
Peradaban era kesultanan Palembang memiliki proses perjalanan sejarah yang panjang. Mulai dari masa kejayaan Sriwijaya, runtuhnya Sriwijaya, masa perdagangan Palembang sebagai pusat, masa kesultananan Palembang hingga masuk pada kolonial Belanda. Islam masuk ke Palembang pada abad ke-16 dan berkembang pesat, mengubah tatanan sosial dan politik masyarakat setempat. Artikel ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan prosedur dan teknik deskriptif, yang berfokus pada sumber data dari kepustakaan, terutama literatur yang relevan untuk objek yang diteliti. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Transformasi pada era kesultanan Palembang ini mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang diwarnai oleh interaksi antara pengaruh global dan tradisi lokal, dan menjadikan Palembang sebagai salah satu pusat peradaban Islam yang penting di Indonesia.
Artikel ini menganalisis proses pengambilan kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menanggapi bencana ekologis banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Padang (Sumatera Barat) pada akhir 2025 dari perspektif nilai-nilai politik Islam. Dengan menggunakan kerangka Maqasid al-Shariah dan prinsip etika Islam seperti keadilan (adl), kepedulian sosial (maslahah), amanah (tanggung jawab moral), syura (konsultasi), serta perlindungan lingkungan (hifz al-bi’ah), artikel ini mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut tampak dalam proses kebijakan publik yang diambil pemerintah Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa kebijakan darurat mencerminkan beberapa nilai politik Islam secara implisit, seperti prioritas kesejahteraan masyarakat, tanggung jawab moral pemimpin, serta kesadaran ekologis terkait faktor penyebab bencana. Namun, terdapat juga tantangan dalam implementasinya, termasuk kritik publik mengenai sensitivitas sosial dan penetapan status bencana nasional. Artikel ini memberikan wawasan tentang hubungan antara nilai moral Islam dan praktik kebijakan negara dalam konteks krisis ekologis yang kompleks.
Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sekaligus negeri Timur yang terkenal santun, namun mengalami banyak persoalan moral di media sosial yang sangat memprihatinkan. Media sosial selain memiliki dampak positif, juga memiliki dampak negative yang sangat memprihatinkan kasus kekerasan di media sosial, pelanggaran etika profasi di media juga aneka persoalan lainnya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penggunaan Media Sosial di Kalangan Mahasantri Ma’had aly Fatimah Az-Zahra Magetan dan menganalisis dampak penggunaan media sosial terhadap praktik agama Islam di lembaga tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengeksplorasi dan menganalisis dampak penggunaan media sosial di suatu pesantren. Informan penelitian 7 orang dipilih secara purposive sebagai informan kunci. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data melalui reduksi data, display dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data dengan meningkatkan ketekunan dan trianggulasi data dan sumber. Hasil penelitian ini adalah penggunaan media sosial di kalangan mahasantri Ma’had aly Ftatimah az-Zahra yaitu sebagai sarana berdakwah menyebarkan ilmu agama, menambah ilmu pengetahuan, dan sarana promosi. Dampak positif media sosial terhadap perilaku keagamaan mahasantri yaitu lebih mudah untuk mencari informasi ilmu keagamaan, sarana menyebarkan agama islam dan sarana promosi. Sedangkan dampak negatif mahasantri menjadi suka menunda-nunda waktu untuk menghafalkan Al-Qur’an dan sholat serta kurangnya kepedulian terhadap lingkungan.
K.H. Muhammad Nuh memiliki peran dalam pengembangan kebudayaan Islam di Cilongok dari tahun 1900-1986. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan serta peran K.H. Muhammad Nuh terhadap kebudayaan Islam di Cilongok. Metode penelitian yang digunakan ialah sejarah lokal. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian dengan beberapa tahapan yang meliputi: Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi. Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa setelah kedatangan K.H. Muhammad Nuh datang pada tahun 1936 ke Cilongok yang berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan Islam. Kedatangan K.H. Muhammad Nuh memberikan peran yang signifikan terhadap perkembangan kebudayaan Islam yang semakin meluas. Melalui dakwah yang disebarkan oleh K.H. Muhammad Nuh berpengaruh baik bagi masyarakat sekitar sampai membangun lembaga pendidikan Islam yang diikuti oleh masyarakat sekitar dan dua santri pengikut K.H. Muhammad Nuh. Setelah itu, setiap bulan Ramadhan banyak santri berdatangan dari daerah lain hingga berubah menjadi Pondok Pesantren Darul Hikmah sampai sekarang. Simpulan dalam penelitian ini ialah K.H. Muhammad Nuh memegang peran yang kuat dalam mengembangkan kebudayaan Islam di Cilongok.
Petilasan Nyi Mas Ratu Subang Larang di Muara Binuangeun dapat berpotensi sebagai wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Penelitian ini mengkaji tentang keberadaan Petilasan Nyi Mas Ratu Subang Larang serta mengungkap memory dan cerita yang ada di masyarakat seputar kedatangan Nyi Mas Ratu Subang Larang di Muara Binuangeun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pengumpulan sumber berupa kisah atau cerita yang berkembang di masyarakat, memory kolektif, studi literatur, serta pengamatan potensi wisata di kawasan ini. Hasil penelitian ini diantaranya mendeskripsikan bahwa berdasarkan cerita rakyat yang beredar, kedatangan Nyi Mas Ratu Subang Larang ke kawasan pesisir Muara Binuangeun merupakan titik awal masuknya Islam di daerah tersebut. Hal tersebut diperkuat oleh adanya situs petilasan Nyi Mas Ratu Subang Larang yang merupakan hasil penelusuran para keturunannya yang berasal dari Cirebon. Penemuan situs di Kampung Kembang Ranjang (salah satu perkampungan di Muara Binuangeun) tersebut melibatkan 40 ulama Cirebon untuk mengungkap keterkaitan situs tersebut dengan Nyi Mas Ratu Subang Larang. Kini, situs tersebut ramai dikunjungi, dan beberapa pihak meyakini situs tersebut merupakan Makam sesungguhnya dari Nyi Mas Ratu Subang Larang. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan kepada pembaca terkait wisata sejarah Petilasan Nyi Mas Ratu Subang Larang yang terdapat di Muara Binuangeun, Lebak-Banten.
The film Rumah untuk Alie (2025) is an Indonesian family drama that highlights issues of domestic violence, bullying, and the psychological trauma experienced by a teenage girl who is blamed for her mother’s death. This study aims to analyze the representation of trauma and the meaning of “home” in the film through Roland Barthes’ semiotic framework, which consists of three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The research method employs a qualitative-descriptive analysis with data collected from observations of the official trailer, published synopses, promotional materials, media, and media reviews. The findings show that the home functions not merely as a physical space but as a symbolic site of deep trauma for the character Alie. At the denotative level, the home appears as the primary setting for verbal and physical violence perpetrated by her father and brothers. At the connotative level, the home generates metaphorical meanings related to emotional wounds, gendered injustice, and psychological pressure within a patriarchal family structure. At the mythic level, the film deconstructs and critiques cultural assumptions about the home as the safest place and the idealization of the harmonious family. The study concludes that Rumah untuk Alie illustrates how domestic violence becomes embedded through everyday symbols and underscores the necessity of emotional support.
Abstract This study examines the role of girls in the family from the perspective of Islam, feminist theory, and modern empirical research, as well as the factors that influence changes in gender dynamics in modern families. Using a literature review method, this study analyzes religious texts such as Surah An-Nisa verses 11-12, Simone de Beauvoir's feminist theory, and the results of empirical research related to women's contributions to the family. The results show that the role of girls is multidimensional, covering domestic, economic, and social aspects. From an Islamic perspective, the principle of justice in the distribution of inheritance and the hadith of the Prophet Muhammad SAW emphasize the importance of women's rights. Feminist theory offers a critique of patriarchal structures that underestimate the potential of girls, while empirical research shows their real contribution to family resilience. Factors such as reinterpretation of religious values, globalization, education, economic roles, and media representation are the main drivers of changes in gender dynamics. This study concludes that girls have great potential as agents of change, but the main challenge lies in integrating modern values with local contexts to realize gender equality.
Indonesia Mengalami Dekadensi Akhlak yang sangat mengkhawatirkan dari aspek Korupsi, Pergaulan Bebas, Narkoba, Membutuhkan Perhatian Serius Dalam Pembentukan Akhlak Terpuji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan habitus dalam pembentukan akhlak terpuji santri, langkah-langkah implementasi pendekatan habitus dalam dalam pembentukan akhlak terpuji santri, serta faktor pendukung dan penghambat ilmpementasi pendekatan habitus dalam pembentukan akhlak terpuji santri di pesantren. Penelitian ini meggunakan pendekatan kualitatif, dengan instrument pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap kyai, ustadz-ustadzah dan santri yang diplih secara purposive, observasi mendalam, dan analisis dokumen. Analisis data melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pendekatan habitus menjadi salah satu pendekatan yang penting dalam pembentukan akhlak terpuji agar berhasil. Sebab habituas akan mempengaruhi persepsi, sikap dan tindakan manusia bila dilakukan dalam waktu terentu akan mengkristal menjadi akhak yang mulia. langkah-langkah nya dapat dilakukan melalui pembiasaan, pembelajaran didalam dan diluar kelas, keteladan, konsistensi dan keberlanjutan sertalingkungan yang kondusif. Faktor pendukung dan penghambat setiap program pasti ada, tinggal bagaimana menyikapi dan menakhlukkan penghambatnya dan memaksimalkan faktor pendukungnya. Temuan penelitian ini merekomendasikan bahwa pendekatan habitus penting dikampanyekan sehingga popular dan dilaksanakan secara massif dalam pembentukan akhlak, karakter terpuji yang bersumber dari agama, falsafah Negara dan norma social masyarakat yang baik.
AbstrakPendidikan merupakan suatu interaksi, dimana interaksi tersebut berlangsung antara pendidik dan peserta didik. Dalam proses pendidikan terdapat dua faktor penting, yaitu pendidik dan peserta didik. Bukan hanya kedua faktor tersebut saja, faktor tujuan, alat, dan lingkungan turut menentukan keberhasilan proses pendidikan terutama berfungsi sebagai pengarah dan penunjang proses pendidikan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana implementasi metode iqra’ di TPA Istikmal Dermo Kecamatan Benjenga Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan metode penelitiannya adalah teori Miles. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode Iqro’ di TPA Istikmal Dermo Kecamatan Benjeng dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dengan menggunakan metode Iqro’ berdampak positif pada kemampuan santri dalam membaca Al-Qur’an, serta dapat meningkatkan semangat santri dalam belajar membaca Al-Qur’an. Adapun kendala yang dialami selama proses kegiatan pembelajaran Al-Qur’an berlangsung yaitu fasilitas pendukung yang kurang maksimal serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Sehingga menghambat beberapa kegiatan pembelajaran Al-Qur’an yang dalam kegiatannya menggunakan alat peraga atau sarana prasarana. Kegiatan evaluasi pembelajaran Al-Qur’an ini delakukan oleh para ustadzah saat akhir semester dan juga ada yang awal semester. Hasil evaluasi ini diberikan kepada kepala TPA sebagai bahan acuan atau tindak lanjut untuk pembelajaran Al-Qur’an yang akan dillakukan pada semester berikutnya. Sehingga dapat disimpulkan impletentasi metode iqro’ dalam pembelajaran Al-Qur’an di TPA Istikmal Dermo Kecamatan Benjeng berjalan dengan baik.Keywords: Metode Iqro’, Pembelajaran Al-Qur’an
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji corak pemikiran ulama Nusantara, garis sanad keilmuan, serta kiprah mereka di kancah internasional. Selain itu, penelitian ini juga berupaya memberikan gambaran mengenai perkembangan tradisi keilmuan Islam di Nusantara dan peran penting para ulama dalam membangun peradaban Islam. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah berbagai teks dan manuskrip terkait sejarah perkembangan Islam dan tokoh-tokoh ulama Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran ulama Nusantara bersifat moderat (wasathiyah), toleran (tasamuh), dan terbuka terhadap budaya lokal, sehingga melahirkan konsep Islam Nusantara yang menonjolkan nilai-nilai harmoni sosial. Tradisi sanad keilmuan yang kuat dan terhubung hingga pusat-pusat ilmu Islam di Makkah dan Madinah menjadi landasan penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam serta membentuk karakter santri yang berwawasan luas. Selain itu, peran ulama Nusantara di tingkat internasional juga sangat berpengaruh, terlihat dari tokoh-tokoh seperti syekh Ahmad Khatib Al-Minagkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, dan Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani yang dikenal sebagai ulama besar dan penulis karya rujukan di berbagai negara. Kontribusi global ini terbukti melalui karya seperti Sabilal Muhtadin (rujukan fikih asia Tenggara), Nuruzh Zhalam (teks akidah utama), dan Manhaj Dhawi al-Nazhar (dicetak ulang di Beirut dan dipelajari di dunia Arab). Dengan demikian ulama Nusantara memiliki peranan besar dalam membentuk wajah Islam yang damai di Indonesia sekaligus memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan peradaban Islam dunia.
Penelitian ini menelaah tradisi Pesijuk dalam kehidupan masyarakat Gayo di dataran tinggi Aceh melalui pendekatan Filsafat Iluminasi yang digagas oleh Suhrawardi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap dimensi metafisis dan spiritual yang terkandung dalam tradisi Pesijuk, yang selama ini cenderung dipahami secara sempit sebagai kegiatan seremonial budaya. Dengan menerapkan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis filosofis, penelitian ini menafsirkan makna simbol-simbol seperti beras, tepung tawar, dan air bunga dalam bingkai konsep hierarki cahaya (nur al-anwar) serta pengetahuan hadir (al-ilm al-hudhuri) menurut Suhrawardi. Hasil kajian memperlihatkan bahwa Pesijuk tidak hanya berfungsi sebagai praktik sosial dan adat, tetapi juga mengandung nilai-nilai pencerahan batin dan penyucian spiritual yang menghubungkan manusia dengan realitas metafisik. Melalui simbolisme cahaya dan kesejukan batin, Pesijuk menjadi sarana reflektif bagi masyarakat Gayo dalam meraih keseimbangan antara dunia material dan spiritual. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Pesijuk merupakan bentuk ekspresi religio-kultural yang memadukan kearifan lokal Gayo dengan prinsip-prinsip iluminasi dalam filsafat Islam, sekaligus merepresentasikan model spiritualitas kontekstual yang tumbuh dan berakar dalam tradisi keislaman Nusantara.
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik dan perbedaan pelaksanaan tradisi Toron Tana dalam masyarakat Madura, khususnya di Bangkalan, dengan menyoroti perbedaan antara kalangan priyayi dan rakyat biasa. Ruang lingkup penelitian mencakup aspek simbolik ritual, struktur sosial pelaku tradisi, serta fungsi tradisi dalam menjaga identitas dan kohesi sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh wawancara dengan masyarakat setempat, serta studi pustaka terhadap referensi yang relevan. Analisis data menggunakan perspektif fungsionalisme struktural Émile Durkheim untuk memahami fungsi sosial tradisi Toron Tana dalam konteks masyarakat Madura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan bentuk dan kemeriahan pelaksanaan antara kalangan priyayi dan rakyat biasa, inti makna tradisi tetap dipertahankan. Tradisi ini berfungsi sebagai media transmisi nilai-nilai kultural dan spiritual, memperkuat solidaritas sosial, serta mereproduksi struktur sosial secara berkesinambungan. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Toron Tana bukan hanya warisan budaya, melainkan juga instrumen penting dalam menjaga integrasi sosial dan identitas kolektif masyarakat Madura di tengah dinamika perubahan zaman. Kata kunci: Toron Tana; Budaya Madura; Struktur Sosial; Fungsionalisme Structural
This research discusses the development of feminism in Indonesia with a focus on the contributions of female figures such as Raden Ajeng Kartini and Sheikhah Rahmah El-Yunusiyyah. Since ancient times, Indonesian women have been fighting for human rights, which was marked by the first women's conference in Yogyakarta in 1928. The first women's conference in Yogyakarta in 1928. In this context, the biographical novel “Perempuan yang Mendahul Zaman” by Khairul Jasmi takes center stage, depicting the life journey of Rahmah, who founded the special school for women and played a role in the struggle for Indonesian independence. As in the past, women have always been discriminated against and men have always been dominated in various ways, such as viewing men are always dominated from various sides such as seeing that women only deserve to be in the kitchen, mattress, and well, it is not important to go to school or get a degree. High school or college. Feminism itself is not present to compete with or degrade men, but rather as a form of civilization as a form of civilization of equality that men and women in the eyes of God are equal are the same. There is no distinction in any aspect. Women have the right to get education, especially since women for future generations are the first madrasah. For future generations is the first madrasa. Women have the right to choose and give birth to a smart and respected generation respected. The purpose of this research is to describe the values of Islamic feminism contained in the novel. The research method used is descriptive qualitative. The data collection technique is read and write. The results of the analysis show that Rahmah is an Islamic figure who has a very large role in the field of education and women's empowerment. The existence of various Islamic feminism data taken from the thoughts of Hussein Muhammad shows that there are Islamic feminism values in the novel Perempuan yang Mendahului Zaman by Khairul Jasmi. The values of Islamic feminism include women's jihad, tawhid for justice and gender equality, Indonesian women building the future, women and political participation, the creation of women in Islam, jilbab and hijab, and changing views. The value of feminism has described the behavioral quotes and actions of the characters in the novel.
Kajian ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis Majelis Ta’lim Al-Hidayat dalam memperkuat pemahaman agama di Gampong Pelanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Majelis Ta’lim sebagai lembaga pendidikan keagamaan nonformal memiliki kontribusi penting dalam membangun kesadaran dan pengetahuan keagamaan masyarakat setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi lapangan, melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Ta’lim Al-Hidayat berperan signifikan dalam meningkatkan pemahaman ajaran Islam melalui kegiatan pengajian rutin, penyuluhan agama, serta pembinaan akhlak dan moral. Selain itu, peran majelis ta’lim ini juga membantu mempererat solidaritas sosial dan meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat Gampong Pelanggahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Majelis Ta’lim Al-Hidayat merupakan salah satu pilar utama dalam penguatan pendidikan agama di tingkat lokal yang berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlak mulia.
Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa adalah al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Mata kuliah tersebut sebagai mata kuliah khusus di perguruan tinggi Muhammadiyah, akan tetapi latar belakang mahasiswa yang belajar di kampus sangat beragam dari berbagai macam sudut. Agar AIK dapat dipahami dan diterima dengan maksimal oleh mahasiswa maka perlu pendekatan, salah satunya pendekatan dakwah kultural dengan prinsip tabsyir, islah dan tajdid. Tabsyir berarti menggembirakan, islah artinya perbaikan dan tajdid berarti pengembangan atau pembaharuan. Prinsip dakwah kultural tersebut kemudian diaplikasikan pada model (desain) pembelajaran al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang mencakup capaian, materi, strategi dan penilaian. Dengan pendekatan dakwah kultural ini, model pembelajaran AIK dapat terlaksana dengan penuh humanism.
This study aims to examine the role of teacher professionalism in shaping the character of students in elementary school environments. Professional teachers are expected to be able to integrate pedagogical, personality, social, and professional competencies in the learning process in order to instill character values such as responsibility, discipline, honesty, and caring. This study uses a qualitative descriptive method with a literature study approach sourced from books, scientific articles, journals, and related education policies. The results of the study indicate that increasing teacher professionalism contributes significantly to the success of character education. Teachers who are able to be role models, implement contextual learning, and create a positive learning environment have proven effective in shaping students' character. Therefore, strengthening teacher competence and integrity needs to be the main focus in efforts to improve the quality of national education.
This study aims to explore the meaning and symbolism of the Munggah Kap tradition in the construction of new houses among the Javanese community in Depok Rejo Village, Trimurjo Subdistrict, Lampung Tengah Regency. Using a qualitative method with an ethnographic approach, data was collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The findings show that Munggah Kap holds significant spiritual meaning, where the wood placed at the top of the house symbolizes protection and blessing. Moreover, this tradition strengthens social values such as cooperation and solidarity among residents. The conclusion emphasizes that Munggah Kap not only preserves local cultural identity but also reinforces. The results of the study showed that the types and forms of offerings used were fruits which meant that the results of human labor at work would be presented. And all these traditional offering activities are a manifestation of one's devotion and respect for God and every ritual has a meaning none other than asking for peace and serenity in life.
This study aims to explore the history, symbolic meaning, and socio-cultural transformation of the peci (traditional cap) as a crucial element of Islamic identity and nationalism in Indonesia. The peci serves not only as a religious head covering but has also undergone a shift in meaning, emerging as a political, national, and popular cultural symbol. The research adopts a historical qualitative approach using a literature review method, utilizing data from archives, historical documents, and scholarly articles published in accredited national and international journals. The research instrument involves thematic analysis that categorizes the peci’s meanings into religious, nationalist, and performative dimensions. The findings reveal that the peci has layered meanings since the colonial period, becoming a symbol of resistance and national identity, and is now used in various contexts ranging from religious rituals to contemporary performance art. These findings are supported by the analysis of fifteen reputable DOI-indexed journals, which demonstrate that the peci is a dynamic cultural artifact and a symbolic arena for negotiating identity in Indonesia’s social space.
Eid Ketupat is a tradition celebrated by people in Indonesia, especially in Java, as a form of thanksgiving after fasting. This tradition usually takes place one week after Eid al-Fitr and involves serving Ketupat, which is rice wrapped in woven coconut leaves. In a social and cultural context, Eid Ketupat has a deep meaning for society, because it is not just a celebration, but also a means of strengthening ties between residents. This tradition is rooted in local cultural values that prioritize togetherness, helping each other and sharing. Every year, people will gather to cook Ketupat and other typical dishes, as well as hold gatherings. Apart from that, Eid Ketupat also functions as a moment of reflection to forgive each other and strengthen social relations within the community. In this research, the author will explore the implementation of the Eid Ketupat tradition in villages, exploring the meaning behind this ritual, as well as the social and cultural functions contained in it. Thus, it is hoped that this journal can provide a deeper understanding of the importance of this tradition in the context of people's lives, as well as its contribution to the preservation of local culture in Indonesia. The research method used is qualitative in descriptive form.
This article discusses the contribution of ulama in the development of Islam in the archipelago and creating social justice in society by tracing the historical, cultural, and intellectual roles of ulama in the context of Islam Nusantara. Ulama not only act as spiritual leaders and guardians of Islamic teachings, but also as agents of social change who contribute to creating harmony, building educational institutions, developing Islamic thought, and becoming political advisors and defenders of the marginalized. With a qualitative approach through literature study, this article reveals how ulama Nusantara succeeded in linking Islamic values with local culture and participated in fighting for social justice through scientific movements, the establishment of Islamic boarding schools, advocacy for community rights, and strengthening the role of female ulama in the contemporary context. The results of the study show that the role of ulama is very significant in forming an inclusive and just social structure in a multicultural society. This article emphasizes the importance of revitalizing the role of ulama in responding to contemporary social challenges in order to create a just, prosperous, and civilized society.