
This study presents a systematic implementation review and program evaluation of a non-formal sewing training initiative conducted by SKB Kota Semarang, aiming to enhance life skills and economic independence among community members. The research focuses on two main aspects: (1) the instructional design of the sewing training program, and (2) its effectiveness based on the Context, Input, Process, and Product (CIPP) evaluation model. The sewing training was designed using a Competency-Based Training (CBT) approach aligned with the Indonesian National Work Competency Standards (SKKNI). The curriculum includes progressive modules from basic to advanced garment-making techniques, supported by 260 instructional hours, real-world practice using customer orders, and entrepreneurship components. Instructional delivery integrates demonstrations, peer learning, individual mentoring, and flexible scheduling to accommodate diverse learner needs. A qualitative descriptive method was employed, involving document analysis, classroom observations, and interviews with a coordinator, tutor, group leader, and participants. Findings show that the program aligns with learners' needs and goals, supported by competent instructors, sufficient funding (APBN), and appropriate infrastructure. The training process encouraged active participation and practical engagement, resulting in measurable skill acquisition and enhanced self-confidence. Despite these strengths, the program experienced a recent decline in enrollment due to limited promotion, scheduling rigidity, insufficient equipment, and lack of post-training support. These findings indicate the importance of strategic program enhancement to ensure sustainability and impact. The study concludes that the CIPP model offers a comprehensive framework not only to assess program effectiveness but also to guide continuous improvements in non-formal vocational education. This study contributes to the field of educational evaluation by applying the CIPP model to a community-based, non-formal vocational training program in Indonesia. It offers a structured and contextual analysis of program strengths and weaknesses, providing actionable insights for policymakers and educators. The study’s novelty lies in its holistic assessment of a grassroots educational initiative that integrates life skills development with local economic empowerment, a domain that is often overlooked in formal academic evaluations. By highlighting the intersection of education, gender, and community development, this research adds significant value to the discourse on non-formal education’s role in social transformation.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas belajar siswa kelas IV SDN 1 Mangkubumi pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya materi peta. Penelitian bertujuan meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui penerapan model Teams Games Tournament (TGT). Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dalam dua siklus dengan subjek 31 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas belajar dan keterlaksanaan pembelajaran, dokumentasi, serta catatan lapangan, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan persentase siswa yang memenuhi indikator aktivitas belajar meningkat dari 16,12% pada prasiklus menjadi 58,06% pada siklus I dan 87,09% pada siklus II, melampaui indikator keberhasilan klasikal sebesar 80%. Perbaikan pada siklus II berupa penjelasan mekanisme permainan dan turnamen yang lebih jelas, pengelolaan waktu yang lebih terstruktur, pemerataan kesempatan berpartisipasi, serta bimbingan lebih intensif bagi siswa pasif. Temuan menunjukkan bahwa TGT berpotensi mendukung peningkatan keterlibatan siswa pada konteks pembelajaran IPAS materi peta, meskipun aktivitas menulis dan menggambar masih memerlukan penguatan.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi penerapan modelContextual Teaching and Learning (CTL), serta menganalisis peningkatan motivasi belajar siswakelas IV SDN Saguling pada materi pengenalan pecahan. Penelitian menggunakan PenelitianTindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus terhadap 33siswa. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Datadikumpulkan melalui penilaian modul ajar, observasi pelaksanaan pembelajaran, observasi motivasibelajar, angket motivasi belajar, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dankuantitatif. Perencanaan pembelajaran meningkat dari 66,67% pada Siklus I menjadi 92,86% padaSiklus II, sedangkan pelaksanaan pembelajaran meningkat dari 76,25% menjadi 96,25%. RefleksiSiklus I menunjukkan bahwa penggunaan media konkret, pembentukan kelompok, pertanyaanpemantik, penguatan motivasi, dan kegiatan refleksi belum optimal. Perbaikan pada Siklus IImembuat pembelajaran lebih terarah dan mendorong keterlibatan siswa. Hasil observasi motivasibelajar meningkat dari 75,88% menjadi 93,06%, sedangkan hasil angket meningkat dari 73,79%menjadi 90,68%. Seluruh siswa mencapai kriteria keberhasilan pada Siklus II. Dengan demikian,perbaikan perencanaan dan pelaksanaan CTL berdasarkan refleksi antarsiklus dapat meningkatkanmotivasi belajar siswa pada materi pengenalan pecahan.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar, khususnya pada materi luas trapesium, yang terlihat dari kesulitan siswa mengidentifikasi informasi soal, menyusun langkah penyelesaian secara sistematis, dan memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas V SD Negeri Sukarame pada materi luas trapesium. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis quasi experimental design dan desain nonequivalent control group design, melibatkan 26 siswa kelas eksperimen dan 26 siswa kelas kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes uraian kemampuan pemecahan masalah dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, uji Levene, dan uji Mann-Whitney U dengan bantuan SPSS 26.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen sebesar 65,00 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 63,85, dengan rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,36 (kategori sedang) dan kelas kontrol sebesar 0,27 (kategori rendah). Hasil uji Mann-Whitney U memperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,030 (< 0,05), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas V pada materi luas trapesium.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya motivasi dan keaktifan siswa saat belajar IPA. Hal ini terlihat dari sedikitnya siswa yang ikut serta dalam pelajaran, kurangnya keberanian untuk bertanya atau menjawab, serta antusiasme yang rendah saat mengikuti kegiatan belajar. Situasi ini terjadi karena metode pengajaran yang digunakan tidak bervariasi, membuat siswa menjadi pasif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan semangat dan motivasi dengan menggunakan pendekatan Joyful Learning melalui model Talking Stick. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek dari penelitian ini adalah 23 siswa kelas IV di sekolah dasar. Untuk mengumpulkan data, digunakan metode pengamatan, dokumentasi, serta angket. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis menggunakan cara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa meningkat dari 30% pada pra-siklus menjadi 73% di siklus I dan 87% di siklus II. Keaktifan siswa juga meningkat dari 15% di pra-siklus menjadi 68% di siklus I dan 83% di siklus II. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Joyful Learning dengan model Talking Stick terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam pelajaran IPA dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, interaktif, dan mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi.