The current research elaborates on the effect of the human organization technology fit model, which consists of human, organizational, and technological dimensions, on e-learning readiness in an elementary school teacher education program. The main dataset, comprising 416 student teachers, was analyzed using partial least squares structural equation modelling procedures. The study tested hypotheses linking various factors to e-learning readiness and usage. Statistically significant results demonstrated that knowledge (p = .008), relative advantage (p < .05), compatibility (p < .05), complexity (p <.001), quality (p <.05), and innovation awareness (p < .05) significantly affect e-learning readiness and actual use of e-learning. Specifically, knowledge, relative advantage, compatibility, quality, and innovation awareness exhibit positive impacts, whereas complexity exerts a negative influence. Conversely, the findings indicated no significant relationships (p > .05) between certain correlations, such as computer self-efficacy and e-learning readiness, innovation and actual use of e-learning, and quality and actual use of e-learning. The findings contribute to the development of e-learning, providing practical and theoretical recommendations for its improvement regarding sustainable development goal 4, quality education.
Perangkat pembelajaran adalah elemen kunci dalam memastikan proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan terstruktur. Dengan perubahan kurikulum yang terus terjadi, guru diharuskan untuk meninjau dan memperbarui perangkat pembelajaran mereka agar relevan dengan kebutuhan pendidikan terkini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelatihan pengembangan perangkat pembelajaran bagi guru di SD Negeri 100/VI Pamenang II, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, yang menggunakan metode Transfer of Knowledge (ToK). Pelatihan ini memberikan penyegaran kompetensi guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi modul ajar, bahan ajar, media pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta perangkat evaluasi. Metode Transfer of Knowledge yang interaktif dan partisipatif memungkinkan guru tidak hanya memperbarui pengetahuan mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam pembelajaran kelas. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan kompetensi guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum merdeka dalam aspek perencanaan. Pelatihan ini diharapkan memiliki dampak jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui guru yang lebih kompeten dan perangkat pembelajaran yang lebih efektif serta relevan dengan kebutuhan siswa.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial siswa sekolah dasar sehingga diperlukan program pembiasaan yang terstruktur untuk memperkuat karakter sejak dini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di sekolah dasar sebagai rumusan masalah pertama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain survei, melibatkan 716 siswa dari lima sekolah dasar di Kota Jambi. Data dikumpulkan melalui kuesioner 49 item dan dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif serta PLS-SEM untuk melihat kualitas instrumen dan gambaran pelaksanaan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat telah terlaksana dengan kategori baik di kelima sekolah, ditandai dengan konsistensi pembiasaan harian melalui buku jurnal dan dukungan guru dalam kegiatan rutin. Tiga kebiasaan yang paling konsisten diterapkan adalah beribadah, gemar belajar, dan bermasyarakat, sedangkan kebiasaan makan sehat serta tidur cepat menjadi aspek yang paling rendah keterlaksanaannya. Temuan ini merekomendasikan perlunya pelibatan lebih besar dari orang tua serta peningkatan monitoring guru untuk memastikan pembiasaan berlangsung konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Secara keseluruhan, pelaksanaan program menunjukkan arah positif sebagai dasar pembentukan karakter siswa.
Integrating artificial intelligence in language education, particularly for pre-service English as a Foreign Language (EFL) teachers, presents unique challenges and opportunities. This research seeks to extend the technology acceptance model (TAM) by integrating technological pedagogical and content knowledge (TPACK) to predict behavioral intentions and actual use of AI technologies in an EFL context. Employing partial least squares structural equation modeling, the sample consisted of 436 pre-service EFL teachers. The findings showed that perceived ease of use impacts perceived usefulness (beta =0.674) and attitudes (beta=0.387). Perceived usefulness affects attitudes (beta =0.452) and AI-behavioral intention (beta=0.216). The attitudes variable influences AI-behavioral intention (beta=0.206). Technological content and technological pedagogical knowledge contribute to TPACK (beta =0.278, beta=0.311). TPACK impacts AI-behavioral intention (beta =0.350) and AI-use (beta=0.557). By extending the TAM with TPACK, this study offers insights into optimizing AI adoption among future language educators, thereby fostering innovative teaching practices that enhance language learning experiences for students. The current study covers two areas of Sustainable Development Goals (SDGs): Higher education quality in the EFL area (SDG 4 - Quality Education) and digital transformation in education (SDG 17 - Partnerships for the Goals).
This study is motivated by the need for IPAS (Science and Social Sciences) learning that provides concrete learning experiences, particularly for metamorphosis material, which is abstract and difficult for third-grade elementary students to visualize. Initial observations at SDN 111/1 Muara Bulian showed that teachers still rely on conventional media such as textbooks and static images, causing students to struggle in understanding the stages of metamorphosis in sequence. The purpose of this research is to develop an Augmented Reality–based Metamorphosis Diorama (DIMETA-AR) as an innovative learning solution capable of presenting interactive 3D objects that are more concrete, engaging, and aligned with the characteristics of Phase B learners. This research uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model, consisting of the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages. The media was developed using Canva for the physical diorama design and Assemblr EDU for creating 3D AR-based objects. Product validity was assessed by material experts, media experts, and language experts, while practicality was evaluated by teachers and students through questionnaires. The results of the study show that DIMETA-AR obtained a very high level of validity, achieving 97.5% from the material expert and the category of “very valid” from both the media and language experts. Practicality tests also indicate that the media was rated as “very practical” by teachers and students, with responses demonstrating that AR helped them understand metamorphosis more clearly and attractively. DIMETA-AR has been proven to enhance student engagement, encourage exploratory activities, and facilitate interactive, student-centered IPAS learning in accordance with the principles of the Merdeka Curriculum. Therefore, this media is appropriate for use in elementary science learning and has the potential to be further developed for other IPAS topics. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran IPAS yang menuntut pengalaman belajar konkret, terutama pada materi metamorfosis yang bersifat abstrak dan sulit divisualisasikan oleh peserta didik kelas III Sekolah Dasar. Observasi awal di SDN 111/1 Muara Bulian menunjukkan bahwa guru masih mengandalkan media konvensional berupa buku teks dan gambar statis sehingga siswa kesulitan memahami tahapan metamorfosis secara runtut. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media Diorama Metamorfosis berbasis Augmented Reality (DIMETA-AR) sebagai solusi pembelajaran inovatif yang mampu menghadirkan objek 3D interaktif sehingga lebih konkret, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik fase B. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terdiri atas tahap Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Media dikembangkan menggunakan Canva untuk desain diorama fisik dan Assembler EDU untuk pembuatan objek 3D berbasis AR. Validitas produk dinilai oleh ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa, sementara kepraktisan dinilai oleh guru dan siswa melalui angket. Hasil uji kepraktisan juga menunjukkan bahwa media dinilai “sangat praktis” oleh guru dan peserta didik, dengan respon yang menunjukkan bahwa AR membantu mereka memahami metamorfosis secara lebih jelas dan menarik. Media DIMETA-AR terbukti dapat meningkatkan keterlibatan siswa, mendorong aktivitas eksploratif, serta menghadirkan pembelajaran IPAS yang interaktif dan berpusat pada siswa sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Dengan demikian, media ini layak digunakan dalam pembelajaran sains di sekolah dasar dan berpotensi dikembangkan untuk materi IPAS lainnya
The digital era presents challenges and opportunities for Islamic boarding schools to empower students in the field of entrepreneurship. Training on the use of digital e-commerce platforms at the Al Jauharen Islamic Boarding School in Jambi aims to improve students' entrepreneurial skills and interests. This activity uses a participatory approach through theory, practice, and mentoring sessions. A total of 30 students took part in the training, with pre-tests and post-tests used to measure understanding. The results showed that 85% of participants experienced an increase in understanding, and 78% were interested in starting an independent business. Several students have succeeded in marketing products through platforms such as Shopee and Instagram. The obstacles faced include time management and limited access to technology. This training is effective in improving digital skills and entrepreneurial motivation, but requires further mentoring and technological support so that students' businesses are sustainable. With these positive results, it is hoped that similar training can be implemented in other Islamic boarding schools as an effort to empower the economy and develop students' competencies in the digital era. Keywords: e-commerce, digital literacy, entrepreneurship, Islamic boarding schools, economic empowerment
This study analyzes the structural relationships between knowledge management, innovation management, and work motivation on teacher performance through work discipline as a key mediating variable. The research was conducted at MTS Negeri Sekota Sungai Penuh, Jambi Province, with a sample of 142 teachers. Data were collected using a quantitative survey and analyzed using the Structural Equation Model (SEM) approach. The results show that knowledge management (β = 0.31, p < 0.01), innovation management (β = 0.28, p < 0.05), and work motivation (β = 0.35, p < 0.01) significantly affect work discipline. Furthermore, work discipline (β = 0.42, p < 0.001) has a significant mediating effect on teacher performance, indicating that discipline acts as a crucial pathway linking management and motivational factors to performance outcomes. The model confirms that strengthening teachers’ discipline can enhance the positive impact of knowledge, innovation, and motivation on overall performance.
Penelitian ini difokuskan untuk mengidentifikasi sejauh mana pemanfaatan media komik mampu memengaruhi motivasi belajar, hasil belajar, serta pengaruh keduanya secara bersamaan pada siswa kelas V dalam pembelajaran Matematika. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini dengan desain quasi experiment tipe Nonequivalent Control Group Design, melibatkan dua kelompok kelas, yaitu kelas eksperimen (n = 34) dan kelas kontrol (n = 30). Instrumen penelitian berupa angket motivasi belajar dan tes hasil belajar diberikan pada tahap pretest maupun posttest. Analisis data dilakukan dengan menggunakan independent-samples t-test untuk menilai pengaruh parsial, sedangkan MANOVA digunakan untuk menilai pengaruh simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media komik memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar siswa, ditandai dengan nilai posttest kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Secara bersamaan, media komik juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kedua variabel tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari penggunaan media pembelajaran video animasi berbasis canva terhadap motivasi belajar peserta didik kelas V SDN 55/ I Sridadi Tahun Pelajaran 2023/2024 pada mata pelajaran pendidikan pancasila. Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN 55/I Sridadi tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan nonequivalent control group design. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dengan observasi dan angket (kuesioner). Teknik pengumpulan data diperoleh dengan cara mengisi lembar observasi, dan memberikan lembar kuesioner berbentuk pernyataan kepada peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran video animasi berbasis canva di kelas eksperimen SDN 55/I Sridadi berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik. Dilihat dari rata-rata nilai observasi akhir setelah pemberian perlakuan adalah 38,57 artinya lebih dari rata-rata nilai observasi awal sebelum pemberian perlakuan yakni sebesar 30,81 dibandingkan dengan kelas kontrol observasi awal mendapati rata-rata 33,24 dan sedikit meningkat pada observasi akhir yakni dengan rata-rata 33,95 dengan penerapan model konvensional yang tidak menggunakan treatment tertentu. Diperoleh hasil analisis nilai signifikansi dari tabel Coeficient sebesar 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Although the evaluation of Islamic Religious Education (PAI) learning has received attention in previous studies, research that specifically investigates the completeness and quality of evaluation components in Kurikulum Merdeka-based PAI teaching modules at the vocational high school level remains limited. This study aimed to analyze the completeness, appropriateness, and quality of learning evaluation components in PAI teaching modules developed by teachers at SMK Negeri 1 Sei Suka. A qualitative approach was employed using a case study design grounded in document analysis, involving 3–4 PAI teachers selected through purposive sampling. Data were collected through document analysis of PAI teaching modules and semi-structured interviews, and were then analyzed using content analysis and thematic analysis. The findings indicate that the PAI teaching modules generally include diagnostic, formative, and summative assessments and, for the most part, align with the principles of authentic assessment in Kurikulum Merdeka. However, variations in quality were still identified, particularly in the clarity of rubrics for assessing attitudes, the accuracy of assessment indicators, and the systematization of follow-up learning programs in the form of remedial and enrichment activities. These findings contribute to the development of learning evaluation theory and authentic assessment in Islamic education and broaden the understanding of PAI learning evaluation practices in vocational high schools. The study concludes that the systematic, measurable, and authentic development of learning evaluation components plays an important role in improving the quality of PAI instruction and recommends sustained support for teachers through training and mentoring in assessment development. The implications of this study include theoretical contributions to enriching the literature on PAI learning evaluation and practical implications for schools and teacher professional development, while also opening up opportunities for further research on the influence of evaluation quality on student learning outcomes and character formation.
This study explores how belief and knowledge factors influence technology use among Indonesian preservice science teachers (PSSTs) during their teaching practicum, revealing key urban-suburban differences. We included five variables of the theory of planned behaviour (TPB), such as subjective norms, attitudes, perceived behavioural control, behavioural intention, and behaviour. Four factors of technological pedagogical and content knowledge (TPACK) were also listed, namely technological content knowledge (TCK), technological pedagogical knowledge (TPK), pedagogical content knowledge (PCK), and TPACK. We validated a survey instrument through face and content validity, content validity index, exploratory factor analysis (EFA), and measurement model. Main data from 759 PSSTs were calculated through partial least square structural equation modelling (PLS-SEM). The findings inform that belief factors were more significant in predicting behavioural intention and use of technology perceived by urban and suburban PSSTs during practicum. The most robust relationship emerged between behavioural intention and use, while the least significant correlation was between PCK and behavioural intention. Specifically, urban PSSTs performed better for the correlational relationships than suburban PSSTs. In general, policymakers should implement proper policies for equitably developing technology use in education.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa perubahan signifikan dalam inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu media teknologi yang bisa digunakan adalah aplikasi Canva. Pendidikan berbasis TIK dapat dimanfaatkan dengan baik oleh guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam meningkatkan mutu, mutu dan akses terhadap pendidikan serta menjadikan proses pembelajaran berkualitas dan bermakna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan aplikasi Canva pada guru dengan mengintegrasikan pendekatan teori penerimaan dan penggunaan teknologi terpadu. Untuk itu penelitian ini menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 304 guru sekolah dasar yang telah mengintegrasikan ICT dalam pembelajaran. Model persamaan struktural yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi canva pada guru sekolah dasar efektif dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kesatuan teori dan pendekatan penggunaan teknologi berpengaruh dalam menjelaskan penggunaan dan penerimaan aplikasi canva bagi guru sekolah dasar.
Penelitian ini mengeksplorasi relevansi Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara, khususnya konsep Kodrat Alam dan Kodrat Zaman, terhadap Konsepsi Kurikulum Merdeka. Melalui studi kepustakaan dan analisis konseptual, akan melibatkan pencarian dan analisis terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara, serta literatur-literatur yang membahas pandangan-pandangan beliau tentang pendidikan dan kurikulum. Adapun langkah-langkah dalam menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yaitu (1) identifikasi tujuan penelitian; (2) identifikasi sumber-sumber literatur yang relevan; (3) Analisis konten secara mendalam terhadap sumber-sumber literatur yang telah diidentifikasi; (4) identifikasi titik-titik persamaan, perbedaan, dan keterkaitan antara konsep-konsep dasar pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan konsepsi kurikulum merdeka; (5) buatlah kesimpulan berdasarkan analisis dan diskusikan implikasi temuan terhadap pengembangan kurikulum yang lebih relevan dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Kodrat Alam yang menekankan keterhubungan pendidikan dengan lingkungan alamiah manusia dan Kodrat Zaman yang menyoroti adaptasi pendidikan dengan perkembangan zaman dan teknologi memiliki relevansi yang signifikan dengan Konsepsi Kurikulum Merdeka. Kesimpulannya, integrasi antara Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Konsepsi Kurikulum Merdeka dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang dinamis, relevan, dan adaptif terhadap kebutuhan dan tuntutan zaman yang terus berkembang.
Penelitian ini dilangsungkan guna mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap keaktifan belajar siswa. Walau guru memegang kendali utama terhadap proses pembelajaran, model pembelajaran PJBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikannya. Mendorong siswa untuk bertanya atau mengungkapkan apa pun yang mereka rasa tidak jelas atau tidak jelas dapat membantu mereka menjadi pembelajar yang lebih mahir. Penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas yang dilangsungkan di kelas V SDN 80/I Muara Bulian. Penelitian ini hanya dilakukan dalam 1 siklus dan 2 pertemuan saja. Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh positif dari penggunaan model pembelajaran PjBL. Dimana hasil penelitian menunjukkan nilai keaktifan siswa yang awalnya hanya 45% yang tergolong aktif di tahap pra-penelitian bertransformasi menjadi 85% siswa yang tergolong aktif diakhir penelitian. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PjBL berpengaruh positif pada keaktifan siswa dalam pembelajaran.
This study aimed to investigate factors that predict Indonesian primary school teachers’ behavior of innovative teaching with technology (BITT). A survey instrument was adapted and validated through content validity, a pilot test, and a measurement model in partial least square structural equation modeling (PLS-SEM). We obtained data from 868 primary school teachers, analyzed through a structural model in PLS-SEM and multivariate analysis of variance (MANOVA) in SPSS. The structural model was computed with several statistical reports, including the path coefficient (β), effect sizes (f2), coefficient of determination (R2), and predictive relevance (Q2). MANOVA results informed t and p values. Findings indicated that four out of six hypotheses significantly predicted primary Indonesian teachers’ BITT. The most substantial relationship emerged between group learning and BITT. Meanwhile, the weakest correlation was between innovative culture and BITT. Two insignificant predictors of BITT were job autonomy and innovation compatibility. Most variables showed insignificant differences based on gender. However, some variables, such as benefits of innovation, innovation compatibility, innovative culture, group cohesion, and BITT, varied significantly based on location. The study may help teachers and policymakers understand BITT elements that encourage primary school teachers to use technology creatively.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbol-simbol nilai Kebhinnekatunggalikaan dan penghayatan terhadap nilai Pancasila pada ekosistem SDN 004/IV Kota Jambi sebagai penguatan identitas manusia Indonesia. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi dokumen dan observasi. Objek yang digunakan adalah simbol-simbol nilai Kebhinekatunggalikaan dan kegiatan penghayatan nilai Pancasila di SDN 004/IV Kota Jambi. Berdasarkan hasil penelitian telah menunjukkan identitas manusia Indonesia yang ditandai simbol-simbol penghayatan terhadap nilai Kebhinekatunggalikaan di ruang kelas. Serta penghayatan nilai Pancasila dicerminkan pada setiap kegiatan di sekolah dan perilaku peserta didik yang ditunjukkan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan pembelajaran, kegiatan Pelaksanaan, kegiatan peningkatan dan evaluasi Projek Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Hasil Belajar di SDN 35/VIII Paseban Tebo. Penelitian ini dilakukan di SDN 35/VIII Paseban Tebo pada tanggal 28 April sampai 28 Mei 2024. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dari penelitian ini ada 1 kepala sekolah, 1 guru kelas IV, dan 15 siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mengunakan reduction, data display, dan verification. Hasil penelitian menunjukkan Untuk mendeskripsikan penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis bagi siswa. Mengidentifikasi tahapan kemampuan anak dalam berfikir kritis dalam pembelajaran. Menentukan dimensi, tema dan alokasi waktu projek. Menyusun modul projek. Mengembangkan topik, alur untuk mendeskripsikan penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning dalam meningkatkan kemampuan bagi siswa.
Penanaman nilai-nilai pancasila di sekolah sangat penting dilakukan demi menumbuhkan generasi penerus yang pancasialis. Nilai-nilai pancasila ini dibangun dari pembiasaan berbagai aktivitas peserta didik di sekolah yang berpedoman pada pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai implementasi nilai-nilai pancasila di sekolah dasar dalam menumbuhkan karakter peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila sehingga tidak menghilangkan identitas jati diri bangsa Indonesia. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan model deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa sudah terwujud penerapan nilai-nilai pancasila pada setiap sila di sekolah dasar. Penerapan ini masih perlu peningkatan lagi agar lebih maksimal. Membudayakan sekolah yang berpedoman pancasila akan melahirkan generasi muda yang memiliki karakter dan moralitas yang baik.
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi penggunaan model pembelajaran koperatif tipe STAD dalam meningkatkan numerasi berhitung siswa di kelas IVC SDN Sridadi. Metode yang digunakan adalah Classroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan MC. Data dikumpulkan melalui hasil ulangan harian siswa dan dianalisis dalam dua siklus, masing-masing mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil menunjukkan bahwa pada awal penelitian, hanya sebagian kecil siswa yang mencapai nilai yang memenuhi KKM (72). Namun, setelah dua siklus, terjadi peningkatan dalam jumlah siswa yang mencapai atau melebihi KKM. Meskipun demikian, masih ada siswa yang belum mencapai target ini. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan perlunya perbaikan lanjutan dalam implementasi model pembelajaran tersebut. Penekanan pada kolaborasi dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran koperatif STAD menjadi fokus utama untuk meningkatkan pemahaman numerasi berhitung siswa. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan kontribusi bagi praktisi pendidikan dalam pengembangan strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di bidang numerasi berhitung.
Karakteristik Peserta Didik merupakan Ciri-ciri peserta didik meliputi beragam aspek yang meliputi, namun tidak terbatas pada, perilaku, kecerdasan, minat, bakat, dan perkembangan sosial-emosional mereka. Ini mencakup bagaimana mereka belajar, berinteraksi dengan lingkungan belajar mereka, dan cara mereka menanggapi tantangan akademis dan non-akademis. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi upaya meningkatkan karakter peserta didik melalui penerapan nilai-nilai Pancasila di SDN 64/IV Kota Jambi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila di sekolah dasar ini secara signifikan berkontribusi dalam pembentukan karakter peserta didik, terutama dalam hal semangat gotong royong, toleransi, dan keadilan. Temuan ini memberikan wawasan yang berharga bagi pengembangan kurikulum pendidikan di sekolah dasar serta pengintegrasian nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran sehari-hari.