As one of the ten leading aquaculture commodities in Indonesia. The high demand for milkfish (Chanos chanos Forsskal) certainly requires a new alternative to fulfill feed ingredients in milkfish cultivation. Currently, the fish meal comes from imports and is quite expensive, despite being the main source of protein for farmed fish. Therefore, an alternative to the fish meal is needed to reduce production costs. One of them is maggot meal which has high availability and high protein. This study aims to examine maggot meal as fish meal substitutes effects on milkfish’s (Chanos chanos Forsskal) growth and survival. This study utilized the experimental method, using a Completely Randomized Design (CRD), and analyzed with ANOVA. The difference in treatment lies in the difference in the percentage of fish and maggot meal as the substitutes, divided into five treatments of 0%, 25%, 50%, 75%, and 100%. The parameters being observed include absolute weight gain, survival rate, and specific weight growth rate. The results illustrate highest average absolute weight growth was recorded in 0% maggot meal substitution, and the highest daily specific weight growth rate was in the treatment of substitution with 0% maggot meal. The greatest survival rate, there is a substitution of 25% maggot meal. ANOVA results illustrated no significant effect (P<0.05) on the growth of total weight, the growth rate of specific weight, and the milkfish (Chanos chanos Forsskal) survival rate from the maggot meal substitutes
Kegiatan penangkapan kekerangan di wilayah pesisir Surabaya bagian timur dilakukan secara tradisional menggunakan metode selam. Keberlanjutan sumber daya kerang perlu diperhatikan mengingat kerang merupakan salah satu sumber daya perairan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu titik awal untuk mendukung keberlanjutannya yaitu dengan menganalisa keramah-lingkungan alat tangkap yang digunakan, khususnya penggunaan metode selam untuk menangkap kekerangan sesuai dengan Code of Conduct for Responsible Fisheries mutlak dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei melalui wawancara kuesioner Sembilan kriteria kepada kelompok nelayan selam. Analisis data dilakukan secara statistika deskriptif melalui pembobotan hasil wawancara nelayan. Berdasarkan hasil analisa sembilan kriteria keramah-lingkungan alat tangkap diperoleh bahwa metode selam sebagai alat tangkap kekerangan memiliki nilai skor akhir sebesar 31,62 yang menunjukkan bahwa metode selam ini termasuk ke metode penangkapan yang sangat ramah lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis umpan yang berbeda terhadap hasil tangkapan kepiting bakau dan untuk menentukan jenis umpan yang efektif pada penangkapan kepiting bakau. Sedangkan manfaat dapat memberikan informasi kepada petani tambak dan pandega setempat tentang jenis umpan yang paling disukai oleh kepiting bakau, memberikan manfaat bagi perkembangan alat tangkap bubu yang digunakan untuk menangkap kepiting bakau di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan tiga jenis umpan yang berbeda yaitu kerang darah, wideng, ikan mujaer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan wideng berbeda nyata dengan umpan kerang dan ikan mujaer. Kata kunci : Umpan, bubu, Scylla sp, kerang darah, wideng, ikan Mujaer.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu tangkapan kepiting bakau yang paling baik diperuntukkan untuk nelayan kepiting bakau di Perairan Pantai Timur Surabaya, Kecamatan Wonorejo, Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode regresi dianalisis dengan uji T untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara waktu tangkap pagi dan sore hari untuk menentukan hasil tangkapan kepiting yang lebih baik, Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa waktu tangkap pada pagi hari, menunjukkan terdapat perbedaan hasil tangkap yang lebih signifikan di bandingkan dengan waktu tangkap pada sore hari. Kata kunci: Waktu tangkap, Bubu, Kepiting Bakau, Hasil Tangkapan