
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identifikasi dan prevalensi ektoparasit pada udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) yang dibudidayakan di PT. Dua Putra Perkasa Kaur, Bengkulu. Sampel dikumpulkan dari 80 ekor udang di empat tambak dan diperiksa ektoparasitnya dengan menggunakan analisis mikroskopis. Tiga spesies ektoparasit berhasil diidentifikasi: Zoothamnium sp., Vorticella sp., dan Epistylis sp., dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada Zoothamnium sp. (48%), diikuti oleh Vorticella sp. (30%) dan Epistylis sp. (19%). Mayoritas ektoparasit ditemukan pada kaki renang udang, yang disebabkan oleh kontak langsung dengan substrat yang terkontaminasi. Parameter kualitas air (suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan amonia) berada dalam kisaran yang dapat diterima untuk budidaya udang, meskipun tingkat amonia berbatasan dengan ambang batas atas. Temuan ini menyoroti perlunya langkah-langkah biosekuriti yang lebih baik dan pengelolaan air secara teratur untuk mengurangi infestasi ektoparasit dan meningkatkan kesehatan udang dalam sistem akuakultur intensif.
Ikan sidat (Anguilla spp.) merupakan ikan katadromus yang memiliki siklus hidup kompleks dari laut hingga provinsi darat, dengan tahapan perkembangan dari leptocephalus, glass eels, elvers, yellow eels, hingga silver eels. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi morfologi, morfometrik, dan analisis genetik ikan sidat di provinsi Bali. Identifikasi morfologi dilakukan dengan karakterisasi ano-dorsal fin, lebar maxilari, dan corak kulit, sedangkan uji morfometrik melibatkan pengukuran jarak sirip anal dan dorsal. Hasil penelitian menunjukkan spesies ikan sidat yang ditemukan adalah Anguilla marmorata dan Anguilla bicolor bicolor, dengan perbedaan signifikan pada pola warna, bentuk kepala, dan struktur sirip. Uji BLAST pada sampel DNA mengungkapkan tingkat kemiripan genetik yang sangat tinggi (99,83%-100%) dan query cover 92%-100%, menunjukkan spesies yang sama, yaitu A. bicolor bicolor dan A. marmorata. Analisis filogenetik membentuk dua cluster utama dengan tingkat kesamaan genetik yang tinggi. Informasi ini diharapkan dapat memperkaya data dasar biologi ikan sidat untuk mendukung upaya pengelolaan dan konservasi sumber daya sidat secara berkelanjutan di provinsi Bali.
During bamboo pot fishing operation, fishermenwas not using signal float. They rely on the natural signal around pot deployment for marking. This condition can lead to ghost fishing, where the pots are lost and carried away by currents. Then fishermen lost of controlling pots location. As a result, pots will continue to catch fish by entraping, damaging, or killing various organisms. This study investigate the impact of ghost fishing by bamboo pots in the Thousand Islands. The research methods used an experimental fishing, by deploying pots under the assumption that pots were lost. The pots were observed for 6 weeks to determine the number, species, and weight of the catch, as well as fish behavior, mortality, and economic value. Data were obtained through direct observation using 8 bamboo pots at depths range of 1–2.5 meters for 6 weeks, as well as through interviews. Based on the research results, the average of weekly catch from 8 pots ranged from 3 to 13 individuals, with a total catch of 383 individuals. The ghost-fishing pots caught a total of 383 individuals during this reserach, with a weight of 6,260 grams. The catch was dominated by Whiptail fish (Pentapodus tritatus), with 67 fishes accounting for 17.5% of the total catch. The broken pots was pot number 8, which broken in 5th week, causing the pot was not able to catch fish. Based on the condition of the pots installed in the water, it was found that the pots began to be covered with moss in 2nd week. The catch diversity was moderate (H’ = 2.81), dominated by sandperch (Pentapodus tritatus, 17.49%). In the 6th week, which was the final week of observation, a total of 65 fish were caught with a total weight of 6,260 grams, dominated by green parrotfish (20.93%).
Pemanfaatan biopolimer alginat dari alga coklat (Phaeophyceae) dan kitosan dari cangkang udang dan kepiting untuk meningkatkan bioavalabilitas senyawa obat masih perlu dioptimalkan. Cefixime memiliki kelarutan yang rendah dalam air. Kelarutan yang rendah menyebabkan bioavailabilitas yang juga rendah. Tujuan dari penelitian ini untuk memformula nanopartikel kitosan alginat pembawa cefixime dengan metode gelasi ionik menggunakan cross linker CaCl2 dengan harapan terjadi peningkatan kelarutan cefixime. Preparasi nanopartikel cefixime dibuat dengan memvariasikan konsentrasi kalsium klorida. Hasil dari tiga formula adalah: persen entrapment efficiency (EE) sebesar 91% (menggunakan 20 µL); 87,5% (menggunakan 40 µL); 76,47% (menggunakan 100 µl.). Terhadap formula terbaik dilakukan uji kelarutan dan PSA dengan hasil: kelarutan cefixime meningkat 70,3%, ukuran partikel adalah 684,4 nm, PDI 0,469; dan zeta potensial +31,17 mV.
Ikan sidat (Anguilla sp.) memiliki bentuk yang hampir mirip antar spesies, untuk membedakannya dapat dilihat karakter morfologinya dan morfometrik, yaitu corak tubuh, bentuk dan pola bintik ekor serta rasio anodorsal. Dengan karakter morfologi yang saling bersinggungan antar spesies, maka diperlukan penanda genetik yang lebih akurat untuk mengidentifikasi spesies ikan sidat. Tahapan penting pada analisis penanda genetik adalah ekstraksi DNA agar senyawa yang dihasilkan tanpa kontaminan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies ikan sidat secara morfologi dan menganalisis kemurnian kualitas DNA hasil ekstraksi sampel ikan sidat yang tertangkap dari perairan Sungai Air Kungkai kabupaten Seluma dan Air Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan morfologi dan pengukuran morfometrik serta ekstraksi DNA dari sirip ikan sidat. Karakter morfologi meliputi bentuk kepala, corak pada tubuh, sirip dada, dan ekor serta pengukuran panjang total, panjang kepala, panjang pre-anal dan panjang pre-dorsal. Ekstraksi DNA ikan sidat menggunakan kit ekstraksi yang diukur kemurniannya menggunakan Nano photometer dan menganalisis data yang didapatkan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian secara morfologi dan morfometrik, ikan sidat dalam fase yellow eel yang berasal dari Sungai Air Kungkai teridentifikasi spesies Anguilla bicolor dan Sungai Air Manna teridentifikasi spesies Anguilla marmorata. Hasil analisis kualitas kemurnian DNA dari Sungai Air Kungkai berkisar antara 1,67-2,42 dan Sungai Air Manna berkisar antara 1,68-1,89. Hasil elektroforesis dari kedua spesies menunjukkan adanya pita DNA dengan kualitas yang kurang baik karena pita yang terbentuk bukan berupa pita tunggal, melainkan pita yang berbentuk noda memanjang, hal ini dapat disebabkan karenanya adanya smear pada sampel.