
Teknologi berperan penting dalam komunikasi, pembelajaran, dan interaksi sosial anak dengan ASD, salah satunya melalui YouTube Kids yang menyediakan konten sesuai gaya belajar mereka. Namun, meningkatnya diagnosis ASD di Indonesia menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan dan kenyamanan penggunaan platform tersebut. Penelitian ini mengevaluasi sejauh mana YouTube Kids ramah bagi pengguna dengan ASD, khususnya dalam aspek “sense-aware” dalam interaksi manusia-komputer. Hal ini penting mengingat anak-anak dengan ASD sering mengalami sensitivitas sensori di seluruh lima panca indera. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara online dan observasi lapangan secara online dengan enam anak berusia 6 -12 tahun dengan tingkat ASD level 1 dan 2. Temuan penelitian ini menyoroti aspek pengalaman pengguna YouTube Kids yang sejalan dengan faktor-faktor UX sense-aware seperti tata letak dan bahasa. Namun, masih ada area yang memerlukan perbaikan, dalam hal grafis, audio, dan pengelolaan sensori. Beberapa fitur YouTube Kids tidak sesuai dengan kebutuhan ASD, seperti penggunaan warna terang yang berlebihan, iklan yang muncul tiba-tiba, kebisingan tinggi, dan suara yang cepat. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merekomendasikan panduan bagi para desainer untuk meningkatkan interaksi manusia-komputer bagi anak-anak dengan ASD. Studi ini berkontribusi dalam pengembangan inklusivitas di dunia digital, meningkatkan pengalaman pengguna untuk anak-anak dengan ASD.
Batik MSMEs in Indonesia face significant challenges in promoting products based on cultural identity, especially in the era of globalization and digitalization, which encourages the homogenization of marketing strategies. One innovative alternative that has the potential to overcome this challenge is the use of dance as a symbol-based visual communication medium. This study aims to analyze the potential of dance in strengthening the promotion strategy of cultural products, especially batik, through a literature review approach to reputable scientific sources. The study result shows that dance, through movements, costumes, and visual expressions, can build a symbolic narrative that strengthens the cultural identity of batik products. The integration of visual elements from dance into promotional strategies can increase the emotional connection between products and consumers, create added value, and strengthen product images based on local wisdom in a competitive market. These findings contribute to a new conceptual framework for developing batik MSME promotion strategies by positioning performing arts as a relevant medium for building brand identity and strengthening the competitiveness of cultural products
Wim Wenders melalui karya film terbarunya yang berjudul Perfect Days (2023), menawarkan pengalaman sehari-hari yang dibungkus dalam bahasa visual yang penuh dengan tatapan kebaikan atau ia sebut sebagai “peaceful” gaze. Penelitian bertujuan menginvestigasi estetika sehari-hari yang muncul di film Perfect Days yang ditampilkan senafas dengan estetika tradisional Jepang yaitu wabi-sabi yang dianalisis menggunakan teori Cinema of desire atau sinema hasrat, dari Todd McGowan. Metode penelitian memakai deskriptif kualitatif untuk mengkaji objek masalah yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan psikoanalisis. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa objek a dalam film Perfect Days (2023) ini muncul dari mise en scene dan musik, karena dua unsur filmis ini memberikan dorongan untuk mendapatkan momen guna mengetahui hasrat yang hilang. Estetika sehari-hari sekaligus menjadi object A pada film Perfect Days ini dibagi menjadi tiga bagian yang menawarkan makna dan keterwakilan hasrat terkait: keindahan akan waktu, romantisme trauma dan kehilangan, dan nihilnya akan dorongan material.
Penelitian ini mengkaji representasi keberdayaan komunikasi karakter Tuli bernama Yuki Itose dalam anime Yubisaki to Renren. Latar belakang penelitian ini adalah adanya laporan tentang representasi yang kurang tepat dan stereotipikal terhadap karakter Tuli di media, seperti digambarkan sebagai objek yang dikasihani dan tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana anime Yubisaki to Renren menggambarkan karakter Tuli yang berdaya, utuh, positif, dan menampilkan kesehariannya, serta bagaimana ia berkomunikasi dan menjalin relasi dengan teman-teman Dengarnya di kampus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teori representasi Stuart Hall dan pendekatan konstruksionis. Data dianalisis melalui bahasa visual dengan konstruksi konvensi sosial dan kode-kode budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yuki menggunakan bahasa isyarat Nihon Taiou Shuwa (Signed Japanese) sebagai bahasa utama, ekspresi wajah, dan gestur yang melengkapi dan mengubah makna. Selain itu, terdapat gestur dan ekspresi umum yang diperlihatkan Yuki. Kesimpulannya, komunikasi non-verbal dalam anime ini tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menggambarkan dinamika relasi, emosi, dan konteks budaya. Hal ini menampilkan karakter Yuki yang utuh dan mampu berkomunikasi dengan lancar dengan teman-teman yang tidak Tuli. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan sarana edukasi bagi penonton non-disabilitas, sehingga stigma negatif terhadap komunitas Tuli dapat dihilangkan.
Penelitian ini mengkaji elemen semiotika visual dalam film pendek Georgia (2020) karya Jayil Pak untuk memahami bagaimana pesan sosial terkait kekerasan seksual dan ketidakadilan hukum di Korea Selatan disampaikan melalui simbolisme visual. Penelitian menggunakan metode semiotika Roland Barthes untuk menganalisis makna denotatif dan konotatif elemen visual, seperti warna, komposisi, simbol, serta narasi. Data primer diperoleh melalui observasi visual dan wawancara dengan sutradara, sementara data sekunder berasal dari sumber daring resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol kotak‐kotak dari font Georgia menjadi elemen sentral yang mencerminkan keterbatasan komunikasi, mimpi yang hancur, serta kritik terhadap ketimpangan hukum dan budaya sosial. Tema “American Dream” direpresentasikan melalui perjuangan tokoh Jina, sedangkan mitos hantu budaya Korea memperkaya pesan moral film terkait nilai keadilan. Elemen visual, seperti ironi dalam adegan kepolisian dan simbolisme spanduk, menonjolkan kritik terhadap sistem hukum dan pendekatan kekeluargaan dalam penyelesaian kasus kekerasan seksual. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan studi semiotika film untuk memperluas wawasan desain dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu sosial melalui karya yang bermakna. Film Georgia menjadi refleksi kritis atas realitas sosial, budaya, dan spiritual, memperkuat nilai keadilan dan empati dalam masyarakat.