Pelatihan ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi kepala sekolah dan guru dalam menyusun Kurikulum Operasiona Satuan Pendidikan yang menjadi acuan sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Mitra kegiatan ini adalah SMA Negeri 1 Majene yang berjumlah 20 orang. Untuk mengatasi permasalahan sekolah, PkM ditempuh dalam tiga tahapan kegiatan yaitu: workshop, pendampingan, dan refleksi. Secara umum, target yang diharapkan dari kegiatan pelatihan ini tercapai. Guru-guru SMAN 1 Majene yang menjadi peserta pelatihan ini telah mampu merancang dan menghasilkan draft KOSP sesuai dengan hasil analisis SWOT karakteristik siswa dan sekolah. Selain itu, motivasi peserta mengikuti pelatihan sangat tinggi, terbukti dengan kehadiran peserta yang mencapai 100%. Keberhasilan pelatihan ini dapat pula dilihat dari pemahaman dan kreativitas peserta dalam mengembangkan draft KOSP sekolah mereka meningkat menjadi sekitar 65% (indikatornya adalah perbandingan hasil sebelum dan sesudah pelatihan).
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling umum di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi merupakan penyebab utama kematian dini secara global, karena berkontribusi secara signifikan terhadap risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan komplikasi kesehatan lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran implementasi pendidikan kesehatan tentang diet dalam mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di RSUD Labuang Baji Makassar. Penelitian ini menggunakan penelitian studi kasus deskriptif yang bertujuan untuk memberikan deskripsi suatu kasus tertentu dan menjelaskan hasil penelitian secara terperinci. Jumlah subyek kasus dalam penelitian ini adalah 3 pasien hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan dari hasil wawancara sebelum dilakukan pendidikan kesehatan didapatkan data bahwa 1 orang pasien mengatakan mengetahui tentang diet hipertensi dan 2 orang pasien mengatakan tidak mengetahui tentang diet hipertensi sedangkan dari hasil wawancara dan setelah pemberian pendidikan kesehatan didapatkan hasil bahwa ketiga responden mengetahui tentang diet hipertensi yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Kesimpulan bahwa sebelum dilakukannya pendidikan kesehatan terdapat dua responden yang tidak mengetahui tentang diet hipertensi, kemungkinan disebabkan oleh karena kedua responden tersebut baru beberapa bulan terakhir mengetahui kalau dirinya mengalami hipertensi dan baru pertama kali datang berobat di Rumah Sakit Labuang Baji, sehingga pemahaman tentang diet hipertensi masih relatif kurang, yang berbeda dengan informan kedua yang telah lama mengalami hipertensi dan berulangkali datang berobat. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, pengetahuan ketiga responden menjadi meningkat yang awalnya tidak/kurang tahu menjadi tahu, termasuk informan kedua yang mengakui bahwa setelah diberikan edukasi maka pengetahuan tentang diet hipertensi menjadi semakin bertambah
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi bahasa asing masyarakat melalui program literasi bahasa Jerman berbasis komunitas. Kegiatan dilaksanakan di Kota Makassar dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, dan komunitas belajar bahasa asing sebagai mitra utama. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi rendahnya kemampuan literasi bahasa Jerman, keterbatasan praktik komunikasi, kurang optimalnya pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pembelajaran, serta belum terbentuknya komunitas belajar yang berkelanjutan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, program dilaksanakan melalui metode workshop, focus group discussion (FGD), demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan berbasis komunitas. Materi pelatihan mencakup penguatan kosakata dan komunikasi dasar bahasa Jerman, penggunaan media digital pembelajaran, serta pemanfaatan aplikasi berbasis AI dalam pembelajaran bahasa asing. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan kemampuan peserta dalam memahami kosakata dasar, melakukan percakapan sederhana, membaca teks pendek, serta menggunakan media digital untuk belajar bahasa Jerman secara mandiri. Peserta juga menunjukkan peningkatan motivasi belajar, rasa percaya diri dalam berkomunikasi, dan partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas. Selain itu, program berhasil membentuk lingkungan belajar kolaboratif yang mendukung pengembangan literasi bahasa asing secara berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pembelajaran terbukti membantu peserta memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif dan fleksibel. Dengan demikian, program literasi bahasa Jerman berbasis komunitas dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kompetensi bahasa asing dan literasi digital masyarakat di era globalisasi.
Although internal factors such as motivation have increasingly received attention in language learning research, studies that specifically examine the role of prior ability (entry behavior) as a moderator in the relationship between learning motivation and learning achievement remain limited. This study aims to analyze the role of prior ability in moderating the relationship between learning motivation and Arabic language learning achievement. This study employed a quantitative correlational approach with a moderation design, involving 40 sixth-grade students of SD Islam Ar-Raafi selected through total sampling. The research process was conducted during the odd semester in November 2025. Data were collected using a Likert-scale questionnaire to measure learning motivation and score documentation for prior ability and learning achievement, and were then analyzed using Moderated Regression Analysis (MRA) with the assistance of SPSS. The results showed that learning motivation, with a mean of 85.98, and prior ability, with a mean of 87.77, were in the moderate category, whereas learning achievement, with a mean of 89.25, was classified as good. The MRA analysis proved that prior ability significantly strengthened the relationship between learning motivation and learning achievement, as indicated by a significance value of 0.007 < 0.05 and an interaction coefficient of 0.002. This study also found an anomaly in that students’ high ambition was sometimes accompanied by amotivation in the form of loss of focus in understanding the material. These findings contribute to the development of motivation theory in educational psychology while broadening understanding of language acquisition. The conclusion of this study confirms that high motivation will have an optimal impact on learning achievement when supported by strong prior ability, so teachers need to provide a review of basic material through a matriculation program. The implications of this study include theoretical contributions to the literature on prior ability in Arabic language learning and practical implications for educational institutions to facilitate enrichment programs, while also opening opportunities for further research using a qualitative approach related to factors of students’ learning confusion.
Penelitian ini membahas pengaruh penggunaan smartphone terhadap minat belajar pesertadidik di MI Attaufiq Palanro Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Penelitian inimenggunakan pendekatan lapangan (field research) dengan metode observasi, wawancara, dandokumentasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan pedoman wawancara, dan keabsahandata diuji melalui triangulasi metode, sumber data, antar-peneliti, dan teori. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa (1) minat belajar peserta didik di MI Attaufiq Palanro meningkat berkatfasilitas pembelajaran berbasis teknologi yang memadai, lingkungan belajar yang bersih dannyaman, serta metode pembelajaran kreatif dan inovatif yang menciptakan suasanamenyenangkan. (2) Penggunaan smartphone memiliki dampak positif, seperti membantu siswamencari informasi pembelajaran, meningkatkan kemandirian, serta menciptakan rasa senang dalambelajar. Namun, dampak negatif juga terlihat, seperti siswa menjadi malas membaca buku,kehilangan fokus, mudah bosan, stres akibat pembelajaran daring, serta kecanduan teknologi yangmengganggu hubungan sosial. Solusi untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkandampak negatif adalah: (a) guru memberikan tugas tambahan, nasihat, dan bekerja sama denganorang tua untuk memantau perkembangan siswa; (b) orang tua mengawasi aktivitas penggunaansmartphone, memberlakukan aturan waktu dan jenis konten yang diakses. Dengan demikian,kolaborasi antara guru dan orang tua sangat penting untuk memastikan smartphone menjadi alatedukasi yang mendukung perkembangan siswa secara optimal.
Agung Sedayu M, Comparative Study of Arabic Writing Skills between Junior High School and Middle School Graduates in Class XI of MA Darul Aman Lengkese Takalar. Thesis. Department of Foreign Language Education. Arabic Language Education. Faculty of Language and Literature, Makassar State University (supervised by Ambo Dalle and Ahmad Sirfi Fatoni). This study aims to determine the comparison of Arabic writing skills between junior high school and high school graduates in class XI of MA Darul Aman Lengkese Takalar in the 2025/2026 academic year. This research is a quantitative research using a comparative approach. The techniques used in this research are observation techniques, documentation, tests from two different samples, namely junior high school graduates totaling 14 people with MTS graduates totaling 14 people with a total sample of 28 people. The results of this study showed that the average value of the Arabic writing skills test results of junior high school graduates got an average result of 54.9 while MTS graduates obtained an average value of 62.74. Based on the results of the t-test conducted, there is a significant difference between the Arabic writing skills of junior high school graduates and MTS graduates in class XI MA Darul Aman Lengkese Takalar.
Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk membandingkan tingkat efektivitas antara model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) dalam mengembangkan keterampilan menulis teks cerpen. Data yang digunakan berupa angka dan hasil penghitungan, yang mendukung pendekatan kuantitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XI di SMAN 4 Makassar dalam pembelajaran menulis teks cerpen dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL); (2) mendeskripsikan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa melalui penerapan model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran menulis teks cerpen; serta (3) membuktikan perbedaan signifikan dalam keterampilan menulis cerpen antara siswa yang diajar menggunakan model PBL dan PjBL. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 4 Makassar dengan fokus pada siswa kelas XI, bertujuan memberikan analisis yang menyeluruh terkait efektivitas kedua model pembelajaran tersebut dalam mengembangkan keterampilan menulis teks cerpen. Metode yang digunakan meliputi observasi, dokumentasi, dan tes tertulis sebagai alat pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterampilan menulis cerpen siswa kelas XI.2 yang mengikuti pembelajaran dengan model PBL mengalami peningkatan, dari nilai rata-rata awal 63,75 (kategori rendah) menjadi 80,69 (kategori sedang) setelah penerapan model pembelajaran tersebut serta keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mencapai nilai sebesar 80,93% dan berada dalam kategori sangat baik; (2) keterampilan menulis cerpen siswa kelas XI.8 yang diajar menggunakan model PjBL juga meningkat, dari nilai rata-rata 61,81 (kategori rendah) menjadi 79,58 (kategori sedang) setelah perlakuan serta keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mencapai nilai sebesar 80,20% dan berada dalam kategori sangat baik; dan (3) hasil uji independent sample test menunjukkan nilai t-hitung sebesar 0,694, sedangkan t-tabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan derajat kebebasan (df) = 70 adalah 1,666. Karena t-hitung (0,694) lebih kecil daripada t-tabel (1,666), maka H₀ diterima. Dengan demikian, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan keterampilan menulis teks cerpen siswa kelas XI di SMAN 4 Makassar. Berdasarkan hasil uji t dan analisis nilai probabilitas, kedua model pembelajaran memberikan pengaruh yang serupa dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa.
Abstract. Falling This study is a descriptive qualitative research that aims to examine the application of the concept of freedom and its impact in learning German in the Merdeka Curriculum at SMAN 4 Enrekang, using Paulo Freire's perspective. This research focuses on the dialectical process and interaction between teachers and students during German language learning. Data were obtained through observations, recordings of the learning process, and related documents, then analyzed using Paulo Freire's freedom analysis method. The results showed that three main aspects were successfully implemented, namely dialog, cultural and contextual context, and empowerment. However, the involvement of praxis is still not maximized, and the other two aspects of criticism of traditional education and education as a political act are still not well implemented. The positive impact of applying Paulo Freire's concept of freedom is seen in students' ability to think critically, which increases their engagement, as well as the social context that encourages students to continue learning German. However, some students still have difficulty responding because they are used to authoritarian learning methods.Keywords: German, Freedom, Paulo Freire
Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kedua nilai budaya tersebut dapat diintegrasikan sebagai strategi mediatif dalam penanganan kasus perundungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru BK, siswa pelaku dan korban perundungan, serta pihak sekolah sebagai informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi sesi konseling, dan analisis dokumen sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis Braun dan Clarke, dengan triangulasi sumber dan member checking untuk memastikan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama: (1) Silaturahmi berfungsi sebagai mekanisme pemulihan relasi awal yang menurunkan ketegangan dan membangun rasa percaya; (2) Musyawarah menjadi ruang dialog egaliter yang memungkinkan validasi emosi, pertukaran perspektif, dan negosiasi solusi; dan (3) integrasi kedua nilai tersebut membentuk model konseling restoratif berbasis budaya lokal yang mampu memulihkan hubungan interpersonal serta mencegah berulangnya konflik. Temuan ini menegaskan bahwa nilai budaya bukan sekadar simbol tradisional, tetapi dapat dioperasionalkan sebagai strategi konseling efektif dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan konseling berbasis budaya lokal memiliki kekuatan dalam menciptakan proses mediasi yang lebih holistik dan berkesinambungan dibandingkan pendekatan disipliner. Penggunaan silaturahmi dan musyawarah tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kembali kepercayaan, empati, dan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, sekolah dianjurkan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ini dalam kebijakan dan praktik bimbingan konseling, serta memberikan pelatihan bagi guru BK untuk menerapkan pendekatan restoratif yang peka budaya.
Background/purpose. Differentiated teaching materials are a source of quality and meaningful learning for students because they are prepared based on students' needs. Materials/methods. This research includes development research using the ADDIE model which aims to describe the profile of digital-based differentiated teaching materials (Barista) in procedural text writing material for class VII students. The object of this research is digital-based differentiated teaching materials (Barista) in learning to write procedure texts for class VII students in three schools, namely Junior High School 1 Parepare, Junior High School 4 Parepare, and Junior High School 5 Parepare. The number of students studied at each school was 50, so the total number of students in this study was 150. Data collection in this research used a questionnaire for material experts and media experts to reveal the suitability of teaching materials and a questionnaire for student and teacher responses to reveal the practicality of digital-based differentiated teaching materials (Barista) in learning to write procedural texts. Results. The results of this research are digital-based differentiated teaching materials (Barista) on the topic of "Writing Procedure Texts," which can be accessed online, offline, and in print. The validator team considered these teaching materials very suitable for use and students and teachers considered them very practical. Conclusion. This study developed digital-based differentiated teaching materials (Barista) for procedural writing, tailored to students' learning needs (readiness, interests, profiles) through content, process, and product differentiation, integrated with digital media (videos, interactive quizzes). The flipbook/PDF materials were validated as highly suitable for Phase D (grade VII). Trials in three schools confirmed their practicality for both teachers and students.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi guru dalam menanamkan nilai kedisiplinandan kejujuran pada peserta didik di MI DDI Bottoe Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru.Permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya internalisasi nilai-nilai moral dalam perilakusehari-hari peserta didik, akibat terbatasnya sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan.Strategi yang diterapkan meliputi komunikasi efektif, klarifikasi nilai, keteladanan, pembiasaan,serta pemberian sanksi edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatifdengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwastrategi-strategi tersebut mampu meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnyakedisiplinan dan kejujuran. Hal ini tercermin dalam kepatuhan terhadap aturan sekolah danpeningkatan tanggung jawab mereka dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung mencakupketeladanan guru, kontrol kepala madrasah, serta dukungan masyarakat. Namun, hambatan utamaberasal dari kurangnya perhatian orang tua, lingkungan keluarga yang kurang kondusif, danrendahnya kesadaran peserta didik. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa rekomendasipendekatan holistik yang melibatkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untukmemperkuat pendidikan karakter. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya penguatan nilai-nilai moral dalam proses pembelajaran sebagai respons terhadap tantangan globalisasi. Strategi inidapat menjadi model yang direplikasi di institusi pendidikan lain untuk mencetak generasibermoral, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi.
Penggunaan media digital dalam pendidikan mengalami perkembangan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk Bahasa Jerman, media digital tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga menjadi instrumen instruksional yang memudahkan proses pembelajaran. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media digital sebagai alat komunikasi instruksional dalam pembelajaran Bahasa Jerman. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan mengkaji penelitian-penelitian sebelumnya mengenai efektivitas media digital dalam pembelajaran bahasa. Hasil kajian menunjukkan bahwa media digital, seperti aplikasi pembelajaran, video pembelajaran, dan platform kolaboratif, efektif dalam meningkatkan motivasi belajar, kemampuan komunikasi, dan keterampilan bahasa siswa. Dengan demikian, media digital menjadi alat yang penting dalam mendukung pembelajaran Bahasa Jerman di era digital.
Learning local content builds national character, because it pays attention to environmental characteristics and local culture. This study aims to determine the application of character education to students based on local wisdom in the Riau Malay learning process. This research is ethnographic and qualitative with the principal, 7 class teachers, and students as subjects. The research instrument consists of observation, interviews, documentation. The results of this study have been carried out well based on local wisdom in Malay culture learning at SDN 183 Pekanbaru including being religious, honest, disciplined, social care, responsibility, environmental care, independent and respectful.
Social issues among teenagers such as declining manners, lack of responsibility, weakened sense of tolerance, and poor collaboration reflect an ongoing crisis of character that calls for immediate and thoughtful intervention. This study explores the effectiveness of character education rooted in local wisdom as a meaningful solution to help shape the moral development of adolescents. Using a descriptive qualitative approach within an action research framework, the program was implemented in a public high school located in a culturally rich community where traditional values are still widely practiced. The findings indicate a significant improvement in five key character traits: responsibility (23%), respectfulness (25%), cooperation (24%), tolerance (26%), and discipline (25%). Local values such as gotong royong (mutual cooperation), musyawarah (deliberation), and siri’ na pacce (dignity and empathy) were integrated into the learning process through contextual and collaborative methods. These efforts successfully encouraged students to internalize and apply positive behaviors in their daily lives. This study supports the theories of contextual learning and social constructivism, emphasizing that education grounded in cultural identity not only preserves heritage but also effectively nurtures strong character in young people. In a time of rapid globalization, such an approach proves to be both relevant and transformative.
This study aims to comprehensively describe the planning, implementation, and outcomes of efforts to improve students’ mastery of Arabic vocabulary through the use of picture card media in learning activities. This research employs a Classroom Action Research (CAR) design conducted in two cycles, with each cycle consisting of two meetings. The subjects of this study were 26 fourth-grade students of SDIT Al-Fadiyah Gowa. Data were collected through vocabulary mastery tests as well as teacher and student observation sheets. The planning stage was carried out collaboratively with the teacher by preparing appropriate learning instruments, while the implementation of the actions was systematically monitored using observation guidelines. The results indicate a significant improvement in students’ Arabic vocabulary mastery. In the first cycle, the average learning achievement reached 70%. After refining the instructional strategies in the second cycle, the achievement increased to 86%, showing a 16% improvement. These findings demonstrate that the use of picture card media is effective in creating more engaging, interactive, and meaningful learning experiences. Consequently, it contributes positively to enhancing the Arabic vocabulary mastery of fourth-grade students in a measurable and observable manner.
The golden age of toddlerhood is a crucial time for growth and development that requires special attention. Failure to support children during this time can cause developmental issues that affect their future growth. This study examined whether toddler growth and development interventions prevent developmental disorders. This pre-experimental study used a one-group pre-test/post-test design. The proportional random sample included 70 participants. The respondents’ age, occupation, education, use of toddler growth and development stimulation interventions, and health cadres’ and mothers’ knowledge and skills were variables. Data were analyzed using Wilcoxon and Mann-Whitney. There was a significant increase in health cadres and mothers’ knowledge and skills for promoting toddler growth and preventing developmental disorders (P=0.000<0.05). Effective toddler growth and development interventions improve health cadres and mothers’ knowledge and skills, preventing developmental disorders in toddlers. These findings suggest that targeted educational programs for health cadres and mothers may reduce developmental disorders and promote healthier growth trajectories for children.
Abstract. This research is a classroom action research consisting of two cycles. The purpose of this study was to determine the planning, implementation, results of the German language writing skills of the students of SMA Negeri 7 Maros. Data obtained through observation and writing skill tests. Observational data were analyzed descriptively and data on writing skill test results were analyzed using percentage techniques. The learning planning was carried out well and the learning implementation was carried out in accordance with the steps of the picture storytelling method. The results showed that the average score of students writing skills in cycle I was 75 while in cycle II it was 90. These results indicate that the Picture Story method can improve the German writing skills of students at SMA Negeri 7 Maros.Keywords: Picture Story Method, Writing skill, German
Abstract. This research is a classroom action research that aims to improve the German listening skills of class X IPS 2 SMAN 4 Luwu through Deutschtrainer A1 learning media. The research was conducted in two cycles. Each cycle contains the stages of planning, implementing, observing and reflecting. The research data consisted of two types of data, namely qualitative data which is a description of the results of the implementation and results of observations during the learning process and quantitative data in the form of test results of students' listening abilities. The average score for the listening ability of class X IPS 2 students in cycle I was 56.47 and increased in cycle II to 80.88. The results showed that the Deutschtrainer A1 media could improve the German listening skills of class X IPS 2 students of SMAN 4 Luwu.Keyword: Listening Ability, Deutschtrainer A1, Germany
The evolution of technology has reshaped the educational landscape, with online learning emerging as a prominent and accessible alternative. Online learning offers broader access to education, allowing individuals to pursue learning opportunities regardless of geographical constraints. The use of educational technology, including virtual reality, gamification, and artificial intelligence, has been shown to play a transformative role in developing the cognitive and communicative skills of university students. In a study conducted by Kara in 2021, various driving and hindering factors affecting students in online learning were identified through qualitative research among university students in Turkey. The research aims to develop and validate a Scale of Drivers and Barriers for Students in Online Learning, utilizing confirmatory factor analysis to ascertain the factor structure and measurement instrument validity. Eight items developed through focus group discussion with expert panels considering the findings. Confirmatory factor analysis confirms the findings by provide adequate goodness of fit, reliability and validity of the scale.
Salah satu masalah yang dapat mengganggu potensi anak sekolah adalah kekurangan zat gizi besi yang sering disebut juga dengan istilah anemia defisiensi besi (ADB). Anak usia SD kemungkinan besar sangat sedikit yang memahami tentang gejala anemia dan pencegahannya, padahal efek kejadian anemia pada anak sekolah cukup besar. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melatih anak sekolah sehingga dapat memahami dan mampu mendeteksi tanda dan gejala anemia defisiensi besi di lingkungannya. Metode yang digunakan adalah pemberian pelatihan kesehatan. Hasil yang dicapai dalam kegiatan pengabdian masyarakat tahap 1 adalah berdasarkan penilaian pre dan post test bahwa dari 30 orang anak sebagai peserta terdapat peningkatan nilai rata-rata hasil pre-post test sekitar 74,22 saat pre test menjadi 89,11 pada saat post test. Sedangkan hasil kegiatan tahap 2 menunjukkan lebih 75% peserta mengalami peningkatan pengetahuan. Hasil kegiatan tahap 2 juga menunjukkan pula bahwa rata-rata nilai perubahan pre test ke post test yaitu dari 80,44% menjadi 94,22%. Terdapat pula 11 orang yang memiliki kemampuan sebagai kader cilik kesehatan; Didapatkan 8 orang yang memiliki kadar Hb dibawah 12 g/dl dan 8 orang yang memiliki kadar Hb diatas 18 g/dl. Kesimpulan kegiatan ini adalah dari hasil perbandingan nilai pre test dan post test kegiatan tahap 1 dan kegiatan tahap 2 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dari rata-rata pengetahuan peserta sebelum dan setelah kegiatan. Saran dari kegiatan ini yaitu diharapkan pembinaan kader cilik kesehatan yang mampu mendeteksi anemia defisiensi besi pada anak dapat ditindaklanjuti oleh pihak sekolah dan petugas puskesmas.