Stres oksidatif muncul ketika tubuh terpapar ROS (Reactive Oxygen Species) dalam jumlah berlebih hingga melampaui kapasitas antioksidan di dalam tubuh. Untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat oksidasi, kondisi ini dapat diatasi melalui penambahan antioksidan eksogen. Antioksidan eksogen dapat diperoleh dari sumber alami, termasuk tanaman herbal. Salah satu contoh tanaman yang tumbuh di wilayah Bandung (Jawa Barat) adalah bunga mawar putih (Rosa alba), yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan air aromatik dikenal dengan nama air Nesri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antioksidan pada bunga mawar putih (Rosa alba). Ekstrak dari bunga tersebut diperoleh melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Uji fitokimia dilakukan dengan pendekatan semikualitatif. Uji kapasitas total antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) dan dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Pada uji fitokimia didapatkan ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) mengandung glikosida, kumarin, saponin, kuinon, fenolik, antosianin, betasianin, alkaloid, flavonoid, kardioglikosida, steroid, tanin, dan terpenoid. Diperoleh ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) memiliki kapasitas antioksidan dengan metode DPPH (IC50 = 100,444 µg/mL), dengan metode ABTS (IC50 = 13,481 µg/mL), dengan metode FRAP (IC50 = 20,106 µg/mL). Sehingga dapat disimpulkan ekstrak bunga mawar putih (Rosa alba) berpotensi sebagai agen antioksidan.
Background: Yellow wood root/ Arcangelisia flava, a traditional medicinal plant commonly used in Kalimantan, Indonesia, has been found to possess strong antioxidant properties. Although previous studies have reported that this plant contains certain phytochemicals and exhibits antioxidant activity, other specific phytochemical composition of the root and its antioxidant capacity using the FRAP and ABTS method remain poorly understood. Objective: This study aimed to examine the phytochemical content and antioxidant activity of the methanol extract from Arcangelisia flava (yellow wood) root. Methods: The research was conducted using an in vitro experimental approach to evaluate the presence of secondary metabolites and antioxidant capacity through the Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) and 2,2′-azinobis-(3-ethylbenozothiazoline-6- sulfonate) (ABTS) assays. Extraction was performed on 75 grams of dried yellow wood root simplicia using methanol as the solvent, yielding 21.57 grams of extract (28.76%). Results: Phytochemical analysis detected a range of secondary metabolites including alkaloids, terpenoids, phenolics, quinones, saponins, tannins, coumarins, betacyanins, cardiac glycosides, flavonoids, and glycosides, while steroids and anthocyanins were not detected. The antioxidant activity was measured at extract concentrations of 10-30 μg/mL. In the FRAP assay, the extract reduced Fe³⁺ to Fe²⁺ with an IC₅₀ value of 17.48 μg/mL, while in the ABTS assay, it neutralized free radicals with an IC₅₀ of 21,99 μg/mL. Both results indicate a strong antioxidant potential and are comparable to the Trolox standards (IC₅₀ = 10.54 μg/mL and 13.27 μg/mL, respectively). Conclusion: These findings support the traditional use of Arcangelisia flava (L.) Merr., suggesting its potential as a source of natural antioxidants. Further research is recommended to explore its mechanisms and potential applications in health and disease prevention.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralisir radikal bebas melalui transfer elektron. Antioksidan dalam suatu tanaman didapatkan melalui hasil metabolit sekundernya. Batang brotowali merupakan salah satu jenis tanaman tradisional yang telah lazim dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai jamu dan telah terbukti dapat mencegah penyakit seperti diabetes. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak metanol batang brotowali melalui skrining fitokimia, serta uji tingkat toksisitas dari batang brotowali dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Melalui penelitian ini, diketahui bahwa ekstrak mengandung hasil metabolit sekunder berupa Steroid, Terpenoid, Alkaloid, Betasianin, Kardioglikosida, Glikosida, Flavonoid, Saponin, Fenol. Kuinon, Tanin, dan Kumarin. Pada ada uji toksisitas didapatkan nilai LC50 sebesar 464.28 µg/mL, angka tersebut tergolong kedalam kategori kuat, menunjukkan bahwa ekstrak memiliki aktivitas antimitotik yang kuat.
Orthosiphon stamineus atau dikenal sebagai kumis kucing merupakan tanaman obat yang umum dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Penelitian ini dilakukan untuk menilai kandungan fitokimia, total fenolik, aktivitas antioksidan, serta potensi toksisitas dari ekstrak daun tanaman tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental secara in vitro dan bioassay. Identifikasi kandungan senyawa dilakukan melalui uji fitokimia, penentuan kadar fenolik total dengan metode Folin-Ciocalteu, pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, ABTS, dan FRAP, serta evaluasi toksisitas melalui uji Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak mengandung berbagai metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, kumarin, tanin, fenolik, terpenoid, steroid, glikosida, kuinon, antosianin, dan glikosida jantung. Kadar total fenolik sebesar 43,02 mg GAE/g DW. Nilai IC50 pada uji DPPH dan ABTS masing-masing sebesar 116,294 µg/mL dan 123,222 µg/mL, menunjukkan aktivitas antioksidan sedang. Nilai kapasitas reduksi FRAP sebesar 337,9 µmol/L. Uji toksisitas menghasilkan nilai LC50 sebesar 653,6 µg/mL. Kesimpulannya, ekstrak daun kumis kucing berpotensi sebagai sumber antioksidan alami dan prospektif untuk pengembangan di bidang kesehatan.
Reactive Oxygen Spesies (ROS) adalah molekul oksigen yang bersifat reaktif. Dalam kondisi normal, ROS berperan sebagai sinyal pengatur sel dan sistem imun. Namun, dalam keadaan patologis dapat memicu terjadinya stres oksidatif yang justru menimbulkan kerusakan sel. Stres oksidatif adalah kondisi ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas dan antioksidan, sehingga menimbulkan masalah kesehatan didalam tubuh. Antioksidan diperlukan untuk mencegah stres oksidatif, salah satunya berasal dari daun Perilla frutescens. Daun Perilla (Perilla frutescens) merupakan tanaman herbal dengan senyawa bioaktif yang berperan dalam menangkal radikal bebas penyebab stres oksidatif, sehingga mencegah terjadinya berbagai penyakit kronik degeneratif. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui kapasitas total antioksidan dan toksisitas ekstrak daun perilla. Pemeriksaan Kapasitas total antioksidan dilakukan melalui metode ABTS dan DPPH serta toksisitas dengan metode BSLT menggunakan larva Artemia Salina pada ekstrak daun perilla. Nilai IC50 pada uji kapasitas total antioksidan melalui metode ABTS dan DPPH berturut-turut adalah 17,37 μg/mL dan 67,22 μg/mL. Pada uji toksisitas melalui metode BSLT diperoleh LC50 sebesar 177,58 μg/mL. Hasil tersebut memperlihatkan ekstrak daun perilla mengandung antioksidan yang kuat dengan tingkat toksisitas bersifat toksik. Hal ini menunjukkan bahwa daun perilla dapat digunakan
Luka merupakan kerusakan pada jaringan yang dapat disebabkan oleh berbagai trauma fisik seperti sayatan, sobekan, ataupun tusukan. Pada proses penyembuhan luka, Reactive Oxygen Species (ROS) mengambil peran penting. Ketidakseimbangan antara ROS dan antioksidan dapat menghambat proses penyembuhan yang terjadi. Salah satu upaya dalam meminimalisir efek merugikan ROS adalah dengan antioksidan. Beberapa kandungan antioksidan seperti flavonoid, tanin, saponin, serta fenolik diketahui memiliki peran penting dalam proses penyembuhan luka, salah satu tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah senduduk. Senduduk atau yang dikenal juga sebagai Karamunting (Melastoma malabathricum) merupakan perdu yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, khususnya oleh Suku Dayak Desa untuk menyembuhkan luka dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia dan mengevaluasi kapasitas antioksidan ekstrak metanol daun senduduk. Uji kapasitas antioksidan dilakukan dengan metode 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), sedangkan analisis profil fitokimia dilakukan secara kualitatif. Hasil analisis profil fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun senduduk mengandung senyawa metabolit sekunder seperti: alkaloid, antosianin, kardio glikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, steroid, terpenoid, dan tanin. Pengujian kapasitas antioksidan mendapatkan nilai IC50 sebesar 87,03 µg/mL, yang termasuk dalam kategori antioksidan kuat. Penelitian ini menunjukkan sifat antioksidan kuat yang dimiliki daun senduduk serta potensinya sebagai bahan alami dalam pengembangan antioksidan berbasis herbal.
Gangguan lipoprotein, termasuk hiperlipidemia, merupakan isu penting karena peran dari lipoprotein yang berhubungan dengan pembentukan aterosklerosis serta risiko penyakit kardiovaskular. Ketidakseimbangan kadar kolesterol dengan HDL menjadi salah satu faktor dalam terjadinya stress oksidatif. Stress oksidatif terjadi karena tingginya kadar reactive oxygen/nitrogen species (ROS/RNS) disertain rendahnya kadar antioksidan. Dalam tubuh manusia, radikal bebas akan menyebabkan stress oksidatif sehingga terjadi kerusakan sel yang mengakibatkan terbentuknya penyakit. Kerusakan tersebut dapat dicegah dengan kerja antioksidan seluler. Namun, jika kadar radikal bebas terlalu berlebihan dan kadar antioksidan dalam tubuh rendah maka sulit untuk mencegah kerusakan sel secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan asupan antioksidan tambahan dari luar tubuh seperti yang berasal dari tumbuhan yang kaya akan senyawa antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan bioaktif dan potensi antioksidan ekstrak daun beluntas serta mengevaluasi toksisitasnya melalui analisis metabolit sekunder, kadar fenolik total, kapasitas total antioksidan dengan metode ABTS, DPPH dan FRAP, dan uji toksisitas dengan metode BSLT. Desain penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan ekstrak daun beluntas sebagai sampel utama yang dikenal sebagai sumber antioksidan alami dan merupakan tanaman yang tumbuh subur di Indonesia. Hasil penelitian didapatkan ekstrak daun beluntas memiliki kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, antosianin, betasianin, flavonoid, fenolik, dan yang lainnya. Kadar fenolik total didapatkan sebesar 3,096.3 μg/mL. Hasil uji total antioksidan dengan 3 metode berupa ABTS, DPPH, dan FRAP tergolong kuat dengan masing masing nilai IC50 20,28 µg/mL, 26,77 µg/mL, 10,92 µg/mL. Pada uji toksisitas metode BSLT didapatkan LC50 sebesar 273,25 µg/mL yang terolong toksik.
Beberapa tumbuhan memiliki potensi efek antioksidan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan stres oksidatif. Antioksidan eksogen dapat diperoleh dari sumber alami, salah satunya tanaman herbal seperti bunga lawang (Illicium verum). Tanaman ini banyak tumbuh di pegunungan Maluku dan telah lama dipakai dalam pengobatan tradisional misalnya sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, serta tingkat toksisitas bunga lawang. Ekstrak bunga diperoleh melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Pengujian fitokimia dilakukan dengan pendekatan semikualitatif. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl), ABTS (2,2’-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid), dan FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Uji toksisitas dilakukan dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Pengujian fitokimia didapatkan hasil ekstrak bunga lawang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, kumarin, kuinon, antosianin, betasianin, glikosida, kardioglikosida, steroid, terpenoid, dan tanin. Pada pengujian kapasitas antioksidan ekstrak bunga lawang dengan metode DPPH didapatkan IC50 = 206,918 µg/mL, dengan metode ABTS didapatkan IC50 = 16,135 µg/mL, dengan metode FRAP didapatkan IC50 = 23,711 µg/mL. Penelitian ini menunjukkan potensi ekstrak bunga lawang sebagai antioksidan yang kuat.
Reactive oxygen species (ROS) yang terakumulasi dalam jumlah berlebih memicu terjadinya stres oksidatif. Kondisi ini menyebabkan kerusakan tingkat seluler dan molekul di dalamnya, sehingga menimbulkan penyakit di berbagai sistem tubuh. Biji jintan hitam (Nigella sativa) telah lama digunakan dalam pengobatan alternatif karena kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil fitokimia dan mengetahui kapasitas antioksidan secara in vitro melalui kemampuan netralisir ekstrak terhadap senyawa radikal. Metode ABTS untuk uji kapasitas antioksidan dan uji fitokimia secara kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Dari hasil skrining fitokimia menunjukan kehadiran senyawa aktif, seperti alkaloid, antosianin, kardio glikosida, flavonoid, kumarin, fenol, kuinon, saponin, terpenoid, dan tanin. Pengujian kapasitas antioksidan yang dikerjakan dengan menerapkan metode ABTS (2,2′-Azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)) memperoleh nilai IC50 sebesar 67,02 µg/mL. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan biji jintan hitam tergolong kuat serta mengandung berbagai senyawa bioaktif yang menunjukkan potensi terapeutik dalam bidang kesehatan.
Hypoxia is a condition in which tissues receive insufficient oxygen, leading to increased production of reactive oxygen species (ROS) and triggering oxidative stress that can cause heart damage. Penta Herbs Forte (PHF), a combination of Blumea balsamifera, Curcuma xanthorrhiza, Zingiber officinale var. rubrum, Phyllanthus niruri, and Andrographis paniculata, contains bioactive compounds with antioxidant properties that may help strengthen the body’s defense against oxidative injury. This study aimed to evaluate the effect of PHF extract on the activity of the antioxidant enzyme Superoxide Dismutase (SOD) in the hearts of hypoxia-induced Sprague Dawley rats. The research included in vitro assessments (total phenolic content, BSLT toxicity, and FRAP assays) and in vivo experiments involving eight groups of rats receiving PHF extract with different hypoxia exposure durations (0, 1, 7, and 14 days). Heart tissues were processed into homogenates, and SOD activity was measure by spectrophotometry, followed by statistical analysis using the Mann-Whitney and Kruskal-Wallis tests. Although PHF groups showed higher SOD activity, significant differences between control and treated groups were observed only at 1-day hypoxia. These findings suggest that PHF may help protect the heart from hypoxia-related oxidative stress by enhancing antioxidant enzyme activity.
Introduction. Hypoxia, a state of inadequate oxygen supply in tissues, can induce the generation of reactive oxygen species (ROS), leading to oxidative stress and damage to biomolecules such as proteins. This damage can be quantified by measuring protein carbonyl levels. Penta Herbs Forte (PHF), a polyherbal formulation composed of Andrographis paniculata, Blumea balsamifera, Phyllanthus urinaria, Zingiber officinale, and Curcuma xanthorrhiza, is rich in bioactive compounds with known antioxidant properties. This study aimed to evaluate the antioxidant activity of PHF extract and its effects on cardiac protein carbonyl levels in hypoxia-induced rats. Methods. This experimental study included 32 male Sprague-Dawley rats, divided into eight groups: control and treatment groups under normoxia, 1-day hypoxia, 7-day hypoxia, and 14-day hypoxia, either with or without PHF extract administration. Antioxidant capacity was determined using the ABTS and DPPH assays, and cardiac protein carbonyl levels were measured using a spectrophotometer. Results. PHF extract showed an antioxidant activity yielding LC50 values of 22.135 μg/mL (ABTS) and 105.04 μg/mL (DPPH), indicating strong antioxidant potential. PHF-treated groups exhibited lower cardiac protein carbonyl levels than their respective controls across all hypoxic durations. Conclusion. Administration of PHF extract reduced cardiac protein carbonyl levels via its antioxidant activity, suggesting its potential as an exogenous antioxidant source to protect against hypoxia-induced oxidative damage.
Ekstrak penta herbs forte (PHF) merupakan kombinasi dari lima tanaman herbal, yaitu daun sembung (Blumea balsamifera), jahe (Zingiber officinale), meniran (Phyllanthus niruri), sambiloto (Andrographis paniculata), dan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza). Kelima tanaman ini diketahui secara ilmiah memiliki potensi sebagai antioksidan dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi kelima ekstrak tanaman tersebut terhadap kapasitas antioksidan secara in vitro serta menganalisis kadar glutathione (GSH) jantung tikus model hewan hipoksia. Uji in vivo menggunakan 32 ekor tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu kelompok uji yang diberikan ekstrak PHF dan kelompok kontrol. Tiap kelompok dibagi menjadi empat sub-kelompok berdasarkan lamanya paparan hipoksia yaitu normoksia, hipoksia 1 hari, hipoksia 7 hari, dan hipoksia 14 hari. Hasil uji menunjukkan adanya penurunan kadar GSH yang signifikan (p < 0,05) pada kelompok kontrol dan kelompok uji, kecuali pada kelompok uji dari hipoksia 7 hari ke 14 hari. Perbedaan signifikan kadar GSH juga ditemukan antara kelompok kontrol dan kelompok uji pada kelompok normoksia, dengan hipoksia 1 hari, dan 14 hari. Studi ini menunjukkan potensi antioksidan ekstrak PHF terhadap kondisi hipoksia.
BACKGROUND: Hypoxia inducible factor-1α (HIF-1α), nuclear factor erythroid 2-related factor 2 (Nrf-2), and vascular endothelial growth factor (VEGF), play a crucial role as neuroprotective factors. Currently, there is a lack of studies examining the biomolecular responses of the brain to intermittent hypoxia resulting from various pressures. This study was conducted to investigate the physiological responses, histopathological features, and cellular adaptive responses in the brains of rats that were intermittently exposed to hypobaric hypoxic conditions. METHODS: Thirty male Sprague Dawley rats were divided into six groups: a control group and five treatment groups exposed to hypobaric hypoxia. The treatment groups were placed in a hypobaric chamber simulating an altitude of 3,048 meters for 1 hour/day for 1, 7, 14, 21, and 28 days. After exposure, brain tissue was collected for histopathological analysis and protein quantification of HIF-1α, Nrf-2, cytoglobin (Cygb), neuroglobin (Ngb), VEGF, malondialdehyde (MDA), glutathione (GSH), superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), and catalase (CAT). RESULTS: In the brain, intermittent hypobaric hypoxia significantly increased HIF-1α expression (p=0.000) and its downstream proteins Cygb (p=0.000), and VEGF (p=0.001), with a peak at 14x IHH exposure compared to control. This was followed by a significant increase in Nrf-2 expression (p=0.000), SOD (p=0.000), Gpx (p=0.000), and CAT activity (p=0.000), indicating an adaptive antioxidant response. Conversely, MDA levels was decreased with prolonged exposure, suggesting reduced oxidative damage. CONCLUSION: IHH elevates HIF-1α, Nrf-2, and oxidative stress markers, triggering an adaptive antioxidant response in the rat’s brains. KEYWORDS: HIF-1α, intermittent hypobaric hypoxia, Nrf-2, oxidative stress
Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa yang bersifat tidak stabil karena memiliki elektron tidak berpasangan, menjadikannya sangat mudah bereaksi dan berpotensi merusak struktur biologis tubuh, sehingga berpotensi merusak struktur biologis dalam tubuh. Apabila jumlah pembentukan radikal bebas melebihi kapasitas sistem tubuh untuk menetralkan radikal bebas, maka dapat memicu kondisi stres oksidatif, yang berhubungan erat dengan berbagai gangguan kronis seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, dan gangguan ginjal. Antioksidan memiliki peran penting dalam menetralisir radikal bebas, yang pada akhirnya berperan dalam menjaga sel agar tidak mengalami kerusakan. Biji chia (Salvia hispanica L.) diketahui memiliki senyawa aktif seperti fenolik dan flavonoid yang berpotensi bertindak menjadi antioksidan alami. Penelitian ini dilaksanakan untuk menilai jumlah keseluruhan senyawa fenolik serta kemampuan antioksidan, dan profil senyawa aktif dari ekstrak biji chia melalui pendekatan in vitro. Proses analisis meliputi identifikasi senyawa aktif menggunakan skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total dilakukan dengan metode Folin–Ciocalteu, dan untuk pengujian aktivitas antioksidan dilakukan melalui metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Pengujian fitokimia mengindikasikan bahwa ekstrak biji chia memiliki berbagai senyawa, di antaranya steroid, terpenoid, dan alkaloid, fenol, flavonoid, kuinon, saponin, tanin, kumarin, betasianin, dan kardioglikosida. Kandungan total fenolik mencapai 46,79 mg GAE per gram, mencerminkan tingginya konsentrasi senyawa fenolik. Sementara itu, uji FRAP menunjukkan nilai kapasitas antioksidan sebesar 15,885 µg/mL, yang menandakan bahwa kemampuan antioksidannya tergolong sangat tinggi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ekstrak biji chia berpotensi digunakan sebagai antioksidan alami dan kandidat bahan aktif untuk mendukung pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
The development of degenerative diseases is influenced by oxidative stress, which stems from an imbalance between free radicals and the body’s antioxidant defenses. Therefore, natural antioxidant supplementation is considered an essential preventive strategy. Chives leaves (Allium schoenoprasum) are functional foods containing various bioactive compounds; however, their potential as natural antioxidants remains underexplored. This study aims to evaluate the antioxidant activity and toxicity profile of the extract through in vitro assays. The extraction process using maceration and percolation techniques with methanol as the solvent. The analytical procedures encompassed phytochemical profiling, quantification of total phenolic compounds using the Folin–Ciocalteu reagent, and antioxidant capacity evaluations utilizing the Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) and ABTS (2,2′-azino-bis (3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). The resulting total phenolic content of 439.45 μg/mL, equivalent to 14.65 mg gallic acid equivalent (GAE) per gram of dry weight (DW). The IC₅₀ values were 21.93 μg/mL (ABTS) and 13.06 μg/mL (FRAP), indicating strong antioxidant activity. Toxicity assessment using the Brine Shrimp Lethality Test yielded an LC₅₀ value of 333.86 μg/mL, suggesting low toxicity. These results indicate that the extract holds a great promise as a safe and effective source of natural antioxidants.
Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa Reactive Oxygen Species (ROS) dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu, hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode 3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS). Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat sitotoksik terhadap sel yang sedang membelah sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.
Radikal bebas mampu merusak struktur biomolekul penting dalam tubuh seperti protein, lipid dan asam nukleat yang berpengaruh terhadap kesehatan. Untuk mencegah kerusakan ini, tubuh membutuhkan antioksidan sebagai penetralnya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kandungan senyawa fitokimia serta mengevaluasi aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun sirsak (Annona muricata L.). Metode yang digunakan meliputi uji fitokimia kualitatif dan pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode FRAP. Selain itu, dilakukan juga uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, steroid, antosianin, kardioglikosida, kumarin, glikosida, fenolik, kuinon, dan saponin. Uji aktivitas antioksidan melalui metode FRAP menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 19,61 μg/mL yang tergolong dalam kategori sangat kuat. Jika dibandingkan dengan standar trolox (IC₅₀ = 10,54 μg/mL), ekstrak menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi dalam mereduksi ion ferri. Pengujian toksisitas menunjukkan ekstrak daun sirsak memiliki potensi toksik dengan nilai LC sebesar 212,73 μg/ mL, sehingga berpotensi sebagai agen mitosis. Penelitian ini mendukung potensi daun sirsak sebagai sumber antioksidan alami yang kuat dan aman untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ekstrak metanol daun sirsak mengandung senyawa fitokimia yang beragam dan menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi, sehingga berpotensi sebagai kandidat bahan alam untuk terapi preventif penyakit degeneratif.
Singkong merupakan bahan makanan pokok yang sering dikonsumsi di Indonesia. Daunnya sendiri bisa menjadi berbagai masakan seperti ditumis, direbus ataupun sebagai lalapan. Daun singkong dikatakan dapat membantu beberapa penyakit seperti hipertensi. Daun singkong banyak mengandung mineral seperti Fe, Zn, Mn, Cu, Mg, Ca, K, mengandung protein kasar, β-karoten serta memiliki senyawa aktif flavonoid, fenolik, dan mengandung klorofil yang merupakan antioksidan alami. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Uji in vitro yang dilakukan terdiri dari uji fitokimia, uji kapasitas total antioksidan, uji fenolik total serta uji toksisitas BSLT. Hasil Penelitian menunjukan bahwa didalam kandungan bahwa ekstrak Manihot esculenta positif alkaloid, anthocyanin dan betacyanin, kardioglikosida, coumarin, flavonoid, glikosida, fenol, saponin, steroid, dan tannin. Sedangkan hasil uji fitokimia kuinon, dan terpenoid didapatkan hasil negatif. Kadar fenolik dalam ekstrak daun Manihot esculenta didapatkan 48,87 mgGAE/gr. Hasil uji kapasitas antioksidan DPPH diperoleh IC50 sebesar 285,371 μg/mL. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa daun singkong berpotensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan untuk melawan penyakit akibat oxidative stress, meskipun dengan efektivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan standar antioksidan Trolox.
Pendahuluan: Daun kari (Murraya koenigii L.) merupakan tumbuhan yang secara alami tumbuh di subkontinen India, kecuali di bagian puncak dari pegunungan Himalaya, yang pada perkembangannya tumbuhan ini telah tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Secara tradisional, daun kari telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat. Namun dewasa ini diketahui bahwa, tumbuhan ini mengandung senyawa alkaloid karbazol dan polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan. Hal ini sangat berguna untuk mengontrol kadar radikal bebas dalam tubuh manusia supaya tetap dalam batas wajar. Radikal bebas dihasilkan oleh metabolisme sel normal yang belakangan dikaitkan dengan patofisiologi dari berbagai penyakit. Metode: Penelitian in vitro ini dilakukan untuk mengetahui kadar fenolik dan potensi antioksidan pada ekstrak metanol daun kari. Pengujian kadar fenolik total dengan metode Folin-Ciocalteu dan dinyatakan dengan gallic acid equivalent (GAE). Pengujian kapasitas total antioksidan dengan metode DPPH dan Trolox sebagai larutan pembanding. Hasil: Kapasitas total antioksidan dinyatakan dalam bentuk IC50. Ditemukan kadar fenolik total ekstrak metanol daun kari sebesar 4.007,78 μg/mL atau setara dengan 133,59 mg GAE/g DW dan kapasitas total antioksidan ekstrak metanol daun kari sebesar 37,418 μg/mL. Simpulan: Kadar fenolik total ekstrak metanol daun kari tergolong tinggi (>5 mg GAE/g). Sejalan dengan itu, kapasitas total antioksidan ekstrak metanol daun kari juga tergolong sangat kuat (<150 µg/mL).
Background: The heart is highly susceptible to oxidative stress. Hypoxia can induce oxidative stress in the heart, leading to cardiac damage. Objective: This study investigated the antioxidant effects of Crescentia cujete extract on oxidative stress in hypoxic rat hearts. Methods: Antioxidant capacity was evaluated using DPPH assay. Sprague Dawley rats were divided into eight groups: four received C. cujete extract (400 mg/kg/day for 14 days) and four served as controls. Hypoxia was induced for 3, 7, and 14 days using a hypoxic chamber (8% O₂, 92% N₂). Heart tissue was analyzed for malondialdehyde (MDA), glutathione (GSH), and catalase activity. Results: C. cujete extract demonstrated moderate antioxidant capacity (IC50 = 158.45 µg/mL). In extract-treated rats, MDA levels were significantly lower compared to controls, while catalase activity was significantly higher. GSH levels were higher in treated groups but not statistically significant. Histopathological analysis revealed less cardiac necrosis in extract-treated groups. Conclusion: C. cujete extract demonstrates protective effects against hypoxia-induced cardiac oxidative stress. These findings suggest potential as complementary therapy for oxidative cardiac damage, although further studies are needed to establish clinical efficacy and safety.