
Background: The level of work productivity is quite a fatal problem because its concerns the country’s economic stability. Based on data from the Badan Pusat Statistik (BPS) for 2022. Indonesia has a relatively low work productivity ranking, still around 74,4 percent, while average ASEAN productivity figure is 78,2 percent. The level of working productivity can be caused by several factors such as the work environment. One thing that can support the health of the workers is herbs.Objectives: The aim of this research is to analyze the level of employee productivity in the metal manufacturing department of fertilizer company.Method: This research was performed as an analytical observational study employing a cross-sectional design. A total of 131 individuals were chosen for the research sample using a systematic random sampling method. The data collection process includes evaluating knowledge levels using a questionnaire developed by the author, analyzing respondents' consumption habits through the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and assessing work productivity with the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). This study utilized Spearman Correlation and Chi-Square methods for data analysis.Results: The results showed that there was no relationship between work productivity and level of knowledge (p=0.972) and consumption patterns (p=0.553). However, there is a relationship between the level of knowledge and consumption patterns (p=0.002).Conclusions: The conclusion of this research is that there is no relationship between the main variables studied and the level of knowledge or consumption patterns. However, the independent variables, namely the level of knowledge and consumption patterns, have a relationship with each other. The absence of relationships can be caused by various factors that have more weight, such as motivation, work environment, support from fellow colleagues and superiors, and time management.Keywords: Knowledge Level, Consumption Patterns, Work Productivity Level, Employees, Herbal Drinks.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko pada aktivitas pengelasan pipa baja di PT. XYZ, yang termasuk pekerjaan dengan tingkat bahaya tinggi. Risiko yang muncul meliputi paparan panas, radiasi, tekanan berlebih, bahan kimia, serta potensi jatuhnya material selama proses kerja. Metode Job Safety Analysis (JSA) digunakan untuk menelusuri bahaya di setiap tahapan pekerjaan, sementara HIRARC digunakan untuk menilai tingkat risiko berdasarkan kemungkinan dan tingkat keparahan. Hasil analisis menunjukkan adanya 14 risiko rendah, 31 risiko sedang, dan 11 risiko tinggi, terutama terkait debu silika, bahan kimia, percikan api, radiasi, dan pengoperasian alat berat. Pengendalian risiko direkomendasikan melalui penggunaan APD lengkap, rekayasa teknis seperti ventilasi dan penutupan area, serta pengawasan sesuai prosedur keselamatan. Penerapan JSA dan HIRARC terbukti membantu merumuskan strategi mitigasi secara efektif.Kata Kunci: Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC), Job Safety Analysis (JSA), Keselamatan Pengelasan, Bahaya Pekerjaan, Keselamatan Kerja.
Kondisi perairan pesisir Indonesia, khususnya di Lhokseumawe, Aceh, mengalami penurunan kualitas akibat pencemaran amonia dan fenomena overbloom ubur-ubur yang belum termanfaatkan. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi kolagen dari limbah ubur-ubur (Catostylus tagi) hasil tangkapan sampingan (bycatch) nelayan untuk disintesis menjadi membran nano-kolagen serta menguji efektivitasnya sebagai adsorben amonia. Ekstraksi kolagen dilakukan menggunakan asam asetat 0,5 M, yang kemudian dikarakterisasi dengan FTIR dan SEM. Membran dibuat dengan variasi cross-linker glutaraldehida dan diuji kinerja adsorpsinya terhadap larutan NH₄Cl 50 mg/L pada variasi pH 6,0; 7,0; dan 8,0. Hasil karakterisasi FTIR mengonfirmasi keberhasilan ekstraksi dengan terpeliharanya struktur triple helix kolagen, sementara SEM menunjukkan morfologi membran berpori (2–5 µm). Uji adsorpsi menunjukkan efisiensi penyerapan amonia tertinggi sebesar 82,2% pada pH 7,0. Simpulan penelitian membuktikan bahwa membran kolagen dari limbah ubur-ubur Lhokseumawe berpotensi sebagai biofilter ramah lingkungan yang efektif untuk mengurangi pencemaran amonia, sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi.Kata Kunci: Kolagen, Ubur-ubur, Membran, Adsorpsi, Amonia, Lhokseumawe
Perancangan ulang tata letak fasilitas kerja sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional pada usaha skala kecil. UMKM XYZ, sebuah bisnis reseller parfum, menghadapi masalah penataan area kerja yang tidak terstruktur dan jarak perpindahan aktivitas yang tidak efisien, terutama pada bagian penyimpanan, pengemasan, dan distribusi. Penelitian ini bertujuan merancang ulang tata letak fasilitas guna meminimalkan jarak perpindahan dan mengoptimalkan proses operasional. Metode yang diterapkan adalah Activity Relationship Chart (ARC) untuk menganalisis keterkaitan antar-aktivitas, serta software BLOCPLAN untuk menghasilkan alternatif tata letak yang optimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa tata letak usulan berhasil memperbaiki alur kerja, mengurangi jarak perpindahan, serta meningkatkan efektivitas penggunaan ruang dibandingkan tata letak awal. Kesimpulannya, integrasi metode ARC dan software BLOCPLAN terbukti efektif dalam menghasilkan tata letak fasilitas kerja yang lebih efisien dan mampu meningkatkan produktivitas UMKM XYZ.Kata Kunci: Activity Relationship Chart (ARC), BLOCPLAN, Tata Letak Fasilitas, Efisiensi
Keselamatan bangunan merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi risiko kebakaran, terutama di gedung perkantoran yang menyimpan barang berharga. Gedung B PLN UID Jawa Timur, yang merupakan bangunan heritage dari era kolonial, memiliki potensi terhadap risiko kebakaran yang perlu ditinjau secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa keadaan sistem perlindungan kebakaran aktif dan pasif, menilai kecocokannya dengan Pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Gedung Pd-T-11-2005-C, serta mengusulkan perbaikan yang diperlukan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi pengamatan langsung, daftar penilaian, dan analisis data menggunakan metode pembobotan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa beberapa elemen dari proteksi aktif, seperti detektor asap dan sistem alarm, belum beroperasi dengan baik, sedangkan pada proteksi pasif terdapat masalah dalam hal kompartemenisasi dan pintu evakuasi yang tidak memenuhi standar yang ditentukan. Tingkat keseluruhan keandalan sistem perlindungan dinyatakan baik, namun ada beberapa bagian yang perlu untuk diperbaiki. Sebagai kesimpulan, sistem proteksi aktif dan pasif di Gedung B PLN UID Jawa Timur masih memerlukan peningkatan agar sesuai dengan standar keselamatan kebakaran yang berlaku, guna melindungi para pekerja, aset, serta kelangsungan operasi perusahaan.Kata Kunci: Proteksi Aktif, Proteksi Pasif, Kebakaran
Industri tahu di Indonesia memiliki permintaan tinggi namun masih banyak yang menjalankan produksi secara manual tanpa dasar data akurat, sehingga sering terjadi overproduksi. Pabrik Tahu HE Super Sayang mengalami kelebihan produksi 200–250 pcs per hari akibat tidak adanya sistem prediksi produksi berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan jumlah produksi harian dengan menggunakan sistem inferensi fuzzy metode Sugeno. Input sistem berupa data permintaan dan persediaan, sedangkan output-nya adalah jumlah produksi. Metode Fuzzy Sugeno dipilih karena mampu menangani ketidakpastian data dan menghasilkan output yang realistis. Proses mencakup fuzzifikasi, pembentukan aturan fuzzy, perhitungan α-predikat dan konsekuen, defuzzifikasi, serta implementasi dengan MATLAB. Hasil menunjukkan sistem memiliki akurasi tinggi dengan nilai MAPE 4,8% dan mampu meningkatkan efisiensi persediaan sebesar 36%. Sistem ini juga adaptif terhadap prediksi permintaan dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan produksi harian maupun perencanaan jangka panjang. Kata Kunci: Fuzzy Sugeno, Perencanaan Produksi, Kapasitas Produksi, Overproduksi, Produksi, Permintaan, Persediaan.
Penelitian di UD. Mawar Sari dilatarbelakangi oleh ketidaktepatan beban kerja akibat adanya karyawan yang mengalami overload dan underload, yang berisiko menurunkan efisiensi serta kualitas kerja. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kondisi beban kerja untuk mendukung perencanaan jumlah karyawan yang tepat menggunakan metode Full Time Equivalent (FTE) dan Work Load Analysis (WLA). Hasil analisis awal menunjukkan nilai FTE stasiun kerja berkisar antara 0,46 hingga 0,74 (hanya 46%–74% waktu digunakan untuk pekerjaan produktif). Namun, hasil metode WLA menunjukkan seluruh stasiun kerja justru mengalami overload di atas batas ideal 100% (persiapan bahan baku 117,72%, pemisahan dan penirisan kedelai 125,38%, pencampuran ragi 115,81%, dan pengemasan tempe 121,69%). Oleh karena itu, diberikan rekomendasi penambahan tenaga kerja. Contohnya pada bagian persiapan bahan baku, jumlah pekerja diusulkan bertambah dari 5 menjadi 7 orang agar beban kerja turun ke kategori aman (58,86%).Kata Kunci: Beban Kerja, FTE, WLA
Distribusi produk pertanian sangat penting untuk menjaga mutu dan ketepatan waktu pengiriman ke pasar. Wilayah X, sebagai sentra pertanian, menghadapi tantangan dalam memilih moda transportasi yang tepat akibat keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, dan sifat produk yang mudah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan moda transportasi paling optimal dengan menggunakan pendekatan gabungan AHP dan TOPSIS. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara dengan 30 responden, termasuk petani, pengusaha transportasi, anggota koperasi, dan pejabat terkait. Enam kriteria evaluasi digunakan: biaya pengiriman, kecepatan distribusi, kapasitas angkut, ketepatan waktu, aksesibilitas, dan tingkat keamanan. Hasil AHP menunjukkan bahwa biaya pengiriman (0,301) dan kecepatan distribusi (0,224) adalah kriteria paling dominan. Hasil TOPSIS menunjukkan nilai preferensi 0,721 untuk moda darat, 0,593 untuk moda udara, dan 0,422 untuk moda laut, yang menunjukkan bahwa moda darat adalah pilihan optimal untuk Wilayah X.Kata Kunci: Moda Transportasi, Distribusi Produk Pertanian, AHP, TOPSIS, Efisiensi Logistik.
Kesenjangan kinerja antara target dan realisasi operasional armada HD785-7 masih terjadi, menunjukkan bahwa upaya perbaikan yang telah dilakukan belum mampu mengurangi downtime dan permasalahan keandalan secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang menyebabkan rendahnya physical availability, tingginya frekuensi kerusakan, serta lamanya waktu perbaikan. Kerangka Risk-Based Availability (RBA) digunakan bersama analisis efektivitas peralatan untuk menilai tingkat kritikalitas komponen dan mengukur dampak operasional dari setiap kejadian kegagalan. Penelitian memanfaatkan data catatan perawatan, riwayat kerusakan, dan log operasional untuk menentukan tingkat risiko, mengidentifikasi komponen prioritas, serta merumuskan tindakan peningkatan berbasis bukti. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan strategi peningkatan keandalan yang terstruktur dan berkelanjutan, dengan penekanan pada pengambilan keputusan berbasis data. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kerangka pemeliharaan yang lebih terarah untuk mendukung pencapaian kinerja operasional yang optimal sekaligus mengatasi keterbatasan keandalan dalam operasi alat berat.Kata Kunci: Komatsu dump truck HD785-7, Physical Availability, Metode RBA
Overhead Crane adalah alat penting di industri manufaktur dan konstruksi yang memiliki struktur seperti jembatan dengan roda di kedua ujungnya, berfungsi untuk memindahkan beban berat secara efisien dan aman di sepanjang lintasan rel. PT X bergerak di bidang konstruksi dan infrastruktur. Kegiatan operasional yang sering dilakukan adalah proses pemindahan material berat, baik untuk pembangunan struktur baja maupun fasilitas industri. Penelitian dilakukan untuk menganalisa bahaya sebelum memulai pekerjaan dan menurunkan Risiko terjadinya kecelakaan kerja saat melakukan operasi Overhead Crane. Penelitian di PT X dengan menerapkan metode Job Safety Analysis (JSA) dan Hazard Identification, Risk Assesment and Risk Control (HIRARC), dengan dilakukan penyebaran kuisioner dan wawancara bersama kepala HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Penilaian resiko dimulai pada tingkat kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja (likelihood) dan tingkat keparahan (severity). Penerapan JSA dan HIRARC memberikan gambaran terukur mengenai potensi bahaya dan langkah pengendalian yang efektif, sehingga dapat meningkatkan keselamatan kerja, mengurangi potensi kecelakaan, serta mendukung kelancaran proses pengangkutan material.Kata Kunci: Overhead Crane, JSA, HIRARC, Kecelakaan Kerja.
Indonesia berkomitmen mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai dengan Perjanjian Paris 2015, salah satunya melalui pemanfaatan biomassa dalam teknologi co-firing pada PLTU XYZ. Penelitian ini bertujuan menentukan biomassa terbaik untuk co-firing di PLTU XYZmenggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation (PROMETHEE). Alternatif biomassa yang dianalisis meliputi tandan kosong kelapa sawit (tankos), woodchip, cangkang sawit, dan serbuk gergaji (sawdust). Kriteria dan subkriteria keberlanjutan ditentukan melalui studi literatur dan wawancara dengan para ahli. Berdasarkan Hasil pembobotan kriteria menggunakan AHP menunjukkan aspek lingkungan 47,07% sebagai kriteria paling dominan, diikuti sosial 19,86%, kinerja operasi 22,15%, dan ekonomi 10.92%. Selanjutnya perangkingan PROMETHEE I dan II, diperoleh bahwa peringkat pertama sawdust dengan netflow -0,125, peringkat kedua cangkang sawit dengan net flow -0,2024, peringkat ketiga tankos dengan net flow -0,4727 dan peringkat ke empat woodchip dengan net flow -0,6423.Kata Kunci: AHP-PROMETHEE, Co-firing, Gas Rumah Kaca
Distribusi pupuk pada perkebunan kelapa sawit memiliki peran strategis dalam menjaga produktivitas, namun sering menghadapi kendala berupa keterbatasan armada, lokasi pelanggan yang tersebar, serta biaya transportasi. PT. XYZ sebagai perusahaan yang bergerak di bidang distribusi pupuk menghadapi permasalahan Vehicle Routing Problem (VRP) dengan kapasitas kendaraan terbatas. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan rute distribusi pupuk menggunakan algoritma Tabu Search. Metode penelitian meliputi pengumpulan data jarak, permintaan konsumen, serta kapasitas armada, kemudian dilakukan pemodelan dan pengolahan data menggunakan perangkat lunak MATLAB 2016. Solusi awal ditentukan dengan metode Nearest Neighbor sebelum dilakukan iterasi menggunakan Tabu Search. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total jarak distribusi awal perusahaan sebesar 4.287 km dapat ditekan menjadi 3.618,5 km setelah optimasi, sehingga terjadi penghematan sebesar 668,5 km atau 15,59% dari rute awal. Hal ini membuktikan bahwa penerapan Tabu Search efektif dalam meningkatkan efisiensi distribusi pupuk, menurunkan biaya transportasi, serta mendukung ketepatan waktu pengiriman ke perkebunan kelapa sawit.Kata Kunci: Distribusi Pupuk, Vehicle Routing Problem (VRP), Tabu Search, Optimasi Rute, Perkebunan Kelapa Sawit.
Perencanaan produksi yang optimal sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional, khususnya di industri manufaktur yang menghadapi fluktuasi permintaan. Penelitian ini dilakukan di PT. Ciomas Adisatwa Maros dengan tujuan mengoptimalkan produksi menggunakan metode forecasting ARIMA dan strategi perencanaan agregat heuristik. Data historis permintaan McDonald’s (Mcd R) digunakan sebagai dasar peramalan, dengan model ARIMA (1,1,1) terpilih sebagai model terbaik. Tiga skenario perencanaan agregat dianalisis yaitu existing, pengendalian tenaga kerja, dan pengendalian overtime. Hasil menunjukkan bahwa skenario pengendalian overtime memberikan efisiensi biaya tertinggi dengan penghematan sebesar 21,37% dibandingkan skenario existing. Kombinasi ARIMA dan metode heuristik terbukti efektif dalam menghasilkan perencanaan produksi yang efisien tanpa mengurangi kapasitas produksi. Temuan ini menjadi acuan penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi produksi yang adaptif terhadap perubahan permintaan dan berkontribusi dalam peningkatan daya saing industri pengolahan pangan. Kata Kunci: Perencanaan Agregat, ARIMA, Forecasting, Optimalisasi Produksi, Efisiensi Biaya
UMKM Arya Frozen Food merupakan suatu UMKM yang terletak di Desa Sladi Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. UMKM ini bergerak dalam bidang frozen food, yaitu dalam bentuk makanan yang dibekukan di dalam freezer dengan suhu -13°C. Persaingan produk frozen food yang semakin hari semakin ketat dikarenakan keberadaan produk frozen food sudah tersebar luas di kota Pasuruan. Fokus penelitian ini yaitu apa saja faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi strategi pemasaran di UMKM Arya Frozen Food menggunakan metode SWOT untuk memberikan ulasan strategi pemasaran dan metode AHP untuk pengambilan keputusan yang membantu mengevaluasi dan memilih alternatif terbaik berdasarkan kriteria yang berbeda. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada admin dan konsumen arya frozen food dan dokumentasi digunakan sebagai pelengkap bahan informasi yang mendukung data-data peneliti yang didapatkan dilapangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi penentu strategi pemasaran di arya frozen food yaitu faktor internal dan ekternal. Faktor-faktor tersebut didominasi oleh gaya hidup, sikap, kepercayaan, pelayanan, harga. Kata Kunci: Frozen Food, Pemasaran, SWOT, AHP
Persediaan yang efektif merupakan salah satu elemen penting dalam mendukung kelancaran operasional perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan manajemen stok material consumable di warehouse PT. Kaltim Methanol Industri melalui penerapan metode Economic Order quantity (EOQ) dan Min-Max Inventory. Metode EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pemesanan yang optimal guna meminimalkan total biaya persediaan, sedangkan Min-Max Inventory membantu dalam menetapkan batas minimum dan maksimum stok untuk mencegah kekurangan atau kelebihan persediaan. Penelitian ini menganalisis data historis konsumsi material, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan untuk menghitung parameter optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kombinasi kedua metode ini berhasil meningkatkan efisiensi pengelolaan stok, mengurangi frekuensi pemesanan, menentukan jumlah pesanan yang optimal, serta mengoptimalkan tingkat persediaan material consumable. Implementasi sistem ini memberikan dampak positif terhadap efektivitas operasional dan penghematan biaya perusahaan. Kata Kunci: Economic Order quantity, Min-Max Inventory, Persediaan.
Konveksi XYZ merupakan salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang produksi pakaian jadi di Kota Bandung. Pada Konveksi XYZ, terdapat permasalahan produk cacat melebihi target 5%, seperti pada bulan Januari 6,22%, Februari 5,29%, Maret 5,49%, Juli 5,60%, September 6,03%, Oktober 5,71%, dan November 5,42%. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian finansial hingga Rp73.800.000 per bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis cacat produk yang paling dominan, menganalisis faktor penyebabnya, serta mengusulkan upaya perbaikan guna mengurangi jumlah produk cacat di Konveksi XYZ. Jenis cacat dominan diidentifikasi menggunakan Diagram Pareto dan dianalisis lebih lanjut dengan Fault Tree Analysis (FTA). Hasil analisis menunjukkan bahwa produk cacat diakibatkan oleh faktor manusia, metode, mesin, material, dan lingkungan. Usulan perbaikan difokuskan pada pembuatan SOP, penggantian jarum rutin, kalibrasi skoci, penerapan backstitch, penataan penyimpanan berbasis 5R, sortir dan verifikasi label ukuran, serta pemasangan kancing di meja datar dan uji kekuatan kancing. Kata Kunci: Kualitas, Cacat Produk, Metode Eight Disciplines (8D), Fault Tree Analysis (FTA), Usulan Perbaikan
Menjaga ketersediaan bahan baku dalam jumlah tepat penting untuk kelancaran produksi dan pemenuhan permintaan pasar. PT. Murni Mapan Makmur Purwosari, perusahaan manufaktur plastik, menghadapi tantangan akibat fluktuasi permintaan yang menyebabkan kelebihan atau kekurangan stok. Hal ini mengganggu efisiensi produksi dan meningkatkan biaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Economic Order Quantity (EOQ) untuk mengevaluasi sistem persediaan. EOQ menghitung jumlah dan frekuensi pemesanan paling ekonomis dengan mempertimbangkan biaya pemesanan dan penyimpanan. Hasilnya, metode ini membantu perusahaan memesan bahan baku secara efisien dan mengurangi risiko kekurangan atau kelebihan stok. Kata Kunci: Economic Order Quantity (EOQ), Pengelolaan Persediaan, Ketersediaan Bahan Baku.
Work Station Granolation Unit System merupakan sebuah work station yang berfungsi sebagai tempat finishing urea seed menjadi urea granule. Perusahaan sering mendapati masalah pada work station ini, permasalahan itu berupa terhambat atau bahkan berhentinya proses produksi. Hal ini disebabkan karena seringnya terjadi kerusakan tiba-tiba pada mesin operasi. Salah satu penyebabnya, dalam rentang waktu 2016 s/d 2023 terdapat 143 kerusakan yang terjadi dan menyebabkan downtime sebesar 1550 jam dengan rata-rata 10,839 jam/kerusakan. Kerusakan tersebut menyebabkan kerugian berupa kegagalan produksi urea granule sebesar 100.856,165 ton per periode 2016 s/d 2023 atau 45,16% per kerusakan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan preventive maintenance agar mencegah terjadinya kerusakan yang menyebabkan kegagalan produksi secara tiba-tiba. Berdasarkan pengolahan data, didapati interval waktu preventive maintenance, waktu perawatan yang optimum terhadap 25 komponen kritis. Kata Kunci: Maintenance, Mean Time to Failure, Pareto, Preventive Maintenance
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor produksi terhadap kecacatan produk tahu menggunakan metode Taguchi pada UD. Tahu Bang Dahri. Fokus utama adalah pada dua jenis kerusakan, yaitu tahu kotor dan berbau serta tahu lembek. Metode Taguchi digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor produksi yang paling berpengaruh dalam menurunkan jumlah kecacatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kerusakan tahu kotor dan berbau, faktor lama perebusan berkontribusi sebesar 63,83%, diikuti lama pengepresan sebesar 31,86%. Sementara itu, pada kerusakan tahu lembek, lama pengepresan memiliki kontribusi terbesar sebesar 68,19%, diikuti lama penggilingan sebesar 22,58%. Eksperimen konfirmasi menunjukkan penurunan signifikan jumlah produk cacat setelah penerapan kombinasi level optimal. Nilai rata-rata dan SNR juga mencerminkan peningkatan kualitas sesuai karakteristik. Meskipun metode Taguchi telah banyak diterapkan, sebagian besar studi hanya fokus pada satu jenis kerusakan atau industri skala besar. Penelitian ini mengisi celah dengan menganalisis dua jenis kecacatan secara terpisah pada industri rumah tangga. Kebaruan penelitian terletak pada analisis kontribusi spesifik tiap faktor produksi terhadap masing-masing jenis cacat, sebagai pendekatan baru dalam pengendalian kualitas di industri pangan tradisional. Kata kunci: Metode Taguchi, kecacatan produk, kualitas tahu, proses produksi, industri pangan tradisional.
Pengelolaan manajemen risiko dalam industri manufaktur terkait risiko kecelakaan kerja memiliki peranan yang penting dalam menunjang proses produksi suatu perusahaan. PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang industri logam. PT. XYZ memiliki permasalahan terkait risiko kecelakaan kerja yang terjadi pada bagian proses produksi, karena terdapat beberapa faktor penyebab kecelakaan kerja. Oleh karena itu, perlu diketahui penyebab yang memperngaruhi risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko dan menentukan mitigasi alternatif risiko kecelakaan kerja, dengan menentukan kriteria dan subkriteria yang menjadi penyebab risiko kecelakaan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analytical Network Process (ANP) untuk menilai pembobotan dari setiap kriteria dan subkriteria yang telah teridentifikasi, kemudian dilanjutkan dengan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk merangking alternatif apa yang akan digunakan dalam mitigasi risiko kecelakaan kerja. Dengan hasil perangkingan alternatif yang tertinggi yaitu alternatif perbaikan pada SOP dan kontroling dengan hasil nilai preferensi 0,6281, kemudian alternatif memperbaiki standar penerapan K3 dengan nilai preferensi 0,4068, lalu yang terakhir alternatif training pekerja dengan nilai preferensi 0,2041. Kata Kunci: Manajemen risiko, Kecelakaan kerja, mitigasi, ANP-TOPSIS