Artikel ini bertujuan untuk membahas mengenai transformasi teknologi pembelajaran dalam implementasi kurikulum merdeka di MIN 3 Subang. Penelitian ini bertempat di MIN 3 Subang. Penelitian dimulai dengan observasi lapangan untuk mengumpulkan data. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Dalam penelitian ini sumber data primer adalah data yang didapat secara langsung oleh sumbernya. Sumber primer di dapat dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Milles dan Hubber yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun kesimpulan yan diperoleh dari penelitian ini adalah Transformasi teknologi pembelajaran dalam implementasi Kurikulum Merdeka di MIN 3 Subang telah memberikan dampak positif dalam tiga aspek utama yaitu media pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian pembelajaran. Dalam setiap aspek ini, teknologi telah berperan sebagai pendorong utama untuk meningkatkan kualitas dan fleksibilitas pembelajaran, serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka. Penggunaan teknologi telah membuka akses kepada berbagai media pembelajaran interaktif yang lebih variatif dan menarik. Di MIN 3 Subang, media pembelajaran yang digunakan seperti video pembelajaran. Teknologi telah memperkaya sumber belajar yang dapat diakses oleh siswa, tidak hanya terbatas pada buku teks atau materi cetak, tetapi juga berbagai sumber digital seperti platform pembelajaran online, video tutorial, dan simulasi interaktif. Peserta didik di MIN 3 Subang dapat memanfaatkan YouTube dan platform pendidikan lainnya untuk mendalami materi lebih mendalam sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Dalam hal penilaian pembelajaran, transformasi teknologi di MIN 3 Subang memberikan kemudahan dalam penilaian formatif dan evaluasi berbasis proyek. Teknologi memungkinkan penggunaan platform penilaian online seperti Google Forms dan Quizizz, atau aplikasi penilaian berbasis game lainnya untuk mengukur pemahaman peserta didik secara lebih dinamis dan menyeluruh.
Advances in information technology have driven changes in the way Generation Z learn, including building an understanding of citizenship. This generation tends to be active, digitally connected, and involved in various community activities that are alternative means of learning. This study aims to explore how community-based social movements can contribute to enhancing the civic literacy of Generation Z. The research focuses on the Upload DIY Probolinggo community, employing a qualitative approach through case studies, including interviews, observations, and documentation studies. The analysis is conducted critically to explore the educational values of community practice. The results of the analysis show that (1) the Probolinggo DIY Upload Community facilitates Generation Z to play an active role in community programs such as discussions on economic issues, entrepreneurship training, and local product exhibitions. This activity is classified as a New Social Movement, which emphasizes voluntary participation and value-based social transformation 2. The implications of social movements carried out by communities on increasing Gen Z’s civic literacy extend beyond practical knowledge to shaping their awareness of social and environmental responsibilities. Gen Z, who are affected, begin to show their active participation as citizens in many social activities, both independently and outside the scope of the DIY Upload Probolinggo community. The recommendations are addressed to the government and other stakeholders to expand support for social movement-based communities as relevant alternative learning spaces for Generation Z, to strengthen their civic identity in the digital age.
Saat ini, masalah kesehatan jiwa di Indonesia cenderung semakin meningkat. Kader kesehatan memiliki peran penting untuk turut berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan jiwa. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam upaya pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan jiwa masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan deteksi dini masalah kesehatan jiwa. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan kemampuan kader kesehatan dalam mencegah dan deteksi dini masalah kesehatan jiwa sebelum dilakukan pelatihan masih relatif rendah, setelah dilakukan pelatihan pengetahuan dan ketrampilan kader kesehatan mengalami peningkatan yang bermakna. Kami menyarankan kepada Puskesmas Bantur untuk membuat perencanaan pelatihan bagi kader-kader kesehatan lainnya; sehingga jumlah kader kesehatan yang memiliki kemampuan dalam mencegah dan deteksi dini kesehatan jiwa masyarakat bertambah. Inovasi pengembangan aplikasi deteksi dini masalah kesehatan jiwa masyarakat berbasis android juga perlu segera dimulai untuk mengatasi hambatan jarak dan infrastruktur.
Keberadaan kelompok penyandang disabilitas di dunia seringkali mendapatkan diskriminasi. Paradigma yang menganggap penyandang disabilitas tidak lebih baik dari pada kelompok non disabilitas merupakan suatu pandangan yang sangat kejam. Berbagai fakta memperlihatkan adanya perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif yang dilakukan oleh masyarakat terutama orang muda kepada penyandang disabilitas saat memenuhi kebutuhan dasarnya. Stigma negatif telah menafsirkan penyandang disabilitas identik dengan orang yang sakit, lemah, tidak berdaya, dan hanya membebani orang lain. Kenyataan ini membuat penyandang disabilitas membutukan perhatian khusus yang merupakan tanggung jawab dan melibatkan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat dan Gereja yang diantaranya orang muda katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Melalui observasi dalam penelitian ini, peneliti melaksanakan pengamatan secara langsung dan melihat bagaimana bentuk pelaksanaan interaksi karitatif yang dilakukan oleh Orang Muda Katolik terhadap penyandang disabilitas. Peneliti juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan data atau informasi dari narasumber. Dari hasil wawancara mereka mengatakan bahwa Orang Muda Katolik (OMK) yang berada di Yayasan Bhakti Luhur sudah melakukan interaksi karitatif kepada anak disabilitas. Sedangkan dari hasil observasi kehidupan seorang pengasuh atau Orang Muda Katolik (OMK) dan anak yang berkebutuhan khusus di Yayasan Bhakti Luhur sudah membentuk sebuah keluarga kecil, dan di dalam kehidupan berkeluarga itu terdapat keluarga yang harmonis, keluarga yang tenteram dan juga damai. Keluarga yang selalu mendukung satu sama lain, keluarga yang selalu kompak dan dimana itu semua dapat dilihat dari kedekatan antara pengasuh dan anak dalam kehidupan sehari-hari.