Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Social Media Marketing terhadap Brand Awareness dengan Brand Identity sebagai variabel mediasi pada pelanggan Apotek Tamanharjo Singosari. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei terhadap pelanggan Apotek Tamanharjo yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Social Media Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Awareness (β = 0,229; p < 0,05) dan Brand Identity (β = 0,490; p < 0,05). Brand Identity juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Awareness (β = 0,415; p < 0,05). Selain itu, Brand Identity terbukti memediasi secara parsial pengaruh Social Media Marketing terhadap Brand Awareness (β = 0,203; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas pemasaran melalui media sosial akan semakin optimal apabila didukung oleh identitas merek yang kuat dan konsisten sehingga mampu meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek.
Perkembangan media massa dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi, termasuk informasi mengenai pelayanan kesehatan. Dalam praktiknya, pemberitaan negatif terhadap dokter sering kali berkembang lebih cepat daripada proses klarifikasi, sehingga dapat memengaruhi reputasi, kepercayaan masyarakat, bahkan kepastian hukum bagi dokter yang sedang menjalankan tugas profesinya. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengaturan yang mampu memberikan perlindungan hukum tanpa mengurangi hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji bentuk perlindungan hukum bagi dokter dalam menghadapi pemberitaan negatif selama memberikan pelayanan kesehatan serta merumuskan konsep perlindungan hukum yang lebih seimbang. Penelitian menggunakan metode socio-legal dengan memadukan kajian terhadap peraturan perundang-undangan dan data empiris yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak-pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum yang tersedia belum berjalan secara optimal karena masih terdapat ketidakharmonisan pengaturan dan belum adanya mekanisme yang efektif dalam menangani pemberitaan yang merugikan dokter. Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi perlindungan hukum yang mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan profesi dokter, kebebasan pers, dan hak masyarakat atas informasi yang benar, akurat, dan bertanggung jawab.
Penelitian ini menganalisis kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dari perspektif keadilan, negara kesejahteraan, dan implementasi kebijakan publik. Menggunakan metode yuridis normatif, penelitian mengkaji kesesuaian kebijakan dengan asas keadilan dan ekuitas. Hasil penelitian menunjukkan secara filosofis kebijakan KRIS sejalan dengan amanat konstitusi. Namun dalam praktiknya, implementasi terkendala kekaburan norma, ketiadaan sanksi tegas, dan minimnya dukungan finansial bagi rumah sakit kurang mampu untuk memenuhi 12 kriteria fasilitas standar. Penelitian menyimpulkan bahwa evaluasi menyeluruh, pengawasan, dan insentif fiskal dari pemerintah pusat dan daerah sangat krusial. Selain itu, peningkatan literasi hukum diperlukan agar pasien menjadi konsumen cerdas yang mampu menuntut hak pelayanan kesehatan bermutu.
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosisi dan masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional. Penyakit Tuberkulosis sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti ventilasi udara, pencahayaan, kepadatan hunian, sanitasi, dan kebersihan rumah. Oleh karena itu, strategi penanggulangan TBC tidak hanya dilakukan secara medis, tetapi juga melalui intervensi kesehatan lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan inspeksi rumah sehat dalam penanggulangan Tuberkulosis di Puskesmas Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dipilih secara purposive sampling yang terdiri atas petugas kesehatan lingkungan, kepala Puskesmas serta tenaga kesehatan terkait. Analisa data dengan CIPP menggunakan model interaktif melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Borong masih fluktuatif dan cukup tinggi. Dukungan sumber daya manusia dinilai cukup memadai, namun pelatihan teknis khusus inspeksi rumah sehat bagi tenaga kesehatan lingkungan masih terbatas. Sarana dan prasarana sudah tersedia, tetapi belum lengkap, dan pendanaan belum dialokasikan secara khusus. Pelaksanaan inspeksi telah dilakukan secara rutin, meskipun frekuensinya masih rendah dan tindak lanjut hasil inspeksi belum optimal. Perbaikan yang di sarankan meliputi peningkatan kapasitas melalui pelatihan teknis, peningkatan frekuensi pelaksanaan kegiatan inspeksi, penyediaan pendanaan khusus, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Prevalensi masalah gizi pada anak prasekolah seringkali dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan orang tua dalam menyiapkan bekal makanan sehat yang didominasi oleh makanan cepat saji. Diperlukan intervensi yang mengintegrasikan aspek kesehatan dan teknologi. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, efikasi diri, dan keterampilan orang tua dalam menyiapkan bekal sehat berbasis pangan lokal serta mengembangkan digitalisasi kampanye gizi di RA Nurul Huda, Bantur. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Community-Based Digital Education dengan model partisipatif berbasis teori perilaku gizi (KAP, HBM, SCT, dan TPB). Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan praktik masak sehat berbahan pangan lokal, dan penerapan teknologi digital. Intervensi dilakukan melalui edukasi menggunakan video pembelajaran, permainan puzzle gizi, game digital "Bancakan Sehat," dan pendampingan hands-on. Evaluasi program dilakukan melalui pre–post test terhadap 60 responden. Hasil analisis data menunjukkan peningkatan skor pada seluruh domain, dengan kenaikan tertinggi pada Efikasi Diri. Peningkatan ini memvalidasi efektivitas intervensi. Selain itu, program berhasil meningkatkan aset manajemen sekolah sebagai platform kampanye gizi. Program Nyumbang Bancakan efektif dalam mendorong perubahan perilaku gizi orang tua melalui penguatan efikasi diri dan praktik penyediaan bekal berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Sekolah mitra menunjukkan komitmen untuk melanjutkan kegiatan melalui pemanfaatan link game edukatif dan Modul Digital Parenting yang telah disediakan. Program ini berkontribusi pada penguatan literasi gizi berbasis komunitas dan berpotensi menjadi model edukasi gizi prasekolah berbasis digital yang berkelanjutan.