
Resak (Vatica spp.) merupakan salah satu marga yang termasuk dalam suku tumbuhan berkayu, Diperocarpaceae, dengan beberapa jenis di antaranya termasuk jenis terancam. Kemampuan identifikasi jenis dengan benar merupakan salah satu aspek yang penting dalam upaya konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi daun resak, kemiripan antar jenis, dan performa dari lima algoritma pembelajaran mesin dalam mengidentifikasi otomatis jenis resak. Karakter morfologi yang diukur adalah warna, ukuran, bentuk, dan tekstur daun dari lima jenis Vatica spp. koleksi Kebun Raya Bogor. Perbedaan nilai rata-rata setiap karakter morfologi dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan uji Tukey. Keragaman dan kemiripan morfologi dianalisis menggunakan analisis komponen utama dan analisis kluster. Identifikasi otomatis dilakukan menggunakan lima algoritma pembelajaran mesin, yaitu BayesNet, K-Nearest Neighbor, Artificial Neural Network, Random Forest, dan Support Vector Machine. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakter morfologi daun (warna, ukuran, bentuk, dan tekstur) pada kelima jenis resak mempunyai perbedaan yang signifikan. Semua karakter morfologi secara signifikan mempengaruhi perbedaan penciri daun resak. Pada tingkat kemiripan 80%, kelima jenis resak dikelompokkan menjadi tiga kluster, yaitu kluster I (V. granulata, V. pauciflora, dan V. venulosa), kluster II (V. bantamensis), dan kluster III (V. rassak). Algoritma pembelajaran mesin yang terbaik dalam melakukan identifikasi otomatis jenis resak menggunakan karakter morfologi daun adalah K-Nearest Neighbor dengan nilai overall accuracy 0,92, koefisien Kappa 0,90, rata-rata precision 0,93, dan rata-rata recall 0,92.
Pulau Moti merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau kecil kepulauan Halmahera dan terletak di sebelah barat pulau Halmahera. Penduduknya tersebar di seluruh kawasan pulau, terutama di sekitar kawasan pantai dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan, petani kebun pala dan cengkih. Namun demikian, informasi mengenai sumber daya keanekaragaman jenis-jenis tumbuhannya belum banyak terungkap. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian guna mengungkap potensi dan keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di kawasan pulau Moti. Pengumpulan data kajian etnobotani menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan nilai guna (Use Value/UV) dan Index of Cultural Significance (ICS). Hasil penelitian menunjukkan 96 jenis tumbuhan dimanfaatkan oleh masyarakat pulau Moti, yaitu sebagai bahan obat (35 jenis), pangan (18 jenis), kayu bakar (14 jenis), kerajinan (12 jenis), bangunan (10 jenis), minuman (2 jenis), racun (2 jenis), pakan ternak, ritual dan tanaman hias (masing-masing 1 jenis). Tiga puluh sembilan jenis di antara 96 jenis tumbuhan berguna memiliki nilai UV (0,2-0,8) dan ICS (2-80), sedangkan jenis tumbuhan yang memiliki nilai guna (UV) tertinggi Arenga pinnata Merr. (0,8) dan tumbuhan memiliki nilai ICS tinggi Arenga pinnata Merr. (80), Barringtonia asiatica (L.) Kurz (48), dan Myristica fragrans Houtt. ( 48).
Pada saat ini, ada kecenderungan back to nature mulai berkembang pesat dalam masyarakat yang menggunakan produk-produk herbal alami untuk pengobatan. Akar kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) telah diketahui sebagai tumbuhan hutan yang memiliki banyak manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui opini masyarakat desa di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja terhadap pengembangan akar kuning sebagai minuman kesehatan. Adapun aspek yang diteliti adalah opini terhadap penggunaan tumbuhan hutan sebagai obat, pengetahuan masyarakat desa tentang manfaat akar kuning, penilaian terhadap variasi minuman seduh akar kuning, serta kesediaan membeli dan kesediaan membayar dari masyarakat terhadap produk hasil pengembangan akar kuning. Data didapatkan dari wawancara dan uji organoleptik pada 50 responden di sekitar KHDTK Samboja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sebanyak 60% setuju, 38% sangat setuju, dan 2% cukup setuju terhadap penggunaan tumbuhan hutan sebagai obat. Masyarakat desa juga pada dasarnya memiliki pengetahuan tentang manfaat dari akar kuning. Di antara manfaat akar kuning yang diketahui oleh masyarakat adalah sebagai obat malaria, obat diabetes, obat lelah, penurun demam, dan untuk mengobati tifus. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa varian minuman serbuk simplisia akar kuning dengan campuran daun stevia kering dan teh melati merupakan formula yang paling disukai secara warna, rasa, dan aroma.
Magnolia merupakan tumbuhan berbunga yang primitif dengan warna menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Beberapa kajian biologi reproduksi Magnolia telah dilakukan, salah satunya tentang polen. Polen Magnolia memiliki catatan fosil yang panjang dan bentuk morfologi paling primitif, sehingga menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Di samping itu, pengetahuan tentang kualitas polen penting dilakukan dalam pengembangan budidaya tanaman Magnolia untuk memprediksi kemampuan reproduksi tanaman sebagai bagian dari studi hibridisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik perbedaan morfologi dan viabilitas polen pada empat jenis Magnolia, di antaranya M. champaca, M. grandiflora, M. liliifera, dan M. obovata. Pengamatan morfologi polen menggunakan Scanning Electron Microscopy. Pengujian viabilitas polen dilakukan dengan dua metode, yaitu pewarnaan (I2KI 1%, Orcein 2%, dan TTC 1%) dan perkecambahan in vitro (asam borat 5 ppm dan sukrosa 5%, 10%, 15%, dan 20%). Hasil pengamatan menunjukkan keempat jenis Magnolia memiliki morfologi dan keunikan yang hampir sama. Ukuran polen paling besar yaitu M. grandiflora, sedangkan polen paling kecil yaitu pada jenis M. champaca. Selanjutnya, pengujian pewarnaan menggunakan larutan I2KI memiliki nilai viabilitas polen lebih tinggi dibandingkan orcein dan TTC. Pada pengujian perkecambahan secara in vitro, hanya polen M. grandiflora yang mampu berkecambah pada media asam borat + sukrosa 5% dalam suhu 4℃ C.
Buah blueberry (Vaccinium spp.) banyak dikonsumsi, karena mempunyai warna yang menarik dan rasa yang istimewa. Buah ini dianggap sebagai salah satu sumber terkaya akan antioksidan alami. Vaccinium varingiifolium adalah salah satu kerabat liar dari blueberry yang belum banyak dikaji pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia apa saja yang terkandung dalam ekstrak buah dan mahkota bunga V. varingiifolium dan potensinya sebagai antioksidan dan antibakteri. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan penangkapan radikal bebas 1-(2, 6-dimethylphenoxy)-2-(3,4-dimethoxyphenylethylamino) propane hydrochloride (DPPH), sedangkan uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah dan mahkota bunga V. varingiifolium memiliki kapasitas untuk menangkap radikal bebas DPPH. Bagian mahkota bunga V. varingiifolium memiliki aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH yang lebih baik dibandingkan dengan bagian buahnya. Selain itu, ekstrak mahkota bunga dan buah V. varingiifolium menunjukkan potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhimurium dan Staphylococcus aureus. namun tidak menunjukkan daya hambat terhadap Candida albicans dan Streptococcus mutans. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa V. varingiifolium merupakan sumber potensial antioksidan dan antibakteri.
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh air yang tersedia pada tempat tumbuhnya. Ketersediaan air dalam sel-sel tumbuhan akan memengaruhi struktur anatominya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap karakteristik struktur anatomi akar, batang, dan daun Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan yang terdiri atas kontrol, cekaman kekeringan 5, 10, 15 dan 20 hari. Preparat sayatan organ batang dibuat dengan menggunakan metode tanpa paraffin. Preparat sayatan organ daun dan akar dibuat dengan menggunakan metode parafin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan memberikan pengaruh nyata terhadap ketebalan jaringan epidermis dan jaringan mesofil daun serta ketebalan jaringan epidermis batang. Cekaman kekeringan mengakibatkan peningkatan ukuran ketebalan jaringan epidermis daun dan batang pada perlakuan cekaman kekeringan 20 hari, yaitu secara berturut-turut 30 µm dan 93,51 µm, dibanding dengan perlakuan kontrol, yaitu secara berturut-turut, 24 µm dan 37,67 µm. Ketebalan jaringan mesofil pada organ daun pada perlakuan cekaman 20 hari lebih kecil (218 µm) dibanding dengan perlakuan kontrol (481 µm). Cekaman kekeringan menyebabkan terjadinya pengerutan hingga kerusakan sel-sel jaringan mesofil dan terbentuknya rongga antar sel pada jaringan korteks akar.
Pelagodoxa henryana Becc. (Arecaceae) berasal dari Pulau Marquesas (Polinesia Perancis). Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi jenis ini adalah kritis (Critically Endangered-CR). Pertumbuhan enam spesimen koleksi ini di Kebun Raya Bogor (KRB) mengalami kendala karena faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian habitat dan identifikasi hama penyakit yang menyerang P. henryana di KRB. Data lingkungan tumbuh diperoleh dari Unit Registrasi KRB dan observasi langsung. Data tanah diperoleh dari hasil analisis sembilan sampel tanah dari lokasi tumbuh palem ini di KRB. Data hama penyakit dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di KRB menyerupai habitat alami palem ini, kecuali faktor naungan saja, sehingga perlu pemberian naungan agar paparan sinar matahari pada P. henryana dapat terjadi secara bertahap. Berdasarkan hasil analisis tanah, status kesuburan dan tekstur tanah di KRB kurang cocok untuk P. henryana, sehingga diperlukan pemberian pupuk dengan rasio N:P:K:Mg = 2:1:3:1, pemberian mulsa pada pangkal batang, dan pemberian kapur pertanian. Ada beberapa hama dan penyakit yang ditemukan pada palem ini, namun demikian kumbang janur dan kumbang nipah merupakan hama yang memberikan serangan yang paling signifikan. Kedua kumbang tersebut dapat dikendalikan dengan pemberian belerang dengan dosis satu sendok makan per liter air pada pucuk koleksi dengan gejala dan menginjeksikan pestisida dengan bahan aktif asefat 75% (AMCOTHENE 75 SP) dengan dosis 20 ml/pohon. Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan memotong bagian-bagian tumbuhan yang sudah mati dan berwarna kecokelatan dengan hati-hati.
Kondisi hutan di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih karena terus menerus mendapat gangguan, salah satunya adalah kebakaran. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan kawasan hutan yang sering mengalami kebakaran sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian kebakaran hutan guna meminimalisir dampak buruk dari kebakaran hutan. Salah satu kegiatan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan adalah penanganan pasca kebakaran dengan melakukan monitoring pada areal pasca kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis kondisi kesehatan areal hutan bekas terbakar di TNGC pada berbagai klaster plot dan (2) menganalisis perbedaan kondisi kesehatan areal dengan frekuensi terbakar yang berbeda serta perbedaan kondisi kesehatan areal yang terbakar dan tidak terbakar. Pengamatan kondisi kesehatan hutan di TNGC dilakukan dengan pengukuran dampak kebakaran terhadap vegetasi menggunakan metode Forest Health Monitoring dengan menggunakan tiga indikator, yaitu produktivitas, biodiversitas, dan kondisi tajuk. Jumlah klaster plot yang dibangun yaitu empat klaster plot pada areal terbakar dan satu klaster plot di areal tidak terbakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan lebih rendah pada areal 1 kali terbakar dibandingkan pada areal lebih dari 5 kali terbakar. Secara keseluruhan, areal tidak terbakar menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan areal bekas terbakar. Upaya pemulihan ekosistem perlu dilakukan dengan menanam jenis asli yang cocok dengan kondisi lahan di Blok Pajaten dan memiliki daya adaptasi terhadap api dan perlu dilakukan penanaman jenis yang dapat dimanfaatkan sebagai sekat bakar hijau di Blok Gibug.
Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) merupakan terna yang daunnya memiliki kandungan metabolit sekunder dan dapat digunakan sebagai obat. Beberapa penelitian kultur jaringan terkait sterilisasi dan penambahan zat pengatur tumbuh pada ginseng Jawa masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui metode sterilisasi yang tepat serta melakukan optimalisasi zat pengatur tumbuh Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Benzylaminopurine (BAP) untuk menginisiasi kalus ginseng Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kebun Raya Cibodas – BRIN pada bulan Agustus sampai November 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan sembilan kombinasi perlakuan penambahan NAA dan BAP yang diulang sebanyak tiga kali. Eksplan daun berdiameter 7 mm ditanam pada botol kultur berisi media Murashige and Skoog yang mengandung kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh NAA (0,5; 1; dan 1,5 ppm) dan BAP (0,5; 1; dan 1,5 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanaman mampu menghasilkan kalus. Waktu kemunculan kalus antara 11-14 hari setelah inisiasi dan memiliki tekstur kompak pada semua perlakuan. Selain itu, empat warna kalus yang dihasilkan dari perlakuan ini, yaitu light olive brown, olive gray, gray brown, dan olive. Kombinasi konsentrasi terbaik diperoleh pada perlakuan N2B2 (1 ppm NAA + 1 ppm BAP). Perlakuan tersebut memberikan pertumbuhan optimal pada parameter panjang kalus sebesar 3,13 cm dan berat basah kalus sebesar 2,27 g.
Lakum plant (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) contains secondary metabolites with potential medicinal ingredients. It can treat various diseases, such as antidiabetic, antibacterial, antiprotozoal, antitumor, and anti-cancer. Propagation and production of secondary metabolites in plants can be carried out in vitro through callus culture and are influenced by the concentration of growth regulators. This study aimed to determine the effect of NAA (Naphthalene Acetic Acid) and BAP (6-Benzyl Amino Purin) on callus growth of hypocotyl lakum (C. trifolia) explants and to determine the concentration of addition of NAA and BAP that could produce the best callus growth. Completely randomized design (CRD) factorial with two factors adding NAA (0, 0.45, 0.9, and 1.4 µg/l) and BAP (0, 0.23, and 0.56 µg/l). The results showed that adding a single NAA and a combination of NAA and BAP significantly affected callus emergence. The fastest callus emergence was found in a combination of 0.45 µg/l NAA + 0.23 µg/l BAP, 13 days after planting. Both NAA and BAP alone significantly affect the weight of dry and wet callus. The administration of a single NAA and a single BAP had a significant effect on the wet weight and dry weight of callus, with the highest average wet callus weight at a concentration of BAP 0.56 µg/l, which was 4.431 g, and the highest dry weight callus concentration of BAP 0.56 µg/l was 0.192 g.
Kebun Raya Cibodas memiliki 13 jenis koleksi Rubus atau raspberry liar yang berasal dari hutan pegunungan Indonesia. R. rosifolius dan R. fraxinifolius merupakan dua jenis Rubus asli Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah. Saat ini, upaya mendomestikasi dan membudidayakan jenis-jenis Rubus terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk terhadap pertumbuhan dan perkembangan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Cibodas menggunakan empat kombinasi perlakukan yaitu K1 (pupuk NPK 4,74 g/pot dengan 1 kali waktu pemberian), K2 (pupuk NPK 9,48 g/pot dengan 2 kali waktu pemberian), K3 (pupuk NPK 14,22 g/pot dengan 3 kali waktu pemberian), K4 (pupuk NPK 18,96 g/pot dengan 4 kali waktu pemberian) dan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan waktu pemberian pupuk tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius, sedangkan faktor jenis Rubus lebih berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Kombinasi R. rosifolius + K3 dan R. fraxinifolius + K4 menghasilkan nilai rata-rata jumlah buah per tanaman, ukuran, dan bobot buah tertinggi.
Kawasan hutan produksi di Kalimantan Barat sebagian telah terfragmentasi akibat dari usaha perkebunan, hutan tanaman industri, pertambangan, dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan hilangnya hutan primer dan menyisakan hutan sekunder, semak belukar, dan areal terbuka. Hutan yang terfragmentasi mengakibatkan keanekaragaman terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, komposisi vegetasi, potensi biomassa, dan kandungan karbon hutan sekunder di hutan Tembawang Alak, Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2020. Plot penelitian dibuat di hutan sekunder tua dan hutan sekunder muda, berbentuk bujur sangkar ukuran 100x100 m2 (1 ha). Hasil penelitian di hutan sekunder tua tercatat 109 jenis tumbuhan dari 43 suku, pohon berdiameter >= 10 cm ada 103 jenis, berjumlah 947 pohon. Pada hutan sekunder muda tercatat 41 jenis tumbuhan dari 24 suku, pohon berdiameter >= 10 cm ada 30 jenis, berjumlah 702 pohon. Jenis yang dominan berturut-turut di hutan sekunder tua adalah prepat (Combretocarpus rotundatus), penduk (Porterandia sp.), dan pelai (Gironniera nervosa). Pada hutan sekunder muda jenis yang dominan berturut-turut adalah ubah (Ilex cymosa), medang (Ptychopyxis sp.), dan kumpang (Knema cinerea). Biomassa dan kandungan karbon tegakan hutan sekunder tua yang berdiameter >= 10 cm yaitu sebesar 306,54 ton/ha atau 144,07 ton C/ha, sedangkan pada hutan sekunder muda sebesar 127,31 ton/ha atau 59,83 ton C/ha.
Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. merupakan salah satu jenis anggrek terrestrial yang banyak dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga dengan bentuk dan warna yang menarik dan bervariasi, serta memiliki potensi sebagai tumbuhan obat. Mutasi dengan iradiasi sinar gamma dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman morfologi jenis ini, seperti tanaman yang berbatang lebih pendek dan masa berbunga yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan radiosensitivitas protokorm A. graminifolia terhadap sinar gamma dan mengevaluasi keragaman pertumbuhan planlet yang telah diinduksi dengan sinar gamma sampai tahap subkultur kedua setelah iradiasi (tahap M1V2). Protokorm yang berumur 3 bulan setelah semai diiradiasi dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 Gy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemungkinan dosis yang mampu mematikan 20–50% populasi (LD20–50) berada pada kisaran 49,68–73,96 Gy. Dosis iradiasi 15–30 Gy telah mampu menurunkan rerata tinggi tanaman dan panjang daun, serta menekan pembentukan daun dan tunas pada tahap planlet. Planlet pada dosis iradiasi tersebut juga dapat bertahan hidup dan diharapkan memunculkan mutan baru untuk seleksi bibit unggul.
Stomata diketahui memiliki hubungan dengan aktivitas fisiologis tanaman seperti fotosintesis, respirasi, dan transpirasi yang berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Uwi (Dioscorea alata L.) merupakan salah satu tanaman umbi-umbian kurang termanfaatkan dengan nutrisi penting dan potensi hasil tinggi, namun kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Minimnya informasi terkait faktor yang berperan dalam mendukung produksi yang melimpah, menjadi salah satu penyebab kurangnya minat budidaya jenis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik stomata, produktivitas umbi, serta hubungan antara karakteristik stomata dan produktivitas umbi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pasuruan, menggunakan aksesi 57 dan 86 yang dipilih berdasarkan keunggulan produktivitas tinggi (bobot umbi). Analisis menggunakan uji T, Mann-Whitney, dan uji korelasi Spearman. Hasil studi menunjukkan aksesi 86 lebih tinggi dibandingkan aksesi 57 dalam hal jumlah stomata, kerapatan stomata, bobot umbi, lebar umbi, dan diameter umbi, meskipun pada ukuran keliling stomata dan panjang umbi aksesi 57 lebih tinggi. Jumlah dan kerapatan stomata memiliki korelasi positif dengan bobot umbi, sedangkan ukuran keliling stomata dengan bobot umbi menunjukkan korelasi negatif. Data bobot umbi aksesi 86 lebih besar nilainya dibandingkan aksesi 57, namun tidak berbeda nyata secara signifikan. Kedua aksesi ini berpotensi untuk dibudidayakan dengan memperhatikan kondisi lingkungan tanam agar produktivitas umbi uwi dapat dihasilkan secara optimal dan mendukung upaya diversifikasi pangan nasional berbasis komoditas lokal.
Taman Buah Mekarsari mengembangkan beberapa kultivar nangka, antara lain kultivar Telanjang, Mini, Bubur, dan Dulang. Keempat kultivar tersebut dibedakan berdasarkan keunikan buahnya. Keragaman kultivar nangka sangat banyak, namun studi mengenai anatomi daun kultivar nangka yang berbeda belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi daun beberapa kultivar nangka koleksi Taman Buah Mekarsari, Bogor. Sampel diambil dari tiga pohon untuk tiap kultivar dengan tiga ulangan cabang untuk tiap pohon. Sediaan sayatan paradermal dan transversal dibuat dari daun keempat dari ujung cabang. Hasil pengamatan sayatan paradermal daun menunjukkan sel epidermis berbentuk tidak beraturan dengan dinding sel antiklinal rata hingga berlekuk. Stomata hanya terdapat pada sisi abaksial daun dengan tipe anomositik. Pada kultivar nangka dijumpai dua jenis trikoma, yaitu trikoma kelenjar dan trikoma non kelenjar. Tidak terdapat perbedaan karakter anatomi daun pada semua daun kultivar nangka yang diamati. Hal ini dikarenakan rentang nilai karakter anatomi yang diamati saling tumpang tindih pada keempat kultivar tersebut. Namun demikian, karakter anatomi daun dapat digunakan untuk membedakan kultivar nangka dengan hibrida nangkadak cv. Bola.
Eucalyptus alba Reinw. ex Blume merupakan pohon pusaka di Kebun Raya Bogor yang ditanam pada tahun 1892 (umur 130 tahun di tahun 2022), hanya ada satu spesimen, dan memiliki bentuk batang yang unik. Pohon dengan kategori pusaka ini perlu dilestarikan dengan memperhatikan kondisi kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi kesehatan pohon secara visual dan teknologi tomografi serta rekomendasi penanganannya. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual berdasarkan International Society of Arboriculture dan teknologi tomografi menggunakan PiCUS 3 Sonic Tomograph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual E. alba memiliki potensi tumbang/patah yang rendah pada batang utama. Namun setelah dilakukan pengukuran pelapukan pada batang utama di berbagai level ketinggian dengan teknologi tomografi, hasilnya adalah di ketinggian 50 cm (95%), 140 cm (76%), 550 cm (18%), dan 810 cm (11%). Oleh karena itu, E. alba memiliki potensi tumbang yang besar pada batang bagian bawah karena persentase pelapukan yang melebihi 70% dengan diameter yang besar (275 cm). Rekomendasi penanganan pohon berisiko adalah mempertahankan proses fisiologis pohon dengan menjaga kesuburan tanah, pemasangan umpan rayap, pembuatan pagar melingkar ke arah utara, pengukuran pelapukan berkala (satu tahun sekali), dan pemberian papan informasi terkait kondisi terkini dan mitigasi bahayanya. Penebangan total atau sebagian tidak direkomendasikan mengingat status E. alba sebagai pohon pusaka.
The controlling mechanisms for the growth and differentiation of Rafflesia from a flower bud into the anthesis stage is currently unknown, particularly if any plant growth regulator (PGR) physiological pathways play some type of roles. In the wild, the number of flower buds available to study are extremely limited. In this study, we grouped six flower buds of Rafflesia patma Blume into three different treatments: two buds injected with auxin (indoleacetic acid, IAA), two buds injected with cytokinin (kinetin), and two buds injected with sterile distilled water as a control. Buds enlarged with both IAA and kinetin treatments compared to the control, but only buds injected with IAA showed a transition stage with the bract revealed (cupule-bract stage from previously cupule stage) within two weeks of five weeks of observation. These results raise further questions whether Rafflesia development is more likely due to auxin exposure when in flower bud as compared to cytokinin. Future studies should include increased sample size for treatments, enhanced PGR administration to allow exposure to the tissue and less tissue damage, injection of other PGRs such as gibberellin (GA) and jasmonic acid (JA), and histological tissue analysis to investigate PGR effects in depth.
Rotan jernang (Calamus spp.) merupakan salah satu sumber penghasilan yang penting bagi masyarakat Desa Seko Besar dan Taman Bandung yang bermukim di dekat hutan alam di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kulit buah jernang mengandung resin merah yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena bermanfaat sebagai bahan baku obat dan pewarna alami. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi jenis-jenis jernang di daerah tersebut, mengkaji perbedaan dari setiap jenis, mengetahui pemanfaatan, cara pengolahan resin jernang secara tradisional, upaya pelestarian dan mengetahui nilai guna dan nilai budaya. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung berdasarkan kriteria tertentu (snowball sampling) terhadap 40 responden, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Nilai guna dihitung dengan menggunakan Use Value (UV) dan nilai nilai budaya dihitung dengan menggunakan Index of Cultural Significance (ICS). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan empat jenis-jenis jernang di Desa Seko Besar dan Taman Bandung yaitu Calamus draco Willd. (jernang rambai), C. micracanthus Griff. (jernang kelamuai), C. maculatus (J.Dransf.) W.J.Baker (jernang bengkarung), dan C. didymophyllus (Becc.) Ridl. (jernang burung). Pemanfaatan jernang secara tradisional oleh masyarakat yaitu sebagai obat untuk menyembuhkan beberapa penyakit dan bahan kerajinan tangan. Upaya pelestarian dan budidaya yang oleh masyarakat yaitu dengan menanam jernang pada kebun karet di sekitar pekarangan rumah dan pemanenan buah yang tidak merusak tanaman induknya. Nilai UV tertinggi terdapat pada jenis C. draco dan C. micracanthus yaitu 1,00 dan terendah C. maculatus yaitu 0,85. Nilai ICS rotan jernang C. draco dan C. micracanthus yaitu 18, sedangkan C. didymophyllus dan C. maculatus yaitu 2,5.
Myrmecodia pendens Merr. & L.M.Perry (Rubiaceae) merupakan salah satu tumbuhan sarang semut yang mempunyai morfologi batang yang unik seperti umbi. Morfologi umbi berkaitan erat dengan struktur anatomi batang yang berdiferensiasi dengan pola rongganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan sel-sel batang M. pendens selama proses diferensiasi dan mengamati struktur anatomi umbi beserta pola rongganya. Slide anatomi sel umbi dari lima fase perkembangan awal diferensiasi batang M. pendens dibuat dengan metode parafin. Hasil penelitian menunjukkan adanya diferensiasi yang terjadi pada parenkim korteks dekat berkas pembuluh dan sel-sel parenkim berubah menjadi sel-sel felogen. Aktivitas sel-sel felogen menyebabkan sel-sel penyusun batang M. pendens lisis lalu membentuk rongga, sel-selnya berdiferensiasi, dan terjadi pembesaran organ menjadi umbi. Pola rongga M. pendens dengan habitat di dataran tinggi yaitu rongga terbentuk dari bagian basal umbi dengan satu lubang pembukaan, kemudian meluas hingga ke arah pucuk dan bercabang membentuk ruang rongga. Sel-sel penyusun batang M. pendens dari luar ke dalam yaitu felem, felogen, feloderm, sel permukaan dalam rongga berupa felem pada rongga pertama, dan sel-sel kutil pada percabangan ruang rongga. Penelitian ini dapat dilanjutkan terkait pola anatomi pembentukan rongga kedua dan seterusnya serta pengaruh interaksi semut terhadap diferensiasi batang M. pendens.