
Pengendalian gulma dengan menggunakan bioherbisida adalah upaya yang dilakukan untuk terciptanya pertanian yang berkelanjutan. Ekstrak daun Eucalyptus pellita yang digunakan sebagai bahan bioherbisida mengandung zat alelopati yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pengendalian gulma. Penelitian menunjukkan bahwa spesies Eucalyptus pellita mengandung zat alelokimia, di diantaranya α-pinene, 1,8-cineol, dan pinocarveol trans yang dapat menghambat pertumbuhan gulma. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga November 2024 di greenhouse Kebun Percobaan Leuwikopo, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor perlakuan yang terdiri atas lima konsentrasi ekstrak daun E. pellita yaitu 0 (kontrol), 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan herbisida oxyfluorfen. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak daun E. pellita 25% dapat menghambat dan mengurangi pertumbuhan gulma Ludwigia octovalvis dan Cyperus iria pada padi sawah. Kata kunci: bioherbisida, ekstrak daun Eucalyptus, gulma, oxyfluorfen
Tomat cherry adalah salah satu varietas tomat berukuran kecil, rasa manis, berair, kulit tipis, dan sering kali dikonsumsi bersama salad sayur. Tomat cherry merupakan tanaman semusim memiliki tahap juvenil sekitar usia 45-50 hari setelah tanam. Periode juvenil dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pemupukan dan cahaya. Periode juvenil merupakan langkah awal untuk mengeksplorasi manajemen fosfor sebagai jalur untuk meningkatkan hasil panen maupun keberlanjutan dalam budidaya tomat cherry. Penggunaan LED polikromatik dapat mengurangi penggunaan pupuk fosfor pada tanaman tomat cherry belum memiliki dukungan bukti lapangan yang kuat. Sehingga dibutuhkan percobaan faktorial yang terdiri atas dua faktor, faktor pertama yaitu dosis pupuk fosfor (SP-36) terdiri atas 3 taraf (32 ppm, 64 ppm, 96 ppm) dan faktor kedua adalah jenis spektrum LED polikromatik terdiri atas 2 taraf (LED putih dan LED ungu). Penggunaan LED polikromatik ungu dapat mengurangi penggunaan dosis pupuk fosfor sebanyak 50%, pernyataan ini dibuktikan dengan hasil tinggi tanaman dan jumlah daun yang lebih tinggi dari pada penggunaan LED putih atapun LED ungu dengan dosis fosfor 100%. Kebutuhan fosfor terhadap diameter batang, luas daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman telah tercukupi sehingga penggunaan LED polikromatik atau penambahan dosis fosfor tidak memberikan respons pertumbuhan tambahan. Kata kunci: cahaya, LED putih, LED ungu, morfologi, polikromatik
Penanaman Antigonon leptopus di perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu langkah untuk menangani serangan ulat api (Setothosea asigna) yang menyerang daun kelapa sawit. Kegiatan tersebut harus memperhatikan faktor-faktor penunjang untuk pembudidayaannya seperti benih yang digunakan, media yang dipakai, dan pemeliharaan yang tepat. Media tanam yang sering digunakan adalah tanah, pasir, kompos, pupuk kandang, dan arang sekam. Selain media, penggunaan mulsa juga dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Penggunaan media yang sesuai dapat menstimulus pertumbuhan tanaman Antigonon leptopus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menilai pertumbuhan A. leptopus pada berbagai media tanam dan penambahan mulsa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Media yang digunakan yaitu T0, T1, T2, T3, dan T4 serta mulsa M0, dan M1. Parameter yang diamati meliputi panjang sulur, jumlah anak daun, berat kering total, berat kering akar, rasio pucuk akar, jumlah bunga, dan jumlah tanaman berbunga. Efektivitas tertinggi terdapat pada perlakuan T1M1 (tanah : pasir : pupuk kandang 2:1:1) dengan penambahan mulsa jagung. Kata kunci: Antigonon leptopus, kelapa sawit, media, ulat api
Jagung manis dan jagung pulut merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi karena memiliki cita rasa manis dan tekstur pulen yang khas. Upaya penggabungan kedua sifat tersebut melalui pengembangan jagung manis–pulut memerlukan informasi mengenai keragaman karakter agronomi dan morfologi serta identifikasi galur jagung manis pembawa gen waxy (wxwx). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman karakter agronomi dan morfologi pada berbagai galur jagung pulut dan jagung manis serta mengidentifikasi galur jagung manis yang membawa gen wxwx melalui pengamatan fenotipe biji F1 hasil persilangan jagung pulut dengan jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Pasir Kuda, Bogor pada Desember 2024 hingga Maret 2025. Percobaan lapangan dirancang menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor, terdiri atas 3 galur jagung pulut dan 14 galur jagung manis. Hasil percobaan menunjukkan keragaman signifikan pada sebagian besar karakter agronomi dengan nilai heritabilitas tinggi kecuali lebar tassel (sedang), serta memiliki nilai koefisien keragaman genetik dari sedang sampai luas. Analisis klaster mengelompokkan genotipe menjadi dua kelompok utama, yaitu kelompok jagung pulut (P1–P3) dan kelompok jagung manis (P4–P17). Persilangan antara jagung pulut dengan jagung manis (P4 dan P5) menghasilkan fenotipe biji pulut, sedangkan persilangan antara jagung pulut dengan jagung manis (P6–P17) menghasilkan fenotipe biji pipil. Kata Kunci: analisis klaster, fenotipe, heritabilitas, keragaman genetik
Indonesia memiliki beberapa varietas jambu air, antara lain ‘Madu Deli Hijau’, ‘Citra’, dan ‘Dalhari’. Ketiga varietas tersebut memiliki ciri khas rasa buah yang manis dan ukuran buah yang besar, serta berpotensi dikembangkan dan diperbanyak secara vegetatif melalui stek pucuk. Metode perbanyakan dengan stek memerlukan penggunaan zat pengatur tumbuh berupa auksin untuk menginduksi pembentukan akar adventif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik zat pengatur tumbuh auksin NAA dan IBA, serta varietas terbaik dalam merangsang pembentukan akar pada stek pucuk jambu air. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023 hingga April 2024 di Mekar Hurip Nursery, Bogor. Percobaan disusun menggunakan rancangan dua faktor dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Faktor pertama adalah kombinasi konsentrasi naphthalene acetic acid (NAA) pada taraf 0, 500, dan 1000 ppm serta indole butyric acid (IBA) pada taraf 0, 500, dan 1000 ppm. Faktor kedua adalah varietas jambu air, yaitu ‘Madu Deli Hijau’, ‘Dalhari’, dan ‘Citra’. Percobaan ini terdiri atas 27 kombinasi perlakuan dengan 4 ulangan, sehingga diperoleh 108 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri atas 2 stek, sehingga total stek yang digunakan sebanyak 216 stek. Kombinasi perlakuan 1000 ppm NAA dan 1000 ppm IBA menghasilkan respons pertumbuhan akar terbaik, terutama pada parameter jumlah akar dan volume akar. Varietas ‘Madu Deli Hijau’ menunjukkan tingkat keberhasilan perakaran tertinggi. Terdapat interaksi nyata antara kombinasi NAA dan IBA dengan varietas terhadap parameter panjang akar. Kata kunci: fitohormon, meristem apikal, perbanyakan vegetatif, tanaman induk
Torbangun (Coleus amboinicus Lour.) is a tropical plant from the Lamiaceae family, with leaves have a distinctive aroma and used more as medicinal plant. Bataknese lactating women in North Sumatra, Indonesia have traditionally consumed Torbangun leaves after birth with beliefs can increase their breast milk production (as lactagogue), anti-fungal and/or anti-bacterial, analgesic, to reduce cholesterol, and to clean the uterus. However, the ecology study of Torbangun is not well documented and scientific evidence is limited, especially about interraction between rainfall with secondary metabolites levels on Torbangun. This research was aimed to provide information of rainfall influence on secondary metabolites levels on Torbangun. This experiment was conducted at Mulyaharja village (6°19'–6°47' S, 106°30'–107°45' E), South Bogor District, Bogor, West Java (Indonesia), ftom January to March. The experiment used three replicates. Observations included components metabolite levels conducted on 10 plant samples, leaf harvested on plant with 5 perfectly opened on the 1st, 3rd, and 5th leaf position in each replication at 3 to 5 months-old. The results showed that decreasing of rainfall increases secondary metabolite levels such as the phenyalanine ammonia lyase (PAL) activity, anthocyanin, total flavonoids and total saponins on Torbangun.
Kacang bambara (Vigna subterranea (L) Verdc.), yang dikenal secara lokal sebagai kacang Bogor, adalah tanaman polong-polongan asli Afrika Barat. Karena kaya nutrisi dan toleran kekeringan, tanaman ini potensial sebagai sumber pangan alternatif di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan dan menduga parameter genetik sifat-sifat agronomi, dan untuk mempelajari korelasi antar karakter untuk menetapkan kriteria seleksi yang efektif untuk kacang bambara. Percobaan dilakukan dari Januari hingga Mei 2023 di blok Sawah Ranji (±361 m dpl) di Desa Situraja Utara, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Digunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan empat ulangan. Bahan tanaman adalah benih kacang bambara yang berasal dari lima kecamatan di Sumedang yaitu Cikadu, Cilopang, Pajagan, Pamulihan, dan Ranjeng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lebar kanopi yang signifikan di antara kelima asal benih kacang bambara. Lebar kanopi juga menunjukkan heritabilitas yang tinggi dan koefisien keragaman genetik yang tinggi. Analisis korelasi menunjukkan bahwa lebar kanopi berkorelasi positif dan signifikan dengan beberapa sifat penting, termasuk jumlah daun dan komponen hasil yaitu jumlah polong per tanaman, bobot polong basah, bobot polong kering, jumlah biji per tanaman, dan bobot biji per tanaman, yang menunjukkan bahwa lebar kanopi dapat menjadi kriteria seleksi yang efektif pada pemulian tanaman kacang bambara. Kata kunci: analisis korelasi, heritabilitas, koefisien keragaman genetik, komponen hasil, lebar kanopi
Jagung manis adalah komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pupuk NPK 15-15-15 terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman jagung manis (Zea mays saccharata L.) yang berbeda. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sindangbarang, Bogor, Jawa Barat. Percobaan ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan faktor tunggal yaitu dosis pemberian pupuk. Perlakuan terdiri dari 1 faktor dengan 6 taraf pemupukan yaitu (P0) kontrol, (P1) NPK standar, (P2) 0.5 dosis NPK, (P3) 0.75 dosis NPK, (P4) 1.0 dosis NPK, (P5) 1.5 dosis NPK. Hasil penelitian pupuk NPK 15-15-15 menunjukkan bahwa perlakuan 0.5 – 1.5 dosis pupuk NPK 15-15-15 dapat meningkatkan pertumbuhan dan komponen hasil tanaman jagung dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, perlakuan tersebut meningkatkan komponen hasil dan hasil jagung dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Pemberian 1.0 dosis pupuk NPK 15-15-15 efektif secara agronomi karena menghasilkan nilai tertinggi sebesar 102% yang berarti dapat meningkatkan produksi 1.02 kali lipat. Kata kunci: efektifitas pupuk, hara, produktivitas, tanaman hortikultura
Gulma pada lahan budidaya tanaman kopi dapat menurunkan hasil biji sekitar 35% dari 12.5 kw ha-1 menjadi 7 kw ha-1, oleh karena itu kehadiran gulma perlu dikendalikan. Tujuan dari penelitian ini adalah Penelitian bertujuan mengidentifikasi keragaman spesies serta dominasi gulma kebun kopi berdasarkan analisis vegetasi gulma dan analisis seed bank pada berbagai pola tanam dan kedalaman tanah di kebun kopi. Penelitian dilaksanakan di kebun kopi di Kabupaten Bandung. Gulma yang diamati berasal dari seed bank yang berkecambah dan sampel vegetasi gulma pada lahan pola tanam monokultur kopi (P1), lahan polikultur kopi dengan kubis (P2), dan lahan polikultur kopi dengan bawang daun (P3). Kriteria sampel tanah yang digunakan yaitu kedalaman 0-10 cm, 11-20 cm, 21-30 cm, dan 31-40 cm. Spesies yang mendominasi permukaan lahan (P1) dan (P2) di dominasi spesies Galinsoga parviflora, sedangkan lahan (P3) didominasi spesies Borreria alata. Terdapat tiga spesies gulma yang mendominasi dari seluruh soil seed bank yaitu Drymaria cordata, Galinsoga parviflora, dan Persicaria nepalensis. Gulma Drymaria cordata, mendominasi sampel tanah lahan P1 kedalaman 11-20 cm dan kedalaman 2130 cm, sampel tanah lahan P2 kedalaman 21-30 cm dan 31-40 cm, dan sampel lahan P3 di kedalaman 31-40 cm. Gulma Galinsoga parviflora mendominasi sampel tanah lahan P1 kedalaman 0-10 cm dan 31-40 cm, sampel tanah lahan P2 kedalaman 11-20 cm saja, dan sampel tanah lahan P3 di kedalaman 11-20 cm dan 21-30 cm. Gulma Persicaria nepalensis hanya mendominasi sampel tanah lahan P2 kedalaman 0-10 cm. Peran dominasi gulma Galinsoga parviflora pada vegetasi gulma beberapa lahan kopi memberikan jumlah seed bank yang banyak dalam tanah di beberapa lahan kopi. Kata kunci: dominansi, kedalaman tanah, pola tanam, seed bank
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu tanaman buah tropis yang banyak diminati karena rasa dan kandungan nutrisinya, seperti vitamin A, vitamin C, asam folat, dan kalium. Namun, kesulitan mengidentifikasi jenis kelamin tanaman pepaya pada fase vegetatif menjadi kendala dalam budidaya. Sambung pucuk (grafting) merupakan langkah yang banyak digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek sambung pucuk tanaman pepaya terhadap pertumbuhan, produksi dan kompatibilitas antara batang bawah dan batang atas. Penelitian dilakukan di Kebun Tajur 2 PKHT, Bogor, dilanjutkan dengan analisis pascapanen di Laboratorium Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Dua jenis batang bawah yang digunakan adalah pepaya Sukma (C-S) dan pepaya liar (C-L), yang keduanya disambung dengan varietas Calina (IPB 1) sebagai batang atas. Sebanyak 64 tanaman ditanam dalam 8 barisan, masing-masing terdiri atas 8 tanaman. Lima barisan menggunakan batang bawah C-L, sedangkan tiga barisan menggunakan batang bawah C-S. Data dianalisis menggunakan uji t pada taraf 5% dengan Minitab 19. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman dengan batang bawah C-L memiliki laju pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibandingkan C-S pada hampir seluruh parameter, kecuali lingkar batang sambungan, lingkar batang bawah, dan tinggi batang bawah. Tanaman C-L juga berbunga lebih awal dan menghasilkan lebih banyak bunga hermafrodit, yang berkontribusi pada jumlah buah lonjong yang lebih tinggi dibandingkan tanaman C-S. Selain itu, buah dari tanaman C-L memiliki tekstur daging yang lebih lunak, kulit yang lebih keras, serta nilai Padatan Terlarut Total (PTT) yang lebih tinggi. Kedua jenis batang bawah yang digunakan tidak menunjukkan gejala inkompatibilitas selama masa pengamatan. Kata kunci: batang bawah, Calina-Liar, Calina-Sukma
Kacang bambara merupakan salah satu jenis legum yang dibudidayakan di Indonesia dan telah dikembangkan untuk mendapatkan genotipe unggul melalui seleksi galur murni. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi keragaan karakter kuantitatif dan kualitatif galur-galur kacang bambara asal lanras Sumedang serta untuk memperoleh korelasi antar karakter pada galur-galur tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang pada Januari–Juli 2022. Rancangan penelitian ini adalah RKLT dua ulangan dengan 14 galur asal lanras Sumedang, satu galur asal lanras Sukabumi dan satu populasi Sumedang yang belum diseleksi. Satu galur asal Sukabumi telah diseleksi galur murni dan digunakan sebagai pembanding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi tanaman, umur berbunga, bobot 100 biji berbeda nyata antar galur yang diamati. Bobot 100 biji memiliki nilai duga heritabilitas arti luas kategori tinggi. Koefisien keragaman genetik seluruh karakter berada pada kategori rendah–sedang. Karakter-karakter pada komponen hasil saling berkorelasi positif. Umur berbunga berkorelasi negatif terhadap karakter tinggi tanaman, jumlah daun dan lebar kanopi pengukuran pertama, bobot polong total, bobot polong bernas, dan bobot 100 biji. Tipe kanopi, bentuk daun, bentuk polong, warna polong, tekstur polong serta warna dan corak biji menunjukkan keragaman antara galur uji dengan galur pembanding. Kata kunci : aksesi, heritabilitas, korelasi, polong
Celosia merupakan salah satu species tanaman hamparan yang popular karena warna bunganya yang cerah dan berwarna-warni. Celosia yang tumbuh pada lingkungan tropika umumnya memiliki batang tinggi sehingga tampak kurang estetis, disamping menyulitkan penanganan, pengepakan dan transportasi. Penggunaan paclobutrazol dapat menghambat pemanjangan batang, membuat tanaman lebih kekar dan pendek. Penelitian ini dilakukan di nurseri PT Bina Usaha Flora, Cianjur, Jawa Barat untuk menentukan cara aplikasi dan konsentrasi paclobutrazol yang efektif untuk mengendalikan tinggi tiga kultivar Celosia argentea. Terdapat lima perlakuan pada percobaan ini, yaitu pemberian paclobutrazol dengan cara disemprot pada daun sebanyak 30 ppm dan 40 ppm, pemberian paclobutrazol disiram pada media tanam sebanyak 10 ppm dan 20 ppm, dan tanaman kontrol (tanpa aplikasi paclobutrazol). Setiap perlakuan terdiri atas 15 tanaman yang ditanam dalam polybag, satu tanaman per polibag. Pemberian paclobutrazol 20 ppm dengan cara disiram pada media dapat menghambat pertumbuhan tinggi tanaman C. argentea ‘Cristata’ hingga 67% (43.2 cm), C. argentea ‘Plumosa’ 48% (23.9 cm), dan C. argentea ‘Spicata’ 61% (44.4 cm) dibandingkan tanaman kontrol, namun menunda pembungaan Celosia argentea ‘Cristata’ 5-7 hari. Pemberian paclobutrazol dapat menghasilkan Celosia yang lebih pendek dan kekar. Kata kunci: Celosia, pembungaan, retardan, tanaman hias
Pisang merupakan buah klimakterik sehingga penting untuk menentukan waktu panen yang tepat dan terukur agar menghasilkan pisang dengan kualitas baik serta daya simpan yang panjang. Penentuan waktu panen terukur dapat dilakukan dengan mengakumulasikan satuan panas yang diterima tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi akumulasi satuan panas 1400 ˚C hari sebagai kriteria panen terukur pisang Raja Bulu. Penandaan bunga yang antesis dilakukan di Kebun Percobaan IPB Sukamantri, Bogor, Jawa Barat (560 m dpl) pada bulan Januari hingga Februari 2023 serta pengujian kualitas buah dilakukan pada bulan April hingga Mei 2023 di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu perbedaan waktu antesis dengan lima perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa akumulasi satuan panas ±1400 ˚C hari setelah antesis kurang tepat untuk dijadikan kriteria panen terukur pisang Raja Bulu untuk menghasilkan umur simpan yang panjang. Akumulasi satuan panas tersebut mampu dicapai pada 99-102 hari setelah antesis dengan daya simpan 8-13 hari setelah antesis. Perbedaan waktu antesis bunga dengan kriteria panen akumulasi satuan panas yang sama secara umum tidak mempengaruhi karakter panen, laju respirasi, kualitas fisik, serta kualitas kimia buah pisang Raja Bulu pada stadia kematangan pascapanen yang sama. Kata kunci: antesis, kualitas fisik, kualitas kimia, pascapanen, umur simpan
Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan strategis di Indonesia. Untuk mendukung produktivitasnya, pemupukan yang tepat sangat diperlukan. Penerapan prinsip 5T (tepat jenis, dosis, waktu, cara, dan tempat) menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan hasil produksi secara berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, mulai dari Januari hingga Mei 2022, di Kebun Divisi I Belaras Barat, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efektivitas dan efisiensi pemupukan pada tanaman kelapa sawit berdasarkan prinsip 5T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat. Pengamatan dilakukan pada blok percobaan precipalm dengan menganalisis proses pemupukan serta komponen produksi dan produktivitas tanaman. Hasil menunjukkan bahwa pelaksanaan pemupukan sebagian besar telah sesuai dengan kaidah 5T dan standar operasional kebun. Secara keseluruhan, tingkat kepatuhan terhadap kaidah 5T dalam kegiatan pemupukan mencapai 95.62%. Evaluasi produksi dan produktivitas dilakukan dengan menghitung jumlah dan bobot tandan buah segar (TBS) tiap bulan dan tahun, bobot janjang rata-rata per bulan, serta efisiensi pemupukan. Efisiensi pemupukan pada perlakuan precipalm mencapai 31.68%, sedangkan pada perlakuan kontrol hanya sebesar 23.47%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan metode yang tepat dalam pemupukan dapat meningkatkan efisiensi dan potensi hasil produksi kelapa sawit secara signifikan. Kata kunci: efisiensi pemupukan, kaidah 5T, produktivitas kelapa sawit
Padi merupakan tanaman pangan utama yang menghadapi kendala budidaya, seperti keterbatasan tenaga kerja, mahalnya sarana produksi, dan berkurangnya lahan serta air. Sistem tanam benih langsung (tabela) dinilai lebih efisien, namun meningkatkan populasi gulma. Pengendalian ramah lingkungan diperlukan, dan bioherbisida dari umbi teki (Cyperus rotundus L.) berpotensi menekan pertumbuhan gulma melalui mekanisme alelopati. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh bioherbisida berbahan baku umbi teki pada gulma dalam pertanaman padi sawah sistem tabela. Terdapat tujuh perlakuan dalam penelitian ini diantaranya bioherbisida formulasi granul berbahan baku umbi teki dengan dosis 22.5 kg ha-1 , 45 kg ha-1, 67.5 kg ha-1, dan 90 kg ha-1, tanpa pengendalian (kontrol), pengendalian manual, dan herbisida tiobenkarb dosis 15 kg ha-1 . Analisis data dilakukan menggunakan uji F pada taraf nyata α = 5% dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bioherbisida umbi teki dosis 67.5 – 90 kg ha-1 secara efektif mampu menekan pertumbuhan gulma pada pertanaman padi sawah tabela hingga 6 MST. Aplikasi bioherbisida umbi teki dosis 22.5 – 90 kg ha-1 mampu menghambat pertumbuhan gulma dominan yakni gulma daun lebar Sphenoclea zeylanica dan Ludwigia octovalvis tanpa menimbulkan gejala keracunan pada tanaman padi. Berdasarkan keefektifannya dalam mengendalikan gulma dan pengaruhnya terhadap hasil panen padi, dosis terbaik adalah 90 kg ha-1. Kata Kunci: alelopati, dosis, herbisida nabati, Oryza sativa, toksisitas
Timun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang selain digunakan sebagai sayuran, timun juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa timun mengandung berbagai senyawa bioaktif akan tetapi tidak semua bagian timun dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk eksplorasi senyawa metabolit murni yang terkandung di daun, akar dan batang timun (Cucumis sativus L.) yang ditanam dalam lingkungan terkendali secara in vitro. Senyawa dianalisa menggunakan teknik Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Tanaman hasil kultur in vitro dipengaruhi oleh faktor fisik yang cenderung stabil, terkendali, dan terhindar dari faktor stress cekaman lingkungan sehingga senyawa kimia yang dihasilkan murni. Hasil analisis GC-MS senyawa metabolit didapatkan kandungan Stigmasta-7,16-dien-3-ol, (3 beta, 5. alpha) dengan formula C29H48O dan Ethyl. Alpha, -d-glucopyranoside yang ditemukan pada akar, batang, dan daun. Persentase kandungan senyawa metabolit yang paling banyak kandungannya di akar adalah Stigmasta-7,16-dien-3-ol, (3 beta, 5. alpha). Persentase kandungan senyawa tertinggi yang ditemukan pada bagian batang planlet adalah senyawa IH-Indole. Phythol merupakan senyawa metabolit tertingi yang ditemukan di daun. Senyawa yang ditemukan diseluruh bagian morfologi planlet C. sativus yaitu Stigmasta-7,16-dien-3-ol, (3 beta, 5. alpha) dikenal juga dengan sebutan Stigmasterol memiliki manfaat sebagai anti kanker dan antioksidan. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh organ planlet C. sativus dapat dimanfaatkan untuk antikanker dan antioksidan. Katakunci: antikanker, antioksidan, senyawa murni, stigmasterol
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia, karena berperan signifikan sebagai penyumbang devisa negara terbesar. Permintaan pasar kelapa sawit terus meningkat, sehingga penting untuk meningkatkan produksi tanaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki cara budi daya, terutama dengan melakukan pemanenan yang baik. Penelitian bertujuan menganalisis aspek dalam pemanenan kelapa sawit. Pengamatan dan pengumpulan data dilakukan dengan menghitung dan mengamati AKP, taksasi produksi, transportasi, kapasitas, teknis, premi, mutu panen, dan sarana prasarana. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji t-student dengan taraf 5%. Pembelajaran aspek teknis meliputi kegiatan pengendalian gulma, pemupukan, penunasan, dan pemanenan. Sistem panen yang digunakan yaitu sistem ancak giring. Rotasi panen dilakukan dengan sistem 6/7, dengan rata – rata frekuensi 3.59 kali dalam waktu 4 bulan. Persentase AKP yang didapatkan sebesar 18% dan taksasi produksi sebesar 10.169 kg. Evaluasi panen yang diamati yaitu mutu buah, mutu ancak, basis, premi, dan denda panen. Mutu buah yang dipanen cukup baik, serta kehilangan hasil sudah memenuhi standar. Kata kunci: mutu buah, sistem panen, taksasi produksi, transportasi panen
Sweet corn is a horticultural commodity that is widely cultivated in Indonesia. This study aimed to determine the development and growth response of sweet corn plants to the application of different doses of micro inorganic fertilizer (3.14% Zn – 2.54% Cu). The research was conducted at Sindangbarang Experimental Field, Bogor, West Java. This experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with a single factor, namely the dose of fertilizer application. Treatments were arranged in 4 levels of application, namely: (1) control, (2) standard NPK, (3) NPK + 1 micro dose, (4) ¾ NPK + 1 micro dose. The results of this test indicate that the application level of micro inorganic fertilizers at the application level of NPK fertilizer + 1 micro dose and ¾ NPK + 1 micro dose fertilizer treatment can generally provide plant height, stem diameter, number of leaves, cob length, cob diameter, stover weight, cob weight with husk, cob weight without husk, production per plot, and productivity which were statistically higher than the control treatment. The application of NPK + 1 micro dose and fertilizer treatment of ¾ NPK + 1 micro dose have Relative Agronomic Effectiveness (RAE) values that meet the requirements to pass the fertilizer effectiveness test, with the highest RAE value obtained in the application of ¾ NPK + 1 micro dose fertilizer at 118%. Keywords: copper, effectivity of fertilizer, horticulture plants, zinc
Kapulaga jawa (Amomum compactum Sol ex. Maton) merupakan spesies yang berbeda dengan Elettaria cardamomum (L.) Maton. Tanaman ini biasanya diperbanyak secara vegetatif namun tetap diperlukan benih botani. Benih kapulaga memiliki lapisan testa yang keras dan memerlukan waktu yang lama untuk berkecambah. Percepatan perkecambahan biji dapat dilakukan dengan menggunakan media perkecambahan yang tepat dan memberikan perlakuan pendahuluan yang dapat mengurangi faktor penghambat perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media perkecambahan yang tepat dan perlakuan pendahuluan yang efektif untuk mempercepat perkecambahan benih kapulaga. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap petak terbagi dengan perlakuan jenis media perkecambahan sebagai petak utama, perlakuan pendahuluan sebagai anak petak, dan tiga kali ulangan. Evaluasi penghitungan pertama dilakukan pada hari ke-24 setelah tanam dan penghitungan kedua pada hari ke-51 setelah tanam. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya perlakuan pra-tanam yang mampu memacu perkecambahan. Media cocopeat merupakan media terbaik dibandingkan dengan media pasir dan media tanam campuran arang sekam: sabut kelapa : kompos (1:1:1) pada parameter daya berkecambah 80.5%, kecepatan tumbuh 3.11% etmal-1, indeks vigor 35.2%, dan benih segar tidak tumbuh 1.3%. Interaksi antara perlakuan media cocopeat dan perlakuan pra-tanam dengan perendaman dalam air 50 °C selama 30 menit memberikan waktu berkecambah paling singkat yaitu rata-rata waktu berkecambah 25.0 hari. Kata kunci: cocopeat, dormansi, pembibitan, tetrazolium, viabilitas
Pemupukan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam budidaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pupuk anorganik (N dan Ca) terhadap hasil dan kelayakan ekonomi pada tanaman cabai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan disusun dalam 7 taraf pemupukan: tanpa aplikasi pupuk anorganik cair (P0), pemupukan anorganik cair pembanding (P1), pemupukan 0.50 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P2), pemupukan 0.75 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) (P3), pemupukan 1.00 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P4), pemupukan 1.25 dosis rekomendasi anorganik (N dan Ca) (P5) dan pemupukan 1.50 dosis anorganik (N dan Ca) (P6). Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) dapat meningkatkan pertumbuhan terhadap peubah jumlah cabang dan jumlah buah dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, perlakuan tersebut meningkatkan komponen hasil dan hasil cabai dibandingkan dengan kontrol. Pemberian 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) efektif secara agronomi karena dapat meningkatkan hasil sebesar 1.58 kali lipat. Perlakuan 1.00 dosis pupuk anorganik (N dan Ca) juga efektif secara ekonomi dengan menghasilkan R/C rasio tertinggi dan memberikan keuntungan terbesar. Dosis rekomendasi yang disarankan untuk tanaman cabai adalah 2.0 kg ha-1 per aplikasi pupuk anorganik (N dan Ca). Kata kunci: dosis rekomendasi, pupuk cair, pupuk majemuk, tanaman hortikultura