
Peningkatan kompleksitas permasalahan kesehatan mental santri menuntut pengembangan model pendampingan yang tetap berakar pada budaya pesantren sekaligus responsif terhadap kebutuhan psikologis kontemporer. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi peran kiai sebagai indigenous counselor dalam mendukung kesehatan mental santri melalui perspektif indigenous Islamic counseling. Penelitian menggunakan pendekatan Integrative Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Artikel diperoleh dari Google Scholar, Garuda, Crossref, dan Scopus berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, pengkodean tematik, sintesis komparatif, dan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya pesantren berfungsi sebagai faktor protektif sekaligus faktor risiko bagi kesehatan mental, bergantung pada kualitas hubungan pertolongan yang berkembang di dalamnya. Indigenous Islamic counseling menjadi mekanisme yang mengintegrasikan spiritualitas, dukungan sosial, dan relasi kiai dengan santri dalam membangun resiliensi serta kesejahteraan psikologis santri. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini merekonstruksi peran kiai ke dalam empat fungsi yang saling terintegrasi, yaitu pedagogis, spiritual, psikososial, dan terapeutik. Temuan ini menghasilkan model konseptual yang menempatkan kiai sebagai aktor utama layanan kesehatan mental berbasis budaya pesantren serta memberikan landasan bagi pengembangan praktik dan kebijakan indigenous Islamic counseling yang lebih kontekstual dan ilmiah. Abstract: The increasing complexity of students' mental health challenges in Islamic boarding schools (pesantren) requires a counseling model that remains rooted in pesantren culture while responding to contemporary psychological needs. This study aims to reconstruct the role of the kiai as an indigenous counselor in supporting students' mental health through the perspective of indigenous Islamic counseling. An Integrative Literature Review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Relevant studies were retrieved from Google Scholar, Garuda, Crossref, and Scopus using predefined inclusion criteria and analyzed through data reduction, thematic coding, comparative synthesis, and critical interpretation. The findings indicate that pesantren culture functions as both a protective and a risk factor for mental health, depending on the quality of helping relationships developed within the community. Indigenous Islamic counseling serves as the mechanism that integrates spirituality, social support, and kiai-student relationships to strengthen resilience and psychological well-being. The study reconstructs the role of the kiai into four integrated functions: pedagogical, spiritual, psychosocial, and therapeutic. These findings produce a conceptual model positioning the kiai as the central actor in culture-based mental health services in pesantren while providing a foundation for developing contextual and evidence-informed indigenous Islamic counseling practices and policies.
Cyberbullying pada remaja dapat menimbulkan dampak psikologis seperti stres, kecemasan, dan menurunnya kesejahteraan mental. Salah satu faktor yang mampu membantu siswa menghadapi kondisi tersebut adalah growth mindset. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh growth mindset terhadap strategi mengatasi cyberbullying pada siswa korban cyberbullying di SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian ex post fakto. Sampel penelitian berjumlah 108 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala growth mindset dan skala cyberbullying, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growth mindset berpengaruh signifikan terhadap strategi mengatasi cyberbullying pada siswa korban cyberbullying dengan nilai F sebesar 32,690 dan signifikansi < 0,001. Nilai R Square sebesar 0,236 menunjukkan bahwa growth mindset memberikan kontribusi sebesar 23,6% terhadap strategi mengatasi cyberbullying. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan growth mindset berperan dalam meningkatkan strategi mengatasi cyberbullying secara lebih adaptif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi strategi mengatasi cyberbullying, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang berperan dalam membantu siswa korban cyberbullying. Abstract: Cyberbullying among adolescents can lead to psychological impacts such as stress, anxiety, and diminished mental well-being. A growth mindset is one factor that can assist students in coping with such situations. This study aimed to analyze the influence of a growth mindset on cyberbullying coping strategies among high school students who have been victims of cyberbullying. A quantitative approach with an ex post facto research design was employed. The sample consisted of 108 students selected using purposive sampling. Data were collected using growth mindset and cyberbullying scales and subsequently analyzed via simple linear regression. The results indicate that a growth mindset significantly influences cyberbullying coping strategies among victimized students (F = 32.690; p < 0.001). An R-squared value of 0.236 demonstrates that a growth mindset contributes 23.6% to the variance in cyberbullying coping strategies. These findings suggest that fostering a growth mindset plays a role in enhancing more adaptive coping strategies. Future research is encouraged to examine other factors influencing cyberbullying coping strategies to gain a more comprehensive understanding of the elements that assist students who are victims of cyberbullying dalam membantu siswa korban cyberbullying.
Rendahnya tingkat empati pada siswa SMP menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius, mengingat empati merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional yang mendukung perkembangan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan empati siswa SMP. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 10 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan skor empati terendah dari 86 siswa kelas 7. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner empati Interpersonal Reactivity Index (IRI) dari Davis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,907. Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai Z = -2,823 dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,005 < 0,05, sehingga hipotesis alternatif diterima. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor empati setelah mendapatkan treatment, dengan rata-rata peningkatan sebesar 10,6 poin. Temuan ini membuktikan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan empati siswa SMP dan berdampak pada pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang lebih interaktif untuk membantu meningkatkan kemampuan sosial dan kepedulian siswa terhadap orang lain. Abstract: The low level of empathy among junior high school students is a problem that requires serious attention, given that empathy is an important aspect of emotional intelligence that supports students' social development. This study aims to examine the effectiveness of group guidance using role playing techniques in improving the empathy of junior high school students. This study employed a quantitative method with a pre-experimental research type and a One Group Pretest-Posttest Design. The sample consisted of 10 students selected using purposive sampling based on the lowest empathy scores from 86 seventh-grade students. The instrument used was Davis's Interpersonal Reactivity Index (IRI) empathy questionnaire, which had been tested for validity and reliability with a Cronbach's Alpha value of 0.907. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed a Z value of -2.823 with an Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.005 < 0.05, so the alternative hypothesis was accepted. All students experienced an increase in empathy scores after receiving the treatment, with an average improvement of 10.6 points. These findings prove that group guidance with role playing techniques is effective in improving the empathy of junior high school students and has implications for the development of more interactive counseling and guidance services to enhance students' social skills and concern for others.
Ketidakmampuan siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan praktik kejuruan yang cukup tinggi menjadi salah satu faktor munculnya problematika grit pada remaja. Di sisi lain, siswa SMK membutuhkan dorongan internal berupa zest agar tetap antusias dan termotivasi dalam belajar. Buku biblioedukasi memiliki potensi tinggi untuk menjembatani persoalan grit dengan memadukan zest sebagai muatan cerita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan desain ADDIE dengan tujuan mengembangkan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit siswa SMK. Namun, karena keterbatasan yang ada, penelitian berhenti sampai validasi ahli dan calon pengguna terhadap produk. Hasil validasi dianalisis dengan teknik inter-rater agreement menunjukkan indeks keberterimaan ahli materi sebesar 1.00, ahli media sebesar 0.96, dan calon pengguna sebesar 0.96. Produk yang dihasilkan berjudul “Buku Penyemangat Diri” memperoleh keberterimaan sangat tepat, sangat berguna, sangat menarik, dan sangat mudah diimplementasikan sebagai media layanan bimbingan dan konseling. Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah melakukan uji efektivitas produk terhadap calon pengguna. Abstract: Students inability to cope with the high demands of academic and vocational practice is one of the factors that contribute to the emergence of grit problems in adolescents. On the other hand, vocational high school students need internal encouragement in the form of enthusiasm to remain enthusiastic and passionate in learning. Biblioeducational books have high potential to bridge the issue of grit by integrating enthusiasm as the content of the story. This study uses the ADDIE research and development design method with the aim of developing a biblioeducational book that produces the character value of enthusiasm to increase the resilience of vocational high school students. However, due to existing limitations, the study stopped at the validation of experts and prospective users of the product. The validation results were explained using the inter-rater agreement technique, showing an agreement index of 1.00 for material experts, 0.96 for media experts, and 0.96 for prospective users. The resulting product, entitled “Buku Penyemangat Diri” received very appropriate acceptance, was very useful, very interesting, and very easy to implement as a guidance and counseling service medium. The main recommendation of this study is to conduct a product effectiveness test on prospective users.
Mahasiswa pengguna second account sering tampak terbuka di ruang digital, namun mengalami kesulitan dalam interaksi langsung sehingga menunjukkan kesenjangan antara ekspresi diri daring dan keterbukaan interpersonal. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara self-compassion dan self-disclosure pada mahasiswa pengguna second account, yang masih terbatas dikaji sebagai ruang ekspresi emosional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan sampel 239 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale dan Self-Disclosure Scale, kemudian dianalisis menggunakan uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan kekuatan sangat lemah (r = 0,131; p < 0,05), yang menunjukkan kontribusi self-compassion relatif minimal terhadap self-disclosure. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan menerima diri belum secara langsung terkonversi menjadi keterbukaan interpersonal. Keterbukaan diri lebih dipengaruhi faktor relasional, seperti kepercayaan dan rasa aman, serta konteks penggunaan second account sebagai ruang ekspresi alternatif. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling perlu mengintegrasikan pengembangan self-compassion dengan keterampilan interpersonal. Penelitian selanjutnya disarankan mempertimbangkan variabel seperti interpersonal trust, self-esteem, dan kecemasan sosial. Abstact: University students who use second accounts often appear open in digital spaces but experience difficulties in direct interpersonal interactions, indicating a gap between online self-expression and interpersonal self-disclosure. This study aimed to examine the relationship between self-compassion and self-disclosure among students who use second accounts, which remain underexplored as spaces for emotional expression. This study employed a quantitative correlational approach involving 239 students from Universitas Lambung Mangkurat selected through purposive sampling. Data were collected using the Self-Compassion Scale and Self-Disclosure Scale and analyzed using the Pearson correlation test. The results showed a positive and significant relationship with a very weak correlation strength (r = 0.131; p < 0.05), indicating a relatively minimal contribution of self-compassion to self-disclosure. The findings suggest that self-acceptance does not directly translate into interpersonal openness. Self-disclosure was influenced more by relational factors, such as trust, psychological safety, and the use of second accounts as alternative spaces for emotional expression. The findings imply that Guidance and Counseling services should integrate self-compassion development with interpersonal skills training. Future studies are recommended to examine interpersonal trust, self-esteem, and social anxiety.
Berbagai tantangan sosial-kognitif pada siswa SMA sering kali menghambat perkembangan optimal siswa remaja, sementara efektivitas layanan konseling kelompok dengan teknik modeling dalam mengatasi fenomena ini masih menunjukkan hasil yang belum konsisten pada penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas konseling kelompok berbasis teknik modeling dalam menurunkan perilaku cyberbullying pada peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan Quasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Subjek penelitian terdiri atas 16 peserta didik yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang diterapkan meliputi uji Uji Wilcoxon (Wilcoxon Signed-Rank Test) untuk melihat perubahan setelah pemberian perlakuan serta uji Mann-Whitney U untuk membandingkan kedua kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konseling kelompok dengan teknik modeling efektif terhadap cyberbullying pada peserta didik, terdapat perbedaan hasil nilai cyberbullying antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sesudah diberikan perlakuan. Abstract: Various socio-cognitive challenges faced by high school students often hinder the optimal development of adolescents, while the effectiveness of group counseling services utilizing modeling techniques to address this issue has yielded inconsistent results in previous studies. Thus, this study aims to examine the effectiveness of modeling-based group counseling in reducing cyberbully behavior in students of SMA X Surakarta. This study used a quasi-experimental approach with a non-equivalent control group design. The research subjects consisted of 16 students selected through a purposive sampling technique. Data collection was carried out using a cyberbullying scale that has a Cronbach's Alpha reliability coefficient of 0.88. Data analysis techniques applied included the Wilcoxon test to see changes after treatment and the Mann-Whitney U test to compare the two groups. The results of this study indicate that group counseling with modeling techniques is effective against cyberbully in students. This is based on the results of the Z value = -3.368 with an Asymp. Sig. value. (2-tailed) (0.01≤0.05) which means there is a difference in the cyberbullying scores between the experimental group and the control group after being given treatment.
Rendahnya self-esteem pada remaja dapat mengakibatkan kurangnya kemampuan manajemen emosi serta rendahnya kepercayaan diri dalam melakukan tugas-tugas perkembangan dengan baik. Permasalahan rendahnya self-esteem pada remaja harus dilakukan penanganan yang efektif. Art therapy adalah metode terapeutik yang dapat efektif digunakan untuk dapat meluapkan emosi pada individu dengan menggunakan media yang menarik dan memberikan kebebasan dalam membuat kreasi sebagai sarana dalam meluapkan emosi. Implementasi pendekatan art therapy dalam konseling kelompok dinilai efektif dalam meningkatkan self-esteem pada remaja awal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana efektivitas konseling kelompok pendekatan art therapy dalam meningkatkan self-esteem yang merupakan konsep dari harga diri. Implementasi art therapy dalam konseling kelompok dinilai efektif dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para remaja melalui penggunaan metode dan media seni dengan manghasilkan karya seni sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan dan emosi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi eksperimental design. Desain penelitian yang digunakan untuk mengukur perubahan tingkat self-esteem siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi adalah adalah one group pretest posttest. Analisis data yang digunakan untuk menguji perbedaan tingkat self-esteem sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi menggunakan Uji Wilcoxon. Berdasar pada hasil uji analisis data pretest-posttes didapatkan hasil bahwa implementasi art therapy dalam konseling kelompok dengan menggunakan metode dan media seni dalam menghasilkan karya seni efektif dalam meningkatkan self-esteem pada remaja awal. Peningkatan self-esteem ini terlihat dengan terjadinya perubahan pada tingkat kepercayaan diri siswa ketika menghasilkan dan mempresentasikan hasil karya seni. Abstract: Low self-esteem among adolescents can lead to difficulties in emotion management and reduced self-confidence in carrying out developmental tasks effectively. Therefore, effective interventions are needed to address low self-esteem among adolescents. Art therapy is a therapeutic method that can facilitate emotional expression through engaging media and provide individuals with the freedom to create as a means of expressing their emotions. The implementation of an art therapy approach in group counseling is considered a potential intervention for enhancing self-esteem among early adolescents. This study aims to examine the effectiveness of group counseling using an art therapy approach in improving self-esteem, which refers to an individual's sense of self-worth. The implementation of art therapy in group counseling enables adolescents to address the challenges they experience through artistic methods and media, with the creation of artwork serving as a medium for expressing feelings and emotions. This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental design. A one-group pretest–posttest design was used to measure changes in students' self-esteem before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test to examine differences in self-esteem levels before and after the intervention. The results of the pretest–posttest data analysis indicated that the implementation of art therapy in group counseling, using artistic methods and media to facilitate the creation of artwork, was effective in improving self-esteem among early adolescents. The improvement in self-esteem was reflected in increased students' self-confidence, particularly in creating and presenting their artwork.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan penting dalam perkembangan fisik, emosional, dan psikologis anak. Selama proses tersebut, kehadiran ayah memiliki kontribusi besar terhadap kesejahteraan emosional remaja. Namun, tidak semua remaja perempuan merasakan kehadiran dan kasih sayang ayah yang memadai. Kondisi fatherless dapat memengaruhi kesehatan mental remaja dan meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah psikologis, seperti stres, kesepian, kecemasan, dan depresi. Untuk mengatasi tekanan emosional yang sulit diungkapkan, sebagian remaja perempuan melakukan perilaku self-injury sebagai bentuk pelampiasan dan strategi coping, meskipun hanya memberikan kelegaan sementara tanpa menyelesaikan akar permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan dinamika perilaku self-injury pada remaja perempuan yang mengalami fatherless. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan yang mengalami fatherless cenderung menggunakan self-injury sebagai cara mengelola stres dan tekanan emosional yang sulit dikomunikasikan secara verbal. Temuan ini memperkuat pemahaman dalam psikologi perkembangan dan psikologi klinis mengenai hubungan antara ketidakhadiran figur ayah, regulasi emosi, dan perilaku melukai diri. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian tentang faktor keluarga dan kesehatan mental remaja serta upaya pencegahan perilaku self-injury melalui strategi coping yang lebih adaptif dalam layanan konseling. Abstract: The family is the primary environment that plays a crucial role in a child's physical, emotional, and psychological development. During this process, the presence of a father significantly contributes to an adolescent's emotional well-being. However, not all adolescent girls experience adequate paternal presence and affection. Fatherlessness can impact adolescent mental health and increase the risk of various psychological problems, such as stress, loneliness, anxiety, and depression. To cope with emotional distress that is difficult to express, some adolescent girls engage in self-injury as a form of outlet and coping strategy, although this only provides temporary relief without addressing the root cause. This study aims to examine the characteristics and dynamics of self-injury behavior in fatherless adolescent girls. The method used was a qualitative study with a phenomenological approach to understand the participants' subjective experiences. The results indicate that fatherless adolescent girls tend to use self-injury as a way to manage stress and emotional distress that is difficult to communicate verbally. These findings strengthen the understanding in developmental and clinical psychology regarding the relationship between father absence, emotion regulation, and self-injury behavior. In addition, this research contributes to the development of studies on family factors and adolescent mental health as well as efforts to prevent self-injury behavior through more adaptive coping strategies in counseling services.
Perkembangan media digital yang semakin pesat menyebabkan remaja lebih sering terpapar konten instan dan repetitif yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis serta kemampuan kognitif. Salah satu fenomena yang muncul akibat kondisi tersebut adalah brain rot, yaitu menurunnya kualitas fokus, konsentrasi, dan pemrosesan informasi akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kondisi ini menjadi penting untuk dikaji karena dapat berkaitan dengan psychological well-being remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological well-being dengan brain rot pada siswa sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 162 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well-being dan skala brain rot berbentuk skala likert. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah, sedangkan brain rot berada pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being dengan brain rot. Semakin tinggi brain rot yang dialami siswa, maka semakin rendah psychological well-being yang dimiliki. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam membantu siswa meningkatkan regulasi diri, pengelolaan penggunaan media digital, serta kemampuan menjaga kesejahteraan psikologis di era digital. Abstract: The rapid development of digital media has caused adolescents to be increasingly exposed to instant and repetitive content that may affect their psychological condition and cognitive abilities. One phenomenon emerging from this condition is brain rot, which refers to the decline in focus, concentration, and information-processing quality due to excessive digital content consumption. This condition is important to examine because it may be associated with adolescents’ psychological well-being. This study aimed to determine the relationship between psychological well-being and brain rot among junior high school students. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 162 students selected using purposive sampling techniques, with the criterion of actively using social media for at least two hours per day. Data were collected using psychological well-being and brain rot scales in the form of Likert scales. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. The results showed that students’ psychological well-being tended to be in the low category, while brain rot levels were in the moderate to high category. The correlation test results indicated a significant negative relationship between psychological well-being and brain rot . The higher the level of brain rot experienced by students, the lower their psychological well-being. The findings of this study can serve as a basis for developing guidance and counseling services, particularly in helping students improve self-regulation, manage digital media use, and maintain psychological well-being in the digital era.
Fenomena kecemasan sosial pada siswa SMA menjadi perhatian yang semakin meningkat saat ini. Kondisi ini menuntut pemahaman yang mendalam mengenai faktor-faktor psikologis yang berperan dalam memicu kecemasan sosial pada siswa. Kecemasan sosial dapat menghambat perolehan pengetahuan dan keterampilan siswa yang berdampak negatif pada karir di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara harga diri dan motivasi terhadap tingkat kecemasan sosial pada siswa SMA. Desain penelitian menggunakan metode survei untuk mengumpulkan data dari sampel siswa SMA kelas X (N = 130), melalui kuesioner yang terstruktur. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner harga diri, kuesioner motivasi, dan kuesioner kecemasan sosial. Analisis data menggunakan uji validitas, reliabilitas, analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri dan motivasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan sosial pada siswa SMA. Implikasi penelitian terkait upaya untuk meningkatkan harga diri dan motivasi siswa untuk mengurangi kecemasan sosial. Kebaruan penelitian terletak pada pengujian empiris pengaruh simultan harga diri dan motivasi terhadap kecemasan sosial pada siswa SMA. Sedangkan kontribusi penelitian terkait pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor psikologis yang memengaruhi kecemasan sosial remaja, serta menyediakan dasar empiris bagi pengembangan program pencegahan dan intervensi dalam konteks layanan bimbingan dan konseling di sekolah.Abstract: The phenomenon of social anxiety in high school students is currently becoming an increasing concern. This condition requires a deep understanding of the psychological factors that play a role in triggering social anxiety in students. Social anxiety can hinder students' acquisition of knowledge and skills which have a negative impact on their future careers. This study aims to analyze the influence of self-esteem and motivation on the level of social anxiety in high school students. The research design used a survey method to collect data from a sample of high school students in grade X (N = 130), through a structured questionnaire. The research instrument used a self-esteem questionnaire, a motivation questionnaire, and a social anxiety questionnaire. Data analysis used validity tests, reliability, descriptive analysis and multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that self-esteem and motivation have a significant influence on social anxiety in high school students. The implications of the study are related to efforts to improve students' self-esteem and motivation to reduce social anxiety. The novelty of the study lies in the empirical testing of the simultaneous influence of self-esteem and motivation on social anxiety in high school students. Meanwhile, the contribution of the study is related to an in-depth understanding of the psychological factors that influence adolescent social anxiety, as well as providing an empirical basis for the development of prevention and intervention programs in the context of guidance and counseling services in schools.
Fenomena individualisme kian merebak bahkan dikalangan pelajar di sekolah. Fenomena ini sangat berdampak pada hubungan interpersonal, pengembangan karakter, bahkan nilai-nilai sosial. Tujuan dilakukannya penelitian ini, untuk menyelidiki hubungan antara self-compassion, kecerdasan emosional, dan altruisme pada siswa khususnya siswa kelas XI di mana pada rentang usia kelas XI ini, perkembangan emosional, interaksi ke sekitar, maupun mental berpikir telah matang dan signifikan. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan pembaruan data khususnya di ranah bimbingan dan konseling dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif jenis korelasional serta dengan analisis data hipotesis uji regresi berganda pada 233 siswa yang dipilih dengan random sampling. Penelitian memperoleh hasil dari ketiga variabel memiliki hubungan yang signifikan antara self-compassion, kecerdasan emosional, dan altruisme. Serta kesimpulan akhir dari penelitian ini yaitu ketiga variabel memiliki korelasi dan saling terhubung. Hal ini memberikan manfaat sangat penting untuk guru BK, agar dapat memberikan layanan terkait altruisme dengan mempertimbangkan aspek seperti self-compassion dan kecerdasan emosional siswa.Abstract: The phenomenon of individualism is increasingly spreading, even among students in schools. This phenomenon significantly impacts interpersonal relationships, character development, and even social values. The purpose of this research is to investigate the relationship between self-compassion, emotional intelligence, and altruism among students, particularly those in the eleventh grade, as this age range represents a period where emotional development, interaction with the environment, and mental thinking have matured and become significant. Therefore, the results of this study can provide contributions and data updates, especially in the realm of guidance and counseling in organizing guidance and counseling services in educational institutions.. Using a quantitative correlational approach and hypothesis testing through multiple regression analysis on data collected from 233 students selected through random sampling, the research found that the three variables have a significant relationship between self-compassion, emotional intelligence, and altruism. The final conclusion of this study is that all three variables are correlated and interconnected. This finding provides very important benefits for guidance counselors, enabling them to offer services related to altruism while considering aspects such as self-compassion and emotional intelligence in students.
Psychological well-being berperan penting dalam kehidupan remaja. Remaja rentan mengalami kondisi psikologis yang kurang baik seperti, kecemasan, stres, dan depresi, sehingga dapat mempengaruhi remaja dalam mencapai kondisi psychological well-being yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh spiritual, spiritualitas, religion, dan religiusitas terhadap psychological well-being pada remaja, dan integrasi nilai-nilai Islam dalam layanan bimbingan dan konseling dalam meningkatkan psychological well-being remaja. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review, dengan mencari data-data yang relevan melalui database Sinta, Springer, dan Taylor & Francis Group. Desain penelitian menggunakan Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytics (PRISMA). Kriteria inklusi ditentukan untuk membatasi pencarian data penelitian, dan diperoleh 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil systematic literature review menunjukkan bahwa, (1) spiritual, spiritualitas, dan religion berpengaruh positif terhadap psychological well-being, namun pada saat yang sama, religiusitas tidak berhubungan secara signifikan dengan psychological well-being; dan (2) mengintegrasikan nilai-nilai islam atau ajaran Islam dalam layanan bimbingan dan konseling dapat membantu meningkatkan psychological well-being remaja.Abstract: Psychological well-being plays a vital role in the lives of adolescents. Adolescents are prone to experiencing unfavorable psychological conditions such as anxiety, stress, and depression, which can affect adolescents in achieving good psychological well-being. This study aims to analyze the influence of spirituality, spirituality, religion, and religiosity on psychological well-being in adolescents and the integration of Islamic values in guidance and counseling services in improving adolescent psychological well-being. This research uses a systematic literature review method, searching for relevant data through the Sinta, Springer, and Taylor & Francis Group databases. The research design used Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytics (PRISMA). Inclusion criteria were determined to limit the search for research data, and 11 articles were obtained that met the inclusion criteria. The results of the systematic literature review showed that (1) spirituality, spirituality, and religion have a positive effect on psychological well-being, but at the same time, religiosity is not significantly related to psychological well-being; and (2) integrating Islamic values or Islamic teachings in guidance and counseling services can help improve adolescents' psychological well-being.
Era disrupsi memberikan pengaruh besar dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang keilmuan bimbingan dan konseling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan konseling guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Kejuruan berdasarkan perspektif supervisi klinis. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah 5 orang guru Bimbingan dan Konseling. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen supervisi konseling individual. Teknik analisis data menggunakan rumus statistik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 13 jenis keterampilan konseling berdasarkan perspektif supervisi klinis, 5 keterampilan berkategori tinggi, 7 keterampilan berkategori sedang, dan 1 keterampilan berkategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan konseling guru Bimbingan dan Konseling masih dominan pada kategori sedang.Abstract: The era of disruption has a major influence on every aspect of human life, including in the field of guidance and counseling science. The purpose of this study was to determine the counseling skills of Guidance and Counseling teachers in Vocational High Schools based on the perspective of clinical supervision. The approach used in this study is a quantitative approach with a quantitative descriptive method. The sample used was 5 Guidance and Counseling teachers. The data collection technique used an individual counseling supervision instrument. The data analysis technique used a percentage statistical formula. The results of the study showed that out of 13 types of counseling skills based on the perspective of clinical supervision, 5 skills were categorized as high, 7 skills were categorized as medium, and 1 skill was categorized as low. This finding indicates that the counseling skills of Guidance and Counseling teachers are still dominant in the medium category.
Tingginya prevalensi phubbing di kalangan remaja berpotensi menurunkan kemampuan komunikasi interpersonal dan meningkatkan masalah psikososial seperti kecemasan dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecenderungan perilaku phubbing pada peserta didik serta mengkaji implikasinya terhadap layanan bimbingan dan konseling. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional survey, melibatkan 1.375 responden. Instrumen yang digunakan adalah Generic Scale of Phubbing (GSP) yang mengukur empat dimensi: nomophobia, interpersonal conflict, self-isolation, dan problem acknowledgement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori phubbing ringan hingga sedang, dengan tingkat tertinggi pada dimensi nomophobia dan problem acknowledgement. Laki-laki cenderung lebih banyak pada kategori phubbing berat, sementara perempuan mendominasi kategori phubbing sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku phubbing telah menjadi fenomena umum di kalangan remaja dan menuntut perhatian serius dari pihak sekolah. Layanan Bimbingan dan Konseling diperlukan untuk mengakomodasi tantangan perkembangan digital yang berdampak pada terjadinya perilaku phubbing.Abstract: The high prevalence of phubbing among adolescents has the potential to reduce interpersonal communication skills and increase psychosocial problems such as anxiety and depression. This study aims to describe the tendency of phubbing behavior among students and examine its implications for guidance and counseling services. The method used is a quantitative descriptive approach with a cross-sectional survey design, involving 1,375 respondents. The instrument used is the Generic Scale of Phubbing (GSP), which measures four dimensions: nomophobia, interpersonal conflict, self-isolation, and problem acknowledgement. The results show that the majority of students fall into the mild to moderate phubbing category, with the highest levels in the dimensions of nomophobia and problem acknowledgement. Males tend to fall more into the severe phubbing category, while females dominate the moderate phubbing category. These findings indicate that phubbing behavior has become a common phenomenon among adolescents and requires serious attention from schools. Guidance and counseling services are needed to accommodate the challenges of digital development that contribute to the emergence of phubbing behaviour.
Generasi Z menghadapi tantangan eksistensial yang kompleks akibat arus digitalisasi dan krisis identitas, yang berdampak pada penurunan makna hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan konseling Islami berbasis teori Imam Al-Ghazali dalam meningkatkan makna hidup Generasi Z. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima informan berusia 17–25 tahun yang mengalami krisis makna hidup dan telah menjalani konseling Islami. Analisis data dilakukan secara tematik, dengan fokus pada lima konsep utama: muhasabah, taubat, sabar, syukur, dan tazkiyatun nafs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menjalani konseling islami, informan mengalami transformasi spiritual dan psikologis yang signifikan. Mereka mulai menjalani hidup dengan lebih tenang, penuh syukur, dan memiliki arah yang jelas. Nilai-nilai spiritual yang diajarkan Imam Al-Ghazali terbukti efektif membentuk kesadaran transendental yang berdampak pada kestabilan emosi, peningkatan ibadah, dan keseimbangan hidup. Konseling Islami berperan sebagai jembatan dalam menghubungkan individu dengan nilai-nilai spiritual yang memberi makna mendalam pada hidup mereka.Abstract : Generation Z faces existential challenges arising from digitalization and identity crises, leading to a decline in life meaning. This study aims to explore the role of Islamic counseling based on Imam Al-Ghazali’s thought in enhancing life meaning among Generation Z. The study employed a descriptive qualitative method with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving five informants aged 17–25 who had experienced a life meaning crisis and undergone Islamic counseling. Thematic analysis focused on five key concepts: muhasabah (self-reflection), taubah (repentance), sabr (patience), syukr (gratitude), and tazkiyatun nafs (soul purification). The results indicate significant psychological and spiritual transformation after Islamic counseling. Informants reported increased emotional stability, gratitude, and spiritual awareness that shaped a clearer life direction. Imam Al-Ghazali’s teachings effectively facilitated the development of transcendental consciousness and a balanced life. Islamic counseling served as a bridge connecting individuals with spiritual values that provide deeper meaning and purpose in life.
Fenomena pertemanan toxic di kalangan remaja sering kali mengarah pada masalah konflik interpersonal dan dampak psikologis yang mengganggu perkembangan emosional dan sosial siswa. Masalah ini memerlukan pendekatan yang efektif untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat. Pendekatan restorative justice menjadi alternatif yang relevan, dengan memfokuskan pada pemulihan hubungan antar individu melalui dialog dan penyelesaian masalah secara bersama-sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan restorative justice dalam mengatasi pertemanan toxic di kalangan siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan wawancara dengan siswa, guru, dan pihak terkait di sekolah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai peran restorative justice dalam mengurangi perilaku toxic serta meningkatkan interaksi sosial yang konstruktif. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap layanan bimbingan dan konseling (BK) dengan memberikan rekomendasi dalam merancang program intervensi berbasis prinsip keadilan restoratif untuk mencegah dan menyelesaikan pertemanan toxic di kalangan remaja.Abstract: The phenomenon of toxic friendships among adolescents often leads to issues of interpersonal conflict and psychological impacts that disrupt the emotional and social development of students. This issue requires an effective approach to create a healthier social environment. Restorative justice is a relevant alternative approach, focusing on restoring relationships between individuals through dialogue and collaborative problem-solving. This study aims to examine the application of restorative justice in addressing toxic friendships among students. The method used is qualitative research with a case study approach, involving interviews with students, teachers, and other relevant parties at the school. This research is expected to provide deeper insights into the role of restorative justice in reducing toxic behaviors and enhancing constructive social interactions. Additionally, the results of this study are expected to contribute to counseling services by providing recommendations for designing intervention programs based on restorative justice principles to prevent and resolve toxic friendships among adolescents.
Gangguan mental emosional pada siswa semakin meningkat, terutama pada siswa dari keluarga terpecah (broken home). Hal ini menyebabkan stress, kecemasan dan depresi pada siswa, sehingga mempengaruhi kesejahteraan mental siswa. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan gangguan mental emosional siswa pada keluarga broken home di SMA. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis komparatif/perbandingan. Teknik pengumpulan data menggunakan skala psikologi berupa skala Likert dengan jumlah 82 pertanyaan positif (favorable) dan pertanyaan negatif (unfavorable). Sampel untuk penelitian ini diambil dari populasi dengan memanfaatkan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah uji ANOVA satu arah yang asumsinya dipenuhi terlebih dahulu dengan melakukan uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov Statistic) dan uji homogenitas varians (Levene’s). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat gangguan mental emosional siswa dari ketiga sekolah yang diteliti tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan Bimbingan dan Konseling, terutama dalam merancang intervensi yang adil dan responsif terhadap kebutuhan siswa yang berasal dari keluarga yang tidak utuh di berbagai sekolah.Abstract: Emotional mental disorders in students are increasing, especially in students from broken homes. This causes stress, anxiety and depression in students, thus affecting students’ mental well-being. This study aims to compare emotional mental disorders of students in broken home families in high schools. This research method uses a quantitative method of comparative/compare son type. The data collection technique uses a psychological scale in the from of a Likert scale with a total of 82 positive questions (favorable) and negative questions (unfavorbale). The sampel for this study was taken from the population using a purposive sampling technique. The dara analysis used was a one-way ANOVA test whose assumptions were by conducting a normality test (Kolmogorov-Smirnov Statistic) and a homogeneity test of variance (Levens’s). The research findings indicate that the level of emotional mental disorders among students from the three school studied does not show any significant differences. In addition, these findings provide valuable insights for the development of Guidance and Counseling, particularly in designing fair and responsive intervention programs that address the needs of students from broken families in various schools.
Rendahnya self-acceptance dapat memicu berbagai permasalahan psikologis, termasuk kecemasan sosial dan rendahnya rasa percaya diri, yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, seperti bromhidrosis yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan sosial dan psikologis. Kurangnya penerimaan diri dapat membuat individu lebih rentan terhadap stres dan perasaan malu, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi bromhidrosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerimaan diri mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas PGRI Yogyakarta serta hubungannya dengan upaya pencegahan bromhidrosis. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara terhadap mahasiswa baru. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara penerimaan diri dan kondisi Bromhidrosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat penerimaan diri yang tinggi lebih mampu mengelola kecemasan sosial dan memiliki strategi koping yang lebih baik dalam menjaga kebersihan diri, sehingga dapat mengurangi risiko bromhidrosis. Sebaliknya, mahasiswa dengan penerimaan diri rendah cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi, yang dapat memperburuk kondisi keringat berlebih dan meningkatkan risiko bromhidrosis. Abstrack: Low self-acceptance can trigger various psychological problems, including social anxiety and low self-confidence, which have the potential to worsen health conditions, such as bromhidrosis which can cause social and psychological discomfort. Lack of self-acceptance can make individuals more susceptible to stress and feelings of shame, which can ultimately worsen bromhidrosis. This study aims to analyze the level of self-acceptance of new students in the Guidance and Counseling Study Program, FKIP, Universitas PGRI Yogyakarta and its relationship to bromhidrosis prevention efforts. This research method uses a qualitative approach with interview techniques for new students. The research instrument is in the form of interview guidelines for self-acceptance and Bromhidrosis conditions. The results of the study showed that students with high levels of self-acceptance are better able to manage social anxiety and have better coping strategies in maintaining personal hygiene, thereby reducing the risk of bromhidrosis. Conversely, students with low self-acceptance tend to have higher levels of stress, which can worsen excessive sweating and increase the risk of bromhidrosis.
Rendahnya pendidikan seksual pada peserta didik akan menimbulkan banyak hal-hal negatif terjadi, seperti maraknya pergaulan seks bebas luar nikah. Kurangnya pengetahuan pendidikan seksual akan mempengaruhi perkembangan perilaku seksual peserta didik, sehingga cenderung tidak sesuai dengan kesiapan usia dan kematangan psikologis yang memadai. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik diskusi dalam bimbingan kelompok untuk meningkatkan pengetahuan pendidikan seksual peserta didik. Metode yang digunakan adalah pra-eksperimental dengan desain one-group pretest-posttest design. Instrumen yang digunakan berupa angket pengetahuan pendidikan seksual. Hasil studi menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada pengetahuan pendidikan seksual peserta didik sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Abstract: The low level of sexual education in students will cause many negative things to happen, such as the rampant free sex outside of marriage. Lack of knowledge of sexual education will affect the development of students' sexual behavior, so that it tends not to be in accordance with adequate age readiness and psychological maturity. This study aims to determine the effectiveness of discussion techniques in group guidance to improve the knowledge of sexual education of students. The method used is pre-experimental with a one-group pretest-posttest design. The instrument used is a questionnaire on sexual education knowledge. The results of the study showed a significant difference in students' knowledge of sexual education before and after the intervention.
Layanan karir untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan layanan yang membantu siswa merencanakan karirnya secara matang, tetapi selama ini media yang dikembangkan masih sangat kurang dan belum berbentuk media digital sehingga aksesnya terbatas untuk digunakan.sehingga tujuan penelitian pengembangan ini adalah mengembangkan media games digital untuk membantu eksplorasi karir ABK. Pentingnya kemampuan dan kematangan siswa berkebutuhan khusus dalam merencanakan karir yang sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Masih kurangnya tingkat kematangan perencanaan karir siswa menjadikan timbulnya masalah dalam kehidupannya kedepan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (R&D) dengan model yang mengadaptasi dari tahapan pengembangan Borg dan Gall menjadi 7 tahap pengembangan. Produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah games digital tentang eksplorasi karir yang bisa dimainkan oleh siswa berkebutuhan khusus. Produk games eksplorasi karir ini telah melalui uji keberterimaan dan kelayakan berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli materi, ahli media, praktisi dan calon pengguna dan memperoleh hasil sebesar 89,80% yang artinya produk games eksplorasi karir ini sangat layak untuk digunakan di lapangan sebagai media layanan informasi karier untuk siswa berkebutuhan khusus. Media ini dapat membantu guru BK dalam menyediakan layanan bimbingan karir, serta mendorong siswa agar dapat melatih kemampuan dalam mengeksplorasi karir secara mandiri. Abstract: The purpose of this research is to develop digital game media to help explore the careers of students with special needs. The importance of the ability and maturity of students with special needs in planning a career that suits their talents and interests is the reason for conducting this research. The lack of maturity in students' career planning causes problems in their future lives. This research uses the research and development (R&D) method with a development model that adapts the stages of Borg and Gall's development into 7 stages of development. The product resulting from this research is a digital game about career exploration that can be played by students with special needs. This career exploration game product has gone through an acceptance and feasibility test based on the results of the assessment carried out by material experts, media experts, practitioners and prospective users and obtained a result of 89.80% which means that this career exploration game product is very suitable for use in the field as a career information service media for students with special needs. This media can help BK teachers in providing career guidance services, as well as encourage students to be able to practice their ability to explore careers independently.