 3,41 mg/m3. Sedangkan pada bulan Januari 2025 klorofil-a sebesar 7,30 mg/m3, klorofil-b sebesar 7,06 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 6,67 mg/m3. Sebaran spasial klorofil pada daerah pesisir utara Kota Tanjungpinang pada bulan Juli 2024 dan Januari 2025 terdistribusi tinggi di kawasan perairan Kampung Madong dan Sei Nyirih. Sedangkan perairan terluar atau arah perairan laut merupakan wilayah yang terdistribusi rendah.
Coral reefs in Indonesia are under increasing pressure from natural and anthropogenic disturbances, requiring detailed spatial assessments to support effective management. This study assessed coral cover condition and benthic substrate composition across management zones of the Gili Tangkong-Gili Nanggu-Gili Sudak (GITA NADA) Marine Protected Area (MPA), West Lombok, Indonesia. We conducted surveys from October 2023 to August 2024 across 46 stations using the Underwater Photo Transect (UPT) method. Sampling occurred in two depth categories: 44 shallow surveys at 3-5 m and 39 deep surveys at 8-10 m, as not all stations included both depth zones. We analyzed benthic photographs using CPCe software to quantify coral cover and substrate categories. Mean coral cover at 3-5 m depth was 32.57% ± 20.57%, classified as fair, whereas coral cover at 8-10 m depth averaged 17.51% ± 11.90%, indicating poor reef condition. Kruskal-Wallis analysis showed a significant difference in coral cover between depths (P < 0.05), with shallow reefs supporting higher coral cover than deeper reefs. At shallow depths, coral cover in the Fisheries, Utilization, and Other-use Zones was generally fair, while the Core Zone was classified as poor. In contrast, coral cover at 8-10 m depth was predominantly poor across all zones. Kruskal-Wallis analysis showed no significant difference in coral cover among management zones at either depth (P > 0.05). Substrate composition at 3-5 m depth was dominated by hard coral and rubble, whereas deeper reefs were characterized by high proportions of rubble and silt, reflecting habitat degradation and limited reef resilience. This study represents one of the first comprehensive UPT-based assessments of coral cover and benthic substrate composition across management zones within the GITA NADA MPA. These results indicate widespread coral reef degradation in the GITA NADA MPA, particularly at deeper depths, highlighting the need to re-evaluate zoning effectiveness, strengthen enforcement, and implement targeted reef restoration and sediment management strategies.
Rehabilitasi mangrove merupakan salah satu strategi penting dalam pemulihan ekosistem pesisir yang mengalami degradasi. Namun, keberhasilan kegiatan rehabilitasi sangat dipengaruhi oleh kesesuaian metode penanaman dengan kondisi lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilan penanaman mangrove menggunakan metode konvensional melalui analisis pertumbuhan dan kelangsungan hidup semai Rhizophora mucronata di Pulau Serangan, Bali. Penelitian dilakukan selama 12 bulan, mulai Juni 2024 hingga Mei 2025, dengan memantau 300 semai yang ditanam secara langsung pada substrat. Pengamatan dilakukan setiap bulan melalui pengukuran tinggi semai, pencatatan jumlah individu yang bertahan hidup, serta observasi kondisi lingkungan di sekitar lokasi penanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan semai relatif rendah dengan rata-rata pertambahan tinggi sebesar 1,3 cm per bulan. Tingkat kelangsungan hidup semai juga sangat rendah, di mana hanya sekitar 10% semai yang mampu bertahan hingga akhir periode pengamatan. Penurunan jumlah semai paling signifikan terjadi pada fase awal setelah penanaman yang menunjukkan tingginya kerentanan semai terhadap kondisi lingkungan setempat. Kematian semai diduga dipengaruhi oleh ketidakstabilan sedimen, penimbunan lumpur, keberadaan sampah plastik, penutupan oleh alga hijau (Ulva lactuca), serta organisme penempel seperti teritip yang menghambat proses fisiologis tanaman. Temuan ini menunjukkan bahwa metode penanaman konvensional memiliki tingkat keberhasilan yang rendah pada kawasan pesisir Pulau Serangan dengan tekanan lingkungan tinggi. Oleh karena itu, penerapan metode rehabilitasi yang lebih adaptif dan sesuai dengan karakteristik habitat diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan restorasi mangrove di masa mendatang.
Fitoplankton termasuk mikroorganisme autotrof yang memiliki peranan penting dalam kegiatan budidaya udang vaname sebagai bioindikator tingkat kesuburan atau pencemaran kualitas air tambak. Tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui kondisi kualitas air tambak udang vaname di MSTP UNDIP, Teluk Awur, Jepara berdasarkan indeks biologi fitoplankton yang meliputi: indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi yang dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling yang diambil dari dua kolam budidaya dengan luas 200 m2 dan 1000 m2. Parameter kualitas air yang diukur yaitu suhu, kecerahan, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), muatan padatan tersuspensi (MPT), amonia, nitrit (NO2-), nitrat (NO3-), fosfat (PO43-), alkalinitas, dan total bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 16 genus fitoplankton dari 4 kelas berbeda yaitu Chlorophyta (Chlamydomonas, Chlorella, Oocystis, Tetraselmis, dan Westella), Cyanobacteria (Anabaenopsis, Lyngbya, dan Spirulina), Bacillariophyta (Cyclotella, Navicula, Streptotheca, dan Thalassiosira), dan Dinoflagellata (Dinophysis, Gyrodinium, Gonyaulax, dan Gymnodinium). Kelimpahan fitoplankton selama penelitian didapatkan kisaran 460.000 – 780.000 sel/ml dengan nilai indeks biologi masing-masing adalah indeks keanekaragaman 1,04 –1,94, indeks keseragaman 0,47 – 0,93, dan indeks dominansi 0,19 – 0,57. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa keanekaragaman fitoplankton di tambak udang vaname MSTP UNDIP, Teluk Awur, Jepara termasuk kategori sedang yang artinya sebaran jenis fitoplankton cukup merata dan mulai terdapat dominasi jenis fitoplankton yaitu Chlorella sp. sehingga kondisi perairan tambak menjadi kurang stabil dan mudah terpengaruh perubahan lingkungan.