Kebisingan mesin kapal merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran pada pengemudi kapal katinting. Paparan kebisingan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama dapat menyebabkan Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Selain faktor kebisingan, persepsi risiko kesehatan juga memengaruhi perilaku pencegahan pekerja terhadap gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebisingan mesin dan persepsi risiko kesehatan terhadap gangguan pendengaran pengemudi kapal katinting melalui pendekatan literature review. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review dengan menelaah berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang diperoleh melalui database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Garuda. Literatur yang digunakan dipublikasikan pada tahun 2014–2025 dan berkaitan dengan kebisingan kerja, gangguan pendengaran akibat kebisingan, serta persepsi risiko kesehatan pada pekerja kapal dan nelayan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebisingan mesin kapal memiliki hubungan signifikan terhadap gangguan pendengaran pada pekerja sektor transportasi laut dan nelayan pengguna kapal motor. Paparan kebisingan di atas 85 dBA dalam durasi lama meningkatkan risiko terjadinya Noise-Induced Hearing Loss. Faktor usia, masa kerja, dan lama paparan turut memperbesar risiko gangguan pendengaran. Selain itu, persepsi risiko kesehatan memengaruhi perilaku pekerja dalam penggunaan alat pelindung telinga. Pekerja dengan persepsi risiko rendah cenderung mengabaikan tindakan pencegahan sehingga lebih rentan mengalami gangguan pendengaran. Kebisingan mesin dan persepsi risiko kesehatan merupakan faktor penting yang berhubungan dengan gangguan pendengaran pada pengemudi kapal katinting.
Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit kepada pasien. Salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan adalah komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi, informasi, dan edukasi terhadap mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit berdasarkan hasil kajian literatur. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif melalui penelusuran berbagai artikel ilmiah yang diperoleh dari database seperti Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dengan rentang publikasi tahun 2020–2025. Proses seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 20 artikel penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif antara tenaga kesehatan dan pasien dapat meningkatkan pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatannya serta meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Penyampaian informasi kesehatan yang jelas dan transparan juga dapat meningkatkan kepercayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Selain itu, edukasi kesehatan berperan dalam meningkatkan pengetahuan pasien mengenai penyakit yang dideritanya serta meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Secara keseluruhan, komunikasi, informasi, dan edukasi memiliki peran yang saling berkaitan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Oleh karena itu, rumah sakit perlu mengoptimalkan penerapan komunikasi yang efektif, penyampaian informasi yang jelas, serta program edukasi kesehatan yang terstruktur sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, so that humans infected with this virus cannot fight various types of diseases that attack their bodies. Meanwhile, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is a syndrome or collection of symptoms of a disease caused by the Human Immunodeficiency virus or better known as HIV. This research aims to determine the description of knowledge, attitudes, subjective norms and perceived behavioral control of PLWHIV regarding HIV and AIDS in Wangi-Wangi, Wakatobi Regency in 2025. This type of research is qualitative research using a phenomenological approach. Informants in this study were divided into two categories, namely, key informants were PLWHIV and ordinary informants were health workers. Data collection methods use in-depth interviews and observation. The results of this study show that PLWHIV knowledge regarding HIV and AIDS is still lacking because before they were diagnosed positive they did not find out about HIV and AIDS, the attitude of PLWHIV was still not good enough because before they were diagnosed positive they did not feel worried, they felt normal, some even felt happy in carrying out behavior at risk of contracting HIV and AIDS, the subjective norms of PLWHIV were influenced by friends, husbands and the people around them, which gave rise to a sense of confidence in PLWHIV to carry out risky behavior, the perception of behavioral control of PLWHIV is still not good enough because before being diagnosed positively, there is a feeling of curiosity and feeling of loneliness, which causes unstable self-control which is a trigger for carrying out risky behavior of contracting HIV and AIDS.
Stunting is a major problem currently being faced by the health world, including Indonesia. Pregnant women receive health education related to stunting prevention, but stunting cases are still increasing, so treatment using various techniques is needed. Partnership and empowerment of cadres are not enough if advocacy and atmosphere building are still ignored. This community partnership empowerment (PKM) activity aims to improve the ability of posyandu (Integrated Health Service Post) cadres as health educators and companions for pregnant women in the community in terms of reducing the risk of stunting from the fetal stage. Its implementation is in two stages, namely: Stage 1, providing health education to improve cadres' knowledge about stunting and counseling training; and Stage 2, supervising cadres' counseling abilities. The results of the implementation of PKM Stage 1 showed an increase in cadres' knowledge about stunting material and how to provide counseling. This community service activity was welcomed by cadres and stakeholders. The outcomes of this activity included increased cadre knowledge, dissemination of health promotion media, and a memorandum of understanding between Anduonohu Village and the Faculty of Medicine, Halu Oleo University regarding efforts to improve public health.Stunting menjadi masalah utama yang sedang dihadapi oleh dunia kesehatan termasuk Indonesia. Ibu hamil menerima penyuluhan kesehatan terkait pencegahan stunting, namun kasus stunting masih meningkat sehingga diperlukan penanganan dengan teknik yang beragam. Kemitraan dan pemberdayaan kader belum cukup jika advokasi dan bina suasana masih diabaikan. Kegiatan pemberdayaan kemitraan masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan kemampuan kader posyandu sebagai penyuluh kesehatan dan pendamping ibu hamil di masyarakat dalam hal menurunkan risiko stunting sejak dari janin. Pelaksanaannya dalam 2 tahapan, yaitu tahap 1 pemberian penyuluhan kesehatan guna meningkatkan pengetahuan kader mengenai stunting dan pelatihan menyuluh serta, tahap 2 supervisi kemampuan menyuluh kader. Hasil pelaksanaan kegiatan PKM tahap 1 menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan kader mengenai materi stunting dan cara memberikan penyuluhan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disambut baik oleh kader dan stakeholder, hasil kegiatan ini berupa pengingkatan pengetahuan kader, penyebaran media promosi kesehatan dan nota kesepahaman antara Kelurahan Anduonohu dan Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo dalam hal upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a significant global health issue in developing countries. This infectious disease is also a serious problem in Indonesia, which is one of the endemic countries with cases continuing to emerge every year. The number of DHF cases at the Abeli Health Center increased from 37 cases in 2023 to 43 cases in 2024. The aim of this study is to understand the spatial analysis of DHF incidence and to analyze the relationship between population density, rainfall, and the free larva index with DHF occurrence in the working area of the Abeli Health Center in Kendari City in 2024. This type of research is quantitative with a descriptive analytical approach. The sample in this study consists of 43 samples using total sampling technique. Data was analyzed spatially using QGIS and univariate and bivariate analyses were conducted. The results of the study indicate that there is no relationship between population density (ρ=0.775), ABJ (ρ=0.588) and the incidence of dengue fever in the work area of the Abeli health center in Kendari City in 2024. There is a relationship between rainfall (ρ=0.003) and the incidence of dengue fever in the work area of the Abeli health center in Kendari City in 2024. In conclusion, there is a relationship between rainfall and the incidence of dengue fever.
Nurse performance is the effort of nurses in carrying out their duties and responsibilities to the best of their abilities, in order to achieve the main goals of the profession and organizational objectives. The purpose of this study is to examine the physical work environment's impact on the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital, the non-physical work environment's impact on the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital, and organizational commitment's impact on the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital. Data analysis was conducted using SPSS statistical tests including univariate, bivariate, and multivariate analyses. The sample size for this study was 95 individuals, and the sampling technique used was the census method. The results of this study indicate that the physical work environment significantly influences the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital with a p-value of 0.028 < 0.05. The non-physical work environment also significantly influences the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital with a p-value of 0.009 < 0.05. Organizational commitment significantly influences the performance of nurses in the Inpatient Ward of Kendari City Hospital with a p-value of 0.017 < 0.05. Recommendations from this study include the need for management to improve the physical work environment, particularly in terms of ventilation and cleanliness, to enable nurses to perform well
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui evaluasi SIMRS dengan melihat pengaruh Human (system use, user satisfaction), Organization (top management support, it capability staff), Technology (system quality, information quality dan service quality) terhadap net benefit SIMRS Khanza di instalasi rawat jalan RSUD Bahteramas. Jenis penelitian ini adalah cross sectional, jumlah populasi 147 orang dan sampel 107 orang. Data hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan SPSS regresi linear berganda. Hasil penelitan adalah sebagai berikut: ada pengaruh secara parsial system use terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,012, ada pengaruh secara parsial user satisfaction terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,025, tidak ada pengaruh secara parsial top management support terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,468, tidak ada pengaruh secara parsial IT capability staff terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,362, tidak ada pengaruh secara parsial system quality terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,343, tidak ada pengaruh secara parsial information quality terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,424, tidak ada pengaruh secara parsial service quality terhadap net benefit dengan nilai sig. 0,076, variabel system use, user satisfaction, top management support, it capability staff, system quality, information quality, dan service quality berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap net benefit dengan nilai adjusted r square 12,2%.
Dengue fever is a disease that kills a lot of people and attacks the community, so it's important to pay attention to this intense outbreak. Different endeavors have been made to defeat this episode, yet there are as many individuals who don't know about the dangers. Aromatherapy candles are one option for repelling mosquitoes. Aromatherapy candles can be made from the abundant lemongrass that grows in the yard. Aromatherapy candles with lemongrass in them repel mosquitoes and can help alleviate stress. This act of community service involves teaching members of the community, particularly cadres in Puasana village, about the dangers of dengue fever and how to get it. In addition to counseling, instructions were given on how to make aromatherapy candles. In this way, people will learn more about the dangers of dengue fever and how living plants can be turned into valuable objects
AbstrakSalah satu masalah kesehatan reproduksi yang paling umum adalah keputihan (juga dikenal sebagai fluor albus). Banyak wanita muda percaya bahwa keputihan adalah normal. Namun, bukan itu masalahnya; keputihan tidak dicegah dengan baik, yang dapat menyebabkan infeksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang personal hygiene genitalia dengan kejadian keputihan pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan desai cross sectional. Dalam penelitian ini menggunakan total sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 253 responden yang diambil dari total populasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan (p value=0,626), sikap (p value = 0,792), dan praktik (p value = 0,537) personal hygiene genitalia dengan kejadian keputihan pada mahasiswi di Halu Oleo Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Oleo. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi terkait personal hygiene genitalia khususnya keputihan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap positif serta melakukan tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya keputihan. Kata kunci:Keputihan, Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan
Latar Belakang: Masa remaja adalah salah satu fase yang penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pangan merupakan komponen penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. Remaja merupakan salah satu konsumen dari produk pangan kemasan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan kemampuan membaca informasi nilai gizi pangan kemasan pada remaja di Indomaret Piere Tendean Baruga Kota Kendari Tahun 2022 dengan sampel 96 responden. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode pendekatan cross sectional. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pangan kemasan yaitu sebanyak 77 responden (80,2%), sebagian besar responden memiliki sikap yang positif mengenai pangan kemasan yaitu sebanyak 58 responden (60,4%), dan sebagian besar responden memiliki kemampuan membaca label informasi nilai gizi pangan kemasan yang cukup yaitu sebanyak 66 responden (68,8%). Saran: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat melakukan penelitian secara mendalam mengenai perilaku membaca informasi nilai gizi terutama dikalangan remaja.Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Kemampuan Membaca Label
Latar Belakang : Pandemi Covid 19 menuntut untuk melakukan perubahan, baik dalam hal cara berpikir, cara berperilaku, dan cara bekerja. Petugas kesehatan sebagai profesi yang menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19. Upaya promosi kesehatan gencar dilakukan oleh tenaga promosi kesehatan (promkes). Di masa pandemi ini program kerja tenaga promkes terpusat pada sosialisasi dan edukasi pencegahan Covid-19 pada wilayah kerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh petugas promosi kesehatan di wilayah Puskesmas Mekar. Informan penelitian ini berjumlah 4 orang yang berasal dari kepala puskesmas, ketua promosi kesehatan sebagai informan kunci, dan 2 orang masyarakat sebagai informan biasa. Metode penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dengan melakukan telaah pustaka dan wawancara mendalam kepada semua informan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa strategi promosi kesehatan telah dilakukan pihak puskesmas mulai dari strategi advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat namun respon masyarakat begitu beragam ada yang menerima ada pula yang tidak menerima, hal ini karena faktor pemahaman masyarakat maupun pelaksanaan strategi tersebut belum efektif dan efisien.
Latar Belakang: Pembuangan sampah ke laut disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang membuang sampah di laut. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan pemberdayaan masyarakat pesisir mencakup penyelenggaraan promosi kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat, untuk menentukan program. Tujuan: untuk mengetahui Efektivitas Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Program Pulut (Pungut Sampah Dilaut) Terhadap Kesadaran Masyarakat Pada Kelurahan Bungkutoko Kecamatan Nambo Kota Kendari Tahun 2021. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kuantitatif dengan metode Pre- eksperimental One Group Pre-Post Test Design. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pesisir pada RW 03/RT 08-12 di Kelurahan Bungkutoko dengan jumlah penduduk sekitar 1042 orang, dan sampel sebanyak 30 dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil: Penelitian ini menggunakan wilcoxon sign rank test yang menunjukkan adanya perbedaan kesadaran masyarakat antara hasil kegiatan Program PULUT untuk pre test ke post test dengan nilai P=0,001 atau p value <0,05. Dan hasil uji menggunakan wilcoxon mann whitney yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol dengan nilai signifikan sebesar 0,039 atau p value < 0.05 artinya ada perbedaan. Kesimpulan: Oleh karena itu, Program PULUT efektif dalam mencegah membuang sampah dilaut dan meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir pada Kelurahan Bungkutoko Kecamatan Nambo Kota Kendari.
Southeast Sulawesi has been grappling with a significant issue of malnutrition recently. While the problem of stunting remains unresolved, there has been a surge in obesity rates. To tackle the triple burden malnutrition, the CEKAL TRIP BOMBANA program has been introduced. This preventive program aims to increase the skills and knowledge of mothers in terms of nutrition and health, thereby preventing triple malnutrition in households. The program was implemented in three assisted villages - Lameroro Village, Tapuhahi Village, and Lantawonua Village in Bombana District, Southeast Sulawesi Province. The program has four key components: training on early detection of triple malnutrition, counseling on nutrition and healthy lifestyles, launching a Facebook account for social media dissemination of messages, and forming influencers from trainees to become agents of change in their communities. The program's success was evaluated by assessing the implementation process and observing the participant’s responses to the material provided. Participants gave positive feedback, stating that the material increased their knowledge of nutrition and health for children, adolescents, and pregnant women. Abstrak: Sulawesi Tenggara merupakan provinsi dengan beban malnutrisi yang cukup signifikan. Masalah gizi kurang yakni stunting belum lagi terselesaikan, di saat yang sama angka obesitas di wilayah ini mulai merangkat naik. Cegah Tangkal Triple Burden Malnutrition (CEKAL TRIP BOMBANA) adalah program preventif untuk mencegah timbulnya triple malnutrition dalam satu rumah tangga melalui peningkatan kapasitas dan ketrampilan ibu dalam hal gizi dan kesehatan. Pelaksanaan program difokuskan pada 3 desa binaan yaitu Desa Lameroro, Desa Tapuhahi, dan Desa Lantawonua di Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Terdapat 4 komponen utama program, yaitu pelatihan deteksi dini triple malnutrition dan penyuluhan gizi dan pola hidup sehat, Launching akun Facebok untuk diseminasi pesan melalui sosial media, dan pembentukan influencer dari peserta pelatihan untuk menjadi agent of change di komunitas masing-masing. Evaluasi program dilakukan dengan menilai proses pelaksanaan kegiatan dan mengobservasi respon peserta terhadap materi yang diberikan. Peserta memberikan respon yang positif terhadap pelaksanaan kegiatan dan menyatakan bahwa materi yang diberikan menambah wawasan dan pengetahuan pengetahuan mereka terkait gizi dan kesehatan anak, remaja, dan ibu hamil.
One of the nutritional problems in pregnant women is Chronic Energy Deficiency (CED). Chronic Energy Deficiency is a condition of pregnant women who suffer from a long-lasting (chronic) lack of food with various health problems in pregnant women. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of Chronic Energy Deficiency in pregnant women in Muna Regency. The focus of this research is on pregnant women in the working area of the Maabodo Health Center. The type of research used in this study is a quantitative research type with an analytical survey design with a cross-sectional approach. This research was conducted in the working area of the Maabodo Health Center, Muna Regency and this study was conducted in September 2020. The population in this study were all pregnant women in the working area of the Maabodo Health Center as many as 57 people using a total sampling technique. Based on the results of the chi-square test, there is a relationship between knowledge and the incidence of CED (p-value = 0.026) and there is a relationship between body image and the incidence of CED (p-value = 0.009). However, there is no relationship between parity and the incidence of CED (p-value = 0.110). This study found that the mother's knowledge factor and mother's body image played an important role in preventing the occurrence of Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women in Indonesia.
Salah satu penyakit yang menyerang saluran pernapasan dari hidung sampai alveoli sehingga menyebabkan infeksi adalah ISPA atau Infeksii Saluran Pernapasan Akut termasuk menyerang adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura). Puskemas Mekar adalah salah satu puskemas yang wilayah kerjanya menduduki posisi pertama dengan kasus ISPA tertinggi di antara 10 besar penyakit dengan 903 kasus di tahun 2020. Mengetahui relasi atau hubungan dari status imunisasi, gizi serta sumber keterpaparan asap terhadap ISPA di wilayah kerja Puskemas Mekar merupakan tujuan dari penelitian ini. Kemudian, penelitian penjelasan atau explanatory research dengan survey approach adalah metode yang digunakan dengan hasil penelitian sebagai berikut; status gizi balita (BB/U) (Nilai sig = 0,090 > 0,05), pemberian ASI eksklusif (Nilai sig = 0.000< 0,05), status imunisasi (Nilai sig = 0.205 > 0,05), keterpaparan asap rokok (Nilai sig = 0.000 < 0,05), keterpaparan asap bahan bakar memasak (nilai sig = 0,746 > 0,05), keterpaparan asap penggunaan obat nyamuk (Nilai sig = 0.000 < 0,05) dengan kasus ISPA terhadap balita. Dari hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang tidak ada relasi yang serius adalah status imunisasi, status gizi (BB/U) dan (TB/U) serta keterpaparan asap dari bahan bakar dengan kasus ISPA terhadap balita, sedangkan yang ada relasi atau hubungan adalah keterapaparan asap rokok dan juga penggunaan obat nyamuk bakar dengan kasus ISPA terhadap balita.
Latar Belakang: Coronavirus Disease (COVID-19) adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Beberapa jenis Coronavirusinidiketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek bahkanlebihparah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat tentang keamanan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan terhadap pencegahan penularan COVID-19 pada masyarakat Desa Watumela Kecamatan Lawa Kabupaten Muna Barat. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang bersifat observasional dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi masyarakat tentang keamanan memakai masker (Nilai sig = 0.000< 0,05), menjaga jarak (Nilai sig = 0.000< 0,05), mencuci tangan (Nilai sig = 0.000 < 0,05) terhadap pencegahan penularan COVID-19. Simpulan penelitian ini yaitu ada hubungan yang signifikan antara persepsi masyarakat tentang keamanan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan terhadap pencegahan penularan COVID-19.
Latar Belakang: COVlD-19 adalahapenyakitamenular yangadisebabkan olehajenis coronavirusayang baruaditemukan. Virusabaru danapenyakit yangadisebabkannya iniatidak dikenalasebelum mulainyaawabah diaWuhan, Tiongkok, abulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang men adi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negaraadi seluruhadunia. Diakota kendariaterdapatabeberapaakecamatanadengan kasusatertinggi COVlD-19ayakniakecamatan baruga, akecamatan Kendariabarat dan kecamatan Kadia. Data terakhir 3 terbanyak COVID-19 Kota kendari pada tanggala25 januaria2021 yakniaterkonfirmasi Kecamatanabaruga dengana61akasus, kecamatanakadia dengana55 kasusadan kendariabarat 44akasus. Penelitianaini bertujuanauntuk mengetahuiagambaran upayaapreventif yangadilakukan olehaIbu RumahaTangga dalamamencegah penularanaCOVlD-19 KotaaKendari. Penelitian iniaadalahapenelitiana observasionala dengana pendekatana Deskriptifa Kuantitatif. Populasiaberjumlah 27.122aorang danasampel 3946aorang denganateknik pengambilanasampel proportionalarandom sampling. aInstrumen yangadigunakan yaituakuesioner. Hasiladari penelitianaini menunjukkanabahwa sebagianabesar responden memiliki pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 70,8% dan buruk 4,3%. MenggunakanaAPD sebanyaka70,8% dan tidakamenggunakan 29,2%. Menggunakan antiseptikasebanyak 87,1% danatidak menggunakanaantiseptik 12,9%.aMenerapkan PHBSasebanyak 93,7% danatidak menerapkana6,3%.aSerta menerapkan pembatasan fisikasebanyak 48,5%adan tidakamenerapkan 51,5%.aPeneliti berharapaagar masyarakataselalu menerapkanaupaya preventifadalam pencegahanaCOVlD-19.
Latar Belakang: Smartphone merupakan ponsel multi media yang menggabungkan fungsionalitas PC dan headset sehingga menghasilkan gadget yang mewah, di mana terdapat pesan teks, kamera, pemutar musik, video, game, akses email, tv digital, search engine, pengelola informasi pribadi, fitur GPS, jasa telepon internet dan bahkan terdapat telepon yang juga berfungsi sebagai kartu kredit.Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyajikan persentase anak usia 5-6 yang mengakses internet selama tiga bulan terakhir pada kelompok usia tersebut mencapai 2,52%.Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh metode mata merah terhadap pencegahan ketergantungan smartphone pada anak usia dini di Kelurahan Lauru Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten Bombana tahun 2020.Metode: Jenis penelitian Pre Eksperimen Design dengan menggunakan uji analisis paired T-test. Jumlah sampel 30 orang.Hasil: Hasil menunjukan bahwa terdapat adanya pengaruh metode mata merah terhadap tindakan anak dalam mencegah ketergantungan smarthone pada anak usia dini dengan p-value = 0,000, adanya pengaruh metode mata merah terhadap persepsi anak dalam mencegah ketergantungan smartphone pada anak usia dini dengan p-value = 0,000.Kesimpulan: Adanya pengaruh tindakan dan persepsi anak dalam pencegahan ketergantungan smartphone pada anak usia dini di kelurahan lauru kecamatan rumbia tengah kabupaten bombana tahun 2020.
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia yang disebabkan oleh Sars-CoV-2 dan menjadi pandemi global saat ini. Data menurut WHO per 4 Juli 2020 kasus Covid-19 sebesar 10 922 324 dengan kematian sebesar 523 011 atau CFR sebesar 4,79%. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 setelah pendampingan tim kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan secara terintegrasi dengan prgram KKN Tematik mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Lokasi kegiatan pengabdian ini adalah di wilayah Kecamaataan Kambu Kota Kendari. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 2 minggu dengan metode penyuluhan dari rumah ke rumah. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kesadaran masyarakat dalam pencegahan Covid-19 setelah penyuluhan perorangan dari 29% menjadi 59% dengan kategori baik. Pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi kepada masyarakat secara continue dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya pada pencegahan penyebaran covid 19.
The Clean and Healthy Living Behavior Program (TCHLBP) in the Household is an effort to empower household members to know, want and be able to practice clean and healthy living behaviors and play an active role in the health movement in the community. The purpose of the study was to analyze the policies, funding and implementation of a clean and healthy lifestyle program for household arrangements in North Buton Regency. The type of research used is qualitative research. This research was conducted in the working area of the North Buton District Health Office in April-May 2022. The research informants consisted of key informants, main informants and supporting informants. In-depth interview data collection techniques, Focus Group Discussion (FGD), and document review. Data analysis is presented in the form of a content analysis matrix. The results showed that the policies in the Clean and Healthy Behavior program in household arrangements have policy standards sourced from the North Buton Regent's Regulation, but not all TCHLBP indicators have policy standards. Availability of the TCHLBP program budget, at the Health Office and Puskesmas, comes from general allocation funds and Health Operational Assistance (HOA). The implementation of the Clean and Healthy Behavior Program has been carried out well but the results have not been maximized, still below the standard. Conclusion; The implementation of the Clean and Healthy Behavior Program in household arrangements in North Buton Regency has not been fully implemented properly because it has not been supported by regional regulations that are in accordance with 10 indicators of TCHLBP, and the availability of limited funds. Suggestion; It is necessary to improve policies, increase the budget for the Clean and Healthy Behavior program and involve the general public in the implementation of TCHLBP in the field.