
Resak (Vatica spp.) merupakan salah satu marga yang termasuk dalam suku tumbuhan berkayu, Diperocarpaceae, dengan beberapa jenis di antaranya termasuk jenis terancam. Kemampuan identifikasi jenis dengan benar merupakan salah satu aspek yang penting dalam upaya konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi daun resak, kemiripan antar jenis, dan performa dari lima algoritma pembelajaran mesin dalam mengidentifikasi otomatis jenis resak. Karakter morfologi yang diukur adalah warna, ukuran, bentuk, dan tekstur daun dari lima jenis Vatica spp. koleksi Kebun Raya Bogor. Perbedaan nilai rata-rata setiap karakter morfologi dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan uji Tukey. Keragaman dan kemiripan morfologi dianalisis menggunakan analisis komponen utama dan analisis kluster. Identifikasi otomatis dilakukan menggunakan lima algoritma pembelajaran mesin, yaitu BayesNet, K-Nearest Neighbor, Artificial Neural Network, Random Forest, dan Support Vector Machine. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakter morfologi daun (warna, ukuran, bentuk, dan tekstur) pada kelima jenis resak mempunyai perbedaan yang signifikan. Semua karakter morfologi secara signifikan mempengaruhi perbedaan penciri daun resak. Pada tingkat kemiripan 80%, kelima jenis resak dikelompokkan menjadi tiga kluster, yaitu kluster I (V. granulata, V. pauciflora, dan V. venulosa), kluster II (V. bantamensis), dan kluster III (V. rassak). Algoritma pembelajaran mesin yang terbaik dalam melakukan identifikasi otomatis jenis resak menggunakan karakter morfologi daun adalah K-Nearest Neighbor dengan nilai overall accuracy 0,92, koefisien Kappa 0,90, rata-rata precision 0,93, dan rata-rata recall 0,92.
Pulau Moti merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau kecil kepulauan Halmahera dan terletak di sebelah barat pulau Halmahera. Penduduknya tersebar di seluruh kawasan pulau, terutama di sekitar kawasan pantai dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan, petani kebun pala dan cengkih. Namun demikian, informasi mengenai sumber daya keanekaragaman jenis-jenis tumbuhannya belum banyak terungkap. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian guna mengungkap potensi dan keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di kawasan pulau Moti. Pengumpulan data kajian etnobotani menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan nilai guna (Use Value/UV) dan Index of Cultural Significance (ICS). Hasil penelitian menunjukkan 96 jenis tumbuhan dimanfaatkan oleh masyarakat pulau Moti, yaitu sebagai bahan obat (35 jenis), pangan (18 jenis), kayu bakar (14 jenis), kerajinan (12 jenis), bangunan (10 jenis), minuman (2 jenis), racun (2 jenis), pakan ternak, ritual dan tanaman hias (masing-masing 1 jenis). Tiga puluh sembilan jenis di antara 96 jenis tumbuhan berguna memiliki nilai UV (0,2-0,8) dan ICS (2-80), sedangkan jenis tumbuhan yang memiliki nilai guna (UV) tertinggi Arenga pinnata Merr. (0,8) dan tumbuhan memiliki nilai ICS tinggi Arenga pinnata Merr. (80), Barringtonia asiatica (L.) Kurz (48), dan Myristica fragrans Houtt. ( 48).
Pada saat ini, ada kecenderungan back to nature mulai berkembang pesat dalam masyarakat yang menggunakan produk-produk herbal alami untuk pengobatan. Akar kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) telah diketahui sebagai tumbuhan hutan yang memiliki banyak manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui opini masyarakat desa di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja terhadap pengembangan akar kuning sebagai minuman kesehatan. Adapun aspek yang diteliti adalah opini terhadap penggunaan tumbuhan hutan sebagai obat, pengetahuan masyarakat desa tentang manfaat akar kuning, penilaian terhadap variasi minuman seduh akar kuning, serta kesediaan membeli dan kesediaan membayar dari masyarakat terhadap produk hasil pengembangan akar kuning. Data didapatkan dari wawancara dan uji organoleptik pada 50 responden di sekitar KHDTK Samboja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sebanyak 60% setuju, 38% sangat setuju, dan 2% cukup setuju terhadap penggunaan tumbuhan hutan sebagai obat. Masyarakat desa juga pada dasarnya memiliki pengetahuan tentang manfaat dari akar kuning. Di antara manfaat akar kuning yang diketahui oleh masyarakat adalah sebagai obat malaria, obat diabetes, obat lelah, penurun demam, dan untuk mengobati tifus. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa varian minuman serbuk simplisia akar kuning dengan campuran daun stevia kering dan teh melati merupakan formula yang paling disukai secara warna, rasa, dan aroma.
Magnolia merupakan tumbuhan berbunga yang primitif dengan warna menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Beberapa kajian biologi reproduksi Magnolia telah dilakukan, salah satunya tentang polen. Polen Magnolia memiliki catatan fosil yang panjang dan bentuk morfologi paling primitif, sehingga menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Di samping itu, pengetahuan tentang kualitas polen penting dilakukan dalam pengembangan budidaya tanaman Magnolia untuk memprediksi kemampuan reproduksi tanaman sebagai bagian dari studi hibridisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik perbedaan morfologi dan viabilitas polen pada empat jenis Magnolia, di antaranya M. champaca, M. grandiflora, M. liliifera, dan M. obovata. Pengamatan morfologi polen menggunakan Scanning Electron Microscopy. Pengujian viabilitas polen dilakukan dengan dua metode, yaitu pewarnaan (I2KI 1%, Orcein 2%, dan TTC 1%) dan perkecambahan in vitro (asam borat 5 ppm dan sukrosa 5%, 10%, 15%, dan 20%). Hasil pengamatan menunjukkan keempat jenis Magnolia memiliki morfologi dan keunikan yang hampir sama. Ukuran polen paling besar yaitu M. grandiflora, sedangkan polen paling kecil yaitu pada jenis M. champaca. Selanjutnya, pengujian pewarnaan menggunakan larutan I2KI memiliki nilai viabilitas polen lebih tinggi dibandingkan orcein dan TTC. Pada pengujian perkecambahan secara in vitro, hanya polen M. grandiflora yang mampu berkecambah pada media asam borat + sukrosa 5% dalam suhu 4℃ C.
Buah blueberry (Vaccinium spp.) banyak dikonsumsi, karena mempunyai warna yang menarik dan rasa yang istimewa. Buah ini dianggap sebagai salah satu sumber terkaya akan antioksidan alami. Vaccinium varingiifolium adalah salah satu kerabat liar dari blueberry yang belum banyak dikaji pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia apa saja yang terkandung dalam ekstrak buah dan mahkota bunga V. varingiifolium dan potensinya sebagai antioksidan dan antibakteri. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan penangkapan radikal bebas 1-(2, 6-dimethylphenoxy)-2-(3,4-dimethoxyphenylethylamino) propane hydrochloride (DPPH), sedangkan uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah dan mahkota bunga V. varingiifolium memiliki kapasitas untuk menangkap radikal bebas DPPH. Bagian mahkota bunga V. varingiifolium memiliki aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH yang lebih baik dibandingkan dengan bagian buahnya. Selain itu, ekstrak mahkota bunga dan buah V. varingiifolium menunjukkan potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhimurium dan Staphylococcus aureus. namun tidak menunjukkan daya hambat terhadap Candida albicans dan Streptococcus mutans. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa V. varingiifolium merupakan sumber potensial antioksidan dan antibakteri.