Mechanical harvesting in cayenne pepper is developing, however, factors affecting canopy architecture and fruit characteristics are still lack. Study aimed to evaluate the effect of shade intensities on canopy architecture and fruit position in cayenne pepper to support developing smart harvesting tools. The experiment was conducted in Babakan Sawah Baru Experimental Farm, IPB from September 2021 to March 2022. The experiment used nested design with shade levels (no shade, 25%, 30%, 50%, 60%, 90%, and 100%) as the main plot and time of shading application (4, 6, 8, and 10 weeks after planting) as sub-plot. The canopy architecture and fruit position were affected by the shade level and its time application. Plant height increased and the canopy widened with increasing shade levels up to 50%. Thus, the shading level should be considered in the development of smart harvesting methodology. Keywords: cabai rawit, climate change, labor, low light intensity, plant architecture
Ubi kayu atau singkong merupakan komoditas industri dan komponen penting pada ketahanan pangan di Indonesia, tetapi informasi jejak karbon dari kegiatan budidaya masih terbatas. Jejak karbon adalah salah satu pendekatan untuk memahami sumber emisi gas rumah kaca (GRK) yang berguna untuk mitigasi pemanasan global. Penelitian bertujuan melakukan asesmen jejak karbon budidaya ubi kayu pada berbagai taraf pupuk NPK dan karbon organik tanah (C-org). Penelitian dilakukan pada September 2022 hingga Mei 2023 di Kebun Percobaan IPB Jonggol. Data emisi diestimasi menggunakan skenario tier 1. Budidaya ubi kayu memiliki jejak karbon 2,511.2-10,641.4 kg CO2-eq ha-1 tergantung dosis NPK dan C-org. Budidaya mengemisikan karbon rata-rata 6,455.5 kg CO2-eq ha-1 dengan emisi langsung 4,532.3 kg CO2-eq ha-1dan tidak langsung sebesar 1,923.2 kg CO2-eq ha-1. Input NPK dan pupuk kandang menyumbang emisi langsung terbesar yakni berturut-turut 36.99% dan 54.96%. Pada waktu yang bersamaan, budidaya menskuestrasi karbon 27,445.1- 61,684.2 kg CO2-eq ha-1 (rata-rata 51,032.4 kg CO2-eq ha-1) sehingga budidaya memiliki neraca karbon positif yang berarti mengurangi GRK, yakni sebesar 24,933.9-54,493.1 kg CO2-eq ha-1 (rata-rata 44,577.0 kg CO2-eq ha-1). Berdasarkan regresi, tingkat C-org 4.8% dan dosis NPK (15-15-15) 440.7 kg ha-1 memberikan pengurangan (offsets) emisi GRK maksimum. Upaya mencapai budidaya ubi kayu rendah emisi diprioritaskan melalui pengurangan input pupuk misalnya dengan mengembalikan limbah biomasa budidaya. Kata kunci: emisi karbon, emisi GRK, ketahanan pangan, rendah emisi, singkong
Gulma sangat berpengaruh terhadap produktivitas yang ada di lahan perkebunan termasuk pada komoditas cengkeh. Penurunan produksi diakibatkan karena adanya kompetisi nutrisi antara tanaman utama dan gulma. Penelitian bertujuan untuk menganalisis proses pengendalian gulma di Kebun Branggah Banaran, Blitar terutama mengenai manajemen pengendalian gulma tanaman cengkeh. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2022. Kondisi gulma di Kebun Branggah Banaran pada golongan tanaman B2, C1 dan C2 didominasi oleh gulma rumput Digitaria sanguinalis dan Pseudelephantopus spicatus pada golongan tanaman A1, A2 dan B1. Pekerja pengendalian gulma masih banyak yang belum mematuhi kelengkapan APD yang ditetapkan perusahaan. Perbandingan efektivitas biaya pengendalian gulma pada TBM dan TM menunjukkan bahwa metode kimiawi lebih efektif dengan rasio sebesar 1.24:1. Keberagaman gulma setiap tahun pangkas mempengaruhi kegiatan pengelolaan kerja pengendalian gulma secara umum. Keberagaman gulma mempengaruhi waktu pengendalian, metode pengendalian, kemampuan penyemprot serta efisiensi biaya pengendalian. Kata kunci: analisis vegetasi, cengkeh, efektivitas biaya, gulma, herbisida
Kehadiran gulma pada tanaman budidaya kacang tanah dapat menekan pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas tanaman kacang tanah. Penggunaan varietas dan penyiangan gulma merupakan salah satu upaya dalam menekan pertumbuhan gulma pada areal lahan kacang tanah. Penelitian ini bertujuan mempelajari respons beberapa varietas kacang tanah terhadap frekuensi penyiangan gulma untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial yang terdiri atas dua faktor yaitu varietas kacang tanah (Hypoma 1, Talam 1, dan Tasia 2) dan frekuensi penyiangan gulma (tanpa penyiangan, penyiangan 1 kali, dan penyiangan 2 kali). Hasil penelitian menunjukkan varietas tidak berpengaruh terhadap bobot kering total gulma, jumlah daun, jumlah polong hampa, bobot segar tanaman, dan produktivitas. Perlakuan frekuensi penyiangan berpengaruh nyata terhadap bobot kering gulma, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan kering kacang tanah, jumlah polong, bobot kering polong, dan produktivitas. Perlakuan penyiangan 2 kali memberikan hasil pertumbuhan dan produktivitas secara signifikan yang berbeda nyata dengan frekuensi penyiangan lainnya dengan rata-rata produktivitas tertinggi 2.4 ton ha-1. Interaksi kedua faktor pada hasil tanaman kacang tanah berpengaruh nyata pada jumlah polong total dan jumlah polong isi. Kompetisi gulma yang semakin tinggi pada tanaman kacang tanah dapat menekan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang tanah. Kata kunci: Hypoma 1, kompetisi, polong, produktivitas, Talam 1, Tasia 2
Upaya mengembangkan tanaman bawang merah di lahan kering sering menghadapi masalah keterbatasan air. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh varietas bawang merah pada pertumbuhan, hasil, dan kebutuhan air pada musim kering. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, IPB Dramaga, Bogor pada Februari-April 2023. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor tunggal yakni varietas bawang merah (Bima Brebes, Bauji, Tajuk, SS Sakato). Kebutuhan air dihitung dengan pendekatan neraca air, dan pemberian air dilakukan secara manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah tunas, daun, dan jumlah umbi, evapotranspirasi, serta kebutuhan air dipengaruhi oleh varietas. Hasil umbi secara statistik sama antar varietas yakni 10.73-13.72 ton ha-1. Varietas dikelompokkan menjadi grup Tajuk dan SS Sakato dengan kebutuhan air 2503.8-2549.3 m3 dan grup Bima Brebes sebesar 2169.7 m3 ha-1, setara dengan 4.17-4.25 mm per hari dan 3.62 mm per hari. Kebutuhan air varietas Bauji berada di antara kedua grup tersebut (2317.4 m3). Hasil penelitian dapat menjadi pedoman pengelolaan air di lahan kering atau antisipasi kekeringan dampak perubahan iklim. Kata kunci: efisiensi penggunaan air, hemat air, perubahan iklim, produktivitas
Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sebab gulma dapat menurunkan hasil produksi tanaman. Pengendalian gulma perlu dilakukan agar kerugian yang diakibatkan oleh gulma bisa diatasi. Penelitian bertujuan memahami dan mempelajari pengelolaan gulma serta menganalisis aspek pengendalian gulma yang dilakukan di kebun. Pengamatan yang dilakukan yaitu analisis vegetasi gulma menggunakan metode kuadrat yang berbentuk bujur sangkar dengan panjang 0.5 m x 0.5 m. Analisis vegetasi dilakukan pada area tanaman dengan tahun pangkas (TP) yang berbeda yaitu TP 0, TP 1, TP 2, dan TP 3. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf 5%. Hasil pengamatan menunjukkan pengendalian gulma di Afdeling Wonosari dilakukan secara manual dan kimiawi. Pengendalian gulma manual dilakukan untuk mengendalikan gulma diatas bidang petik, gulma yang tingginya >30 cm, serta gulma berkayu. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan alat knapsack sprayer dan herbisida yang digunakan berupa herbisida sistemik dengan bahan aktif isopropilamina glyphosat. Pengendalian gulma secara kimiawi lebih efektif dan efisien dari sisi tenaga kerja, biaya, serta hasil luasan yang dikerjakan. Kalibrasi semprot dilakukan sebelum dilakukan penyemprotan untuk mengetahui volume semprot yang diperlukan agar penyemprotan dapat dilakukan secara efektif. Keefektifan penyemprotan herbisida dipengaruhi oleh waktu pengaplikasian, waktu turunnya hujan, serta kemampuan penyemprot. Kata kunci: bidang petik, dominasi gulma, herbisida, koefisien komunitas
Produktivitas terong di daerah subtropis terkhusus Belanda mencapai 400 ton ha-1 sedangkan produktivitas terong di dunia hanya mencapai angka 28 ton ha-1. Produktivitas tinggi pertanaman terong di Belanda didapatkan melalui budidaya terong di dalam rumah kaca. Kegiatan penelitian di Kebun Steenbergen, Belanda bertujuan mempelajari manajemen pemanenan terong di rumah kaca untuk mengurangi kehilangan hasil panen (losses). Kegiatan dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2018 di rumah kaca kebun Steenbergen, Belanda. Percobaan disusun menggunakan uji t-student dengan membandingkan terong yang di tanam pada rumah kaca dengan ketinggian yang berbeda. Manajemen pemanenan yang dilakukan oleh perusahaan meliputi perencanaan panen, proses panen, hingga pascapanen sangat baik. Perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar dengan persentase produksi terong kelas 1 yang mencapai 98.3% dengan menekan produksi panen terong kelas 2 (losses) yang tidak lebih dari 2%. Kata kunci: kehilangan panen, perencanaan panen, proses pemanenan
Peningkatan produktivitas teh serta mutu teh membutuhkan pengelolaan pemangkasan yang baik. Kegiatan magang bertujuan memperoleh pengalaman kerja dan keterampilan teknis mengenai pengelolaan budi daya tanaman perkebunan teh. Kegiatan magang telah dilaksanakan di Unit Perkebunan Tambi, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah pada bulan Januari sampai April 2020. Hasil magang yang diperoleh menunjukan bahwa Unit Perkebunan Tambi melaksanakan pemangkasan pada bulan Februari sampai Mei (Semester I) dan bulan Oktober sampai November (Semester II) dengan menggunakan tipe pangkas bersih sebagai pangkas produksi. Gilir pangkas yang ditetapkan adalah empat tahun berdasarkan ketinggian tempatnya. Rata-rata tinggi tanaman sebelum dipangkas adalah 95.03 cm dengan rata-rata diameter bidang petik yaitu 107.29 cm. Rata-rata persentase pucuk burung tanaman teh sebelum dipangkas adalah 82.67 %. Tinggi tanaman teh setelah dipangkas adalah 49.72 cm. Tinggi tersebut masih di bawah standar Unit Perkebunan Tambi yaitu 55 cm. Kerusakan cabang disebabkan beberapa faktor, yaitu pengalaman tenaga pemangkas, alat pangkas, lama kerja, dan klon tanaman
Kelapa sawit merupakan komoditas dengan nilai ekonomis yang tinggi karena dapat menghasilkan minyak kelapa sawit yang memiliki banyak kegunaan. Panen merupakan salah satu bagian produksi di perkebunan kelapa sawit yang menghubungkan kebun dan pabrik karena melepaskan buah dari pohon serta mengangkut hasil ke PKS. Penelitian dilaksanakan di Kebun Rambutan, Sumatera Utara, dari bulan Januari hingga April 2020. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan manajemen sistem panen yang tepat di perkebunan kelapa sawit. Hal yang diamati berupa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi panen. Hasil pengamatan di uji menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif serta uji statistik menggunakan Uji t-student dan uji korelasi. Rata–rata rotasi panen sudah memenuhi standar perusahaan, walaupun ada beberapa saat hari panen terlalu panjang karena terlalu banyak hari libur. Realisasi jumlah kebutuhan tenaga panen tidak sesuai dengan taksasi sehingga perlu dievaluasi, namun kekurangan ini masih bisa ditutupi dengan output yang besar dari setiap pemanen. Kegiatan panen sudah sesuai standar perusahaan yaitu dengan varian dibawah 5%. Penggunaan alat pelindung diri (APD) pemanen sudah cukup baik, pemakaian kacamata pelindung harus ditingkatkan. Pemotongan batang buah menjadi berbentuk huruf V harus lebih ditingkatkan. Hasil pengamatan menunjukkan mutu buah masih di bawah standar perusahaan yaitu sebesar 97.05% dari 100%. Rata–rata muatan pengangkutan buah masih melebihi kapasitas truk. Uji korelasi menunjukkan tidak ada korelasi antara produktivitas dan curah hujan. Kata kunci: kelapa sawit, angka kerapatan panen, mutu buah, curah hujan
Budidaya tanaman teh tidak lepas dari proses pemeliharaan yang salah satunya adalah pengendalian gulma. Gulma merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya yang kehadirannya merugikan tanaman budidaya. Pengendalian gulma perlu dilakukan agar tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien. Dominansi gulma dapat membantu mengidentifikasi gulma di suatu areal sehingga pengendalian gulma dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Penelitian ini dilaksanakan di Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Gambung pada bulan Januari hingga Mei 2022. Pengamatan metode analisis vegetasi yang digunakan adalah metode kuadran di masing-masing blok kebun berdasarkan tahun pangkas. Gulma yang teridentifikasi di perkebunan teh sebanyak 44 jenis yang terbagi berdasarkan 3 golongan yaitu 38 jenis gulma berdaun lebar, 2 jenis gulma teki, dan 4 jenis gulma rumput. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa gulma yang tumbuh pada Tahun Pangkas 1 didominansi oleh Commelina benghalensis, Tahun Pangkas 2 didominansi oleh Mitracarpus hirtus, Tahun Pangks 3 dan 4 didominansi oleh Ageratum conyzoides. Nilai koefisien komunitas antar tahun pangkas < 70% yang artinya populasi gulma tersebut heterogen. Pengendalian gulma secara manual menggunakan parang dan secara kimiawi menggunakan herbisida yang disemprotkan dengan menggunakan knapsack sprayer. Herbisida yang digunakan berbahan aktif Isopropilamina glifosat dengan dosis berkisar 2 L/ha, konsentrasi 5–5,3 mL/L dan volume semprot 375–400 L/ha. Waktu aplikasi pengendalian gulma secara kimiawi di perkebunan teh dilakukan pada pagi hari.
To mitigate the impact of extreme weather incidents, rice cultivars Way Seputih (WS) and Way Apo Buru (WAB) were evaluated under simulation of continuous wind and rainfall treatments. The research was conducted from July to October 2017 at Leuwikopo Experimental Farm, Bogor, Indonesia. For 15 days at day time, flowering rice hills were treated with about 100 mm/h water shower (Experiment-1), and with 0, 10-15, 20-25 and 35-40 km/h wind velocity (Experiment-2). Results showed that wind and rainfall treatments reduced rice production; the effect depended on the genotypes and flowering stage. Rain treatment from panicle emergence to 50%-emerged increased the number of unfilled grains by 154.6-182.3% and 55.7-101.9% in WS and WAB cultivars, respectively. Rain treatment at 100%-emerged had no effect on WS, but it increased unfilled grain (163.5%) and decreased grain index (12.9%) in the WAB cultivar. Wind speed at 35-40 km/h promoted a high percentage of grain drop (25.7%) and unfilled grains (77.3%), and low grain index (20.8 g) in WS genotype. WAB was more tolerant of wind stress than the WS. The present experiment showed that genotype had different responses to wind and rain treatments implying different mitigation strategies should be applied through genotype selection.
Forage is an important component in sustainable smallholder livestock. The purpose of the study was to identify the diversity of natural plant species in various ecosystems, as well as their potential as forage. Based on our surveys of palm oil plantation, rubber plantation, and home gardens using the quadrant method, we identified approximately 50 species comprising the natural vegetation of our study area. Out of 50, we identified 39 broad-leaved species, 9 grasses (Poaceae) species, and 2 sedges (Cyperaceae) species. The palm oil plantation had 29 species dominated by Ottochloa nodosa (11.92%) and Asystasia gangetica (11.40%); 25 species were found in the rubber plantation dominated by Cynodon dactylon (28.42%) and Panicum repens (9.20%), and home gardens contained 30 species dominated by Eleusine indica (13.39%) and Ageratum conyzoides (9.60%). Among the 29 species found in the palm oil plantation, 13 were observed to have low palatability scores, and 16 species have high palatability scores. Based on their high palatability scores, the following species can be utilized as forage for Balinese cattle: Cyrtococcum acrescens, Eleusine indica, Centrosema pubescens, Paspalum conjugatum, and Sida rhombifolia.
Land footprint is one of indicator of ecological capacity for developing sustainable agriculture systems. The study aimed to evaluate ecological capacity of integrated farming agriculture-livestock through land footprint in order to develop integrated sustainable agriculture. Research was conducted in May-August 2019 at Sekaran Village, Bojonegoro District, East Java, Indonesia. Food availability index (FAI) and feed carrying capacity index (FCC) was calculated from reports and interview. Evaluation showed annual FAI was 3.4 and FCC was 7.2 those indicated sufficiency status with foodland footprint was 143.2 ha and cattleland footprint was 759.1 ha. Total land footprint for food-feed was 759.1 ha valued below total available land for agronomic activities, i.e., 1,574 ha indicating high ecological capacity to support integrated farming systems. However, for April-May had FCC < 1 indicated insecurity fodder availability to support existing cattle population. Based on feed availability, maximum amount for cow breeding stock was 713 and for fattening was 24 cows. The fattening population could be increased up to 1,590-2,515 by increasing fodder availability through silage production, planting king grass and drought tolerant tree crops to sustain the integration.
Commelina diffusa Burm. F. diketahui telah resisten terhadap beberapa jenis herbisida sehingga alternatif pengendalian gulma tersebut perlu diketahui. Mikania micrantha merupakan salah satu jenis gulma yang mengandung senyawa alelopati yang dapat menekan pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga berpotensi digunakan sebagai bioherbisida. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak daun M. micrantha sebagai bioherbisida untuk menghambat pertumbuhan gulma C. diffusa. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Pascapanen, Institut Pertanian Bogor pada bulan April-Juni 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal yaitu konsentrasi ekstrak daun M. micrantha sebesar 0.00, 0.33, 0.67, 1.00, 1.33, 1.67, dan 2.00 g bobot basah mL-1, dengan 4 ulangan. Aplikasi ekstrak daun M. micrantha mengurangi jumlah daun, meningkatkan skor toksisitas, dan meningkatkan persentase kematian gulma C. diffusa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun M. micrantha menekan pertumbuhan daun C. diffusa sampai 2 minggu setelah aplikasi (MSA). Ekstrak daun M. micrantha bersifat toksik bagi pertumbuhan C. diffusa pada 1 MSA dan menyebabkan kematian C. diffusa mulai 10-15 hari setelah aplikasi. Konsentrasi ekstrak daun M. micrantha yang menyebabkan toksisitas pada C. diffusa adalah 1.15 g mL-1. Kata kunci: bioherbisida, gulma, konsentrasi ekstrak, resisten, senyawa alelopati
Gallant soldier (Galinsoga parviflora Cav.) is a cosmopolitan weed and is traditionally used as a vegetable in Java highland. The study aimed to evaluate agroecology and uses of G. parviflora as an indigenous vegetable in Java. Researches were conducted in Kuningan, Banjarnegara, and Wonosobo districts from June 2015 to July 2017. The distribution map was drawn from field tracks, interviews, and literature studies. Results revealed two Galinsoga species based on leaf and stem shape, i.e., G. parviflora and G. quadriradiata. Only G. parviflora was selected as a vegetable in Banjarnegara and Wonosobo, but not in Kuningan district. It ranked seventh among 13 traditional vegetables; young shoot with inflorescences was consumed after cooking or boiling, and sometimes used as a diuretic. Although it contributed low to household diet, however, its position on the social relationship among neighbors was important. The wide distribution range of Galinsoga in Java is potential as a new vegetable. It is important to study the nutrient content of this vegetable to improve utilization. Keywords: Asteraceae, Dieng, gallant soldier, jukut saminggu, weed
Plant spacing arrangement might benefit hill strength from the impact of strong wind velocity during extreme weather situations. Here, a loading test to evaluate rice hill strength was performed on Ciherang variety grown in square and double row spacing 2:1. The research was conducted at Cilubang village, Dramaga, Bogor, West Java, Indonesia from March to May 2017. Weight holding capacity was evaluated in 85 days after transplanting on four levels of hill height, i.e., 80 cm, 60 cm, 40 cm, and 20 cm above soil level with three-time replication. The results showed that double-spaced hills had 66.0 % ± 3.1 % stronger than those of square spacing at all height measurement. To lodge a hill into 20 cm to 40 cm from soil level, it required 346.7 g to 741.7 g in square spacing, and 555.2 g to 1149.2 g in double row spacing. Stronger hills in double row spacing seemed to correlate with a higher number of tiller and hills architecture; it requires further study in the role of both factors on the hill strength improvement. The present study recommends applying double row spacing to improve rice hill strength especially at a time with a high chance of lodging by strong wind incident.
Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan jenis gulma yang tumbuh di bawah tegakan tanaman karet yang berbeda umur dan bagaimana manajemen pengendalian yang efektif. Kegiatan berlangsung dari Februari – Mei 2015 di Gurach Batu Estate, Asahan, Sumatera Utara. Pengamatan vegetasi gulma dilakukan dengan analisis vegetasi pada 13 blok dengan 13 tahun tanam yang berbeda untuk mendapatkan nisbah jumlah dominan (NJD) dan koefisien komunitas. Pengamatan lain adalah teknik pengendalian gulma, serta efektifitas dan efisisensi pengendaliannya. Data gulma dianalisis menggunakan nisbah jumlah dominan (NJD), sedangkan pengamatan lain dianalisis secara deskriftif. Hasil pengamatan menun jukan bahwa gulma yang dominan di GBE adalah Mucuna bracteata, Diplazium asperum, Selaginella deoderleinii, Nephrolepis bisserata. Manejemen pengendalian gulma dilakukan secara manual, kimiawi dan kultur teknis.
Okra (Abelmoschus esculentus L. (Moench.) is high nutrition compound potential for diabetes and alzheimer. Yield is one of the characters have to improve in plant breeding program through stomatal characterization. The variability for 14 genotypes showed significantly for stomatal length, stomatal width, epidermal cell number, chloroplast number, stomatal number, stomatal index and stomatal density. Stomatal density for P2 was 256.80 mm2 that was non significant with Zahira (265.31 mm2) and Naila (204.08 mm2). Genotypes P2, Zahira and Naila showed low stomatal density that mean efficiency for water management in leaves. The high stomatal index causing high photosynthesis and high yield. Stomatal index were high for genotypes P1 (40.31) and P2 (35.69). Naila has low stomatal index but Zahira as significant as genotype P2. Keyword : density, index, genotype, Naila, Zahira
ABSTRACTIn a long life cycle of oil palm plantation, sustainable water management is mandatory because irrigation is rarely applied. In order to develop water management for sustainable palm oil production, tree-based water footprint of well-established oil palm plantation was assessed. Field data were collected from February to June 2016 in Dolok Ilir managed by PTPN IV, North Sumatera, Indonesia. Additional data were obtained from interviews on the site and the surrounding estates, reports and references. Results showed that water footprint (WF) for production of fresh fruit bunch (FFB) was 510.69 m3 tonne-1 and crude palm oil (CPO) was 517.79 m3 tonne-1. Green, blue and grey water contributed 94.78%, 0.71% and 4.50% in FFB, and 93.48%, 1.66% and 4.85% in CPO productions, respectively. All green WF was calculated basen on actual value of tree evapotranspiration, therefore, the value was mostly lower than other researchs. Low amount of blue water indicates that the oil palm tree in North Sumatera extracts low amount of ground water. On the other hand, grey water for pollution dilution of fertilizers, pesticides and herbicides were high, i.e., 15.15 m3, 4.77 m3, 3.07 m3 tonne-1 FFB, respectively. It implies that reduction of grey water should be implemented in the near future through precission farming.Keywords: CPO, Elaeis guineensis, precission farming, sustainable production, water footprint
Okra (Abelmoschus esculentus L. (Moench.) is high nutrition compound potential for diabetes and Alzheimer. Yield is one of the characters have to improve in plant breeding program through stomata characterization. The variability for 14 genotypes showed significantly for stomatal length, stomatal width, epidermal cell number, chloroplast number, stomatal number, stomatal index and stomatal density. Stomatal density for P2 was 256.80 mm2 that was nonsignificant with Zahira (265.31 mm2) and Naila (204.08 mm2). Genotypes P2, Zahira and Naila showed low stomatal density that mean efficiency for water management in leaves. The high stomatal index causing high photosynthesis and high yield. Stomatal index were high for genotypes P1 (40.31) and P2 (35.69). Naila has low stomatal index but Zahira as significant as genotype P2. Zahira could be high yield genotype candidate.Keyword : candidate, density, index, genotype