
Tujuan Utama – Untuk menganalisis pengaruh financial experience dan digital financial literacy terhadap financial well-being dengan financial self-efficacy sebagai variabel pemediasi dan pemoderasi. Metode – Pendekatan kuantitatif dengan pengolahan data melaui Struktural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). Sampel terdiri atas 151 investor aktif PT. FAC Sekuritas yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Temuan Utama – Financial experience dan digital financial literacy berpengaruh positif terhadap financial well-being. Financial experience tidak memiliki pengaruh positif terhadap financial self-efficacy. Financial self-efficacy tidak berpengaruh positif terhadap financial well-being dan financial self-efficacy tidak memediasi pengaruh financial experience terhadap financial well-being. Selain itu, financial self-efficacy tidak memoderasi pengaruh digital financial literacy terhadap financial well-being. Implikasi Teori dan Kebijakan – Temuan ini mengindikasikan perlunya peninjauan kembali posisi financial self-efficacy dalam model perilaku keuangan pada ekosistem investasi berbasis teknologi. Dari sisi kebijakan, peningkatan literasi keuangan digital dan penguatan pengalaman keuangan praktis menjadi strategi yang paling efektif untuk meningkatkan financial well-being investor. Kebaruan Penelitian – Kebaruan penelitian ini terletak pada terbatasnya studi yang menguji secara simultan pengaruh financial experience dan digital financial literacy terhadap financial well-being dan financial self-efficacy sebagai variabel pemediasi dan pemoderasi pada konteks investor.
Tujuan Utama - Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh economic policy uncertainty (EPU) dan profitabilitas terhadap tax avoidance pada perusahaan subsektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019-2023. Metode - Penelitian kuantitatif eksplanatori ini bertujuan menguji pengaruh EPU dan profitabilitas terhadap tax avoidance pada 50 perusahaan pertambangan BEI periode 2019–2023. Dengan purposive sampling, diperoleh 95 observasi. Tax avoidance diukur dengan benchmarking perpajakan DJP, profitabilitas dengan ROA, dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda lengkap dengan uji asumsi klasik serta uji parsial. Temuan Utama - EPU tidak berpengaruh terhadap tax avoidance karena perusahaan cenderung lebih hati-hati menghindari risiko hukum. Sebaliknya, profitabilitas berpengaruh positif karena perusahaan dengan laba tinggi memiliki beban pajak yang lebih besar. Implikasi Teori dan Kebijakan - Penelitian ini memperkuat Memperkuat precautionary theory dan mengingatkan kewaspadaan terhadap tax avoidance pada perusahaan berprofit tinggi. Kebaruan Penelitian - Pengukuran tax avoidance menggunakan teknik benchmarking dari Direktorat Jenderal Pajak, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya menggunakan effective tax rate (ETR).
Tujuan Utama - Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intellectual capital, kebijakan dividen, dan ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor barang konsumen primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019–2023. Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan. Sampel penelitian terdiri atas 14 perusahaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling selama periode 2019–2023. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Temuan Utama - Hasil penelitian menunjukkan bahwa intellectual capital dan kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, sedangkan ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Implikasi Teori dan Kebijakan - Hasil penelitian mendukung Agency Theory bahwa pengelolaan modal intelektual dan kebijakan dividen yang efektif dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Temuan ini diharapkan menjadi pertimbangan bagi manajemen dalam mengoptimalkan pengelolaan sumber daya dan kebijakan perusahaan guna meningkatkan kinerja keuangan. Kebaruan Penelitian - Penelitian ini berkontribusi dalam menjelaskan ketidakkonsistenan hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh intellectual capital, kebijakan dividen, dan ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan melalui bukti empiris pada perusahaan sektor barang konsumen primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019–2023.
Tujuan Utama - Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai apakah green accounting, kinerja keuangan, dan good corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan kualitas audit sebagai pemoderasi. Metode – Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menggunakan data sekunder, yaitu daftar perusahaan manufaktur di industri dasar dan kimia yang diamati di BEI antara tahun 2021 dan 2024. Pengambilan sampel purposif digunakan untuk pemilihan sampel, menghasilkan 112 data. Temuan Utama - Hasil menunjukkan green accounting, dewan komisaris, dan komite audit memiliki dampak signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan ROA dan DER tidak. Berbeda dengan ROA, DER, dan komite audit, kualitas audit meningkatkan green accounting dan dewan komisaris. Penelitian ini menguji prosedur pengendalian kualitas audit dan praktik keberlanjutan dalam menentukan nilai perusahaan. Implikasi Teori dan Kebijakan - Temuan ini menguatkan teori legitimasi, menunjukkan bahwa praktik keberlanjutan dan penguatan tata kelola diimplementasikan untuk mendapatkan penerimaan publik, terutama melalui kualitas audit yang meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan. Kebaruan Penelitian – Penelitian ini menunjukkan kebaruan dengan fokus pada periode terbaru dan penggunaan variabel kualitas audit sebagai pemoderasi, yang belum banyak dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. sehingga dapat menambah wawasan lebih lanjut lagi bagi pembaca.
Main Purpose - This research investigates the impact of R&D spending, eco-friendly innovation, and Corporate Social Responsibility on Environmental, Social, and Governance performance. It additionally examines the moderating effect of carbon emissions in these connections among Indonesian manufacturing firms. Method - A quantitative explanatory strategy was utilized, employing panel data from 23 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (2019–2023), chosen through purposive sampling. Panel regression and moderated regression analysis in STATA were utilized to analyze secondary data from annual reports, sustainability reports, and ESG rating databases. Main Findings - To achieve sustainable development, Indonesian policymakers and industry executives need to promote cohesive corporate strategies. Policies must encourage companies to integrate environmental innovation (R&D, green technology) and emissions management with fundamental ESG frameworks to improve long-term competitiveness and sustainable development. Theory and Practical Implications - To achieve sustainable development, Indonesia's policymakers and industry leaders need to promote cohesive corporate strategies. Policies ought to encourage companies to integrate environmental innovation R&D, green technology, and emission management with essential ESG frameworks to boost long-term competitiveness and sustainable development. Novelty - This research adds to the knowledge by treating ESG performance as the dependent variable and incorporating carbon emissions as a new moderating factor, offering vital empirical insights from a less studied emerging market scenario.